Chapter 90.b : Uncle of the Valient's

balas revievv :

Rosy Miranto : Aku tuu laki-laki tulen umur 19 tahun, baru kali ini dikira perempuan. -w-

Shiki : Tidak aku ini serigala asli, tubuhku juga serigala, namun.. karena kekuatan yang diberikan oleh Yuki. Aku menjadi shapeshifter.

Pyro : Ya silahkan!!

Moku : Pilih atau boleh, aku nggak suka keduanya.

Mita : Gak ROG itu gak Good.

James : Frans dan Della itu anak kandungku, aku sebelumnya sudah beristri tapi, yah.. Nasib tak dapat dilawan, dia harus 'pergi' pertama saat Frans dan Della masih kecil. Soal Raksasa, mungkin karena tinggiku 2,17 meter.

Genji tuh yang adeknya Hanzo, kalau Kenji adeknya Kazuma. Aku juga rada nggak punya ide pas mau namain adeknya Kazuma karena dapetnya pas lagi writer block. =3=

Iris : Bukan kota juga sih, kami menemukan kalau dia tinggal di perbatasan dengan daerah lain sekitar 40 kilometer dari pusat kota. Btw, Kau belum tau Jokes single campuran ya, artinya Single campuran tuh... *Nunjuk orangnya langsung Uhuk! Cek Si Giro!

Red : aku kan yang ngurus banyak barang saat mau jualan di Comic Frontier, yah.. memang rada aneh kalau soal makan padahal aku sering bangun jam 4 subuh buat olahraga Fitness 2 jam lalu lanjut joging 5 kilo, pas makan malah seabrek-abrek ditambah pas cek gula darah sama kolestrol malah normal tanpa hambatan giliran ditanya diet makan gimana.. pada kaget.

Eudo : Thor versi Infinity War, si James Cosplaynya. Jangan tanyakan soal pemicu James mengamuk ya, aku tak berani membuatnya mengamuk lagi. *mundur. Oh, satu lagi, bagik justru.. James sudah sangat alpha.. tak perlu apa-apa lagi, dia sudah jadi pemimpin kok *blush sambil maenin rambut.

Yamagi : Aku sudah merasakan kehilangan kesadaran saat berubah menjadi monster, ingin tau apa yang membuat aku kecewa dengan Ryo? Dia menusukku tepat di dada dan kabur beserta dengan menendangku saat sekarat.

Ryoma : Tidak, bukan Seppuku.. maksudnya sih.. kalau aku membuat guru kecewa, maka.. kalau terjadi kecelakaan sedikit saja Naginata-ku bisa membunuhku, begitu.

Ralat *Razor Gaming lupa ku ubah jadi *Alienware dengan spek yang tentu saja sudah tinggi sangat.

SR :

Ethan : Ye siapa lagi kalau bukan gue.

Ryoma : *Triggered so Intensive, run with Naginata to Hibatur.

Yamagi : *Ara Ara Intensive.

Ya Bayangin aja sendiri, Thundy yang 165cm sama James yang 217cm.

girl-chan : Ya maap, Oh btw, temennya Batur

"Hmm..." Terdengar suara burung elang dari atas markas. Jarang ada burung elang yang terbang diatas markas, biasanya hanya lewat. Namun, kali ini burung elang itu mendarat di atap.

Desmand bersiul kearah elang tersebut dan elang itu langsung terbang kebawah dan hinggap di bahunya. Ada sebuah surat di kaki elang tersebut.

"Haa.. mengirim surat dengan elang..." Dia membaca surat tersebut dan melihat untuk siapa.

"Aku akan datang hari minggu untuk melihat kalian berempat. Ricther Valient. Oh, untuk mereka." Desmand langsung menemui Alucard (Val) yang sedang bersandar di atas pohon. "Hoi! Ada surat untukmu!"

"Hah, untu-" Belum selesai dia berbicara, Alu terkejut melihat Elang yang hinggap dipundak Desmand. "Theo!?"

"Nama elang ini Theo?"

"Dia elang milik pamanku..." Alu langsubg turun dari pohon dan mengambil surat tersebut. Dia membacanya sedikit dan seketika itu pula Alu langsung berkeringat dingin. Desmand kebingungan, baru kali ini dia melihat Alu yang biasanya diam, kalem, dan santai. Menjadi kebingungan, ketakutan, dan panik hanya dengan membaca surat dari pamannya.

