balas revievv :

Rosy Miranto18 :

Red : Tidak, tidak ada hubungannya dengan Jin Kisaragi!

Gord : Haa.. Aku hanya senang menyaksikannya karena mereka seperti anak kecil saat bertengkar dan aku bukan Masokis!

Eudora : Hee.. Begitu.

Revan : Siapa juga yang mau Poligami! Orang mau minta maaf dan memang Michael dia hanya bisa bicara pake bahasa inggris. Ay, siapa juga yang mau temen lu kena karma diterkam anjing, ya setidaknya gitu.

Alex : Hanya berupa.. 'F'ck You, Aiden Piece!'

Aiden : Tak ada hubungannya dengan hal tersebut. Aku hanya membuat sebuah video dan menampilkannya di sebuah papan reklame elektronik.

Girl chan 2 : Yee.. Si mba Bingung..

SR : Nggak ada apa-apa buat lu! Yamagi hahya mesen tiket buat pergi berdua ke Bandung buat Test!

Revan : Gue nggak sekejam itu juga kali!

thx!

Chapter 81 : Test and Date at Bandung?

"Reha mana?" tanya Batur yang datang ke markas membawa piring dan sendok.

"Udah pergi ke Bandung sama Yamagi dari jam 9 tadi." jawab Red. "Ngapain bawa piring sama Sendok!? minta makan!?"

"Yauuu.. nggak jadi deh, tapi ntar minta ol-"

"Oi, Dia kesana buat Ujian masuk PTN bukan Liburan!" sembur Red dan melempar batur dengan sebuah rendang yang sebenarnya itu adalah lengkuas.

"Dah sana! Makan Tuh Rendang! Ngarapin oleh-oleh juga percuka karena Reha kalau kemana-mana nggak bakalan bawa oleh-oleh." sambung Red dan melempar batur entah kemana.

"ngoehehehe, makasih Red." Batur segera pergi dengan senang dan Red hanya nyengir sambil tepok kepala.

"Udah tau itu Lengkoas.."

Meanwhile..

"Hoargh! lama nunggunya!" Keluh Yamagi yang menunggu Reha mendapatkan Legalisir Surat kelulusannya.

"Lu kira lama apa nungguin tuh tanda tangan udah tau TU sekolah gue emang lemot." balas Reha sewot. "ngemeng-ngemeng, bisa nggak jangan ngelakuin yang aneh-aneh, bisa-bisa gue di cap Humu sama Anak-anak sekolah gue."

"Iya, iya.. Oh, ingat kita berangkat jam 12.45 ingat itu..."

"Iyaaa, bentar ya.. gue mau ngumpul sama yang lain dulu, bye!"

Beberapa jam kemudian...

"Waduh, udah jam setengah dua belas tapi, belum kelu-"

"Nih!" Reha menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan 'surat kelulusan' ke Yamagi. "Dah kan?"

"Yaudah, Yok, kita berangkat!" Yamagi segera menarik Reha untuk berangkat ke stasiun secepat mungkin, karena takut datang terlambat.

Sementara itu...

"Aku.. Tak tau harus bagaimana lagi..." Keluh Vincent dengan wajah ditaruh di permukaan meja.

"Ada apa Vin?" Tanya Alex yang melihat adiknya murung.

"Aku.. hanya bingung.. karena aku takut mereka akan risih mendengarnya." Jawab Vincent datar.

"Hmm..."

"Mereka sih, sudah tau kalau aku memang Sosiopat yang bisa berhubungan dengan orang lain.. tapi, aku kurang yakin untuk menyatakan ini... Tapi, Blacklight... Dalam tubuhku dia.. Necrophilia..."

"Apa? Necrophilia? Maksudmu..."

