Chapter 98 : Another Dog : Become Human

Intro :

The Bubble Tea Challenge.

Sedang ada Trend meminum Bubble Tea dengan menaruhnya di dada dan tidak boleh jatuh. Elwa sendiri paling merasa sangat terhina karena diantara semuanya dia sendiri yang tidak bisa melakukannya (Ada sih beberapa orang yang tidak bisa juga, tapi entah kenapa dia yang paling terhina.) Terutama ketika dia melihat Emy dan Iris malah berlomba menghabiskan minuman mereka duluan ketimbang menyeimbangkan minuman tersebut. Ditambah, ia pernah mencoba melakukannya tapi, dengan kedua kakinya masuk kedalam bajunya, tidak dengan dadanya (berakhir dengan sebuah bahan tertawaan oleh anak laki-laki.)

"Pfft.. Jadi kau mencoba melakukannya juga?" Cullen mencoba menahan tertawanya setelah mendengar cerita Elwa.

"Ya, Aku kan Iri sama mereka yang bisa..."

"Tapikan, Emm.. Kau tau-"

"Iya, Aku tau aku datar, bukan menggembung."

Cullen hanya tersenyum kecil, "Setidaknya, disini normal tidak seperti di markasku."

"Lah, emangnya disana kenapa?"

"Well, kau bisa lihat ini..." Cullen menunjukan beberapa foto yang diambil Ethan diam-diam. Ada beberapa foto persis yang Elwa ingin lakukan tapi, kali ini bukan perempuan, melainkan para laki-laki. Iya, jadi para lelaki melakukannya juga, tentu bagi mereka yang badannya jadi.

Mendadak rasa untuk melakukan hal tersebut hilang dari benat Elwa.

"Makasih Cullen, aku jadi nggak mau melakukannya lagi."

"He- Heeh?"

Back to our story..

Rone membawa sebuah pipet berisi cairan putih di tangannya. Entah apakah recana ini akan berhasil atau tidak karena alasan yang jelas kenapa dia membawa benda ini hanya satu.

Flashback...

"Bagaimana wujud Belrus saat menjadi manusia?"

"Haaa..." Rone menyeritkan dahinya ketika sebuah pertanyaan tersebut meluncur dari mulut saudaranya. "Aku harap kau tidak serius soal pertanyaan itu, Jin."

"Oh, Ayolah saudaraku, kita sudah beberapa kali melihat perliharaan kita berubah wujud menjadi manusia(Secara permanen), masa Belrus tidak." kata Jin.

"Tapi, mereka berubah secara permanen, Kau juga tau itukan! Aku tak mau Belrus berubah permanen menjadi manusia!" bantah Rone.

"Ya minta untuk sementara saja, tak usah permanen. Mungkin, Emy masih menyimpan sedikit ramuannya." sambung Aka.

Rone tidak tau mau bicara apalagi, memang keduanya ada benarnya, dia belum melihat wujud manusia Belrus selama ini. Tapi, dia khawatir Belrus tak akan biasa dengan itu, ah dia bingung harus mencoba atau tidak.

"Baiklah, aku akan minta dia besok!"

Keputusannya sudah bulat dia akan melakukannya besok.

Flashback end...

"Belrus, Makan malam." Rone menaruh mangkuk makan milik Belrus di lantai dan Belrus langsung melahap makan malamnya. Sebelumnya, Rone sudah meneteskan ramuan yang ia minta dari Emy kedalam makanan Belrus karena sedikit maka efeknya tidak akan lama.

"Makan yang banyak, kawanku." Rone kemudian meninggalkan Belrus yang sedang makan di dapur, namun ia tak menyadari kalau ada dua anak anjing lain yang mendadak ikut makan dengan Belrus dalam satu mangkuk yang sama.

"Richard, Fuyu, jangan ganggu Paman Belrus makan, kembali ke mangkuk kalian." Revan mengangkat kedua anak anjing itu kembali ke mangkuk mereka masing-masing.

Besoknya...

