Chapter 92 : Unknown

Revievv :

Batu Nisan :

Yamagi : Iya.. Tapi, Onimaru sudah terkorupsi oleh kekuatan jahat semenjak patah ketika aku melawan Hanzo dan aku menggunakan Tenma Hazan. Soal Demon didalam Ryoma, jangan dibahas karena Ryo sendiri tidak mengaetahui apa-apa kalau dia dirasuki demon.

Oh, dan aku hampir lupa, aku kesal bukan karena tidak bisa tidur sama Reha... Tapi karena Hanzo masih lengket ke adik kecilku! *lempar mic ke batur.

Eudo : Maksudlu apa nanya begituan! *kejar batur pake Orb.

Rosy Miranto : Hmm.. Baru kali ini nama Reha terdengar feminim, soal revievv diurutin ya..

Balasan tambahan Chap sebelumnya :

Shiki : *Sigh Ya, tak apa...

Pyro : *Jedotin pala ke tembok, maaf aku melupakan sesuatu.

Mita : Yap, benar! Kau pernah mendengarnya kan? *nunjukin ROG Phone yang baru saja datang.

Me : Yah, Begitulah yang terjadi saat kau writerblock, nggak bakalan peduli apa yang terjadi karena nggak ada ide -.-

Iris : Memang jauh dan kawasan suburban, tapi ya naik CommuLine jadi cuma 1 setengah jam, cepet deh. Soal Giro.. Tanya Rara. Soal hubungannya dengan single campuran, ehm.. Cowo Cantik atau Cewe Ganteng yang main bulu tangkis, dah.

Red : *Cough.. Sebenarnya itu bukan hanya untuk mengejar deadline, tapi itu makanan sehari-hariku.

Yamagi : *sigh... Sudah lamaa.. sekali, semenjak aku melawan Hanzo, pedangku patah menjadi dua, dan efek dari penggunaan pedang baruku yang ternyata mempunyai kekuatan iblis yang dapat merasuki jiwa.. semuanya sangatlah sudah lamaaaa sekali..

Chap sekarang :

Bag. A :

Alucard : Yang benar saja, aku terlalu sering dipanggil Alu dan kau adalah orang yang pertama kali kepiran kalau itu Ulekan *sweatdrop. Ehem, ku lanjut, Theo itu Elang milik paman kami dan soal surat, Pamanku mengirimkannya dengan menggunakan Theo seminggu sebelum dia datang, tapi Theo sendiri baru sampai empat hari kemudian dan batas waktu sisa tiga hari sebelum dia datang dan jangan tanya kenapa dia seperti itu, kebiasaan Paman kalau bilang sesuatu pasti Theo yang datang, walaupun dia bisa mengirim e-mail sekalipun.

Anthonio : Bukan Ge- Gempi eh, Gempa.. Seberapa mengerikannya paman kami karena dulu mukanya selalu memasang wajah masam dan terlalu suka marah-marah, tentu kami berlima tidak menyukainya.

Cullen : Bloody Hell, No! Tak ada hubungannya sama Twilight disini! Soal Summoner itu si Marisa, adiknya Revan. Kalau aku ya, hanya seorang Penyihir yang belum jelas kekuatannya *whisper aku masih belum memberi nama kekuatan ini karena kekuatan ini masih sangat dirahasiakan dan penyebab kematianku bukan karena sakit tapi, tubuhku hancur karena belum handal menahan kekuatan ini.

Mira : Hanya berkunjung ke tempat teman, kalau soal panah tanyakan si Sarah.. Dia satu-satunya bisa memanah diantara kami, selain nenek kami.

Sarah : Panah-panah ku dibakar dan busur kesayanganku dipatahkan oleh si Richtarts hanya karena aku meleset dan mengenai tangan ok! Soal mengunjungi Anthonio, dia ada di France dan Author lupa menambahakan dimana dia sekarang.

Mira : Emm.. Soal Quotes, itu Quotes milik paman kami karena dulu dia dijuluki "Richter sang pembual" akibat tak ada yang percaya kalau dia menghabisi kurang lebih 20 demon saat pasukan pemburu belum datang, tapi sayang entah kenapa fakta tersebut disembunyikan oleh pasukan pemburu demon hanya karena pamanku ingatannya kabur dan pingsan setelah selesai bertarung.

