Chapter 95 : That Rainbow Necklace is back!

Rosy : Oh, Baiklah aku mengerti.

yang sebelumnya :

James : *sigh Mau tak mau ya harus dilakukan...

Yamagi : *Eat the 10 portion of bento Well, biasanya aku beli di minimarket yang ada cafenya.

Hayabusa : *Finish his 10 large bowl of ramen. Nafsuu makan kami bertiga akan melunjak begitu keras ketika kami kelelahan atau stress berat... Ah, Kenyang. *minum teh.

sekarang :

Warrend : Hanya sebuah tongkat yang aku pasang di kakinya, kemudian alat itu akan merangsang syarafnya agar bekerja kembali. Tapi, dia tidak bisa lari atau kelelahan atau banyak bergerak, kalau iya, alat itu akan mati secara otomatis.

Lectro : No, Apa sih yang lebih panas ketimbang jok motor yang di jemur di tengah hari.

Tulen : Gak, sekolah ini hanya diisi murid dengan keliaran yang tinggi. tapi, otaknya bagus.

Natalya : Sihir punyaku sulit dijelaskan, kalau dibilang termasuk dark magic iya, dibilang summoning magic iya, Non-elemental magic iya.

Murad : Gak! Aku cuma sama Ryoma titik!

Tulen : Siapa juga yang mau sama lu!

Dah..

Intro:

Eudo kembali ke rumah James dengan tatapan lesu. Pasalnya, ini sudah hari ketujuh dia belum pulang ke rumah James karena mereka sedang bertengkar. Memang dia kembali selain keinginan dirinya, juga paksaan dari ayahnya yang terus-menerus memaksanya kembali ke rumah James dan sekarang saat dia tiba, seluruh lampu telah dimatikan, tanda kalau seluruh penghuni sudah terlelap dan pintu depan sudah terkunci. Yap, dia datang saat larut malam, untung dia masih membawa kunci cadangan apabila kunci utama hilang.

Dia masuk ke ruang tengah dan suasan sudah sepi, padahal biasanya ada James yang masih terbangun sembari menonton TV (Biasanya berujung ketiduran dengan TV menyala dan menyebabkan tagihan listrik naik.). Dia naik ke lantai atas (butuh perjuangan karena alat bantunya mulai kehabisan daya.) dan melihat kalau pintu kamarnya terbuka sedikit. Eudo mendengar suara isak kecil dari dalam dan menemukan James berbalut selimut yang menjadi sumber suara tersebut. Eudo mendekati James dan duduk dibelakang pemuda tersebut, kemudian mengelus kepalanya.

"Kau- Kembali.."

"Iya, Maaf-"

"Jangan tinggalkan aku lagi..."

"Iya, Maafkan aku James."

Balik ke Story..

Ingat kalung permata pelangi yang sempat membuat heboh karena memecah Teiron menjadi banyak dengan sikap-sikap yang berbeda pula?

Sepertinya masalah sudah selesai, tapi tidak...

"Uwah, Kenapa ini!?"

Sebuah Sinar terang yang dapat mengganggu pengelihatan terpancar ketika Murad memakai sebuah kalung yang ditemukan Tulen. Ketika sinar tersebut hilang, mendadak suasana menjadi ramai karena Murad menjadi enam orang.

"Hah, Apa yang terjadi!?" Murad yang berpenampilan seperti Cyborg dengan kalung kristal berwarna aquamarine, agak kebingungan, "Kalian penyebabnya hah!?" Bisa diketahui sikapnya sangat dingin. (Rambutnya putih kemudian, paling panjang dan diikat.)

"Su- sudah, jangan marah-marah. Ki- kita tidak boleh be- bertengkar oke." Murad yabg berpakaian layaknya seorang koboi dengan kalung berwarna kuning dengan gugupnya dia berbicara.

