Chapter 94 : Disaster Happend.
Batu : *Tepok jidat. Ya ampun, Ukti, mikir lu kejauhan! Suzon bae! w baru ngeh kalau dia itu scorpi pas ngeliat storynya.
Yamagi : Seriously, gue rasa Reha biasa aja bukan kek orang yang bilang "GuE BAnGeT."
Rosy :
Chap sebelumnya :
Eudo : Begitulah si James, Boros demi aku, soal kenapa dibawa ke ayahku. Yap, karena itu masalah sihir, bukan soal kesehatan kalau kesehatan aku bisa konsul ke Silica saja. Btw, nama tengahku itu Elford jadi kalau lengkap Eudo Elford Mayer.
Rone : Tak ada ide buat memberinya nama yang lain, yang terlintas hanya Belrus.
Chap sekarang : Awalnya aku bingung nyari kata yang pas "Real Mare atau Real Nightmare..."
Ryoma : Oi,oi, Naginata selalu menjadi senjata utamaku kapanpun dan dimanapun karena selalu terbawa saat aku pergi.
James : Aku tak mau menjadi penyihir dan segala sesuatu yang berhubungan didalamnya. Aku hanya ingin menjadi seorang manusia biasa, menjadi seorang suami bagi Eudo dan ayah bagi kedua anakku.
Yamagi : totalnya 35 juta. Tu- Tunggu dulu, Aku sudah beberapa kali memakannya dan Reha juga sudah pernah kok.
Hayabusa : *menyeruput porsi mie yang ke sepuluh, aku sebenarnya tidak mau memakannya banyak-banyak tapi, kami entah kenapa malah jadi suka makan mie banyak-banyak setelah kerja keras seharian, lagi pula aku juga nggak akan gemuk ini.
Hayate : Pfft, kalau ada Nigou pasti bakalan jadi John Wick KW si Revan.
Dah.
Intro :
"Eudo, kau yakin mau melakukannya?" James melihat Eudo masih murung dengan keadaannya yang harus duduk di kursi roda sekarang, tapi mau bagaimana lagi, nasibnya sudah tertentukan dia tak bisa menggantinya. Eudo hanya menghela nafas pasrah dan menandatangani surat resign dari pekerjaannya di kepolisian.
"Aku tak punya pilihan lain James, aku tak mau menjadi beban untuk tim. Aku merelakan semuanya dan keputusanku untuk berhenti bekerja sudah bulat."
James berlutut didepan Eudo dan mencium keningnya, "Aku sebagai manusia biasa memang tak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tapi aku akan selalu melindungimu, Eudo."
"Terima kasih James.."
"Ayo, biar aku antar kau ke kantor."
Begitu tiba di kantor, semuanya terkejut dengan keadaan Eudo yang berubah drastis. Padahal, kemarin Eudo masih bisa berjalan dan berlari dengan santainya. Sekarang, dia terduduk di sebuah kursi roda dibantu James yang mendorongnya dari belakang.
Semua teman dan partner Eudo mendadak sedih ketika nendengar keputusan Eudo untuk berhenti berkerja semenjak kelumpuhannya. Eudo kemudian menemui kepala polisi dan menyerahkan surat resign yang telah dia buat.
-Nasi yang terlupakan-
"Huff, Karena aku sudah bisa kembali berjalan karena bantuan Warrend membuatkan sebuah alat bantu berjalan. Kita makan enak hari ini dan aku yang masak!" Seru Eudo sembari membawa banyak plastik berisi belanja kebutuhannya. Tapi, James merasa kurang yakin ketika melihat isi tas belanjanya.
"Eudo, kau kan bukannya membeli bumbu mentah seperti lengkuas, jahe, kunyit, dan serai. Malah membeli bumbu jadi, kalau bumbu halus dari tukang sayur sih ok, emm bermerek.." komentar James yang mengeluarkan banyak bumbu masak jadi, ada untuk nasi goreng, gulai, rendang, soto, sup, dll. Eudo jelas sangat tertohok dengan panah "tidak bisa memasak" yang cukup besar di dadanya.
"–Ahaha, Ya... Aku tak bisa membuat bumbu dari bahan kasar.." Gumam Eudo.
Kemudian...
"Suamiku, Bantuin bikin sambel gorengnya." pinta Eudo yang masih berususan dengan gulai yang dia masak.
