Chapter 97 : Not Safe for Us.

Rosy :

Chapter sebelumnya :

James : Terima kasih, tapi aku akan bertanya lebih sering ke D'arcy. Dia sangat hebat menurutku setelah Eudo menceritakan dan memperkenalkannya ke diriku.

Hayabusa : *Neguk air putih botol ukuran 1.5 liter sampai Habis. "Tidak, Hanya 1.5 liter."

Natalya : Hanya sihir cahaya laser pemotong biasa, tidak ada yang spesial.

Chapter sekarang :

Eudo : Kalau kaburnya saat mereka semua pergi kan bisa. Soal pertengkaran, hanya masalah rumah tangga.. haha.. ha- *depressed sigh. aku bahkan tak bisa mengajari James sihir sedikitpun, tapi sama Tuan D'Arcy dia langsung bisa *pundung.

Butterfly : *see Lady Butterfly from Sekiro, "Tidak, aku memang ahli berpedang tapi aku tidak seperti dia."

Murad : Aku bisa teleport, meninggalkan bayangan, hilang sementara, bergerak cepat karena kekuatan yang ada dari pedang kerajaanku ini.

Ricther : *Silence and than pull his sword. Boleh aku menggunakan mark of death sekarang. Aku sudah tidak tahan..

Natalya : Tidak, aku memecah Ryoma menjadi tiga orang. Tapi, tak menyangka ada bonus yang ikut terpecah juga.

Ryoma : *See Persona, Aku tidak menganggapnya seperti Persona. Hanya seperti orang numpang tinggal saja.

-You are sadn't..-

Pagi Hari..

Yamagi masih sangat murung karena masih memikirkan perasaan Ryoma soal iblis ditubuhnya. Semalam dia tidak tidur dan menangis karena merasa malu akan dirinya sendiri. Entahlah apa yang akan dia katakan ke Ryoma nanti, dia khawatir Ryoma akan dendam lagi kepadanya. Yamagi pergi ke dapur untuk membuat sarapan dirinya, tetapi Ryoma mendadak menahannya ketika mau masuk ke dapur dan menyuruhnya menunggu di ruang makan.

"Guru, tunggu di ruang makan saja ya, biar aku yang buatkan sarapan." Ryoma mendorong Yamagi dan membuatnya duduk di bangku ruang makan.

"Tapi Ryoma.."

"Sudah, tak apa, tunggu ya." ucap Ryoma dengan senyuman di wajahnya.

Ketika pria itu pergi Yamagi merasa ingin menangis lagi. Ia berpikir kalau Ryoma mencoba untuk berpura-pura bahagia padahal dirinya sedang mengalami guncangan yang hebat. Beberapa menit kemudian, Ryoma datang lagi dengan dua piring telur dadar dan nasi goreng sebagai isinya.

"Makanlah, itu buatanku."

"Ah, Selamat makan..."

–Enak.

Mereka makan dan berbincang, tertawa, dan bercanda seperti tak ada masalah berat di pundak mereka. Yamagi kemudian bangun dari kurisnya, dia masih merasa lapar, untung Ryoma bilang ia membuat lebih jadinya Yamagi memutuskan untuk menambah porsi makannya.

"Gu- Guru, biarkan aku yang ambilkan." pinta Ryoma.

"Tak usah, kau habiskan dulu saja piring ketigamu itu, biar aku yang ambil sendiri."

–Iya, lupa bilang kalau Ryoma baru saja mengambil porsi ketiga makanannya.

"Ti- tidak, biar aku yang-"

"Sudahlah nak, biar aku saja." Yamagi berjalan ke dapur dan tentu saja ia terkejut sekali, bukan karena dapur hancur berantakan tapi karena ada seorang lain yang sedang makan di dapur dan itu bukan manusia.

"Ha- Hai..."

Satu, Dua, Ti-

"RYOMA WAKATOSHI! KEMARI SEKARANG JUGA!"

