Balas Revievv :
Girl-chan : Jaringan XL emang sering ngajak ribut tapi, paketannya murah -_-
Hee.. Sama sih, tapi aku lebih suka di long version -nya biar lebih lama.
Rosy Miranto18 : Ya.. Mau gimana lagi, dapetnya sejauh itu ya jalanin aja -w-
Desmond : Yah, seperti itulah. Sha- Em.. Dia memang seperti itu. Maksudnya Sakras itu Sakrasme, dia kalau berbicara super tajam makanya aku cukup kesal dengannya. Alur Efek, atau disebut juga dengan Bleeding Effect, dimana kondisi aku atau Desmand akan melihat Halusinasi dari Pendahulu kami atau ikut merasakan apa yang terjadi pada mereka semua. Yang terjadi pada Desmand adalah dia merasakan penyesalan dari para pendahulu kami. Altair dan Kami berdua itu memiliki hubungan darah, bisa dibilang dia adalah kakek kakek kakek kakek kakek kakek buyutku.
Federico yang dimaksud disini adalah salah seorang kakak dari pendahulu kami yang kebetulan tinggal di Italia dan dia melihat kakaknya di eksekusi dengan cara digantung ditengah kota.
Yap, Dan juga lebih tepatnya beberapa hari sebelum kemerdekaan Amerika serikat.
Yamagi : Dia sudah memaafkan diriku.. Tapi, ya.. Dia masih seperti kurang mempercayaiku walaupun, hatinya tetaplah senang bersamaku.
Yuki : Yah, Takano-kun memang sangatlah posesif dengan diriku semenjak aku pernah meninggalkannya dan dia begitu tidak kuat ketika aku meninggalkannya. Tapi, Mood Takano-kun sudah sering terkendali walaupun, dia masih sering meledak-ledak amarahnya.
Taiga : Smoking Area itu adalah taman belakang dan sudah tersedia sejak lama.. Yah, kecuali untukku. Aku kadang masih sering merokok diruang tengah dan kamarku sendiri. Dan beberapa orang memang tidak keberatan asal tidak langsung menyembur asap ke wajah mereka.
Alucard : *Ngecek parkiran dan melihat sebuah kapal kura-kura. Ada, tapi ukurannya mini sepertinya, dia bisa gunakan itu untuk alat transportasi jarak jauhnya.
All (ML) : What The F-
Thx!
Chapter 76 : Valir Randomness.
Valir.. Si Hero Mage terbaru di Mobile Legends. Memiliki Rambut jabrik pirang(Kayak Saiyan *dibakar yang bersangkutan), mata oranye, tinggi, tegap, badannya jadi, sayangnya agak arogan. Terlihat sifat arogannya membuat dia terlihat sangatlah dewasa dengan pendeskripsian tersebut.. Padahal, sama sekali tidak benar. Dibalik tampangnya yang dewasa terdapat sifat kekanak-kanakan dan kepolosan tingkat dewa didalam tubuh tersebut.
Nggak percaya? Padahal beneran lho..
1. Masak dengan Keras kepala (Tingkat dewa)
"Sudah aku bilang! Koboi itu rata-rata nggak bisa masak!" seru Valir ketika melihat Clint sedang mempersiapkan diri untuk memasak.
"Halah, emangnya kau bisa! menyalakan api saat mau memasak saja hampir membakar satu hektar hutan kau!" balas Clint yang tidak mau kalah
Valir memelototi Clint dengan tatapan 'Itu karena kau menyiram kayu dengan bensin sebelum kau bilang ke diriku kalau kau menyiram kayu dengan bensin bodoh!'
"Bodoh, itu juga salah kau juga!" sahut Valir tidak terima juga. "Lagi pula, didunia ini mana ada koboi yang bisa memasak dengan benar."
"Hei!" Alexander memasang muka tidak terima karena dia juga seorang marksman dengan julukan 'Koboi'
"Oh, maaf bukan kau, tapi, koboi yang satunya lagi." ucap Valir.
