Balas Revievv :

Rosy Miranto18 :

Imferno : *Ngangguk. Tenang aku mengerti, hanya aja tadi kurang ngeh aja.

Takano : Yah, aku merasa puas setelah memukuli si 'Anak Naga'

Desmond : Tidak ada sih, tapi menerima sesuatu dari musuh.. harus dicurigai. 'Dia' Bukan siapa-siapa! Ingat Mantan kadang bisa jadi teman, Bisa jadi Setan!

Vincent : Jaga Ucapan Mu! *3GED.

Desmand : Tahan-Tahan! *Sweatdrop.

Kazuma : Emm.. A.. aku sepertinya Salah sebut. karena Nama aslinya memang Seiryuu (星龍). Selain itu ada lagi sih, burung phoenix. (紅葉) kemudian, kura-kura (玄武) dan harimau putih (白虎). Jangan tanya bagaimana aku mendapatkan burung Phoenix, itu sudah lama sekali.

Chapter 71 : Some Varios Serious Scenes.

1. Pouting Father.

Kediaman Pyromancer...

"Berisik! Biarkan aku sendiri!"

Blaar!

Kita ke markas..

"Ok.. Ini bakalan susah." Ucap Pyro dan menghelakan nafas dan memutuskan hubungan telefonnya.

"Kenapa?" tanya Moku.

"Mereka bertengkar lagi." kata Pyro datar.

"Siapa? Paman Cyro dan ayah-mu?" tanya Moku penasaran.

"Bukan, Melainkan, Dengan Gurunya lagi." jawab Pyro datar.

"Oh, Dengan Tuan Drud?"

"Yap, masalahnya yang biasa."

"Oh, trus, kenapa lagi masalahnya?"

"Ayah gue, dia pergi dari rumah lagi, dan sekarang dia-"

Dibawah..

Ting Tong..

"Ya? Oh, Inferno tumben kesini?" tanya Reha yang membukakan pintu markas. Inferno diam saja dan kemudian, dia memojokan pria itu dan memberikan tatapan tajam ke Reha. "Wa-"

"Biarkan aku tinggal bersama Pyro sampai aku bilang cukup!" Ucap Inferno dengan nada rendah dan gelangnya mulai mengeluarkan api.

"He.. Hei, te.. tenang ok.. Ki- Kita bisa bicaraka ini baik-baik." balas Reha gugup.

"Izinkan Aku atau aku akan bakar dan meledakan tempat ini sampai rata dengan tanah!" ancam Inferno.

"Ba- Bai-"

"Tunggu! Seenaknya saja kau bilang seperti itu! Ini Rumah kami, Bukan Istanamu! Infer!" Sembur Takano dan sekarang dia memukul Inferno sampai jatuh ke lantai.

"Berisik! Biarkan aku tinggal disini karena kau tak tau masalah-ku!" bentak Inferno dan badannya mulai dililit api.

"Hmph! Memangnya apa masalahmu sampai kau memaksa anak muda itu untuk tinggal ditempat kami!"

"Kau tak akan mengerti! Jadi, Perbolehkan aku atau aku akan menggunakan kekerasan untuk memaksamu!"

"Eh.. Guys.."

"Tidak akan untuk seorang tamu yang seenaknya saja dan mengancam akan menghancurkan rumahku!"

"Jika itu mau-mu, maka aku akan menggunakan Arkana api!"

"Guys!"

"Tidak takut! Aku akan mengalahkan mu dengan Nefirit!"

"Guys!"

"Nefirit ya! Hmph! Tidak masalah!"

"Kalian Hentikan ini sekarang!" Teriak Yuki dan tiba-tiba, tubuh Inferno dan Takano kaku, tak bisa digerakan.

"Selesai.." Ucap Shiki pelan dan Aura putih ditangannya menghilang.