Burung-burung di pohon terbang semua, jendela bergetar, Nigou ngumpet di bawah bantal, Pohon-pohon menjadi berisik, dan tentu saja banyak yang kaget akibat teriakan Yamagi barusan.

Kemudian...

Yamagi memasang aura yang sangat hitam pekat sembari melemaskan tangannya, sekarang dia sangatlah baaaaaad moooooood. Bukan karena kesedihannya tapi karena sebuah hal yang amat membuat dia kesal.

–Sangat Kesal.

"Percuma aku menangis dan tidak tidur semalaman memikirkan mu... Ternyata, ini kelakuan kalian!"

apa yang terjadi, ternyata Ryoma sudah menerima satu sama lain dengan sang iblis di tubuhnya sehingga mereka berdua mulai berkelakuan baik, tentu saja tanpa sepengetahuan Yamagi sehingga Yamagi merasa sangat kesal karena semalaman dia tidak tidur memikirkan Ryoma. Sebagai hukumannya, Ryoma dan Kekkai (Panggilan sang iblis yang diberikan dari Ryoma) digantung terbalik dipohon sebelah dojo sampai tengah hari.

"Aku tau ini ide buruk..." keluh Kekkai.

"Ya maap- Aduh!"

Plak!

"SIAPA SURUH NGOBROL!"

"A- Ampun Guru..."

- A Whole new worl-

Revan sedang bersenandung lagu OST Aladin, mendadak Red main sambung liriknya saja. Lama kelamaan mereka terbawa suasana sampai di reff mulai terasa ambigu bagi Revan.

"A Whole new worlll"

"Worl? Dimana D-nya?" Tanya Revan kebingungan, iya dia tau kalau Red agak buruk di bahasa inggris tapi, kalau ukuran kata-kata dia masih mending.

"Mau ku tunjukin? Ayo!" Red menarik tangan Revan ke kamar.

Lalu..

'Bangs*t...' Umpat Revan pelan, sementara Red tertidur sambil memeluknya disamping.

Btw, mereka telenjang... Bilang aja, Red minta "Jatah" tapi pake kode.

-Melt-

"Uwah, makasih ya Eudo mau ngundang kita berdua makan malam." kata Iris senang.

"Tak apa, Btw, kok James belom dateng juga ya."

Malam ini Eudo mengundang Iris dan Tartagus untuk makan malam bersama diluar. Tentu saja, itu Restoran mewah karena mereka semua berpakaian rapih. Tapi, Eudo tak bisa datang bersama James karena James masih bekerja. Walaupun, James bilang dia bisa datang tapi menyusul langsung dari tempat kerja.

"Mau ditelepon?" Tanya Tartagus.

"Iya, mendingku telepo-"

"Udah, nggak usah sebentar lagi dia datang kok." potong Iris.

"Hmm.. Ok, biar ku tunggu lagi."

Mereka bertiga menunggu James sampai tak terasa pesanan mereka tiba, tentu pesanan milik James ada juga tapi sang empu belum kelihatan juga batang hidungnya. Eudo mulai khawatir dan mengeluarkan handphonenya lagi untuk menelepon James tapi Iris memegang tangannya dan menunjuk sesuatu.

"Tuh, lihat belakang mu." Eudo menengok kebelakang dan tentu saja dia kaget melongok melihat penampilan James. James mengenakan pakaian serba hitam mulai dari jas sampai sepatu, sebuah kacamata, dan jam tangan biasa.

'Oh. My. God. Dia-"

"Kyaaaah!"

"Ja- Beneran itu James?"

"Hai, maaf terlambat." sapa James.

"A- Aku.. Aku-"

"Kenapa Suamiku? Ada yang salah?" Tanya James. Mendadak sebuah tetesan darah keluar dari hidung Eudo, James dengan sigap mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil dari sakunya dan mengelap hidung Eudo.

"Shht.. Tenang."

-Supries for Kazuma-

ArtaAoki : Sepupu, bantuin gue siapin kejutan ultahnya kakek ya, kuenya w kirim ke tempatlu.