"Hoamm, aku bosan, ayo kita main sesuatu!" Murad yang mengenakan Jersey dan berkalung Oranye. "Aku sedang bersemangat sekarang!"

"Tempat apa ini? Sekolah rakyat biasa?" Murad dengan penampilan seorang Ksatria berambut biru berkalung batu biru tua, bicara dengan angkuhnya.

"Haus... Berikan aku minum, aku tak kuat melihat fatamorgana lagi." Murad dengan yah, penampilan sehari-harinya dengan kalung batu merah.

"Emm.. Apa yang terjadi barusan?" tanya Butterfly yang kebingungan melihat kejadian yang terjadi.

"Aku tak tau, aku hanya memberikan kalung tersebut ke Murad dan mendadak semua- maksudku Mereka semua muncul." kata Tulen yang juga kebingungan.

"Anu, kau mendapatkan Kalung itu darimana memangnya, Tulen?" Murad yang berpakaian seperti pengembara gurun mendadak muncul diantara para siswa yang kebingungan. Kalau dilihat, dia menggunakan kalung berwarna hijau.

"Hmmm...'

Flashback...Tulen sedang berjalan-jalan membawa titipan makanan temannya. Ketika dia mau berbelok tak sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria berambut merah berkacamata bulat.

"Ma- Maaf!"

"Tak apa..."

Pria itu berdiri lagi dan langsung lari kembali dengan kantung berisi coklat dan sebuah coklat batangan di mulutnya. Ketika Tulen mau berjalan lagi, mendadak dia bertemu dehgan pria yang sama.

"Mas! Lihat cowo yang mirip saya nggak!?"

"Dia lari kesana.."

"Ok, makasih, Oi! Balikin coklat gue!"

'Mereka kembar?' Tulen melihat ke bawah dan menemukan sebuah kalung batu permata dengan enam warna yangbberbeda-beda. Cukup bagus dan unik, tunggu sepertinya ini terjatuh dari pria tadi. Tulen tidak mengidahkan hal tersebut dan menyimpan kalung tersebut di saku celananya.

Flashback end..

"Tulen, keknya kalung itu deh yang jadi penyebabnya!" Krixi menjitak kepala Tulen karena telah melakukan kesalahan besar. "Sekarang yang jadi problema kita, itu satu... Muradnya Teleport kemana semua!!! Sisa satu!"

"Itu karena ini diriku yang asli, yang biasa jadi teman kalian!" bantah Murad berkalung hijau.

"Oalah, baguslah kalau begitu."

"Ya, Hooaam.. Aku ngantuk, tidur sebentar ya." Murad berkalung hijau langsung tertidur dengan posisi berdiri tanpa sebuah aba-aba dan dia langsung terlelap.

'Kau mewakili sikap Murad yang gampang tertidur dimana saja ya...' gumam semuanya bersamaan.

"Sekarang kita harus mencari sisanya, tapi kalau kita berlima saja.. pasti susah."

"kita perly bantuan.. Dan aku tau siapa yang bisa membantu kita." berdecik sembari Natalya memasang muka "Jenius"-nya. Yang lain saling berpandangan, menginat banyak ide Natalya terbilang "Gila" dibandingkan ide-ide normal daripada ide murid yang lain.

Lalu...

"Kau yakin ini ide yang bagus?" ucap Ryoma Ada yang berpakaian seperti koboi, ada yang memakai pakaian lamanya, ada yang memakai penutup mata.

"Iya, kalian pasti bisa menarik Murad untuk bagian kalian masing-masing tenang saja." Ucap Natalya, sementara yang lain hanya sweatdrop melihat ide "gila" tersebut. "Biarpun kalian hanya berempat, pasti kalian sangat menarik perhatian."

"Baiklah, ayo berpencar." Mereka semua berpencar mencari Murad bagian masing-masing.

"Kau yakin ini akan cepat berhasil?" tanya Yamagi.

"Iya, Mereka saling terikat, juga.. aku juga meminta Tuan Ricther untuk membantu."