"Shiki, apa yang kau-"

"Aku menyegel kekuatan kalian berdua. Karena aku tau kalau, Nefirit adalah Sihir api tingkat tinggi yang digabungkan dengan kekuatan kegelapan." jelas Shiki. "Tapi, Aku tak pernah dengar soal Arkana api."

Kemudian..

"Jadi.. Kau bertengkar dengan gurumu?" tanya Takano.

"Dia selalu susah diajak kompromi, dia melarangku membuat sihir jenis baru, makanya dia mengancam akan menyegel kekuatanku." ucap Inferno.

"Oh, jadi.. Karena kau memcoba mencampurkan sihir murni dengan sihir element, dia mengancam akan menyegel dirimu toh."

"Yah, maaf karena aku masih sangatlah marah tadi, makanya aku langsung main hajar saja." jelas Inferno.

"Kau harus mengontrol emosimu kawan, atau bisa berbahaya."

"Ya, oh, kau bilang kau bisa Nefirit, itu bukannya Sihir kegelapan dicampur dengan sihir api ya?"

"Emm.. Nefirit itu, Sihir Murni asli dicampur sihir kegelapan kemudian, dicampur sihir api. Jadilah, Nefirit.

"Oalah, pantas sangat ditakuti dikalangan pengendali sihir, ternyata legendary class toh."

"Yap.."

2. Kazuma Confession.

Ting Tong..

"Ya.. Eh.. Kazuma-san ada apa?" tanya Tumma ketika melihat Kazuma sendirian didepan pintu.

"Beri tahu para Andreas, temui aku di CitaCafè sekarang juga." Kazuma langsung pergi dengan tatapan datarnya. Tumma bingung dan segera menutup pintunya.

Kemudian..

"Mana Tartagus?" tanya Kazuma ketika melihat 3 Andreas bersaudara tanpa Tartagus yang merupakan targetnya.

"Emm... Dia..."

"Takut padaku, aku tau.. Tapi, tujuanku memanggil kalian haruslah berempat karena aku mau menceritakan sesuatu."

"A.. Entahlah, cara membawanya kemari." ucap Vience.

"Tak apa, aku akan menyuruh Byakko membawanya." kata Kazuma dan kemudian, dia memunculkan seekor harimau putih.

"Untuk apa anda memanggil saya, tuan Kazuma?" tanya Harimau putih itu.

"Bawakan aku seorang bernama Tartagus Andreas kemari!" perintah Kazuma.

"Permohonan Anda adalah perintah bagi saya, Tuan Kazuma." Harimau itu kemudian menghilang entah kemana.

"Sa Sinmu itu memang keren ya, punya empat pelayan." gumam Sapphire.

"Ehm.. Jadi, aku mengumpulkan kalian.. karena aku mau minta maaf soal saudara kalian itu." kata Kazuma memotong pembicaraan.

"Heeh..."

"Tapi, jujur, aku agak kecewa juga dengan Tartagus.. Dia nekat memutuskan pasangannya padahal sudah di ambang pintu masuk."

"Diamabang pintu masuk?" tanya Daren.

"Aku akan menjodohkan dia dengan Seon, dengan begitu Seon akan mempunyai pelindung yang baru."

"Seon? Siapa dia?" tanya Vience.

"Seon itu teman kalian, Iris."

"Hah? Nama asli Iris itu Seon?" ucap Sapphire kaget.

"Lebih tepatnya, Seon Mi, Young, Seon adalah Orang Korea."

"Heeee!"

"Tapi, Seon itu adalah nama koreanya.. Dia juga punya nama Jepang... Sakurai Aokiryuu."

"Tu- Tunggu, lalu Nama Iris Lisbeth itu dari mana?" tanya Daren penasaran.

"Orang tua angkatnya, yang ada di Perancis." jawab Kazuma.

"I- Iris, punya orang tua angkat? Memangnya kemana orang tua kandungnya?" tanya Sapphire.