Sending...

Accepted...

"Nah, Beres." Tartagus memasukan kembali handphonenya kedalam saku celananya kembali setelah mengirim pesan ke Vience. Dia kembali ke ruang tengah untuk mempersiapkan sebuah pesta kejutan untuk Kazuma. Untung Kazuma sedang pergi hari ini jadi persiapan mereka bisa maksimal dan tentu saja dengan bantuan Harada untuk menahan Kazuma agar dia lama pulangnya.

"Tuan Muda, ini mau kau taruh mana?" Seiryuu menunjukan sebuah hiasan bunga-bunga plastik ke Tartagus.

"Digantung saja, disebelah sana." ucap Tartagus sambil menunjuk atas pintu.

"Baik."

Mereka terus-terusan bekerja sampai tak terasa sudah jam tiga, berarti waktu mereka tersisa dua jam karena Kazuma akan pulang jam lima sore. Vience datang sendiri tidak dengan kedua orang lainnya.

"Lah, si curut dua mana?"

"Mereka yang bawa kue, nih, gue bawa makanan." ucap Vience sambil menunjukan sebuah kantong plastik berisi masakan bini Rilen.

"Yaudah, baguslah..."

Mereka menunggu lagi, tapi sampai jam setengah lima sore kue mereka juga tak kunjung datang. Tartagus merasa ada yang aneh dengan semua ini, jangan-jangan kuenya dimakan sama Sapphire tanpa sepengetahuan mereka.

'Ah, Gak mungkin Sapphire kek begitu, kan dia bukan Teiron.' gumam Arta. 'Apalagi kan dia berdua sama Daren.'

"Vieny! Jemput mereka gih!"

"Iya Bentar!"

Mendadak kedua orang yang dicari datang dengab kecepatan tinggi.

"Lah Itu mereka bedua.."

Vience dan Tartagus menyadari ada yang hilang. Kue.. Kuenya mana?

Daren mencoba menjelaskan sesuatu tapi ditahan Sapphire sampai mereka berdua jadi adu jotos. Vience mencoba melerai mereka berdua dikesempatan itu Daren langsung berteriak alasan kenapa kuenya hilang.

"SI SAPPHIRE NABRAK ORANG DAN KUENYA HANCUR DI ORANG ITU!!"

"SAPPHIIIIIIIIREEEEEE!!!"

Mau tak mau beli kue baru lagi...

Brak!

"Maaf, kuenya terlambat!" ucap Vience sembari membanting pintu ruang tengah kediaman Aokiryuu. Nafasnya terengah-engah, ketahuan kalau dia sangat panik saat menuju kemari. Tartagus dan Iris menyadari kalau kuenya berbeda dengan yang mereka pesan, begitu Vience duduk ia langsung di intograsi oleh mereka berdua.

"Kuenya. Kok. Beda. Vience..."

"Adanya tinggal itu, iya gue tau Kakek Kazu nggak terlalu suka cheesecake." balas Vience.

"Maaf, Ini kuenya aku taruh ditengah meja-" Sapphire mendadak tersandung kakinya sendiri saat melangkah. Kuenya terbang kearah para Aokiryuu dan mendarat tepat di..

"Sa- Sapphire..." Semuanya menatap Horor tempat kue teraebut mendarat. masalahnya kalau lantai atau meja sih tak apa, tapi ini lebih mengerikan bahkan sangat mengerikan.

"Herggghhhh..."

"Lari!!!" Semuanya langsung bubar meninggalkan Sapphire. Kazuma berdiri dengan aura yang sangat mengerikan.

"Ka- Kakek tu- Tunggu..."

"Ryu Ga Waga-"Mereka yang berlindung di ruangan lain sudah menutup telinga mereka masing-masing untuk meredam efek dari ledakan yang akan terjadi dalam..

Lima..

Empat..

Tiga..

Dua..

Satu..

