Chapter 99 : Fatherhood.

Rara : Eh, Iya, Baru kepikiran sumpah!

Rosy :

Cullen : Bisanya memang Teh Bubble doang yang digunakan, soal memasukan kaki.. Kau tau kan, Baju, Lutut sebagai pengganti dada.

Rone : Aku.. Tidak mau saja dia jadi manusia, tidak ada alasan khusus.

Arthur : Itu maksudnya kakak Nigou yang Siberian, aku bahkan tidak punya kakak.

Frans : Dia dapet 25.. Dari 100.

Murad : Hanya 'I Love Men, Xeniel my Husband.' saja, tidak ada yang lain.

Ryoma : aku bisa mengganti- *dipukul Yamatabi sampai mental.

Yamatabi : *ignite his ciggar, Dasar bocah nakal, tentu saja aku yang menggantikan Aniki.

No, This is not KR Reference...

Don't 'Father' Me.

Yamagi sejak dulu menginginkan kalau Ryoma adalah putra-nya sendiri, walaupun sekarang ia sudah menganggap Ryoma itu putranya bukan seorang murid atau orang lain. Hanya saja, panggilan 'Ayah' adalah hal yang sedikit 'tabu' untuk ia dengar karena Yamagi belum pernah menjadi ayah sama sekali akan tetapi semua orang menganggap kalau Yamagi itu sangat cocok menjadi seorang ayah yang baik, apalagi dengan sifat protektif yang dia miliki. Tapi, tetap saja, memanggil Yamagi dengan sebutan 'ayah' hanya akan membuat yang bersangkutan merengut dan ngambek, namun, untuk memanggil Ryoma dengan sebutan 'Anakku' atau 'Putraku' Yamagi akan melakukannya dengan mudah.

Beberapa kali Ryoma memanggil Yamagi dengan sebutan 'ayah' dan saat itu juga mukanya akan berubah menjadi merah. Contohnya saja saat Ryoma menunjukan sebuah jurus barunya :

"Ehm, jadi maksudmu, Kekkai menjadi sebuah Armor Spirit dibelakangmu itu?" Tanya Yamagi setelah Ryoma menunjukan sebuah jurus barunya.

"Tentu, Bagaimana menurutmu?"

"Hmm, lumayan. Ayo kita coba, tahan seranganku kalau begitu." Ryoma mengangguk dan memasang posisi bertahan.

Yamagi menarik pedang miliknya dan bersiap untuk menyerang, "Baiklah, mulailah untuk menahan semua seranganku."

Beberapa kali ia mencoba menembus pertahanan Ryoma dan menahan serangan Ryoma hasilnya gagal. Serangan dan pertahanan milik Ryoma bertambah pesat dengan bantuan jurus barunya. Yamagi akui, jurus baru itu sangat bagus.

–Tapi, masih belum cukup untuk mengalahkannya.

Yamagi menemukannya, sebuah titik yang sangat kecil dimana ia dapat memecahkan pertahanan kuat milik Ryoma. Ia berhasil mendekat ke Ryoma dan melepaskan Naginata dari genggaman tangan Ryoma hingga terlempar cukup jauh.

"Mengagumkan Ryoma, aku menghargainya." ucap Yamagi.

"Apa.. Masih kurang sempurna?" tanya Ryoma ragu.

Yamagi berdecak, "Tidak, sudah bagus, hanya perlu kau asah lagi saja agar lebih kuat, Anakku." komentarnya. "Tidak ada yang sempurna Ryoma, semua memiliki kelemahannya masing-masing." Yamagi tersenyum kemudian mengusap rambut Murid- Tidak.. Anak laki-lakinya itu.

"Latihan hari ini selesai, silahkan ambil kembali Naginatamu yang terlempar tadi. Aku akan menunggumu di depan dan kita akan buka kedai dua jam lagi."

"Baik Ayah."

Krik, Krik...

"Maaf..."

"Ta- Tak apa..." Ucap Yamagi, ia langsung pergi begitu saja dengan muka yang sangat merah. Didalam hati, Yamagi terus menjerit bahagia karena dipanggil 'Ayah' oleh Ryoma barusan.

'Aku dipanggil Ayah! Aku Ayah! Aku Ayahnya! Aku Ayah Ryoma!'

