Balas Revievv :

Rosy Miranto18 :

Desmond : O.. Ok, itu kesalahanku.. Yah.. Mereka memang sudah bersahabat dengan kami berdua, walaupun awalnya sulit membuat mereka percaya sih. ._.

Yi Sun-Shin : Apa itu kora-kora?

Me : Semacam wahana, mirip perahu, sangat besar, dan diayun-ayunkan tinggi dan cepat.

Yi Sun-Shin : Cukup menarik..

Valir : Maaf, Bisa diulang bagian super saiyannya? *Mulai mengisi tenaga apinya.

Itu panah dari ucapan Valir.

Yamagi : *Blushing dan berbicara pelan. Iya...

Alucard : Maaf saja ya, tapi aku tidak seperti Reha yang kadang suka ngunyahin es kalau lagi gabut!

Eh!? Kagak! Gue hanya ngefans sama Laksamana doang ok!

Gord : Bukan.. Ini kekuatan dari pikiran batin yang keluarkan oleh diri sendiri. Sangat berbahaya jika digunakan ditangan yang salah.

Aku menghargai itu...

girl-chan : Serukan, padahal itu aku nyari ide dari FFN lain soalnya lagi kehabisan ide. Eh, Ada yang lucu aku ambil deh. :v

Chapter 77 : Insert Title Here (Yamagi : Judul macam apa itu?, Me : Kehabisan Ide Mas :'v.)

1. This night, Promise.

"Revaaaaaan~ Sayang." Red memeluk Revan dari belakang dengan erat.

"Apaan Sih? mau apa hah?" jawab Revan sewot.

"Ntar malem makan diluar yuk, aku yang bayarin." ajak Red manja dan mendusel ke pipi Revan.

"Tapi, Ntar malem orang tua gue mau ketemuan sama gue! Jad-"

"Ajak Aja ok! Aku juga mau ngomong sama mereka, sayang~" potong Red.

"Tapi.."

"Udah nggak ada tapi, pokoknya ikut aja. Ntar aku telepon mereka oke, dadah." balas Red dan pergi meninggalkan Revan dengan hati yang bahagia.

"Nanti malam.. Aku akan melamarnya didepan orang tuanya."

2. I'm Do- Hold on!

"Yeee! UN selesai!" seru Reha ketika sampai didepan markas dengan perasaan bahagia.

"Reha, kan masih ada Ujian Tertulis... Ingat SBMPT- ups." Yamagi langsung menggendong sang ketua squad yang pundung sambil garuk tanah karena baru keinget soal ujian yang lain.

"O.. Ok, kita lupakan itu dulu!"

3. Why he's here?

Ok, Tartagus merasa kurang nyaman pasalnya bukan karena dirinya mau melamar Iris tapi nggak punya keberanian, tapi karena dia mau mengajak Iris ke sebuah tempat tertanya. ada seseorang yang harus ikut.

"Kenapa dia harus ikut?" tanya Tartagus cemberut ketika tau kalau Iris membawa Yi Sun Shin ikut bersamanya.

"Tarta-kun, Reha menyuruhnya ikut denganku, lagi pula dia idola-ku dan semua rakyat korea." jawab Iris dan menggandeng tangan Tartagus. "Lagi pula Tuan Yi Sun Shin juga sudah tau kok kalau kita ini kan pacaran."

"Ya, tenang saja. Saya tidak akan mengganggu hubungan kalian, jadi emm.. Nona muda, saya ingin tahu.. kora-kora itu seperti apa?" tanya Yi sun Shin penasaran.

"Kora-kora? Wahana di Taman bermain itu?" tanya Tartagus.

"Iya, Oh, sekarang kita kesana dulu ya. Soalnya disuruh Reha untuk membuat Tuan Yi Sun Shin naik itu." jawab Iris dan menarik tangan Tartagus.

Kemudian..

"Gimana? Lancar?" tanya Vience. "Loh, Napa lagi?"

"Maksud hati sih, mau berduaan sama Iris, eh malah ada Admiral besar Yi Sun Shin yang disuruh ikut sama Reha. Trus, ke taman bermain naik kora-kora. Pas mau dilamar eh.. Kotak Cincinnya nggak tau kemana." Ucap Tartagus murung.

