Girl-chan : Mereka sama kok -x-

Nigou : Nilai Minus Lima Ribu *Sweatdrop, bagaimana bisa terjadi

SR : *sweatdrop dan merasa mual. meeh...

Rosy Miranto18 : Maaf soal ketidak urutannya, meh yamagi kalau di LS sukanya telanjang dada, kalau Valir.. dia make baju kurang bahan.. separo-separo doang.

Yamagi : Ha.. Lupakan yang dibahas itu lebih

Warrend : Tentu saja, mana mungkin aku membuat pasukanku rusak dengan harem -_-

Nigou : Aku dilarang sama ayah buat naik motor, aku mana tau soal kata-kata sulit, soal kappa.. mungkin kau tau kappa di legenda jepang..

ME : buat apa dikubur mending digebugin rame-rame!

Chapter 86 : Weirdos Absurdos

"Udahlah, berangkat aja daripada ntar ada yang ribet-ribet."

"Kalau nggak kuat jangan dipaksain ya."

"Iya..."

"Dia kenapa?"

"Kurang sehat, tapi harus tetep berangkat karena kalau izin harus pake surat dokter. Kan nggak lucu kalau hanya meriang biasa harus kedokter."

"Iya juga sih..."

"Lari pagi mas?"

"Oh, iya, ayo ikutlah."

Kemudian...

"Kenapa jadi rame begini, kayak CFD aja." komentar Red yang melihat mereka jalan bergelombor. Awalnya sih, hanya ada beberapa yang datang : Vience, Alexia, Luthias, Lectro, Dll.

Tapi, tiba-tiba entah kenapa jadi rame dengan anak cowo yang datang perlahan-lahan : Tartagus lah, Vincent lah, bahkan sampe Tsuchi ikutan.

'Whaaaaat~'

Ting...

Efarion memainkan sebuah koin di tangannya, hanya sebuah trik koin biasa. Melemparnya keatas dan kembali ketangannya; tidak ada yang spesial dari itu kok. Sebenarnya, dia sedang menunggu sebuah acara televisi yang kelihatnya menarik menurutnya. Sebuah Komedi Antara Orang bodoh dan Orang pintar yang dijadikan satu, seleranya cukup aneh tapi serial TV itu cukup menyenangkan untuk ditonton. Apalagi Warrend benar-benar membatasi acara yang dia dan kakaknya tonton karena tidak ingin ada sesuatu yang aneh dikepalanya (Atau sebuah lontaran pertanyaan aneh yang membuat Warrend melarang mereka mencari hal tersebut lagi.)

Disebelahnya Rone hanya melirik kecil ke Efarion yang masih melakukan trik koin yang biasa. 'Apa tak ada yang lain?'

Entah apa yang terjadi, lama-kelamaan trik koinnya menjadi sedikit (Atau lebih) intensif karena Efarion mulai memutar koin tersebut disela-sela jarinya, menggelindingkan koin tersebut ke atas jarinya, sampai melempar koin ke tangan yang lain bergantian secara cepat.

'Robot ini terlalu ahli untuk trik koin.' Gumam Rone yang terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Efarion.

"Hei, Efa? Emm.. Kau tidak bersama kakakmu?"

"Azure sedang dinonaktifkan karena ada sedikit gangguan di tubuhnya."

Sementara itu, Warrend kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa komponen yang digunakan untuk cadangan dalam memperbaiki Azure. Tapi, Dia mulai merasakan sesuatu yang salah. Kepalanya mulai mendadak pusing dan tubuhnya menjadi gemetar begitu hebat. Dia berusaha berjalan ke lemari obat tapi, kakinya menyerah dan dia terjatuh ke lantai.