"Yah, kau tau sendiri.. tapi, Blacklight dalam diriku seperti itu karena baru-baru ini aku tersadar kalau dia memainkan makanannya (saat Vincent tidak sedang dalam kendali tubuhnya dan makanan yang dimaksud adalah Manusia.) Layaknya sebuah boneka dan aku tak bisa lagi menjelaskannya karena terlalu aneh." Jelas Vincent risih.

"Biarkan aku berbicara dengannya!" Perintah Alex dan Vincent segera kehilangan kesadarannya, kemudian matanya mulai berganti warna menjadi merah darah.

"Apa maumu?"

"Kau.. Apa yang kau lakukan dengan tubuh adikku!?"

"Tidak ada, hanya bermain-main sedikit." Jawab bagian terdalam Vincent dengan santai dan tidak peduli dengan ancaman yang keluar dari mulut Alex.

"Bermain-main katamu; Kau membuatnya resah karena sikapmu dalam memainkan makananmu!"

"Itu mah urusanku, kenapa harus dia yang risih! Emangnya siapa yang peduli dengan manusia bodoh itu."

"Apa kau bilang!?"

"Manusia bodoh, hanya tau tentang dirinya sendiri tanpa peduli keadaan orang lain, mereka yang bodoh hanya akan membuat keresahan dan mereka pantas untuk mati."

"Hentikan! Atau kau akan membuatku marah!"

"Hmph.. aku tak juga mau bertemu dengan dirimu lagi, Zeus... Oh, Siapa yang peduli dengan itu!?" Vincent kemudian kembali ke kesadaran awalnya lagi dan hampir terjatuh ke lantai akibat sakit di kepalanya.

Kita lanjutkan di kereta...

"Reha, Reha, lihat aku download Film apa nih.." Yamagi memperlihatkan HP-nya yang sedang membuka aplikasi Iflix dan menyetel Film Resident Evil Apocalypse.

"Oh itu, Yah, aku tidak terlalu suka RE versi Film Hollywood dan L.A (Live Action.) Karena beda jauh dengan story di Gamenya.." komentar Reha dengan wajah datar. "Tapi, kalau buat mengisi waktu senggang sih ya gak apa-apa, toh kita masih jauh ini."

"Hee.. jadi, begitu toh.. Pantas saat pemutaran RE last Chapter kau tidak tertarik tapi, saat RE Vendeta kau begitu antusias."

"Kau tau Yamagi, selera-ku adalah film yang kalau bisa jangan berbrda jauh dengan plot di gamenya jika itu adalah game adaptation. Seperti Assassin Creed movie.. (Biarpun belom nonton.) karena Itu bisa dibilang Filler dari Assassin Creed Series." Komentar Reha.

"Begitu toh..."

"Kau tak punya Film horor kan?" tanya Reha.

"Emm.. Pengab-"

"B.O.S.E.N di sekolah dulu sampe nonton pake Proyektor... Yang lain!"

"Annabelle? Conjuring?"

"... Terlalu banyak, sampai itu jadi makanan kali di beberapa tempat..."

"Kau memang agak pemilih ya..."

"Terlalu banyak yang sudah ditonton di sekolah, Yamagi... aku sampai bosen melihatnya."

"Yaudah... Mau lihat Kill Bill?" Tanya Yamagi.

"Kayaknya menarik, Yaudah, nonton dulu aja deh."

Revan?

"Wa.. Hey, What's the Matter?" tanya Michael ketika menemui Revan di taman dekat Markas.

"Michael.. Can you.. Can you tell me the truth..." jawab Revan pelan.

"Ha- Wa.."

"You.. Like me since we.. High School.. Right?" tanya Revan pelan.

"No- I mean.." Michael melihat kearah Revan dan dia kembali menghela Nafasnya. "Yeah.. I Love you and i like you.. since we're high school..."

"Oh, kenapa kau tak bilang saat itu?" tanya Revan.

"I can't tell it okay.. i.. know.. no.. you know.. i kinda afraid you'll.. you'll look at me in disguise because I'm a man and you're a man too.."