"Iya, iya.." James mengecek kuah gulai yang dimasak Eudo dan hasilnya kurang memuaskan dan hambar, "Eudo kuahnya kurang berasa dan ini keenceran, kamu kebanyakan air dari pada santannya."ucap James sambil mencubit kedua pipi Eudo.
"Aduh-aduh– Iya, James."
Mau tak mau, James membantu semua masakan yang Eudo.
Setelah itu...
"Lauk hari sepertinya Enak, Yah..." ucap Frans.
"Iyalah, Ayah yang buat!"
"Lah, Tapi, tadi Della lihat Papa yang mulai masak."
"Papamu nggak bisa masak, orang ujung-ujungnya ayah yang benerin." kata James dan Eudo hanya bisa murung di sebelahnya.
A/N : Kejadiannya mirip dengan kakakku sih, setiap masak kalau nggak diperhatiin ujung-ujung bakalan rada random rasanya atau masak kreasi dengan ujung tidak termakan atau terlalu banyak.
Tambahan, Eudo cuma bisa buat Tumisan, gorengan biasa, roti bakar, Salad, dan Sup.
"Haha, Begitulah, Oh, sebentar aku ambilkan Nasinya dulu." Eudo mengambil sebuah tempat nasi dan sebuah centong nasi. Berharap Nasi sudah matang dan mereka bisa makan bersama, tapi apa daya saat rice cooker dibuka.
"Eh..."
–Lupa dipencet untuk memasak alias.. Belum jadi sama sekali, hanya Beras yang terendam oleh air.
"Eudo–"
"Ehehe.. Kalian bisa tunggu sebentarkan, Tiga puluh menit..."
Krik Krik..
"Jangan bilang Nasinya!!" Seru Della, Frans, dan James bersamaan.
"Belum termasak." balas Eudo pelan.
"Astaga Eudo!!!"
"Maafkan aku!!"
Mau tak mau, mereka menunggu 45 menit untuk memasak nasi yang tidak termasak barusan.
Tentu saja, ini membuat mood James sangatlah jelek bahkan untuk berbicara dengan siapa saja dia hanya akan menggeram.
Too Spicy for you.
Malam Hari yang tidak bersahabat karena hujan turun dengan derasnya...
"Hujan, dingin, enaknya makan yang berkuah nih." ucap Ryoma yang masih terjebak di kedai Yamagi bersama dengan Murad. Oh, Murad sudah boleh pulang karena kondisinya sudah stabil, hanya saja masih perlu pengawasan ketat karena bisa saja lukanya terbuka lagi. "Kau tidak sekolahkan besok?"
"Besok sabtu, jadi sekolah libur." balas Murad.
"Oh iya, aku lupa soal itu."
Kruyuuukk~
"Kau lapar?"
"Yah, makan masakan rumah sakit tidak begitu menyenangkan di perutku, aku lebih gampang lapar walaupun diberi makan banyak." jawab Murad yang memegang perutnya yang berbunyi barusan.
"Hei kalian, ini makan dulu." Yamagi menaruh tiga buah mangkuk mie ramen dengan kuah kari. Namun, ada yang berbeda dari ketiga mangkuk itu, lama kelamaan, warna kuah dan toppingnya menjadi merah (punya Ryoma).
"Oh, punya Ryoma itu yang pedas. Murad aku memberikanmu yang tidak pedas sama sekali karena kau baru keluar dari rumah sakit." jelas Yamagi.
Sebenarnya sih, sudah terlihat dari topping yang sangat berbeda antara milik Murad dengan Ryoma. Milik Ryoma sayap ayam pedas, potongan cabai, cabai bubuk, pokoknya kalau dilihat dapat membuat mata perih, sementara itu punya Murad hanya sebatas Tempura, Nori, Telur Rebus, dan Sayuran.
"Apakah aku bisa mencoba punya Ryoma?"
"Jangan, itu tidak akan cocok untukmu Mu-."
"Ini.. coba dulu." Ryoma menyodorkan sesendok kuah dari mangkuknya ke Murad.
"Ah, baiklah."
"Murad Ja-"
"Huaaah! Terlalu Pedas!"
Tempat terpanas?
Hanya ada satu tempat terpanas, mengalahkan panasnya matahari disiang hari, bahkan gurun yang gersang sekalipun.