"Kotak cincin lu ketinggalan di laci, tadi pas gue beres-beres eh, nemu tuh kotak." jawab Vience datar dan Tartagus hanya bisa facepalm.

"Mungkin, ini bukan saat yang pas, besok aja kalau gitu."

4. Nggak tahan.

"Hmmmhhh!!"

"Red, apa yang kau lakukan?"

"Hemmh!"

"He- Hei, Red!?"

"Aku tak tahan lagi!"

"Selamat datang di-"

"Berikan aku mereka berdua! Cepat!"

"Ba- Baik tuan."

Beberapa saat kemudian..

"Heeh, Kau mau nambah populasi Anjing lagi di markas?" tanya Revan datar ketika melihat Red dengan nafas terengah-engah menggendong seekor Anak Anjing Alaskan Malamute di dadanya dan yang satu ekornya lagi menumpang di kepalanya.

"Aku tak tahan! mereka terlalu imut untuk aku tidak rawat." ucap Red dengan nafas terengah-engah.

"Haa.. Kalau begitu.. akan aku beritahu Nigou dan Hato soal adik-adik mereka yang baru." jawab Revan datar.

5. Why he's here?

"Huargh!" Desmand memegang lehernya dan langsung bernafas lega saat tidak ada luka sama sekali di lehernya.

"Kau kembali juga akhirnya.." ucap Desmond ketika melihat adiknya panik.

"Yah, Aku mencapai dimana Connor menusuk Haytham tepat di leher. Aku kira itu akan membunuhku juga." balas Desmand.

"Kau perlu rileks, mungkin jalan-jalan sedikit bisa membuat mu tenang."

"Kau benar.."

kemudian di taman...

"Bagaimana? kau merasa baikan sekarang?" tanya Desmond.

"Ya.. Lebih baik, terkena efek Alur itu tidaklah menyenangkan, baguslah aku bisa kembali." jawab Desmand. Desmond hanya tersenyun kecil dan melihat ke depan kembali. Namun, kemudian dia berhenti dan wajahnya memucat.

"Mond, ada apa?" tanya Desmand bingung.

"katakan padaku kalau kau tidak melihat apa yang aku lihat di bangku taman sebelah sana." jawab Desmond dengan gemetar.

Desmand kebingungan dan mencoba melihat kearah bangku yang ditunjuk Desmond. Kemudian, dia ikut memucat karena dia juga melihatnya. "Tidak mungkinkan?"

Seorang pria tua, berjubah abu-abu, memiliki sebuah bekas luka dibibirnya, dengan rambut dan janggut sudah memutih. terlihat terkulai lemas di bangku tersebut, kemudian dia terbangun dan melihat sekelilingnya. Sepertinya, dia kaget dengan sekelilingnya karena dia begitu panik.

"Kita... Haruskah pergi?" tanya Desmond panik.

"Mu.. Mungkin iya, sebelum dia..."

"Desmond? itukah kau?" tanya Pria itu dengan suara lirih.

"Tidak! Kau tidak nyata!" teriak Desmond.

"Aku tak percaya.. akhirnya.. Kita bertemu juga." ucap Pria itu dan menghampiri kedua bersaudar itu. "Ah, kau pasti Desmand, salah satu penerus-ku juga kan?"

Desmand hanya mematung dan tak bisa mengucapkan apa-apa, sekarang dia ketakutan dengan apa yang dia lihat. "Kenapa kau bisa disini?" Tanyanya pelan.

"Aku tidak tau.. Sepertinya, sesuatu membawaku kesini.." jawabnya pelan.

"Tidak, Tidak, Tidak.. Ha.." Desmond segera berjongkok dan memeluk lututnya. "Ahh! Ini membuat kepalaku sakit!"

"Mond, aku rasa.. Kita harus membawanya ketempat aman, aku merasa tidak enak jika dia bisa salah tanggap soal dunia kita." bisik Desmand.

"Ta- Yah, sudahlah." balas Desmond. "Baiklah, Ezio.. kau bisa ketempat kami dulu.. sebelum terjadi sesuatu yang aneh."

"Baiklah, Desmond."

6. Cyborg and Heart.

"Bau- Ah, ini di-"

Kriet!

