Rosy :

Arthur : Baiklah tak apa, Allysa dan Ridder, Mereka berdua orang tuaku.

Murad, Tulen : Aku suka dia?

Murad : Najis, Tralala!

Tulen : Amit-amit dah!

Yamagi : *Blush, Sial memikirkan Ryoma memanggilku ayah saja sudah membuatku seperti ini. Soal titik lemah... ada di salah satu bagian pundak kanan Ryoma.

Ryoma : Karena.. Armor Arwah itu mengikuti gerakanku dan juga untuk melihat penambahan jarak serangan.

Yamagi : Ya, Aku bisa melihat efeknya saat kau melakukan Nageki no Kata, biasanya ketika mencapai target hanya akan target itu saja yang kena.. Entah kenapa saat aku mengecek efek dari Armor itu kurang lebih ada sebuah garis lurus sepanjang 10 meter di rumput. Oh, Untuk ketiga anak itu kenapa aku menamainnya Nishi, Yaku, dan Tsubame... Emm.. Sebenarnya aku melihat dari Motif dan gaya baju mereka, kecuali Yaku. Nishi.. Dia gaya bajunya bukan asia, melainkan seperti seorang koboi karena itu aku menamainnya Nishi karena dia berasal dari barat. Tsubame, motif bajunya didominasi oleh burung walet, mulanya aku mau menamai dia Ao tapi, entah kenapa motif burung walet bajunya lebih menarik perhatianku ketimbang warna biru dominannya. Yaku... bocah nakal ini.. aku sengaja menyingkat namanya saja.

Yamatabi : Aku mendengar kalau kau menamainya Yakuza kan...

Yamagi : Kau bisa lihat sendirikan Yaku bagaimana! *Tarik Yaku dan membuka Yukatanya. Lihat!

Yamatabi : Tapi, kan kau (Bahkan, aku) juga bertato dipunggung...

Yamagi : Walaupun begitu kita tak sebanyak dia yang hampir seluruh badan!

Yaku : Kenapa aku kesal dengan Tsubame? Dia menggunakan Naginataku untuk berpijak saat melompat keatas pohon kalau patah bagaimana!?

Tsubame : Hei, emangnya siapa yang menginjak wajahku saat aku sedang tidur hah!

Yaku : Aku tak sengaja karena saat sedang bermain dengan Ryo-Nii!

Tsubame : Bohong, Ryo-Nii saja sedang tidak ada pas aku me- Aduh!

Yaku : Itu karena dia- Aduh!

Yamagi : *Jewer telinga Yaku, Tsuba. SUDAH KALIAN BERDUA! HENTIKAN SEKARANG JUGA!!

Ridder, Red : Kau tau kan.. 'Put the ring on it'

Rara : I'll see it then...

Nigou : Aku pikir, itu bukan ide yang bagus...

Chapter 100 : I and My

~I- I wish it was true~

Ini adalah tidur ternyaman Reha setelah lama tidak pulang ke markas. Kasurnya yang empuk, kamarnya yang nyaman, oh rasanya tidak mau bangun dari tempat tidur seharian. Tapi, entah kenapa Reha merasakan sesuatu didepannya, empuk.. padat... dan kenapa ada sedikit rasa-rasa kasar saat dia menaruh tangannya dikepala.

'Puasin diri dulu ah, paling si Yamagi.' gumam Reha.

Ketika merasa sudah puas, Reha mau merubah posisi tidurnya tapi ada orang lain dibelakangnya. Tunggu, kenapa dia jadi tidur bertiga bukannya semalam hanya ada dia dan Yamagi di kasur dan Yamagi ada di bagian kanan, Lalu, siapa didepannya sekarang?

–Reha membuka matanya perlahan agar mengetahui siapa didepannya.

'Ya- Yaku, sejak kapan dia-?'

"Hmmmmh..." Yaku makin erat memeluk Reha begitu juga Yamagi yang juga bergerak memeluk erat Reha.

'O- Ok, aku akan bertahan selama beberapa jam sebelum kedua pria besar ini bangun...'

'–Tapi, tidak buruk juga diposisi ini.'

Beck to Reality...

"Reha tidurnya pules banget sepertinya sampai meluk-meluk guling kayak begitu, sudah jam setengah sembilan belum bangun dia." ucap Yamagi sembari melihat jam di kamar Reha.

"I- Hatiku terpicut melihatnya..."

