Balas Revievv :
Girl-chan :
Red : Bisaloh, asal ada Alumunium Foil aja udah bisa. Soal Hato.. Kau tak tau kekuatan seorang majikan anjing.
SR : Kenapa kau juga ikutan nuduh Vale ikut campur urusan Cinta Hah!? *Nimpuk Batur pake Bambu. Dia. Hanya. Temen. Oke!
Lectro : Dia hanya belum tau aja.. Mungkin, Warrend juga lupa masukin arti kata 'Pacar'
Valir : Gift Reha 'Techinician' Or Nggak dikasih! *Pake nada Ngancem.
Gord : Valir, Jangan! *Lempar bola energi
Valir : Huu~ *Pingsan
Rosy Miranto18 : Gue tau Vale itu keren tapi satu hal.. Gue. Hanya. Temen. Sama. Vale. Ok.
Me : Tuh, dengerin napa..
Yamagi : Iye, Iye..
Valir : Nih, Pake yang ini aja *nyodorin baju warna putih.
Yamagi : *Cemberut. Reha nggak suka yang 'Pale Flame' mending baju merah-mu saja.
Valir : Terserah *nyodorin baju warna merahnya. Nih.
Vale, Me : Bagus deh mereka gencatan senjata..
Yamagi : Makasih, Tapi.. kita masih Rival ok... *Dark Aura.
Valir : Hemph, Tentu saja.. *Dark Aura.
Valir : Well.. Itu baju omyouji itu, baju baru ku kok -3-
Sandra dan Riri : Kami nggak pedo, itu hanya bercanda -3-
Yuki : Ups, aku salah cerita.. itu malah kenapa Takano benar-benar beruntung. *nunduk
Azure : Lalu, Pacar itu apa dong?
Thx!
Chapter 84 : Who are you anyway?
~Teiron meet Human Shiki~
Senin...
Oh, Dia teringat sebuah hal...
Hato..
Diakan...
Kerja..
Akhirnya dia bebas untuk sementara...
Tapi yang penting dia bisa keluar untuk jalan-jalan; yang pastinya menghindari jalan kearah Taman Kanak-kanak tempat Hato kerja. Tapi, emangnya dia juga mau nyerang dirinya saat kerja? Hah.. Mana mau. Sudahlah, lupakan.. Saatnya pergi ke toko kue~
Sepulangnya dari Toko kue dia mampirsebentar ke taman untuk menyantap salah satu kue mangkuk kesukaannya atau mungkim dua buah kue mangkuk. Tapi, beberapa saat dia duduk, tiba-tiba, seoang pria muncul dari semak-semak sebelah kursi dia duduk. Pria itu memiliki rambut warna hitam dikuncir dengan mata berwarna hitam juga. Tapi, yang agak membuatnya kaget adalah dia memiliki aksen anjing.
Pria itu menatap dirinya sebentar tapi, kemudian dia berdelik. "Kau bocah yang waktu itu ya."
Ah? Hah? Kenal saja tidak, Sok Tahu; Dasar SKSD.
"Maaf, Kau siapa?"
"Hah!" Pria itu menatap kesal dirinya, tajam bagaika serigala sedang menatap tajam buruannya. "Kau melupakan dirku bocah!?"
"Kenal aja nggak, dan berhenti memanggilu 'Bocah' Aku sudah 17 tahun!" Pria itu menatap dia dengan wajah tidak percaya, mungkin sangatlah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Dan aku 33 tahun, Hei, Aku tak percaya kau 17 tahun! Kau lebih muda untuk ukuran seperti itu, bisa dibilang kau lebih mirip bocah 14 tahun dengan tubuh kurus dan kecil."
Ingin sekali dia menimpuk pria ini dengan sebuah batu bata, tapi dia terus menahannya. Baru dia ingin berbicara Pria itu langsung mengucapkan sesuatu yang agak aneh ditelinganya.
"Dengar ya Bocah! Aku tak tau apa yang kau telah lakukan ke adikku tapi, itu harus melibatkan kekuatanku untuk membuatnya tidak ingat kejadian beberapa hari kemarin. Padahal aku tak mau menggunakan kekuatan yang aku punya tapi, Anak muda itu terus memintaku untuk membuat adikku melupakan kejadian dengan dirimu itu dan kau sudah membuatku kesal!" Gerutu Pria itu sembari menarik pipi Teiron sampai melar.