"Oh, bagusla- tunggu.." sebuah aura yang mengerikan muncul dibelakang mereka. bukan manusia, tapi iblis. iya, iblis.

"Hmph, aku terlambat muncul sepertinya."

"–Kau!"

Taking a nap.

"Hmmh.. Ryoma?"

"Shhsst.. Maaf membangunkanmu Murad." Ryoma mengusap kepala Murad yang bertumpu di pahanya.

"Tidak apa-apa.. Ah, kita harus mencari bagian diriku yang lain." Murad kemudian bangun dari posisinya tapi Ryoma menahannya agar tidak bangun.

"Sudah biarkan, yang lain sedang mencarinya juga. Banyak kok yang mencari."

"Hmmm.. Baiklah."

"Kembalilah tidur, aku tau kau masih mengantuk, akanku temani."

"Hmmh.. Terima kasih."

Westren and Westren.

"Oh, ha- hai Ryoma." Murad mengintip keluar dari persembunyiannya di sebuah gentong kayu.

"Apa yang kau lakukan disitu, keluar." Ryoma menarik keluar Murad dan menggendongnya bridal style. Wajah Murad makin memerah ketika melihat posisi mereka. Masalahnya bukan karena dirinya malu digendong, tapi tempatnya dikeluarkanya itu.

–Mereka ada di sebuah restoran bertema koboi.

"Tak apa, Hei, Kami berdua pesan daging panggang-mu yang paling besar!"

"eHemm.. Halo! Jangan lupakan aku disini!" Krixi mencolek punggung Ryoma.

"Ah iya maaf, Tiga sekalian!"

O Kawaii Koto...

"Hai Murad, kau sepertinya kehausan." Ryoma melihat Murad dengab kalung berwarna merah sedang melihat ke sebuah lemari pendingin di sebuah minimarket.

"Yah.. Oh, aku sangat haus dan aku lupa membawa dompetku." keluh Murad.

"Ambil sesukamu, aku yang akan membayarnya." Ryoma merangkul Murd dan menunjukan dompetnya.

"Wah, terima kasih, Ryoma."

Kemudian...

Air mengucur dari mulut Murad. Mukanya terasa panas, matanya tidak fokus. Ryoma disisi lain memasang wajah liciknya, "Kau mau minum lagi? Air putih? apa Yogurt?"

"Air, berikan aku air."

"Pilihan yang bagus." Ryoma membuka tutup botol susu, kemudian dia menarik rambut Murad agar kepalanya memghadap kearahnya. "Minum."

Murad mencoba menahan tubuhnya dengan berpegangan ke kedua paha Ryoma. Susu tersebut mengalir melewati tenggorokannya, ada juga yang berlebih sehingga keluar melewati sisi bibirnya. Ryoma mencabut botol itu dari mulut Murad, sebuah benang saliva terbentuk ketika botol tersebut dilepaskan.

"Lagi, Aku mau lagi."

"Oh, Anak pintar, meminta dengan hati."

Tulen sementara itu bersembunyi dibalik tembok yang memisahkan mereka bertiga. Dia menahan hidungnya yang mulai mimisan karena mendengar aktifitas kedua pria tersebut.

Let's Play together, i'm bored...

Thane menemukan Murad berkalung Oranye disebuah tanah lapang. Dia sendirian dan sedang menjuggle bola yang dia bawa. Tapi, entah kenapa dia tidak terlihat senang sama sekali, lebih kearah sedih. "Tuan Murad, kau terlihat sedih, ada apa?"

"Ah, Thane.. Aku tak ada teman main sama sekali dan aku bosan."

"Mau ku temani bermain, tak usah lama-lama." pinta Thane karena kasihan melihat Murad dengan kalung oranye itu.

"Benarkah? Asik!"