"Hei! Sia- Oh, Tuan Aiden? Bagaimana kau bisa menemukan ku disini?" tanya Warrend ketika melihat Aiden memasuki ruang rahasianya.

"Ha.. Maaf, lokadi Handphone-mu aku lacak jadi, aku tau dimana kau." jawab Aiden dan membuka topinya. "Jadi, apa yang kau buat disini?"

"Tch, Padahal ruangan ini begitu ketat sampai tak ada satupun anggota yang tau soal keberadaan tempat rahasia ini." balas Warrend dan mengambil sebuah baut dari kotak penyimpanan baut. "Maaf, Tadi apa?"

"Apa yang kau buat?"

"Oh, itu.." Warrend menunjuk sebuah Robot yang terdiam di sebuah tempat penyimpanan. "Belum selesai, karena aku ingin membuat sesuatu yang hampir tidaklah mungkin.. Dimiliki oleh Robot."

"Menarik, apa memangnya itu?"

"Hati, aku akan membuat dia memiliki perasaan walaupun, itu tidak mungkin sekali, dia harus belajar untuk mengetahui setiap perasaan, simpati, dan empati."

"Apa sudah bisa bekerja.. Yah.. Walaupun, tanpa hati.." tanya Aiden.

"Bisa.. Tapi, mungkin dia akan kebingungan soal ekspresi dan penyampaiannya."

"Oh..."

Warrend mulai mengetik kode-kode di Laptopnya dengan cepat, "Baiklah.. Mari kita coba."

"Pemeriksaan data... Penganasilaan data, Analisis gerakan, Pencarian memori.. Kosong, Kode S-41b31r2, Azure Ancestral. Siap dijalankan..."

"Namanya azure?"

"Yap.."

Azure mulai terbangun dengan perlahan dari tempat dia ditidurkan, daat dia meligat sekeliling dia merasa kebingungan dengan tempat dia berada, "Dimana.. Aku?"

"Tuan Aiden, Aku... Berhasil..."

"Bagus, Sekarang kau adalah Tuannya."

"Siapa kalian? Dan lagi.. kalian taukah namaku?" Tanya Azure bingung.

"Aku.. Warrend orchard, salam kenal.. Azure."

"Azure? Siapa?"

"Azure, itu namamu."

"A.. Zure.. Namaku..."

"Ya.. Nah, Azure.. Tolong baca semu- tidak sebagian saja kalau kau tidak kuat membaca memori yang aku masukan ke kepalamu. Itu akan sedikit membantumu nanti." ucap Warrend. "Tutup matamu, dan biarkan tubuhmu membaca memori itu."

"Baiklah..."

'Pembacaan memori yang tersimpan...'

Beberapa menit kemudian...

"Dia masih membaca memorinya?" tabya Aiden.

"Yah, mungkin memang ada banyak-"

"Huaagh..." Azure langsung memasang wajah panik, tunggu kenapa dia merasakan sesuatu yang aneh, kenapa sebuah air kelauar dari matanya, kenapa dia sepertinya merinding ketika melihat memorinya, siapa orang itu? Apa yang terjadi padanya?

"Bukakan pintunya!!"

"Bukakan pintunya sekarang juga! ini perintah!"

"Maafkan aku.. Tapi, dunia ini membutuhkanmu..."

"Tidak! Jangan..." Azure mulai memberontak dari tempatnya.

"Hentikan sekarang juga! Dia tersiksa!" seru Aiden dan Warrend segera menghentikan mesinnya. Kemudian, Warrend segera melepaskan kabel-kabel yang menyambung dengan tubuh Azure.

"A.. Azure... Kau tak apa?" Warrend segera menompang tubuh Azure yang terjatuh ke lantai. "Kau.. Kau menangis?"

"Menangis? Apa itu?" tanya Azure.

"Itu adalah sebuah kegiatan Azure, Dimana kau merasakan sebuah perasaan dimana kau tiba-tiba mengeluarkan air mata. Sedih maupun bahagia, tapi tadi kau berteriak seperti kehilangan seseorang, itu adalah kesedihan." Jelas Aiden.

"Bagaimana dengan Bahagia?" tanya Azure.