Cullen : Jangan salahkan aku, salahkan pamanku yang bilang Rectified Spirit.

Ethan : Well, tbh, Targetku sih Giro, eh nggak taunya malah Pamannya Valient's dulu yang kena.

Anthonio : sebenarnya sih, Riktor itu panggilan biasa pamanku, cuma kalau Richtarts bukan Richart, itu plesetan yang aku ciptakan dan malah dipakai kami berlima saat dia tidak melihat atau tidak ada.

Ricther : Apa kau sangat gila untuk merekomendasikan permainan biola granger bersama orang lain? aku rasa iya... dan maksudmu apa? *emits really dark aura plus , membuat suara seburuk itu disamakan seperti gempa dengan skala berapa "Ricther" heh?

Alucard : Paman, Te- tenang ok, jangan menggunakan kekerasan. *menahan Richter

Me : Ganti Kaca doang, nggak perlu keseluruhan renov.

Eudo : Haaa.. Ngurusin 3 orang itu lah! *Nunjuk James, Frans, dan Della dibelakang dia. Dua anak plus satu bayi gede.

Chap B :

Penutul? Eh, Ups, Typo! Kudunya penutup! *Run

Eudo : Well... James dan aku kerja di kepolisian, James dibidang Forensik dan aku sebagai dektetif, jadi ya, kenapa kami begitu dekat dengan kepala polisi ya.. itu alasannya.

Yamagi : Onimaru patah saat aku melawat Hanzo untuk ke dua kalinya dan itu sudah lama. Hmmh, untuk apa pandai besi.. aku bisa memperbaikinya sendiri kok, soal iblis yang merasuki Ryoma... *Berbisik. itu seorang jendral pasukan, jangan ditanya ke Ryoma, karena dia sendiri tidak mengetahui apa-apa soal iblis di tubuhnya.

Ryoma : Umurku sudah 8 kepala, entah kenapa aku sudah tidak menua lagi diumur 45 tahun. *Tersadar. A- Aku tidak pedo! Umur Murad itu sekarang 20 tahun! dia mengulang kembali sekolah akhir karena dulu tempat tinggalnya hancur karena ada monster yang menyerang saat dia masih sekolah!

Max : Tidak ada Tujuan, Just for fun, mereka bisa bicara tapi jarang. Mereka lebih banyak, menggunakan tulisan atau bahasa tubuh. Jadi, ya tidak ada yang perlu diharapkan.

girl chan : Awkoawko, Sudah kubilang, aku punya ide yang sangat luar binasa! nggak udah kau bahas, soalnya si geor minta add -w-

Intro :

"Eudo selama lu jadi pacar sampe nikah sekarang, impresi lu terhadap James gimana?" Tanya Revan yang sedang mengelus badan Richard.

"Hmm... James itu baik pake banget, dia berusaha nggak ngeluarin duit gue sepersenpun kalau lagi kencan walaupun berakhir gue yang bayarin dia pas diakhir acara, jarang marah, imut dan loyal kek anjing, sabaran orangnya.. Tapi, ada tiga hal walaupun nggak ganggu sih." Jawab Eudo datar.

"Apa?"

"James tuh Polos banget, sedikit kekanak-kanakan, daaan.. Posessif. Gue jadi kek ngerawat 2 anak kecil plus satu bayi raksasa, kalau dirumah..." Sambung Eudo dan merenggangkan badannya. "Sama kayak lu, cuma dibalik aja. Tiga bayi gede sama satu anak kecil."

"Sa ae lu penggorengan."

dah, Lanjut..

-Kanibal?-

"Duh, Lapar..." Murad mengeluarkan sebuah bungkusan berisi Roti Kayu manis yang dia beli di toko kue kemarin malam. dan memakan roti tersebut sebagai pengganjal perut. Entah kenapa Ryoma yang kebetulan lewat langsung memasang muka tidak senang ketika Murad memakan roti kayu manis tersebut.

"Kau- Memakan sejenismu sendiri... Ka-kanibal.."