"Aku akan menjadi kiper, silahkan mencoba untuk menjebol gawang itu. Itu kalau kau bisa." Tantang Thane sembari mengenakan sarung tangannya kemudian ia melepas Jas juga jaket panjangnya.

"Menarik, akan aku terima tantangan itu!"

Tea and the Royality

"Ku akui, Teh disini enak." Ucap Murad yang berkalung biru ketika menikmati sebuah kue dan segelas teh hangat pemberian Ricther.

"Karena itu teh hitam terbaik dengan kualitas terbagus di Horizon Valley, kau akan kesusahan menemukannya jika dibagian dunia lain." Ricther menyisip teh hangat itu kemudian menaruhnya kembali.

"Yah, dikerajaanku dulu, kami tak pernah menemukan teh seenak ini. Hanya teh melati biasa."

"Tapi juga..." Ricther mulai mengeganti topik pembicaraan mereka berdua. "Kau tidak boleh menganggap remeh apa-pun itu."

"Apa maksudmu?"

"Aku selalu mendengar nada ucapanmu sangat tidak menyukai hal-hal yang bukan dengan nilai tinggi, Pangeran."

"Aku tak mengerti."

"Keangkuhan menyebabkan kebencian, kebencian menyebabkan kejatuhan, kejatuhan menyebabkan keruntuhan, kau harus belajar menerima dari hal bernilai kecil sekalipun agar tidak menyebabkan keruntuhan didalam dirimu, pangeran."

Brak!

"Jadi, Kau menyeretku kesini hanya untuk ceramah?"

"Aku tak akan ceramah jika tidak melihat sikapmu yang sangat angkuh."

"Aku akan- Hah?" Ricther segera menangkap tubuh Murad berkalung biru tersebut dan membopongnya pergi.

"Rencanaku berhasil, maaf Murad, teh barusan ku campurkan dengan obat tidur."

The Last One!

"Satu, Dua, Tiga... Kurang satu!" Ucap Natalya ketika melihat Murad-murad sudah mulai dikumpulkan. Tapi, ya ekspresi Murad itu sangat berbeda, ada yang tertidur pulas, ada yang bahagia, ada yang seperti kehilangan akalnya, ada yang sangat malu. Kurang satu, yaitu si Aquamarine. Kemana dia? Semua sudah mencarinya begitu lama tapi, tak kunjung bertemu.

"Hah, Bodoh. Mencari diriku saja tidak bisa." Si Aquamarine sedang bersender di dahan sebuah pohon yang tinggi sembari mencoba tertidur disana.

"Apa yang kau lakukan diatas sana! Turun!" Perintah Tulen.

"Memangnya kau siapaku, beraninya memerintah diriku!" balas Aquamarine. "Kalian mau aku kembali, kalian harus menangkapku dulu!"

"Kau–"

Terjadi kejar-kejaran yang cukup lama dalam menangkap si Aquamarine yang sangat lincah (dan dia juga sering betengger diatas pohon ketimbang lari di tanah.) sampai semuanya kelelahan menangkapnya.

"Hah, Lemah!" Ejek Aquamarine.

'Kita harus mencari cara untuk menangkapnya.'

Disisi lain..

"Lihat Tangan ayah kosongkan?" Rone menunjukan tangannya yang hampa dan menunjukan isi lengan bajunya yang juga kosong ke para anak-anak. "Nah, Sekarang lihat baik-baik."

Rone mengibas tangannya kemudian sebuah shuriken muncul diantara selipan jarinya. Dia mengibaskan tangannya lagi dan shuriken tersebut hilang dari tangannya.

"Woah, Hebat Yah/Paman Rone!" ucap para anak-anak yang kagum.

"Ada triknya kah?" tanya Frans.

"Tidak, hanya sebuah kecepatan tingkat tinggi yang diperlukan." Rone memunculkan sebuah shuriken lagi ditangannya kemudian melemparkan shuriken tersebut ke sebuah pohon.

Kembali ke Aquamarine...