"Tapi, Kau tau.. Kalau sekarang kau terlamabat dan aku hampir menikah dengan seorang pria lainnya kan?"

"Yeah... It's very late... Revan.. Please.. do you accept my love, if.. it was so late?" tanya Michael sembari memeluk Revan.

Revan membalas pelukan Michael dan menaruh tangannya di belakang punggung Michael, "Ya.. Aku menerimanya.. Tapi, kita hanya akan menjadi teman ok.. Maaf soal itu Michael..."

"It's okay Revan.. It's okay..." Michael hampir mencium Revan sebelum dia tepat menempelkan bibirnya di bibir Revan, Revan langsung menahannya.

"No, No, No.. You Can't.. Maaf, Michael.. Jangan cium aku.. peluk tak apa." ujar Revan dan dia mendapat kecupan di Pipi.

"Okay..." bisik Michael.

"How about, we.. have a lunch together, Red dan aku mau makan di luar. Mau ikut?" ajak Revan.

"As your wish, Revan.."

Di rumah sakit terdekat..

"Hnn.. Apa yang terjadi? Dimana aku?" Warrend mulai membuka matanya tapi, semuanya masih dalam keadaan buram.

"Tuan.. Akhirnya sadar." Ucap Azure di sampingnya.

"Ya.. aku dimana Azure?" Tanya Warrend bingung.

"Kau di rumah sakit sekarang.. Lab Kita meledak karena.. Ada sebuah label listrik yang menyambar tangki minyak bahan bakar Dan menyebabkan ledakan, Tuan. Aku yang mengeluarkan tubuh Tuan Warrend dari Lab."

"Terima kasih, Azure."

"Ada apa Azure?"

"Maaf.. aku.. tidak bisa menceritakannya Tuan..."

Azure menatap wajah Warrend yang kebingungan. 'maafkan aku, Tuan Warrend.. Kalau saja.. aku kuat.. Kau Tak Akan kehilangan salah satu matamu...' gumam Azure.

Brak!

"Warrend!?"

"Tuan Aiden?" Aiden segera memeluk Warrend dan mengusap kepalanya.

"Syukurlah kau selamat dari ledakan itu."

"Iya- Ada apa?"

"Aku.. khawatir.. Matamu hilang satu, Warrend."

"Tak apa yang penting aku masih bisa melihat dengan salah satu mataku." ucap Warrend biarpun tau dia cukup tertekan dengan hilangnya salah satu matanya.

"Tetap kuat ya.. aku akan mendukungmu."

"Terima kasih, Tuan Aiden."

Back to Reha...

"Eh, kampret.. Rencana lu apa mesen kamar hotel tapi yang double bed?" tanya Reha sewot.

"Nggak ada kok." jawab Yamagi penuh arti.

"awas aja lu macem-macem, tidur di kamar mandi pokoknya siap aja!" ancam Reha. Kemudian, mereka masuk ke lift karena kamar mereka di lantai sembilan. Reha sih biasa saja, walaupun dia agak gemetaran karena agak ngeri dengan ketinggian.

"Kamar nomor 911 ada dipojok kalau gitu."

Mereka pergi ke kamar yang sudah mereka pesan. Tapi, Nasib kurang beruntung untuk Yamagi karena maksud dari double bednya ternyata...

"Hahaha! Makan tuh Double bed!" ejek Reha ketika melihat kasur mereka tenyata singel bed dijadikan satu, bukan langsung satu kasur. Yamagi yang melihatnya hanya bisa manyun.

"Gue yang di tembok, lu dipinggir sana!" seru Reha dan langsung tiduran setelah melepas sepatunya.

"Haduh.. yaudah.. beli makan malam yuk, disebelah hotel kan mall ini."

"Ok."

"Mau apa?"

"Hmm..."

Beberapa saat kemudian..

