Chapter 104 :

Revievv :

Rosy :

Yamagi : Aku tak mau ada sebuah keributan yang begitu besar sampai adanya penghancuran, itu membuatku muak.

Yamatabi : *Chuckle, Aku punya banyak senjata, tidak hanya pedang ataupun senjata lempar lainnya.

Tsubame : Aku punya dua pedang, Monohoshizao dan Izanagi. Tapi, Izanagi jarangku gunakan, apalagi itu bukan pedang biasa.

Ryoma/Yaku : *Pakai Yukata mereka dengan benar lagi. Hmph, Kurang ajar! kami tak punya kanker dada dan dada kami tak sebesar perempuan.

Tsubame : Tapi Dada kalian emang paling berbentuk ketimbang, Ehm... Tiga kembar. *Kabur

Ryoma : Woi!

Yamagi : Kami nggak punya lesehan, Iris aja yang minta makan didapur akhirnya aku kasih tempat walaupun di lantai.

Yi Sun Sin : *bangun dari tempat duduknya, Benturin kepala ke tembok. "Iya, Dia tamu tadi malam."

Yena : Aku rasa Ryoma sudah mengetahui kalau Murad Alergi Serbuk sari sejak lama, jadinya dia begitu protektif soal memberikan bunga ke Murad.

Me : Nggak, soalnya semalem kurang tidur, jadinya abis pulang kuliah dan nggak ada kelas lagi, langsung tidur siang aja.

*Note : Soal Thorsson keknya lumayan bagus buat James *Check

Eudo : Maaf, Nggak ada Jojo Reference disini! Aku hanya mencoba menjadikan Batur sebagai sebuah Kelinci Percobaan yang pas.

dan Hoi, Aku nggak jadi NEET! kadang aku tetep dibutuhin sama kepolisian buat bantu-bantu pekerjaan.

Murad : Entahlah, Xeniel yang menceritakannya soal itu.

Xeniel : Untuk kau ketahui, Tulen itu memang Zhuge Liang, sang ahli strategi perang juga perdana mentri dari Shu Han, hanya saja dia tidak memiliki ingatan lagi soal itu.

Warrend : Shhht, Jangan kasih tau ke Nigou kalau kamera itu cuman ku tambahin pake Faceapp.

James : *Sigh, Iya...

Almost!

Jika kau membaca tulisan ini, tolong beritahu aku satu hal.

Kenapa nama tengahmu memakai nama palunya Thor?

-Tigwild

Frans langsung menengok kebelakang dan melihat teman-temannya kebingungan, "Ehh..."

"Aku bisa jelaskan..."

"Nama tengah kau dari senjata, lah aku cuman dari warna." ucap Flore.

"Kau senjata? Aku pake nama belakang orangnya." balas Arthur. (Nama Tengahnya, 'Pendragon')

"Kalian punya nama tengah?" (Nigou)

Hidden Relationship between them.

"Sungguh?" Tanya Eudo tak percaya ketika mendengar cerita James, James hanya mengangguk.

"Hebat, kau akan bertemu dengan salah satu dari tiga penyihir legendaris di Akademi Sihir!" Puji Eudo.

"Entahlah Eudo, aku belum tau seperti apa Master Dirak itu..." kata James Ragu.

"Tenang James." Hibur Eudo, "Ketika kau bertemu dengan Master Dirak, kau pasti akan mengaguminya. Dia bukan bertipe Serius dingin seperti Master Arcy."

Sebelumnya...

"James, untuk selanjutnya kau aku sarankan untuk belajar mengendalikan kekuatanmu dengan Dirak, aku sudah bicara masalah manamu dengan dia, Dirak dapat membantumu menyelesaikannya." jelas D'Arcy setelah menjelaskan beberapa hal ke James.

James sendiri agak bingung, 'Dirak?' ia hanya baru mengetahui beberapa orang penyihir besar di Akademik kecuali Master Dirak. Dia perlu bertanya ke Eudo soal ini.

Besoknya...

"Selamat Datang, bagaimana dengan master Dirak?" tanya Eudo ketika melihat James baru pulang, tapi entah kenapa James menatapnya dengan tatapan bingung, "Ada masalah?"

