Balas Revievv :
Rosy Miranto18 :
Mau gimana lagi, Aku harus ujian Keterampilan di ITB karena pilihan pertamaku FSRD-ITB bandung.
Red : Hemm.. *Mikir sampai ada rumus matematika disekitar kepalanya. Yah, sedikit kepikiran sih.. tapi, yah lumayan juga.
Revan : Emang sih.. Tapi, dia tetep temen ku. Biarpun sering berantem -_-
Vincent : Aku Tertular oleh kakak Laki-laki ku, Soal Necro itu.. Aku benar-benar tidak bisa membahasnya karena terlalu menjijikan dan dia tidak bercinta.. Hanya memainkannya.. itu yang aku ingat. Oh satu lagi.. Zeus itu adalah Nama Alias yang diberikan oleh satuan Militer ke kakak laki-lakiku sementara aku.. hmm.. apa ya.. sedikit melupakannya... Hades atau Uranus, aku akan mencoba mengingatnya.
Me : Nggak Ada, aku nggak suka film Horor *nyengir tapi, penasaran doang. Hasilnya tanggak 3 Juli nanti.
Yamagi : Itu soal nomor kamar kami beneran dapet yang nomer 911 (Lantai 9 kamar no. 11) -_-
Warrend : Aku sedang memperbaiki beberapa hal dan tiba-tiba tak sengaja hubungan arus pendek dan percikannya tersambar ke arah baterai di sebelahnya alhasil meledak deh. Soal penutup mata, mungkin aku akan membelinya untuk pemakaian sementara, sebelum aku membuat sebuah mata buatan.
Ruby : E.. Eh.. Tapi, rambutku pirang loh bukan Coklat, dan mata ku itu berwarna hitam, bukan merah marun.
Ezio : Palu? Kami tak menggunakan Palu.. hanya sebuah pisau kok.
Desmand : Iya sih, tapi kau pernah membunuh orang dengan sebuah sapu lidi.
Ezio : Iya sih...
SR :
Yamagi : Et dah, Batu Nisan! Udah nggak usah dibahas soal itu. *Blush sambil nutup muka
Red : Lagian dateng minta makan, yaudah ku kasih lengkoas aja.
Altair : *Ngomong pake Bahasa Arab.
Desmand : Katanya, Kalau mau diajarin, siapin mental aja ntar. Karena dia ngajar bukan maen galaknya.
girl-chan 2 : Oh, Gitu ._.
Sama sih, kalau baca ceritanya mereka itu hanya sebatas Raja-Pelayan doang.. Tapi, kalau dibuka-buka terus banyakan pada bilang Miya nganggep Estes itu Kakak laki-lakinya.
thx!
Chapter 82 : Its his Bromace.
Yamagi menatap cemburu Valir yang sedang bertengkar dengan Eudora. Loh, kok begitu? Ya iya lah, orang Reha lagi nonton pertengkaran tuh dua cecungut bareng guru mereka berdua (Gord) sambil menikmati pop corn.
"Valir lagi, Valir lagi!" gerutu Yamagi dalam hati.
pertengkaran itu diakhiri dengan Reha dan Gord memisahkan kedua cecungut itu setelah puas melihat mereka jambak-jambakan. Reha membawa Valir pergi sementara, Gord menenangkan Eudora yang masih kesal.
Yamagi makin Cemburu ketika melihat Reha membawa Valir dengan cara diganteng tangannya dan juga ketika melihat Reha memeluk Valir. Yamagi ingin segera memisahkan kedua orang itu, tapi dia tau kalau Reha tidak akan suka dengan hal tersebut. Oleh karena itu dia berpikir untuk menarik Reha ke dirinya lagi. Dia mendapat sebuah ide cermelang (menurutnya) Yaitu, mencuri baju Valir kemudian, menunjukannya ke Reha dengan dia memakai baju tersebut.
Sorenya, ketika Valir sedang mandi Yamagi, diam-diam mengambil bajunya dan membawanya pergi ke kamarnya.