~I- I Just Feel weird, have some tea then~

"Saudaraku, Kau kembal- Hei." Yamagi menepuk pundak Yi yang melewatinya begitu saja. Entah kenapa tidak merasakan sebuah kebahagiaan dari diri Yi Sun-Shin padahal Admiral besar itu baru saja kembali ke Negaranya. "Yi, Ada apa saudaraku, kenapa kau merasa sedih?"

"Aku-"

"Mungkin, Kita bisa pindah ke tempat yang lebih bagus– dalam Dojo, mungkin lebih baik dan aku juga akan menghidangkan teh untuk kau bercerita." pinta Yamagi, Yi mengangguk dan pergi ke tempat yang dibilang Yamagi sementara Yamagi menyiapkan teh untuk mereka berdua.

Kemudian...

"Ada apa saudaraku? kau terlihat sedih padahal kau baru pulang dari negeri mu." Tanya Yamagi sembari menuangkan teh untuk Yi Sun-Shin.

"Aku tidak sedang bersedih, saudaraku..."

"Lalu, kenapa kau tampak gusar?"

"Aku hanya sedang terharu melihat sebagian besar rakyatku masih mengingat diriku di dunia moderen ini."

"Baguslah kalau begitu, tapi identitas aslimu sebagai Chungmugong Yi Sun-Shin tidak diketahuikan oleh rakyatmu saat kau berkunjung di waktu ini."

"Tidak... Sampai aku hendak pulang kemari..."

"Apa yang terjadi?" Yi menceritakan semua apa yang dia lakukan dari datang ke Korea sampai hendak pulang kembali ke markas. "Oh, aku masih terharu sampai sekarang melihatnya."

"Baguslah kalau begitu..." ucap Kazuma yang bersender di belakang mereka berdua.

"Kazu kapan kau kesini?"

"Baru saja, mengantarkan Seon kesini." jawab Kazuma.

~I- I Like You!~

"Aku akan menemuinya sebentar..."

Cullen menemui Elwa yang sedang bersembunyi di belakang pohon "Elwa..." Elwa muncul perlahan dari belakanh pohon setelah Cullen memanggilnya, mukanya masih memerah karena malu dan tersipu akibat apa yang dia lakukan barusan.

"Keluarlah, kita bicara sedikit..."

"A– Aku bisa jelaskan itu, Cu– Cullen."

"Tak apa, keluar dan kita bicara sebentar ok." Elwa akhirnya mencoba memberanikan diri untuk keluar dari belakang pohon itu. Mereka berbincang sebentar, Elwa menceritakan kalau dia menyukai Cullen sejak lama akan tetapi dia tak berani untuk membicarakannya ke siapapun.

"Aku punya beberapa hal yang perlu kau pertimbangkan..."

"Ya?"

"Begini, Aku belum tentu akan menjadi pasangan yang baik, aku tak bisa memberikanmu keturunan karena kau tau aku tidak punya badan, aku tak tau kapan aku akan pergi meninggalkanmu dalam waktu yang lama; aku takut membuatmu kesepian dan khawatir." jelas Cullen dengan memegang tangan Elwa.

"Apa kau tetap menerimaku apa adanya? mengingat semua hal tersebut akan mengganggu hubungan kita nanti?"

Elwa hanya diam, "Ti– Tidak perduli soal itu, aku tetap mencintaimu!"

Cullen tersenyum dan mengangkat Elwa dengan mudahnya di pundak. "Baiklah, ayo kita ke teman-teman lagi."

"Hei! Turunkan aku!"

"Kau enteng sih..."

~Mine!~

Belrus selalu senang ketika ia dielus-elus atau menggosokan wajahnya ke tubuh Rone. Itu memberikan kepuasan tersendiri bagi Belrus dan menandakan kalau Rone adalah Tuannya. Hari ini ketika Belrus menggosok kepalanya ke tubuh Rone, ada yang berbeda dari bau milik Tuannya. Baunya seperti.. Seperti anjing lain yang ia tidak kenal sama sekali.

Sial, ternyata Rone diam-diam bertemu dengan anjing lain yang ia tidak kenal sampai anjing itu meninggalkan baunya ke tubuh Rone. Belrus tidak senang dengan semua ini dia harus bertindak dengan mengetahui siapa anjing yang berani menempelkan bau mereka ke badan Tuannya.