"Hee.. Aku tidak yakin kita akan menghabiskannya dalam beberapa menit." ucap Yamagi yang membawa sebuah dua katong plastik yang berisi sebuah paket Burger yang diminta Reha. Sementara, Reha membawa sebuah kotak kue dan dua buah Cup berisi Matcha Latte yang mereka beli.

"Ehehe.. nggak apa-apa kan?"

"Yaudah.. sesekali ini nggak apa-apa.." kata Yamagi dan menaruhnya di meja kamar mereka.

Karena tidak ada kursi dan mereka malas untuk duduk di lantai akhirnya mereka makan diatas kasur mereka masing-masing. (Yamagi : Untung saja, Reha makannya nggak berantakan saat itu. Me : Jangan disebar oi *blush.)

malam mulai agak larut dan Reha masih sibuk dengan Handphonenya, maklum.. Wifi gratis siapa yang nggak bakalan betah dengan hal tersebut.

"Reha, besok ujian kan?" Yamagi memposisikan dirinya dibelakang Reha dan memeluknya dengan erat.

"Jam setengah sembilan kok.. jadi, agak siangan nggak apa-apa."

"Pagi-paginya kita kan sarapan dulu." Sebenarnya dengan posisinya sekarang Yamagi curi-curi kesempatan karena mereka hanya berdua dan tidak ada gangguan dari siapapun. Tapi, sepertinya Reha tidak begitu keberatan dengan posisi mereka sekarang.

"Iya sih.." Yamagi hanya tersenyum kemudian, mengecup dahi Reha dan mengelus kepalanya.

"Reha.. aku mau tau.. kau sayang nggak sama aku?"

"..." Reha hanya diam sebentar dan menatap mata Yamagi. "I.. iya lah.. aku.. suka sama kamu..."

"Oh, begit-"

Plak!

"Tapi, bukan berarti lu bisa macem-macem juga sekarang, mau tidur dikamar mandi ya?" Tanya Reha setelah menepuk pipi Yamagi dengan cukup keras.

"Uuh.. Kamu ini."

"Mau beneran ok, gue tendang juga lu."

"nggak lah! udah dong yang!"

"..." sekarang mereka saling menatap satu sama lain.

"Oyasuminasai, Reha.."

"Hun..."

Besoknya ditempat Ujian..

"Ingat, kau pasti bisa Reha! Jangan menyerah ok!" Yamagi menepuk pundak Reha dan Reha hanya bisa blush karena dia agak sedikit gugup bersama Yamagi.

"i.. iya.."

Meanwhile..

"Nah semuanya, waktunya makan siang." Ucap Hato sambil menepuk tangannya. "Silahkan keluarkan bekal kalian."

"Baik, sensei.."

"Baiklah, sensei tinggal sebentar nanti kembali lagi ya." Hato kemudian meninggalkan anak-anak tersebut dan pergi ke ruang guru.

"Hatori-sensei, mau... Makan siang bersama?" Tanya seorang wanita teman kerjanya.

"Boleh, oh, kau si guru baru itukan?" Tanya Hato penasaran.

"Iya.."

"Suzuhara Harumi.."

"Ya.. Eh?" Hato mendekatinya dan mengendus aroma dari temannya itu. Harumi mau mundur karena gugup dan bingung tapi, Ayata (teman kerja Hato juga.) menahannya.

"Sudah, diam dulu dia lagi mengidentifikasi dirimu, Harumi-chan. Jadi, tenang saja."

"Kenapa harus seperti ini?" Tanya Harumi bingung

"Karena dia itu setengah Anjing." Jawab Ayata.

"Lebih tepatnya, aku memang anjing." Balas Hato dan selesai mengendus aroma dari Harumi. "Jadi, Harumi-sensei..."

"Ya?"

"Untuk apa pria seperti-mu berpakaian seperti wanita?" Tanya Hato watados dan semuanya langsung diam.

KRIK KRIK

"Hatori-sensei, kau bercandakan?" Ujar Ayata tidak percaya. "Harumi kau ini wanit-"

"Tidak.. Hatori-sensei, benar.. aku ini laki-laki..."

krik krik..

