Balas Revievv :
Rosy Miranto18 :
Red : Jin Ketsueki itu Nama asliku, bukan parodi dari siapapun itu. -w-'
Yamagi : Kau yakin menanyakan itu ke Yamatabi?
Yamatabi : Emangnya kenapa? Masalah? *Cuek.
Warrend : Aku sedang membawa sebuah biskuit makanya aku mengunyah dengan keras walaupun itu dimakan dengan sup!
Sepertinya aku sedikit me-losskannya.. Maklum, aku kehilangan sedikit memori walaupun sering tersimpan.
Ezio : *Panik liat sikap Desmand. Apa yang terjadi padamu Mio Frattelo!?
Desmand : Tidak.. tidak ada apa-apa..
SR : Tetap aja.. Akan aku panggil Eudo buat ciduk kalau kau berani menggoda Loli!!
Girl-chan : Yang penting... Udah pernah mendengarkan merdunya dan perasaan senang saat terdengar kata 'Savage'
Thx!
Chapter 80 : Frienemies Witnessed.
1. Revan dan James (From Michael)
"Thanks for your time with me Michael." ucap Revan ketika pergi ke mall bersama Michael.
"Yea.. No prob.. But, do you have to bring your kid to?" tanya Michael saat melihat Nigou disamping Revan.
"Meeh.. He doesn't make any worry to us, it's ok." jawab Revan sebelum akhirnya dia bertabrakan dengan seseorang disampingnya.
"Perhatikan jalanmu he- Kau!!?"
Revan melihat ke orang yang dia tabrak dan ternyata itu adalah..
"Kau!!"
Musuh lamanya saat di SMA, James Kartendison.
"Apa!? Kau mau cari masalah setelah 8 tahun tak beretemu, anak anjing!?" tantang James dengan aura gelap di sekitar tubuhnya. Revan tidak mau kalah dan juga ikut-ikutan mengeluarkan aura gelap sampai Nigou menyingkir kearah Michael.
"Aku hanya tak sengaja menabrakmu, Banteng!!" Labrak Revan.
"Paman Michael... Dia siapa?" tanya Nigou bingung plus ketakutan baru kali ini dia melihat Papanya begitu marah.
"He.. He's your Papa Frienemies... James Kartendison. Actually, they're has a love-hate relationship.. Not Hating each other.." jelas Michael.
"Love-Hate? Papa suka dengan paman James?" tanya Nigou Watados.
"No! It mean.. Your Papa and Uncle James is sometime is a good friend, sometime they're a really scary Mortal Enemies." jawab Michael.
"He! Yaudah.. Anak Anjing, kau tak perlu seperti itu dan harusnya minta maaf karena telah menabrak diriku!"
"Ha! Minta maaf ke kau!? Jangan Harap! Dan berhenti memanggilku Anak Anjing, Banteng!!"
"Anak Anjing? kedengarannya sangat kasar panggilan papa dari paman James?" tanya Nigou.
"Emm.. Your Papa back then is really cling to me because i'm his best friend and his height is 25cm smaller than me so.. He called 'Puppy' by James. And James called 'Bull' by your Papa because his short temper behavior." jawab Michael.
"Oh..."
"Hei, itu anak-mu? dia mirip dengan kau? Kau menikah dengan siapa?" James melirik ke Michael. "Dengan Michael?"
"What!" akhirnya, Michael tersulut juga. "Hell No!"
"Tapi, kau suka-"
"Dia hanya temen baik ku ok! Aku belum menikah tapi, dia anak angkatku!" sembur Revan.
"Haa, Anak angkat kok mirip!"
"Ye terus kenapa hah! Masalah gitu!"
"Loh, Kan Aku nanya baik-baik kok kau malah marah sih!"
"Kau nanya pake nada yang aku nggak suka! ya pantas aku marah!"
"Yee, nggak usah ngegas dong!"
"Lu nyulut duluan!"
"Terus kenapa lu bales!"
"SSG!"
"Paman.. boleh antar aku pulang, aku tak suka melihat ini." pinta Nigou.
"Okay, there you go."
Beberapa menit kemudian..
"Oh, hai Michael.. Mana Revan?" tanya Red bingung ketika melihat Nigou hanya bersama Michael.