Ditempat lain..
"What the hell, just Happend?" ujar Salem yang shock melihat sebuah panah entah darimana menembus markasnya dan melewati dirinya beberapa senti dari wajahnya.
Jlebb..
"Kok.. Gue merasa terhina ya..." gumam Alexia yang sedang makan kue di markasnya.
Back to Reha squad..
"Halah, berisik dah ah! gue masak aja!" sahut Clint dan mulai menyiapkan perlatannya. Namun, ketika mau menyalakan kompor.
"Eh, Clint! Jangan nyalain-"
BUUM!!
"Kompor..." Alexander hanya tersenyum miris dan Valir menarik nafas dalam-dalam karena rasanya dia mau meledak Wajah tampan-nya gosong karena ledakan barusan.
"Aku mau bilang.. Kalau gasnya lagi K.O... NGEYEL SIH! AAAAAAAARGHH!!" Teriak Valir yang paling tidak terima.
2. Balon? Itu 'Balon' ?
"Dengab begini, rencana jahatku sudah siap." ucap Yamagi dan menyembunyikan sebuah kotak kecil didalam laci kamar Reha. "Ketika dia tertidur, aku aka diam-diam menyerangnya, oooh.. Aku sangat tidak sabar untuk menunggu saat malam hari"
Yamagi keluar kamar Reha dengan senyum jahat dan pergi begitu saja. Tak lama Yamagi keluar, Valir masuk kedalam kamar Reha untuk mencari sebuah pulpen. Tapi, saat dia mengobrak-abrik laci dekat kasur Reha dia menemukan sebuah kotak aneh berukuran kecil yang dia belum pernah lihat. Karena penasaran dia menyelipkan kotak itu ke sakunya dan pergi setelah mendapatkan sebuah pulpen yang dia cari.
Saat Yamagi kembali, dia kaget melihat laci tempat dia menyimpan kotak 'Laknat' nya tadi terbuka lebar. Siapa yang membukanya? Oh, dia sangatlah panik, kalau anak-anak yang lain pasti dia akan digosipin mau me-Raep ketua squad. Kalau Reha yang menemukannya...
'Tidak! Reha pasti akan jijik kepadaku dan melapor ke Eudo agar aku digiring ke kantor polisi dan dipenjara dengan tuduhan 'Peraepan berencana'.'
Dengan memberanikan diri dia menanyakan ke seluruh markas, "Apa Kalian sebuah kotak yang aku simpan di laci Reha?"
Semuanya menggelengkan kepalanya. Sekarang, harapannya sudah pupus dan terpikirkan kalau Reha yang menemukannya dan dia siap untuk dipenjara.
"Kau kenapa?" tanya Valir penasaran.
"Sesuatu yang penting menghilang, aku merasakan hal buruk akan terjadi padaku." jawab Yamagi Lesu.
"Oh... Hei, aku mau bertanya?"
"Hemmgh..."
Dengan watadosnya Valir menceritakan apa yang dia temukan barusan, "Tadi, aku ke kamar Reha untuk mencari pulpen buat mengisi Teka-teki di koran, tapi, saat aku mengobral-abrik laci Reha. Aku menemukan sebuah kotak kecil aneh yang memiliki merek."
'Kayaknya kenal tuh!' jerit Yamagi dalam Hati. 'Aduh! jangan bilang si kampret ini yang ngambil dan udah nyebar gosi-'
"Kan aku bawa tanpa ketauan yang lain, saat aku ke kamar aku buka kotak itu dan menemukan beberapa buah plastik kecil berbentuk aneh, tapi saat ditiup malah menjadi balon putih aneh yang panjang."
Brak!
"He.. Hei.. Kenapa?"
"Tak apa, aku tak apa." ucap Yamagi setelah menghantamkan kepalanya ke tembok dengan keras sampai berdarah.