"Eudo... Boleh aku bertanya?"

"Y- Ya?"

"Hubungan Master D'Arcy dan Master Dirak, mereka pacaran?" tanya James penasaran.

"Ah- itu toh." jawab Eudo. "Rumornya sih begitu, kalau Master D'Arcy dan Master Dirak pacaran, tapi entahlah itu hanya Rumor."

"Aku diceritakan oleh Nona Sephera, kalau hubungan mereka berdua sangat akrab bahkan lebih dari itu." kata James.

"Lalu..."

"Aku juga melihat, Master D'Arcy tersenyum."

"Tunggu!"

Krik, Krik..

"Kau bilang.. Master D'Arcy tersenyum? sungguh? kau nggak bohongkan!?" tanya Eudo. "Dia tak mungkin tersenyum ke siapapun!"

"Ta- Tapi, aku melihatnya tersenyum ke Master Dirak di perpustakaan..."

Flashback...

'Haaa... Aku harus mencari sebuah buku tentang mana.' ujar James sembari melihat deretan buku-buku sihir di perpustakaan sihir. Ia berhasil menemukan beberapa buku yang menarik dan bermaksud membacanya. Tetapi, ketika ia berniat untuk membawanya ke meja membaca, ia melihat D'Arcy dan Dirak sedang berdua.

'Mereka berdua tampak serius membicarakan sesuatu..." James bermaksud menghiraukan mereka, tapi sesuatu menarik perhatiannya. "Hm...?"

"Biar aku membantumu membawakannya, Arcy." pinta Dirak.

"Te- Terima kasih, Dirak." balas D'Arcy.

–Dengan sebuah senyuman dan blush diwajahnya.

"Ho, sepertinya ada yang tidak beres disini." gumam James dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Flashback end..

"Menarik, ada yang mereka sembunyikan sepertinya." kata Eudo.

'Not' his Ancestor.

Xeniel mempunyai sebuah kekuatan untuk mengetahui siapa leluhur dari seseorang. Namun dia memutuskan untuk tutup mulut soal kekuatannya yang satu ini karena tak akan ada orang yang percaya dengan hal tersebut. Memang hanya ada beberapa orang yang baru dia ungkapkan siapa mereka di masa lalu. Tapi, itupun tetap dirahasiakan oleh orang yang ia ceritakan siapa mereka.

–Kecuali Tulen; Ia mempercayai semua perkataan Xeniel karena tau Xeniel tidak pernah berbohong sama sekali.

Untuk kasus Tulen agak berbeda, ia sudah hidup sejak lama; walaupun, dia terbilang lebih muda ketimbang Xeniel dan posisi mereka juga berbeda jauh dan tak mengingat apapun soal kehidupan lamanya

(Xeniel hanya dibagian Pelindung Kuil, sedangkan Tulen sebagai Penasihat Kuil.)

'Seorang Perdana menteri? Tidak buruk.' ucap Tulen.'

Dia juga seorang Ahli Strategi perang sebuah kerajaan, sampai ia dijuluki sebagai 'Naga yang Tertidur'. sambung Xeniel.

Ada pula yang cukup menarik bagi Xeniel, salah satunya seorang teman sepekerjaannya, ia memakai nama seseorang padahal ia bukan keturunan orang tersebut. Mungkin, karena nama yang dipakai adalah orang yang sangat dikagumi.

"Kau tau, apa yang sedang ku pikirkan?"

"Aku bukan cenayang Xen, mana aku tau."

"Soal namamu- Ah, maaf aku rasa... kau tak akan percaya apa yang aku bicarakan." Xeniel kembali fokus ke bukunya.

"Tidak, tidak ucapkan saja, memangnya apa yang salah dengan namaku?" tanya Pria itu.

"Baiklah, apa yang aku pikirkan sekarang adalah... Kau bukan keturunan dari pria yang kau pakai namanya."

"Hanya itu? Bukan sebuah masalah besar." balas Pria itu santai.

Xeniel memijat keningnya dan menatap pria itu, 'Aku tau Lu Bu, walaupun kau memakai namanya dan rupamu sangat mirip dengan dia. Tapi, kau itu keturunan Cao Cao murni bukan Lu Bu.'