Note : Maksudnya Armor Spirit itu kayak yah.. Susano'o di Nartuo, tapi milik Ryoma itu lebih kecil dan besarnya hanya dua kali tubuhnya Ryoma, not huge af like Susano'o.

Atau saat ada sebuah sihir pemecah yang datang darimana mengenai Ryoma :

"Jadi, kita tidak tau kapan sihir ini akan hilang. Jadi, aku sarankan untuk menjaga sikap kalian dan jangan mengacau." ucap Yamagi ke lima Ryoma yang ada didepannya.

"Selain itu, kalian akan punya nama masing-masing, kecuali kalian berdua." Kekkai dan Ryoma mundur dari barisan. Yamagi memperhatikan tiga orang lainnya, melihat ciri khas mulai dari atas kepala hingga kaki.

"Baik, Kau Nishi."

"Kau Yaku."

"Dan kau, Tsubame."

"Terima kasih, Ayah." Yaku memeluk Yamagi dengan erat disusul dengan Tsubame, Nishi, Ryoma, dan terakhir.. Kekkai.

"O- Oh, A- Ay- Ayolah, kalian be- berlima." ucap Yamagi dengan muka memerah. Tapi, merawat lima orang ini bukanlah hal yang mudah, untuk Ryoma, Nishi, dan Kekkai mereka bukan orang yang terlalu banyak tingkah. Tapi, untuk Yaku dan Tsubame...

–Mereka benar-benar membuat Yamagi pusing, terutama Yaku.

"Kalian berdua berhenti berkelahi!" Yamagi berusaha merelai kedua orang tersebut, tapi kedua pria paruh baya itu malah makin heboh. Yamagi mengela nafasnya dan melayangkan sebuah pukulan ke kepala kedua pria tersebut sampai membuat benjol di kepala mereka.

"Nah, sudah berhenti."

"Dia yang mulai duluan, Ayah!" kata Tsubame.

"Aku hanya bercanda, kenapa kau yang marah! Lagipula bercandaku tidak keterlaluan!" balas Yaku.

"Tidak keterlaluan kepalamu dipukul ujung Naginata! Itu keterlaluan!"

"Tidak!"

"Iya!"

"Tidak!"

"Iya!"

"Sudah Kalian!"

Plak!

Bugh!

"Aduh!"

Apapun itu, mengurus kedua pria ini hanya akan membuat stressnya tinggi.

Parent meeting

Ting Tong..

"Ya?" seorang wanita membuka pintu rumah.

"Hai, Apa kalian baru disini?" Tanya Revan.

"Ah, iya, kami baru datang lusa kemarin." jawab Wanita itu.

"Ini kue, sebagai hadiah untuk kalian."

"Ah, Te- Terima kasih pak, silahkan masuk aku sedang menyeduh teh." ajak wanita itu.

Revan mengetahui nama wanita itu adalah Allysa dan Suaminya yang masih cuti bernama Ridder. Belum lama Revan duduk dan mengobrol dengan mereka, mendadak anak-anak muncul dari pintu depan.

"Pa- Papa, sedang apa disini?" Tanya Nigou ketika melihat Revan.

"Ah, kalian sudah pulang." Revan melihat keempat anak lainnya, "Apa kalian sudah bilang orang tua kalian mau main?"

"Be- Belum paman.." Revan menghela nafasnya kemudian, ia mengeluarkan Handphonenya dan menghubungi setiap orang tua para anak-anak itu.

RevanPup : Hei, Della, Frans, Flore, sama Ney ada di rumah Arthur. Nanti mungkin mereka pulang sama aku yang kebetulan lagi berkunjung.

Fowarded to : Eudo, James, Teiron.

Zen : Oh, Yaudah, makasih buat ngingetin.

Ting Tong..

"Sebentar."

"Jadi, benarkah kau itu Nuvavut, Ridder?" tanya Revan.

"Ya, kau benar Rev. Apa Arthur menceritakannya ke dirimu?"

"Tidak, Anakku yang menceritakannya." jawab Revan.

"Anu, Revan, seseorang mencarimu, dia pria tinggi dan bermata-"

"Maaf, memotong, biarkan dia masuk, aku kenal dia."

"Baik."

Kemudian..

"Hei, pergi kok nggak ngajak." ucap Red.

"Kau lagi serius kerja, yaudah nggak ku ajak." balas Revan.

