Chapter 90.a : I and my own Master.
NB : Alasan kenapa chapter 90 ini terbagi dua; ini adalah Bagian yang mempunyai drama yang sangat berat. Komedi yang muncul hanya akan sedikit saja, Komedi akan lebih banyak muncul di 90.b, 90.a akan ku double update dengan chap 89 sementara 90.b akan double dengan 91.
Malam sebelumnya.
"Irasshaimase"
"Hai..." Ryoma duduk, "Sashimi dan Sushinya.. tolong."
"Baiklah.."
Ryoma menatap pria yang melayaninya tersebut, 'Apakah benar itu kau... atau orang lain, atau anakmu.. guru.' gumamnya pelan. Dia melepas capingnya dan menaruh Naginata-nya di sampingnya. Kedai yang dia kunjungi terlihat sepi, entah karena memang sudah larut atau karena memang sepi pengunjung. Pesanannya tiba, bersama sebuah bonus satu botol sake, tunggu dia tidak memesan sake dan juga kenala ada sebuah porsi lainnya dari sashimi pesanannya.
"Aku mau tutup sebentar lagi, kau pelanggan terakhir." ucap Pria itu dan duduk disebelahnya. "Tak apa, sake ini pemberian temanku, bukan barang untuk dijual."
"Oh, terima kasih." balas Ryo, pria itu tertawa kecil dan melihat kearahnya. "Hei, kau mengembara? Sudah lama tak lihat orang sepertimu."
"Ya.. sudah lama aku melakukannya." jawab Ryo dan menegak sake yang dituangkan pria tersebut. "aku mencari seseorang.. Guruku.."
"Apa yang terjadi memangnya?" Tanya pria pemilik kedai itu.
"Aku... (Jangan sentuh aku dengan tangan hinamu!) Menyakitinya disaat genting, disaat dia usai menolongku dari bahaya." Kata Ryoma yang mulai menjadi sedikit gelap. "Aku merasa tidak punya harga diri setelah menghinanya, ketika aku mau meminta maaf.. dia menghilang secara misterius tanpa jejak."
"Oh.. kau yakin, dia masih hidup?"
"Hatiku berkata dia masih hidup, sementara kepalaku berkata apa yang aku lakukan itu tidak berguna." balas Ryoma datar. Pria itu hanya mengangguk dan melihat disebelah Ryoma.
"Oh, Naginata... aku lihat kau memodifikasinya."
"Yah, sedikit... Aku memodifikasinya agar lebih ringan karena walaupun aku bisa menggunakan kedua tangan. Aku enggan menggunakan tangan kananku untuk bertarung."
"Kenapa?"
"Tangan ini.. adalah tangan yang membuat aku kehilangan orang yang aku anggap keluarga dan juga yang membuat guruku menghilang."
"Hmm.. aku simpati kepadamu." Pria itu menuangkan lagi sake ke gelas Ryoma. "Ayo, minumlah. Tak apa."
"Terima kasih.."
Berakhir dengan Ryo yang mabuk berat.
Pagi Hari...
Sial, Ryoma merasa sangat malu atas sikapnya. Semalam dia mabuk berat dan sesekarang dia berada di rumah sang pemilik kedai dan juga tidur di kasurnya. Dia mencoba untuk bangun tapi kepalanya masih pening dan perutnya sedikit mual akibat mabuk semalam. Dia menemukan sebuah surat untuknya di atas laci sebelah kasur.
Temui aku di dojo, peta itu akan membantu.
Haruskah dia melihat si pemilik kedai di dojonya, tapi ya hebat.. seorang pemilik kedai saja memiliki sebuah dojo di rumahnya. Tapi, dia harus berterima kasih atas kebaikan hati sang pemilik kedai karena mau membawa dirinya dan senjatanya ke rumahnya. Ryo membenarkan pakaiannya yang turun dan segera pergi ke dojo untuk menemui pria itu.
Lalu...
Oke, dia makin tidak enak.. Apa yang terjadi saat dia mabuk semalam!?
Saat dia menujuk ke dojo banyak orang dalam satu rumah besar ini menyapanya dengan namanya. Iya, dengan nama Ryoma ataupun Wataoshi.