Esok harinya Belrus diam-diam mengikuti Rone saat pergi. Ia ingin menangkap anjing yang berani meninggalkan bau miliknya ke badan Rone. Rone menunggu di taman sendirian, sementara Belrus memperhatikannya dari jauh... dua ratus meter dari Rone. Setengah jam berlalu, seseorang tak kunjung datang kearah Rone yang masih menunggu, mungkin ia terlambat, sampai seorang pria muda menghampiri Rone.

"Maaf aku terlambat... Aku tidur setelah makan tadi."

"Lain kali, jangan diulang."

Sepertinya Belrus kurang beruntung untuk menemukan anjing yang berani meninggalkan baunya ke badan Rone hari ini.

'Mungkin kapan-ka- Tunggu dulu.' Baru hendak beranjak pergi, ia merasakan sesuatu yang janggal dengan pria muda itu. Apa baru saja dia melihat sebuah ekor dibelakang pria itu!?

Tanpa pikir panjang Belrus langsung lari ke arah Rone dan menerjang pria muda tersebut sampai mereka berdua berguling-guling di tanah.

"Beraninya kau meninggalkan jejak di Papaku!"

"Apa maksudmu Papamu!? Dia Papaku!"

"Ka- Kalian Hentikan ini."

Kedua pria itu malah semakin menjadi-jadi saat mereka berkelahi sampai menarik perhatian banyak orang disekitar mereka. Rone hanya menepuk dahi, ia tak tau mau apa lagi, semua ini membuatnya malu. Beberapa kali Rone mencoba menghentikan perkelahian mereka tapi tidak digubris sama sekali tentu ini membuat Rone semakin kesal; sangat kesal.

"Aku perintahkan kalian untuk berhenti dan duduk!"

kedua pria itu langsung berhenti berkelahi dan duduk di depan Rone.

"Bagus, Anak pintar."

"Maaf semuanya, ini sudah berakhir jadi aku mohon untuk bubar sekarang juga." ucap Rone dan semua orang yang mengelilingi mereka langsung pergi.

"Ayo, ada yang mau aku katakan!" Rone menyeret kedua pria tersebut tanpa kesusahan.

Dua jam penuh ceramah kemudian...

"Berbaikan, Sekarang!" perintah Rone.

Belrus menatap Hato dengan setengah hati dan mereka berjabat tangan.

"Maaf–"

"Ya–"

"Nah, kalian saling cobalah untuk saling mengenal." Rone menghela nafas pasrah, "Hato, Belrus ini adalah pamanmu dan Belrus, berbuat baiklah ke keponakanmu ini."

~My Garden~

Tartagus menyimpan sebuah rahasia, ia secara diam-diam mempunyai sebuah kebun rahasia di dalam kamarnya. Alasannya karena dia agak takut untuk meminta dibuatkan kebun pribadi ke Kazuma. Sampai suatu hari mendadak semua koleksi bonsai di kebunnya hilang semua tanpa ada yang tersisa.

'Duh, bagaimana nih! aku belum berani bilang ke Kakek lagi...' ujar Tartagus, tapi demi mengetahui dimana semua bonsainya. Ia perlu menanyakan hal ini ke Kazuma.

–Sekarang, juga..

"Ka- Kakek."

"Ya, Ada apa Arta?"

'Beranikan dirimu saja Arta tak ada yang perlu dikhawatirkan.', "Kakek lihat koleksi bonsaiku nggak?" Tanya Tartagus.

Kazuma diam sejenak, kemudian ia ingat sebuah hal pagi ini. "Oh, itu punyamu?"

"I- Iya, kenapa?"

"Seiryuu memindahkannya ke halaman belakang tadi pagi saat kau pergi." jawab Kazuma, kemudian ia mengajak Tartagus ke belakang dan benar saja, Tartagus menemukan semua koleksi bonsainya di sebuah rak dan meja. "Lain kali, kalau memang mau berkebun atau memelihara tanaman pakai saja halaman belakang, kan kau sudah ku beri kebebasan untuk memakai halaman belakang untuk berkebun masa kau lupa."

'Ah, sial aku lupa itu...' gumam Tartagus. "Hee- Iya, maaf kakek."

~My Sword and Son~

"Sepertinya kau sudah terbiasa dengan pedangmu." Ucap Yi ketika melihat Yamagi sedang mengelap pedangnya. "Terakhir, kau sangat ketakutan ketika membawanya saja."

"Banyak yang berubah, aku sudah terbiasa sekarang." kata Yamagi.