"Hei kau tak-"

"AAAAAAAAHHHH!!!" Alu langsung berlari masuk ke kamarnya yang ada di lantai bawah dan segera mengirim pesan ke kesemua adiknya.

AlVal : Bahaya! Siaga Merah!

AnthonioVal : Ada apa? Freré?

MirandaVal : Kenapa sih kak Al?

SarahVal : Kak Alu kenapa?

CullenVal : Kakak kenapa sih? kok sampe siaga merah...

AlVal : Baca!! *Foto surat Paman Mereka. Kalian Taukan!?

SarahVal : Tiiiiiiiddaaaakkk!! KENAPA DIA HARUS DATANG!!

MirandaVal : Aku NGGAK MAU ketemu paman! :(

CullenVal : Nio! bro? Kau nggak pingsankan!?

Sementara itu, Anthonio ambruk di depan meja makannya dengan wajah terkena krim kue.

CullenVal : Fix! Dia pingsan!

AlVal : Nggak mau tau ya! Pokoknya Kita harus ngumpul, 3 hari lagi dia mau datang!

MirandaVal : ya ampun, baru aja mau jalan ke Rusia, malah ada paman Richter :((

SarahVal : Nggak bisa diundur apa gitu.! Aku baru mau nemuin Anthonio di Perancis!

CullenVal : Untung Ya diriku ini!

AlVal : Heh!! Kau juga dateng, Nggak pake nggak! Kalau dia ngelihat ada adik teman ku yang Seorang Summoner, sementara kau tak datang, mau kau di revive buat ketemu dia.

CullenVal : Noooo!! Pliss Jangan dicepuin ada Summoner disana!!

AlVal : Ya Makanya Dateng!

SarahVal : Nggak dateng kita cepuin ke paman Richt!

MirandaVal : Nggak dateng kita cepuin ke paman Richt! (1)

AnthonioVal : Terkejut aku! Kenapa sih dia mau dateng!? Aku sudah kelewat muak ketemu Paman Richter dari kecil!

SarahVal : Udah sih datengin aja, kalaupun dia ngebacot palingan bukan hal dari masa lalu.

AlVal : Inget lah kata-kata dia.

MirandaVal : "Masa Lalu lebih berancun daripada Racun itu sendiri" ?

AlVal : Nah, kalaupun dia ngebacot soal kesalahan kita berlima dulu, juga nggak bakalan panjang.

CullenVal : Tapi ya tetep aja nyesek kalau dia yang ngomong.

AnthonioVal : Udahlah, terima aja, 3 hari kedepan siap mental kalau Paman Ricthtard keluar bacotannya.

CullenVal : Mau nggak mau, ya harus mau...

Memangnya apa sih yang membuat mereka berlima sangat ketakutan dengan bertemu paman mereka kembali?

Well, ada beberapa hal :

Alucard : Melepas Jabatan Kesatrianya dan kabur dari rumah.

Anthonio : Membicarakan hal yang tidak boleh dibicarakan tentang masa lalu pamannya yang dicap sebagai seorang "Pembual" ke orang-orang.

Sarah : Memanah, Memanah, dan Memanah.

Mira : Sering Pergi tanpa alasan dan jarang memberikan alasan yang jelas soal kemana dia pergi. Too much Travelling.

Cullen : Satu-satunya Mage di keluarga dan Ricther sangat! tidak menyukai seorang Mage.

3 hari kemudian...

"Haaa.. Anu, Yuki.." Alu menemui Yuki yang kebetulan akan membuat sebuah teh di dapur.

"Ya, Ada apa Alu? butuh bantuan?"

"Paman kami akan datang, bisakah kau membuat teh hitam atau teh melati bukan teh hijau, karena paman kami tidak terlalu menyukai teh hijau." jelas Alu

"Oh, baiklah.. hei, kenapa kau baru memberitahu kami paman-mu akan datang?" Tanya Yuki yang sedikit mencurigai sesuatu.

"Ah, ya..."

"Hmmm.. aku menemukan sebuah surat dibuang di tempat sampah dan itu terlihat sudah dari seminggu yang lalu.." Yuki mengambil sebuah kertas yang merupakan surat yang dikirimkan oleh paman mereka.

