Chapter 102 : Tsubaem, Tsubacem, Tsubame, Yaku?
Revievv :
Yamagi : pesen nasi sama air putih langsung ku gebrak mejanya.
Btw, Karatannya Reha itu cuman antara 1-2 ronde doang, sisanya dah halus lagi gerakannya.
–Dan Tolong jauhkan Lu Bu dari Ryoma sekarang...
Ryoma : Entahlah, dia hanya menyebut namanya Qi.
Tsubacem!
"Itu Reha kenapa?" tanya Jung ketika melihat si ketua skuad yang pundung di pojok ruangan.
"Dia lagi kesel karena gacha skin Tsubame cuma dikasih 1 minggu ditambah drop rate itemnya kecil." kata Yamagi
"Ah, ngomong-ngomong soal Tsubame, mereka berdua berantem lagi di dojo." ucap Yamatabi yang kebetulan baru kembali dari dojo.
"Apa!?" Yamagi segera berlari ketempat yang dikatakan Yamatabi dan benar saja kedua anak (Yaku dan Tsubame) sedang bertarung dengan Pedang mereka berdua dengan aura gelap yang mengintimidasi siapapun disekitar mereka.
Yamagi masih dalam keadaan lelah sekarang kalau dia harus berceramah untuk kedua anak itu dia terlalu malas melakukannya. Begitu pula, keadaan kedua bocah itu (walaupun Mereka 'para Ryoma' berumur diatas 40 tahun, bagi Yamagi mereka itu anak muda.) sedang menggunakan teknik armor arwah mereka, kalau Yamagi salah pukul bisa-bisa dia seperti menghajar sebuah batu keras atau bahkan besi. Mau tak mau, ia mengambil sebuah Tonfa milik Yamatabi untuk memukul kedua anak itu, Yamagi langsung melesat menuju Yaku dan Tsubame. Ia berhenti tepat diantara kedua anak itu dan memukul pundak kanan mereka dengan Tonfa Yamatabi. Ketika kedua pria itu sedang kesakitan, Yamagi memanfaatkan keadaan itu untuk memukul mereka berdua tepat diwajah sampai jatuh tersungkur.
Sebuah ceramah panjang kemudian...
"Aku tidak ingin mendengar kalian bertengkar karena hal-hal sepele lainnya-"
"Tapi, Ayah!" potong Tsubame. "Yaku-Nii selalu berusaha untuk mengganggu latihanku, berikan saja dia hukuman!"
"Apa-apaan kau!?" Protes Yaku tidak terima. "Kau selalu menggunakan Naginata punyaku untuk hal-hal tidak penting, jangan hukum aku, dia saja ayah!"
"Grrrr, kau yang lebih pantas dihukum!"
"Grrrrr, kau yang lebih pantas!"
Grep!
Yamagi menjambak kedua pria itu dan tersenyum kearah mereka berdua, kesabarannya sudah dipuncak sekarang, "Kalian bisa berhenti sekarang atau ayah akan membuat pedang kalian tertidur untuk selamanya."
"Ba- Baik ayah..."
Pintu Dojo diketuk seseorang ketika Yamagi baru mau pergi membukanya, Tsubame menawarkan dirinya untuk menyambut tamu tersebut, "Biar aku yang lakukan ayah."
"Permisi..."
Ternyata, Hendry dan Rendy (Iya, tapi cuma Tsubame bisa ngeliat Hendry.) juga Molf yamg berpakian seperti pengantar Pizza tapi mereka sedang mengantarkan makanan lain. "Ya?"
"Kami menawarkan sayur dan tempe bacem untuk seseorang bernama Tsubacem." ujar Molf dengan nada Monoton.
Krik, Krik...
"Izanagi..." Tsubame mengsummon sebuah pedang ditangan kirinya.
–Dia bersiap membuat ketiga orang itu menjadi potongan kecil.
"Lari!" Sebelum Tsubame sempat mengejar ketiga orang tersebut Yamagi dan Yaku dengan sigap menahan Tsubame yang akan (Sudah) Mengamuk.
Dilain tempat...