"Hue! Sakit!"
"Terserah, Tapi jangan membuat sesuatu yang macam-macam ke adikku lagi!"
"Iya, Iya, Aku janji!" Pria itu melepaskan cubitan dari pipinya setelah itu dia langsung berjalan pergi menjauh darinya. Oh, dia melupakan Nama pria itu.. Dan kenapa dia selalu membawa adiknya, dia sendiri tidak tau apa yang dia lakukan ke adik pria tersebut.
"Hei!"
"Ya!"
"Nama-"
"Kita sudah pernah bertemu satu kali, aku datang dengan seorang pria ninja dengan seekor Rakun dikepalanya, dan kau ketakutan saat melihatku dan langsung melompat ke lampu gantung." Pria itu sedikit tertawa. "Menurutku itu Aneh dan Lucu, apalagi saat aku mengetahui kalau kau punya teman seorang manusia Serigala, tapi kau tidak takut kepadanya." balas Pria itu dan langsung pergi kembali.
Pria ninja...
Rakun...
Teman seorang manusia serigala..
ketakutan saat melihat pria itu...
lampu
Adiknya...
Kejadian beberapa hari yang lalu...
Tatapan ganas, layaknya seekor serigala sedang mengincar sang mangsa...
Teiron langsung terdiam dan ingin sekali dia meminta maaf (Untuk ketidak tahuannya) dan berterima kasih ke Shiki Untuk apa yang sudah dia lakukan karena menyelamatkam dirinya dari Amukan Hato.
–Walaupun, itu akan menjadi perjuangan yang berat
~Aww, Cute!~
"Emangnya siapa yang mau kita giniin?" Tanya Eris Sambil menadahkan tangannya di samping pundaknya.
"Hmm..." Alfred Melihat Azure lewat tak jauh dari mereka, kemudian dia memanggil Azure untuk mendekat kearah mereka.
Azure hanya bingung dan mencoba menganalisis apa yang mereka berdua lakukan. Tangan ditadahkan? Dia mau meminta apa? Kamera? Mereka mau memfoto apa? Oh, dia mendapat ide, mungkin mereka mau dia berjabat tangan; Tapi, rasanya itu tidak benar. Akhirnya, Azure mendekat dan menaruh dagunya di tangan Eris Dan melihat ke kamera.
'Ya ampun, kok jadi imut ya...' gumam Alfred Dan Eris Ketika melihat kearah Azure, Alfred Pun langsung mengambil foto Azure sedang menaruh dagunya di tangan Eris.
"Sudah ya, makasih Azure." Mereka berdua langsung pergi dan Azure juga namun, masih kurang mengerti apa yang mereka lakukan padanya barusan.
~It's a stalker or what~
"...Haa..." Seorang pria dengan kemeja putih baru saja turun dari bus di sebuah halte dekat dengan restoran. Perutnya lumayan lapar –Atau memang dia sangat kelaparan setelah menempuh perjalanan dengan bus yang sangat lama dan makanannya habis dia makan selama perjalanan.
"Kemana lagi aku harus mencari Otou-sama.. Aku tak punya ide." keluhnya setelah duduk di bangku restoran tersebut. Dia melihat sekeliling dan tak sengaja dia melihat seseorang yang dia tak asing melihatnya.
"Sini-sini, Ayah potongin.."
"Terima kasih ayah."
"Lihatin tangan ayahmu, biar nanti kau bisa potong sendiri."
"Iya, Papa.."
'Orang itu...'
Beberapa saat kemudian..
"Red, kau merasa diikuti nggak?" tanya Revan yang mulai curiga dengan suasana disekitarnya yang mulai tidak enak.
"iya... kau mending jalan belakangan sama Nigou saja... biar aku yang tarik orang itu." balas Red.
"Baiklah..."
~Efariolem~
"Nah, Ajak Adikmu jalan-jalan terlebih dahulu Azure.."
Azure masih terdiam.. Mungkin, Bukan ide yang bagus untuk meminta Warrend kembali merancang Efarion agar sedikit yah.. Setara dengannya –beda Efarion sendiri 20cm lebih tinggi darinya. "Tuan.. Apa kau yakin merancang Efarion setinggi itu?"