"A- Ah.. haa.. Baiklah, maaf baru memberitahumu.. kami berlima tidak menyukai paman kami. Maaf."

"Baiklah, maafmu diterima. Jangan diulang ya." Yuki langsung mengambil sebuah bungkus teh hitam dan bersiap untuk menyeduhnya, "beri tahu aku ketika Paman kalian sudah datang. Jangan diam saja."

"Baik Yuki..."

"Kak, Cullen belum datang.. gimana nih!?"

"Aku jemput!!"

Sementara itu, Cullen...

"Sial, aku terlambat!" Cullen baru saja mau pergi sendiri tapi, dia melihat seorang pria tua datang membawa sebuah karangan bunga. "Oh tidak itu paman, aku harus sembunyi." Cullen bersembunyi di dalam pohon agar pamannya tidak (panik) melihat dirinya 'keluyuran'. Richter berhenti di depan nisan milik Cullen dan menatap nisan di tanah tersebut, sementara Cullen hanya bisa berharap pamannya hanya menaruh bunga dan langsung pergi begitu saja.

"Hai Cullen.. Lama tak bertemu..."

'Duh, bakalan lama deh, mudah-mudahan kak Al belum datang kemari.' ujar Cullen.

"Walaupun sepertinya ini sangat terlambat dan aneh.. haha, kau tau.. aku malah mau membahas masa lalu, padahal aku merasa kalau masa lalu adalah racun terkuat dibandingkan rectified spirit sekalipun. Dan ya, memang benar itu sangat beracun." Cullen sedikit tertegun mendengarnya walaupun, itu kata-kata yang selalu diucapkan pamannya (bahkan seperti motto hidup pamannya.) tapi, ini rasanya berbeda dari yang biasanya.

"Paman tau, ini sangat terlambat, kalau kalian masih berlima paman ingin meminta maaf sudah terlalu keras dengan kalian berlima setelah orang tua kalian tiada. Tapi, kalian semua berpencar, demi mimpi kalian. Awalnya aku sangat marah ketika tau kalian pergi tanpa jejak, tapi setelah bertahun-tahun... akhirnya aku mengerti soal mimpi kalian masing-masing dan aku sangat terlambat untuk mendengar kematianmu."

'Paman...'

"Maafkan pamanmu yang kejam ini, Cullen. Paman tak bermaksud untuk sangat membencimu karena kau seorang penyihir dulu. Selamat Tinggal, Keponakanku, beristirahatalah dengan tenang disana." Cullen ingin keluar dan memeluk pamannya secara langsung, namun.. itu bukanlah ide yang baik.

'Aku harus cerita ini ke kakak nanti...'

Back to Richter..

"Permisi.."

"Silahkan masuk saja." Richter langsung membuka pintu tanpa curiga sediktpun dan tiba-tiba sebuah ember berisi air tumpah diatas kepalanya dan ember tersebut menutupi kepalanya.

"Eh, duh! bego, salah orang!" Ethan langsung mengambil handuk dari lemari. Sementara itu, Anthoni yang baru lewat langsung panik tak karuan melihat pamannya menjadi korban salah satu kejahilan para anggota lainnya. Dia yakin kalau ember tersebut mulai berasap dan panas karena pamannya sudah mau meledak, dengan ketakutan dia mengangkat ember tersebut perlahan, tapi langsung mengembalikannya ke bentuk semula karena takut melihat ekspresi pamannya.

Dibelakang itu, Sarah dan Mira hanya bisa mengintip dari pojok koridor karena tak berani mendekati.

"Pa- Paman Richte-"

Krak!

"Pa- Paman Bu- bukan aku yang mem- mema- memasang jebakan itu! Sungguh! Itu pekerjaan temanku!" Anthoni panik luar biasa ketika melihat pamannya mulai menarik pedang yang ia bawa dari sarungnya.

"Maaf pak, saya kira teman saya, ini handuk untukmu." Ethan kembali bersama handuk ditangannya dan memberikan handuk tersebut ke Richter.

"Terima kasih dan Anthonio, mana saudaramu?"

Mira dan Sarah langsung keluar dari persembunyian mereka. "Ha- Halo, Paman Rict..."