Dia tak bisa pingsan sekarang, dia perlu memperbaiki komponen-komponen ke Azure. Bukan mendadak lupa ingatan dan kembali seperti dulu tanpa ada ingatan. Beberapa hari ini dia memang sangat stress dengan pekerjaan yang dia miliki. Dia ingin membuat sesuatu yang baru, tapi dia baru saja menyelesaikan Efarion; Dia belum puas, pikiran dan ide selalu mengalir beberapa hari terakhir. Namun, sejak kemarin ide itu bagaikan asap. Hilang begitu saja. Tapi kenapa saat kritis begini dia mendapatkan sebuah ide bagus. Dia mau sebuah alat pengukur stress untuk berjaga agar dia tidak stress berat.

'Obat.. Aku perlu...' Warrend menyeret tubuhnya kearah obat yang terjatuh karena saat dirinya terjatuh ke lantai, kursi menyenggol lemari itu dan obatnya berserakan kemana-mana. Dunia mulai kelabu dipengelihatannya, kondisinya makin memburuk. Dia mencoba teriak tapi, suaranya tertahan di tenggorokannya. "Shi- Apha- Skahjda- Tkhoklloknk-"

"Warrend!" Seorang pria menghampirinya dan mengambil salah satu obat yang berserakan dilantai. "Tenang nak bertahanlah."

"Tkhuaaa-"

"Shhuut.. Tenang, Minumlah, kau masih bisakan?"

Warrend mulai meminum obat dan Air yang diberikan pria itu. "Tidurlah, Kau perlu istirahat.

Lalu...

"Haa! Eh.. Aku keriduran?" gumam Warrend sembari menggaruk kepalanya. Kepalanya masih kosong dengan apa yang terjadi, mungkin barusan dia terlalu lelah dan tertidur saat sedang memperbaiki Azure. Dia bangun dari tempat tidurnya dan melihat sebuah jaket panjang berwarna coklat dan topi baseball berwarna hitam.

'Huh, Sejak kapan Tuan Aiden kesini?'

"Tuan Orchard sudah bangun." Azure menyapanya dengan sebuah sup hangat dan teh panas. "Ah, Aku lupa bilang.. Tuan Pearce yang melanjutkannya saat kau tidur, dia... sedang meminjam kamar mandi sebentar."

"Mana Efa?"

"Di luar, menunggu.."

"Mungkin aku mau ke kamar mandi sebentar."

"Baiklah.."

Kemudian...

"Tuan Ada apa? Kau tiba-tiba memanas.." Azure mengscan Tubuh Warrend yang kembali dengan muka memerah dan tersenyum-senyum sendiri.

'Sial- apa yang aku lihat barusan.. mana aku tak bisa melupakanya, Tuan Aiden dan M-mon.. Mereka..'

"Ah, Aku tidak apa-apa kok Azure..." Ucap Warrend dan tertawa kecil.

Iris Live Streaming at Reha squad.

'Cek

Sebuah kamera dihidupkan.

'Sudah menyalakan kameranya?'

'Sudah! Mulai saja!'

"Hai Semua! Kembali lagi sama Iris-Sensei disini. Kali ini aku mengajak seseorang bersamaku untuk bermain bersama. Ada Aku dan juga Bagi kalian yang belum tau.. *Inhale Aku Nikah Muda, yang megang kamera.. itu suami-ku."

'Sini dong!'

'Lah, ntar yang megang kame-'

'Ada tripod sih!'

'Kenapa nggak bilang darita-'

'Eh jangan dulu!'

"Semua- Aku mau ngajak kalian keliling dulu ya." Iris menatap kamera, Tartagus mengzoom lensanya ke wajah Iris.

Mereka mulai berjalan ke ruang tengah dan menemukan Red dan Revan di sofa dengan memainkan PS 4 disana.

"Kalian mungkin tau itu siapa, atau yabg baru dan belum tau. Dia Jin-Sensei dan itu Tunangannya."

'Oi, kau ngapain!?' Tanya Revan yang mulai punya firasat buruk soal kamera yang dibawa Tartagus.

'Nge-live, Iris yang minta.' balas Tartagus.

'Dih! Jangan sorot muka gue napa!' Seru Revan dan mulai memerah mukanya.