Kazuma hanya diam membisu ketika ditanya soal orang tua kandung Iris, "Kazuma-san, Kemana orang tua asli Iris?" tanya Daren.

"A.. Aku akan menceritakannya ketika Tartagus sudah kemari." ucap Kazuma gugup. Vience yakin, ada sesuatu yang membuat Kazuma menjadi begitu terganggu ketika membahas orang tua kandung Iris. Kazuma hanya diam dan melihat sekeliling, entah kenapa dia harus memutar kembali ingatan lama tentang anak perempuannya yang akan pergi berkerja bersama suaminya dan menitipkan Iris ke dia.

'Ayah, Jaga Seon dan Kim ya, kami mau keluar negeri untuk beberapa bulan tapi, tentu saja kami tetap akan menghubungi untuk mengetahui keadaan mereka.' ucap Sasakura, anaknya dan menyerahkan Iris dan kakaknya ke dia.

'Baiklah, kau janji ya, pulang dengan selamat, kau juga Taeji." Kazuma melirik kearah Taeji (Ayah Iris dan Kim) dan memberikan tatapan tajam ke dia.

'Te- Hemmhh.. Baiklah, Tuan Kazuma.' ucap Taeji pasrah.

'Kami berangkat ya, Seon, Kim, Ibu dan Ayah akan membawakan oleh-oleh yang bagus buat kalian nanti, ok.' Ucap Sasakura.

'Baik ibu!' balas Iris dan Kim bersamaan.

'Jangan nakal ya sama kakek.' kata Taeji dan membawa koper mereka keluar.

"Kenangan yang menyakitkan." gumam Kazuma.

"Ha?"

"Ti- tidak!" potong Kazuma.

"Tuan Kazuma, saya berhasil menemukannya dan akan membawanya ke tempat anda." ucap Byakko dan tiba-tiba, Tartagus langsung mendarat diantara para Andreas lainnya.

"Adaw!"

"Tugas saya sudah selesai, senang bantu anda Tuan besar Aokiryuu." Harimau itu menghilang perlahan sembari menunduk untuk Kazuma.

"Ka- Kazuma-Se-"

"Tartagus, Kau membuatku kecewa!" kata Kazuma ketus.

"Maaf..."

"Jadi, Kazuma-san, boleh kami tau kemana orang tua kandung Iris?" tanya Daren.

"Baiklah, karena Tartagus sudah disini.. Aku akan menceritakannya." ucap Kazuma.

"Tu- Tunggu, Orang tua kandung Iris?"

"Shhhtttt!" Vience menutup mulut Tartagus dengan tangannya.

"Ini.. Adalah kejadian tiga belas tahun yang lalu-"

Kazuma menceritakan semuanya sampai akhirnya dibagian dimana yang membuat dia menangis.

"Malam harinya, ada berita di televisi tentang kecelakaan pesawat menuju Amsterdam. Aku menjadi was-was mendengarnya. Saat aku melihat korban pesawatnya.. Nama 'Sasakura Aokiryuu dan Taeji kook Young' ada di televisi.. Aku benar-benar Shock dan Seon juga Kim saat itu sedang menonton juga ikut shock bahkan, Seon terus-terusan menangis didepan Televisi sambil terus mememanggil ayah dan ibu-nya. Sejak hari itu juga.. Aku merawat mereka berdua selama 13 tahun sampai sekarang. Aku terus-terusan mengawasi mereka berdua, menjadi ketat, pemarah, dan overprotek terhadap mereka, terutama Seon.. karena aku benar-benar tidak bisa menahan melihat dia menangis karena kehilangan.. kedua.. orang.. tuanya..."

Kazuma tak bisa menahan air matanya saat menceritakan kejadian yang menimpa anak perempuannya. Dia benar-benar tertekan soal itu. Tartagus hanya diam mendengarnya, Vience sudah bukan merasa kasihan lagi, tapi tak tega mendengar perjuangan Kazuma merawat kedua cucunya, Daren mengelap air matanya dengan tisu dan juga mencoba menahan Sapphire yang mulai mengelap ingusnya dengan baju panjangnya.