Yi hanya mengangguk dan tersenyum, tapi ada yang menarik perhatian Yi. Yamagi memiliki tiga buah pedang akan tetapi hanya dua pedang yang ia bersihkan dan tidak dibungkus oleh kain, sementara yang satu lainnya terbungkus oleh kain dan terdapat sebuah kertas segel di kain tersebut. "Ada apa dengan pedang ini-"

Yamagi menepis tangan Yi dari pedang yang dibungkus itu, ekspresinya terlihat ketakutan saat Yi mau memegang pedang tersebut. Yamagi kembali tersadar kemudian mencoba untuk tenang kembali. "Maaf, aku tak bermaksud menepis tanganmu."

"Tak apa..."

"Biarkan dia tertidur, jangan mencoba membangunkan dia atau hal buruk bisa terjadi." kata Yamagi.

Yi tidak berani untuk melanjutkan keingintahuannya soal pedang yang dibungkus tersebut dan mengalihkan perhatiannya ke Yamagi kembali. Yamagi hanya tersenyum kecil saat mengelap Onimaru, juga ia mencoba bersenandung diseling kegiatan mengelap pedang.

"Kau sangat menyukai pedang itu." ucap Yi Sun-Shin.

"Onimaru dia merindukanku, dulu dia pernah patah saat aku sedang bertarung sampai suatu hari dia berhasil disempurnakan kembali." Balas Yamagi.

"teringat saat aku menyempurnakan Onimaru kembali, ia sangat senang sampai ia ketika melepas rindunya dengan mengeluarkan seluruh kekuatannya."

"Bagaimana yang satunya?"

"Ayasaki? Oh dia juga senang ketika Onimaru kembali. Mereka sudah seperti saudara, sedih ketika dipisahkan dan bahagia ketika dipertemukan." Yamagi menyelesaikan kegiatan membersihkan pedangnya dan menaruh kembali kedua pedang tersebut ke tempat semula.

"Saudaraku aku ingin memperkenalakan kau ke seseorang." pinta Yamagi.

"Siapa, Saudaraku?"

"Ikuti aku."

Mereka berdua berjalan ke sisi timur Dojo untuk mencari Ryoma. Mereka menemukan Ryoma sedang duduk di teras sembari meminum teh dengan tenang dan sendirian, belum sempat Yamagi menyapa Ryoma seseorang muncul disebelah Ryoma. Ia melihat seorang pria berambut jabrik coklat mengenakan baju hijau, oh itu hanya Murad yang ikut duduk disebelah Ryoma.

"Murad, kau sudah selesaikan tugas rumah yang diberikan teman-temanmu?" tanya Ryoma.

"Sudah Ryo..."

"Lain kali, aku tak mau mendengar kau dipanggil ke ruang kepala sekolah lagi. Bercanda boleh, tapi lihat batasan."

"iya, maaf." Murad sedikit penasaran dengan teh yang sedang diminum Ryoma. Baru kali ini dia melihat teh yang berwarna hijau tua seperti itu. "Bolehkah, aku mencobanya."

"Aku tidak yakin kau akan menyukainya, manju kecilku." kata Ryoma. "Rasa teh ini terlalu berat untuk lidahmu."

"Aku agak penasaran saja soal rasanya."

"Baiklah, jika kau memaksa." Ryoma mengambil sebuah sendok teh dan mengambil sesendok teh miliknya agar Murad dapat mencicipinya. "Ini, cobalah."

Murad mencoba teh milik Ryoma. Seperti ucapan Ryoma, rasa teh itu tidak cocok untuk lidahnya. "Terlalu Pahit!" keluh Murad. Ryoma hanya tertawa kecil kemudian ia mengambil gelas lainnya dan menuang teh yang lain untuk Murad.

"Minum yang ini, agar menetralisir rasa pahit yang berlebihan."

"Sepertinya seru sekali kalian berbincang." ucap Yamagi.

"Ah, Ay- Guru, ada apa?"

"Ryoma, aku ingin kau memperkenalkan dirimu ke temanku." Yi muncul dari sudut lain koridor dan berjalan kearah mereka bertiga. "Kenalkan, ini Chungmugong Yi Sun-Shin, Admiral dari negeri tetangga yang terkenal itu."

"Sungguh sebuah kehormatan untuk berkenalan denganmu, Admiral Yi." ucap Ryoma, selain itu ia juga membuat Murad menunduk ketika mengetahui anak muda itu hanya diam saja disebelahnya.

"Yi, pria ini adalah Ana- Maksudku Putra salah satu muridku, Ryoma Sakamoto."