Yaitu...
"Yuk, berangkat lagi." Lectro baru mau duduk di jok motornya tapi, malah sebuah kejadian yang tidak enak yang terjadi.
"Astaga, panas banget!"
Lho, kok beda?
"Frost, lu bisa bikin Nasi kepal gak?" tabya Pyro.
"Woalah, itu mah kecil."
Frost dan Pyro langsung pergi ke dapur dan mengambil bahan-bahan yang diperlukan.
"Pertama, ambil nasi secukupnya, trus tambahkan isian terserah mau apa." kata Frost.
"Kemudian, ambil nasi lagi buat menutup bagian lainnya, lalu bentuk menjadi segitiga dan jadi lah."
Jeng Jeng!
"Es krim Sundae vanila dengan stroberi."
"LHO, KOK JADI ES KRIM SIH!!!" bentak Pyro.
Tounge Twister
"Papa, bisa bantu ucapkan bahasa inggris ini nggak?"
"Hmm.. Memangnya apa Nigou?"
"Three witch watch a werch watch, witch witch watch the werch watch first? Puah, susah mengatakannya."
Revan hanya bengong mendengar apa yang diucapkan Nigou barusan.
'Astaga, siapa yang ngajarin anak ini Tounge Twister...'
pelakunya...
"Oi sebutkan namamu secara lengkap!" Red menunjuk kearah aka.
Tantangan : Ucapkan dengan cepat!
"Jugemu Jugemu gokou no surikire kaijiri suigyou no suigyou matsu unraimatsu furaimatsu ku neru tokoro sumu ni tokoro yaburakouji no burakouji paipo paipo paipo no shuuringan shuuringan no guurindai guurindai no ponpokopi no ponpokona no choukyuumei chousuke, Itu namaku.." jawab Aka.
"kebetulan namaku juga, Jugemu Jugemu gokou no surikire kaijiri suigyou no suigyou matsu unraimatsu furaimatsu ku neru tokoro sumu ni tokoro yaburakouji no burakouji paipo paipo paipo no shuuringan shuuringan no guurindai guurindai no ponpokopi no ponpokona no choukyuumei chousuke." balas Red.
"hai kalian berdua, Jugemu Jugemu gokou no surikire kaijiri suigyou no suigyou matsu unraimatsu furaimatsu ku neru tokoro sumu ni tokoro yaburakouji no burakouji paipo paipo paipo no shuuringan shuuringan no guurindai guurindai no ponpokopi no ponpokona no choukyuumei chousuke dan Jugemu Jugemu gokou no surikire kaijiri suigyou no suigyou matsu unraimatsu furaimatsu ku neru tokoro sumu ni tokoro yaburakouji no burakouji paipo paipo pai- aw, aku menggigit lidahku!" Rone menutupi mulutnya yang kesakitan.
"dasar kau ini ya Jugemu Jugemu gokou no surikire kaijiri suigyou no suigyou matsu unraimatsu furaimatsu ku neru tokoro sumu ni tokoro yaburakouji no burakouji paipo paipo paipo no shuuringan shuuringan no guurindai guurindai no ponpokopi no ponpokona no choukyuumei chousuke."
The best choose for you, son.
Kali ini Rone yang berbelanja dengan Nigou, karena kejadian belanja dengan Revan malah membuat Nigou ngambek seharian karena nggak dibeliin makanan manis.
"Nigou, kamu jagain trolinya sebentar ya, ayah mau beli daging dulu."
"Nigou boleh ambil cemilankan yah?"
"Jangan banyak-banyak ya."
"Iya.."
Beberapa menit kemudian...
"Daging udah, sayur udah, sekarang tinggal bayar de- Astaga anak ini." Nigou menunggu di troli bersama dengan isi troli yang sampai sepermpatnya adalah camilan semua. "Nigou, ayah bilang apa barusan."
"Jangan banyak-banyak."
"Itu kebanyakan! Taruh lagi!" Rone gentu melihat ekspresi muka Nigou yang mulai ngambek karena camilan yang dia ambil harus dikembalilan, setelah beberapa menit troli mulai kosong lagi hanya tersisa beberapa makanan kecil dan bahan-bahan makanan lainnya. Rone masih menunggu Nigou yang mengembalikan makanan yang berlebihan, ketika dia kembali Nigou membawa sebuah kotak sereal ukuran besar.