"Keeki o Kurau!!!"Jangan Ditanya keadaan Sapphire sekarang ya..

Soal Kue.. Itu mendarat tepat dimuka Kazuma.

Who's that man?

Aftermath Kalung adu domba..

"Kalung ini membawa masalah saja." ucap Murad sembari membawa kalung tersebut. Ia tak berani memakai kalung tersebut kembali karena membuat masalah saja.

"Buang saja, eh- Hancurkan saja sekalian." usul Tulen yang juga kesal dengan efek kalung tersebut. Ketika dia sudah mengisi kekuatannya mendadak teleponnya berbunyi, sembari mengisi kekuatannyabia menjawab paggilan telepon tersebut. "Ya?" Mendadak dia menahan kekuatannya lagi dan keluar sebentar. Ketika dia kembali Tulen langsung mengambil tasnya dan seragamnya lagi.

"Hei, aku duluan ya..."

"Lah, Kenapa?"

"Emm... Tak apa, ada.. urusan mendadak..." Tulen langsung pergi tanpa menengok kebelakang. Semuanya menatap tajam Tulen karena alasan yang diberikan sangat tidak bisa diterima.

"Kau tau saatnya apa..." kata Airi.

"Hnm..."

"Saatnya jadi Dektetif!"

Lalu...

Mereka semua mengikuti Tulen yang sedang menunggu disebuah food court tentu saja... mereka harus pesan makanan juga agar tidak dicurigai Tulen karena jarak meja mereka hanya sekitar empat meja disebrang meja Tulen.

"Sejauh ini target belum menunjukan sebuah kedatangan dari orang lain." ucap Krixi pelan.

"Setidaknya dia sangat sabar menunggu." komentar Airi.

"Hei, Hei.. Shht.. ada yang datang ke mejanya." ucap Butterfly.

Seorang pria mendekati meja Tulen, sepertinya mereka saling kenal karena Tulen dengan enaknya menyapa pria itu dan pria itu tampak sangat kalem. Terlihat kalau mereka berdua sangat akrab.. sangatlah akrab...

"Siapa pria itu.." pikir para Murid yang melihat kejadian itu. Akan tetapi, sebelum mereka sempat melihat lagi, Tulen dan pria itu sudah pergi entah kemana. Sial, mereka kehilangan jejak pria itu.

Besoknya..

"Murad Kembali Kau!!!!"

Seperti biasa, Tulen dan Murad kejar-kejaran lagi setiap pagi karena pagi ini Murad dengan seenak jidatnya kembali manjat tembok sekolah ketimbang lewat pintu gerbang. Mendadak Murad mengerem ketika mereka tiba di belakang sekolah dan memojokan Tulen ke Tembok.

"Hei, Tulen.."

"Haa- Hah? Kenapa?"

"Pintu kandang burungmu terbuka."

Krik Krik Krik...

"Hahahahahhahahahhahahhahaha!!!" Murad langsung kabur lagi ketika Tulen kebingungan melihat celananya yang masih rapi dan "Tidak terbuka", dia ditipu oleh Murad.

"MUUUUUUUUURRRRAAAAAAAAAADDDDD!!!"

Mereka kejar-kejaran lagi sampai berkeliling sekolah berkali-kali. Tak sengaja aksi mereka itu sangat membuat kekacauan dibeberapa tempat. Bahkan, Kebun bunga milik Krixi mendadak hancur semua karena terijak-injak oleh kedua anak itu. Krixi yang baru mau menyiram kebunnya sangat terkejut melihat semua bunganya mati terinjak-injak.

"AREA ENERGI ANGIN!!!"

Murad dan Tulen terpental keatas dan mendarat tepat didepan Krixi yang sedang tersenyum dengan aura hitam pekat dan perempatan dikepalanya. Ini. Bukan. Situasi. yang. Baik.

"Oi, Kalian Manusia yang nggak punya kerjaan selain kejar-kejaran tiap pagi disekolah.. Mending Terbang aja sana!"