Annoying Friend

"Selamat Hari Valentine, Kaz." Harada memberikan sebuah hadiah valentine ke Kazuma, tentu hadiah itu membuat Kazuma bingung karena itu sebuah Palu; iya, Bukan Coklat atau bunga, tapi sebuah Palu!

"Kenapa kau memberikan aku sebuah Palu!?" Kazuma yang baru selesai latihan kebingungan diberikan palu oleh Harada.

'Padahal aku maunya roti melon...'

"Haha, Bingungkan! ini hadiah mu yang benar!" Harada menunjukan sebuah kantung makanan berisi banyak roti melon. Kazuma langsung merebut kantung tersebut dan melahap sebuah roti melon kesukaannya.

"Makasih..."

"Ka.zu.ma.do.no~" Seseorang meniup leher Kazuma dari belakang, kontan Kazuma menengok kebelakang.

"Bisakah kau tak melakukan itu!" keluh Kazuma.

"Hee~ Maaf.Maaf."

"Ah, Seijuro-dono, kapan kau datang? sepertinya, tak ada yang masuk lewat pintu depan." tanya Harada bingung.

"Aku loncat lewat pagar belakang, ah maaf tadi saat mendarat tak sengaja aku menjatuhkan sebuah bonsai milikmu, Kaz-"

Bugh!

"Lain kali bisa lebih sopan dikit masuk ke rumah orang!" Seru Kazuma setelah memukul. "Tuman!"

Gulat?

"Jadi, semalam aku merasa aneh." ucap Frans sembari memakan bekalnya. "Gegara ngantuk malah salah buka pintu, malah pintu kamar ayah yang aku buka."

"Oh, terus." balas Nigou yang tidak peduli. "Arthur, Jangan ambil daging bekalku!"

"Aku bingung, kok mereka bergulat di kasur tengah malam seperti itu."

Nigou dan Arthur berhenti makan mendadak karena terkejut dengan perkataan Frans barusan.

"Hee, aneh ya.." balas Flore.

"Siapa juga yang mau bergulat di tengah malam seperti itu?" komentar Ney.

"Orang dewasa terkadang aneh ya." sambung Della.

"Nah, aneh kan..."

"Nigou, Arthur? kok beku gitu?" tanya Ishar.

"A- Beku!? E- Enggak kok." balas Arthur dengan gugup.

'Aku tidak yakin, itu gulat Frans–' gumam Nigou yang shok mendengar cerita Frans barusan. (Nigou tahu karena dia sudah dua kali kejadian melihat orang dewasa di keluarganya 'Dua orang Bapak' dan 'Dua orang Kakek' sedang *Ena-Ena)

Semalam...

Kriett...

"Ah, bukan kamar mandi..."

"Ayah? Papa? sedang apa?" tanya Frans polos, dirinya masih sangat mengantuk jadinya tidak terlalu fokus dengan apa yang dia lakukan.

Eudo dan James menatap Frans dengan gugup, "E- Eeh, bergulat."

"Hmmh... Baiklah." Frans menutup kembali pintu kamar mereka berdua.

"James, lain kali jangan lupa dikunci ih!" Keluh Eudo, "Kalau Frans sadar kan nggak enak!"

Jarang Nonton tv

Sambungan dari chap GCS yang baru...

"Nigou?"

"Hmmm?"

"Kau tau banyak soal 'Lupinranger v Patranger?'" tanya Ishar."Yah... aku memang tau, tapi tidak banyak. Jarang nonton TV di rumah kalau malam-malam." Ucap Nigou disela mengerjakan tugas miliknya.

"Kamu ngapain aja kalau malam?" tanya Flore.

"Belajar dari selesai makan malam dari jam, setelah belajar main game sampai papa datang buat ambil piring dan gelas."

"Ambil piring dan gelas?" tanya Frans.

"Oh, lupa. Setiap 1 jam saat belajar, pasti Ayah bakalan datang ke kamar buat kasih makanan kecil."