"Ayah.. Boleh Nggak-"
"Yaudah, taruh sini, itu milikmu ok."
"Terima kasih ayah."
Di perjalanan pulang...
"Ayah, kenapa tadi Nigou ambil sereal boleh tapi kalai camilan nggak?"
"Begini Nigou, ayah kan sering buatin kamu makan-makan camilan. Masa kamu ngambil camilan banyak-banyak, kan ayah jadinya nggak enak dong. Kamu mau ayah nggak buatin Shiba-Mello lagi karena camilan kamu sebanyak itu?"
Shiba-Mello : Marshmellow dengan bentuk kepala shiba inu.
"Enggak yah, Nigou masih mau Shiba-Mello buatan ayah. Lucu sama enak soalnya."
"Nah begitu baru anak kesayangan ayah sama papa."
Bad day for the gangs
"Hai."
"Hai..." Butterfly hanya membalas sapa Tulen dengan nada datar.
'Ah, datar seperti biasa...' gumam Tulen yang mendengar sapaan butterfly. Pagi ini banyak sekali genangan air bekas hujan deras semalam, juga udaranya sangat sejuk ketimbang hari-hari biasa. Bis mereka berdua akhirnya datang, namun nasib mujur sepertinya sedang tidak berpihak karena bis itu menyipratkan air dari kubangan tepat mengenai butterfly sampai badannya basah semua.
"Ka- Kau tidak apa-apa?" tanya Tulen yang sweatdrop melihat kejadian tersebut.
"Kau bisa melihatnya kan..."
Di sekolah...
"Tumben kau naik bis, biasanya jalan dan lebih siang datangnya." kata Tulen. Kebetulan saat naik bis tadi mereka berdua bertemu dengan Murad. Sebenarnya, baru kali ini mereka berdua melihat Murad naik bis ke sekolah karena biasanya dia jalan. Soal lebih siang, Murad adalah murid yang terkenal dengan cap terlambat datang.
"Aku tidur ditempat Ryoma, makanya lebih pagi... Huaah.." balas Murad disusul dengan menguap.
"Bisa ya dia bikin kau bangun lebih pagi." ucap butterfly.
"Sebenarnya yah..."
Flashback..
"Murad, bangun manju kecilku, waktunya sekolah."
"Lima menit lagi~"
"Oke..." Tapi, bukan yang seperti dipikirkan. Ryoma menarik nafas kemudian, memegang ujung futon milik Murad dan..
SYUUNG!!
GEDUBRAGGG!!
"TIDAK ADA LIMA MENIT LAGI! BANGUN SEKARANG MURAD IBN' AL-FATIH! SARAPAN SUDAH SIAP!!"
Ryoma melempar futon berisi Murd tersebut keudara dengan sekuat tenaga sampai Murad terlempar dan menabrak pintu kamar sampai benjol.
Flashback end..
"Pantas kepalamu benjol..." ucap Butterfly sembari memegang sebuah benjolan dikepala bagian samping Murad.
"Sakit."
"Maaf.."
Begitu sampai di depan sekolah mereka disambut dengan segerombolan murid-murid dan juga dua buah plang besar dengan foto Murad tak sengaja mencium Tulen. 'Astaga, itukan...' tentu saja sang korban foto tersebut syok karena itu foto kejadian memalukan yang terjadi dua hari yang lalu.
"Murad! Apa benar kau memiliki hubungan dengan Tulen?" tanya seorang siswi yang menyerobot kerumunan murid sekolah tersebut.
"Tu- Tunggu dulu! Kalian salah paham!" potong Tulen.
Murad malah menanggapinya dengan candaan dan tidak serius sama sekali, "Tentu dong, masa nggak ada." ucap Murad dengan gaya (sok) imut.
"Jangan gali lubang masalah lebih dalan lagi ei!" sanggah Tulen.
"Hei, Kalian berdua, memangnya berita ini benar?" Yorn datang dengan nafas terengah-engah setelah menembus kerumunan siswa yang ada dengan membawa sebuah koran sekolah dengan top artikel
'Murad dan Tulen Berciuman di Sekolah.'
"Tentu saja tidak benar, Senpai. Dan juga kenapa bisa kau bertahan diantara kerumunan manusia itu juga kau tau sendiri itu didominasi sama perempuan.." balas Murad yang melihat Yorn sangat gemetaran.
