Balas Revievv :

Rosy Miranto18 :

Yamagi : Ada satu hal, sekali pedangku terciprat ataupun terdapat darah dari musuh maka aku akan kehilangan kendali atas diriku dan menyerang siapa saja yang ada didepanku. Maka, aku akan terus-terusan bertarung sampai benar-benar semuanya rata kecuali, ada yang memanggil dan semuanya akan kembali normal. Ini juga menjadi Alasan kenapa aku jarang mencabut pedangku dari sarungnya, sekalinya dipakai hanya bagian tumpulnya saja.

Yamatabi dan Haya aku bangkitkan setelah bertemu dengan Reha ketika aku pergi selama 4 bulan. Yamatabi dia menyimpan dirinya dalam sebuah Shuriken dan pisau belati, tapi itu hanya setengahnya dan sisanya ada di sebuah alat bantu tinju besi (Brass Knuckles) tak jauh dari makamnya. Haya dia hanya membutuhkan pedangnya saja sih.

Aku memang punya replika tapi, mungkin sudah hancur dan kalaupun mau membuatnya lagi aku terlalu malas karena Reha juga enggan mencabut pedang tersebut.

Warrend : Hmm.. Terima ka- Apa maksudmu hubunganku dengan Aki!? Aku tak ada hubungan apa-apa dengan siapapun selama lebih dari 3 tahun setelah aku memutuskan hubungan dengan wanita yang aku pacari. *mengunyah keras-keras. Dan Wanita itu dengan kurang hajarnya selingkuh sembunyi-sembunyi, memangnya dia kira dia siapa hah! Mau bersembunyi dariku sebagai Perentas! (Kezel, Kezel, Kezeeelll!!)

Desmand : Udah Warrend, udah..

Desmond : Mohon jangan dibahas terlalu dalam atau dia bisa mengirimkan Black Mail ke diri mu selama berminggu-minggu, bahkan menembakmu tepat di pelepis.

Girl-chan : Wadooo, udah Savage, Gip Sekin lah *angry react

kalau Savage itu bukan nyampah, tapi kalaupun bareng-bareng pasti hasil usaha lu nyicil darah musuh Ra.

Gue waktu maen sama lu gue maen ML di Net, jadi masih agak susah.

SR :

Yamagi : Nggak! Nggak akan aku abisin nih kumis-jenggot demi Reha, biar bisa nempel ke diriku terus!

Ezio : Bastado! *maling Hidden Blade Desmond.

Desmond : Ezio.. Cukup, tak usah terpancing! *Nahan Ezio.

Ehm.. Jangan sampe aku bangunkan Vincent ya.. Siap-siap di garuk kau pake cakaran dia.

thx!

Chapter 79 : Random Drabble...

1. Gagal Prank.

Di toko Buku..

"Hemmh.. Aku nggak yakin mau beli komik Ini, Abisnya kurang tertarik sama MC-nya." Komentar Revan.

"Yaudah, abis Ini ke toko game Aja. Mumpung Ada Game yang mau beli ini." Balas Red sambil melihat-lihat Rak Buku komik. "nah, Ini yang bagus kayaknya."

Tak sengaja mereka mendengarkan obrolan anak-anak perempuan dibelakang mereka.

"Eh, liat deh.. Ada Dua cowo lagi Jalan bareng."

"Aduh, padahal biasanya cowo ganteng kayak gitukan pasti Ada cewenya tapi, Ini dia malah bareng cowo lain."

"Iya, Mungkin Aja mereka lagi jalan bareng Aja. Cewenya lagi di tempat lain."

Revan yang merasa risih langsung mengadu ke Red, "Red.. Udahan yuk, nggak enak Kalau diomongin sama Anak perempuan."

"Shht.. Udah Biarin Aja, atau.. gini aja.. Kita bikin mereka pergi." Bisik Red.

"Gimana?"

"Aku ntar nanya ke kamu 'abis Ini mau makan apa?' tapi, agak kenceng, trus kamu jawab Aja yang Ada dihati kamu."

"Lu mau gue, oh.. yaudah, tapi beneran ya ntar, makannya."

"Iya, sayang."

Mereka kemudian mencoba melancarkan rencana mereka. Red merangkul Revan Dan mengusap kepalanya.

"Nanti mau makan apa?"

Revan kemudian mendusel ke Red, "Steak nggak apa-apa Kan?"

"iya, yaudah ya.. Nanti Kita Cari."

Bukannya membuat para perempuan itu pergi karena geli malah kelakuan Red Dan Revan malah membuat mereka Makin heboh Dan senang.