'Selamat! kalian lulus Test! Test selanjutnya ada dirumah Arie jari bergegaslah!'
'Makasih!'
"Ok, Tugas gue selesai disi-" Zen merasakan sebuah aura yang sangat jahat didekatnya... Terlalu Jahat.
"Jadi, Kau Otaknya hah– Bersiap menjadi Tumbal Izanagi?"
–Tsubame dengan Aura yang sangat jahat ditambah sebuah senyuman ingin membunuh yang sangat terlihat jelas.
"Hi- Hiiiii!" Zen baru mau lari tapi terlambat karena kerah bajunya sudah ditarik Tsubame.
Sebuah kebringasan dari seorang pria muda yang mengamuk kemudian...
"Pfft, Tsubacem." Goda Yaku sembari menahan tawanya.
"Tak ada yang lucu– Eh!!" Tsubame Menoleh kearah Yaku, dia sangat kaget melihat makanan pemberian untuknya dari ketiga orang tadi dihabiskan oleh Yaku. "Kenapa kau habiskan!?"
"Eh, Maaf, Aku lapar jadi aku makan, tau-tau sudah habis." Kata Yaku dengan tanpa dosa, dia mengambil sebuah tempe bacem tetakhir dan melahapnya begitu saja. "Enak makanannya, omong-omong."
"GRAAAAAAAHHH!!!"
"Eh, Tsuba-" Sebuah Adu pukul tidak dapat terhindarkan dan membuat kegaduhan yang dapat terdengar sampai sisi lain markas. Yamagi kembali turun tangan dengan menginjak punggung kedua anak adopsinya itu dengan keras.
"Sudah ayah bilang apa barusan!?"
"Maaffffhpp–"
Lose Streak
"Ayah mau lihat hasil kalian bertanding." Kata Yamagi.
Ryoma, Yaku, dan Tsuba mengeluarkan sebuah kartu dari saku mereka. "Ini, ayah..."
Yamagi melihat kartu Ryoma terlebih dahulu, dia menang tiga kali berturut-turut hari ini, "Bagus, Jaga hasil itu baik-baik."
"Terima kasih, Ayah."
Sekarang, Giliran Kartu punya Yaku, Yamagi melihat hasil milik anak tersebut dia dua kali menang dan satu kali kalah, "Hmm... Tingkatkan lagi, jangan sampai goyah." komentar Yamagi.
"Terima kasih, Ayah."
Terakhir, Giliran Tsubame. Jujur, Tsubame agak merasa takut untuk memperlihatkan kartu milik hasil pertandingan miliknya karena...
"Tsubame... Sungguh? Kalah tiga kali berturut-turut?" Ucap Yamagi dengan tatapan kurang yakin.
"Maaf, Ayah... Aku–"
"Iya." Yamagi tersenyum dan mengusap rambut Tsubame. "Tak perlu meminta maaf, berlatih lebih keras, jangan menyerah, jangan sedih akan masa lalu itu, tataplah masa depan." Hibur Yamagi.
"Terima kasih, Ayah." Tsubame mau mengambil kembali kartunya tapi Yamagi menariknya kembali.
"Tapi–"
"Tapi apa, Ayah?"
"Sebagai gantinya, Jam kerjamu ayah tambahkan dari yang biasa." kata Yamagi. "Kau tetap ayah berikan hukuman untuk hal ini."
"Baiklah, aku menerimanya." Jawab Tsubame, walaupun dalam hatinya dia sedang berteriak karena jam kerjanya ditambah.
He's back...
Para anak-anak sedang berjalan pulang sekolah bersama-sama. Mereka jalan dengan senang hati sampai disebuah persimpangan, Nigou dan Flore merasakan sesuatu yang aneh.
"Kau merasakan aura itu Nigou?" tanya Flore yang mulai keringat dingin.
"I- iya, jangan-jangan dia kembali." jawab Nigou.
"Eeehhh, tapi aku malas berususan sengannya." timpal Frans.
"Apa? Siapa?" tanya Arthur kebingungan melihat melihat kelima temannya menjadi tegang.
"Nigou, ada Rencana kau tau sendiri lah..." kata Della.