"Eeeehhh!!!" Dan kehebohan diruang gurupun tidak dapat dihindarkan sama sekali.

kemudian..

"Harumi-kun, kenapa kau Crossdress seperti itu?" Tanya Ayata yang masih shock dengan hal yang terjadi sebelumnya.

"I.. Iya, kau bahkan.. i.. imut, hah.. lebih imut daripada perempuan yang kerja disini! aku kira kau lebih muda dari Hatori-sensei yang 23 tahun!" Kata Himeko yang juga shock.

"Tooru, bangun!" Ouma berusaha membangunkan temannya yang tergeletak dengan tidak elitenya di lantai ruang guru.

"Maaf kan aku!" seru Harumi.

Go to Reha squad...

"Desmand, katakan apa yang terjadi padamu anakku?" Tanya Ezio pelan.

"A.. Aku.."

"Kenapa? Katakan saja.. aku ingin Tau, alasanmu terhadap sikapmu itu." Sambung Ezio.

"Maaf.. aku sangat kesepian dulu.. karena itu aku sangat tergantung dengan Desmond d.. d.. dan." Ezio memeluk Desmand dengan erat.

"Hentikan itu, kau tau.. Saat Federico meninggal aku juga sama seperti dirimu, namun aku lebih merasakan amarah dendam daripada kesepian yang aku alami. Tapi, aku sadar kalau hal itu tidak benar, kau ingat atau kau tau yang aku katakan padamu sebelum meninggalkan Perpustakaan rahasia Altair?"

"Be.. Berhenti mengikuti-mu? Tapi, aku..."

"Anakku, saat itu aku sadar kalau yang aku lakukan hanya sebatas memenuhi amarah saja karena keluargaku dibantai. Tapi, setelah melepaskan dendam itu. Semuanya tidak terasa begitu baik, aku mencari dirimu.. Dan juga kakakmu. Aku penasaran dengan kalian berdua, kalian selalu disebut penyelamat dari masa depan. Aku penasaran dengan hal itu karena itu aku memcoba mencari perpustakaan Altair yang menyimpan sejarah soal dirinya. Dan disitu juga.. aku menyadari kalau kalian selalu bersamaku di kepalaku." jelas Ezio sambil memegang kedua tangan Desmand.

"Ingatlah, Tidak ada yang nyata.."

"Semuanya diperbolehkan.." sambung Desmand dan memeluk Ezio dengan erat. "Terima kasih, Ezio..."

"Jangan hanya diriku.. Kau punya teman, kakak, dan juga kami..." Ketika Ezio mengucapkan 'Kami' Desmand merasakan kalau kedua pundaknya ditepuk dari belakang. Dia menengok dan terlihat seseorang dengan juga putih sedang tersenyum dibelakangnya.

"Desmand.. salah satu penerusku juga.. Bagaimana kabarmu.. Anakku."

"Altair..."

"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Altair.

"masalah dirinya yang merasa kesepian.. dan dia meluapkannya ke kakaknya."

"Oh, kau enak ya mempunyai saudara." ucap Altair dan mengusap pundak Desmand. "Aku tidak mempunyai saudara, tapi memiliki seorang teman yang aku anggap saudaraku sendiri."

"Malik?"

"Bukan hanya dia.. Kadar juga.. Tapi, sifatku menyebabkan bencana bagi mereka; Kadar mati karena aku.. dan Malik saat itu mulai membenciku.. Aku menyesalinya dan berusaha meminta maaf ke dirinya, tapi yang aku lakukan hanyalah membuatnya makin marah dan aku terlalu arogan dan sombong soal pengembalian Kehormatan diriku yang hilang." Altair menghela nafasnya dan duduk disebelah ezio. "Aku belum menyadari sikap Aroganku sampai hari itu tiba.. dimana aku kehilangan segalanya... istriku, salah satu anakku, dan.. Malik..."