"He's..."
"Papa sedang bertengkar dengan Paman James." jawab Nigou watados.
"James?"
"He's Revan Frienemies... Of Course, from the same highschool..."
"Oh, seperti kau... Yasudah.. Terima kasih mau mengantarkan Nigou." Red memegang tangan Nigou dan menyuruhnya masuk ke rumah. Setelah Nigou masuk ke markas, Michael izin pamit.
"Hei.. Aku tau rahasia-mu dengan Revan.." kata Red dengan seringai di wajahnya. "Kau tak bisa bohong soal ini."
"Whaat.. Oh, yeah.. I like him.. but, he doesn't even know if i was fallen for him."
"Hmph, tapi, itu sudah terlambat sangatkan?"
"Yes.. Revan told me.. He already Engaged with you.." Michael menghela nafasnya.
"lalu, kenapa kau tak bilang ke dirinya kalau kau suka dengannya ketika SMA?"
"I.. To nervous to told him."
"Dan kau menyesalinya setelah dia bercerita kalau dia sudah memiliki pacar."
"Yea.."
"I Fell Sorry for you, Michael.."
"It's okay.. I appreciate his decision..."
Tak lama setelah Michael pergi, Teiron datang bersama Richard dan Fuyu. "Ah, sudah kembali."
"I.. Iya." Teiron langsung melepaskan Richard dan Fuyu yang sudah tak sabar untuk mendekati Red. Begitu dilepaskan, mereka langsung lari ke Red dan melompat ke pangkuan Red, kemudian menjilati mukanya.
"Ahahahaha.. Sudah-sudah, bagaimana barusan?" tanya Red ke Fuyu dan Richard.
"woof, woof."
"Teira?"
"Di.. Dia adikku Red." jawab Teiron.
"Adikmu? aku tak tau kalau kau punya adik." Tanya Red balik.
"Yah, aku belum cerita saja ke dirimu." balas Teiron datar. "Yaudah ya, aku ka-"
"Udah Ron, lu ajak mereka jalan-jalan aja, sisanya biarin gue yang urus kedua anak gue." potong Red dan mengangkat Richard dan Fuyu di gendongannya. "Gue tau lu nggak tahan sama mereka, yaudah gue potong aja tugas lu."
"Eh.. Makasih Red, yaudah gue pulang y-"
"Bentar, tunggu disitu." Red masuk kedalam sebentar dan ketika kembali dia membawa beberapa kantong kertas makanan dan sebuah tas. "Nih, bayaran lu hari ini, maaf ya cupcakenya gue bekuin di kulkas, ntar diangetin pake microwave aja."
"Wah, makasih Red." Teiron menerima kantong kertas itu dan ketika dia memegang tasnya. "Kok pan-" Teiron membuka tasnya dan menemukan beberapa Waffle dan kue kecil lainnya.
"Itu dibagi-bagi, soalnya bibi lu bilang suruh ngurangin lu makan manis, jadinya, krim wafflenya gue bikin agak tawar karena gulanya sedikit dan es krimnya.. pake susu rendah gula."
"Ya, makasih ya Red." Teiron langsung berlari sambil melompat-lompat kecil saat keluar dari markas.
Beberapa saat kemudian..
"Re-chan, James itu siapa ya?" tanya Red ketika Revan sedang membaca buku sambil tiduran di kamarnya.
"Kau tau dari mana soal James?" tanya Revan yang tetap sibuk membaca bukunya.
"Michael yang bilang, dia bilang James itu temanmu saat SMA." jawab Red.
Revan hanya diam dan menghela nafasnya, "James Kartendison, dia memang teman-ku saat SMA. Tapi, entahlah, mau menyebut teman kami selalu bertengkar setiap hari, mau menyebutnya musuh.. kami akrab di beberapa saat tertentu.." ucap Revan pelan.
"Hmmh.. kalau begitu kalian memang berteman baik dong."
"Yah.. Tapi, teman terbaikku hanyalah Michael apa boleh buat." balas Revan.
"..Van.. Begini.. Aku mau bilang sesuatu."
"Ya?"
"Ini soal Michael.. dulu dia kayak apa?" tanya Red penasaran.