Valir yang baru keluar langsung bingung bajunya hilang.
'Reha tidak terlalu suka dengan baju putih ku.. tapi, apa yang harus aku pakai ya...' Valir mengobrak-abrik lemari pakaiannya sampai dia menemukan yang pas.
Sementara itu..
"Reha~ Lihat kostumku deh!" Yamagi menepuk pundak Reha yang sedang nonton video di HPnya.
Kalau mulutnya bisa mencapai lantai pasti yang lain bakalan kaget, tapi mungkin itu tidak dilarang karena dia melihat Yamagi memakai kostum Valir dan itu membuatnya Blush tidak karuan.
"Kenapa lu pake baju Valir!?" tanya Reha dengan blush di wajahnya.
"Nggak apa-apa, menurutmu gimana?" tanya Yamagi.
Hmmm... Baju Valir, Badan Jadi, Kumis dan jenggot tipis, Tato lengan sampai punggung, tinggi, tegap.
'Ugh!' Reha menahan hidungnya yang mulai mengeluarkan tetesan darah.
"Eh, Yah.. Mimisan, sini aku lap."
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Tanya Valir yang muncul dari dalem laci meja tapi masih kepalanya doang.
"E lah buju! ngapain lu disitu!?" sembur Yamagi yang kaget.
"Salah tempat Recall, maunya sih tadi di kasur Reha eh, malah di dalem laci." Jawab Valir watados dan berusaha keluar dari laci tersebut. "Masih mending deh, daripada keluar dari Rice Cooker kayak di iklan itu."
"Iya sih..."
-Sebelumnya-
"Setel TV ah~" Yamagi menaruh piring Onigiri-nya di meja dan mengambil satu untuk dimakan. Kemudian, dia meraih remot TV tapi, malah keduluan seseorang.
"Ganti ke Animax!" Valir segera merebut remot TV tersebut dan mengganti salurannya. Yamagi yang tidak terima segera membalasnya.
"Bhalhikhin Thu Hemot! Hue mau Hiat Nahionhal Heoghrafigh!" bentak Yamagi dengan mulut penuh.
"Nggak! Gue mau liat Anime dulu! Wee!"
"Gue duluan!"
"Gue!"
"Gue!"
Tak sengaja mereka memencet tombol yang digunakan untuk memutar video yang tersimpan di Flashdisk yang masih menacap di belakang TV bekas mereka nonton Film yang habis di download semalam.
"Kosong!"
Mereka segera menengok ke Video yang terputar dan ternyata itu adalah Video mereka lagi Parodi Iklan Ramayana beberapa hari yang lalu.
"Astaghfirullahal'azim!"
mereka cengo untuk sesaat dan sweatdrop ketika melihat Video tersebut sampai kemunculan Alucard di dalam sebuah Rice cooker.
'Hah? Dia ngapain didalem gituan?'
-Balik ke sekarang-
"Hee.. begitu..." gumama Reha.
"Iya, Btw.. Balikin Baju gue!" Valir segera menarik bajunya yang dipakai Yamagi.
"Nggak akan!" Yamagi membalasnya dengan mendorong Valir.
"Balikin!"
"Nggak!"
"Balikin nggak!"
"Nggak akan!"
Dan sekarang mereka gebuk-gebukan sambil guling-gulingan di tanah dan yang menonton kali ini adalah Eudora dan Reha (plus Gord) sembari menikmati beberapa jenis kue dan sebuah kopi latte dan teh di meja yang agak jauh dari pertempuran tersebut.
"Seru Ya." ucap Reha dan menyeruput kopi lattenya.
"Nah, gitu dong berantem, aku nggak suka lihat mereka rukun." gumam Eudora.
"Anak-anak bodoh.." pikir Gord.
Ting Tong
Yuki membukakan pintu dan ketika dia membuka pintu ada seorang gadis kecil yang berdiri di depannya.
"Maaf, ada yang bernama Zilong, bibi?"