"Ya ma- makanya itu- aku langsung ce- cepat- cepat ke- kesini!" ucap Yorn yang kakinya mulai memble.
"Tentu saja berita itu tidak benar, karena itu sebuah kecelakaan!" seru Tulen.
"Hei kalian! Sedang apa berkumpul disini? pergi ke kelas sekarang! Waktu pelajaran pertama sudah mulai!"
"Hyaaaa! Pak Zuka!" jerit para Murid meninggalkan keempat orang yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Tenang, aku mendukung hubungan kalian." ucap Zuka dan kemudian pergi begitu saja.
"Pak. Itu. Hanya. Sebuah. Kecelakaan!"
Memangnya apa yang terjadi sih?
Begini...
Flashback dua hari yang lalu...
Pintu gerbang sudah mulai ditutup oleh Tulen dan murid-murid sudah ridak ada yang datang lagi. Kecuali, satu orang yang sedang menyusup lewat tembok samping pagar, mau tak mau dia keluar gerbang dan melabrak murid tersebut yang tidak lain adalah..
"Oi! Murad! Hentikan itu! Kau sudah terlambat!" seru Tulen yang melihat Murad sedang memanjat tembok sekolah. Murad bukannya turun malah memasang muka mengejek dan meneruskan aksinya sampai ke atas tembok pagar tersebut. "Hentikan itu!"
Note : Tulen itu petugas kedisiplinan sekolah.
"Thorn of Time!" Murad teleport kebagian dalam sekolah.
"Hei! Dilarang menggunakan sihir di sekolah! ah sialan, Thunder Step!" Tulen ikut menggunakan sihirnya untuk mengejar Murad yang sedang berlari di depannya.
"Kau tak bisa mengalahkan kecepatan petir, menyerahlah- Eh!" Ketika Tulen mau menangkap Murad, Murad kembali teleport ke atas tembok pagar dan memasang muka mengejek.
"Sialan kau, Thunder step!"
Sayang timingnya sangat tidak pas ketika Murad dan Tulen mendarat ditempat yang sama dan menyebabkan bibir mereka menyatu.
Klik..
"Hehe, berita bagus nih. Makasih ya!"
"Natalya tunggu!".
Flashback end..
Jam makan siang...
"Ahahaha... Berita yang menarik."
"Vio, hentikan itu.. mengganggu tau." keluh Tulen.
"Kenapa? berita itu lucu loh, Semua orang hampir percaya kalau kamu pacaran sama Murad loh." balas Krixi dengan sebuah roti isi ditanganya.
"Udah pada percaya loh, sampai pak Zuka aja ngira Tulen itu pacaran sama Murad." kata Natalya selaku biang kerok berita di koran sekolah tersebut.
"Oalah, berita yang kau tulis itu selalu hebat dalam mempengaruhi banyak orang." komentar Airi.
"Wess, iya dong mba, siapa lagi kalau bukan Natalya si Ratu Jurnalis sekolah."
"Padahal kita berlima juga tau.. kalau Murad udah diembat sama tuan Ryoma." kata Butterfly. "Maksudku, cuman kita berlima disekolah ini tau siapa pacar Murad sebenarnya."
"Iya, Iya." Krixi bermaksud mengigit sandwich miliknya lagi, tapi kemudian ketika digigit isi sandwich tersebut keluar dari sisi yang sandwich yang lain. "Duh, untung nggak ke rok."
"Fufu, beruntung kau- ah, Pedas!"
Gulu-gulu?
"Eh, Eh, Search Engine, yang biasa dipake orang buat nyari sesuatu di internet itu apa deh?" tanya Ney.
"Ah, masa sih kamu nggak tau Ney." ucap Flore.
"Aku lupa hehe."
"Aku sih pake bing." jawab Nigou.
"Aku pake Yahoo!"
"Jadul amat sih, Della."
"Ah, iya aku inget kan aku pake Gulu-gulu!"
Krik! Krik!
"Gulu-gulu!? Gulu-gulu!?" Sontak Keempat murid yang mendengar ucapan Ney tersebut langsung facepalm dan kebingungan tujuh ratus dua puluh derajat.
"Ney, ehm..." Frans mencoba meralat perkata Ney, "Tulisannya itu, G-O-O-G-L-E, dibaca Gugel bukan Gulu-gulu."