"Michael ya.. Dia baik.. kalau apa-apa dia mengajakku terus, bahkan saat punya pacar dia akan berusaha sekeras mungkin untuk membawaku ikut bersamanya kemana-mana." jawab Revan.
"Van.. Michael suka sama kamu.."
Revan menutup bukunya dan berbalik kearah Red, "Maksudnya?"
"Van, sebenernya, Michael itu suka sama kamu, dia berusaha buat ngasih kode kalau dia suka sama kamu, tapi dia susah buat ngungkapin perasaannya ke kamu dulu."
"Wow, Sebuah perkataan yang kurang dipercaya."
"Sayang, aku serius.. Michael beneran suka sama kamu.. hanya saja dia nggak tau cara ungkapinnya dan kamu dulu kurang peka aja sama si Michael."
Revan hanya terdiam sesaat, "Yah, mungkin itu kenapa banyak yang bilang kalau Michael suka sama aku pas di SMA dulu sampai pacarnya juga ikutan bilang kalau Michael suka sama aku.. Jadi, ternyata itu beneran..."
"Iya sayang.. Michael suka sama kamu.."
"Aku..Akan minta maaf ke dia besok."
"Ya.. Ajak dia ketemuan lagi besok."
2. Alex dan Aiden (From Desmond.)
Kalau mereka sih masalahnya hanya satu.. Siapa yang paling cepat menarik hati Desmond dialah yang menang. Contohnya saat Valentine, Hari itu.. benar-benar membuat Miles bersaudara harus Facepalm berkali-kali (bonus sebuah jedotan ke tembok dari Desmond.) karena Mereka membuat kerisuhan dibeberapa tempat, ketika Vincent hanya memberikan Desmand sebuah kantung berisi Coklat.
Kakaknya, Alex, dengan semangatnya membuat sebuah ukiran di tanah yang ukurannya sangat besar, bahkan hampir menjadi-jadi karena tercetak di sebuah taman pusat kota, berserta sebuah kalimat untuk mengejek Aiden.
Sementara, Aiden membuat sebuah Video klip yang ditanyangkan di sebuah billboard yang sudah dia rentas, tempatnya sih agak jauh dari kota. Tapi, tetap saja aneh karena isinya juga berakhir dengan sebuah ejekan ke Alex.
kadang mereka berdua juga akrab dalam hal membuat Desmond langsung mikir dua kali karena terlalu sulit menasihati mereka agar tidak merusak beberapa perabotan rumahnya yang dijadikan ajang lempar-lemparan saat dia pergi.
3. Valir dan Eudora (From Gord.)
Gorg sangatlah membanggakan kedua muridnya ini karena mereka adalah orang-orang yang terpilih mengikuti aliran sihirnya. Tapi, entah kenapa dia bukannya senang tapi, pusing merawat kedua murid yang dia banggakan ini.
Sebut saja Eudora..
Penyihir Wanita dengan Element petir ini sangatlah keras kepala. Dia tak suka di komentari oleh seseorang (Biasanya Valir.) yang menolaknya mati-matian Dalam melakukan sesuatu, hanya karena apa yang dia lakukan pasti akan menjadi bencana (Yang ini juga Valir.) Dan juga dia akan menyetrum siapa saja yang berani menghalanginya. (Haruskah aku mengucapkan yang ketiga kalinya untuk orang yang sama??)
Tapi, dia adalah orang yang selalu ingin tahu. Dengan hal ini tentu saja membuat Gord bangga dengan Eudora. Tapi, tetap saja sikap keras kepalanya bisa membuat orang jengkel dalam sekali lihat.
"Hei, lebih baik kau tak usah gunakan sihir untuk menyulut api, terakhir kali kau hampir membakar akademi karena mencoba menyulut api di kayu bakar." ucap Valir kesal yang berakhir dengan setruman dari Eudora sampai rambutnya jabrik... (Dia kayaknya emang udah jabrik deh.)
"Hmph, itukan karena kau nggak bilang ada bensin di kayunya." tulas Eudora tidak peduli dengan omongan Valir.
Dia menyusun balok kayu banyak-banyak dan kemudian mengeluarkan sihirnya. Langit menjadi mendung seketika dan petir pun menyambar dari atas. Gord yang melihat itu hanya bisa poker face, bahkan dia merasakan aliran listrik yang melewatnya sampai dia gemetaran.