Important Note : Entah kenapa aku memutuskan mengganti nama belakang Ryoma jadi sakamoto (Hanya kepikiran saja.)

"Pria yang disebelahnya?"

"Itu Murad Ibn Al-Fatih, Sahabat Ryoma."

"Yamagi, Aku dengar kau mau mengadopsi nak Ryoma ini." ucap Yi Sun-Shin, mendengar itu Yamagi dan Ryoma langsung berkeringat dingin.

"Ahaha- Tidak, darimana kau mendengarnya!?" ucap Yamagi gugup.

"Adikmu, Yamatabi."

"Ayolah Aniki, kau tak usah menyembunyikannya." kata Yamatabi yang bersender di pintu sebelah tempat mereka berdiri dengan kopi ditangannya. "Semua orang juga sudah tau kau sangat memperlakukan Ryoma seperti anak sendiri ketimbang seorang murid."

"Ehm.. Yamatabi-"

"Terserah.." Yamatabi pergi dari tempat tersebut dan santai.

"Jadi, Yi, maaf soal itu.."

"Ohoho, Tak apa, justru bagus kalau kau sangat perhatian terhadap nak Ryoma sampai menganggap dia sebagai anakmu." kata Yi Sun-Shin."

"Aku- He- Hei!" Yamagi mencoba menggeser Yaku yang bersender di punggungnya, tapi beban itu bertambah ketika Tsubame ikut bersender.

"Pagi, Ayah–" Yaku menguap di punggung Yamagi, Tsubame ikut menguap sebelum kembali terlelap di punggung Yamagi.

"Ayolah kalian berdua, jangan tidur disini, sedang ada orang lain–" Mau tak mau Yamagi memanggil Nishi untuk membawa kedua pria itu ke kamar mandi. Nishi tidak banyak bicara; Hanya dengan meng-iya-kan perintah Yamagi membawa kedua pria yang terlelap di punggung Yamagi ke kamar mandi. "Maaf soal yang barusan Yi, kedua anak itu agak kurang baik kelakuannya."

"Bu– Bukan Ma– Maksudku menyinggung tapi–"

"Baiklah, kau menangkapku!" kata Yamagi sedikit kesal. "Aku memang berencana mengangkat Ryoma jadi anak, tapi! Bukan hanya Ryoma, melainkan ketiga orang barusan juga!"

Semakin mengucapkan kalimat tersebut, wajah Yamagi semakin memerah karena dia menahan rasa was-was didalam dirinya. Dilain sisi, Yi hanya tertawa melihat tingkah Yamagi yang tersipu dan menggeram karena dia mengungkapkan apa yang dipendam selama ini secara langsung.

"–Oh, Saudaraku kau begitu lucu."

~My Stupid Husband~

Revan Side :

'Tenanglah Jin, jangan tergoda dengan gacha yang akan rilis nanti.'

A Few Moments later...

"Asique, dapet skin gacha terbaru!"

200 ribu baru saja melayang dari dompet Red hanya untuk mendapatkan sebuah hadiah gacha di game yang ia mainkan. Setelah gembira ia langsung pundung karena menyadari apa yang dia lakukan. Masalahnya uang 200 ribu yang dia gunakan bukan punya Jin, melainkan uang milik Revan.

–Salah bawa dompet...

"Aku melakukannya lagi!" sesal Jin. "Revan akan ngomel-ngomel lagi deh setelah ini." Jin memperhatikan hasil gacha miliknya selama beberapa saat sampai dia mendapatkan sebuah ide bagus. Mungkin, ini akan menutupi beberapa hal terutama hutangnya ke Istrinya itu.

Note : Hanya Jin yang tetap menganggap Revan sebagai Istri walaupun Revan itu laki-laki, untuk James dan Eudo nggak.

Dirumah...

"Darimana?" tanya Revan, Jin hanya tersenyum-senyum dan memeluk Revan.

"Re-chan maafin aku ya.."

"Kenapa?"

"Aku salah bawa dompet tadi, malah bawa dompet kamu." jawab Jin, Revan menghela nafas karena pasti uangnya ada yang terpakai sama Jin.

"Berapa?" Jin mendekati bibirnya ke telinga Revan dan membisikan total uang yang terpakai.

"250 ribu..."

"Oh..." Revan langsung melakukan German Suplex. "Suami Goblog! Beraninya make uang gue sebanyak itu buat gacha!"