"Aku datang kemari dengan mood baik dan memastikan kalian baik-baik saja. Dan sekarang, moodku memburuk. Dan juga, mana Al!?"

"Maaf aku terlambat!" Al Muncul bersamaan dengan seseorang disampingnya.

"Kemana saja ka- Cull- Cullen!?"

"Ha- Halo.. Paman Riktor- ups."

Nah lo, salah satu ucapan yang nggak boleh terucap lagi...

"Apa yang baru saja kau bilang barusan?"

"Ma- Maaf paman..."

"Ayolah, dia tak sengaja tak perlu marah soal itu, Rictharts." Mira dan Sarah langsung menampar kedua sisi pipi Anthoni bersamaan.

"ATV bodoh!" omel Sarah.

"Kau malah memperburuk keadaan." Omel Mira.

"Kalian Berlima! Duduk!"

"Baik Paman..."

'Sialan kau Cullen dan Anthoni...'

Satu Ceramah panjang kemudian (Estimasi 2 jam...)

Para kelima Valient masih dalam keadaan tewas setelah diceramahi paman mereka selama dua jam nonstop. Sementara itu, Richter sedang menikmati teh hitam yang diseduh Yuki di luar bersama dengan Takano, Yuki, dan Ryuuga dengan hati yang masih 'ngambek'.

"Hei, kalian tak apa?" tanya Revan yang melihat kelima saudara itu tertengkurap di lantai.

"Tidaaaaakkk..."

Stop it!

"Oh. My. Lord. Granger! Dia sedang berjalan kemari!" Alucard (ML) merasa sangat senang ketika melihat salah satu Demon Hunter yang paling terkenal sedang ada di lingkungan sekitar squad dari kamarnya.

"Ah maaf, boleh aku menumpang istirahat sebentar." Granger mendatangi Moku yang sedang berkebun.

"Boleh, silahkan tuan-"

"Granger.."

"Silahkan Tuan Granger.." Moku membiarkan Granger masuk, Moku bermaksud membantu Granger membawakan tas biolanya tapi, tangannya ditepis oleh Granger.

"Jangan Sentuh tas biolaku! Paham?"

"Ba- Baik.."

'Wow, Kasar.' komentar Moku dan pergi meninggalkan Granger sendirian di gazebo. Kemudian, Alucard datang bersama sebuah koci berisi air limun dan beberapa buah gelas.

"Kau.. Granger kan?"

"Ya, dan kau Alucard.. salah satu Demon Hunter yang terkenal. Senang untuk melihatmu." Granger menatap kearah Alu yang menaruh nampan yang dia bawa.

"Iya." Alu mendengar kalau Granger adalah Demon Hunter yang sangat ditakuti oleh para Iblis tertuma karena permainan biolanya. Entah, apa yang membuat iblis itu ketakutan. Setiap kali dia memainkan biola, maka iblis akan langsung mundur atau bersembunyi dan membuat pihak Demon Hunter sering mendapatkan kemenangan.

"Anu, Granger.."

"Ya?"

"Apa yang menjadikan permainan biolamu sangat terkenal?"

"Kau mau mendengarnya?" Tanya Granger.

"Tentu.."

Granger mengeluarkan biolanya dari tas dan mulai menentengnya di pundak, "Akan kubuat ini selesai dengan cepat.. Aku tak punya banyak waktu."

"Baiklah.."

Meanwhile...

"Paman.. Kau kan masih disini... Teman kami mau menikah hari minggu kau mau datang?" Valient menyodorkan sebuah kertas undangan ke Richter.

"Boleh, aku akan da-" Tiba-tiba sebuah alunan nada biola yang buruk.. sangat buruk dan melengking terdengar sangat keras dan memecahkan kaca disebelah Ricther.

"ARFGGGGGGHHH!!!! SIAPAPUN, HENTIKAN PERMAINAN BUTA NADA DAN MELENGKING INI!!!!" Teriak Valient dan langsung berlari ke sumber suara disusul oleh Ricther yang menerikai nama Granger sembari membawa pedangnya yang sudah beraura merah.

Lain Tempat..

"Giro, nih, buat anak squad lu.." Revan memberikan beberapa buah beberapa buah pie yang belum dipanggang ke Giro.

"Pie buah? kau yang buat?" Tanya Giro.