Nigou berpikir sejenak sampai dia melihat ke Arthur. Ah! Dia ada ide hebat! "Aku ada ide... kita putar balik lewat jalan lain kalau dia ada." kata Nigou.
"Itu? Itu ide mu?" tanya Frans kurang yakin.
"Tapi, kita perlu seseorang untuk memastikannya kalau dia ada apa nggak..." Nigoh menatap Arthur diikuti oleh keempat orang lainnya.
"Arthuuuuur~"
"Eh?"
Setelah beberapa bujukan...
Arthur berjalan kearah yang mereka biasa tuju dan dijalan itu biasa saja. Hanya ada seorang pria biasa tanpa ada sebuah kecurigaan sama sekali. Ketika sudah jauh, Arthur mengeluarkan sebuah Handphone dan menelepon ke Nigou.
"Ya, ada pria yang kau maksud..."
"Baiklah, kau jalan saja sampai empat blok kedepan nanti kita ketemu disana." kata Nigou dan menutup teleponnya.
'Aneh, sepertinya tidak ada yang salah sama sekali.' Arthur terus berjalan sampai empat blok dan bertemu kembali dengan keempat temannya. "Hei, kenapa kalian bertingkah seperti itu."
"Aku tak mau menceritakannya, karena sedikit tidak menyenangkan." balas Flore dan Nigou dengan nada datar.
*You Already know who the duck is it...
Where's Murad!?
"Tsuba, Dimana Murad? Apa kau mendapatkan sebuah pesan darinya?" tanya Ryoma, ia mulai mengkhawatirkan Murad yang belum pulang ke rumah padahal hari sudah malam dan Murad tidak memberikan sebuah kabar sama sekali kalau dia akan pulang terlambat.
"Aku tidak tau, juga aku tidak mendapatkan sebuah pesan darinya sama sekali." balas Tsubame, tapi entah kenapa Ryoma merasakan sesuatu yang ganjil, sesuatu yang aneh, ada yang kurang.
"Tsuba, dimana Yaku?" Tanya Ryoma.
"Dia sedang pergi bersama M- Temannya." balas Tsubame.
–Dia berbohong, Yaku hampir kesulitan mencari seorang teman jika dia tidak bersama dengan seseorang disampingnya.
"Tsuba, dimana Yaku dan Murad sekarang?" tanya Ryoma dengan nada memaksa.
"A- Aku tidak tau sama sekali tentang mereka, ma- mau Teh dan kue Ryo-Nii?" Tsuba mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan kue dan teh.
"Aku tak mau bicara, Aku mau tau dimana Yaku dan Mura-." sebuah kue masuk kedalam mulut Ryoma, "Mm.. kue ini enak, ada coklat, karamel, dan selai kacang didalamnya."
"Ini- Tehnya, biar nggak seret."
"Terima Kasih."
'Setidaknya, ini dapat menahannya.' gumam Tsubame.
Setengah jam kemudian...
Sebuah cerita dan obrolan yang cukup lama terjadi untuk mengalihkan pembicaraan agar Ryoma tidak menanyakan keberadaan Murad. Disisi lain, Yaku baru saja tiba bersama Murad dengan dua buah tas belanjaan di salah satu tangan mereka.
"Kita terlambat sampai..."
"Aku tak tau kalau akan macet." balas Yaku, semakin lama, dia semakin dekat dengan Murad.
"Aku harap Ryoma tidak akan ma- He- Hei!"
"Mura-" Yaku baru mau mendekatkan wajahnya ke wajah Murad, akan tetapi sebuah tendangan mendarat tepat di wajahnya. Membuat Yaku jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
"Dia Milikku! Jangan kau coba untuk merebutnya!" Sahut Ryoma dan membawa Murad pergi.
Flashback...
Tsubame menyadari kalau kue dipiringnya habis, dia bermaksud mengambil cadangannya sebelum Ryoma kembali menanyakan keberadaan Murad dan Yaku. Akan tetapi sebeleum dia beranjak bangun, Ryoma menahannya untuk tidak pergi.
"Dimana Yaku dan Murad!?" tanya Ryoma dengan nada rendah.