Old Friend

"Apakah, kedai ini masih buka?" Seorang pria datang ke kedai Yamagi sangat larut ketika ia hendak menutup kedainya.

"Maaf Tuan, kami sudah tutup." balas Yamagi.

"Ah, Begi- tu ya.. Maaf mengganggu."

"kenapa... Sepertinya aku mengenalnya...' gumam Yamagi

Kruyuuuukkkkk~

"Kau bisa makan dulu mungkin, sepertinya kau sangat kelaparan." pinta Yamagi, ia tak tega melihat pria itu kelaparan pergi begitu saja. Ia juga belum makan malam, mungkin dia bisa mengobrol dengan pria ini sebentar lalu pulang.

"Te- Terima kasih."

Lalu...

"Ini, makanlah." Yamagi memberikan semangkuk Udon ke pria tersebut. Mengobrol sedikit mungkin tak apa, apalagi orang ini seorang pengelana jadi, lumayan mendengar cerita perjalanannya pasti. Begitu mangkuk ditaruh, pria itu segera melahap makanan yang ada dengan cepat. "Hei, pelan-pelan, nanti tersedak."

"Dan buka topimu, akan susah makan seperti itu."

"Ah, Iya..."

Yamagi terkejut melihat penuh pria tersebut, pantas ia mengenalinya karena pria tersebut adalah seorang samurai kawan lamanya.

"K- Kau-"

"Lama tak bertemu, kawan..."

–Miyamoto Musashi.

"Musashi! Ya ampun, aku merindukanmu!" Yamagi memeluk erat Musashi. Ia benar-benar merindukan sahabat samurainya ini.

"Hehe.. Iya-iya–"

Kruyuukkkkkkk~

"Ah, Maaf.."

"Kau masih lapar, akan ku buatkan makanan lagi."

Worthy James.

"Panggil Mjöllnir deh James..." James langaung terdiam dengan ucapan Eudo barusan, ini emang sengaja mancing atau dianya lagi nggak bener lagi kepalanya.

"Uhh.. Eudo, kita sudah membicara ini beberapa ka-"

"Ya, Papa?" Frans langsung datang kesebelah Eudo.

"Ah, Tolong kau ke Minimarket. Tanya ada Bumbu masak kare apa nggak, kalau ada beli 2." Eudo memberikan Frans uang 50 ribu untuk membeli bumbu tersebut, "Sisanya kau jajanin saja, tapi bagi dengan Della."

"Baik, Pa!"

"Kau kira, aku menyuruhmu memanggil Palu Thor apa James?" tanya Eudo setelah Frans pergi.

"Ya, Aku kira kau lagi kenapa-napa tiba-tiba menyuruh panggil Mjöllnir beneran." balas James dengan tawa kecilnya.

"Emangnya kau yang terpilih apa, bisa manggil Mjöllnir sama ngangkatnya?"

"Kali aja bisa, Haha." James mengulkan tangannya ke arah sebuah Miniatur Palu Thor (yang dibeli Eudo buat bercanda dan bagian dari kostum Thornya.)

"Lucu, kali aja Mjöllnir beneran da-"

Grep!

"Lihatkan, beneran datang." potong James. Rudi kehabisan kata ketika melihat sebuah palu terbang ke tangan James. Tapi, ada yang aneh karena Miniatur tersebut tidak pindah dari tempatnya, terus palu siapa yang ada ditangan James, "James..."

"Lebih baik, kembalikan ini ketempat semulanya."

"James!"

"Tak perlu berteriak Eudo."

"Itu, bukan Mjöllnir yang kita punya!"

"Hah!?"

"Lihat!"

"Eh!?"

"Anu, Bisa meminta benda itu kembali?" sang pemilik Mjöllnir yang asli mendadak muncul dibelakang mereka.

"Eeeeeh!"

Flashback end

"Jadi, sekarang gue sibuk ngurusin Dewa Petir Nyasar ke Rumah. Dia minta tempat tinggal sama makan." keluh Eudo.

Kazuma Really Love Melon Bread.