"Hemm.. Ok, memang itu salahku harusnya aku menggunakan ukuranmu karena dia adikmu, sekarang dia terlalu tinggi."
Notes : Tinggi Azure 180cm.
Warrend menguap kembali, "Kau ajari dulu Efarion agar bisa berinteraksi dengan manusia lainnya, dia akan kebingungan jika langsung berhadapan sendiri."
"Selamat Tidur, Tuan Orchard..."
"Ya..."
Azure kembali memandang kearah Efarion. Dia menganalisis semua ciri-ciri Efarion, robot pria dengan rambut coklat, mata coklat, dengan jaket hitam dan tulisan Efarion di punggungnya, juga Tinggi 200 sentimeter...
"Ada yang salah kak?" tanya Efarion bingung.
"Ok, Sudah.. Nah, Sekarang ayo aku antar kau berkeliling terlebih dahulu." Azure mengedipkan salah satu matanya, Efarion sepertinya langsung ingin mencobanya tapi, dia masih kesusahan menggerakan beberapa hal.
"A.."
"Kau belum bisa berkedip?"
"Berkedip?"
"Hal yang aku lakukan barusan..."
"O..Oh..."
Lalu, mereka berkeliling sedikit, bisa Efarion analisis. Kalau tempat mereka tinggal berisi beberapa manusia aneh dan tidak jelas sifatnya. Mulai dari yang suka marah-marah tidak jelas sampai yang sedang melakukan Prank Call kesalah satu nomor telepon dengan lagu Lingsir Wengi dan juga Salah satu lagu dari aplikasi aneh seperti not lagu. Azure dengan nada memaksa menyuruhnya untuk menghapus lagu tersebut dari memorinya karena jika Warrend menemukan dua File lagu tersebut dia akan marah ke Azure nanti. Karena dia tak ingin kakaknya kena marah dia melakukan Re-boot sementara untuk menghapus lagu tersebut.
Kemudian..
"Anone, Anone, Anone.. Azure, boleh aku minta tolong." Pinta Salma yang menarik jaket milik Azure (Dia juga pake jaket, tapi warna abu-abu dan tulisan Azure dipunggungnya.)
"Apa itu Salma?"
"Tolong berikan kue kering dan susu Strawberry ini ke Salem dan Chilla." Salma memberikan sebuah keranjang berisikan tiga toples kue kering dan dua botol kaca Susu Strawberry. "Ah, satu lagi.. Kalau kau melihat Salem bersama Rendy, bilang ke Rendy jangan membahas atau keceplosan soal 'Ukuran' lagi.. Atau Dua orang penting akan datang kepadanya."
Software instability Up
–Sepertinya dia serius soal hal itu, karena dirinya terlihat dengan senyuman ingin membunuh, Mereka berdua segera pergi dari markas.
Beberapa saat kemudian...
Syuuut~
Gompryang!
"Sa.. Salem, dia kenapa?" tanya Rendy yang melihat Salem terbujur lemas di tanah–Tentu saja dengan sebuah benjolan dikepalanya dan mukanya ringsek karena baru saja kepleset kulit jeruk entah darimana dan menabrak Efarion didepannya.
"Dia menabrakku.. begitu.." jawab Efarion datar.
"Kok bisa benjol?"
"Kami ini Android bukan manusia..." jawab Azure datar.
"O.. oh..."
"Maaf, sebagai gantinya aku yang akan membangunkannya.." pinta Efarion sambil mengangkat tangan.
"Si.. Silahkan..." Ucap Rendy dan mundur.
Efarion menghampiri Salem yang masih terbujur lemas di tanah. Dia berjongkok sedikit dan beberapa pilihan terdapat didepan matanya.
A. Tampar dia –Kemungkinan 40 persen berhasil.
B. ?? –kemungkinan 98 persen berhasil.
C. Siram dia dengan air –kemungkinan 60 persen berhasil.
D. panggil Alfred –Kemungkinan 42 persen berhasil.
"Emm.. Kak.. Boleh bantu aku membuka pilihan B..." pinta Efarion ke Azure.
"Baik.."
B. F
Fi-
Fin-
Fini- Finish Him!!!
Mata Semua ketiga orang langsung bersinar merah. Rendy kedalam mengambil tangga, Azure membopong Salem ke pohom terdekat, dan Efarion langsung menaiki pohon setelah diberi tangga yang dibawa Rendy. Setelah dirasa cocok, Efarion langsung terjun kearah Salem dibawah.