"Ah, Kak Mau Teh lag- Sial..."
–Tehnya juga habis.
"Aku tidak mau Teh ataupun Kue Sialanmu lagi!" Ryoma melempar peralatan Teh dan piring keluar Jendala. Dia menjatuhkan Tsubame dan menahan kedua tangan dan kakinya agar tidak meronta.
"DIMANA SI YAKU SIALAN ITU DAN MURAD!!!!?"
"Hi- Hiiiii!!"
Flashback end...
Yamagi yang sedang mengompres wajah Yaku langsung bingung untuk bereaksi seperti apa.
It's Not A Date!
'Baiklah, bagaimana jika makan malam, kau tak keberatankan?'
Yi tak menyangkan kalau seseorang yang begitu penting akan datang. Memang bukan mendadak karena sudah direncanakan dari sebulan yang lalu, tapi dia tidak tau kalau orang itu akan datang hari ini juga. Yi memang tau beberapa restoran makanan yang enak tapi, apakah dia akan suka dengan makanan Korea; Bagaimana kalau dia tidak suka sama sekali!
–Ah, baru kali ini dirinya merasakan bingung yang sangat hebat!
'Mungkin.. Yamagi dapat membantu...' Yi beranjak pergi ke Resto Yamagi, tapi ada satu hal yang dia perlu khawatirkan, apa Yamagi sudah membuka restonya apa belum?
–Beruntung, Yamagi baru mau membuka Restonya saat Yi datang untuk mengecek.
"Aku mau bertemu dengan seseorang, bisakah aku memesan sebuah meja untuk nanti malam?" Pinta Yi ketika Yamagi baru saja mau membuka kedainya.
"Oh, sepertinya seseorang mau kencan disini? Siapa Pria/Wanita beruntung ini?" Goda Yamagi, Muka Yi menjadi memerah karena Yamagi menggodanya sedemikian rupa.
Yi meluruskan tenggorokannya, "I- Ini bukan Kencan! A- Aku hanya mau bertemu dengannya karena- Di- Dia sedang berkunjung saja..." Sanggah Yi; Yamagi tertawa mendengar reaksi Yi.
"Aku akan membayarnya!" tambah Yi.
"Kau tak perperlu membayarnya Saudaraku" Yamagi tersenyum ke Yi, "Aku bisa memberikan sebuah meja untuk kalian berdua, asal kau mau membantuku nanti.. Sampai Klienmu datang."
'Kesempatan!' ujar Yi.
"–Aku terima itu!"
"Bagus, aku akan berikan kau seragamnya."
Iris bersama gerombolannya (ditambah baby satu) makan malam bersama di restoran Yamagi. Setelah melihat-lihat menu dan menentukan menu mereka masing-masing, Iris memanggil pelayan terdekat. Tapi, alangkah terkejutnya ketika pelayan tersebut berbalik dan Iris tau siapa pelayan tersebut
"Se- Sebentar ya..." Iris pergi ke dapur sebentar untuk bertemu dengan Yamagi untuk protes. Iya, protes. Karena pelayan barusan adalah Yi.
"Yamagi!"
"Ya-"
Plak!
Iris menampar Yamagi begitu keras sampai, entah kenapa dia mendadak ngoceh-ngoceh karena melihat Yi bekerja untuk Yamagi barusan. Yamagi berusaha menenangkannya akan tetapi Iris sepertinya tidak peduli sampai Yamagi menyerah dan memegang kedua pundak Iris.
"Bisakah aku mendapatkan waktu untuk bicara Nona Muda?" Tanya Yamagi kesal.
"Ba- Baiklah."
"Yi bekerja bukan karena aku menyuruhnya ok, tapi karena kemauan dia untuk mendapatkan sebuah meja pesanan secara gratis." jelas Yamagi.
"Heeee, jadi salah paham toh." Balas Iris dengan wajah seakan dia tidak melakukan apa-apa. "Untuk apa dia memesan meja secara gratis?"
"Bertemu seseorang."
"Oh-" Iris mendekati Yamagi. "Siapa orang yang beruntung ini?"
