balas revievv :
Rosy Miranto : Hee.. Seperti itukah? Aku tak tau, ku nggak bisa jawab semua sih, tapi oh, well.
Chap sebelumnya :
Alucard : Haah, Soal Theo.. Paman hanya mengirimnya untuk kami berlima, kalau ke orang lain dia pasti akan pakai E-mail.
Ricther : Haha lucu sekali, kau kira aku ini gunung berapi?
Mira : Larat, bukan Ricther the Liar, tapi Richter the Fool (versi translate inggris official storynya Ricther sih tertulisnya the fool tapi entahlah.). yah mungkin ada yang cemburu dengan paman kami, jadinya fakta diplesetkan dan paman menjadi sangat agresif kalau ada yang berani membahas tentang cerita yang diplesetkan tersebut.
James : Aku sudah bekerja lebih lama ketimbang Eudo, mungkin sekitar 7 tahunan. jadi, totalnya bisa banyak.
Eudo : Aku baru kerja sebagai dektetif selama 3 tahun, kurang lebih ada 90 kasus sudah aku tangani.
Yamagi : Aku dulu sempat belajar pandai besi. Jadi, masih bisa untuk mencoba memperbaiki pedangku. Soal Iblis, aku tak mau membahasnya lgi, aku sudah mulai muak untuk menemui mereka.
Ryoma : Ah, Murad masih kelas dua, belum kelas tiga.
Chapter 93 :
Eudo : Nggak, Dia bawa uang sebenarnya banyak. Tapi, demi muasin aku dia malah kelebihan ngeluarin uangnya. Padahal, udah dibilangin biar aku aja yang bayar kalau ngedate dianya malah batu. Soal Ayahku, dia buta sebelah ok.
–Tambahan, Aku membawa James ke Ayahku bukan ke Dokter.
Rone : Jin?
Aka : Lebih dewasa dari kami?
Rone, Aka : pffft, Hahahahahahahaha!!
Revan : Hal terbodoh yang pernah ku dengar selama hidupku adalah ketika kau bilang Jin lebih dewasa ketimbang Rone dan Aka.
Rone : Ehem, Soal Belrus, dia bukan dari mana-mana kok, aku yang menamainya Belrus.
Yamagi : Ya begitulah, Dulu dia benci Iblis sekarang dia malah salah satu bagian dari iblis walaupun dia tak mengetahui dirinya adalah iblis. kemudian, aku tidak mati ok, hanya koma selama beberapa bulan lalu kembali ke dunia. Tch, bisa kah kau tak membayangkannya itu membuatku tidak nyaman.
Batu nisan :
Yamagi : Astaga, Ukti, Lu mau gue lempar pake arang deh rasanya biar tambah item.
Girl chan : Ok..
Nightmare or Real Mare.
"Huh, Dimana aku?" Ryoma melihat sekeliling hanya ada dia seorang. Dia melihat sebuah pintu di depannya dan membuka pintu tersebut. Dibalik pintu itu, ada sebuah ruangan gelap, hanya ada sebuah pelita dari sebuah lilin di lantai dan ada seseorang yang sedang duduk membelakangi lilin tersebut.
Ryoma memberanikan diri untuk mendekati orang tersebut secara perlahan, toh, dia membawa Naginatanya kalaupun pria tersebut akan menyerangnya dia masih bisa membuat serangan balasan.
"Hei, Siapa kau!? Dimana aku!?" Tanya Ryoma.
"Akhirnya... Kita bisa bertemu, Ryoma..." Pria tersebut bangun dari duduknya. Ryoma mencoba untuk menjaga jarak, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan. Lambat laun, pria itu mendekat dan mulai menampakan sosok asli dirinya, itu bukanlah pria manusia, melainkan seorang iblis berambut putih dan membawa Naginata juga.
Sang Iblis mendadak berada didepan wajahnya kemudian, dia mencekik Ryoma cukup kencang sampai Ryoma mulai merasa kehabisan nafas.
"Akan aku rebut tubuhmu, kau adalah milikku, inangku, suatu hari nanti, ingatlah itu, tubuhmu adalah milikku." Cekikkan iblis itu mulai bertambah kuat.
"K- Kau! Si- Sia- Pah!?"
"Aku? Aku adalah Kau, tapi Kau bukanlah aku!"
Ryoma kemudian terbangun setelah mendengar ucapan iblis tersebut. Dia berlari ke kamar mandi dan mengecek lehernya, terdapat sebuah bekas cekikkan di lingkar lehernya.
Magic Problem.