'Ku kira dia pria tinggi, arogan seperti Alucard, dan amat dewasa. Ternyata dia sangatlah polos dibalik tubuh tersebut!' gerutu Yamagi.
"Aku bingung, kenapa ada balon yang dikemas dan diberi merek seperti itu ya.." gumam Valir polos.
"Hee.. Begitu, aneh juga ya."
malamnya...
"Yamagi! Ternyata lu busuk juga ya!" teriak Reha.
"Ah, Apa?"
"Valir ceritain semuanya dan gue jelaskan maksud benda yang dia pegang itu!" sahut Reha.
"Masaka!!?"
"Lu mau Raep gue kan!? Gue benci sama lu! Eudo tangkap Pria hidung belang ini dan buang dia ke laut!"
"Siap Reha."
"Eh, jangan! Jangan! Reha aku minta maaf! Aku sayang kamu!"
"Terlambat, sikap busuk mu menghancurkan dirimu sendiri!" ucap Valir dengan seringai Licik di mukanya. Dia putar Reha dan mengajalnya pergi. "Dia milikku sekarang, kau hanyalah pria terburuk."
"Tiiiiidaaakk!"
"BERISIK! MASIH MALEM JUGA!" Reha memukul wajah Yamagi sampai Remuk.
"Maaf.."
"Udah ah! kesel lagi enak tidur digangguin!"
"Ih, Maafin dong Reha." Yamagi mengecup pipi Reha.
"Hmph! Bacot!" Reha membalikan tubuunya agar tidak melihat Yamagi.
"Sini aku peluk."
'Fyuuh.. Hanya mimpi saja.' pikir Yamagi.
3. I'm Jealous with that thin Mustache!
Kau pikir Yamagi selalu di labarak Reha dengan segalanya yang dilakukan... Haha, Tidak! Reha hanya mempunyai sebuah kelemahan yang dia tidak bisa tahan untuk melakukannya ke Yamagi (Bonus : YSS ikut menjadi korbannya.) Apapun itu sangatlah mengganggu pikiran Valir (Bahkan Alucard).
Pernah saat itu..
Entah siapa yang merubahnya, tapi Perahu kura-kura milik Yi Sunshin menjadi sebuah perahu karet untuk arum jeram (ditambah sebuah mesin jet dibelakngnya.) Karena hanya bisa diam dan tak tau siapa yang melakukannya.l, Yi Sun Shin hanya bisa menggerutu di perahu itu dan mengambil sebuah botol air dan meminumnya.
"Uuh.. Nggak tahan, tangan gue gatel!" Yi Sun Shin menengok ke samping dan melihat Reha menggaruk-garuk pergelangan tangannya.
"Umm.. Tuan Muda Reha? Anda kenapa? Gatal?"
"Maafkan aku, Jendral!"
"Apa!?"
Reha memegang kedua sudut pipi Yi sun shin dan mengusap kumis dan jenggotnya secara perlahan.
"Aa.. Haa.. Eh.. Emm.. Maafkan saya!" Reha langsung kabur dengan muka memerah.
'Apa yang anak itu lakukan?' gumam Yi Sun Shin kebingungan.
Ataupun Yamagi..
"Cih!!" Valir dan Alucard merubah moodnya menjadi buruk ketika tak sengaja melihat Reha berdekatan dengan Yamagi dan mengusapkan kedua jarinya diantara kumis dan jenggot tipis Yamagi.
"Hmph! Terus aja begitu!" seru Valir dan pergi dengan hati bersungut-sungut dan membanting pintu.
"Ups..Aku kebablasan lagi..." ujar Reha.
"Bagus Reha, kau membuatnya cemburu." Yamagi berseringai dan memeluk Reha dengan erat.
"A- Alu..."
"Bodo Amat!"
Brak!
Dia ikutan Cemburu dan membanting pintu depan.
"Se- Sebentar, Yamagi lepasin dulu." Yamagi melepaskan pelukannya dan mengecup dahi Reha. "B.. Bodoh.."