"Kita lihat nanti, Yi baru selesai bekerja jika orang tersebu-" Yamagi hendak menyelesaikan katanya tapi Yi masuk secara mendadak dan menutup pintu dibelakangnya.
"Dia datang Saudaraku, a- aku harus ganti pakaian."
"Bersihkan dirimu, pakain kamar mandi belakang, dan kau sudah membawa pakaianmu kan?"
"Sudah!" Yi bergegas ke kamar mandi pegawai dan membasuh dirinya.
"Oh- sepertinya seorang pria beruntung mendapatkan seorang admiral legendaris." Ujar Iris sembari mengintip seorang pria yang duduk dimeja sebelah teman-teman nya dari jendela dapur.
Lalu...
"Ah, Akhirnya kita bisa bertemu, Admiral."
"Tolong, panggil aku Yi untuk saat ini."
"Baiklah, Yi. Jika itu maumu."
Iris kembali kemejanya dan berbisik ke semua temannya agar pindah ke dapur. Begitu mereka semua di dapur, makan sudah tersedia di atas piring, tetapi ada satu hal.
–Mereka makan di lantai alias Lesehan.
"Jadi, kita mau apa ngumpul disini?" tanya Hikari.
"Ngejodohin Tuan Yi Sun Shi.." Balas Iris dengan senyuman lebar diwajahnya, sementara yang lain hanya bisa tepuk jidat mendengar perkataan Iris.
A Hurt True Fact
"Elwa, mau sebuah fakta yang sakit nggak?" tanya Iris.
Elwa menghela nafas dia sudah tau akan ujung hal ini, "Dada gue rata, iya tau." keluh Elwa.
"Eits, kali ini bukan itu." sanggah Iris.
"Terus?"
"Kalau dada mu diadu sama Dada Cewe lain terus kalah itu biasa aja, tapi kalau diadu sama cowo itu baru menyakitkan." kata Iris.
"Emang ada cowo yang dadanya gede?" tanya Elwa bingung.
"Tuh!" Iris menunjuk Yaku yang sedang berlatih dengan Ryoma tanpa mengenakan baju. "Perhatiin Dadanya, pasti kau bakalan ngerasa terpukul."
Dugh
–Elwa langsung menjitak Iris.
"Dalem goblog!" seru Elwa. "Lu aja juga kalah sama dia!"
"Gue sama cewe kelompok gue cuman tergarami oleh 1 hal..."
"Apaan?"
"Pantad kita kalah semok sama Pantad Steve Roger."
"Oalah!"
Here comes the "Puppy"
Hari ini merupakan hari yang lelah untuk Yamatabi, bukan hanya karena kedai sedang ramai tapi juga dia harus lembur untuk membersihkan keseluruhan kedai. Awalnya, Tsubame memberikan pertolongan, akan tetapi anak itu harus pulang karena Shiftnya lebih cepat selesai ketimbang Yamatabi.
'Tinggal mengecek sisa bahan persediaan dan tugasku selesai.' gumam Yamatabi.
Tapi, entah kenapa ketika dia baru menginjak ke bagian belakang dapur dia merasa aneh; seperti diawasi oleh seseorang. Sebuah langkah kaki terdengar, tapi dia tau tak ada siapa-siapa di kedai kecuali dirinya, semua sudah pulang tapi kenapa ada langkah kaki halus disekitarnya. Yamatabi tetap bersikap tenang seperti tidak memperdulikan siapa itu yang berjalan, walaupun ia sudah bersiap dengan sebuah pisau ditangannya.
Makin lama, langkah itu semakin mendekat kearahnya-
–Dekat!
–Sangat Dekat!
Yamatabi dengan cepat menahan sebuah tangan yang mencoba menyerangnya dan berputar kebelakang penyerang itu untuk menahan kedua lengannya, sebelum akhirnya menginjak penyerangnya.
"Ya– Yamatabi?"
Lampu menyala dan Yamatabi bisa melihat siapa penyerangnya, seorang pria berjubah hitam lengkap dengan sebuah pedang pendek dipunggungnya dan beberapa buah... Kunai?