Sementara itu di dalam markas..
"Aaahh..." Revan langsung bersembunyi di bawah bantal setelah mendengar suara petir Eudora.
"Shuut.. Nggak apa-apa Revan.." hibur Red.
Kembali ke Eudora..
Tumpukan Balok kayu tadi bukanya menyala melainkan sudah menjadi arang yang terbelah dua dan sang pelaku hanya bisa memasang muka watados.
Disisi lain Gord juga menyukai Valir sebagai murid terbaiknya, karena dia cepat beradaptasi dan mempelajari sesuatu yang baru baginya. Namun, kelemahan terbesar dari Valir adalah sifat Ceroboh dan Arogan dari anak muridnya itu yang menyebalkan.
Bahkan, kalau boleh. Dia ingin mengajak Valir kencan kemudian menenggelamkan anak itu ke Danau dan meninggalkan mayatnya begitu saja tanpa ada rasa yang lain dan berharap mayat anak itu akan tenggelam ke dasar danau dan tak pernah mengapung di permukaan kembali.
Pernah suatu hari dia melihat kedua muridnya sedang bercakap-cakap dan sepertinya Eudora sangatlah tidak senang karena kemampuan Valir yang ceroboh, belajar begitu cepat dibandingkan dia -yang observan.
"Bagaimana kau bisa belajar begitu cepat? kau kan agak bodoh."
"Aku hanya belajar di perpustakaan sudah itu saja, membaca krmudian mempraktekannya."
Membaca dan mempraktekannya Ndasmu, orang yang anak itu lakukan hanyalah Baca komik, Main game, dan godain Anak muda si pemilik tempat barunya.
"Valir, jangan hilang fokus; Satu kesalahan maka kau akan merasakan akibatnya." ucap Gord bijak.
"Tenang saja guru, tak akan ada yang-" tiba-tiba, bola yang digunakan untuk sarana latihan sihir jatuh mengenai tangan Valir. Otomatis, Valir langsung melempar bopa tersebut karena panasnya bukan main lagi.
"Hihi, sepertinya Perpustakaan yang mempelajarimu, bukan kau yang mempelajari perpustakaan." goda Eudora.
Namun, yang paling Gord suka adalah ketika mereka benar-benar bertengkar : pukul-pukulan, jambak-jambakan, Cakar-cakaran seperti kucing, sampai babak belur (Walaupun berakhir dengan saling tuduh kearah dirinya 'Dia yang lakukan' karena mereka tak mau salah.) Oh, namun yang paling dia suka adalah saat Eudora menendang Valir tepat di daerah selangkangan sampai Valir terjatuh di tanah.
"Apa konsekuensi mu menendang bagian pribadiku!?" ucap Valir Lirih karena dia sangat kesakitan di tendang 'Anu' nya.
"Kau tak akan punya masa depan." jawab Eudora watados.
"Sialan kau!" umpat Valir sambil menahan rasa sakit di area privatnya.
Hal itu berakhir ketika Gord meminta Rafaela menyembuhkan mereka berdua.
bonus :
"Selamat ya Reha.. Aku senang dan bangga sama kamu." Yamagi memeluk Rrha dengan erat.
"Iya, Yamagi.. Aku.. juga berterima kasih karena kau mau bersabar dengan sikapku ini." Balas Reha.
"Ada apa?" tanya Takano penasaran yang datang bersama Yuki dan anaknya.
"Reha.. Dia Lulus Sekolah..." ucap Yamagi dan menghapus air mata bahagianya.
"Wah, selamat yang Reha." ucap yuki.
"mau lanjut ke apa?" tanya Takano.
"Aku mau ngambil Desain sama Pendidikan Geografi nanti saat kuliah.' jawab Reha.
"kan hanya bisa satu."
"Nanti kan mau Ujian masuk Univ."
"Ouh, bagus deh, semangat ya Reha." kata Yuki dengan senyuman hangat.
"Iya.."
A/N : Akhirnya gue lulus SMA, tinggal kuliah dan merasakan kehidupan kuliah yang sulit di setiap saat.. Tapi, gue harus semangat dan positif.
Terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa di Chapter depan.