"Hmm. Hhmm.."
"A.. Ano! Valir! Alu! Jangan Marah ok!" Reha menyusul mereka berdua dan Yamagi hanya bisa tersenyum puas setelah membuat kedua pesaingnya cemburu berat dengan dirinya.
4. Kerusuhan saat di bioskop..
"Oper Popcornnya dong!"
Kali ini Valir benar-benar terganggu dengan keadaannya sekarang. Bagaimana tidak.. Ketika dia sedang menonton film dibioskop bersama yang lain. Malah terjadi kericuhan ketika didalam teather bahkan, saat film dimulai. Dia ingin sekali menabok muka Tartagus ataupun Vience yang saling mengoper-oper popcorn satu sama lain karena bangku mereka berjauhan. Mana Mereka makan popcornnya dengan suara kunyahan yang begitu keras.
"Keganggu mas?" tanya Alucard watados.
"Hegh!" Valir hanya memutar matanya dan fokus kembali ke film dan sesekali melirik Reha yang ada disebelahnya dan juga.. disebelahnya lagi ada Alucard. Dia menyesap colanya dengan kuat karena kesal.
Ketika filmnya dimulai, Emy yang ada dibelakang mereka mulai berkomentar soal tokoh antagonis dari film tersebut, "Kok setiap Antagonis selalu orangnya Ganteng banget ya."
Vivi berdelik, "Gantengan Vieny." katanya. Iris yang merasa tidak mau kalah akhirnya menyanggah ucapan mereka berdua.
"Gantengan Tarta-kun."
"Udah, gantengan juga gue." sanggah Sapphire.
"Dih, muka udah kayak Panci penggorengan yang abis dipake sama Lancelot aja bangga." balas Daren ketus.
Alucard sih.. Sebenar ya mempunyai maksud baik untuk melerai konflik tersebut, tapi..
"Udah, Ketampanan pria itu, dinilai dari hati mereka."
"Berarti kau jelek banget ya." komentar valient yang ada dibangku sebrangnya.
Hal ini menyebabkan mereka cekcok mulut sebelum dilempar penggorengan (entah dia bawa darimana tapi, buat nimpuk Alucard emang iya.) sama Miya.
Kemudian, Film itu memperlihatkan suasana yang mencekam karena sedang terjadi penyelidikan di tempat kejadian perkara, Reha agak geli melihatnya dan mencoba untuk menghiraukannya. Valir yang melihat kesempatan ini bermaksud untuk menggenggam tangan Reha.
Itupun bukan karena kalakuan Vience dan Tartagus yang terus-terusan main oper-operan popcorn sampai membuat hati Valir kesal. Bahkan, jika bisa dibilang rasa ingin membakar kedua orang tersebut lebih besar daripada menghibur Reha.
Reha menyedot cola dengan keras. Padahal, sudah diketahui padahal isinya tinggal es doang. Dia berikan gelas es tersebut ke Alucard disebelahnya, saat Alucard mau meminumnya juga. Dia menyadari kalau colanya sudah habis hanya tersisa es. Dia kemudian memelototi Reha yang memberikan wajah watadosnya ke dirinya. "Bagus ya; Sampah kau kasih ke aku aja."
Layla yang melihat itu langsung cemberut, "Clint, nggak mau buangin sampah aku juga kayak Alu?"
"Yaudah, sini."
Tiba-tiba, Alpha yang ada dibarisan paling belakang menelpon Ikyo dengan HP-nya dengan suara yang keras (bahkan, dia sampai teriak.) "Oi, ikyo! Sini Nobar lah! Pada rame nih, sama Squad- Eh.. Jagain Adel yaudah! Dadah!"
Selesai menelpon dia mendapatkan sambitan berupa gelas cola kosong dari Teiron disampingnya.
"Berisik!"
Selesai menonton mereka semua berkumpul di lobby bioskop terlebih dahulu.