'Udahlah Rev, biarin aja.' balas Red. Dia kemudian berbisik ke telinga Revan dan Revan sepertinya menolaknya dengan keras soal usulan Red.

'Nggak!'

'Ayolah sekali aja.'

'Nggak! Oi!' Red mulai mendekatkan bibirnya ke arah wajah Revan. 'Oi, Stop-Stop-Stop!' Dan dia tercium pipinya. Revan hanya menatap kearah kamera dengan wajah datar.

'Screw you Guys...' Semuanya langsung tertawa melihat Revan yang sebenarnya salah tingkah.

'Btw, kalian bisa cerita-kan kisah cinta kalian dari awal sampai akhir.. Tapi dengan lagu.' ucap Tartagus, untung saja Red menahan Revan dengan sebuah remasana di pahanya agar dia tidak melompat ke Tartagus dan menghancurkan kamera itu atau bahkan wajah dari Tartagus itu sendiri.

'Gampang! Suki-Kirai, Rin Rin Signal! dah..' jawab Red dengan senyuman penuh arti untuk membuat pasangan itu pergi secepatnya.

Takano Angry Bar.

Takano memang emosional dan terkenal dengan sifat Short Temper. Tapi, dibalik itu dia sebenarnya punya batasan tertentu soal amarahnya yang bisa meledak-ledak.

1. Gertakan.

Takano hanya membanting sebuah meja dengan keras kemudian dia bisa kembali normal.

2. Ancaman

Takano melototi beberapa orang yang menurutnya menyebalkan walaupun, dibalik tatapan itu ada rasa ingin memukul mereka yang menyebalkan.

3. Amarah kecil

"Aduuh! Kalian hentikan itu sekarang juga!" Takano mencoba menghentikan pertengkaran antara Lectro dan Jung yang sedang berebut camilan dimeja.

"Ada anak kecil lagi tidur!"

4. Amarah Sedang (Sarkasme)

"Ya se-enggaknya kalian nggak ngelakuin Hal-Hal Bodoh kayak orang yang disana, pinter banget ya, Anak Bukannya dirawat malah ditelantalirin."

Takano sangat sensitif soal berita penelabtaran anak dibawah umur.

5. Amarah besar. (Ancaman Tingkat Dua.)

"Aku ingin kalian hentikan ini semua! Jika tidak aku akan membuat kalian menjadi isi samsak tinju untuk digunakan oleh banyak orang di tempat latihan untuk bertinju!" Takano mulai menarik kerah milik Ethan dan Anthoni dengan aura gelap disekitarnya. "MENGERTI ITU!"

"Si- Siap pak!"

6. Devilish Rage.

Hanya beberapa kali Takano benar-benar memasuk amarah fase ini. Tapi yang terbaru adalah ketika Terobrak-abrik dengan parahnya karena ada pesta dadakan disana.

"Aku selalu menahan ini, tapi kalian tidak memberiku pilihan!" Takano memegang kepalanya yang mendadak pusing. "Kali- Kalian membuat aku terlalu stress sampai aku mau meledak."

"Ma- Maaf-"

"Ti- Tid- Ak.. Aku meneri- Tidak!"

Bruagh!

Sebuah dinding mendadak berlubang cukup besar karena dipukul Takano yang masih menahan ledakan amarahnya. "A- Aku, mau- KALIAN LARI!"

Semuanya langsung lari daripada berhadapan dengan Takano yang mulai mengamuk sangat hebatnya dibelakang mereka. mereka bersaksi bahwa dikepala Takano tumbuh dua buah tanduk asli dan sebuah ledakan yang cukup besar terjadi.

Isiden Kacamata Te- Eh, Moku.

"Eh.. Apa yang terjadi?" Tanya Riri ketika melihat si tiga mage sedang bermain Poker di ruang tengah. Tapi, dia fokus ke Moku karena.. "Kau ganti warna rambut!?"