"Emm.. Ada? mencarinya?"
Mata gadis kecil itu langsung berbinar-binar ketika mendengar Zilong ada di tempat mereka, "Iya, aku mencarinya." jawabnya dengan semangat.
"Masuk saja dan silahkan duduk di sofa, nanti bibi panggilkan." Gadis itu segera masuk dengan semangat dan duduk di sofa. "Namamu siapa nak?"
"Chang'e"
Note : Tapi dibaca Chong'uh ini yang bikin gue bingung, Gue susah Ngucapnya gimana Ch dibaca Sh tapi nggak ampe abis 'Hah?'.
Yuki kebingungan ketika mendengar nama anak tersebut, "Baiklah Chang'e, bibi akan-"
"Bukan Chang'eh dibacanya, tapi Chong'uh!"
"Shong'uh?"
"Chong'uh!"
"Aku kurang mengerti Mandarin."
"Hmph!"
Dan anak itu langsung ngambek karena salah penyebutan nama Chang'e oleh Yuki yang kurang mengerti soal Bahasa Mandarin.
"Maaf, Maaf." Zilong mendatangi mereka bedua dan menepuk pundak Yuki.
"Chang'e, Dia tak bisa bahasa mandarin yang seperti kita, Jadi maklumi ya." ucap Zilong
"Tapi kak Zilong! Chang'e tidak suka jika-"
"Chang'e..."
"Uuh.. Baiklah."
-Meeting with another wind-
"Ah, angin sepoi-sepoi memang enak disaat sedang tidak ada angin begini." ucap Kaze yang sedang berjalan-jalan di padang rumput agak jauh dari markas. Dia memutar-mutar pergelangan tangannya pelan sembari tidur di rerumputan hijau dan menikmati angin yang dia manipulasi dengan kecepatan yang pelan. Lama-kelamaan dia menjadi sedikit mengantuk karena angin sepoi-sepoi yang dia diciptakan, mungkin tidur sebentar bukanlah hal yang masalah untuknya sekarang.
Tapi, sebagai pengendali angin. Dia memiliki indra yang sensitif soal angin karena itu saat angin disekitarnya berubah walapun hanya menyentuh rambutnya bahkan udara beberapa meter darinya sedikit maka dia akan mengetahui keadaan sekitarmya.
'Angin ini terlalu tajam, aku harus waspada!' gumamnya dan kemudian dia membuat sebuah pelindung dari angin buatannya. "Siapa disitu!?"
"Wah, maaf! aku kira tak ada pengendali angin lainnya." seorang pemuda berambut putih muncul dari sekumpulan angin yang tak jauh darinya. Kaze masih memasang sikap siaganya karena angin mereka begitu berbeda. Angin miliknya lebih halus gerakannya namun, bisa tetap menghancurkan sesuatu secara cepat, sementara pria itu dia memiliki angin yang begitu tajam dan muncul secara banyak dan cepat.
"Apa maumu!?"
"Hei, Um.. kawan.. Aku tak bermaksud untuk bertarung ok, dan lagi pula kita ini sama-"
"Hanya sama dengan jenis kekuatan, namgun aliran anginmu berbeda dariku."
"Hee, tapi biasanya angin begitu cepat dan dahsyat alirannya."
"Yah, kita hanya berbeda aliran angin ok, ngomong-ngomong.. Namamu siapa? Aku Kaze."
"Vale."
'Cam Penah denger tuh nama.' Gumam Kaze De javu. "Jadi, Vale, apa yang kau lakukan disekitar sini?"
"Em.. Aku mau menemui saudaraku, Valir."
"Ooh, Eh, tunggu apa!?"
Meanwhile..
"Heeh.. plis deh, nggak usah berantem lagi. Kan ribet jadinya." Ucap Reha yang sedang mengobati luka milik Yamagi sementara Gord mengobati milik Valir. Kedua orang yang bertengkar itu saljng menatap namun, saling membuang muka satu sama lain. Pertengkaran mereka barusan terhenti setelah Gord menghadiahi mereka sebuah Jitakan yang sangat keras di kepala merrka sampai benjol, ya mau bagaimana lagi orang mereka sudah bertengkar lebih dari setengah jam.