"Bukan, ibu gue yang buat, di kulkas sini juga masih banyak stocknya yaudah gue bagi-bagiin deh." ucap Revan.

Tiba-tiba suara biola 'ajaib' terdengar di telinga mereka, bahkan Giro sampai pingsan mendengarnya.

"Duh! Kuping gue budeg dah nih!!" Teriak Revan.

kamar Warrend...

"Bagi Komponen dong, War... lu kan lengkap." pinta Alpha yang datang ke kamar Warrend bersama Garcia.

"Masuklah, tinggal cari dimeja." Alpha kemudian masuk ke kamar Warrend dan melihat-lihat isi kamarnya yang lebih mirip lab dibandingkan kamar.

Ketika dia sedang mencari komponen yang dia perlukan, tiba-tiba terdengar suara biola ajaib Granger dari luar yang menyebabkan kaca pecah dan juga..

Booom!!

"Efari! Azure!"

"Garcia!"

Ketiga robot itu mendadak overload dan Sistem Crash setelah mendengar suara biola ajaib milik Granger.

dan Lebiiiiih Jauh lagi!!!

"Gimana Sap? kedengeran nggak!?" Tanya Ethan yang sedang mengetes sebuah speaker jarak jauh buatan Warrend dengan Sapphire.

"Kedengeran, btw lu ganti lagunya! Soalnya Salem ngamuk-ngamuk nih disetelin Gloomy Sunday." Jawab Sapphire dilain sisi.

"Ok!"

Mendadak sebelum Ethan sempat menghidupkan lagu yang lain mendadak kaca pecah dan suara biola milik Granger terdengar sangat keras dikedua sisi speaker.

"ETHAN!! LU NYETEL APAAN!?"

"SAP!! BUKAN GUE SUMPAH YANG MAEN BIOLA SEBURUK INI! HP W JUGA NGGAK SEMPET NYETEL LAGU!!"

"ADOOOOHH!! SUARANYA KEDENGERAN SATU GEDUNG SQUAD NIH!!!"

Ethan yakin bisa mendengar suara kaca pecah squad sebelah.

Di halaman...

Alu sedang berkeringat dingin mendengar permainan biola milik Granger yang sangat-sangatlah buruk. Demi apapun orang yang dia puja dan dia hormati sebagai Demon Hunter terkenal ini sangat buta nada dan jelek dalam bermusik. Pantas para Demon sering mundur karena bukan aura Granger yang menakutkan melainkan lantunan biola Granger sangat-sangat-sangatlah buruk dan dapat membuat kerukasan telinga.

"Sudah..." Granger berhenti memainkan biolanya dan langsung berkemas.

"Aku harus pergi.. Terima kasih untuk limunnya." Entah kemana dia langsung berlari dan dibelakangnya...

"GRANGER KEPARAT!! KEMARI KAU! KAU SUDAH MERUSAK TELINGAKU!"

Ricther dan Valient mengejarnya dengan penuh aura ingin membunuh.

Bonus :

"Eudo gimana? Satu hari setelah jadi ayah." Eudo hanya cemberut, kepalanya masih kacau karena baru bangun tidur dan Eudo bukanlah orang yang baik sesaat setelah bangun tidur. Bahkan dia tak menghubris Red yang baru saja menyapanya. Dia mengambil beberapa telur dan satu kotak susu dan beberapa bahan untuk lainnya seperti tepung dan soda masak.

"Eudo? Oi?" Red menepuk pinggul eudo dan orang yang bersangkutan langsung bereaksi dan menahan tubuhnya dengan berpegangan erat dengan kounter dapur.

"Reeddd... Jangan tepok pinggul gue dulu bisa nggak.." keluh Eudo yang kesakitan.

"Woo.. maaf kawan, aku tak tahu kau habis 'itu' dengan suamimu." ucap Red. "Tumben kau pagi-pagi sangat, biasanya jam tujuh atau jam delapan baru bangun."

"Bekal.. dan sarapan.. untuk mereka..."

"Keluarga baru, tugas baru, tanggung jawab baru..."

"Gue.. izin sakit dulu dah, sumpah nggak nyaman pinggul gue sehabis 'itu' sama James." keluh Eudo dan mengambil HP-nya untuk menelepon atasannya.

End, Btw, soal Pulkam nggak jadi buat, soalnya aku nggak ada ide buatnya DX