"Ingat, Jujur saja ke ayahku, jangan disimpan. Mungkin, dia tau ada apa denganmu." Ucap Eudo ke James sebelum membuka pintu ruang tamu. Tapi, di ruangan tersebut ada ayahnya dan seorang pria lainnya, dia berambut abu-abu dan memakai monocle di mata kanannya.
"Benar tebakanmu, Hai, ada apa kalian kemari?" tanya Drud ketika melihat James dan Eudo datang.
"Ayah, ada yang harus kita bicarakan."
"Emm.. Eudo, kurasa waktunya tidak tepat."
"Ini soal James dan Sihir yah, ada sesuatu yang menjanggal."
"Drud, Biarkan.. Aku juga merasakan sesuatu yang berbeda dari anak muda bernama James ini." kata Arcy kemudian dia mendekati James dan memegang tangannya. Dia hanya mengangguk dan kemudian melepaskan tangan milik James.
"Menarik, aku sudah bisa membuat kesimpulan.. Kalian akan terkejut mendengarnya dan ada satu hal yang membuatku risau." sambung Arcy.
"Apa itu?"
"Mudah, Dia menyerap kekuatan milik Elford.. Tapi, bukan mencurinya, sepertinya Elford memberikan kekuatan tersebut secara sukarela. Katakan padaku nak, apa kau pernah diajari sihir atau semacamnya? Ataukah Elford sehabis melakukan sesuatu dengan sihirnya terhadapmu?"
"Aku tak begitu ingat.. Eudo terakhir menggunakan sihirnya ke diriku berupa lemparan bola sihir karena kami sedang adu mulut, itu saja sudah lima bulan yang lalu." jawab James. "Jujur, bola sihir itu sangat berat seperti bola bowling."
"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Arcy.
"Bola tersebut perlahan menghilang dari tanganku, aku mengira karena Eudo sudah jauh dan efek sihirnya melemah. Aku juga tak merasakan apa-apa dengan tubuhku."
"Menarik, biar aku jelaskan kepadamu James." ucap Arcy. "Sihir keluarga Mayer adalah Sebuah sihir yang didapat dari Rune dan energi mistik. Apapun yang diciptakan oleh mereka tak akan hilang dengan sembarangan kecuali aliran energi sihir mereka diputuskan atau dihancurkan dan-"
"Anu, Maaf Arcy.. Tapi, James bukan seorang penyihir, dia hanya manusia biasa." potong Drud ketika melihat wajah bingung milik James.
"Oh, maaf aku malah menjelaskan secara detil soal kekuatan spesial kalian, jadi begini James. Bola sihir yang Elford lemparkan kepadamu bukan menghilang karena Elford menjauh, tapi karena dirimu menyerapnya."
"Tapi, Arcy, Tak mungkin dia bisa bertahan dengan menyerap kekuatan Eudo. Tubuhnya bisa hancur kalau dia menyerap kekuatan sebesar itu." balas Drud.
"Disitulah pertanyaan terbesarnya, pertahanan tubuhnya terlalu kuat bahkan kekuatan milik Elford bisa terekstraksi oleh James, kemudian diubah menjadi kekuatan yang amat besar."
"Jadi, Apa-"
"Tidak!" Potong Arcy. "James walaupun dia dapat menyerap kekuatan sebesar itu dia tetap belum masuk ke tingkat Archmagus. Terlalu berbahaya untuknya."
Eudo hanya mengangguk memang karena kekuatan yang amat besar dapat meminta sesuatu yang setimpal dari yang memilikinya, sementara James dia hanya seorang manusia biasa dengan sebuah kemampuan menyerap kekuatan sihir sebesar itu. Bisa-bisa tubuhnya hancur kalau dia terlalu banyak menyerap kekuatan sihir, "Aku mengerti, akan aku awasi besar sihir yang terserap jika ada sihir yang diserapnya."
Eudo kemudian pamit pulang bersama James untuk kembali ke rumah. Di perjalanan James bertanya soal Arcy.
"Dia? Dia itu Archmagus terkuat setelah ayahku. Mungkin yang paling kuat, kekuatannya juga luar biasa."
"Apa memangnya kekuatannya?"
"Sihir Interdimensional, dia juga bisa mengendalikan ruang dan waktu, kau bisa saja diledakan dirinya dengan tiba-tiba tanpa ada api atau sisa sama sekali atau mati tertembak tiba-tiba tanpa sebuah luka tembak atau juga membuatmu seperti berjalan melingkar padahal bukan Halusinasi." jelas Eudo.
