Harry Potter milik JK. Rowling, TLOTR milik JRR. Tolkien dan The Chronicle Of Narnia milik CS Lewis. Penggunaan karakter hanya bagian dari Fanfiction ini. Alur cerita oleh saya. Beberapa cerita Harry Potter - TLOTR - Narnia mungkin akan sesuai dengan karya yang dimaksudkan, karena ini ...
Selamat Membaca ..
BAB 1
Udara terasa hangat di kulitnya, sinar matahari walaupun terik tapi tidak membuatnya terganggu, Dia menyukai sensasi panas yang membakar dan ditambah angin kencang di sekelilingnya. Rambut ikalnya yang pendek hingga di bawah telinga, terlihat berkibar terkena angin. Dia menikmati saat-saat seperti ini.
Terbang membuat Miracle merasa lebih nyaman, merasa lebih aman dan bebas. Tidak peduli sepadat apapun jadwal pelajarannya, Miracle selalu selalu menyempatkan dirinya untuk terbang dengan sapu favoritnya, Silver Wings. Sapu terbang model terbaru yang sedang booming di USA, hadiah dari Ayah angkatnya, Legolas Greenleaf.
"Hoi, Mira!" Miracle mengurangi kecepatan sapunya yang dia gunakan untuk terbang mengeliling lapangan Quidditch sejak tadi, ketika dia mendengar seseorang memanggil namanya. Gadis itu menoleh dan menemukan James Sirius Potter, temannya di Tim Quidditch Gryffindor berdiri di tengah lapangan dengan melambaikan tangan untuk menarik perhatiannya. "Turun!"
Mira mengikuti perintahnya, turun walaupun dengan enggan. "Ada apa? Aku sedang mengecek arah angin di atas. Semoga besok cuaca sama sekarang, kita pasti akan menang"
Besok adalah pertandingan Quidditch antara Gryffindor dan Ravenclaw, sebelum mereka melawan Slytherin di akhir tahun ini. Mereka harus menang untuk mempertahankan Piala Quidditch yang tersimpan di ruang bersama Gryffindor. Tahun ini adalah tahun kedua Miracle bergabung di dalam tim. Berbeda dengan James yang langsung menjadi Tim inti setelah dia bergabung tahun ini, selain karena nama Ayahnya dan juga kemampuannya. Miracle memulainya dengan menjadi pemain cadangan. Padahal James berada di tahun kedua, sementara dia sendiri berada di tahun ketiga.
Menurut Ibunya, anak-anak Penyihir di Perpustakaan memang memasuki sekolah sihir lebih awal dibandingkan kebanyakan anak penyihir lainnya. Walaupun Miracle dan James memiliki usia yang sama, mereka berada di tahun yang berbeda. Inilah yang sering membuat James kesal dan membuat Miracle selalu menggodanya. Senior dan junior.
"Perubahan rencana" seru James.
Miracle mengerutkan keningnya, khawatir. Jika Owen melakukan perubahan rencana menjelang pertandingan, itu bukan sesuatu yang baik. "Kenapa?"
"McKendry terjatuh, kakinya terluka. Dia tidak akan bisa bertanding besok" ucap James, bahkan dia yakin mendengar James mendengus 'slytherin' samar-samar. Simon McKendry adalah Seeker mereka. Tanpa Seeker, Tim Gryffindor tidak akan mungkin bisa bermain besok.
"Lalu?"
"Owen bilang kau yang menggantikannya"
"Apa?! Tidak bisa seperti itu!" Miracle mengerang kesal. Owen selalu mengincarnya untuk memegang posisi Seeker yang tidak terlalu Miracle sukai. Dia lebih suka posisi Chaser yang menurutnya lebih menantang. Berputar-putar diatas hanya untuk mencari emas yang melesat cepat terasa membosankan baginya, tidak peduli sepopuler apapun posisi itu. Miracle lebih suka terbang melesat secepat angin, menangkap quaffle, menghindari bludger lalu mencetak gol. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat mendengar teriakan setiap kali mencetak gol.