Gedebuagh!!
Please Stand by...
"Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Mathias yang sweatdrop melihat Salem benjol plus lagi dipijit karena badannya susah digerakkan. Iyalah, Orang abis ditiban Robot segede Alfred dan notabene Beratan robotnya. "Dan itu siapa?"
"Ciat! Rasakan pijitan ala Momota!" Momota langsung memijit betis Salem dengan keras.
"Aaaaah!"
"Oh, Dia anak baru Reha squad, namanya Momota..." Jawab Rendy. "Dipanggil kesini buat mijitin mbah Salem."
"Pijitnya, pijit plus-plus bukan?" Tanya Mathias.
"Barusan lu ngomong apa? Pijit Plus-plus?"
"Ah, Enggak! Btw, Dia dua kali apes ya.. pertama Prank call, sekarang ditiban Robot."
Balik ke Azure...
"Mau foto boleh ya." Pinta Emy ke kedua Robot itu. Mereka mengangguk dan segera berjalan dan bersender dengan tangan mereka di jendela tersebut. Tapi, sayang... Jendela itu tidak terlalu kuat menahan dua robot tersebut dan akhirnya, mereka bedua terjatuh kebelakang dan jedelanya pecah.
"Ya ampun! Jendelanya!" seru Emy panik.
"Maaf untuk jendelanya!" balas mereka berdua dengan badan masih setengah didalam.
~Eh Si Oneng!~
Nigou Dan Flore sedang asik bersepeda bersama dengan Flore membonceng Nigou dibelakangnya, sembari bernyanyi potong bebek angsa berdua. Semuanya berjalan dengan lancar jaya sampai mereka menemukan sebuah masalah kecil didepan mereka.
"Nigou, gantian nyetir sepedanya." Pinta Flore.
"Dih, Ada soang." Keluh Nigou yang melihat angsa tersebut sedang berjalan didepan mereka.
–Ok, itu masalah besar.
"Tunggu, Flore mau ambil batu dulu." Flore kemudian mengambil sebuah batu yang ukurannya sekepalan tangannya.
"Yang besar ngambilnya Flore.." Setelah Flore mengambil batu, Nigou segera mengambil ancang-ancang dan memacu kecepatan sepeda itu cukup cepat, namun ketika melewati angsa tersebut seperti dugaan mereka; pasti dikejar.
"Lempar batunya Flore!" Seru Nigou yang melihat angsa itu semakin mendekati mereka berdua. Tapi, ternyata dugaan dia salah. Tujuan Flore mengambil batu bukan untuk menimpuk angsa itu.. tapi..
"Dih, ini batu buat nahan eek!" Balas Flore yang juga panik Angsa itu semakin dekat.
"Eh si Oneeeeeng!"
Untung saja, ada turunan didepan mereka. Jadi, mereka selamat dan sepeda itu melaju dengan cepat.
"Kita selamat Flore!" Seru Nigou senang.
Tapi–
"Loh! Remnya! Flore! Remnya blong!" Ucap Nigou panik. Tapi, entah Florenya mendadak budeg atau nggak ngeh dia malah mengeluarkan sebuah Lem kertas dari sakunya. "Nih.. Lem."
"Si Oneeeeeng!!" Akhirnya mereka berdua nyusruk ke semak-semak didepan turunan tersebut. Untung saja.. Mereka tak jauh dari rumah tujuan mereka..
–Rumah Revan...
"Ka.. Kalian kenapa!?" Tanya Nia kaget yang melihat Nigou dan Flore berantakan semuanya, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Habis dikejar angsa, Nenek Nigou." Jawab Flore watados.
~Don't Call me that!~
Yamagi baru saja mau pergi ke kedai karena hampir waktunya buka. Tapi, seorang pria menepuk pundaknya. Saat dia melihat, ciri-ciri pemuda itu.. Rambut disisir kebelakang berwarna Ungu dengan mata hijau ditutup satu dibagian kirinya. Tentu saja.. dia memakai topi berwarna hitam. "Bisa dibantu?"
"Aku ingin bergabung disini.. boleh.."
"Emm.. kami.."
"Aku punya saudara disini.. Alucard, Sarah, dan Mira.."