"Hai Ryo."
"Pagi Wakatoshi-san."
"Pagi Ryoma, sudah enakan?"
"Hai Rhoma!" (Oke yang ini memang kurang ajar.)
Ah, sudahlah pikirkan tujuan asalnya ke dojo terlebih dahulu. Ryo membuka pintu dojo tersebut dan sepi, hanya ada satu orang yang duduk memunggunginya. Seorang pria berambut biru disisir kebelakang. "Emm Halo, Tuan–" Pria itu bangun dan mengambil pedangnya. Tentu Ryoma mengambil posisi siaga saat pria tersebut mengambil pedangnya. Namun saat pria itu berbalik, dia terkejut karena tatapan tajam pria itu. Kedua manik berwarna merah yang menatapnya dengan tajam, memang dia itu pemilik kedai semalam; Tapi, bodohnya Ryoma tidak melupakan sebuah tatapan santai dari seseorang...
Crak..
–Yang dia amat hormati, "Gu-"
Sial pria itu melesat dengan kecepatan tinggi bersama dengan sebuah ayunan pedang yang cepat. Ryoma memang dapat menahannya tapi, karena konsentrasinya lenyap akibat tatapan mengintimidasi pria tersebut dia kehilangan pegangan atas Naginata-nya dan senjatanya terlempar ke ujung ruangan. Pria itu memukul perutnya dengan gagang pedangnya dan mendorongnya ke lantai kemudian menancapkan pedangnya ke sebelah Ryoma dengan beberapa senti lagi mengenai kepalanya.
"Kehilangan konsentrasi mu.. Ryo. apa yang aku ajarkan selama ini untuk tidak kehilangan konsentrasi, hmm?" Pria itu mencabut pedangnya dari lantai dan membantu dirinya untuk bangun.
"Haaa- apa yang terjadi dengan murid terbaikku setelah dia mengembara mencari diriku selama ini?" Ryoma langsung memeluk sang guru yang amat dia hormati tanpa sadar dia menagis dipundaknya.
"Aku kira- Aku kira, aku tak akan menemukan dirimu lagi, tolong maafkan sikapku yang bodoh, guru."
Sang guru hanya tersenyum dan membalas pelukan Ryoma, "Tentu Ryoma, aku selalu menunggu waktu dimana kau akan sadar akan kesedihan dan kebahagiaan." Dia kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Ryoma dan membuat Ryo duduk berlutut di lantai. "Tapi Ryo.. Aku tak akan memaafkan dirimu atas semua yang telah kau perbuat." Sebuah tekanan batin untuk Ryoma yang mendengar dia tak termaafkan oleh sang guru, dia mulai memutari Ryoma secara perlahan-lahan.
"A- aku tak..."
"Ya Ryo, semua yang kau lakukan ini tak berguna sama sekali. Kau sadarkan?"
Hati terdalam milik Ryo mulai ingin memberontak setelah mendengar ucapan tersebut.
"Maksudku, kau mencari diriku. Tapi, kemudian, aku tak memaafkanmu, bahkan aku tak sudi mengangkatmu lagi menjadi muridku."
"TIDAK! ITU TIDAK BENAR!!"
"Kau kira aku akan semudah itu memaafkan dirimu setelah kau tidak mempunyai rasa terima kasih terhadap diriku setelah menolongmu dari bahaya, hmm?"
"TIDAK! ITU TIDAK BENAR!!"
"Apa karena kau mengetahui fakta kalau aku yang menggunakan Tenma Hazan dan menjadi seorang monster? Aku adalah Hina di matamu?"
"Hentikan semua ini!!"
"Memangnya ada murid yang mau berguru dengan makhluk hina seperti diriku? Sekarang apa? Kau mencari sang ter-hina dan memohon kepada dirinya agar mau menjadi gurumu lagi?"
"Kau tidak Hina! Kau guru terbaik! Aku mohon hentikan!"
Sang guru berhenti didepan Ryoma yang sudah bergemetar secara hebat dan menatapnya dengan tatapan simpatik tapi, hatinya tetap berkata lain.