Duar!!

"GYAAAAAA!!!"

Mari kita doakan kedua siswa yang terbang entah kemana karena menginjak kebun milik Krixi ini mendarat dengan aman.

Kemudian...

Kelas Murad..

"Murad sakit pak, kakinya terkilir karena jatuh ditangga pas kejar-kejaran sama Tulen." ucap Yena.

"Oh, ok.."

Kelas Tulen..

"Maaf pak, Tulen izin sakit hari ini karena dia jatuh terpeleset dari tangga ketika kejar-kejaran sama Tulen." ucap Butterfly ketika nama Tupen disebut.

"Baiklah..."

Lalu dimana sebenarnya kedua anak ini...

"Aduh, kenapa aku ikut digantung terbalik sampai siang..."

"Ya itu gara-gara ka- Aduh!"

"Siapa suruh ngobrol!?"

"Maaf!"

Mereka berdua ikut digantung terbalik sama Ryoma dan Kekkai di pohon sebelah dojo.

Flashback..

"Gu- Guru.."

"Apa!?"

"Awas!!"

Sayangnya Yamagi terlambat menyadari kalau ada Murad dan Tulen yang mau mendarat dari atas dirinya, sehingga ia tertimpa mereka.

"Aduh- Eh, Hai Ryoma, kok lagi digantung terbalik gitu." kata Murad ketika melihat Ryoma digantung terbalik di pohon.

Ryoma menatap horor Yamagi yang tertimpa kedua orang tersebut. Tulen menyadari kalau dirinya dan Murad sedang dalam bahaya sekarang. Dengan segera ia menarik kerah Murad untuk pergi tetapi belum jauh mereka pergi mendadak kerah seragam mereka dipegang Yamagi.

"Mau kemana kalian!?"

"Gyaaaaaa!!!!"

Flashback end..

"Yah, Kita bolos hari ini Tulen. Duh, masa Ketos trus pengawas ruangan bolos sekolah sih- Attatataa!" Tulen mencubit kedua pipi Murad sampai Melar.

"Ini semuakan gara-gara kau, Murad!!" omel Tulen.

"Iya, Iya, Maaf." Tulen melepaskan cubitannya dan merapihkan barang-barang bawaannya. Murad mengingat sebuah hal, kalung. Iya, Kalung pelangi sialan itu dibawa pergi Tulen kemarin sore, tapi Tulen kemudian menghilang saat diikuti.

"Hei.."

"Ya?"

"Kalung pelanginya mana? kan sama kau."

"Sama-"

"Itu dia orangnya!"

"Mas, kemarin sore mas nabrak temen saya, trus kalung dia hilang, lihat nggak?" tanya Thundy yang panik tingkat tinggi.

"Temen. Nabrak. Oh, Yang pake kacamata bulet, rambut merah, sama makan coklat?"

"Iya! Bener.."

"Iya, kalungnya lagi sama pa- temenku." ucap Tulen. Murad menyadari Tulen barusan mau bilang pacar tapi langsung dipotong.

"Duh, Mas, Kalung itu berbahaya banget kalau salah yang-"

"Ya, ya, ya, kami sudah tau. Orang kemarin habis ngurusin dia." Tulen menunjuk Murad yang menjadi korban kalung tersebut. "Sebentar, Telepon."

Lalu...

"Kenapa kita kudu nunggu disini?" Tanya Arie yang melihat ke langit.

"Kalau didalam ruangan, jebol dah tuh atap. Nah, tuh dia datang." Semuanya melihat ada yang datang kemari dengan cepat dari langit.. sangat cepat sampai mau mendarat langsung ditempat mereka berdiri. "mundur sedikit."

"Hai, Tulen. Apa masalahmu sehingga memanggil ku kemari?" Seorang pria bersayap cahaya biru mendarat dengan perlahan didepan mereka, pria itu membawa sebuah buku dan gadah di masing-masing tangannya.