"Ha- Apa yang terjadi?" tanya Kaze yang sweatdrop melihat kedua orang dengan benjolan cukup merah dan babak belur sedang diobati di ruang tengah.
"Berantemlah biasa." jawab Reha datar.
"Ooh... Oh, ngomong-ngomong Valir dicariin Saudaranya tuh!" Kata Kaze datar.
"Hah Saudara? siapa?"
"Lihat aja sendiri, orang itu kenal dengan kau banget soalnya."
Valir berdiri dan berjalan menuju pintu dibalik Kaze dan ketika dia melihat orang yang mencarinya, "Kau-"
"Halo Val- Apa yang terjadi dengan kau!?" Vale langsung kaget melihat Valir babak belur, tangan memar, Rambut acak-acakan, dan mata agak menghitam.
"Haah, berantem doang kok, Adu jotos sama salah satu keparat yang tinggal disini."
"Mau aku bantu?"
"Tidak, nanti ada yang marah bisa berabe kita berdua. Ngomong-ngomong, sedang apa kau disini?"
"Tentu saja mengunjungimu Saudaraku!" Vale kemudian memeluk Valir degan erat. "Aku merindukan mu Valir."
"Aku juga Vale.."
(Vale dibaca Vel not Vale.)
"Kau membaca surat dariku kan?"
"Yah, terima kasih untuk suratnya, bagaimana dengan kerajaan angin?" tanya Valir setelah melepaskan pelukan mereka berdua.
"Wah, baik.. sekarang sudah lumayan membaik keadaannya setelah kejadian itu..." Valir hanya diam beberapa saat dan kemudian menghela nafas. "Maaf, membahas hal itu.."
"Yah tak apa.. aku hanya merasa masih tidak senang dengan ayahku yang kejam itu.."
"Hei dengar, kalau kau mau aku membantumu mengalahkan ayahmu aku bisa saja."
"Terima kasih, tapi, aku tak mau saudaraku ikut campur urusan itu apalagi kita beda kerajaan." balas Valir resah.
"Hemm.. kalian bersaudara?" tanya Reha yang mendadak muncul ditengah mereka.
"Reha! Ah, Vale, kenalkan ini Reha. Dia ketua squad ini." ucap Valir dan menepuk pundak Reha.
"Salam kenal, Aku Vale, Sahabat Valir."
"Reha, emm.. bukannya kau bilang dia saudaramu barusan?" Tanya Reha bingung.
"Kami sudah berteman sejak lama, karena itu kami lebih enak memanggil satu sama lain dengan 'Saudara' atau nama kami." jelas Vale. "Ngomong-ngomong, siapa pria yang babak belur itu? Sepertinya dia menatap diriku dngan tajam."
Valir dan Reha segera menengok kearah yamagi yang memasang aura tidak menyenangkan karena dia sudah menganggap Vale adalah gangguan yang berbahaya.
"Maaf, aku akan menenangkan dia dulu." ucap Reha dan segera pergi menemui Yamagi yang masih menatap Tajam kearah Vale dan Valir dan membawanya pergi ke tempat lain untuk ditenangkan.
"Dia selalu seperti itu?" Tanya Vale bingung.
"Selalu, oh dia yang juga barusan adu jotos dengan diriku." jawab Valir datar. "Kami sudah sering melakukannya (setelah adu jotos atau mulut dengan Eudora.) kok."
"Haa.. Untuk masalah apa kalian berdua adu jotos?"
"Hanya perhatian."
"Perhatian? dari siapa?"
"Anak yang barusan."
"Reha?"
"Ya?"
"Kenapa?"
"Aku menyukai anak itu dan dia (Yamagi) juga menyukai anak itu." jelas Valir.