Berat, itu yang Rone rasakan dibadannya sekarang. Tubuhnya seperti ditindih dengan beban yang besar. Ia mencoba membuka matanya, ada sebuah bayangan pria besar diatasnya.

"Hmmh.. Belrus? Kau kah itu?"

"Selamat pagi, Papa Rone, tidurmu nyenyak?" sapa Belrus, kemudian menjilat pelan pipi kanan Rone.

"Tentu kawan, hei, coba kau berdiri disitu." Belrus menuruti Rone dan berdiri didepannya. Rone melihat penampilan Belrus dari ujung kepala sampai ujung kaki; Topi bentuk serigala berwarna putih, rambut putih panjang dikepang, mata coklat, Hakama Putih, Celana putih, ekor putih, semuanya serba putih kecuali, dilengannya ada tato. Tunggu, Belrus tak pernah di tato atau memiliki luka di lengannya, ah itu bukan masalah. "Kau terlihat menarik dengan itu.."

"Tapikan, ini memang penampilan biasaku."

"Ah, Iya, maaf.. baru bangun pikiranku belum fokus."

Meanwhile di bagian lain..

"Jin, Kenapa Fuyu dan Richard berubah jadi manusia?" Revan menatap pasrah melihat dua orang anak kecil sedang tertidur di sebelah dia dan Red.

"Mana ku tau.. Aku tak pernah meminta ini terjadi..." balas Red.

"Ehmm.. Selamat Pagi, Papa Jin."

New Student is A Wolf-Dog!

Sebuah hari baru, Nigou sekolah seperti biasa. Kecuali, sekarang ada yang baru di kelasnya.

"Kalian dapat teman baru hari ini, silahkan memperkenalkan dirimu."

"Arthur Jackrison, salam kenal."

'Psst Nigou, Nigouu~' Nigou mengendah dan menengok kebelakang. 'Apa?'

'Kau merasakan ada yabg berbeda dari anak baru itu?' tanya Flore.

'Siapa yang peduli, dia hanya anak baru yang biasa...' balas Nigou.

"Arthur, Silahkan duduk sebelah Nigou." Athur mengangguk, ia berjalan ke meja sebelah Nigou. Athur mencoba menyapa Nigou, tapi Nigou sendiri tidak terlalu memperdulikannya, hanya ia jawab dengan 'Hmmm'.

"Nigou, namamu jepang tapi, kau sama sekali tidak terlihat seperti orang jepang." komentar Arthur.

"Ayahku asli Jepang." balas Nigou skeptis.

"Oh, berarti kau mirip ibumu."

"Aku tak mengenal ibuku, aku mirip papaku- ups." Nigou langsung menutup mulutnya dengan tangan, Arthur mulai penasaran dengan perkataan Nigou barusan.

"Mirip Papamu?"

"Lupakan..." Arthur hanya tersenyum, ia memilih untuk tidak menyakan hal itu lebih lanjut karena itu hal privasi. Nigou menghela nafas, ia kembali menatap kedepan sembari menopang kepalanya.

Kemudian...

Pelajaran pertama dan guru mereka tidak masuk, sebuah tugas ditinggalkan untuk kelas mereka. Suasana kelas agak berisik karena ketidakhadiran guru bagi Nigou ini bukan sebuah gangguan ketika mengerjakan tugas, lagipula di rumahnya lebih berisik dibandingkan keadaan kelas sekarang. Namun, ada yang mengganggunya, ia seperti ditatap fan sekarang, sepertinya ada yang bernafas di telinganya.

"Baumu, agak lucu."

"Ergh, bisakah kau tidak mengendus di telingaku." keluh Nigou dan mendorong wajah Arthur dari telinganya. Nigou kembali fokus ke tugasnya.

'Bauku lucu menurut-' Nigou tersadar kalau Arthur baru saja mengendus sebuah bau yang tidak bisa di rasakan orang lain dari dirinya. Sebuah bau yang hanya bisa di endus oleh para anjing dan serigala. 'Bagaimana bisa dia-'

–Sekarang dipikiran Nigou hanya ada rasa penasaran oleh Arthur. Ia curiga kalau Arthur bukan manusia biasa atau bahkan bukan manusia seperti dia.