Miracle pernah sekali menjadi Seeker, tepatnya pada pertandingan akhir tahun lalu. Dia menggantikan Seeker yang menghilang secara misterius dan dicurigai sebagai ulah Slytherin seperti biasanya. Dia melakukannya dengan terpaksa, karena hanya dialah satu-satunya cadangan yang tersisa. Bisa dibilang sebagian besar Tim yang bermain saat itu adalah pemain cadangan.
Saat Owen menjadi Kapten Quidditch tahun lalu, dia yang merupakan muggleborn mengatur strategi yang meniru permainan sepak bola muggle yaitu membentuk tim pemain cadangan. Awalnya dia ditertawakan Tim Quidditch dari rumah lainnya. Tapi Miracle tidak peduli dan mengambil kesempatan itu secepatnya. Karena dia membuka pencarian dari tahun kedua juga. Karena sangat jarang tahun kedua diizinkan bermain apalagi menjadi bagian dari Tim sekolah. Tapi saat pertandingan memperebutkan Piala Quidditch tahun lalu, akhirnya mereka semua paham. Mempersiapkan cadangan sangat perlu, terutama menghadapi Tim licik seperti Slytherin.
Pergantian pemain memang tidak diizinkan seperti di permainan bola, dimana pergantian dilakukan di tengah-tengah pertandingan. Tapi tetap diizinkan sebelum permainan dimulai atau wasit meniup peluit.
"Apakah tidak ada pemain cadangan lainnya?" tanya Miracle. James hanya menggeleng. "Kau?"
"Owen yakin aku tidak akan bisa melihat Snitch, tidak peduli apakah Ayahku adalah Harry Potter, Seeker termuda sepanjang abad ini. Menurutnya, aku belum terbiasa melihat dengan kaca mataku" jelas James membuat Miracle mendengus. James mulai menunjukan tanda-tanda gangguan penglihatan pada pertengahan tahun lalu. Menurutnya, ini adalah warisan turun temurun keluarga Ayahnya. Dan saat dia kembali di tahun keduanya, dia sudah memakai kacamata seperti Ayahnya. "Ayolah. Tanpa Seeker kita tidak akan bisa bermain"
"Lalu siapa yang akan menggantikan posisiku?"
"Zacharias Mumps" Miracle memutar matanya, kesal. Zach sudah mengincar posisi Chaser sejak lama. Dia berada di tahun kelima saat ini. Dia baru bisa bergabung ke dalam tim setelah Owen membuka pencarian cadangan. Dengan Kapten Quidditch sebelumnya, dia selalu gagal. James meringis padanya.
"Kenapa bukan Zach saja yang menjadi Seeker?" tanya Miracle ketus.
"Biarkan aku lulus dulu baru aku akan membiarkannya" seru seseorang, membuat Miracle dan James berbalik. Owen Halfman berjalan melintasi lapangan dengan memanggul sapu di pundaknya. "Yang benar saja, Mira. Jika Zach yang menjadi Seeker. Pertandingan tidak akan berakhir bahkan hingga dua minggu lebih. Atau kau lebih suka kita kalah?"
Miracle tertunduk layu. "Tapi, jika aku menjadi Seeker. Itu akan menjadi pertandingan yang cepat"
Kening Owen mengerut. Miracle ada benarnya. Pertandingan tahun lalu adalah pertandingan yang tercepat yang pernah tercatat di dalam sejarah Pertandingan Quidditch Hogwarts. Saat itu Miracle terbang terlalu tinggi, sementara tim yang lain bermain di bawahnya. Pertandingan bahkan belum mencapai setengah jam dan tim baru mencetak dua gol ketika Miracle tiba-tiba menukik lalu mengangkat tangannya dengan Golden Snitch yang berada di genggamannya.
170 : 0 untuk Slytherin dan hal itu membuat seluruh Tim Slytherin marah besar. Tidak ada catatan dalam sejarah Tim Slytherin mereka mendapatkan angka nol dalam pertandingan manapun. Miracle sendiri tidak menyadari bahwa dia mengakhiri permainan dengan terlalu cepat. Terbang di atas dan memfokuskan pada pencarian Golden Snitch membuatnya tidak menyadari berapa lama waktu berlalu. Atau mungkin dia tidak bisa merasakan waktu berjalan di sekelilingnya seperti yang kadang-kadang dirasakannya.