"Gimana Filmnya?" tanya Reha.
"Mayan sih.. Biarpun rusuh sama para anggota.. Yah, untung kita nggak diusir aja." balas girl-chan.
"iya sih, terutama... yang barisan belakang."
"Salem?"
"Iya, ada apa chilla?"
"Chilla kan ketiduran tadi.."
"Lalu?"
"Aku mimpi aneh."
"Hemm..."
"Aku mimpi tadi, kalau Alfred mencium salem."
Glek!
Salem dan Alfred mendengarnya dan langsung membeku ditempat.
"Ahahaha! Mimpi yang sangat aneh ya, masa aku- eh- Alfred mencium aku sih." tela Salem dengan sweatdrop di wajahnya.
'Hampir saja ketauan padahal tadi Alfred langsung maen sosor bibir gue di teater tadi.' gumam Salem.
"Gue ngantuk nih, udahan yuk." ucap Alpha.
"Iya, abisnya tadi seru sih. Tapi, karena nontonnya malem bikin ngatuk." sambung Maurice.
"Udah ya, balik kuy!" seru Reha..
5. I hate you so much Master!
Beberapa hari setelah pulang dari bioskop, sikap Valir berubah menjadi dingin dan selalu waspada dengan sekitarnya. Bahkan, saat Reha mengajaknya keluar sebentar Valir terus-terusan memasang muka curiga dan waspadanya ke sekelilingnya.
"Val, Kenapa?" tanya Reha.
"Aku sedang tidak mood untuk keluar markas, bahkan jika ada yang mengikuti kita dari belakang dengan jubah hitam! Brengsek!" Valir langsung berlari kembali ke markas dengan hati yang amat panas bahkan, dia sempat menendang sebuah Tempat sampah sampai terjatuh dan menabrak seseorang yang memakai jubah hitam dibelakang mereka. "Minggir kau pengganggu!"
"Valir.. Kenapa sih dia?" ujar Reha bingung. "Kau tak apa- kau kan!?"
"Maaf, itu salahku." Pria itu membuka tudung hitamnya, kemudian rambut kristal biru serta kulit yang berwarna biru disela keunguan terlihat dari balik jubah tersebut.
"Go- Gord kan?" tanya Reha.
"Aku minta maaf anak muda.. untuk mengikuti kalian.. Aku tak bermaksud untuk menyulutnya lagi..." balas Gord.
"Tak apa.. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Valir?" tanya Reha.
"Sudah lama sekali, aku sempat mencarinya cukup lama dan akhirnya aku menemukan dirinya." balas Gord.
"Aku mohon tuan Gord.. Boleh aku tau.. apa yang terjadi?"
"Baiklah.. Jika kau memaksa anak muda."
"Mari kau kuantar ke tempatku dulu."
Flashback.."Apa!? Hentikan itu Valir!"
"Kenapa Master? Aku hanya ingin membuat sesuatu baru."
"Sihir Element tidak bisa dicampur dengan Arkana! Kau menghancurkan tubuhmu! Hentikan itu!"
"Tidak akan!"
"Valir, Aku tak mau melakukannya, tapi kau memaksaku untuk mencabut kekuatan Arkana dari dirimu lagi!"
"Hmph! Kau tak akan bisa menghentikan ku dengan ini! Aku mau kekuatan ini! Aku akan buktikan kepadamu kalau aku bisa!"
"Hentikan itu! Kau tak akan bisa!"
"Tidak!"
"Valiiiiiiiiiiir!"
Blar!
"Apa? A- Arkana api!"
Semuanya hancur berantakan sisi akademi sihir menjadi hancur karena kekuatan mereka berdua.
"Valir kau!" Valir yang berada diseberang sisi gord hanya bisa terdiam dan berbalik.