Jam pulang...

"Kalian mau main ke rumahku? kebetulan arah kita sama." ajak Arthur.

"Yaa.. Maaf, kami harus bilang ke orang tua kami dulu, karena takut di cari." ucap Flore.

"Aw, baiklah, mungkin aku akan menunggu kalian nanti..." balas Arthur, "Ah, bisa tunggu sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu."

"Baiklah, kami tunggu."

Mereka menunggu lima menit, ketika Arthur kembali, entah kenapa ia memakai topi sekarang. Nigou dkk. menjadi bingung kenapa Arthur mendadak memakai topi, padahal hari sedang tidak terik dan tidak terlalu berawa; tapi Arthur memakai topi dan kelakuannya agak berbeda karena ia menjadi sedikit resah dan khawatir yang terlihat di wajahnya.

"He- Hei, maaf menunggu lama." kata Arthur pelan.

"Kenapa pakai topi?" tanya Frans. Arthur diam saja dan langsung berjalan pergi. Yang lain hanya saling memandang, apa yang terjadi pada Arthur.

Selama perjalanan, Arthur juga diam saja tidak tertawa atau berbicara sama sekali. Sikapnya menjadi berbeda 180 derajat ketinbang tadi pagi. Flore merasa penasaran dengan sikap Arthur yang menjadi pendiam, diam-diam ia melepas topi Arthur tanpa sepengetahuan pemilik topi tersebut. Arthur menyadari kalau topinya lepas, saat menengok kebelakang ia melihat Flore sedang memegang topinya dengan wajah terkejut bersama keempat orang lainnya.

"Arthur, kamu-"

"Aku mohon, jangan ceritakan ke yang lain."

"Kenapa?"

"Aku takut kalau kalian-"

"Buat apa takut?" potong Nigou. "Aku dan Flore juga seperti dirimu kok."

"Nigou, kau-"

"Iya, kenapa harus takut?" Sambung Flore, "Lagi pula, beberapa dari kita memang bukan manusia."

"Hah?"

"Ehm, biar aku jelaskan." potong Frans. "Nigou, dia itu Anjing Shiba, Flore, dia itu Kucing biasa, dan Ney... yang paling spesial.. Dia Iblis."

"Arthur, kamu tak perlu menyembunyikan apa dirimu ke kami semua, di sekolah juga kok. Kami sudah menerima apa adanya, kenapa harus takut." kata Ney.

"Kawan-Kawan.."

"Jadi, kau itu jenis anjing apa?" tanya Della.

"Aku bukan anjing." jawab Arthur.

"Serigala?"

"Bukan juga."

"Manusia Serigala?"

"Apa lagi itu..."

"Ah, aku tau... kau Anjing Serigala." Arthur mengangguk mendengar jawaban Nigou. "Aku bisa menebaknya, jadi, siapa yang serigala? Siapa yang Anjing?"

"Ayahku Serigala Artik, ibuku Alaskan malamute."

"Well, Selamat datang di sekolah." ucap Nigou.

Semuanya kembali normal dan tertawa lagi. Mereka jalan bersama-sama kembali, Frans dan Della berpisah lebih dulu karena jalana ke rumah mereka berbeda setelah lima blok. Tersisa Flore, Nigou, Ney, dan Arthur; Flore dan Ney berpisah sebentara untuk jajan, meninggalkan Nigou dan Arthur yang duduk berdua di bangku taman.

"Hei, kau bilang bauku agak lucu kan.."

"Ya, sampai sekarang aku masih sedikit menciumnya, walaupun agak samar sih, tapi aku menyukainya." balas Arthur.

"Yaah, aku sejujurnya juga mencium baumu.. entah kenapa, itu membuatku tenang, seperti bau milik kakak Siberiaku."

"Kakak mu Husky?"