"Sayang, setelah dia memakai kekuatannya dalam skala tertentu. Tangan kanannya akan bereaksi dan menjadi sakit yang amat sakit."
Kerja woy Kerja!
"Jadi begini... Kemarin aku sengaja membuat sebuah diskon satu hari karena besokan ada coblos-coblosan hingga lima puluh persen pada menu kita." Yamagi tersenyum dan membanting sebuah buku tamu berukuran tebal. "Semua pelanggan langsung menelpon, kirim pesan, kirim e-mail, hanya untuk booking tempat!"
Yamatabi langsung tersedak minumannya melihat daftar booking meja yang diberika Yamagi, "sebanyak itu!? kita harus buka lebih cepat dari biasanya."
"–Ada yang diluar, ada yang didalam."
"Haaah.. kita harus menyewa banyak pekerja satu hari kalau begitu." ucap Haya.
"Tenang aku tau gimana caranya."
Besoknya..
"Nah, Kalian bantu kami bertiga ya! Hehe!" Ucap Yamagi dengan sebuah senyuman diwajahnya yang penuh arti.
"Ya ampun, kalau gitu kenapa gue terima kerja ginian." keluh Sapphire yang sedang membawa banyak piring.
"Sabar, lagi pula satu hari doang trus dibayar dan dikasih makan ini kok." ucap Tartagus yang juga membawa banyak piring.
"Lah, lu sendiri kenapa bisa nerima, awalnya bilang nggak mau..." balas Sapphire.
"Berubah pikiran."
"Hilih, kan lu terpelatuk sama Kenzo gegara dia ngejek lu nolak kerjaan dari Yamagi." potong Vience dibagian kasir. "ya bisa liatkan, siapa yang jadi pelayan disana." Vience menunjuk Kenzo yang sedang melayani sebuah meja dipojok ruangan.
"Oh, iye, itu ken..." ucap Sapphire.
Disisi lain..
"Meja buat bakaran nomor 6 belom dinyalain oi!" seru Lectro.
"Sabar gue ngambil kertas pelapis sama lemak sapinya dulu!" balas Ethan.
"Mat, bumbu miso buat kuah rebusan meja nomor 8 belom dikasih!?" seru Teiron.
"Oh iye! sebentar!" balas Mathias.
"Meja nomor 10 udah selesai makan, bersihinnya yang cepet!" seru Jung sembari membersihkan lantai restoran.
"In Coming!" balas Federico yang membawa sebuah plastik dan ember berisi lap dan air serta sabun.
Semua saling berteriak satu sama lain dan bergerak dengan cepat karena suasana sangatlah ramai.
Malam Harinya..
"Bersulang!!!"
Trik!
"Aaahh, Akhirnya..." Ucap Yamagi yang kelelahan setelah kerja dari pagi sampai malam.
"Kalian bertiga kuat ya seharian hampir tak ada istirahat." kata Luthias yang dari awal mengawasi kalau para Kunihiro tidak beristirahat sama sekali sejak buka.
"Justru kami sangat kelelahan sekarang..." balas Yamatabi dan menenggak minumannya. "Kami hanya makan bento instant padahal tugas kami bertiga di dapur. Aku butuh liburan dan makan di luar."
"Aku rasa aku tak mau memasak selama dua hari ini. Aku kelelahan dan bosan memasak." ucap Haya. "Aku akan banyak-banyak membeli bento dan mie instant dan cemilan, Aku malas bergerak sepertinya besok, ingin seharian di kamar tanpa gangguan."
"Aku tak akan buka kedai selama tiga hari, aku butuh istirahat dan stok ulang semua bahan." kata Yamagi. "Aku hanya akan pesan makanan dari luar saja besok..."
"Kalian bekerja sampai melebihi batas kalian, kalian pantas mendapatkannya." hibur Red yang sedang memanggang ayam ditengah meja.
"Ryo, keadaan Murad gimana sekarang?" tanya Tumma.
"Sudah sadar, masih belum diketahui siapa yang menusuknya, tapi lukanya sudah membaik." jawab Ryoma.
"Aku tak pernah selelah ini dalam bekerja." keluh Teiron.
"Tei, lu aja kerjannya shift setengah siang setengah malam. gimana yang satu shift siang/malam/pagi." balas Alpha yang kebagian shift malam.
A/N : Shift Pagi Jam 9 - Jam 1 Siang, Shift siang Jam 1 - Jam 6 sore, Shift Malam jam 6 - Jam 11.
"–Mana Pas rame banget jam 7 tadi..."
"Udah mending kita makan-makan sekarang, kerja keras kita sudah selesai dan nggak ada yang perlu dipikirkan lagi, Cheers!!" kata Mathias.