"OMaiGad, tadi dengerkan?"

"Iya, iya, pasti yang pake syal ukenya."

"Ternyata mereka pacaran, ish, couple kesukaan gue nih."

'Sialan ternyata mereka Fujo...' Ujar Red Dan Revan Sweatdrop.

"Anu, Mas.. Kalian berdua Sudah tunangan ya?" Tanya salah satu perempuan dari tiga itu.

"Iya, kami sebenarnya bertunangan.." jawab Revan sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Tapi, Kalian sepertinya tidak asing deh Kalau di lihat." Ucap perempuan yang satunya lagi.

"Hee..."

"Hei! Ini dia!" Mereka langsung berkumpul lagi.

"Kabur yuk, Van." Bisik Red Dan Revan setuju tapi..

"Maaf, boleh minta tanda tangan!" Seru salah satu dari mereka.

"Eh?"

"Kamu.. Kamu Jin Ketsueki! Iya Kan!? Kamu pasti Jin-Sensei!" Seru salah satu dari mereka.

"I.. iya.." jawab Red.

"Aduuh, minta tanda tangan dong! Kami nge-fans berat sama Jin-Sensei Dan Tak tau kalau orangnya disini!" Seru mereka bertiga Dan mengundang banyak orang Untuk melihat.

"Eh.. dia Si Jin itu."

"Uwah, ternyata dia benar laki-laki."

"Kesempatan, Ayo Kita minta tanda tangan jarang-jarang melihat pembuat komik langsung ke toko Buku."

"Van, Gimana nih..." Bisik Red.

"Mau gimana lagi.. ya pasrah.. Kita kekepung."

Beberapa jam kemudian...

"Baru pulang dari mall kok lecek?" Tanya Rone kebingungan.

"Terlalu banyak penggemar berat di toko Buku, aku Tak bisa keluar." Keluh Red. "Harusnya kau ikut-"

"Maap, anda siapa ya!?" Rone pura-pura tidak peduli karena terakhir Kali dia dikerubutin sama Fans-nya Red.. berakhir dengan dia mengamuk Dan menghancurkan meja Dan melemparkan para penggemar fanatik dengan kursi plus acungan dua jari tengah sebagai bonus.

2. Need a bodyguard?

"Eh? Ayah tumben jemput.." ucap Nigou saat melihat Red sedang bersandar di pintu keluar sekolahnya.

"Ya.. Oh, kau pulang sama Flore kan?" Tanya Red.

"Iya Paman... Kenapa ya?" tanya Flore balik.

"Tak apa.. Kita bertiga akan pulang bersama ok, dan Flore.. Kau akan aku antar sampai ke rumahmu." jawab Red.

Nigou dan Flore kebingungan dengan sifat Red yang tiba-tiba malah mau melindungi Flore.

"Emm.. Baik paman/Ayah.."

'Nigou, ayah mu kenapa?' bisik Flore penasaran.

'Entahlah.. Aku juga tidak tau.' balas Nigou.

Kemudian..

"Ah, sudah sampai.. Makasih ya Red udah mau jemput Flore." kata Teiron.

"Nggak apa-apa.." balas Red dan langsung pergi.

"Papa tumben akur dengan paman Red, ada apa ya?" tanya Flore penasaran.

"Nggak ada apa-apa kok.. Nggak ada kok..." ucap Teiron pelan.

Sebelumnya...

"Yo, ada apa?" tanya Red ketika ditelefon Teiron.

"Gue nggak tau harus bilang apa.. Tapi, Red.. Tolong jemput Flore dan anterin dia ke markas gue.. tiap dia pulang sekolah. Gue ngerasa kalau ada pedo yang ngintilin dia tiap hari deh."

"Hemm.. Ook.. Lu kuat bayar berapa buat jasa gue?"

Glek..

"Gu.. Gue bakalan ngawasin.. A.. A.. A.. Semu.. Nggak! Hat.. Fuyu sama Richard seminggu sekali! ajak jalan-jalan, kasih makanan, sama... ma.. mandi.. mandiin mereka berdua!"

Red kaget mendengarnya, "Berani juga kau.." Dia berseringai licik dan tertawa jahat, "Baiklah, aku mau.. Akan aku beri kau sebungkus cupcake tiga sampai dua hari sekali.. itu jika kerjamu bagus, maka.. akan aku beri bonus." tawar Red.

"Be.. Beneran!?"

"Iya..Tapi.. Jika aku menemukan keluhan dari kedua anakku.. akan aku pastikan kau tak akan bisa selamat dariku... Paham!" ancam Red.

"Pa.. Paham!"