"Ha- Maksudnya?" Tentu Murad yang masih mengunyah roti kayu manis tersebut kaget mendengarnya dengan mulut penuh.

Note : Maksudnya sih ya, Cinnamon Bun/Roll suka dibilang ke orang-orang/sesuatu yang dianggap imut, entah kenapa aku punya ide aja kek begini.

-Kok rada gemuk ya?-

Eudo dan James sedang duduk berduaan di sofa sembari menonton film di TV bersama semangkuk es krim di depan mereka, ditambah malam sudah larut, anak-anak sudah tertidur pulas, dan besok weekend dan tak ada shift kerja besok –Mereka akhirnya bebas dari kehidupan yang melelahkan.

"Hei, Aku mau memesan makanan, kau mau apa?"

"Hmmh.. Aku mau Pizza Pepperoni.. sekalian, Pinggirannya diisi dengan keju."

James mengambil Handphonenya dan menelpon Restoran Pizza 24 jam.

"Ada tambahan pasta atau yang lain?" tanya James.

"Aku mau Lasagna sama roti bawangnya."

"Oke..."

Mereka melanjutkan nonton film mereka dan pesanan mereka datang sebelum pertengahan film (untungannya). Saat film sudah selesai, Eudo merasa mengantuk berat dan memutuskan untuk tidur, tapi sebelumnya dia menunggu James yang sedang membersihkan sisa-sisa makanan mereka. Ketika James mencuci piring, Eudo memeluk James dari belakang. James hanya tertawa kecil melihat Eudo, tapi...

"hmm..."

–Eudo merasakan kalau ada yang berbeda dari James.

"James..."

"Ya? ada apa Eddie?"

"Emm... perasaanku aja atau kau jadi agak membulet?" James langsung berhenti memcuci piring tapi keran air masih tetap mengalir. "Ha- Hah?"

"Kapan terakhir kali kamu fitness atau Olahraga?"

–Oh, Shiet..

"Tiga- Bulan yang lalu.."

Eudo langsung melepas pelukannnya dan lepas landas ke kamar mereka dilantai dua. Eh, bukan kamar mereka, tapi kamar tamu setelah mengambil selimut dan bantal. Tenang, dipikiran Eudo hanya terpikir membuat James Jera dengan berpura-pura nggak mau dideketin, agak kejam, tapi ya dibandingkan James nggak bakalan bergerak mau bagaimana lagi.

Tentu ini membuat James terpukul dan berpikir kalau Eudo nggak mau dideketin sama pria yang gemuk seperti dia sekarang. Apalagi, melihat kamar mereka terbuka lebar dan bantal di kasur hanya satu sementara Eudonya sudah tertidur pulas di kamar tamu.

Note : Lupa bilang, Setelah Nikah, Eudo lebih banyak ngabisin waktu di rumah James.

"Aku akan membuat Eudo lengket ke diriku lagi!" James mengepalkan tangannya agar dia dapat bersemangat kembali.

Besok..

"Eu- lu nggak terlalu kejam apa sama su-" Revan langsung dibungkam Eudo dengan tangannya ketika melihat James yang sedang olahraga bersama Red.

"Sshhtt.. Demi dia olahraga lagi~"

-Oh, Right, It's April Fools...-

"Uhuk, Aduh! Siapa yang mengganti es krim rasa pistachio di kulkas dengan wasabi!? Pedes goblok!" Keluh Yamagi yang kepedesan akibat es krim (wasabi) di kulkas, sementara itu Yamatabi hanya ketawa-tiwi diluar dapur bersama sebuah tempat plastik berisi es krim pistachio.

"Si bodoh itu! Huahaha!"

"Hei, Siapa yang mengganti posisi Garam sama Gula di wadahnya!? Teh Pamanku jadi asin!" keluh Alucard yang datang bersama sebuah teko di kepalanya dan dia basah dengan air teh asin, Sarah dan Cullen tertawa puas melihat kakak tertua mereka disiram teh asin sama Ricther.

"Hahahahaha!"