"Cobalah tangkap ak- Wooooahhhh!!" Dahan tempat aquamarine patah akibat sebuah shuriken milik Rone yang menancap mengurangi daya tahan dahan tersebut.

"Kesempatan! Tangkap di- Hah!?" Semuanya berhenti ketika Murad ditangkap oleh seorang yang misterius.

"Sikapmu harus diubah.. Cahayaku, jangan meremehkan orang lain." Murad membuka matanya, dia selamat dari kejatuhan setelah ditangkap oleh seseorang.

–Seorang Iblis..

Murad terkejut melihatnya, dia diselamatkan oleh iblis.

–Tak Mungkin!

Mereka mendarat dengan selamat di tanah, tapi aquamarine belum mau melepaskan genggamannya.

"Kembalilah ke tubuhmu.. bersatulah kembali, nanti kita akan bertemu kembali suatu hari." ucap sang iblis. Aquamarine mengangguk dan kembali berkumpul dengan para Murad lainnya.

Bagian dari kalung tersebut sudah lengkap sebuah cahaya terang kembali muncul diantara mereka semua. Mereka yang melihat langsung memalingkan muka mereka karena cahaya yang membutakan itu. Perlahan cahaya tersebut menghilang dan wujud Murad yang seperti mulai terlihat kembali hanya saja rambutnya menjadi coklat bukan putih.

Ryoma juga bersatu kembali, termasuk sang iblis ketika menyentuh pundak Ryoma dia ikut menghilang; bersatu dengan Ryoma di tubuhnya. Ryoma yang menyadari hal tersebut mencoba bersikap biasa tetapi hatinya terbentuk rasa ketakutan yang berlebih akibat melihat iblis tersebut bersatu dengannya. Ia mengingat kembali mimpinya yang dulu ketika ia hampir terbunuh oleh iblis yang sama persis.

'Kau adalah aku dan aku adalah kau.'

–Kata itu terus teringang di kepalanya sekarang.

Malamnya...

Ryoma mendatangi Yamagi yang sedang mengelap tubuh 'Onimaru' di kamarnya. Merasa gugup untuk bercerita tentang iblis tersebut, tapi dia harus melakukannya, ia perlu sebuah kepastian,

"Guru, boleh aku bertanya..."

"Ya, Ryoma ada apa?"

Ryoma menghela nafas, ia harus melakukannya, "Benarkah, Aku ini.. punya sebuah sisi iblis..." Tanya Ryoma.

Yamagi berhenti mengelap Onimaru dan memasukan sang pedang ke tempat istirahatnya kembali, ia menarik nafas panjang karena apa yang dia prediksi benar terjadi sekarang, tanpa berbalik ia menjawab pertanyaan murid terbaiknya tersebut, "Ya, Ryoma kau punya."

"Jadi, apakah... Tidak- Mimpi itu kenyataan.."

"Mimpi?"

"Tidak... Maaf... Aku menerimanya walaupun dia bagian dariku." ucap Ryoma.

"Tak apa Ryoma, Harusnya aku jujur lebih awal soal iblis yang bernaung di tubuhmu." balas Yamagi dengan senyuman diwajahnya, walau hatinya sangat terluka karena dia tidak bisa jujur ke Ryoma sejak awal.

'–Ini salahku...' gumam Yamagi.

Ryoma tidak bilang apa-apa setelah itu, ia hanya berbalik dan menutup pintu sembari berbisik 'selamat malam'. Yamagi melihat bagaimana sikap muridnya setelah mendengar ucapannya tadi, ia merasa sangat bersalah, merasa dirinya adalah guru yang gagal, padahal Ryoma sangat mengharapkan dirinya kembali menjadi guru terbaik tetapi sekarang Yamagi merasa sangat gagal menjadi guru yang dibanggakan Ryoma. Sebuah bulir air mata turun melewati pipinya, rasa kegagalan dan pengecewaan yang hebat terus menusuk hati Yamagi.