"Kalian saling kenal sepertinya." kata Ridder

"Tentu, dia ini Suamiku."

Krik Krik...

"Ehm.. Jadi, tidak aneh kalau begitu." ucap Ridder.

"Ah, I- Iya! Nigou, aku. soalnya. Haha!" ucap Revan Gugup.

"Nah, bolehkah aku meminta ke kalian sesuatu?" Tanya Ridder.

"A- Apa itu?" tanya Revan.

"Bolehkah, tidak, maukah kalian menyerahkan Nihou-"

"Nigou." ralat Revan.

"Iya, ke Arthur?" tanya Ridder.

Awalnya Red dan Revan tidak mengerti sama sekali, akan tetapi Red menyadari sesuatu tentang permintaan Riddee barusan. "Ah, aku mengerti Ridder."

"Bagaimana Jin, apa kau mau?"

"Aku mau, tapi kita harus menunggu apakah Nigou akan mendapatkan seseorang yang lebih baik atau tidak di masa yang akan datang nanti." jawab Red.

Mereka berdua berjabat tangan, entah kenapa ada aura dan cahaya yang begitu terang bersinar dari mereka.

'A Gentleman promise!'

"Apa-apaan ini!" keluh Revan.

"Kalau Nigou tidak mendapatkan yang lebih baik."

"Arthur adalah miliknya."

'Aku masih belum mengerti perkataan mereka.'

Your Spirit Animal

"Lakukan dengan perlahan... Rasakan kalau mereka ada di tanganmu." Ucap Kazuma sembari mengajarkan Tartagus beberapa gerakan.

Tartagus mengikuti apa yang Kazuma katakan. Ia menutup mata dan merasakan apa yang akan terjadi di tangannya. Mula tak terasa apa-apa, namun makin lama ia makin merasakan kalau tangannya berat. "Be- Berat."

"Buka matamu perlahan, jangan buka tanganmu terlebih dahulu." Tartagus membuka matanya perlahan dadn melihat ke kedua tangannya.

"Sekarang?"

"Buka perlahan tanganmu, jangan panik, biarkan mereka melihat dan menerima dirimu sebagai tuan terlebih dahulu."

Arta merasa agak gugup ketika ia akan membuka telapak tangannya, apa yang ada ditangan Arta pasti adalah sesuatu yang akan mengikuti dia. Ketika kedua tangan Arta terbuka, seekor naga berwarna kuning muncul kemudian melingkar di leher Arta. Mereka saling pandang sebelum mengalihkan pandangan mereka kembali ke Kazuma.

"Bagus, itulah dia, hewan pedampingmu Arta."

"Apa Iris punya juga?" Tanya Tartagus.

"Tentu, dia punya harimau emas dan Byakko sangat melindunginya." jawab Kazuma. "Ah, beri dia nama agar dia semakin mengenalmu karena hanya kau yang akan mengerti apa yang dia mau."

"Hmm... Bagaimana kalau Arashi?"

"Terserah dirimu nak, itu kehendakmu."

Take a bath together

Rone menyempatkan sedikit waktu luangnya untuk bermain dengan Belrus. Ia mengusap perut Belrus tentu Belrus sangat menyukai usapan perut. Rone mencoba merasakan bulu milik di topi Belrus, awalnya ia hanya mencoba mengelus wajahnya di bulu topi itu tapi lama kelamaan Rone merasa ketagihan.

"Hmmpphh... Terlalu lembut dan empuk."

"Papa Hayate." Rone melihat kalau bagian telinga anjing milik Belrus bergerak-gerak. Ia mengusap bagian belakang telinga tersebut agar Belrus tidak terlalu intens, dan Belrus menyukainya. Rone melepas topi milik Belrus dan mencoba untuk melakukan hal yang sama, tapi ketika ia mencium rambut milik Belrus, Rone langsung berhenti dan menjauh sedikit.

"Duh, ada anjing yang perlu mandi disini." keluh Rone dan mengangkat Belrus dengan mudah, padahal tubuh mereka besarnya hampir sama (Bahkan, Belrus bisa dibilang lebih besar ketimbang Rone.)

Tentu untuk setiap peliharaan yang batu berubah menjadi manusia, mandi masih menjadi musuh terbesar mereka. Ketika Belrus dan Rone sampai di kamar mandi Rone dengan mudah membuka semua baju Belrus kemudian juga dengan bajunya.