"Hooh, Soalnya dia ngambek sama kayak Teiron. Akhirnya, diwarnain deh." jawab Pyro dan membuka kartunya. "Full house."

"Tapi bukannya, dia emang udah kelihatan beda.. Walaupun, memang mirip Teiron." balas Momo yang penasaran.

"Iya sih, Tapi tau sendiri kalau Moku udah ngambek itu susah." Kata Frost. "Straight."

"Udah deh, nggak usah ngomongin gue." balas Moku. "Flush!"

"Arggh! Sial kau Moku!" Gerutu Pyro.

"Dah ya, Mau ngurusin taman dulu. Ntar lupa nyiram bisa berabe aku dimarahin." Moku berdiri dari bangkunya dan pergi meninggalkan anak-anak yang lain.

"Kalian mau main?"

"Boleh!"

Kemudian..."Oi, Pohon kau ngurusin kebun nih?" Tanya Teiron dari balik pagar.

"Lah emang ini udah tugas ku dan berhenti memanggilku pohon kau kue mangkuk!" jawab Moku kesal.

"Yaudah sih, boleh liat-liat kan?"

"Masuk aja, tapi hati-hati."

Teiron masuk dan berkeliling kebun dipandu oleh Moku. Saat dia melihat salah satu pohon sayuran di kebun. Dia tak sengaja melihat sesuatu yang familiar. "Mo.. Inikan.."

Moku berbalik dan melihat kearah pohon yang dipegang oleh Teiron, "Oh itu.. Pohon Telur.. Kau tau kan.. Di markasmu juga ada." jawab Moku datar.

"Kok bisa ada disini! Daren aja Restrik banget sama pohon telurnya!"

"Oh, Kita bertiga maling diem-diem waktu itu dan nyoba ditanam disini eh bisa." jawab Moku watados.

Dilain tempat Daren merasakan sesuatu yang ganjil.. mengenai tanamannya.

Kembali ke dua EM..

"Ron hati-hati ya, habis disiram tanahnya masih basah jadi agak licin." kata Moku dan berjalan pelan-pelan di tanah yang becek karena habis disiram sebelumnya.

"Iya-iya.." Baru dibilang sebuah kejadian tak terduga terjadi. Teiron salah ambil langkah dan terpelset cukup jauh kedepan dan menabrak Moku sampai keduanya jatuh muka duluan ke tanah. Dan Masalah besar terjadi.. Sebuah bunyi keramat terdengar.

Pletak!Teiron mengambil kacamatanya dan tidak ada yang rusak, tapi begitu dia melihat kacamata Moku..

"Nggak apa-apa kok.." Balas Moku tapi, tiba-tiba kacamatanya terbelah mejadi dua bagian.

Krik... Krik...

"Waduh! Gimana nih!" Teriak Teiron panik melihat kacamata Moku terbelah menjadi dua dan jatuh ke tanah. "Moku lu masih-"

"Bisa kok.. Hanya aja burem.."

Teiron terdiam melihat seseorang didepannya, Earth Mage bermata hijau agak tajam dan rambut mirip sepertinya dan berwarna coklat.

"LU SIAPA! LU KEMANAIN MO-"

"INI GUE, KUE MANGKUK! MAKANYA GUE BILANG HATI-HATI KARENA KACAMATA GUE UDAH MULAI RUSAK!"

"BOONG! MANA MUNGKIN!"

"GAK GUE NGGAK BOHONG!"

"GAK PERCAYA!"

"BACOT NIH KUE MANGKOK YANG TAKUT SAMA ANJING!"

"OK BAIWAN QYTA!"

"SAPA TAKUT!"

Bayangkan Hal yang kau benci...

"Ayah.. Nigou nggak mau dikejar sama Kak Batur lagi.. Gimana caranya..." Ucap Nigou yang mengeluh dirinya dan Flore yang kadang dikejar-kejar Batur keliling komplek perumahan. Merasa Anaknya terlalu terancam dengan semua itu, Red hanya mau menjemput dan mengantar Nigou pulang, tapi.. Nigou menolak karena dia malu sudah besar masih dijemput di sekolah. "Nigou mau pulang sendiri aja.. Nggak mau dijemput."