Vale sedikit terkejut mendengarnya, "baiklah, kalau ia memang membuatmu bahagia aku sih ok-ok aja."
"Valir waktunya latihan." ucap Gord yang menepuk pelan pundaknya. "Maaf untuk mengganggu kalian beria."
"Tak apa Master, Oh, Vale kau boleh ikut kok, itu kalau mau."
"Menarik, aku ikut!"
Omake :
The Confusion of Azure Anchestral.
Note : Lagu Inspirasi : Hatsune miku no Tomadoi. Beberapa lirik di ubah untuk menyambungkan beberapa bagian. Dan juga sebenarnya sih ini buat chapter yang lalu karena ini pas azure masih bingung tentang perasaan manusia dan sebelum dia mengerti semuanya.
"? Whose Memory is that?"
Warrend menatap bingung sang penciptanya, profesornya, Warrend Orchard dengan tatapan penasaran. Kenapa dia diciptakan? Apa tujuan dia diciptakan? Kenapa Tuan Orchard sangat perhatian kepadanya? Kenapa dia mau diberikan hati? Kenapa, Kenapa, dan Kenapa?
Dia tidak berani mengungkapkan pertanyaan itu sampai akhirnya dia diberikan sebuah memori entah milik siapa dan kenapa dia berikan memori itu? Apa itu sebuah pelajaran utama? Atau Hal lainnya?
'Memori Siapa itu?' gumamnya.
"Who does it belong to?"Uncooperative senses and silly questions
"At least; it doesn't belong to you"It called 'jealousy' and the expected claims
Selama ini Azure merasa bahwa dia hanya memikirkan hal yang sama, 'Milik siapa Memori itu?' Dia baru menyadari kalau pertanyaan tersebut hanyalah sebuah pertanyaan konyol dan tidak dapat dipercaya oleh siapapun. Dia rasa kalau tugasnya hanyalah melindungi sang profesor dari ancaman dunia luar tanpa perasaan.
Namun, yang dia tidak sadari saat menghajar seseorang yang mencoba mengancam penciptanya adalah dia cemburu dengan siapa saja yang mendekatinya.
"DIA BUKAN MILIKMU!!" Bentaknya ke orang tersebut.
? Who is speaking, who is laughing? Why is he someone who's not me? Should I expect to be sad? ls it useless, should I give up? Who was the memory's beginning? Is it for the sake of only the beginning? The cause of the everyday scenario? The cause of fate ruthlessness? Model answers have
Searched to know if they could search
There's something they haven't noticed…
'Siapa dia? Siapa itu? Siapa yang berbicara? Siapa yang tertawa?' pikirnya karena sekarang dia sedang di perbaiki beberapa perangkatnya di tempat sang profesor tinggal. Dia tidak mengenal seluruh orang tersebut.
Disela itu dia mencoba untuk menelusuri memori-memori yang dimasukan ke kekepalanya. beberapa hal dia coba pelajari tapi, tetap saja dia kurang mengerti. Apakah dia harus bersedih ketika kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai? Baginya itu biasa saja... Toh, dia hanya robot, dia hanya sebuah mesin yang di program untuk melindungi seseorang dan sesuatu. Jadi, mungkin hal tersebut (hati) yang selalu diinginkan oleh profesornya adalah hal tidak berguna. Untuk apa diusahakan kalau tidak berguna.
Hal tersebut hanya akan berguna diawal saja. Mungkin, suatu saat akan mengacaukan sesuatu, lagi pula dia juga lelah mempelajari setiap memori yang ada– Haruskah dia menyerah?
'Tapi.. Aku tak mau mengecewakan Tuan Orchard...' pikir Azure.
The Memory of Unknow noticed something far, far away. The time that was spun was completely like an illusion
The sweet reality of "my purpose" Is that it never existed in the first place
That one wonderful voice Even today, where did I hear it from?