"Be- Bel nggak mau mandi!"

"Dan Papa nggak mau meluk Anjing yang bau."

Selama mandi, Belrus hanya diam dan ngedumel setiap Rone menyiramnya dengan air.

"Ayolah, masa kau kalah dengan keponakanmu yang mandi sendiri." ucap Rone dan Belrus hanya diam saja.

Selesai mandi, Rone mengeringkan rambut panjang milik Belrus. Selama mandi tadi kesulitan terbesar Rone bukanlah sikap Belrus yang tidak ingin mandi, tapi rambut panjang Belrus yang lebat menyebabkan membutuhkan banyak Shampo untuk membersihkan rambut Belrus. "Nah, sudah selesai."

"Ma- Maaf..."

"Untuk apa? kau tidak melakukan kesalahan." Rone bersandar ke Belrus lagi dan meletakan kepalanya di atas kepala Belrus. "Haa.. Sudah wangi sekarang kesayangan papa."

Bonus :

"Ah, Tidak, Ini-"

Ketiga gadis itu terlahap oleh kegelapan, semuanya gelap, hanya ada suara-suara yang menyedihkan dari mereka yang tersesat di kegelapan.

"Gravity Bomb!"

"Teman-teman! Jangan Menyerah!" seorang gadis berkacamata muncul dengan melempar sebuah bola gravitasi ke arah monster yang mencoba menelan ketiga temannya.

"Gi- Gisa!"

"Jangan menyerah teman-teman kita bisa mengalahkannya!" ketiga gadis lain bisa lolos dari perangkap monster kegelapan tersebut berkat bantuan Gisa.

"Kami akan membalasnya!"

"Holy Lightning!"

"Dark void Buster!"

"Laser Cutter!"

Back to our world...

"Wah, seru banget episode barunya!" ucap Alpha.

"Iya, Gisa juga kayaknya cakep deh, duh waifuable nih!"

"Cakepan Reina!"

"Cakepan Thania!"

"Udah, Tomina aja!"

"Gisa!"

Mereka yang berdebatpun mendadak gelut, sementara itu Giro melihat Laptop Alpha yang masih menampilkan film tersebut hanya geleng-geleng kepala.

Sementara itu...

"Aku merasakan sesuatu yang familiar soal gurumu, Hayate." ucap Yamagi ketika melihat Kazushi yang sedang duduk di sofa.

"Apa itu?"

"Aku... Tidak ingat, tapi aku merasakan sesuatu yang familiar soal dia." ucap Yamagi.

"Maaf, Hayate, boleh aku bicara empat mata dengan gurumu sebentar." kata Haya, Hayate dan Yamagi keluar sebentar agar tidak menggangu mereka berdua.

"Hei..."

"Hei..."

"Kau boleh jujur ke aku, Han.." Kazushi diam saja, tapi dia tak mungkin berbohong sekarang ke Haya.

"Biarku tebak, kau mau aku menceritakan bagaimana aku bisa kembali?" tanya Kazushi a.k.a Hanzo Akakage atau yang bisa dibilang 'Master yang menghilang secara misterius dan kembali sebagai pengkhianat'

"Tentu saja, kau kehilangan sisi kemanusiaan mu dan menjadi Iblis demi kekuatan dan sekarang kau kembali ke sisi manusia."

"Aku tak tahu bagaimana menceritakannya, hanya saja aku merasakan rasa hampa dalam hatiku." Kazushi sedikit tertawa dengan nada jahat seperti saat dia kehilangan rasa manusiawinya. "Padahal, kekuatan adalah segalanya untukku! Aku mau kekuatan yang lebih kuat, mereka yang menjadi salah satu bagianku bagaikan hadiah dari musuh-musuhku."

"Hanz- Kazushi! Hentikan itu!"

"Aku tau Haya... Aku tau, aku merasakannya menjadi Ninja terkuat, juga menjadi seseorang yang paling kesepian."

"..."

"Hei, Haya, aku punya satu permintaan."

"Apa, Kazushi?"

"Bisakah, kita kembali- kau tau seperti dulu." ucap Kazushi.

"Tentu, tapi sebagai Kazushi Muramasa, bukan sebagai Hanzo Akakage."

"Terima kasih, Hayabusa.."