'Anakku sangat mandiri! aku sangat bangga dengannya!' Red menangis bahagia mendengar hal tersebut, kemudian dia menepuk pundak Nigou, "Bayangkan saja dia burung, dan pukul sekeras mungkin keatas. Ok?"

"Tapi Nigou takut burung..."

"Maka dari itu bayangkan dia itu burung yang besar dan kau bisa memukulnya dengan keras."

"Baik Nigou akan coba..."

Besoknya..

"Uhh.. Re-chan, ngadep aku dong mukanya." Red meraba tangan Revan yang sedang makan. Btw, mereka berdua sedang makan siang diluar.

"Ngga- Awas!"

"Eh!"

Gedubrag!

"Uuh..." Seseorang mendarat dengan kerasnya dari langit menghantam meja Red dan Revan. tentu saja itu mengacaukan makan siang mereka berdua dan Red sangat tidak terima soal itu. "Ditonjok Flore sama Nigou bersamaan.. Oh, Hai Red dan Revan.."

"Kau... Mengganggu makan siangku! Balik sana!" Red melempar Batur entah kemana yang pasti keatas langit yang tinggi.

"Dasar Manusia Ikan..." Gerutu Red dan kembali memesan ulang makanan yang dia makan.

Dimarkas.

"Lah, Reha nangis kena- Oh, Gegara Lu Ya, Aniki!"

Hayoloh...

"Kagak Bego!" Balas Yamagi yang membawa Reha yang masih menangis di pundaknya layaknya Karung Beras. "Dia hanya mendapatkan hari yang buruk."

"Apa aja, Btw, kok celananya beda?" Tanya Yamatabi penasaran. "Kayaknya tadi pagi pake celana bahan deh, kok jadi jeans?"

"Emm.." Yamagi melebarkan Celana Reha yang dia bawa dan menunjukan lubang di bagian depan celana bahan tersebut. "Lihat?"

"Ooh.. Tapi, kenapa dia nangis?"

"Ada Siraman Rohani yang diadaain kampusnya. Dan materi Terakhir benar-benar kena kedalam jiwa Reha, akhirnya dia nangis selama perjalanan pulang."

"Hee... Begit- Na- Tunggu dulu! Kau dari tempat anak itu!?"

"Ah sial! kenapa aku harus bilang kejadian aslinya!"

Kazuma Inner Demon.

Back to the Chapter 71 bagian Kazuma saat tidak sadarkan diri, dia memutar salah satu perkataannya ke Harada. 'Aku bukanlah pemimpin Aokiryuu yang pantas...'

Itu adalah bagian dari dalam Kazuma yang belum bisa hilang. Dia masih dalam status berbahaya diantara kebahagiaan dan kesedihan. Sesuatu di masa lalu, dimana dia kehilangan sesuatu yang penting karena perbuatannya.

–Yang berakhir dengan penyesalan yang abadi.

'Ani-sama! Jangan lakukan itu! Aku mohon!'Darah dimana-mana...'Khuaaahgh!'Byakko..'Tidak ada maaf untukmu...'Seiryuu...''Ani-Sama... Hentikan- Ka.. Kau Kehilangan kewarasanm- Ohok!''Mati...''Ani–'"Ken–"

"Ano- Jii-chan Sudah baikan?" Iris membuka pintu kamar Kazuma sembari membawa semangkuk bubur.

"Apa yang terjadi?"

"Jii-chan tiba-tiba panas tinggi di dojo.. Untung murid-muridmu masih banyak yang berkumpul saat itu. Jadi, mereka membawamu ke kamar dan menelpon Oppa dan aku–" Kazuma memotong perkataan Iris dengan menyebut sebuah nama. "Kenzo..."

"Kenzo? ada apa dengan Kenzo?"

