Balas Revievv :
Girl-chan : Yaudah, sekali-kali nge-brawl atau Rank bareng :v
SR : Makan dulu oi, baru ngomong.
Rosy Miranto18 : 13 Maret memang ulang tahunnya Desmond dan itu udah Official dari sananya makanya aku pake hal tsb.
Valir : Aku hanya sedang lupa ok...
Vincent : Hmmh.. Itu masih Rahasia. Aku tak akan memberi tahukan 'Dia' itu siapa. Hanya seorang British berkacamata yang menyebalkan dan aku ingin menghajarnya saja. Tapi, dilarang sama Mand.
Thx!
Chapter 74 : Foto
"Des... Des..." Desmond menyadari sesuatu yang telah dia lakukan.
"Boleh lepaskan?" tanya Desmand karena Desmond menarik kerah bajunya dan menodongnya dengan pisau.
"Apa yang ter.. jadi?"
"Seperti biasa... Altair..."
Desmond melepaskan cengkramannya dan menunduk di kursi, "Aku.. Mau ini berakhir."
"Kenapa?"
"Ini menyiksaku! Aku tak mau ada yang terluka seperti kau yang pernah hampir terbunuh karena Altair mengamuk dan hampir memotong lehermu!" jawab Desmond. "Aku mau mengakhiri..."
"Tidak, tak apa, aku juga kadang merasakannya kok." hibur Desmand.
"Tapi, tak separah diriku."
"Oh, Aku tak terganggu soal itu... yah, kecuali Altair. Dia agak menyebalkan memang Amico."
"Hentikan itu, jangan menggunakan aksen seperti Ezio." keluh Desmond.
"Oh, Ah masa?"
"Bah, Hentikan itu! Pfft.." Desmand mulai mendekati kakaknya dan..
"Serangan Kejutan!"
"Ahahahaha! Hentikan itu! Itu Geli!" Desmond mulai meronta-ronta untuk melepaskan dirinya dari Adiknya. "Ok, cukup, aku sudah mendingan."
"Yak, Baguslah."
Desmond melihat sebuah bingkai foto yang pecah tapi, masih utuh. Dia mengambilnya dan menatap bingkai itu, "Kau masih menyimpan ini?"
Seketika itu pula senyuman diwajah Desmand menghilang dan menatap Bingkai itu, "Ya.. Aku masih mau menyimpan nya..."
"Kau seakan tak mau mele-"
"Cukup! Aku mau mengganti bingkai itu ok!" seru Desmand dan merebut bingkai itu dan melepas fotonya. Dia menaruh foto tersebut di jendela sayangnya, tiba-tiba foto itu terbawa angin dan keluar jendela.
Dibawah...
"Foto siapa nih?" Jung mengambil Foto itu dan melihatnya.
"Hmm.. Desmand, Desmond, ini.. Warrend apa Aiden? Ini Kakaknya Vin dan ini siapa?" Ethan melihat seorang pria berambut coklat tua dengan mata biru dan tersenyum.
"Meneketehe, nanya gue." balas Jung.
"Yeee... Kok lu ngegas sih!" timpal Ethan.
"Emangnya ngapa!? Gue mau ngegas kok lu sewot!"
"Gelud Qyta!"
"Oke!"
Foto itu terbang lagi karena terbawa angin kali ini, mendarat di depan Red yang sedang duduk dan Hato sedang mengules di sebelahnya.
"Master? Itu foto siapa?" tanya Hato penasaran.
"Entahlah... Hmm.. Desmand, Desmond, Ini.. Aiden.. Kakaknya Vin, dan.. Ini siapa yang satunya?" ujar Red.
"Hmmh.. Master aku lapar."
"Baiklah, ayo kita ambil makananmu."
"Yee..."
Foto itu kembali terbawa angin dan kali ini yang mengambilnya adalah...
"Ini foto.. Em.. Oh, Mand, Mond, Tuan Aiden, Alex.. dan.. Aku kurang yakin.. Tapi, orang ini mirip Vi... iin..." gumam Warrend yang mengambil Foto tersebut di jalan. 'Aku akan menyimpannya.'
Warrend mengambil foto tersebut dan mengambil versi digitalnya, 'Akan aku simpan dan tunjukan ke mereka nanti.'
Kemudian, Foto itu terbawa angin lagi berkali-kali. Entah berapa kali, namun akhirnya, benda tersebut mendarat di atas sebuah batu makam dan langit mulai menggelap dan hujan turun. Seseorang yang mengenakan jas hujan mendekat kemakam itu dengan membawa sebuah bunga di tangannya.
"Ah.. Kenapa benda ini bisa disini.. Terbawa cukup jauh.. dan terguyur hujan." ucap Pria itu dan mengambil foto tersebut.
Pria itu tersenyum dan merobek foto tersebut, "Terima kasih.. Tapi, aku sudah ada yang baru. Tapi kenangan itu akan tetap ada dihatiku."
"Kau yakin? Kau sering menangis kadang dengan senyuman itu."