"Maaf, Maaf, alu baru sadarnya pas udah bayar dan ngeliat kalau itu dompet kamu bukan aku."

~My Idiot Father-in-Law~

"Gimana ke rumah Mertua kemaren?" tanya Revan.

"Lancar, biarpun rada bego-bego juga." balas Eudo santai.

"Kenapa? Kegep?"

"Bukan, bayangin aja, satu keluarga tinggi semua, kecuali ibunya yang tingginya se-lu, 175cm." kata Eudo.

"Gila, ibunya termasuk jangkung kalau buat ukuran cewe." ucap Revan.

"Udah pokoknya gue pendek kalau dilihat dari keluarga James."

"Emang berapa sih tinggi mereka?"

"Bayangin aja, James 213 cm, Ayahnya 203 cm, William 195 cm-"

"William?"

"Adeknya James, umurnya beda 10 tahun sama James."

"Ada lagi?" Tanya Revan.

"Hmm.. Oh, satu lagi. Gue digodain mulu sama Ayah Mertua gue!" keluh Eudo.

"Jail ya orangnya?"

"Bukan! Tapi, orangnya godain dari arti kata lain. Ya kali leher gue ditiup dari belakang pas lagi masak; Ya kali gue dikabedon di koridor; Ya kali dia mendadak mau mandi bareng gue sama James yang lagi di kamar mandi lagi berendem, Askdhydkslgs." pikiran Revan mendadak blank mendengar cerita Eudo soal ayah Mertuanya.

'Sumpah, kesambet apaan ayah mertuanya Eudo?'

Bonus :

'Aku- gagal melindunginya-'

Dia tak pernah tersenyum kembali, hanya sebuah wajah datar yang terlihat. Mengingat kembali dimasa bahagianya dulu, ketika ia mau membuat sebuah keluarga baru, dimana sebuah hari yang membahagiakan dimana sepasang insan akan melakukan ikatan suci. Akan tetapi, hari itu berubah menjadi sebuah petaka akibat serangan mendadak dari pihak lawan. Kalau dia tidak lengah mungkin hal tersebut tidak akan terjadi. Pasangannya menghembuskan nafas terakhir ditangannya karena melindungi ia dari ledakan besar yang terjadi.

"Aku perlu kehidupan baru, aku tak bisa terus seperti ini."

Dikehidupan baru tersebut, ia harus menjadi lebih kuat dan lebih sigap dengan melindungi orang-orang disekitarnya tanpa mengenal rasa lelah dan takut.

"Sampai mati aku akan terus berjuang menggapai tujuanku." –Thane Norman–

Thane menatap langit, sudah beberapa bulan tugasnya berganti dari menjaga Tuan Ricther menjadi menjaga para keponakan Tuan Ricther. Dia tidak mengeluh, semua ini merupakan sebuah berkah baginya karena melindungi Orang-orang dari bahaya adalah tugasnya sebagai pengawal. Ditambah, tugasnya sekarang adalah sebuah tugas yang menyenangkan dan juga menjadi kehormatan baru baginya untuk mengenal para teman-teman keponakan tuan Ricther. Dia sendiri juga membuat sebuah catatan baru untuk mengetahui kebiasaan para keponakan tuan Ricther, misalnya saja :

1. Anthony.

Dilain hal, orang ini merupakan yang paling sulit diatur ketimbang keempat orang lainnya dan perlu pengawasan ekstra karena dia suka melakukan hal-hal yang aneh, misalnya saja meluncur di tangga menggunakan sebuah Bath Tub atau saja naik sepeda dan dibawa dengan kecepatan tinggi.

2. Alucard.

Paling Normal dalam berbagai kegiatan dan tidak suka membawa sebuah urusan menjadi urusan yang panjang, semua harus selesai saat itu juga.

3. Mira

Kemana ia akan pergi? Kita tidak akan tau sampai seseorang menghubunginya dengan cara meng-spam nomor handphone nya.

4. Cullen

Satu kalimat yang pas untuknya... Dia itu penyihir hebat tanpa sebuah tubuh.

5. Sarah

Pemanah hebat seperti neneknya dulu dan orang yang paling menolak untuk belajar keputrian.

Tugas Thane hanya menjaga kelima orang ini agar tetap aman. Tapi, ketika ia melihat kekuatan kelima anak ini mereka terlihat luar biasa, seperti mereka tak akan membutuhkan dirinya. Akan tetapi tetap perlu pengawasan dalam kehidupan sehari-hari mereka yang begitu random.