"Ada apa ini!?" Yamagi terkejut melihat adiknya sedang menahan seorang pria dengan menginjak punggung pria tersebut. "Siapa dia!?"
"Kak, ambilkan Tali!"
"Ya!"
Sebuah Ikatan yang sangat kencang kemudian...
"Ada apa ini?" Haya datang bersama Kazushi.
"Tu- Tuan Hay-"
"Dia mencoba menyerangku, tapi sayangnya nafas dan langkah kakinya terdengar."
"Oh, Sungguh menyedihkan..." Tak disangka Haya menendang perut pria itu. "Bodoh! Siapa yang mengirimmu untuk menyerang seorang Tertua hah!?"
"Ti- Tidak ada.. Ak- Aku hanya-"
"Hanya apa!? Kau mau ku laporkan ke mastermu agar kau dicap pengkhianat lalu dieksekusi?"
"Aku mohon tuan, jangan laporkan hal ini, A- Aku tak tau kalau Yamatabi-sama masih hidup."
Haya hanya terdiam, lalu dia melihat kearah Kazushi, "Bisakah kau buktikan perkataannya itu sebuah kejujuran?" pinta Haya.
"Kau tak percaya padanya?"
"Kau tau kalau aku tak pernah percaya kepada siapapun yang telah menyerang kakakku."
Wrong Shirt
Pagi hari...
"Yi, Saudaraku?" panggil Yamagi sembari mengetuk pintu kamar Yi.
"Ada apa?" Tanya Yi.
"Aku mau lari pagi, kau mau ikut?" ajak Yamagi, Yi hanya membalasnya dengan menggeram. Tapi, Yamagi menyadari seseuatu yang berbeda dari Yi–
–Tidak, bukan karena Yi yang pertama kali menolak ajakannya, tapi karena satu hal.
"Aku mau ikut, tetapi Minsi dan aku habis begadang semalaman, jadi tolong, biarkan aku beristirahat terlebih dahulu." jelas Yi.
"Ah- Hahah- Ha, Y- ya, silahkan beru- maksudku beristirahat sampai kau merasa nyaman." Yamagi menyadari Kaus yang dikenakan Yi bukanlah kaus miliknya, tetapi milik Minsi. "A- Aku duluan ka- Kalau begitu!"
Yamagi terus-menerus tertawa saat dia pergi meninggalkan Yi yang kebingungan, "Kenapa dia tertawa..."
"Anu, Admiral, aku rasa kau mengenakan kaus punyaku..."
–Yi baru menyadarinya kalau kaus yang dia kenakan bukan punyanya.
"Haaa... Minsi..."
"Ya?"
"Tolong habisi nyawaku..."
Worst Birthday Gift.
1 Oktober berarti...
"Otanjoubi Omedetou, Koibito!" Ucap Ryoma seraya mencium kening Murad.
"Selamat Ulang Tahun Murad!" semua teman-temannya datang bersama kue dan hariah untuknya.
"Selamat ulang tahun, Ini dariku untukmu." Tsubame memberikan Murad sebuah Yukata biru.
"Terima kasih semuanya." ucap Murad.
"Sudahlah, Ayo Pesta!"
Pesta berjalan dengan meriah dan lancar tanpa ada hal-hal yang mengganggu. Tapi, Ryoma merasa kurang, dimana Yaku? Seharian ini dia belum terlihat.
"Selamat Ulang Tahun Murad!!!!" Yaku muncul bersama sebuah hadiah berupa–
"Ya- Yaku!" Wajah Ryoma menjadi pucat melihat hadiah Yaku adalah sekumpulan bunga. Bukan hanya Ryoma, namun juga Yena menjadi panik melihat hadiah dari Yaku berupa bunga.
"Jangan Berikan itu ok, berikan ke aku dan kita akan cari hadiah yang lain..." Ryoma mencoba mendekati Yaku secara perlahan untuk mengambil bunga tersebut. Yaku bingung dan melempar bunga tersebut melewati Ryoma.
Semua begitu cepat, Ryoma tak sempat menangkap bunga tersebut dan Yena tak sempat memberikan Murad maskernya. Bunga itu mendarat tepat di wajah Murad.