Gryffindor, bagaimanapun bersorak gembira karena memenangkan Piala Quidditch. Mengabaikan singkatnya pertandingan yang berlangsung. Owen sejak saat itu memutuskan menjadikan Miracle sebagai Seeker, tapi ditolak gadis itu mentah-mentah. "Yah, cobalah untuk melihat skor sebelum kau menangkapnya, atau kau tunggu aba-aba dariku"
Miracle masih terlihat enggan. "Ayolah, Mir. Hanya kali ini, aku janji" ucap Owen. "Jika kita kalah di permainan ini, Piala akan berpindah dari lemari kaca kita"
James dan Owen menghabiskan sore itu untuk membujuk Miracle. Bahkan anggota tim yang lainnya pun ikut bergabung dengan mereka berdua. Mereka memintanya berdiri di depan lemari kaca, memperlihatkan Piala Quidditch yang sudah tersimpan disana semenjak Harry Potter menyelesaikan tahun ke tujuhnya. Melihat bahwa keberadaan Piala di dalam lemari itu juga adalah perjuangannya tahun lalu. Miracle akhirnya mengangguk setuju. Kepuasan yang aneh baginya, setiap kali melihat piala dan mengetahui bahwa dia ambil bagian dalam memperolehnya membuat Miracle selalu bersemangat.
.•°\ ❄🌺 🌺❄ /°•.
Seruan dukungan tim yang bertanding terdengar memenuhi lapangan Quidditch. Slytherin hari ini sengaja mendukung Ravenclaw mengalahkan Gryffindor, karena jika mereka menang, maka akan sangat mudah bagi tim Slytherin mengalahkan mereka nantinya. Hufflepuff sendiri memihak Gryffindor seperti biasanya, walaupun sebagian lainnya, memihak Ravenclaw.
"Jauh lebih berangin dari kemarin" seru Owen menatap langit yang bersinar terik. Keringat bahkan sudah terlihat di keningnya. "Mira, cobalah terbang tidak terlalu tinggi" ingat Owen. Owen menatap gadis berambut pendek itu yang mengangguk sambil mengikat sabuk di lengan dan di sepatunya. Owen melihat gadis itu memasukan beberapa benda di jubah Quidditch yang membuatnya penasaran. "Apa itu?"
"Coklat kodok, kalau-kalau aku bosan sendirian di atas atau kelaparan" jawabnya cuek.
James Potter yang berdiri di belakangnya terkikik geli. Mengangkat bahu saat melihat Owen menatapnya penuh tanya. Miracle memang tidak seperti anak cewek kebanyakan yang ada di Hogwarts. Para cewek berlomba-lomba untuk terlihat cantik bagi anak cowok. Mereka lebih sering membahas tentang sihir atau ramuan kecantikan dibandingkan Quidditch.
Miracle sendiri hanya menanggapi dengan cuek jika ada anak cewek yang mengeluhkan penampilannya atau sikap cueknya terhadap perawatan diri. Dulu saat pertama kali Miracle tiba di Hogwarts, dia memukau semua orang dengan wajah cantik sepucat bulan, rambut hitam ikal panjang menjuntai hingga pinggang. Tapi saat Owen menjadi Kapten Quidditch dan Mira ingin bergabung, gadis itu kembali di awal tahun kedua dengan sapu terbang barunya. Yang mengejutkan para pria adalah, kulit kemerahannya serta rambut ikalnya yang dipotong pendek sebahunya.
Miracle mengatakan dia menghabiskan liburan panasnya dengan berlatih terbang di rumahnya. Karena itulah kulitnya menjadi lebih gelap, karena dia selalu lupa memakai sunblock. Bibinya yang bernama Rosella bahkan mengirimkan howler minggu pertama awal tahun ketiganya ini karena Miracle meninggalkan sunblocknya dirumah. Menjeritkan bahwa seorang wanita seharusnya memperhatikan kesehatan kulitnya, diikuti tentang kanker kulit dan sebagainya. Anak-anak cewek mendukung Bibi Rosellanya dan ikut memarahi Miracle, yang saat itu menunduk pasrah.