"Sebuah perasaan dimana kau merasa bahwa sesuatu yang baik telah terjadi padamu dan orang lain disekitarmu." jawab Aiden.

"Oh.. Aku.. Akan belajar banyak soal itu.. Professor, apa aku bisa.. seperti manusia nanti? Apa aku bisa merasakan keadaan atau perasaan orang lain di hari nanti?" tanya Azure pelan.

"Suatu hari Azure, Suatu Hari..." balas Warrend.

7. Will You...

"Kalian memang pencari Restoran yang bagus, disini enak juga makanannya." komentar Joseph dan mengambil sebuah daging dari panggangan didepan mereka.

"Terima kasih, Tuan Joseph." balas Trio Red.

"Marisa, dimakan dagingnya juga sayang, walaupun kamu mau menjaga berat badan tapi, kamu juga harus makan daging." ucap Nia dan memberikan sebuah daging ke mangkuk nasi marisa.

"Iya, Ibu..." balas Marisa sebenarnya dia malas memakannya tapi, mau bagaimana lagi.

"Kak? Ngapain mesen Ramen kalau begitu tadi." timpal Barrie.

"Biarin, Suka Suka Gue lah." balas Revan yang mengambilkan beberapa daging dari panggangan ke mangkuk Nigou. "Ini, kalau mau ambil lagi bilang papa ya."

"Iya, terima kasih, papa."

"Hato, makan nasimu juga!" perintah Rone.

"Uuu.. Ketauan.." Hato kemudian menyendok nasi dari mangkuknya. (Karena dia biasanya hanya makan daging doang, mentah kalau nggak ada orang lain yang lihat dan matang 'nggak mateng-mateng amat sih' kalau ada orang asing.)

"Aku dengar.. Jin, kau mengadopsi dua anjing baru.. Itu benar?" tanya Nia dan Red langsung keselek tehnya.

"I.. Iya, aku tak tahan melihat anjing dengan tubuh atau perawakan mirip serigala.. Yah, kecuali jenis Shiba inu karena mereka terlalu imut." jelas Red.

'Sialan, tercepukan.' umpat Red.

"Kau memang pencinta Anjing serigala ya." komentar Joseph.

"I.. Iya.."

"Nama mereka siapa?" tanya Barrie.

"Emm.. membedakannya lewat kalungnya saja. Richard yang berkalung merah, dan Fuyu yang berkalung putih." jawab Red.

"Bagaimana saat mereka melihat Hato dan Nigou?" tanya Joseph.

"Haha.. Mereka kebingungan apalagi, saat tau kalau Nigou dan Hato itu anjing. Dan mereka langsung lengket ke mereka berdua. Richard senang jika dia ditaruh dikepala, sementara Fuyu lebih suka digendong seperti boneka."

"Hoo..."

Kemudian..

"Sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu bersama Nigou."

"Ayo, Nigou."

"Iya, Papa."

Red hanya tersenyum melihat kejadian dia dengan segera dia memfokuskan pandangannya ke kedua orang tua Revan. "Emm.. Tuan Joseph, Nona Nia."

"Ya, Red ada apa?" tanya Joseph.

Red mengalihkan pandangannya sebentar, kemudian dia menghelakan nafas. 'Ucapkan saja Jin.'

"Aku... Eh.. Bolehkah.. Aku menikah dengan.. Anak kalian?" tanya Red, yah.. Dia sudah siap menerima apa adanya soal komentar dari kedua orang tuanya Revan.

"Hmm.. Karena.. Kau sudah bersama dengan Revan dan selalu menjaganya baik-baik.. Aku tak mungkin berkata tidak untuk ini..." komentar Joseph. "Ya.. Silahkan.. Jaga Revan.. Aku serahkan dia kepadamu.. Red."

"Selamat ya, Jin.. Tolong jaga anak sulung kami ya." sambung Nia sambil tersenyuk dan memegang tangan Red.

Oh, ini adalah Hari bahagia untuk Red...

"Terima Kasih! Aku akan menjaga anak kalian!"

"Sama-sama Red."

Setelah makan malam bersama tapi, belum keluar Restoran...

"Revan, boleh kah aku ingin mengucapkan sesuatu.." pinta Red.