"Kakek, Aku hamil, tapi bukan sama Arta." Iris mau mengerjai Kazuma yang sedang makan siang bersama-sama, Sontak Kazuma pingsan dan makan siangnya tumpah ke badannya semua.

"Ee.. Kayaknya aku kelebihan deh."

–Diluar pikiran ternyata.

"Lihat Dia, Tertidur pulas di kelas terakhir." Frans dan Flore melihat ke Nigou yang masih pulas tertidur padahal semua sudah beres-beres untuk pulang. Ney, membisikan sesuatu ke telinga Frans dan tentu saja Frans menerimanya.

"Della, ada suara burung elang nggak?" tanya Frans, Della mengeluarkan Handphonenya dan menyetel sebuah Video suara burung elang.

Frans pelan-pelan memakaikan earphone ke telinga Nigou, saat keadaan sudah aman. Dia memaksimalkan volume videonya dan Nigou langsung bangun terkejut dan lari ke pojok ruangan.

"Elang! Elang! Tak suka! Jauhkan!"

"Hahahahahahaha!"

"Eh, Sialan kalian berempat!"

Oh, Shiet!

Yamagi merasakan sesuatu yang berbeda, dia merasa sangat khawatir mendadak ketika Reha masuk ke kamar dan keluar lagi menggunakan selimut tebal.

"Reha?"

"Hah? Kenapa yama?"

"Kamu sakit?"

"Nggak kok... Cuma mau pake selimut.. Dah ya, aku mau keluar sebentar dah.." Reha langsung pergi tanpa basa-basi lagi. Yamagi merasakan sebuah kecurigaan tentang kondisi Reha. Sorenya, benar saja keadaannya memburuk, keluhan sesak di dada saat Reha sedang makan malam.

'Duh, dia mendadak panas lagi...'

"Yang penting kamu sudah isi perut dulu ya Reha.." Ucap Yamagi sembari menidurkan Reha di kasur tapi, Reha langsung berbalik. Yamagi membenarkan posisi tidur Reha lagi, tapi ketika dibenarkan Reha meringis kesakitan.

"Shht.. shht.. Reha kuat, kuat, besok kita ke RS saja. Ku temani kau tidur ya.."

A.N : Ini beneran loh, kejadiannya pas aku sebelum berangkat ujian masuk PTN, pas dicek malah dibilang asam lambung, tapi yang sakit malah dada.

Archmagus.

Note : well, disini aku bilangnya Archmagus itu highest rank magician/mage.

"Ayah, Memangnya ada berapa orang yang diberikan sebutan "Archmagus" oleh akademi sihir?" Tanya Eudo, Drud agak terkejut ketika Eudo menanyakan hal tersebut karena Dudo sendiri tidak pernah menanyakannya.

"Jadi, kurang lebih ada Tujuh orang yang dicap "Archmagus"; Aku, Gord, Cullen, Lunox, D'Arcy, Ignis, dan Yang paling muda Alice." jawab Drud.

"Tu- tunggu dulu, Cullen? Cullen Valient? dia Archmagus?"

"Ya, Sayangnya dia tak kuat menahan kekuatan sendiri, sehingga badannya termakan oleh kekuatan itu sendiri."

"Bukannya dia mati karena sakit?"

"Sakit? Tidak, Tubuhnya rusak karena kekuatannya mau tak mau dia memisahkan tubuh dengan jiwanya dan tetap hidup sebagai jiwa tanpa raga, dia menyembunyikan fakta itu ke keluarganya." Jelas Drud.

"Jadi ayah, apa setiap Archmagus, punya kendala sendiri saat memanfaatkan kekuatan mereka?" Tanya Eudo penasaran.

"Kau lihat mata kiriku ini kan, Eudo?" Eudo mengangguk, mata kiri ayahnya tampak normal sampai kemudia Drud melepaskan sesuatu dari mata kirinya. Softlens? Ayahnya menggunakan Softlens dimata kirinya untuk menutupi...

–Mata berwarna hijau yang sangat memudar.

"A.. Ayah.."