"Kau tidak akan pernah dapat kencan jika terus menerus seperti itu" ucap James. "Gadis-gadis berdiet dan menghindari coklat dan panas. Kau -" James menunjuk tubuh Miracle.
"Siapa yang tertarik dengan kencan" sembur Miracle. "Aku hanya peduli pada Quidditch dan terbang" cibir Miracle, meraih sapu terbangnya, "Jika aku tidak dapat teman kencan untuk Hogsmeade ku, kan masih ada kau?" Miracle menggunakan ujung sapunya untuk mengancam James yang memasang gaya ketakutan.
"Sudah-sudah, ayo keluar" seru Owen menggeleng-gelengkan kepalanya melihat juniornya. "Pertandingan dimulai sebentar lagi"
Owen sebagai Kapten Tim Quidditch berjalan menghampiri Madam Hooch yang menjadi wasit mereka, Kapten Tim Quidditch Ravenclaw juga melakukan hal yang. Sementara anggota tim yang lain langsung menaiki sapu mereka dan terbang ke posisi masing-masing. Dan Miracle sendiri terbang ke posisi yang jauh lebih tinggi.
"Ayo Miraa! Hajar mereka untuk kami!" Miracle menoleh ke arah teriakan itu, menemukan Professor Longbottom berteriak menggunakan mikrofon penyihir yang seharusnya dipegang oleh Adela, moderator dari Hufflepuff. Professor Longbottom sendiri meringis malu saat dia mendapatkan tatapan tajam dari Kepala Sekolah.
"Mira! Mira! Mira!" teriakan dukungan lain terdengar. Membuat Mira tersenyum senang.
Dilihatnya anak-anak Gryffindor begitu semangat, sehingga hari ini mereka bahkan membawa singa raksasa yang berdiri di atas stadion mereka, alih-alih topi singa yang mengaum yang menjadi maskot mereka. "Apakah itu singa asli?" tanya Mira pada dirinya sendiri. Dia menatap singa itu untuk beberapa saat, tetapi kemudian dia tersentak saat mendengar peluit diperdengarkan dan permainan dimulai.
Gryffindor memimpin dengan bagus sejak awal pertandingan yang membuat sorak-sorakan terdengar membahana dari stadion Gryffindor, James berhasil mencetak gol di menit pertama. Membuatnya melambaikan tangannya dengan sombong. Ketika dia mencetak gol kedua dan ketiga kalinya, Miracle harus memutar matanya saat dia menari-nari sombong dari atas sapunya.
Tapi mereka tidak bisa meremehkan Ravenclaw begitu saja. Karena setelah itu mereka berhasil menyusul skor mereka. Langit menjadi sangat terik semakin lama mereka bermain. Miracle sendiri sudah tidak tahan ingin segera menangkap Golden Snitch, tapi Owen sudah memperingatinya bahwa Mira baru boleh mencari Snitch setelah skor mereka di atas 200 point, sedangkan saat ini mereka baru mencapai 140 point dan Ravenclaw 120 point. Mereka menang tipis.
"Apa yang terjadi? Kenapa anginnya mulai kencang?" tanya Zach yang kebetulan terbang di sampingnya. Mira hanya menggeleng, dia lalu terbang ke arah berlawanan dengan Zach, ketika bludger terbang menuju tempat mereka terbang.
Mira memperhatikan bludger yang dikirim Ravenclaw menabrak teman satu tim mereka sendiri, hingga kapten mereka berteriak marah-marah pada Beater mereka. Mira memutuskan terbang lebih rendah saat angin mulai terasa kencang di sekelilingnya.
"Owen. Sepertinya akan ada badai" teriak Miracle.
Owen menengadah, menatap langit yang mulai terlihat berubah menjadi abu-abu, tapi anehnya udara terasa menyengat di kulitnya seperti panas matahari yang sangat terik. "Kurasa, dapatkan Snitchnya" perintah Owen.
"Oke, pastikan skor kita tetap diatas" ucap Mira. Owen mengangguk lalu melihat Mira terbang melesat dengan kecepatan yang hanya akan membuat dia mendapatkan omelan dari Kepala Sekolah nantinya.