"Di– Dia.. Tidak dimarikan?" Tanya Kazuma dengan tubuh yang sangat berkeringat.

"Jii-chan, Jangan terlalu tegang nant–"

"Dengarkan Aku Dulu kau Bo– Maaf..." Kazuma hampir lepas kendali ke cucunya. untung saja dia segera menahan dirinya.

"Jii-chan... Boleh Jii-chan jujur... Kenapa dengan Kenzo-san? Dulu kau juga sering mebyebut nama Kenzo-san saat tertidur, ada apa memangnya?" Tanya Iris penasaran.

Kazuma menghela nafas, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk jujur, "Dengar.. Seon.. Kakek sebenarnya punya adik..."

"Jangan bilang Kenzo itu adik kakek?" Kim baru saja menggeser pintu kamar Kazuma. Kazuma hanya diam dan mengangguk. "Kenapa kau baru menceritaka–"

"Oppa! Jangan terlalu keras ke Jii-chan!" Balas Iris. "Jii-chan.. Kenapa Jii-chan baru memberi tau kami soal hubunganmu dengan Kenzo-san itu bersaudara."

"Terlalu menyakitkan.. Aku tak mau membahasnya! Aku jatuh terlalu dalam ke lubang kesengsaraan yang menyiksa diriku ini! itu membuatku merasa Hina!" Setitik air mata mulai menetes di pipi Kazuma, dia mengingatnya. Bagaimana dia mendapatkan kekuatan yang seharusnya bukan miliknya Tapi, para Roh Hewan itu lebih memilih dirinya daripada Adiknya. Mereka merasuki dirinya dan memberinya kekuatan yang begitu hebat sampai dia kehilangan kesadaran untuk pertama kalinya saat mendapatkan kekuatan itu. "Tapi.. Kenzo-sa' Maksudku Kenzo Jii-chan kembali, kenapa kau–"

"Kalian tidak tau apa-apa! Bahkan Ayah dan Ibu kalian juga tidak tau soal ini!" Bentak Kazuma.

"Ayah dan Ibu– Tidak tau soal ini?"

"Tidak dan Kalian Keluar dari sini Sekarang juga!"

"Tapi Ka-"

Prang!

Kazuma melempar mangkuk yang penuh bubur panas dari tangan Iris ke tembok di kanannya. "KELUAR SEKARANG JUGA!"

Brak!

"Kakek.. Belum pernah begitu marah selama ini." ucap Kim yang dibuat speechless dengan apa yang terjadi barusan.

"Nona Seon, Tuan Kim.. Maaf, ada seseorang yang mau bertemu kalian."

"Siapa itu Bya-"

"Hei..."

"Kamu!"

Kemudian...

"Ris, Ada apa dengan Kazu-sensei?" Tanya Tartagus yang datang bersama dengan belerick di pundaknya. Iris habya cemberut dan mengambil belerick dari pundak Tartagus.

"Dia sedang tidak bagus emosinya, aku baru tahu loh.. kalau Kenzo itu adalah Adiknya." ucap Iris.

Tartagus mengangkat alisnya, "Kenzo?"

"Kau tau... kalau kita ke markas Unique.. Ada Hero Automaton.. itu Kenzo."

"Aah.. si Automaton itu.."

"Iya.." Dia mencubit pipi Belerick sampai melar. "Dia tidak pernah cerita soal adiknya itu kesiapapun.. Ayah, ibu.. aku saja baru tau tadi.."

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Yah, Saat Kenzo-Jii Datang.. Dia langsung menangis dan bisa terdengar sampai ruangan sebelah."

"Kamar sebelah.. Kamarmu?"

"Hooh, Betul, Suaranya memang teredam Dinding tapi tetap saja terdengar jelas di kamarku."

Well, That's a Problem...

Reha minggu ini tidak bisa pupang kemarkas karena sibuk kuliah selama seminggu full karena khawatir dan takutnya Reha kenapa-napa di kosnya Yamagi berusaha menghubunginya.