"Ayah harus jujur Eudo, ayah tak bisa melihat dengan jelas dibagian mata kiri, aku tak tau apa yang kekuatanmu ambil dari tubuhmu nanti, Salah satu anggota tubuh, atau mungkin tubuhmu, atau bahkan malfungsi pada jiwamu. Mudah-mudahan kau beruntung hanya sebuah kerusakan kecil, bukan kerusakan hebat seperti Cullen." balas ayahnya sembari tersenyum kecil.

-About Three Red Brothers.-

Walaupun mirip, ketiga pria ini bukanlah seorang anak kembar. Kalau secara umum atau sikap sih, Jin lebih Childish, Rone lebih dingin, dan Aka lebih dewasa. Tapi, kali ini mereka akan dibahas lebih spesifik.

Q : Kalian bertiga, Siapa yang paling tua?

"Kalau boleh jujur, Rone yang tertua bukan aku." Ucap Red, "Dia Januari, sementara aku Maret dan Aka Mei."

"Tapi, entah kenapa semuanya menganggap Jin yang tertua, padahal aku lebih tua dua bulan dengan umur yang sama dengan dia." balas Rone.

Q : Rone, Punya panggilan lain dari keluarga Kamiyama apa nggak?

"Ada dan Kakek yang memberikannya.."

Aka teringat sesuatu, "Aah, Aku ingat kakek memanggilmu Hayate kan?"

"Yap, Kau benar.."

Q : Kalian bertiga bisa masak, Full Course meal bisa?

"Haha..."

"Tentu saja.."

"Tidak!!" Kata Jin, Hayate, dan Aka bersamaan.

"Kami kalau memasak full course harus bagi-bagi tugas, tak bisa langsung full course." Kata Jin.

"Aka, dia ahli dibagian Appetizer. Jin, dia ahli bagian Main Dish, sementara aku, dibagian dessert." Sambung Hayate.

"Aku teringat saat kami bertukar bagian, Aku di hidangan pembuka, Hayate di hidangan utama, dan Aka di hidangan penutup." ucap Jin.

"Berakhir kacau, karena kau membuat sebuah Nachos dengan Krim asam dan keju ditambah potongan daging sapi dan saus pedas dengan ukuran besar." Balas Hayate sebelum diberikan tatapan tajam oleh Jin.

"Heh, memangnya siapa yang membuat Crepe manis dengan Bacon kemudian dibalut dengan keju mozzarella sebanyak apa tau dengan tambahan krim asam dan krim keju dijadikan satu untuk main dish!?" Ejek Jin, "Es krim Bacon!? Apa pula itu!?"

"Sudahlah kalian berdua..." Relai Aka, tapi..

"Diam kau! Buat Creme Brulee Custrad manis saja nggak bisa!"

Ok, kali ini Aka kepicut karena terakhir kali dia buat Creme Brulee berakhir hambar dan terasa sangat telurnya karena dia salah bahan.

Maaf, mereka bertiga sedang gelud dulu..

Q : Kalau makanan favorit kalian apa?"..."

"Aku suka.. Apapun itu asalkan dari daging, aku suka.." jawab Jin.

"Aku suka dengan keju-kejuan kecuali, Cazzu Mar-" jawab Hayate.

"Aku suka dengan Pasta dan berbagai jenis-jenis sausnya." jawab Aka.

"Tapi ya tetap saja, yang terbaik adalah Donat yakan..." bisik Jin.

"Dengan toping apapun, Manis, Asin, Asam, itu enakloh." sambung Hayate.

"Jangan lupa, Frozen Yogurt juga, duh.. nggak tahan setiap makan."

"Ohoho, tentu saja Aka."

Any Question for this three identical brothers?

Welcome, Belrus!

"Rone, baru pulang nih..." ucap Revan yang menyambutnya di pintu depan, tapi ada sesuatu yang dia bawa. Sebuah tali kekang yang dia bawa. "Tali kekang? buat apa?"

"Ah.. bagaimana aku menceritakannya ya..."

"Hah?"

Red yang datang dari dapur membawa sebuah mangkuk berisi buah-buahan potong langsung terkejut melihat sesuatu dibelakang Rone. Berbulu putih, mata hitam, dan badannya ukurannya tidak terlalu besar. Dia mencoba untuk menadahkan tangannya dilantai dan anjing tersebut datang dan menaruh kepalanya di tangan Red.