"Ja.. Jadi, Iris kehilangan orang tuanya.. karena kecelakaan." ucap Tartagus pelan. Kazuma hanya mengangguk dan dia langsung menangis lagi.

"Aku mempercayai dirimu Tartagus, karena kau adalah orang yang satu-satunya kuat dengan tekanan-ku saat bersama Iris, tapi kenapa kau menghianati kepercayaan itu dengan hadiah tangisan dari Seon ke diriku?"

"Sensei, Tidak membenci-ku?" tanya Tartagus.

"Aku menyayangimu, aku menyayangimu seperti cucuku sendiri! Apa yang aku lakukan hanyalah untuk melatih dirimu, aku tak percaya kalau salah satu murid, ah.. tidak.. cucuku menghianati kakeknya sendiri!" Kata Kazuma.

"A-"

"Taeji, dia punya masalah yang sama seperti kau, tapi dia tetap gegabah san mendekati anakku! Dia kuat sampai dia pernah melompat ke kandang Byakko dan dia melawan Byakko sampai dia hampir mati, dia buktikan itu demi kepercayaan ke diriku kalau dia bisa!"

"Dia apa!?" tanya Daren tak percaya.

"Aku menyembuhkannya dengan sihir dari Genbu. Dan esoknya aku jodohkan dia dengan Anakku." jawab Kazuma.

"Tunggu sebentar, memangnya Iris pernah pacaran dengan berapa laki-laki?" tanya Tartagus.

"Dua, yang satu tak kuat bertemu dengan-ku karena aku pernah mengancam dia akan ku lempar ke kandang Seiryuu dan ketahuan selingkuh dan akhirnya aku memukulnya dengan tenaga Byakko, kemudian yang kedua.. Dia.. Em.. Oh.. Dia nggak berani dan nekat memutuskan hubungannya di depanku. Aku membakar dia dengan api abadi dari Akaha, lagipula.. Dia juga mata keranjang." jawab Kazuma.

"Gi- Kau sering membuat Seiryuu menabrak-"

Bugh!

"Woi! Lu masih mending di tabrak, Saus Tartar!? Lu nggak denger tadi, Ayahnya Iris yang nekat Lompat ke kandang macan yang nggak mungkin untuk dibunuh buat buktiin kalau dia bisa dipercaya sama Kazuma-san! Lah, Lu baru ditabrak sama bonyok aja udah nyerah padahal lu dikit lagi mau di jodohin sama guru lu sendiri!" Sembur Vience dan menabok muka Tartagus. "Oke Fix! Setelah gue denger cerita dari Kazuma-san, gue bisa nyimpulin kalau Lu itu Pecundang tau nggak! Kalau gue jadi lu, Gue tahan aja, toh, emang itu salah gue buat dia marah! Persetan dengan putus! Gue bilang lu ngobrol dulu! Bukannya Gegabah minta Putus!"

"Ye, Tapi, Kalau lu jadi gue ya, lu harus tau gimana rasanya ditabrak sama Seiryuu itu Nyiksa banget!" balas Tartagus dan membalas pukulan Vience.

"Ye tapi bisa nggak sih lu Ngerti perasaan orang diputusin! Ntar kalau lu nyesel juga nggak mau! Trus mau lu apaan gitu?! Ngelu-Ngelu ke gue buat cariin lu pacar baru karena Nyesel udah mutusin Iris! Sorry ye, gue nggak serendah lu!"

"He- Hei, kalian su-" Handphone Kazuma tiba-tiab berdering, dan itu ternyata dari Hanny. "Halo?"

"Kazuma-san, Ini gawat!"