"Iya..." Mereka diam sebentar dan kembali berjalan bersama.

Makan Malam...

"Jadi Nigou... Siapa Anak Wolf-Dog yang bersamamu duduk tadi siang itu?" tanya Rone, Nigou yang baru mau memasukan nasi kemulutnya langsung bengong sampai tak sadar nasi di sendoknya jatuh.

"Ba- Bagaimana Ha- Rone-Tou Tau!?" Ucap Nigou panik.

"Tanyakan ke Paman Belrus, dia yang melihatmu duduk bersama Anak WolfDog itu tadi siang." balas Rone.

"Paman!"

"Ya maaf, tapikan kami mau tau juga tentang anak itu, jadi gimana dia?" balas Belrus.

"Di- Dia Arthur, murid baru dikelas." Tak terasa Nigou menceritakan semuanya sampai bagian terdetilnya tanpa berhenti sampai makan malam berakhir.

"Begitulah..."

Teaching Ney English (Again)

"NaTuRe.."

"Nggak, Bukan begitu, tapi Na(Nechur)Ture" Ralat Frans.

"Nechur?"

"Iya, Nature (Nechur)."

"Oh ok..."

"Gimana ada perkembangan?" Tanya Flore penasaran.

"Sedikit." balas Frans. "Agak sulit mengajarkannya beberapa kata."

"Yang dapet nilai sempurna di ujian bahasa inggris aja susah ngajarin Ney, apa lagi kita berempat." ucap Nigou.

"Setidaknya dia masih ada semangat belajar." kata Della.

"Ney, Coba yang ini. Dangerous."

"Dangros."

Plak!

Semuanya Facepalm berjamaah ketika mendengar ucapan Ney barusan.

Finally, she made it

Ney menatap tidak percaya kertas ulangannya, pasalnya hari ini adalah sebuah hari yang indah baginya karena dia berhasil mendapatkan nilai 80 di ulangan Matematika.

"Wah, Selamat Ney, dapet 80 untuk pertama kalinya..." ucap Nigou.

"Iya, makasih! Ahhhh, Aku senang!"

Guru mereka masuk ke kelas dan mengumumkan kalau kelas mereka lulus semua dalam ujian matematika kali ini.

"Tertinggi diraih oleh Nigou, selamat untukmu karena dapat Nilai sempurna."

"Ciee, seratus." goda Frans.

"Halah, Cocote!" omel Nigou.

"Terendah.. Kalian sudah bisa tebak, ya kan..." Semuanya langsung menatap Ney. "Yang penting dia lolos untuk kali ini, selamat Ney."

"Ney, Makan-makan ye hari ini." goda Flore.

"Kapan-kapan ya."

Ketika kedua tangan tidak dapat meraba, mulut tidak dapat berbicara, kaki tidak dapat bergerak, namun dapat melihat.

Kring!

"Apa!?" Murad menatap Tulen dengan senyum penuh arti, ditambah dengan sebuah aura yang sangat tidak menyenangkan bagi Tulen. Entahlah, apa yang dipikirkan Murad saat ini padahal waktu istirahat sudah habis dan mereka harus kembali ke kelas untuk pelajaran terakhir. "Ka- kau kenapa? Kita harus kembali ke kelas."

Bukannya menarik Tulen ke kelas, Murad menarik Tulen ke ruang kesehatan. Ia melempar Tulen ke kasur dan melepas dasi dan Syal-nya; Dasi digunakan untuk mengikat kedua tangannya dan Syal digunakan untuk membekap mulutnya. Tulen bertambah panik ketika Murad mulai melepas dasi miliknya begitu juga dengan seragamnya, kemudian mengikat kedua kakinya. Tak mungkin ia akan melakukan 'itu' di tempat umum seperti ruang kesehatan sekolah.

–Namun, pemikiran Tulen salah.

Murad mengeluarkan spidol hitam dari kantung celananya dan menuliskan sesuatu di badan Tulen.

"Dah, selesai, dadah Tulen."