"Gold... Aku tau itu, tapi, aku sudah menyadarinya.. aku berterima kasih kepadamu karena mau menerima kakakku."
"Yah, saat pertama kali aku menerima respon ingatan, yang pertama masuk kebenakku adalah kau dan saudara kembarmu. Dan kau menangis saat berpisah dengannya, karena itu aku mau menerimamu."
"Tapi, tolong gunakan Jas hujan saat hujan seperti ini, kau taukan tubuh kakakku itu tetaplah manusia biasa." Pria itu berbalik dan melihat Desmond berdiri dibelakangnya tanpa jas hujan dan tubuhnya telah basah kuyup terguyur hujan.
"Maaf, mungkin kakakmu akan sakit seltelah ini."
"Tak apa..."
"Aye, Desmand apa yang terjadi dengan Saudaramu?'
"Hmm... Tak apa kok, Edward hanya saja... Aku tak bisa cerita."
"Kau bicara dengan siapa?"
"tidak ada kok Gold.. Hanya pikiranku saja."
Disebuah taman dipinggir sungai kota...
"Huachi! Kenapa aku bisa diluar?" keluh Desmond dan mengusap hidungnya yang gatal. "Padahal tadi masih di markas deh."
"Hmm.. Entahlah..." Desmand melangkah kearah pembatas dan melihat kearah pohon dengan bunga berwana pink yang sedang berguguran. Dia tersenyum melihatnya, cahaya matahari yang lembut menyinari taman itu dan melewati sela-sela dedaunan yang menyebabkan bayangan yang lembut dan angin yang sejuk membuat dirinya temang saat itu juga. Sungguh, dia tidak pernah merasa setenang ini dalam beberapa tahun terakhir hari ini entah kenapa dirinya sangatlah damai dengan suasanan yang ada. "Aku.. Tak pernah senyaman ini..."
'Perasaan Tenang memang menyenangkan, tapi.. Kau harus tetap waspada.'
"Aku tau Connor. Aku hanya mau menikmati saat ini saja."
'Dia benar, kesulitan banyak yang telah dia lalui dan dia hanya butuh sebuah ketenangan.'
"Terima kasih sudah mendukungku, Haytham." Mungkin, Keluarga Kenway bukanlah orang-orang yang selalu mengganggu pikirannya karena mereka.semua berbeda pendapat, tapi disisi lain dia sedikit terbantu karena kehadiran mereka di kepalanya. "Aku bersyukur mempunyai kalian."
'Haha.. Kau seperti diriku saat melihat Haytham masih bayi.'
'He.. hentikan itu, Ayah.'
'Kenapa? Kau terlihat lucu saat itu.'
Bonus : New two People and A Stalker.
"Aku hanya akan sementara disini, sisanya kalian akan berdua disini ok." kata Seorang pria dengan kacamata hitam dan rambut ungu jabrik.
"Baik ayah, tenang kok. Kalau Hexator nakal paling akan ku buat dia jadi bakwan." ucap Seorang perempuan bermata biru dan berambut ungu yang membawa sebuah palu berwarna merah.
"Dih, yang ada gue kali yang geplak lu pake palu merah itu kalau lu kambuh nanti." balas Hexator.
"Wee!" balas si perempuan itu sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar!" timpal si pria berkacamata.
"Ada apa ini?" tanya Takano melihat kegaduhan diluar.
"Ah, apa kau pemimpin disini?" tanya si pria berkacamata.
"Em.. pemimpinnya lagi keluar.. tapi, aku penggantinya. Ada apa?"
"Maaf, tapi, aku mau mengantar kedua bocah nakal ini ke squad-mu karena mereka mau masuk squad."
"Hmm.. Boleh, joker ya.. Kebetulan ketua mau ngelengkapin Bounce dan Geomje buat Rusuh." balas Takano, dan ketiga orang itu langsung sweatdrop. "Ehm.. Jadi, nama kalian siapa?"
"Aku ayah mereka, Noix Maxensant. Kalau yang laki-laki, Hexator Maxensant, kalau yang perempuan Luxander Maxensant." jawab Noix.
"Hmm.. Baiklah, Baguslah hanya orang-orang normal sekarang." gumam Takano.
Disisi lain...
"Aku merasa seperti diperhatikan oleh seseorang akhir-akhir ini." ucap Haya pelan.
"Hmm.. Sepertinya ada yang punya Stalker nih." goda Yamatabi.
"Terserah kau, tapi.. Sepertinya ini bukan Stalker."
Disisi lain, ada seorang perempuan bermasker dan membawa shuriken berukuran besar ditangannya memperhatikan Haya dari jauh.
"Kau tau Haya, beberapa hari ini, Yama-Nii bersikap cukup aneh." ucap Yamatabi.
"Hmm..."
"Bukan dia doang sih.. Tapi, Alucard juga bersikap aneh. Kadang aku melihat mereka membawa Bat baseball dengan aura mengerikan."
"A.. Pasti ada sesuatu yang mengganggunya, barang kali.. Urusan dia dengan Valir. Semenjak, Valir mulai kecengin Master Reha."
"Weh, begitu."
Teh End..