–Sunyi semua sunyi sampai Ryoma memukul Yaku tepat diwajah.
"Bodoh! Kau tau apa yang kau lakukan hah!?"
"Hah!? Apa salahku dengan memberikan Murad bu–"
"HAAAASYEEMMMM!!*
"–nga..."
Murad tak bisa berhenti bersin sampai hidungnya merah, mata berair, dan tatapannya mulai tidak baik.
"Te- Terima- Ka- Kas- Kasi- Kasih, Y- Ya- Yaku, Ta- Tapi- A- Aku A- Ale- Alregi- SSe- Sser- Serbuk- Sa- SSA- Sari." Ucap Murad tersendat oleh bersinnya sendiri.
He's Genbu.
"Arta... aku, adikku, dan beberapa hewan akan pergi sebentar, kau jaga rumah bersama Genbu."
"Jadi, Ini... Tuan Genbu..." Arta datang bersama seorang pria besar (sangat besar), berambut putih, membawa dua perisai besar, dan sepertinya wajahnya tidak terlalu bersahabat karena dia menatap tajam hampir semua orang. "Dia Baik kok, hanya saja sangat tegas."
"Salam ke- nal... Tuan Genbu, jadi dulu kau kura-kura hitam-"
"Anu-" Potong Arta. "Tuan Genbu ini bukan hewan seperti ketiga binatang lain."
"Lah..." Vience menatap Tartagus bingung, "Lalu? Dia ini apa?"
"Aku manusia, hanya saja ditunjuk oleh Sei-sama menjadi pewaris kekuatan Kura-kura hitam."
"Kau punya nama?" tanya Vience, "Ma- maksudku, nama saat kau masih-"
"Aku- Tidak mengingatnya... Sudah lama sekali tak ada yang menyebut namaku."
"Jadi, Bagaimana Tuan Genbu dapat mengenal baik Tartagus?" tanya Daren.
"Sejak dulu aku selalu membantu Tuan Muda Arta untuk menyembuhkan lukanya."
A Nasty Secret.
"Aku duluan dulu ya."
"Dah, Iris."
"Hati-hati dijalan."
Musket melihat dari jendela apakah Iris sudah jauh atau belum dari klub. Ketika dia melihat Iris sudah jauh dari klub, dia ingin menceritakan sesuatu ke anggota yang lain, "Eh, semua sini deh."
"Napa?" Tanya Alexia.
"Gini- Tapi janji jangan ember ke Iris ya..." ucap musket.
"Iya, kenapa Ket?" Musket mengeluarkan sebuah doujin, "Jangan bilang ginian kalau gue bikin ini ya..."
Para anggota yang lain melihat kover doujin tersebut sampai mereka menyadari siapa kali ini yang kena, "Musket... Lu nggak seriuskan?"
"Sumpah, gue mendadak ada ide, iya tau emang rada jahat sih!" jawab Musket.
–Tau siapa yang kena?
"Sejak kapan lu nganu-in Genbu sama Tarta?" tanya Hikari sambil membalik doujin tersebut.
"Nggak, Gue dapet ide aja! Emang terdengar jahat sih makanya gue bilang jangan ember ke Iris!"
"Pokoknya itu tanggung jawab lu, Bawa, Simpen, Segel, dan jangan sampe ketauan Iris atau lu bisa dibabat sama Arta sama Kakeknya." ucap Alexia.
RIP Glasses
"Ngantuk... Udahan dulu ya."
"Yaudah, kau juga kelihatannya kurang tidur."
"Iya nih, dah."
"Dah, Reha."
Reha memutuskan hubungan video call dengan Yamagi, kemudian melepas kacamatanya dan menaruh kacamata tersebut disebelah bantalnya. Beberapa hari ini memang dia kurang tidur ditambah Reha habis tugas lapangan, jadi saat dia kembali kondisi badannya agak menurun karena lelah.
5 Jam kemudian...
"Hee... Jam delapan malam, kelamaan tidur." ujar Reha ketika melihat jam di HP-nya.