"Ya!!"
Besoknya benar saja, ketiga bersaudara Kunihiro yang biasanya sangat aktif, menjadi sangat malas untuk bergerak. Yamagi hanya main game seharian di kamarnya dan makanan yang dia makan semuanya pesan dari luar (kecuali makan siang karena Yuki memberinya sebuah sup sayur ukuran besar.), Haya nafsu makannya menjadi luar biasa banyak. Bayangkan saja, dia saat makan malam dia menyeduh tujuh bungkus mie instan sekaligus tentu dia tetap menyelipkan banyak sayuran dan mengambil semangkuk besar salad buah dari kulkas, namun kegiatannya sama seperti Yamagi hanya main game dikamar dan nonton film, untuk Yamatabi, dia juga sama seperti kedua saudaranya tidak ada aktifitas yang berat hanya dikamar seharian, juga untuk makan, dia hanya mau makan pesan dari restoran saja.
Yuki disisi lain hanya menghembuskan nafas lelahnya karena harus memaksa ketiga saudara itu makan sayur dan buah dalam ukuran yang besar sampai persediaan sayur dan buah menipis (Bahkan, sisa asinan terong, lobak, dan kimchi miliknya ludes termakan ketiga bersaudara itu dalam satu hari, padahal bisa untuk sebulan.)
Mau tak mau, dia harus membeli banyak sayur dan buah untuk mengisi kembali persediaan makan markas. (Dan membuat Asinan miliknya banyak kembali.)
I don't wanna it, Please
"Huh?" Eudo mulai merasa ling-lung, kakinya terasa sangat lemas seperti mulai kehilangan rasa dan mulai kesemutan. Aneh, dia padahal sedang berdiri di depan kompor untuk memasak makan pagi, tapi entah kenapa kakinya mulai...
Gedubrakk!
Komprang!!
"Eudo?" James menghampirinya dari lantai atas. James melihat Eudo sedang terdiam dan sepertinya kesulitan berdiri. "Kau tak apa?"
"Ah.. Kenapa kakiku, susah digerakan..." James memberikan Eudo bantuan, tapi ketika Eudo melepaskan tangannya, dia langsung terjatuh lagi. "James.. Tolong, telefon ayahku sekarang. Ah, Sekalian ambilkan kursi."
Kemudian..
"Eudo, lu kenapa pake kursi roda!?" tanya Eris yang melihat Eudo duduk di kursi roda.
"Kedua kaki gue nggak bisa buat berdiri, entahlah, mendadak lumpuh." jawab Eudo pelan.
"Yang sabar ya Ed.. Untung lu masih ada James yang mau nolong."
"Ya, begitulah..." balas Eudo namun, dia masih termenung.
"Ada masalah lagi?" Tanya Eris.
"Gue lagi kepikiran kata ayah gue, dia nyuruh gue berhenti kerja karena dia khawatir soal penyebab lumpuh gue adalah kekuatan gue."
"Udah kedokter?"
"–Gue juga udah ke dokter tadi, di cek dan hasilnya yang keluar bam... lumpuh dari dengkul kebawah. Fix, efek bayarannya udah kelihatan."
"Ed, gue prihatin dengan lu.."
"Makasih Ris, gue hanya bisa berharap ini kelumpuhan sementara; satu minggu sampai satu bulan, gue udah bisa jalan lagi."
"Sekarang, James mana?"
"Lagi sama ayah gue di rumah, emm.. gue ke squad sebelah sebentar ya. mau maen sebentar aja."
"Ed, mending-"
"Gak apa-apa, gue bis- oh, iya..." Eudo melihat ke kakinya. "Hampir, gue gak boleh make kekuatan selama seminggu."
"Biar sama gue aja Do, gue temenin."
"Makasih Ris..."
Finally!!
"Aku pulang..."
Tar!!
"Eh kodok!"
"Selamat Datang!"
Destra terkejut karena semua orang mendadak membuat sebuah pesta kecil-kecilan untuk dirinya. Tapi, untuk apa?
"Des, maaf ya belum bilang kedirimu, kami mau memberimu sebuah kejutan." ucap Reo.
"Hah? Untuk apa?" Reo kemudian pergi sebentar dan kembali dengan sebuah tombak dengan sebuah kristal berwarna biru putih ditengah mata tombak tersebut.