"Urusan yang kemarin, ah, perkenalkan ini Xeniel. Dia Guardian of light juga seorang pustakawan dari tempat ku tinggal."

"Penjaga Cahaya, seperti dewa saja."

"Haa.. Kalau kalian aku ceritakan kalau aku itu Demi-God pasti nggak akan percayakan." ucap Tulen.

"Hah, Ngga-"

"Btw, Tulen itu nggak bisa bohong loh.." Timpal Murad ketika melihat yang lain memasang muka tidak percaya sama sekali dengan omongan Tulen.

"Heeeee!!"

Please Stand by.. *agak OOT, balik ke topik.

"Kalian mencari kalung batu pelangi ajaib?" tanya Xeniel.

"Iya, Itu milik teman kami soalnya."

"Ini?" Xeniel memperlihatkan sebuah kalung yang dia pakai. Itu kalung pelangi milik Teiron!

"Nah, iya itu! Boleh kami minta balik." pinta Arie.

"Baiklah, Hup!" Xeniel langsung memasangkan kalung tersebut ke leher Tumma. Semuanya langsung panik, sementara Tumma sudah pasrah kalau dirinya bakalan terpecah-pecah jadi entah berapa orang. Tapi, mereka sudah menunggu beberapa menit.. Tak ada reaksi.

–Kalung itu mati?

"Oh, bagus deh.. Makasih ya." Keempat orang itu langsung pergi begitu saja setelah tau kalung tersebut sudah tidak ada reaksi lagi. Ketika mereka berempat sudah tidak terlihat, Xeniel mengeluarkan sebuah kalung yang bersinar enam warna dari bukunya. itu adalah kalung pelangi yang asli yang dia berikan barusan adalah sebuah imitasi karena ia tau efek dari kalung ini.

"Benda berbahaya ini.. Akan aku simpan, kalian tenang saja selama ada ditanganku benda ini akan aman." Xeniel kembali menyelipkan kalung tersebut ke bukunya. Ia kembali mengepakan sayapnya dan bersiap untuk kembali ke tempat asalnya.

"Tulen, Mau bareng? Kuantar."

"Ah, Terima kasih Xen, Dah semua.. Awas kau nanti hari Senin, Murad." Xeniel langsung menggendong Tulen dan meluncur pergi.

"Souka, Mereka punya hubungan yang lebih sepertinya..." ucap Ryoma setelah melihat Xeniel menggendong Tulen secara bridal.

"Yah, sudah ketebak..." komentar Murad.

Scream like no other.

Ada beberapa anak markas sebelah sedang menginap di squad sekarang. Bukan ada acara penting, hanya iseng aja kok biarpun ada yang terpaksa ikut karena diajak. Malam ini sedang hujan deras disertai angin dan petir, Salem terbangun dan mau buang air kecil. Masalahnya, sekarang semua lampu sudah dimatikan, hujan deras diluar, malam sudah sangat larut, dan dia habis nobar film horor kepunyaan si Eris barusan sebelum tidur.

Kalau menunggu sampai pagi tidak mungkin, bisa ngompol dia. Kalau sekarang, gelap.. Terlalu gelap ditambah diluar sedang hujan deras dan petir. Tapi, dia sudah tidak tahan.

–Nekat.

Saat Salem membuka pintu kamarnya mendadak Alfred muncul dari sebelah. Ah, kesempatan ada yang temenin.

"Alfred."

"Ya?"

"Temenin ke toilet sebentar..." pinta Salem, Alfred diam saja padahal dia tau kalau Salem agak ketakutan.

'Haaa... Suruh siapa nonton film horor barusan...' ujar Alfred.

Beberapa menit kemudian..."Lega.. Anterin balik.."

"Iya..."

Dalam perjalanan ke kamar, Salem merasa seperti diikuti, tapi Alfred disebelahnya dan langkah kaki Alfred terlalu halus untuk didengar.

"Lem, kalau ketakutan jangan tengok kebelakang."

"I- iya.."