Perutnya terasa aneh, berarti dia harus mengisinya sekarang juga atau dia akan merasa mual setiap saat. Ketika dia melihat kacamatanya, sesuatu yang buruk terjadi.
"Well, Sh*t.." Reha mengambil sebuah gagang kacamata yang terlepas, bisa dibilang patah. Mau tak mau, dia harus bilang Yamagi.
Rehabilitasi : Yamagi...
Rehabilitasi : *You sent a photo.
Rehabilitasi : F
Kunihiroo : Kok bisa? Ketiduran?
Rehabilitasi : Iya...
Kunihiroo : Minggu, aku kesana, sekalian benerin kacamata kau.
Bonus :
Stanford-Norse naming Tradition.
"Heeii..."
"Ya?"
"Gue kadang penasaran deh, soal James." ucap Revan.
"Napa?"
"Perasaan aja, atau emang James itu namanya lebih panjang ketimbang cuman "James Stanford" doang." ujar Revan.
"Welp, emang nama "James Stanford" itu cuman buat mempersingkat aja, aslinya James punya nama tengah." jelas Eudo.
"Benarkah?"
"Iya, orang waktu itu ayah James nggak manggil James dengan nama penuhnya karena James ngabaiin dia, kebetulan gue nggak jauh jadi kedengeran jelas." jawab Eudo. "Ini keknya juga jadi salah satu alesan kenapa James kadang suka ngambek kalau dia disamain terus sama Thor."
"Lho, kok bisa?"
"Ya..." Eudo berusaha mengingat kejadian saat James dipanggil nama penuhnya. "Gimana nggak.. Orang nama penuh James aja 'Jamesson Thor Stanford'."
Sementara itu James di kantor polisi...
"Entah kenapa tapi aku merasa harus pulang lebih cepat nanti malam..." gumam James sembari mengisi sebuah kertas laporan kasus.
Kembali ke Eudo...
"Thor he... Biarku tebak, Frans juga Della punya nama tengah kayak ayah mereka." kata Revan.
"Frans? iya. Della? Nggak."
"Frans gimana?"
"Fransisco Mjöllnir Stanford, Tertulis jelas di Akte kelahirannya. Aku tau pasti yang menamai Frans itu ayahnya James."
"Oh, Lupa... James cerita kalau sebelumnya Della juga mau dikasih nama salah satu bagian Mitologi dewa Nordik juga tapi James melarangnya karena dia ketahuan memberikan sebuah bagian dari dewa Norse ke Frans." sambung Eudo. "Kalau James terlambat sedikit saja, mungkin nama Della akan menjadi Freja."
"Ayah James begitu suka ya dengan Mitologi Dewa Nordik..." kata Revan. "Sampai menyelipkannya ke hampir seluruh keluarga Stanford."
"Oh, Sekalian nama ayah James itu siapa sih? orang Skandav keknya nih..."
"Bukan mas, ayah James itu orang Kanada asli." sanggah Eudo.
"Say Whaaaaat-"
"Tapi, kalau gue bilangin namanya juga, lu nggak bakalan kaget kok."
"Biar w tebak..." Revan mengangkat alisnya, "Odin?"
"Yap, Odin Stanford." ucap Eudo, mendadak HPnya bergetar dan ada pesan masuk dari James. "Bentar..."
Soeami Koeh : Apa yang sedang kau lakukan dengan Revan?
Soeami Koeh : Kenapa aku merasa sedang dibicarkan oleh kau?
Soeami Koeh : Kau tidak sedang membicarakan Nama tengah-ku kan?
Eudo.Euford : Tidak James, tenang, aku hanya menceritakan beberapa hal saat kita ke rumahmu kemarin ke Revan.
Soeami Koeh : Aku pulang lebih cepat nanti, sampai ketemu nanti malam.
Eudo.Euford : Sampai nanti.
"Yak... Dia mulai curiga karena kita membicarakan soal nama tengahnya..." ucap Eudo.
"Wa- Gimana bisa dia-"
"Entah, tapi sepertinya James selalu punya ketepatan yang baik ketika seseorang membicarakan nama tengahnya." potong Eudo.
Udah, Segitu dulu...