"Aku menyesali perbuatanku sendiri, biarpun saat itu sudah terlambat.. Desmand.. tolong jangan hiraukan teman-teman disekitarmu.. mereka selalu ada untuk menghiburmu.. Jangan tiru diriku yang memenjarakan sahabat terbaikku sendiri karena keangkuhanku dan menyesalinya dikemudian hari."

Desmand mengangguk dan memeluk kedua kakeknya itu, "Terima kasih sudah mau menolongku.."

"Ya.. Tetaplah bahagia.. jangan sedih dan lihatlah teman-temanmu.." Altair tersenyum dan mengusap kepala Desmand.

"Jangan hiraukan lingkungan sekitarmu, atau kau akan menyesal dikemudian hari.." Desmand menangguk dan menutup kedua matanya, saat dia membukanya kembali Altair sudah menghilang.

"Aku akan berubah, Ezio.. Aku akan menerima semuanya."

"Bagus.. itu baru cucuku; Coba katakan."

"Delapan bulan dan semuanya begitu aneh bagiku dan aku Desmand Miles menerima hidupku sebagai Assassin, Karena aku memanglah seorang Assassin."

"Tidak ada yang nyata.." Ezio tersenyum ke Desmand.

"Semuanya Diperbolehkan.." balas Desmand.

Back to Reha...

Malamnya..

"Hoaaaamm... Ngantuk, kapan bisnya sampe?" tanya Reha yang sudah mulai mengajtuk dan bersender di pundak Yamagi.

"yah.. memang telat sih dan sekarang sudah jam 9.54, kita berangkat paling nanti jam 10.30." jawab Yamagi sambil mengecek Hpnya.

"Heemmh... Ntar kalau bis-nya sampai bilangin ya, mau merem sebentar."

"Reha jangan tidur– Nah, tuh bisnya udah dateng ayo!" Mereka segera bergegas menuju ke bis (sebenernya sih gue waktu itu naeknya Shuttle.) dan Reha segera mengambil bangku di pojok. Yamagi mengambil bangku sebelah Reha. Sesuai Dugaan Yamagi, Reha akan tertidur pulas begitu duduk di kursi dan menutup matanya, dia hanya menghela nafas dan tersenyum kecil.

"Oyasuminasai, Reha."

Ketika sampai di tujuan akhir, Reha masih tertidur pulas Yamagi terpaksa menggendongnya ke taksi untungnya dia kuat membawa Reha plus dua buah tas berisi baju kotor dan alat-alat reha.

Paginya...

"Huaamh.. Eh?" Reha melihat sekelilingnya.

"Eh, sudah bangun?" Yamagi menghampiri Reha di kasurnya.

"Nggak, masih ngimpi."

"Hee..."

beberapa menit kemudian..

"Udah?"

"Iya.."

"Yaudah, yuk sarapan."

"Gendong..."

"Jalan sendirilah.."

"HuuHuuh.."

"Iya, iya.. sini."

End...

Omake :

Guild Problematic.

"Ha.. Udah denger masalah guildnya di Garu?" Tanya Batur saat sedang bersama Reha di Plaza.

"Hm.. Masalah apa? Kenapa sama guildnya Si Rara?" Tanya Reha balik.

"Dia di keluar karena ketua guildnya sendiri."

"Di kick?"

"Nggak, dia keluar sendiri." Balas Batur.

"Hmm.. Ada APA emangnya? Kok bisa kayak gitu?"

"Katanya sih ya.. Karena ketuanya ngaku-ngaku kaisar, tapi masih minta gift. Garu nggak suka trus keluar Dan sekarang dia Ada di guild aku." Jawab Batur Dan memperlihatkan daftar anggota guildnya.

"Tunggu bentar, kayaknya Rara pernah bilang Kalau kadang dia di Login sama Ketuanya, kok bisa berubah parah gitu."