Tapi, ketika beberapa kamar lagi sebelum sampai kamarnya. Salem meningkari sebuah pernyataan umum dalam situasi gelap dan ketakutan dan juga sebuah situasi "Film Horor" dimana jangan menengok kebelakang. Ia menengok kebelakang bertepatan dengan petir sedang menyabar dan cahayanya hanya memperlihatkan seorang pria tinggi berkacamata hitam dibelakang.

–Sebuah Jeritan dengan nada Tinggi terdengar sangat keras sampai hampir membangunkan seluruh markas.

Lalu..."Halaah.. Dia kaget dan pingsan ternyata." ucap Rendy yang melihat Salem digendong Alfred dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkannya." Ucap Thane yang menjadi penyebab pingsannya Salem barusan.

"Lagi pula, kenapa kau memakai kacamata hitam di tempat gelap seperti tadi?" tanya Alfred bingung.

"Sebenarnya.. Ini bisa dipakai untuk melihat dalam gelap, jadi dipandanganku tidak gelap sama sekali." Thane melepaskan kacamatanya dan memberikannya ke Rendy. Rendy mencoba kacamata tersebut dan mematikan lampu untuk mengetesnya.

"Ah, dia benar.. dipandanganku tidak gelap."

"Benarkan..."

Cat Maid, Capheny.

"Haaa... Caphy!? Kenapa?"

"Uhuk.. Yah, aku sedang sakit... Maaf ya."

"Yah, hmm.. ok, nanti setelah selesai acara kami akan kesana."

Klik..

"Jadi, bagaimana?" tanya Roxie.

"Buruk, Dia sakit sekarang." ucap Airi.

"Dia sakit... Duh, gimana nih! Dikelompok yang terkenal karena Tsunderekan dia doang!!" kata Violet panik.

"Hmmm... Coba tanya teman-temannya Murad yang waktu itu."

Lalu..

"Hah! Tidak!" Revan dan Thundy kaget ketika mereka akan menjadi pengganti Capheny yang sakit.

"Kalian katanya yang paling pas kadidatnya.. ya maaf kalau mengganggu." kata Roxie.

'Aku tau ini ide buruk...' ujar Revan dan Thundy dengan pemikiran yang sama. Sebelumnya mereka dapat suruhan dari Red untuk datang ke Cafe Maid buat bantuin di cafe.

"Se- sebentar saja kalau begitu." kata Revan pasrah. "Berikan kami bajunya."

Roxie mengambil dua buah baju maid berserta sebuah Bando telinga kucing berwarna putih dan dua buah wig rambut pirang dari sebuah kotak. Revan dan Thundy mendadak shock berat ketika melihat baju tersebut. Crossdress, itu yang harus mereka lakukan. "Nah, ini perlengkapan kalian, pakai ya kami tunggu."

'Mudah-mudahan, salah satu dari tiga idiot itu tidak datang kesini.' gumam Revan ketika melihat pakaian miliknya.

'Duh, Azab Diem-diem ngatawain Tumma Cross Dress kemaren.. Mudah-mudahan anak markas nggak ada yang dateng." gumam Thundy sembari memakai baju miliknya.

Beberapa jam kemudian...

Buruk..

Sangat buruk...

Revan tau pasti salah satu dari tiga idiotnya (Jin, Hayate, Aka) pasti akan datang. Oh, bukan satu, tapi mereka bertiga sekaligus yang datang untuk melihat langsung perkerjaannya. Setelah ketiga pria itu pergi, tentu saja dengan sedikit godaan lewat telepon setelah jauh dari cafe. Sementara Thundy, beberapa orang seperti Alpha, Teiron, Tumma, Arie, Zen, ditambah beberapa anak perempuan datang untuk makan siang bersama diluar. Sialnya Tumma mengetahui kalau dia sedang Cross Dress untuk membantu para pelayan bekerja. Berharap dia tidak asal ceplos atau sebuah petir akan menyambar langsung ke kamarnya segera.

End.