"Haaa.. Dia sudah terlatih!?" Tanya Red.

"Iya..."

"Aww.. Aku akan membuat perayaan kecil-kecilan kalau begitu, aku akan masak Ayam Teriyaki."

'Tapikan, itu masakan biasamu Jin...' Gumam Revan dan Rone.

"Kakak ini namanya siapa, Ayah?" Tanya Nigou penasaran.

"Oh Nigou, kenalkan ini Belrus. Nah, Belrus ini Nigou." Belrus menatap bingung ke Rone.

"Ahaha, aku lupa bilang, Bel, Nigou ini Anjing sama seperti kau tapi dia jenisnya Shiba inu. Tapi, dia sudah seperti anak kami berempat." jelas Rone sembari mengusap kepala Belrus. "Nanti aku kenalkan juga ke Fuyu dan Richard."

Pro and Contra about Ryoma.

Yamatabi sedang bersandar di atas pohon sembari memainkan sebuah Shuriken kecil miliknya dan menghisap sebatang rokok di mulutnya.

"Oi! Yamatabi! Mau Mochi!?" Yamagi memanggilnya dari bawah pohon dengan sepiring kue mochi di tanganya.

"Ah, Ya!"

Mereka mengobrol beberapa hal-hal kecil tapi, suasananya berubah saat Yamatabi menggunakan topik pembicaraan soal Ryoma.

"Kenapa kau masih mau menerimanya kak!?"

"Yamatabi, Ryoma itu masih perlu bimbinganku, aku akan terus melakukannya sampai dia mengerti."

"Tapi dia sudah menusukmu; membunuhmu! Dan kau masih memaafkan dirinya."

"Aku mengerti kalau dia belum mengerti Yamatabi! Dia sedang shock karena dia membunuh sahabatnya sendiri!"

"Kau terlalu lembut dengan dirinya!"

"Aku mengajarkannya berbagai macam hal saat kecil, Dia sudah menganggapku sebagai seorang ayah setelah kehilangan ayahnya! Apakah aku dengan tega harus menelantarkannya ketika dia melakukan kesalahan dan meminta maaf dengan cara mencariku sebegitu demikian lamanya kemudian, sujud sembah di kakiku? Aku bukan orang yang sekejam itu Yamatabi! Aku punya hati nurani sebagai seorang manusia juga!"

"Dia mencoba membunuhmu dengan menusuk dadamu tepat di jantung dan mencoba menyayat lehermu saat tau kau itu demon! Apa itu adalah sebuah hal yang bagus dari seorang anak yang amat dilindungi ayahnya!?"

Grepp!!

"Dengarkan aku sebagai kakakmu Yamatabi!" Yamagi memegang kerah baju Yamatabi.

"Aku akan melindungi Ryoma apapun yang terjadi dengannya! Dia bukan hanya seorang murid bagiku! Tapi juga seorang anak angkat! Aku tak akan pernah memaafkan seseorang yang menyakiti Ryoma! Kau mengerti!?"

"Tch! Terserah kau!'

Who eat his bread!!

Brak!!

"Siapa yang memakan Roti Melon Terakhirku di kulkas!!" Ucap Tartagus dengan Aura yang sangat gelap. "Aku akan mem-"

Btw, yang makan roti melon kepunyaannya itu...

"Aku..."

"Membelikannya lagi, apa kakek sudah kenyang? Mau lagi? Aku belikan!" Taragus langsung meredam amarahnya ketika tau yang memakan roti melonnya adalah kazuma.

Versi James..

"Siapa yang memakan roti kepunyaanku disini!" James menunjuk-nunjuk sebuah piring kosong yang merupakan tempat dia menaruh rotinya. "Kalau aku tau siapa yang memakannya, aku akan mem-"

"Ah, maaf ya James, aku lapar, jadi aku makan rotimu dulu nanti. Haha.." Ucap Eudo.

"Hah, kau lapar? mau lagi rotinya, biar aku belikan." James merubah ekspresinya langsung ketika tau Eudo yang memakan roti miliknya.

"Tidak, tidak usah James.."

Why can't i have a nice thing...