"Emm.. Silahkan.." Red kemudian berdiri, dan berlutut didepan Revan. Sontak, Revan kaget karena Red berlutut dan memegang tangannya. "Re.. Red..."

"Ini dia.." Bisik Nia pelan.

"Revan.. dari hari kehari.. Kita telah bersama-sama, aku senang dengan hubungan kita, aku tau kau kadang kasar kepadaku. Tapi, hei.. Aku tau.. Itu adalah ucapan sayangmu kepadaku dan juga sebuah ungkapan rasa pedulimu kepadaku. Bukan hanya aku, tapi juga Rone dan Aka.. Jadi Revan..." Red mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dan terdapat dua buah cincin didalamnya. "Maukah.. Kau menikah denganku?"

Revan hanya terdiam, dia menutup mulutnya dan meraih tangan Red dengan tangan yang satunya, "Ya! Aku mau Jin! Aku mau menikah denganmu!" kata Revan. Red hanya tersenyum dan memasangkan cincin. tersebut ke jari manis kiri Revan.

"Selamat ya, kalian bedua.." ucap Joseph sambil bertepuk tangan.

"Selamat ya Revan, ibu senang dengan dirimu.." Nia menghapus air mata bahagianya dan bertepul tangan.

Marisa dan Barrie hanya tersenyum dan ikut bertepuk tangan juga. "Selamat ya kak.. Semoga bahagia."

"Yee.. Master Red akan menikah!" Hato memeluk Red dengan Erat.

"Papa dan Ayah bahagia, Nigou juga bahagia." Nigou memeluk Revan.

Tanpa mereka sadari, seluruh Restoran memandang ke arah mereka dan mereka semua bertepum tangan.

"Selamat ya.. Red dan Revan, semoga bahagia." ucap Tartagus yang ada dipojok.

"Tartagus!?"

"Jin-sensei! Re-chan! Selamat ya!" seru Iris.

"Kalian disini!?"

"Selamat ya, Nak Red. Semoga bahagia nantinya." ucap Kazuma

"Uoh, Jin semoga bahagia dengan Revan." komentar Kim.

"Kaliam berem-"

"Oi, jangan lupakan kami bertiga!" seru Andreas Trio, Red segera menengok ke arah mereka.

"Selamat ya Red." ucap Vience.

"Kapan nih nikahannya?" tanya Sapphire.

"Lageng terus tuh hubungan, jangan pisah ya." kata Daren.

Red hanya terdiam kemudian dia tertawa bahagia, tanpa dia sadari dia juga menangis bahagia karena dia merasakan semuanya peduli dengan dirinya.

8. Protect her.

"Kakek.. Aku mau menikah dengan Tarta-kun.. Tak apakan?" tanya Iris saat mendatangi kakeknya bersama dengan Tartagus.

"A.. Eh.. Hah!?" Kazuma langsung salah tingkah karena kaget mendengar ucapan Iris yang tiba-tiba itu. "Mau menikah!?"

"Tarta-kun, dia.. Melamarku barusan.." balas Iris pelan.

"Ba.. Hahaha! Tartagus! Bagus! Haaa.. Aku yakin hari ini pasti datang.." Kazuma tersenyum dan memeluk mereka berdua. "Kalian memang cucu terbaikku, haaa.. aku bangga dengan keberanian-mu Arta."

"Terima kasih, Kazuma-sen-"

"Panggil aku 'Kakek' saja. Kau sudah termasuk dalam keluarga AokiRyuu sekarang, Arta." potong Kazuma.

"Baiklah, kakek."

"Tapi..." Tartagus mulai menelan ludahnya karena sifat protektif Kazuma ke Iris tetaplah dalam level yang berbahaya.

"Jika, kau berani selingkuh dan membuat Seon menangis.. Aku rasa aku akan mengikatmu di kandang Byakko dan membuatnya memakanmu hidup-hidup." Ancam Kazuma dengan senyuman membunuh di wajahnya.

"Ba.. Baik.. Aku.. Aku akan.. Mengi.. ngatnya.. Kakek."

"Bagus, itu baru Cucuku!"

The End..

Maaf lama karena U know lah.. Ujian-Ujian-Ujian dan Ujian -_-