"Maafkan aku master.. Tapi, dengan ini.. Aku mengucapkan perpisahan kita.. Senang kau dapat mengajariku.. aku.. bangga menjadi muridmu.." Kemudian.. Dia berjalan pergi tanpa sepatah kata, kali ini gord merasa kalau dia terlambat. dia tak bisa membawa Valir kembali karena kehilangan kepercayaannya. Kalau saja dia mengatakannya dia pasti akan tetap disisinya sebagai murid terbaik yang pernah dia miliki.
"Selamat tinggal, Master Gord..."
Flashback end.
"Oh.. Begitu.. Tapi, baguslah Gord.. Kau mau menghargai muridmu.. Walaupun, sangat terlambat." ucap Yuki dan meletakan tehnya.
Gord terdiam dan menghela nafasnya, dia meligat refleksi dirinya dari teh yang ada digelasnya, "Yah.. Sisi baiknya.. Aku mulai menghargai murid-muridku dan tidak terlalu egois.. Sisi buruknya.. Aku perlu membangun kepercayaan dengan seseorang yang telah aku buat kecewa."
"Tak apa, Valir pasti akan mengerti suatu hari nanti.. Reha sungguh-sungguh membantunya."
"Yah, aku harap..."
Di kamar.."Aku tak mau bertemu dengannya lagi!" seru Valir dari kamarnya.
"Tapi, Val.. Mungkin aja dia mau minta maaf, keluar dulu dong, sebentar aja!" seru Reha.
"Nggak! Aku tak akan memaafkannya!" balas Valir.
"Haa... Val.."
"Nggak!"
"Yaudah..." Reha berbisik ke Alucard dan Yamagi, kemudian mereka mengambil ancang-ancang dan..
Gedubrak!
"Woi! Lepasin gue!" jerit valir yang dibawa layaknya karung beras sama Yamagi.
"Nggak!"
"Ayo! Ke ruang tengah!" seru Reha.
"Tidaaaaak!"
Di ruang tengah..."Cih! Untuk apa kau kemari! Aku tak mau memaafkan mu!"
"Valir.. Em.. Aku minta-"
"Nggak! Aku tak mau memaafkanmu master! Aku kecewa dengan sikapmu yang tidak pernah menghargai orang lain!"
"Tapi-"
"Nggak!"
Brak!
"Bisakah Kau dengarkan ucapan orang lain terlebih dahulu! Aku muak dengan ini!" Keluh Taiga dan menggebrak meja dengan keras.
"Hmph.. Baiklah.."
"Jadi, Valir.. Aku mau minta maaf.. Kau adalah murid terbaik yang pernah aku miliki Sebelum Eudora... Jadi, tolong maafkan aku.. Tak apa jika kau masih membenciku karena kesalahan lamaku. Tapi, tolong maafkan aku."
"Terserah! Aku Memaafkan mu tapi, aku akan tetap membenci dirimu paham itu!"
"Baiklah.."
"Jangan perintah aku! Jangan buat aku harus turut kepadamu! Jangan ganggu aku!" Setelah itu, Valir pergi dengan membanting pintu dengan keras.
Bonus :1. Senjata makan tuan"Ini air untukmu, silahkan tunggu untuk menu berikutnya."
Prak!
"Cih, Sialan!" Hexa tersebur dengan cipratan yang cukup banyak dimukanya. Karena kesal dia bermaksud menjahili si pelayan tersebut. Dia memang sevuah jebakan di lantai, di atas, dan dan disampingnya.
'Dengan ini sudan siap.' Pikir Hexa dengan senyum jahat.
"Pi-pong!" Hexa memencet tombol di mejanya. Tapi, si pelayan tidak datang juga. Akhirnya, dia bermaksud memanggil pelayan tersebut sendiri. Tapi, dia lupa.. Soal jebakannya..
"Anu, permi-"
Crak!
"Ah!"
Duak!
"Adaw!"
Dar!
"Shiet!"
"Permisi ini minumnya lagi."
Prat!
"Si sialan!"
End..
Mau Ulpoad malem malah ketiduran :'v