"Hah? Murad menghilang?" Tentu Ryoma terkejut mendengarnya ketika sedang mengunjungi sekolah tempat Murad berada untuk memberinya sebuah makan.

"Yaah, kami berlima juga tidak tahu, dia bilang mau mengambil peralatan di gudang. Tapi, ini sudah satu jam dia belum kembali."

"Hee... Paling kabur duluan."

"Tidak, Murad tak pernah melakukannya, juga.. saat dihubungi dia tidak menjawab dan nomornya mati."

Ryoma memendadak curiga dengan kejadian hilangnya Murad ini, "Tunjukan dimana gudangnya.."

Ryoma dan para teman-teman Murad segera ke gudang di belakang gedung sekolah, tempatnya memang sedikit sepi, tapi masih mudah terlihat oleh murid-murid yang berjalan-jalan sekitar sekolah. Ryoma mencoba membuka pintu gudangnya tapi, terkunci.

"Kalian, ada yang punya kunci gudang ini?"

"Aku, tapi, Murad meminjamnya."

"Dikunci dari dalam rupannya, mau tak mau ya harus didobrak..." Ryoma mengambil ancang-ancang dan mendobrak pintu tersebut sekali tendang.

Braakk!!

Saat pintu terbuka, mereka menemukan sesuatu yang mengerikan.

"Murad!!"

–Murad terbaring tak sadarkan dilantai dengan sebuah kolam darah terbentuk dari sebuah tusukan dibeberapa bagian tubuhnya.

Ryoma menghampirinya dan mengecek leher Murad, "DIA MASIH HIDUP, PANGGIL AMBULANS! JUGA POLISI!!"

"Siap!"

'Murad, bertahanlah...'

Di rumah sakit...

"Dokter bilang kita menemukannya tepat waktu... kalau kita terlambat lebih lama ketika menemukannya, nyawanya tak akan tertolong karena kehabisan darah.." jelas Violet ketika mendengar keadaan Murad yang tak sadarkan diri.

"Tuan Ryoma, yang tabah ya.. kami juga sedih mendengar keadaan teman kami." kata Butterfly yang merasa simpati.

Selama perjalanan tadi, para teman sekelas Murad memperkenalkan diri mereka, ada Violet, Butterfly, Tulen, Krixi, dan Natalya. Ryoma menceritkan bagaimana Murad sebelumnya dan bagaimana dia bisa mengenal Murad dan Murad sangat dekat dengannya ke mereka berlima. "Tak apa, aku sudah merasakan yang lebih..."

"Kalau ku lihat, ini bukan bunuh diri. Murad benar-benar mau dibunuh oleh seseorang, tapi orang itu sangat pintar karena dia menggunakan senjata milik Murad ditambah menaruh sebuah surat kata terakhir agar mengalihkan kasus ini dari pembunuhan ke bunuh diri." ucap Tulen yang tadi menemukan sebuah surat kata terakhir di kantung celana Murad, tapi dia tau kalau Murad bukan tipe Suicidal person ditambah dia sangat terbuka walaupun memiliki sifat dingin sekalipun.

"Aku tak akan pernah memaafkan orang itu..." Ucap Ryoma pelan. "Akan aku bunuh dia kalau bertemu..." Dia beranjak pergi dari rumah sakit dan pulang ke markas. Di markas Yamagi sudah menunggunya dengan sebuah makan malam.

"Ryo, Aku sudah mendengarnya.. aku turut bersedih atas yang terjadi dengan Mu-" ucapan Yamagi terpotong ketika Ryoma mulai menangis dan memeluknya.

"Guru.. Kenapa.."

"Hmm.."

"Kenapa aku tak bisa mempunyai sesuatu yang membuat diriku bahagia?"

"Ryoma.."

"Mereka yang membuatku bahagia, selalu menghilang.. Ayahku, Kondo, Murad, Kau.. kenapa..."

"Ryoma.. tenanglah anakku, aku tak bisa menjelaskannya, tapi, mungkimungkin orang-orang disampingmu yang membuatmu dulu bahagia telah hilang tapi, Murad dan aku, kami selalu disampingmu.. Aku masih hidup dan Murad sedang berusaha untuk hidup."