"Bagus, kerjaku mulai besok setelah pulang sekolah. Dan kau juga setelah Flore pulang sampai ke rumahmu."

3. It's Brocon Not Brotherhood.

"Kau itu Brocon Akut."

Empat kata yang keluar dari mulut Vincent langsung menohok ke dalam diri Desmand Ketika mereka sedang makan di luar.

"A.. Aku B.. Brocon!?" Desmand tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vincent barusan.

Vincent hanya menghelakan nafasnya Dan kembali menyeruput Milkshake-nya, "Aku sudah memperhatikan sikapmu ke Kakakmu sejak lama Des.. Maka, aku simpulkan Kalau Kau itu Brocon." Komentar Vincent datar.

"Kalau Kau Tak percaya, sekarang Kita pulang Dan aku Akan memperlihatkan semua rekaman ingatanku Dan Kau Soal Sifat Brocon-mu itu." Vincent kemudian bangun Dan menarik tangan Desmand untuk kembali ke markas. Desmand kemudian terpaksa ikut, sembari kembali menggigit burger Dan membawa sisa makanannya yang Ada di meja.

Kemudian..

"Kau siapkan.." Tanya Vincent, Desmand mengangguk. Beberapa menit kemudian, mereka berdua tertidur dipundak satu-sama lain.

Desmand kemudian terbangun disebuah tempat, tempatnya cukup gelap Dan terkadang Ada sekelibat cahaya warna merah yang melintas Dan Juga banyak asap di bawah kakinya.

"Hei, selamat datang di kepalaku.. Des." Vincent tersenyum sinis Ketika menghampiri Desmand.

"Kepalamu cukup Abstrak-"

"Memang, karena Ini bukan mimpi biasa melainkan lucid dream.. aku bisa memaksa seseorang didekatku untuk masuk ke kepalaku Dan membunuh mereka disana." Desmand terkejut dengan perkataan Vincent barusan. "Tenang, siapa pula yang mau membunuh dirimu... Aku bukan Freddy.."

"Terserah.. yaudah, lanjutkan pembicaraan kita yang tadi."

beberapa menit kemudian..

"Bagaima- Benerkan.." Vincent melirik kearah Desmand yang menangis melihat Ingatan saat kakaknya Koma dan Dirinya sedang menunggu disebelah Desmond.

"Aku tak tahan dengan ini Vin, aku memang Brocon!"

4. Counter attack?

"Yamatabi, kenapa kau merubah tampangmu.. agak jadi seperti Preman?" komentar Yamagi yang melihat adiknya yang berpenampilan (padahal hanya di bagian kepala.) seperti Preman, dengan rambut pendek disisir kebelakang, coreng di mata kiri dan bulu mata kiri, dan.. Merokok??

"Memangnya kenapa?" tanya Yamatabi datar.

"Kau kan.. Awalnya-"

"Lah, kau sendiri juga merubah tampangmu secara drastis Aniki." potong Yamatabi dan mencabut puntung rokok dari mulutnya. "Lihat lah dirimu, kau dulu paling anti menumbuhkan rambut di wajahmu

Jleb..

"Sekarang kau menumbuhkannya, kau lebih mirip om-om tau nggak."

Double Stab..

"Maksudmu apa jadinya Aniki? Hanya Untuk membuat anak itu jatuh kedirimu kau merombak semuanya.."

Triple Stab..

"Kau cemburu kesetiap orang di manapun yang berani berkomunikasi dengan anak itu, padahal belum tentu dia menyukai orang tersebut."

Maniac (?!)

"Dan Akhirnya, kau hampir saja terkalahkan oleh pendatang baru itu (Valir), yah, biarpun kau sudah 65 persen kalah. Dari si anak baru itu."

Savage (!??!?!?!?!?)

Yamagi langsung berlutut karena lemas setelah dia kalah telak oleh adiknya sendiri.

"Hee.. Aku memang seperti itu ya..." dia hanya bisa menyeret tubuhnya di lantai dan tiba-tiba...

"Uhhhh.. Aku belum kalah dari Valir, aku belum kalah, belum kalah sama sekali!"

Dia Ngambek bak Bocil permisa...

"Tuh kan keluar sifat Bocilnya..." komentar Yamatabi.

Wipe Out...

"Aku nggak bocah, aku ini bersikap dewasa, Yamatabi Begoo, Rehaaaa!!" Yamagi langsung keluar dengan lebaynya.

"Kau itu umurnya berapa sih.. emoat tahun atau 365 Tahun..." Yamatabi kembali menyulut api di rokoknya.

Executed...

Defeat...