"Hmmph, Hmmh, Hpph, Hmmmph (Hei, mau kemana kau, Lepaskan!)"

Klik.

"Hmmmmmh... (Oh, Astaga...)"

Besoknya..

Gyuuuut...

"Aduh, Aduh, Aduh, Udah jangan ditarik lagi pipiku."

"Kau berlebihan bercandanya, jangan diulang lagi!" ucap Ryoma kesal ketika mendatangi Murad disekolahnya karena panggilan mendadak dari sekolah. Kemarin, Tulen berhasil lepas dari semua ikatan yang dilakukan Murad, tapi karena kekesalannya memuncak dia langsung lari ke kelas tanpa merapihkan penampilan ia terlebih dahulu.

'Oh, Tulen.. Xeniel itu siapa ya?' goda Murad.

'AAAAARRRRGHHHH, Sini kau!!'

Akibatnya, ia dipanggil ke ruang BK dan berakhir di Skors satu Minggu.

Sudden Appear

"Nggak kerasa ya udah tanggal sebelas aja." ucap Ethan.

"Iya, sayangnya ketua nggak bisa pulang sekarang, kasihan. Dia sendirian disana." sambung Lectro.

"Lah, Terus kalian nggak liat di kamar ketua ada siapa?" ucap Yamatabi.

Kedua orang itu langsung tancap gas ke kamar ketua dan masuk tanpa mengetuk pintu dulu, tentu itu membuat sang pemilik kamar langsung kaget dan memegang kencang HP miliknya. "Astaga, ketok pintu dulu bisa kan!?"

"Kapan lu balik!?" tanya Ethan.

"Semalem, lu udah pada tidur semua, untung Yamatabi bukain pintu atau nggak, bisa tidur di halaman aku." jawab Reha.

"Pulang kok nggak bilang!" omel Lectro.

"Suka-suka lah, orang gue yang mau pulang setelah semua hal selesai." balas Reha.

"REHAAA!!" Yamagi muncul seketika dan mendorong Ethan dan Lectro sampai menabrak dinding kamar. Ia melompat ke kasur dan meniban Reha. "Kenapa nggak bilang kalau pulang kemaren, kan aku jadi-"

"Shut, Oh, Kau ganti warna rambut?"

"OhIyaDong!"

An Interesting new anime serie- oh, wait."Kejahatan telah banyak terjadi di dunia."

"Kami tidak akan diam saja dan melihat kejahatan terus terjadi."

"Waktunya, berubah!"

Gadis pertama berubah, sekarang ia membawa sebuah sniper berwarna merah tua, memakai seragam tiga warna (Hitam-putih-Pink) dan sebuah jepit rambut berbentuk bintang berwarna merah. Gadis kedua ikut berubah, ia memakai hal serba berwarna biru mulai dari seragam sampai senjatanlnya berwarna biru semua, kecuali jepit rambut ya berwarna kuning dengan bentuk petir. Gadis ketiga juga, dengan seragam putih hitam, tongkat berwarna ungu dan jepit berbentuk tengkorak.

"Reina!"

"Tomina!"

"Thania!"

"Kami bertiga akan bertiga akan memberantas kejahatan."

Somewhere..."Eh, udah liat ini blom?" tanya Alpha sembari menunjukan tontonan dia sekarang.

"Udah dong, seru tau filmnya." balas Sapphire.

"Tum, Lu dah liat?" tanya Alpha.

"Oh, iya udah..." Tumma langsung pergi entah kemana tanpa jejak.

"Lah.." Semuanya kebingungan melihat Tumma mendadak tidak ikut ngobrol dengan mereka.

"Nah, kalau lu gimana Thun, dah liat?"

"Aku sih no comment dulu deh." ucap Thundy dan pergi begitu saja.

Apakah kalian bisa menebaknya siapa ketiga orang tersebut?

Note : Awalnya aku mau bikin berlima tapi bingung dua lagi siapa, but, F- Nggak bisa balas dulu yang buat chap kemaren.