Kunihiroo : Reha! Kamu lagi apa?

Kunihiroo : Reha!

(Spam 'P' sampai 50 kali.)

Rehabilitasi : Bact! Abis mandi w!

Kunihiroo : Uuh.. Kan aku khawatir, kamu gimana disana? baik?

Rehabilitasi : Baik, kenapa sih!? aku mau main keluar abis ini!

Kunihiroo : Emm.. Ngobrol sebentarlah, BTW kamu sendiri nggak?

Rehabilitasi : Hooh, kenapa?

Kunihiroo : Souka... Nee, Nee.. Reha.. Foto dong bawahan~

'Wah, Nih Orang otaknya miring, perlu dikeplak pake ikan.' gumam Reha tapi, kemudian mendapat sebuah ide iseng. Dia memfoto kakinya.

Kunihiroo : Atasan lagi~

Rehabilitasi : [foto kaki sedengkul]

Kunihiroo : Kurang atas...

Rehabilitasi : [foto kepala]

Kunihiroo : Dibawah gesper!

Rehabilitasi : [Foto Closeup Reha yang sedang memegang gesper diatas kepalanya]

Kunihiroo : Chotto Matte Omae wa...

Reha tertawa puas setelah mengerjai Yamagi yang sepertinya sedang gila di markas karena dikerjai. Dia bisa membayangkan kalau Yamagi sedang mengumpat dalam bahasa jepang di markas sana.

Malamnya...

"Lanjut Nonton!" Ucap Reha setelah menungkan sebuah es kopyor di gelasnya. tak lama kemudian, seseorang mengetuk jendelanya, dia mengira kalau itu ibu kos. Tapi, ternyata itu lebih buruk.

"Buka Pintunya kau anak sialan!" Kata Yamagi dengan tampang horor sepertinya dia datang untuk membalas dendamnya dikerjai oleh Reha karena dia membawa sebuah tas ukuran besar dipunggungnya. "Oi! Are wa Yare!"

"I.. Iya!"

1 pintu dibukakan kemudian...

Pintu ditutup dan Reha didorong kasur.

"Jangan sampai aku robek baju ini Reha!" Ancam Yamagi dengan kedua tangannya sudah memegang baju Reha.

"Oi Yama- Hiiaaattt!"

Buagh!

Sebuah Tendangan yang cukup kuat mengenai benda keramat milik Yamagi dan sang pemilik hanya bisa memegangnya dengan kesakitan.

'Mampus 'biji' lu petjah...' umpat Reha setelah menendang Yamagi dibagian selangkangan. 'Kepala mikir selangkangan mulu, yang laen gitu kek.'

Revan High school Reunion.

"Sama Ayah ya, Kalau mau kemana-mana juga sama Ayah saja. Papa mau sama teman dulu." Ucap Revan ke Nigou.

"Oke Papa."

Revan kemudian bergabung bersama-sama teman-temannya dan mengobrol bersama sangat lama karena berlangsung dengan serunya. Sampai tiba-tiba Red menghampirinya bersama Nigou, "Hei kau masih lama?"

"Masih sepertinya..."

Red melihat kearah Nigou, "Mattaku, Revan.. Mungkin aku akan berjalan-jalan dulu bersama Nigou, Nonton film ataupun bermain di tempat bermain.. kau taukan Nigou bisa bosan jika menunggu saja." Kata Red.

"Baiklah, tak apa.."

"Ok, dadah Re-chan."

'Oh Shiet..'

"Rev- Tadi siapamu?" Tanya salah satu temannya.

"Em.. Nigou, itu anakku, anak angkat."

"Bukan tapi, pria yang memanggilmu Re-chan?"

"Itu.. Red.. dia..." Revan mulai gugup. "Te- man pembantuku untuk mengurus anak." kata Revan.