Kazuma sangat menyukai Roti Melon, bahkan dia bisa menghabiskan 30 potong Roti Melon dalam satu hari. Pasalnya, dia hampir memakan roti melon setiap setelah makan siang (ditemani oleh segelas teh) dan itu dilakukan setiap hari. Namun juga, Roti Melon bisa dijadikan sebuah sogokan buat dirinya ;Tak berlaku kalau kau dibenci oleh Kazuma.

"Kaz, Makan siang berdua, mau?" ajak Harada.

"Nggak, aku lebih memilih latihan ketimbang jalan-jalan berdua denganmu." tolak Kazuma yang hendak memulai latihannya.

"Kita beli Roti Melon, aku yang bayar."

"Ayo, Berangkat." Dengan sekejap, Kazuma sudah rapih kembali, matanya juga berbinar-binar.

'Haa, selalu dapat dibuat bujukan.' gumam Harada.

Kemudian...

"Waa.. Kau membelinya sangat banyak ya..." Ucap Harada yang terkejut melihat beberapa dua kantung penuh dengan berbagai macam roti melon. "Kau membeli 40 buah, bisa habis?"

Kazuma hanya mengangguk, "Mungkin saja nanti mereka minta, makanya aku beli banyak."

"Heee.. kau siaga ya kalau soal roti melon- Loh Kaz?" Harada melihat kesebelahnya dan Kazuma mendadak menghilang.

"Lima Es Krim Roti Melonnya; Satu Matcha, Satu Vanila, Satu Almond, Satu Pistachio, dan Satu Coklat Mint."

"Hoi!"

Kemudian...

"Wow, Enak juga!" Kata Kazuma setelah meghabiskan empat buah Roti Melon dan Es Krim yang ia beli barusan; satu yang rasa Vanila terlalu manis untuknya sehingga ia berikan ke Harada.

Terkadang Kazuma cukup aneh ketika sudah melihat sebuah roti melon, terkadang ia mencoba membuatnya menjadi roti isi. Ketimbang menggunakan Roti tawar sebagai rotinya.

"Kakek, apa aku boleh–"

"Jangan Habiskan Yakinikunya!" seru Kazuma.

Tartagus terpaksa mengambil sedikit Yakiniku buatan Kazuma yang tersisa. Kalau boleh jujur, Yakiniku buatan Kazuma lumayan enak walaupun sederhana. Mungkin, karena efek masak sendiri ketimbang beli. Sebenarnya, ia agak bingung kenapa Kazuma menyuruhnya mengambil sedikit saja, dan menyisakan Yakiniku yang tersisa.

Tapi, akhirnya dia tau alasannya setelah melihat Kazuma melahap sebuah roti melon yang dibuat seperti sandwich, namun isinya berupa sisa Yakiniku yang Kazuma buat. Dan setelah itu, Tartagus melihat beberapa kali Kazuma mengubah Roti melon yang ia beli, seperti digunakan sebagai roti dari Mie Goreng, Burger, French Toast, dan masih banyak lagi.

Pirate-Cat-Boy.

Tadi Pagi...

"Namaku, Atab (Bukan dari Geledek ye.) salam kenal!"

'Bersemangat sekali dia...' gumam Nigou.

'Dia Kucing... Tapi, Kenapa baunya Laut?' kata Arthur.

'Jangkarnya Besar ya...' komentar Flore.

Sekarang...

"Kau selama ini tinggal di Laut dan Pantai?" tanya Nigou.

"Iya, Aku baru tinggal di kota baru-baru ini saja." Ata melihat Flore yang mengintip bekalnya dari tadi. "Kau mau?"

"Ikan milikmu besar ya, ini ikan apa?" tanya Flore. "Kok kayak Ada paruhnya?"

"Ini ikan Kakak Tua, aku yang tangkap sendiri. Kau mau coba?" Flore mengangguk dan Atab memberikannya langsung 1 ekor ikan Kakak tua tersebut ke Flore bahkan ukuran ikannya melebihi ukuran kotak bekal Flore.

"Woah, Besarnya! Makasih Atab!"

"Hehehe!"

'Kucing...' ujar keempat anak lainnya.

Tigwild dari kejauhan hanya melihat adegan teraebut dengan rasa membara di hatinya.

Dah lah, Segitu aja