Walaupun mereka unggul terus menerus, Ravenclaw terus mengejar skor mereka, membuat jarak mereka semakin menipis. Miracle berputar-putar mengelilingi lapangan beberapa kali, dari sudut matanya, dia bisa melihat Seekers Ravenclaw membuntutinya dari belakang.
Singa raksasa yang tadi berdiri di atas stadion Gryffindor sekali lagi terlihat, hanya saja kali ini dia duduk di puncak stadion para guru. Matanya yang besar menatap Mira tajam. Membuat Mira tersentak bingung saat dia melewatinya. Saat Mira memutuskan berbalik untuk melihatnya sekali lagi, singa itu menghilang. Tapi dia melihatnya lagi tidak lama kemudian di atas stadion Ravenclaw dan Slytherin, melihatnya terbang.
"Apa-apaan itu tadi?" desis Miracle kesal. Dia mulai merasa tidak nyaman, seolah-olah Singa itu berada disini untuk mengawasinya kemanapun dia bergerak.
"Mira! Apa yang kau lakukan?" teriak James mendekatinya saat dia melihat Miracle terlihat pucat dan kebingungan.
"Aku melihat singa besar dari tadi, mengawasiku!" Miracle membalas James dengan teriakannya juga.
"Mungkin mereka hanya atribut yang dibuat anak-anak Gryffindor. Abaikan dia!" seru James.
Miracle menatap sekelilingnya lagi lalu mengangguk. Dia terbang setelah James meninggalkannya. "Baiklah Mira, abaikan Singa aneh itu" bisik Mira pada dirinya sendiri.
Dia melihat kilatan keemasan di ujung lapangan, dia entah bagaimana harus bersyukur dengan matanya yang tajam yang tidak normal menurutnya. Dia bisa melihat sesuatu dengan jelas dari jarak jauh. Jika Mellody yang melakukannya, dia akan berkata hal itu normal, karena Ayah seorang Elf yang dikenal memiliki mata dan pendengaran yang sangat tajam. Tapi Mira bukan separuh Elf seperti Mellody. Dia hanyalah anak perempuan biasa, hanya anak manusia.
Dari jauh, Mira bisa melihat Golden Snitch terbang dan bergerak sangat cepat. Sebentar di sana, sebentar disini. Sesaat di bawah ring lawan, lalu berpindah ke sisi stadion lain. Seekers Ravenclaw sepertinya menyadari Miracle sudah melihat Golden Snitch sehingga dia memutuskan mengekori Miracle terus menerus.
"Teruslah kejar aku, bocah" desis Miracle, "Tapi aku yang pasti akan menang" ucap Miracle dengan senyum kemenangan. Golden Snitch berada di depan stadion Ravenclaw, yang membuat Mira tersenyum senang. Mereka akan melihat dia menang, tepat didepan mata mereka sendiri, pikirannya.
Miracle melepaskan salah satu tangannya dari cengkramannya pada gagang sapu, mengulurkan kedepan untuk meraih Golden Snitch, sedikit lagi. Tapi apa yang dilihatnya di atas stadion Ravenclaw membuat matanya terbelalak.
Singa itu muncul dengan langkah dengan anggun dari belakang anak-anak Ravenclaw. Lalu menuruni tempat duduk dengan perlahan. Anehnya tidak satupun anak-anak Ravenclaw menyadari keberadaan singa itu. Lalu Singa itu mengaum dengan sangat kencangnya tepat saat Miracle mendapatkan Golden Snitch.
Miracle tersentak, tidak hanya karena auman Singa yang mengejutkannya, tapi juga rasa sakit yang menimpanya. Bludger menabraknya saat dia sedang lengah. Membuatnya terjatuh dari sapunya. Tangan Miracle berpegangan erat pada sapu kesayangannya, sementara tangannya yang lain memegang Golden Snitch dengan sangat erat. Ketika dia meluncur turun, bumi terasa menyedotnya dengan sangat kuat.
Dia membayangkan dirinya jatuh dan mati. Orang tuanya akan menangis, Mellody pasti akan mengurung dirinya seperti saat dulu dia kehilangan salah satu temannya. Dia bisa mendengar suara teriakan James dan Owen serta teman-temannya yang lain. Tapi saat dia semakin jatuh, suara-suara perlahan menghilang hingga tiba-tiba dia merasa tubuhnya menghantam ranting-ranting pohon hingga mendarat di air.