"Maafkan aku Ryoma.. Aku guru yang buruk untukmu." bisik Yamagi.

Disisi balik pintu kamar Yamagi, Ryoma menangisi sikapnya yang tidak bisa jujur ke sang guru. Baginya dia hanya menjadi beban sekarang bagi seorang yang paling berharga dalam hidupnya. "Maafkan aku guru, aku murid yang membebani dirimu."

Bonus :

Family Bodyguard

"Eh, Tungguin jangan lari-lari napa!" keluh Daren yang mengejar Saphhire yang sedang membawa sebuah kue. Sapphire tidak mendengarkan Daren dan masih bergerak terburu-buru meninggalkan markas mereka, ketika dia membuka pintu gerbang dia tidak melihat kanan-kiri langsung membukanya. Akibatnya ketika dia berbelok dia menabrak orang dan kuenya mengenai baju, jas, celana, dan sepatu sang korban.

"Aduh- Maaf Pa- Pak.. Hiii!!" Sapphire mendadak kabur dan berlindung dibelakang Daren yang masih berjalan kearahnya.

"Lu napa?" Tanya Daren bingung, saphhire menunjuk seorang pria didepan gerbang dengan pakaian berlumuran krim kue yang dia bawa. "Duh, Mampus."

Daren sih bisa saja membantunya meminta maaf, tapi sayang, pria yang dia hadapi mengeluarkan mengeluarkan aura yang sangat hitam pekat ditambah mereka berdua ditatap dengan datarnya oleh pria tersebut. Mana cara dia berpakaian membuat suasana menjadi tambah tegang, bayangin dia pakai Kacamata hitam, jas mahal, sepatu hitam, jaket hitam, pokoknya serba hitam kecuali kemejanya yang biru muda, ditambah dia membawa sebuah koper dan sebuah payung hitam. Mereka memberanikan diri untuk mendekati pria tersebut perlahan-lahan, tapi tatapan pria itu membuat kaki mereka makin menjadi sebuah agar-agar.

"Ha- Hai, Pak.. Maafkan Se- Sepupu saya yabg bo- bodoh ini ya." Ucap Daren gugup.

"Ya, tak apa. Aku hanya menunggubkalian minta maaf. Kalau, aku masuk kedalam kan tidak enak."

"I- Iya."

"Noda Kue masih mudah dibersihkan dari jasku, walaupun ini Jas mahal."

'Dia Minta Ganti Rugi' 'Ja- Jas Mahal!' Sapphire dan Daren langsung panik ketika mendengar kalau jas itu mahal. ditambah ada bayangan pria itu menuntut mereka membelikan yang baru dikepala mereka.

"Setidaknya bukan Noda Darah atau Oli mesin. Jadi, tenang saja." ucap pria itu sembari mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kopernya.

'Noda Darah!!' Sebuah bayangan pria itu membawa sebuah katong berisi darah mereka berdua terbentuk di kepala Sapphire dan Daren.

"Pak, Kopernya serba guna ya. Isinya apa?" Tanya Sapphire.

"Alat untuk bekerja, Baju tambahan, Dan lain-lain yang aku tidak bisa sebutkan." ucap Pria itu.

'Di- Dia ini pembunuh bayaran!' teriak Daren dan Sapphire yang makin panik mendengar isi koper yang tidak bisa dijelaskan itu.

"Ah, Aku ingin tanya alamat tempat ini lewat mana?" Tanya pria itu menunjukan sebuah kertas bergambar jalan ke markas sebelah.

"Dari sini ke kanan, lurus terus saja." ucap Daren.

"Ah, terima kasih."

Ketika pria itu pergi mereka bisa menarik nafas lega. Tapi, mereka baru kepikiran sesuatu.

"Pria itu ke markas sebelah!!!"

Mau tak mau mereka mengikuti pria misterius itu dari belakang. Ketika mereka menemukannya pria itu sudah masuk ke markas sebelah tanpa ada rasa curiga dari orang lain.