"Kenapa!?"Hanny menceritakan kejadiannya di telefon, Kazuma langsung diam dan shock berat. Badannya langsung lemas dan dia menjatuhkan Handphone-nya ke lantai setelah mendengar berita dari Hanny. Dia tak kuasa mehan tubuhnya yang semakin lemas, tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit dan dia pingsan di lantai.

"Kazuma-san/Sensei!!!" Para Andreas langsung panik dan menelfon ambullans. Pengenjung lain ikut panik ketika melihat Kazuma terjatuh ke lantai sembari memegang dadanya sendiri.

"CPR! Oi, Saos! CPR!"

"Ok! Ok!"

"Halo, Rumah sakit ini darurat, ada yang terkena serangan jantung!"

Kazuma Though...

Kenapa.. Ini harus terjadi padaku?

'Iris-chan... Dia.. Tertabrak Truk yang rem-nya blong. sekarang, dia tak sadarkan diri dirumah sakit.'

Seon, Kim maafkan kakek.. Sasakura.. Maafkan ayah...

"A- Argh!"

Taeji... Maafkan aku..

"Aku rela mati demi Sasakura! Bunuh aku Byakko!"

Harada.. Aku bukanlah penerus Aokiryuu yang pantas...

"Kau adalah penerus yang pantas, Kazuma

Tartagus.. maafkan aku... kau adalah cucuku juga, aku bangga denganmu

"Aku akan menjaganya! Aku akan pantas disebut sebagai pelindung!"

Aku.. Hanya bisa apa? Aku tak bisa apa-apa.. Tidak! Aku.. Harus bisa, Aku punya keluarga.. Aku punya banyak hal, aku tak bisa pergi! Aku akan melindunginya! -Kazuma Aokiryuu-

Before the Accident Scenes..

"Iris.. kau nggak apa-apa?" tanya Hanny.

"Ah, Iya.. hanya kepikiran aja sih.." jawab Iris.

"Udah, nggak usah dipikirin. Ntar juga kalau udah mendingan kita bantu deketin." hibur Emy. "Ingat, kau udah bantuin aku kadang-kadang kalau berantem sama ayank mbeb-ku."

"Iya sih."

"Udahlah, Ris.. Dibuat Happy aja!" potong Yukari.

"Udah-udah, mending kita ke Setarbak!" ajak Tery.

"Starbuck mba!" ralat yang lainnya.

"Duit ada nih?" tanya Lira. "Pasti lagi gajian!"

"Ada dongs!"

"Ok!"

Iris melihat sebuah toko boneka diseberang jalan, mungkin jika dia mengirimkan hadiah untuk Tartagus, ini akan menolongnya. "Eh, tungguin ya!" Dia menyebrang jalan ketika lampu lalu lintas sudah merah.

"Ok!" ucap Alexia. Tak sengaja dia melihat Truk yang mendekat dengan kecepatan tinggi. "Iris, awas!"

"Eh.."

Brak!

"IRIIIIIIIIIIISS!!"

"Hanny, telefon kakeknya!"

"Iya!"

Kazuma Awaken..

"Kazuma-Sensei-"

"Aku dimana?" tanya Kazuma.

"Kau di rumah sakit, kau terkena Serangan jantung." balas Vience.

Kazuma tiba-tiba teringat sesuatu, "Seon! Bagaiman dengan Seon!?"

"Te- tenang Kazuma-sensei."

"Seon! Bagaiman dengan dia! Katakan berita baik!"

"Di- Dia tidak apa-apa.. Hanya saja, lukanya parah, tangan kanan dan kakinya patah. Pendarahan kepala, tulang rusuknya retak." jelas Tartagus.

"Hegh! A- Arhh!" Dadanya kembali sakit. "Seon! Seon!"

"Kazuma-san/Sensei, tenang ok.. Jangan tegang, jangan terlalu stress.. jantungmu nanti terkejut dan kau bisa pingsan lagi."

CTB eh.. Salah TBC..

Silahkan Terkejoed dengan masa lalu Iris... Gue nangis bikinnya..