Air?
Butuh waktu cukup lama bagi Miracle saat dia menyadari dirinya terjatuh di dalam air. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Hanya ada pasir di bawah lapangan, dan seingatnya dia terlempar hingga keluar perbatasan lapangan. Tapi bahkan tidak ada air di sekitar lapangan, apalagi anak sungai.
Miracle mengerang kesakitan, merasakan sakit di lengan kirinya. Dia nyaris pingsan karena rasa sakit, tapi kesunyian yang familiar membuatnya tetap sadar. Suara gemericik air, suara jangkrik dan burung, dan suara-suara lainnya yang menenangkan terdengar seperti seolah-olah dia berada di tengah hutan Lim Aear. Kerajaan Elf yang dibentuk oleh Ayah angkatnya.
Miracle mendongak, untuk mengetahui tempat dimana dia berada. Melihat bahwa dia benar-benar berada di tengah hutan, dan dia terjatuh tepat di anak sungai yang agak dangkal. Miracle meletakkan sapu terbangnya saat dia mencoba untuk bangun. Lengannya yang terluka membuatnya susah untuk bangun tanpa membuatnya merasa sangat kesakitan. Ketika dia berhasil bersimpuh, Golden Snitch yang digenggamnya sejak tadi, terlepas lalu melayang di hadapannya sesaat sebelum akhirnya melesat kabur. Mirisnya, sapu terbang Miracle memilih mengikuti Golden Snitch, melesat meninggalkannya sendiri di tengah hutan yang tidak dikenalnya.
"Bagus, tinggalkan aku sendiri" desis Miracle, meringis kesakitan saat nyeri di lengan kirinya. Mellody mencoba berdiri dan merasakan nyeri yang sangat dari salah satu pergelangan kakinya dan membuatnya terjatuh hingga tertelungkup lagi. Tapi dia memutuskan tetap berusaha berdiri dengan sedikit menyeret dirinya ke arah batu besar.
Bersandar dengan bebatuan yang, Miracle meraba sepatu boot Quidditch Nya, mendesah lega saat merasakan sensasi ukiran tongkat yang tetap berada ditempatnya. Setidaknya, tongkat sihirnya tidak kabur darinya, pikir Miracle. Gadis itu menarik tongkat sihirnya, lalu mengarahkannya pada pergelangan kakinya, mengucapkan pesona penyembuhan yang sudah dihafalnya dengan baik. Memiliki adik yang terobsesi dengan penyembuhan ternyata ada untungnya sekarang. Tapi dia tidak mengira, menyembuhkan kakinya yang terkilir akan begitu sakitnya. Mellody bisa dengan mudah menyembuhkannya tanpa rasa sakit. Tapi dia, dia membuat dirinya menjerit di tengah hutan saat proses penyembuhan terjadi.
Miracle memutuskan menunda penyembuhan lengannya, karena dia yakin penyembuhan lengannya pasti lebih menyakitkan daripada proses penyembuhan kakinya. Dia mendongak sekali lagi untuk mencari tahu dimana dia berada. Dan mencari tempat yang lebih aman karena dia tidak ingin tahu apa yang tinggal di dalam sungai, karena entah bagaimana dia merasakan sensasi diawasi dari sekelilingnya.
Tapi, pertahanannya runtuh ketika rasa sakit di lengannya bertambah kuat. Miracle bersandar di cekungan akar pohon untuk beristirahat. Saat duduk itulah dia menyadari bahwa kantongnya berbunyi dentingan halus. Miracle merogoh sakunya dan tertawa gembira saat melihat coklat kodok dan juga kantong tas obatnya yang berisi beberapa botol ramuan, yang selalu dibawanya di kantong jubah Quidditchnya. Sekali lagi terima kasih untuk Mellody yang selalu mengingatkannya untuk menyelundupkan sedikit ramuan setiap kali dia akan bertanding.