'Salah satu Valient lagi rupanya...'
"Maaf tapi, Mira tidak sedang disini. Dia pergi beberapa bulan yang lalu." Jawab Yamagi datar.
"Oh, itu tak apa, aku tau dimana dia sekarang. Tapi, bolehkan aku bergabung disini?"
"Baiklah..."
"Salam kenal, Aku Anthonius Thomas Valient. Aku anak ke dua keluarga Valient." Seorang pria membungkuk didepan Yamagi dan melepaskan topi hitamnya. "Senang bertemu denganmu, Tuan-"
"Yamagi Kunihiro, salam kenal." Yamagi membungkukkan badannya juga.
"Kau asli Jepang?" Tanya Anthoni.
"Ya, aku dan kedua adikku asli Jepang."
"Ooh.. tidak seperti kami berlima.."
Yamagi agak kaget mendengarnya, "Apa? Kalian bukan asli satu negara semua?"
"Ahaha.. Tidak, Kak Alu dia lahir di Ukraina, Aku di Perancis, Sarah di Portugal, Mira di Denmark, dan Cullen di Belgia." Jawab Anthoni sembari menahan rasa tawanya.
'Mungkin, itu adalah alasan yang tepat untuk Mira yang selalu Traveling kemana-mana, tetapi giliran Denmark, lamanya kayak apaan tau. Ternyata itu toh...' pikir Yamagi, sementara itu Mira yang sedang membawa belanjaan langsung tersandung dan hampir terjatuh ke tanah terdekat sebelum baju ditahan oleh seorang wanita berambut pirang. "Terima kasih Nona."
"Ah, iya sama-sama, tak usah repot-repot."
Balik ke Yamagi...
'Ah~ Kampung halaman... Tapi, jika aku tebak.. Pria ini adalah orang dengan selera Humor yang Aneh, seperti Tim-Tam Coklat yang udah kembali ke wujudnya yang semula'
Disisi lain Tumma langsung keselek Kacang Atom yang baru dia beli.
"Ah, Aku harus memanggil kau apa?" Tanya Yamagi.
"Anthoni, Toni, Thomas.. Terserah, asal kau tidak menyingkat namaku saja." Menyingkat katanya.. Inisial.. A.. T.. V.. tunggu..
"Maksudmu, Memanggilmu, 'Mobil Tanah' atau 'Televisi' seperti itu?" tanya Yamagi watados dan sepertinya itu langsung mengenai Anthoni tepat di lubuk hati paling dalam; sangat dalam sampai ke bagian amarahnya.
"Ya! Kenapa semua orang selalu tau soal 'Mobil Tanah kecil' itu!?" Keluhnya.
'padahal asal tebak, dan.. aku nggak keceplosan soal yang satu lagi untungnya...' gumam Yamagi. "Ah, kau silahkan masuk, aku harus pergi ke kedai karena aku mau buka."
"Boleh aku kesi-"
"Kami belum buka, buka pukul 4 sore." Yamagi segera cabut dari tempat itu dan meninggalkan Anthoni sendirian.
~Dimakan Sayurannya~
Setelah kejadian 'Dikejar Angsa' sampai nyusurk ke semak-semak. Flore Dan Nigou memutuskan untuk menginap di rumah Revan untuk semalam saja. Yah, Flore mendapatkan sebuah baju pinjaman milik Marisa yang sudah kecil menurut Marisa dan tentu saja, mereka menelepon orang tua masing-masing dibantu oleh Nia.
"Baiklah.. Karena untuk semalam saja jadi dia diizinkan.." kata Nia yang sedang menelepon GCS.
"Iya, Karena Keponakan-ku sendiri belum tentu senang mendengar semua ini.. tapi, ya mau bagaimana lagi, semalam saja tidak apa.."
–Sepertinya yang mengangkat Telefon adalah bibi Rilen.
"Anak-anak, kalian ke ruang tengah dulu saja atau ke kamar Paman Barrie, kalian bisa meminta dia untuk meminjamkan komputernya sebentar jika kalian Ingin bermain."
"Lalu Nenek?" Tanya Nigou.
"Ah, nenek mau bicara dengan Bibi Rilen Dulu untuk sementara, sudah sana ya." Ucap Nia dan kembali berbicara dengan Rilen lewat telepon. "Hei, bagaimana keadaanmu? Aku sudah lama tidak bertemu dengan-"
Kemudian..