"Pergilah lagi, cari dan temukan, orang yang kau anggap sebagai gurumu, dan juga orang yang kau anggap terhormat dan tidak hina; Aku memang Yamagi Kunihiro, tapi kau lihat sendiri. Aku adalah Yamagi Kunihiro yang terhina bagimu, bukan Yamagi Kunihiro yang terhormat dimatamu. Jadi, Enyahlah dari hadapanku, jangan muncul lagi di depan mataku. Kau paham? Ryoma Wakatoshi."
Yamagi baru ingin melangkah pergi meninggalkan Ryoma yang sangat tertekan, namun dia tertahan oleh Ryoma yang bersujud di depannya. Dia bisa mendengar pria itu menangis setelah dia menekan batin Ryoma.
"Maafkan aku... Aku mohon maafkan aku, maafkan aku atas sikap terhinaku kepadamu guru. Kau tetaplah Yamagi Kunihiro yang aku hormati, bukan yang terhina. Aku sangat memohon kepadamu, maafkan aku dan berikan aku kesempatan kedua sebagai muridmu lagi untuk menebus semua kesalahanku selama ini."
Yamagi hanya dia, dia pergi ke ujung ruangan tempat senjata milik Ryoma terpental, mengambilnya kembali dan kembali ke depan Ryoma yang masih dalam posisi memohonnya.
"Ryoma Wakatoshi, Bangunlah wahai anak muda!"
Ryoma bangun dari posisinya dan melihat kearah Yamagi. Yamagi mengarahkan Naginata milik Ryoma kearah Ryoma dan menaruh mata pedang tersebut di atas pundak Ryoma.
"Bersumpahlah... dengan nama dan jiwamu, kau tidak akan membuatku kecewa kembali. Karena aku aku menerimamu kembali untuk menjadi muridku."
Ryoma terkejut mendengarnya, Yamagi menerima permohonan maafnya serta mengembalikan posisinya sebagai murid Yamagi.
"Aku bersumpah guru atas namaku dan nyawaku, aku tak akan membuatmu kecewa untuk kedua kalinya!" ucao Ryoma.
"Jika kau membuatku kecewa kembali, Naginata ini akan mengambil nyawamu tanpa mengenal kejadiannya, mau kau terbunuh orang lain maupun kecelakaan semata, Naginata ini lah yang akan mengakhiri hidupmu. Paham?"
"Paham!"
"Bagus.." Puji Yamagi. "Selamat datang kembali, Ryoma Wakatoshi, Murid terbaikku."
Ryovers. (Ryoma Lovers)
"Ya, aku tau... Hmm? Iya, daaah, Rehaku." Yamagi menutup teleponnya dan kembali melihat kearah Ryoma yang menunggunya.
"Siapa itu Reha?" Tanya Ryoma penasaran.
"Ah, dia pujaan hatiku, haa..." Yamagi tersenyum sembari mengusap dadanya.
"Dia wanita seperti apa?"
"Wanita? tidak, dia pria, kami sudah berhubungan selama tiga tahun." jawab Yamagi tentu itu membuat Ryoma terkejut.
"Ti- tiga tahun! kau jatuh cinta ke seorang pria."
"Tentu, 'Cinta itu buta' Ryo, kau pasti merasakannya, iya kan?" ucap Yamagi.
"Iya sih." Ryoma mendadak blush mendengar perkataan Yamagi dan menatap kearah lain.
"Ara ara, seseorang sedang jatuh cinta rupanya~" goda Yamagi. (Please jangan diulang lagi "Ara Ara" nya kek Yama!!)
"Hah!? Ti- tidak! aku tidak sedang jatuh cinta!" Kata Ryoma. "Mu- mungkin..."
Yamagi menggunakan tatapan menggodanya ke arah Ryoma.
"Bi- bisa kau tidak menatapku seperti itu!? itu membuatku ke- kesal."
"Aku merasa terpanggil, ada yang butuh bantuan?" tanya Iris yang mendadak muncul ditengah mereka yang membuat Ryoma terkejut.
"Huah!? Siapa kau!?"
"Seon Mi, Yon atau Iris Lisabeth atau Aomi Aokiryuu atau Nanairo Hikari."