Waktu bagaikan ilusi untuknya, Memori dari seseorang yang dia tidak kenal tersebut terus-menerus ia pelajari agar sang Tuan tidak kecewa terhadap dirinya. Bahkan, Tujuan awalnya untuk melindungi bagaikan tak pernah ada karena sekarang dia hanyalah mempelajari memori tersebut. Sampai akhirnya, dia mendengar sebuah suara yang dia kenal, suara yang sangat bagus. Tapi, dia tidak tau asal suara itu dari mana..
"Dimana aku pernah mendengarnya?" ujarnya pelan saat tidak ada yang melihat.
? Is it a helpless thing? Do I want to know the answer? Is it something that I know of, heard of, understand? Is it an obvious thing? Is it possibly an anti-thing? Will it end without anything? For what purpose is this memory for? For who's purpose is that heart for?
"Nobody else is looking for the answers…"
"But, but, but it was like i was talking to myself…"
Azure merasa kalau dia memasuki sebuah ruangan yang berwarna putih, sinar dari ruangan tersebut cukuplah terang dan sedikit silau disensor cahayanya. Kemudian dia seperti melihat memori itu lagi, kali ini dia melihat beberapa manusia yang dia tidak kenal mati. Tetap saja dia kebingungan dengan semua hal itu. Apa dia perlu memahaminya?
'Tidak ada yang mau mencari jawabannya...Tapi, Tapi, Tapi aku seperti berbicara dengan diriku sendiri.' Hal ini makin lama semakin membuatnya agak tertekan dengan segala memori yang masuk untuk dia berlajar tentang hati. Tapi, dia tetaplah tidak mengatahui Apa tujuan dari memori ini? Untuk apa dia diberikan hati? Dia hanya robot!
Who does this belong to? What is its purpose? Where should I go? What can I do? Things that don't end, the loop that goes on forever
Model answers are Coming closer to know if they could come close
There's "an end (something)" they haven't noticed…
"Aku tak peduli lagi!" Seru Azure dan melepas semua perangkat dan kabel yang terpasang di tubuh dan kepalanya. "Aku tak suka akan hal ini!"
"Azure? Kenapa?"
"Aku tak suka dengan Hati ini, Tuan Orchard!" Jawab Azure. "Ini menyiksaku! Memori itu juga, entah milik siapa? Apa tujuannya? Hal tersebut bagaikan lingkaran tanpa akhir tuan Orchard!"
"Tenang Azure, aku rasa kau hanya tertekan."
"Bagaimana aku bisa tenang!? karena setiap model jawaban yang datang aku membenci akhirnya Tuan! Bagaimana aku bisa tenang!"
The Memory of Unknow noticed something far, far away
The time that was spun was completely like an illusion
"Life carries no compensations for its burdens"
I'll resign and cover up my tired heart
That one wonderful voice
I'll erase my existence
"That Heart is…"
"Kenapa aku diciptakan.. Kenapa?" Azure tidak menyadari kalau dirinya menangis. Dia masih begitu tertekan karena dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Semua memori yang ditanamkan hanyalahanyalah sebuah kenangan buruk di kepalanya. "Aku ingin menghilang saja."
Tiba-tiba, Warrend memeluknya dengan Erat dan selalu mengusap punggungnya.
"Maafkan aku Azure.. Aku terlalu memaksamu..."
"Tuan-"
"Aku tak menyadarinya kalau kau kelelahan selama ini. aku hanya fokus ke penelitianku tapi tidak dengan tubuh dan peresaanmu. Tolong maafkan aku."
Azure hanya diam kemudian, pelan-pelan dia memeluk balas sang penciptanya. Sekarang dia lebih tenang dan dia seperti mendengar suara seseorang sedang berbahagia, mungkin saja sekarang memori itu sedang memutar kebahagiaan orang yang ia tidak dikenal itu.
Azure Gracefulness
That Memory is someone else out there.. Sorry for All, Professor... I already know, what the purpose off my heart that you make to me. I need an emotion, that heart give me everything. Thank you.. Thank you for making me to this world..
End..