"Sekarang gimana Sap?"

"Gue tau satu hal."

Lalu...

"Nguping dari semak-semak sini? Lu bercanda ya?" Daren yang kesal tempat mereka sedang bersembunyi menanti pria tersebur muncul.

"Shhht.. Itu orangnya."

Disisi lain..

"Ah, Akhirnya kau tiba juga, kenapa dengan bajumu?" tanya Ricther ketika melihat Thane datang dengan baju yang masih berlumuran krim kue.

"Kecelakaan kecil, ada yang menabrak ku tadi saat dijalan tadi." jawab Thane.

"Ganti, kau bawa seragam gantikan?"

"Tentu Tuan."

Beberapa menit kemudian...

"Jadi, Aku akan meninggalkan Thane untuk mengawasi kalian berempat- ah, maksudku berlima nanti." ucap Ricther sembari menepuk pundak Thane.

"Tunggu Paman, kalau begitu, siapa yang akan menjagamu di Valient Mansion? kau taukan Thane itu bodyguard terbaikmu." balas Cullen.

"Masih ada Quillen, tenang saja." jawab Ricther.

"Saya siap melayani kalian semua, tuan muda."

"Tha- Thane tak perlu se-formal itu disini. Paman, apa ini ide yang baik?" Alu merasa ragu atas keputusan meninggalkan Thane bersama mereka apalagi, disini bebas.

"Tentu karena kalian berlima perlu diawasi." ucap Ricther dengan tatapan tajam yang sukses membuat kelima Valient bersaudara itu bergerindik.

"Sudah ya, Paman pulang ke masion dulu. Sampai jumpa beberapa bulan lagi dan Thane berikan aku info yang penting jika mereka bertindak gegabah atau mengacau." Ricther kemudian masuk kedalam sebuah mobil hitam dan mobil tersebut langsung jalan ketika pintunya ditutup.

"Nah, Thane. Kau bebas mau apa saja disini, tak perlu bersikap seperti di Valient Masion-"

Plak, Plak, Bugh!

"Eh?"

"Aduh."

"Lah, Oh, Kukira maling ternyata kalian." ucap Moku sehabis memukul Saphhire dan Daren menggunakan sebuah ranting pohon yang dia ambil di kebunnya.

"Nggak Santai nih lu gebukinnya Moku.." keluh Daren yang kepalanya agak pening di pukul pakai ranting pohon.

"Ehehe.. Ya maap."

Kemudian...

"Hoo.. Jadi dia ini bodyguard keluarga kalian.." ucap Sapphire sambil mengangguk.

"Iya, nama dia Thane Valiantking, dia sudah bekerja selama sepuluh tahun untuk keluarga Valient. Dan selama ini dia yang terbaik dari semua bodyguard dikeluargaku." jelas Sarah.

"Ya, Memang dia sedikit mengerikan di auranya ditambah dia menatapmu dengan tajam dan muka yang datar." tambah Anthonio, "Kau salah satunya tadi yang sudah merasakan tatapan datar Thane kan?"

"Iya, Sumpah gue langsung gemetaran, sekelas Daren yang biasanya galak sama berani aja langsung memble ditatap Thane." balas Sapphire sebelum mendapat sebuah jitakan keras dari Daren.

"Itukan gara-gara lu, dibilangin jangan buru-buru. Kan jadinya kue buat kejutan kakek Kazuma jadi hancur!"

"Iya maap..."

Krik, Krik, Krik...

"Astaga!! Kuenya!!!"

Disisi lain..

"Mereka mana sih, masa bawa kue aja lama amat!" keluh Tartagus yang sudah nggak sabar menunggu kue yang dibawa Sapphire dan Daren belum juga datang. "Vience!! Jemput si dua anak itu gih!!"

"Iya Bentar!"

Op Iya, Udah..