Teman-temannya mungkin tidak ada yang menangkapnya dan menganggap Red sebagai pembantunya dalam mengurus anak sampai salah satu diantara mereka semua menyadari sesuatu yang janggal, "Tunggu! Aku melihat di jari manis kiri pria Red tadi ada cincin emas, cincin emas itu menandakan kalau dia sudah menikah, tak mungkin dia masih sendiri."

Semuanya langsung melihay kearah Revan dengan tatapan 'Jelaskan sekarang juga!'

"Ki- kita nggak ada apa-apa ok! Hei!" salah satu temannya mencabut cincin di tangan kirinya. Mereka langsung melihat bagian dalam cincin tersebur dan melihat nama 'Jin,Revan'. Tentu saja itu membuat merrka shock. Revan berusaha kabur tapi, salah satu dari mereka memegang kerahnya.

"Jelasin Van, Jin itu siapa!?" tanya salah satu temannya.

"Ok, Kalian menang... Jin itu-"

"he's His Husband.." mendadak michael muncul dibelakang mereka.

Jedugh!

Revan membenturkan kepalanya ke tembok terdekat sementara teman-temannya hanya sweatdrop dan Micheal memasang muka datar.

'Kenapa lu harus gitu sih Micheal.. Plis jangan coba jadi orang ketiga...' gumam revan dengan nada pasrah.

Hal yang terjadi sebenarnya...

"Kalau kau membutuhkan 'Jasa membunuh Valir' Aku menyedialannya secara Gratis." Gadis itu memasang senyum manis tapi disertai aura gelap dibelakangnya.

Yamagi hanya speechless, "Ehem.. Mungkin lain kali, Kakka..."

"Oh yaudah, dah.."

Yamagi hanya tersenyum dan menepuk pelan dahinya, 'Gadis itu.. dia tidak tau apa yang terjadi dengan Valir sekarang...'

Semalam...

"Muuu- Kau menerimanyakan?" Tanya Valir dengan kepala bersender dimeja. "Demi Komik-komik dan Figur kesayangan gw nih! Jangan sampe dibuang Gord karena ketauan make uang dia.."

"Hmmm..."

beberapa kali 'hmm' kemudian..

"Hmm..."

'Nih orang lama-lama jadi Nissa Syahban juga dah.' Valir dengan gerutuan di hatinya.

"Yaudah, silahkan aja.. kerja dateng aja. Tapi jangan macem-macem sama peraturan disini." kata Yamagi dengan tangan disilangkan.

"Siapa juga yang mau macem-macem!?"

"Kalau reha dateng jangan godain dia."

"Lah, Lu sendiri!?"

"Tentu saja... godai-"

Plak!

Sebuah tamparan dari nampan piring meja mereka mendarat di pipi kiri Yamagi.

"Dih, Owner bego! Otak selangkangan!"

More Skipped..

Suasana markas Unique sedang berbahagia karena mereka menyambut anggota ke-10 mereka yang baru saja datang. Cyborg Manusia itu bernama Maximus Dragotigrisea, orangnya memiliki rambut hitam jabrik dengan poni ekor yang panjang dan mata Biru muda. Semuanya menyambutnya dengan baik apalagi dia memiliki sebuah robot berbentuk naga dipundaknya. Sebuah kejadian terjadi yang mengawali panggilan untuknya dari beberapa orang.

Kazuma, Ars, dan Ferdinand memanggilnya Max, Drud, Walrus, dan Sean memanggilnya dengan nama aslinya (Maximus), Harada dengan sengaja memanggilnya Gundam(?), Reo memanggilnya Drako(?), Kenzo memanggilnya Tora(?), Sementara itu Destra...

Haruskah dia dibahas...

Dia punya dendam kesumat dengan hampir setiap anggota baru yang muncul.

Dengan seenak jidatnya dia memanggil Max dengan sebuatan DLC...

Anehkan?

Atau dia bilang tak akan menyebut nama 'Max' sama sekali atau memanggilnya dengan sebutan '13 dollar'

END..

A/N : I have a bad news... MY PHONE IS BROKEN! DX