"Oh, kau Flore; teman Nigou, Salam kenal aku Kakeknya Nigou, Josephine Sharps." Ucap Joseph sembari mengelus kepala Flore.
"Kakek Joseph.. Hentikan."
"Nigou, juga mau kakek Cubit pipinya sampai melar?" Joseph kemudian mencubit kedua pipi Nigou sampai melar, terlalu melar...
"Kakek.. Aku bukan Shiba Inu lagi..." Keluh Nigou.
"Iya-iya, kalian ini ya.." Joseph langsung mengelus kepala kedua anak tersebut. Nia kemudian memanggil mereka untuk makan malam. Saat makan malam.. Seperti biasa.. Nigou dan Flore, hampir tidak menyentuh Sayuran sama sekali.
"Nigou! Flore! Habiskan makanan kalian." Kata Nia yang melihat piring mereka berdua masih tersisa sayuran.
"Tapi, Nenek... Kita nggak su-"
"Apa? Tidak suka sayuran?" Nia tersenyum cukup mengerikan dengan aura gelap disisi tubuhnya. Bahkan, Joseph dan Barrie sendiri langsung bergeser cukup jauh dari TKP. Karena mereka juga ogah melawan Nia jika sudah mengeluarkan aura hitam khasnya.
"Nggak. Nggak... Nggak kok, Ka- kami suka.." ucap Flore Dan Nigou bersamaan dan segera menghabiskan sayuran mereka berdua. "Li- liat ha- ha- habiskan, Nek?"
"Nah, begitu dong. Baru kalian boleh makan-makanan penutup." Ucap Nia yang sudah kembali Normal seperti biasa.
'Dia mirip Nenek Rilen jika sayuran atau makanan kami tidak dihabiskan...' gumam Flore ketakutan.
Bonus :
Gelut semua~
"Dia itu Imut! bukan Ganteng!"
"Dia itu Ganteng! bukan Imut!"
terjadi sebuah perdebatan yang cukup serius antarasi ketua squad dengan Iris. Sebenarnya ini bukan hal biasa lagi, karena sudah terjadi beberapa kali. tak lama soal itu mereka berduapun Gelut.
"Kali ini soal apa?" tanya Yamagi bingung.
"Nih, ini penyebabnya..." Valir menunjukan sebuah foto seorang pemuda yang sepertinya bukan manusian tapi, Robot karena terdapat sebuah lingkaran berwarna biru di samping dahinya. Tapi, Yamagi langsung menyadari siapa pemuda itu.
"Ini yang dari Game Visual Novel yang lagi terkenal itukan?"
"Yap, "RK800" Connor..."
"Tapi, yang penting mah, kalau soal gantengan pasti ya gua!" unjuk Yamagi.
"Dih, Najong Tralala! Badan Bau ikan mentah gitu dibilang ganteng! Dasar Kang Ikan!"
"Yee! Manusia Goa Batu dari Negeri Antah berantah! Badan lu aja bau bakaran sampah!"
"Yee! Pedang!"
"Bakaran!"
Akhirnya mereka gelut lagi, sampai Seorang pria berambut pirang panjang dan bergeombang menghampiri mereka.
"Kalian itu apasih! udah tau akulah yang tertampan dari semua pria yang ada disini!" Ucap Pria itu dan mengibaskan rambutnya bak Model Sampo Panthine (?)
"Iyuh, Najis Ulalala! Muka udah kayak Bebek Peking gitu dibilang ganteng!" sembur mereka berdua.
"Apa kalian bilang!? Tunduklah ke pedangku!"
Akhirnya mereka bertiga gelut semua..
Sementara itu tak jauh dari mereka seorang pria sedang sweatdrop memperhatikan pemandangan orang-orang yang sedang gelut itu.
"Apa mereka nggak tau, kalau banyak yang memanggil aku 'Gussion oppa' dibelakang itu.."
"Oppa-Oppa, Matamu! Apa Faedahnya mirip sama Oppa!"
Dia pun tertarik ke arena pergelutan tersebut.
–Berakhir dengan mereka semua disuruh membersihkan halaman yang hancur karena ulah mereka gelut nggam kira-kira efeknya.. tentu saja..
"Ampe Beres!"
Takano...
End.