"Ayahmu dan Kondo, meninggalkan kebanggaan mereka terhadap dirimu yang menjadi seorang pendekar yang dihormati, ingatlah, kata-kata beliau untuk tidak terpengaruhi oleh masa lalu." Ryoma mulai berhenti menangis dan melepaskan pelukannya.

"Kau benar, aku tak boleh terpaku oleh masa lalu. Selama ini aku berjalan di jalan yang sunyi sendirian dan sempat kehilangan tujuan awalku."

"Katakan, apa tujuanmu.."

"Mencarimu dan juga.. mengetahui jati diriku dengan sebuah kebebasan..."

Outro :"Kau tau Ryoma, aku sendiri sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, walaupun secara fakta aku belum memiliki seorang anak sama sekali." ucap Yamagi.

"Emm..."

"Bukan berarti kau akan memanggilku "Ayah" atau "Tou-san" ya.. aku akan menghukummu kalau berani melakukannya."

Helm Pembaca pikiran?

"Aah, Aku menciptakan sesuatu yang kurang beguna lagi!!" Warrend langsung berbaring di tempat tidurnya dan menutup kepalanya dengan bantal. "Aku butuh istirahat."

"Tuan, Helm di atas meja itu, tetap mau disimpan?" tanya Azure

"Tidak! Buang saja! Kalau ada yang mau, bilang saja "Ambil, itu dari Warrend." ucap Warrend dan tertidur dengan cepat.

Azure membawa helm tersebut keluar kamar dan berencana menghancurkannya diluar markas, tapi mendadak Reha melihat helm tersebut dan tertarik untuk mencobanya.

"Keknya seru bisa baca pikiran orang, coba ah!" Reha memakai helm tersebut dan mencoba untuk membaca pikiran milik Yamagi. Yamagi hanya tersenyum melihat kelakukan Reha.

Yamagi mind

"Hai, Yamagi, Suamiku.. Sudah pulang."

"Tentu saja dong, aku bawa kue nih."

"Oh, sebelumnya, kau mau makan dulu, atau ku bantu mandi dulu.. Atau.. kau mau.. Di- Ri- K

End dipaksakan karena..

"Otak Mesum!!" Reha melempar Helm tersebut ke kepala Yamagi sampai sang korban terjatuh di lantai plus bonua berupa injakan di bagian "permatanya"

Migrasi Game.

"Kalau dilihat-lihat, Reha udah jarang maen ML." ucap Haya ketika melihat reha sedang bermain AoV.

"Oh, itu karena dia pindah haluan ke AoV sekarang." jawab Yamagi. "Yah, dia ngasih alesannya, udah nggak tahan sama kebodohan pemain ML setelah dia nyoba cara maen AoV di ML, tapi dia masih ngikutin hero plus storynya."

Something wrong with James."Eudo, Ambilkan aku Cola di kulkas!" pinta James yang sedang bermain game di laptopnya.

"Ambilah sendiri, aku sedang sibuk memasak disini." Balas Eudo setelah mengeluarkan sebotol cola dari kulkas. James hanya mengedus tapi sebuah kejadian aneh terjadi karena botol tersebut melesat ke tangan James. Tentu Eudo yang melihatnya terkejut ditambah dia bisa melihat kekuatan sihir ditangan James langsung berhenti memasak.

"James, sejak kapan kau bisa sihir?"

"Hah? Apa? Sihir? Aku tak bisa?"

"Tapi, Aku melihat botol cola itu melayang kearahmu, dan ditanganmu ada energi sihir." balas Eudo kebingungan.

"Lah, ku kira kau melemparnya."

"Siapa juga yang mau melempar botol minum berisi cola! Sudahlah, kita harus ke ayahku dulu!" Eudo segera mempercepat memasaknya dan menaruh masakan tersebut di atas kounter. "Anak-anak! Makan siang sudah siap! Kalian makan duluan saja, Ayah dan Papa mau ke kakek Drud sebentar!"

Eudo langsung menyeret James ke mobil dan pergi ke rumahnya secepat mungkin.

Dah segitu dolo!