"Untukmu, kau selalu menginginkannya kan. Ini baru datang hari ini K mengirimnya dan dititipkan kepadaku." Destra mengambilnya dan melihat tombak tersebut bereaksi dengan kekuatannya. Tombak itu tidak pecah atau rusak atau hancur berkeping-keping, melainkan menyala dan terselimutin aura listrik dengan bentuk segi enam.
"Akhirnya, Setelah sekian lama! Kekuatanku Sempurna sekarang!"
Who The F*ck is he?
"Hmm..."
"Napa Ha?" Tanya Red yang sedang main game di ruangannya.
"Red, gue mau nanya deh..."
"Paan?"
"Hanzo Hasashi itu siapa di MK series?" Red menatap Reha dengan tatapan tidak yakin, karena biasanya Reha kalau sudah mengikuti game pasti sangat diikuti.
"Yakin nggak tau? Apa pura-pura nggak tau?"
"Kalau gue tau ngapain gue nanya?" Balas Reha sewot.
Red kemudian membisikan sesuatu ditelinga Reha dan Reha hanya mangut-mangut.
"Ah masa?"
"Serius, emangnya kau nggak liat story MK X?"
"Nggak, gue liatnya berantemnya doang."
"Hilih Pantes!"
Mysterious Long White Haired Masked Man.
Revan mendapat sebuah pengalaman aneh, ketika itu dia sedang pulang dari supermarket untuk membeli bahan masak. Kemudian, dia mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa hal lain yang kurang (karena dia lihat di toko tersebut harganya lebih murah ketimbang di supermarket.) tapi, Toko tersebut kemudian dimasuki oleh beberapa perampok bersenjata.
Revan yang bersembunyi dibalik rak barang menunggu seorang perampok yang berjalan kearahnya, setelah ada kesempatan dia melumpuhlan perampok yang lengah tersebut dan menyeretnya ke tempat lain. Tapi sayang, kawanan lainnya melihat dia menyeret kawan mereka. Mau tak mau, dia harus melawan.
"Hmph, memangnya gue takut kalaupun kalian bersenjata? Kagak!"
Ya, gimana lagi... Dia terlatih dari kecil untuk bertahan hidup saat ada bahaya. Revan juga bersyukur, Nigou tidak ikut. Kalau ada, Revan pasti akan merelakan apapun untuk keselamatan Nigou.
Revan berhasil menahan perampok tersebut dan memanggil polisi, akan tetapi, dia lengah dan mengakibatkan dirinya tertawan oleh para perampok tersebut.
"Menyerah saja, kau tawanan kami."
'Tch, aku lengah...' umpat Revan.
"Hei kalian... Lepaskan dia."
Seorang pria berambut putih panjang serta bertopeng misterius datang entah darimana.
"Kalian, lepaskan dia, aku hanya memberikan dua kali peringatan..."
Peringatan tersebut tidak dihubris sama sekali.
"Baiklah, kalian yang memintanya..."
Pria misterius tersebut bergerak sangat cepat, dia menyelamatkan Revan dari perampok dan melumpuhkan seluruh perampok dalam hitungan detik saja dengan beberapa lemparan shuriken miliknya. Revan hanya terkesima melihatnya.
Kemudian...
Kawanan perampok tersebut berhasil diringkus polisi dan TKP diamankan.
"Hei, terima kasih tuan-"
"Hayate..."
"Terima kasih tuan Hayate, kalau kau tidak datang mungkin aku sudah ditusuk dengan pisau tadi." ucap Revan.
Pria itu hanya tertawa dan langsung pergi dari tempat tersebut dengan cepat. Revan berpikir untuk menceritakannya ke Nigou dan ketiga idiotnya soal pengalaman ini. Biarpun, Red pasti akan berapi-api ketika mendengarnya.
Disisi lain...
Hayate tiba disebuah gedung dan membuka sebuah pintu ruangan.
"Ah, kau kembali..." seorang pria bersandar di pintu ruangan.
"Bagaimana keadaannya?"
"Ada perampokan, dia menjadi korban, tenang dia selamat. aku menolongnya di waktu yang tepat."
"Baguslah kalau seperti itu, Hayate."
Hayate melepas topengnya dan rambutnya kembali seperti semula, coklat dan pendek dengan kuncir kuda kecil.
"Kau tak memberitahu dirinya kan?"
"Hah, tentu tidak..."
'Hayate' menengok kebelakang dan melihat pria yang bersandar tersebut melipat tangannya.
"Ha... Kau sangat merahasiakan ini ke dirinya, Rone."
"Dia tak tau identitas sampinganku Jin, biarkan biar aku yang melindunginya saat di ruang umum."
"Haha, tentu saudaraku."
Dah, segitu aja..