"Lah, gugel toh bukan gulu-gulu."
"Bukan lah atuh Neyy!" balas Della.
"Siapa sih yang ngajarin kamu nyebutnya gulu-gulu?" Tanya keempat murid yang udah geregetan sampai Frans dengan nekatnya menyetel Lagu-lagu Reliji (karena sekarang lagi spesial ramadan :v) untuk menenangkan keadaan.
"Kakakku, Zen."
"Insyaflah waahai manusiaaaaa, jika dirimu berdosa..." Alhasil, keempat bocah itu langsung menyanyi lagu religi yaang diputar Frans karena tinglat geregetan mereka sudah mencapai level maksimum.
Kakak sama adek sama aja...
That Ice Cream...
"Es krimnya sih enak, tapi bentuknya itu loh."
"Yaelah es krim doang, tinggal makan aja."
"Iya sih, yaudah mari makan."
Sret..
"Lho, Lho, Belrus! Mau kemana? Kok malah lari?" Revan dan Thundy kebingungan ketika melihat Belrus pergi secepat yang dia bisa, sebenarnya dia karena ketakutan melihat es krim berbentuk anjing dipotong didepannya.
Meet the Master..
Dibalik posisinya sebagai tertua diantara ketiga orang lainnya, Rone menyimpan rasa iri ke kedua saudaranya itu. Red dengan seni bela dirinya yang hebat dan Aka dengan keahlian seni berpedangnya yang indah. Sementara dirinya, hanya menggunakan senjata laras panjang dan selalu berada dipaling belakang ketika bertarung. Ingin rasanya dia maju ke posisi barisan depan, namun sesuai spesialisasinya dalam menembak dan membuat lawan lumpuh.
'Aku ingin seperti mereka, tapi kakek tak bisa melatihku, dan selalu bilang suatu hari aku akan menemukan orang yang sesuai... Sial!' Rone menjadi badmood memikirkan hal tersebut dan melempar pisau yang dia pegang ke tembok. Tapi, seseorang menangkap pisau tersebut sebelum menancap ke tembok dan melemparnya balik kearah Rone. Tentu, Rone merasa terkejut dan refleks menangkap kembali pisau yang melayang kearahnya.
"Hei! Tunjukan dirimu!"
"Refleks yang bagus anak muda, baru kali ini ada yang bisa memiliki refleks seperti itu." Seorang pria berambut maroon panjang dan mengenakan syal berwarna ungu keluar dari bayang-bayang ruangan tempat Rone latihan.
"Siapa kau?"
"Kazushi Muramasa, Kakekmu tak salah mengirinkan informasi soal dirimu ternyata."
"Kakek.. Mengirim dirimu?"
"Hah, Tentu saja, Tuan Harada tak pernah berbohong ke diriku selama ini, aku datang untuk melatih dirimu, Hayate."
"Tch, pria tua itu.."
"Tenanglah Hayate, akan ku latih dirimu sampai kau menjadi cepat bagaikan angin dan lembut bagaikan bulu."
God Dammit you...
"YAMAGI, REHA KEPICUT SAMA HANZO HASASHI!!" Teriak Hibatur dengan toa di depan markas, spontan semuanya menghadap ke ketua squad yang sedang makan.
"Reha/Ketua?"
"Ya ampun tuh orang.. Gue hanya nanya, bukan kepicut beneran sama Hasashi." keluh Reha dan melempar makannya ke tengah meja.
"–bikin bad mood!"
"KENAPA NGGAK SEKALIAN SAMA KUAI LIANG!?"
"Reha..."
Reha hanya diam dan membentuk sebuah pesawat dari kertas yang baru saja dia tulis. Kemudian, menerbangkannya keluar. Pewasat itu mendarat tepat di dahi hibatur dan orangnya langsung membacanya.
Lakukan lagi maka gue akan suruh Hayate buat melemparkan shurikennya ke lu.
"Hayate siapa?"
sementara itu Reha...
"Rone..."
Reha hanya membuat sebuah kode dari gerakan tangannya untuk Rone. Rone mengerti maksudnya dan meng-iyakan kemauan Reha.
End.
A/N : Gue gak kepicut sama Hanzo Hasashi ok, emang kalau dilihat wah gitu menirut w, ya tapi gak gitu juga kali!