"Kau punya berapa nama sih!?" Keluh Ryoma.
"Tiga nama asli sesuai orang tua dan kewarganegaraan sama satu nama pena." jawab Iris.
"Kau bisa memanggilnya Iris kalau mau, tapi kalau kau bersama kakeknya aku rekomendasikan untuk memanggilnya Seon atau Aomi. Ah, aku pergi dulu buka kedai, have fun kalian berdua." Yamagi kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dadah, Yamagi!" Iris kemudian kembali ke laptop –eh, Ryoma maksudnya.
"Jadi, Ryoma, apa preferensi mu?"
"Hah?"
"Pria atau Wanita atau Keduanya?"
"Emm... Pria.."
"Baiklah, pilihnya yang bagaimana? Single Putra/Putri? Ganda Putra/Putri/Campuran? atau Single Campuran?"
"Emang kau kira Badminton apa Single sama Ganda dan lagi pula emang ada apa Single campuran!?"
"Ada kok temen kami yang single campuran."
"Hah?"
Seseorang kemudian bersin cukup keras di markas tetangga.
"Keknya gue mau nabok Iris setelah ini."
Ceprot!
"Duh, Gatal!"
"Eh maaf, sengaja." ucap Tartagus yang melempar sebuah cream Cheese.
Back to the Irish...
"Hehe, maaf pak bercanda. Jadi, gimana? Lebih muda?"
"Iya.."
"Rambut?"
"Coklat dan sisir belakang, pake ikat kepala."
"Ohho... apa dia sama seperti kau? Mengembara?"
"Ah, Iya... hanya saja kami nggak bisa bersama terlalu lama karena berbeda tujuan. Oh, aku bertemu dengan dia di tanah ladang tandus."
"baiklah... aku sudah bisa menebak, dia dari daerah tandus juga dan juga dia ahli memanjat tebing."
"I- iya.."
"Kalaupun dia ada di kota ini.. kita beruntung kau bisa bertemu dengannya. Tambahan.. Dia lebih muda?"
"Iya, kalau aku lihat terakhir dia masih sekitar 18 tahun untuk mengembara seoerti dia."
"Yaya.. Kau terakhir bertemu dia berala tahun?"
"Empat Tahun..."
"Baiklah, tim-ku akan membantumu mencarinya lagi, karena pria yang beruntung ini suka denganmu. Kalau dia tidak kami temukan, tenang ada aku yang bisa membantumu mencari pria lain." ucap Iris dan beranjak pergi.
"Ah, Apa aku harus membayarnya?"
"Tentu saja, bisa kapan-kapan kok. Tinggal ajak aku dan kelompokku makan-makan itu saja." jawab Iris.
"Terima kasih, Aomi-chan.."
"Sama-sama."
"Girls, we got a service today!" Iris menulia sebuah pesan di grup chatnya. "Assemble!!"
5 jam kemudian...
Ryoma melihat Handphone miliknya (diketahui itu diberikan oleh Yamagi buat komunikasi) bergetar, ada sebuah pesan masuk dari Iris. Gadis itu mengirimkan foto dia bersama kawan-kawannya bersama dengan...
"Di-dia.."
'Kami menemukannya dia menjadi pelatih panjat tebing di kota ini. Dan lucky, dia masih mengingat dirimu. Dia bisa bertemu denganmu hari sabtu nanti karena dia free.'
"Hoho, sepertinya seseorang mau keluar sabtu ini."
"Huaa! Aduh! Terkejut aku, Guru!" keluh Ryoma untung Handphonenya tidak jatuh.
"Haha maaf, bagaimana?"
"Me- mereka menemukannya..."
"Hoo.. Selamat ya, ingat, tunjukan siapa yang berkuasa, kau bukan dia!"
"Baik guru!"
Bonus :"Mana Zizi?" Tanya Miya.
"Zilong? dia pulang ke kerajaan dulu mau kenalin chang'e ke yang lain."
Zilong..."Kak masih jauh nggak?" Tanya Chang'e
"Ah, itu dia sudah kelihatan."
NB : Kalian bertiga, I need your help, w nggak apal Zilong dati kerajaan mana sama siapa aja didalemnya :'''''vvvvv