"Nah, emang agak aneh sih.."

"Ketuanya ganti?" Tanya Reha lagi.

"Entah.. tapi, emang mencurigaka-"

"Nggak, ketua dari guildnya emang seperti itu..." potong seorang pria yang mendatangi mereka berdua.

"He? Maksudnya?" Tanya Batur Dan Reha bersamaan.

"Ketua dari guild 'Crnhys' emang seperti itu sikap, aku pernah menjadi anggota sementara." Jawab pria itu.

"Berkelakuan layaknya seorang kaisar padahal tidak sama sekali, itu membuatku tidak betah dan jijik."

"Wow, Kau sangat tajam ya.."

"Aku Ini dulu mengamati langsung Bagaimana sikap dari dia, jadi Tau.. sikap aslinya. Jadi, nggak salah Kalau teman Kalian itu keluar guild, bahkan itu adalah pilihan yang paling bagus.. sangat bagus."

"Hee.. begitu.."

"Bat, Gimana?"

"Yaudah, Kita Bahas Aja.. tapi, Garu nggak ada sih.. Kalau Ada ya Bahas bertiga."

Brother Bot?

Saber terlihat (atau memang sangat) pediam ketika Alpha tidak disisinya. Maklum, dia diciptakan tidak memiliki Emosi dan dipergunakan untuk membunuh saja. Tapi, semenjak dia bertemu dengan alpha. Dia mulai belajar soal emosi manusia dan sering bertanya ke Alpha soal hal tersebut.

Alpha sendiri Juga merasa kalau kakaknya (Saber) memang perlu bimbingan untuk mengetahui perasaan yang manusia rasakan selama ini. Walaupun, mereka pernah dikirim untuk memusnahkan pencipta mereka karena dianggap berhianat karena menciptakan Angela, tapi dia bisa menahannya dan melindungi kedua robot yang dia anggap sebagai keluarga barunya itu setelah kehilangan Beta.

Hello, Ruby.

Seorang gadis berpakaian layaknya seorang gadis bertudung merah seperti di cerita dongeng (Kecuali dia membawa sebuah sabit raksasa dan mengenakan penutup mata berbentuk hati.) mendatangi markas Reha bersama seorang pria yang membawa senapan besar.

"Kau yakin mau disini Ruby?" Tanya pria itu kurang yakin.

"Iya.. Lagi pula, ada Kawan-kawan yang lain juga kok. Jadi, tenang saja kakek."

"Oh, baiklah... Kalau ada apa-apa bilang ya, aku tak mau nenek mu khawatir lagi."

"Iya, tenang saja, semua akan baik-baik saja."

"Kalau begitu, selamat tinggal." Pria itu mengusap kepala Ruby dan pergi kerah yang lain.

"Dadah, Kakek Roger.." Ruby berbalik dan mengetuk pintu deoan markas. "Anu permisi!"

"Iya.. Halo, Ruby! kamu datang juga!" seru Layla dan memeluk Ruby dengan erat.

"Layla? kamu sudah disini?"

"iya dong, ayo masuk! ada Miya, Fanny, Alu, Valir, (Eu)Dora, Clint, dan lain-lain." Layla segera menarik tangan ruby agar ikut dengannya.

"Aduh, sabar dong."

Sementara itu..

"Kak.. Aku kurang yakin soal itu.." Miya sedang berbicara dengan seseorang diruang tengah lewat telepon.

"Tapi, kau mengerti permasalahan yang menimpa karina kan?"

"Iya aku mengerti soal Selena, tapi aku masih tidak yakin.. Karena dia Night elf."

"Aku mengerti soal itu Miya.. Aku berharap kau bisa menerimanya saja. Karina masih sedikit Shock dengan hilangnya Selena."

"Baiklah, kapan-kapan aku akan membantunya." balas Miya. "Dah, Estes."

"Iya, sampai jumpa..."

End..