Miracle meminumnya lalu setelah itu perlahan rasa sakit meninggalkan tubuhnya, hanya menyisakan rasa kebas yang tidak nyaman. Miracle berharap ramuan itu cukup untuk menahan rasa sakitnya saat dia menyembuhkan lengannya. Tapi saat dia mengarahkan tongkat sihirnya lagi untuk memberikan pesona penyembuh. Rasa sakitnya masih sangat kuat, membuatnya menjerit hingga kesadaran nyaris menghilang darinya.
Miracle terjatuh ke tengah cekungan pohon dan terbaring di sana, samar-samar auman singa kembali terdengar, mengangkat rasa sakit di seluruh tubuhnya, dan menyisakan rasa lelah yang luar biasa. Kegelapan perlahan menyelimutinya, yang anehnya dia tidak merasakan ketakutan, tapi ketenangan.
.•°\ ❄🌺 🌺❄ /°•.
Sementara itu di sisi lain hutan,
Dua orang pria muda terlihat bertarung. Pakaian mereka terlihat seperti baju ksatria pada zaman Merlin dan Arthur. Terbuat dari kulit dan besi. Masing-masing membawa pedang yang terlalu besar untuk genggaman mereka sendiri. Pertarungan terus terjadi hingga pemuda berambut coklat berhasil menjatuhkan pedang pemuda berambut hitam panjang. Pedangnya sendiri akhirnya tertancap dan menyangkut di pohon, dimana kesempatan itu digunakan oleh pemuda berambut hitam untuk menendangnya.
Pemuda berambut hitam itu berusaha meraih pedang yang tersangkut, sementara yang lainnya meraih batu besar untuk memukul pemuda berambut hitam hingga teriakan kecil terdengar.
"Tidak, berhenti!" ucap salah satu gadis yang memperingati saudaranya, pemuda berambut coklat bahwa mereka telah dikepung oleh Centaurus, Minotaurs dan kurcaci.
Si pemuda menatap sekelilingnya dengan penasaran, lalu berbalik menatap Pemuda berambut hitam yang berhasil menarik pedangnya dari pohon. "Pangeran Caspian?" tanyanya.
"Ya? Dan siapa kamu?" tanya Pemuda berambut hitam panjang, yang bernama Pangeran Caspian.
"Peter!" jeritan lain terdengar, kali ini suaranya terdengar jauh lebih dewasa dibandingkan gadis kecil tadi. Si gadis yang lebih dewasa, berdiri disamping gadis kecil, di belakangnya menyusul pemuda yang terlihat jauh lebih muda dari Pemuda berambut coklat.
Caspian menatap keempat orang asing yang semuanya berambut coklat, Dia melihat panah dengan bulu merah pada gadis yang lebih dewasa, lalu melirik pedang yang ada di genggamannya. "Raja Tinggi Peter" ucapnya. Meyakini bahwa pemuda yang diajaknya bertarung adalah salah satu dari empat Pevensie bersaudara. Raja dan ratu tua Narnia. Peter, Susan, Edmund dan Lucy Pevensie.
"Aku percaya kamu yang memanggil" Peter tersenyum padanya.
Caspian yang sedikit bingung berbicara tanpa sadar. "Ya, tapi… aku pikir kamu lebih tua" ucapnya.
Peter mendongak, menatapnya sebentar. "Jika kamu suka, kami bisa kembali beberapa tahun lagi…"
"Tidak!" potong Caspian saat menyadari kesalahannya. "Tidak apa-apa, kamu hanya… Kamu hanya tidak seperti apa yang aku harapkan" Ucapnya lagi, menatap tiga orang lainnya lalu terpaku pada gadis yang lebih tua.
"Begitu juga kamu…" ucap pria yang lebih muda dari Peter, Edmund menatap minotaur dan dwarf dengan pandangan curiga.
Pada saat itu, luwak yang menangkap pandangannya, memutuskan berbicara mewakili teman-temannya, "Umumnya musuh bersatu bahkan musuh tertua"
Lalu tiba-tiba seekor tikus yang agak besar, muncul di antara semak-semak. "Kami sangat berharap menunggu pengembalian jaminanmu. Hati dan pedang kami siap melayanimu" ucapnya lalu membungkuk memberikan hormat pada Peter.
"Oh Tuhan, dia sangat imut" bisik Lucy pada kakak perempuannya.
"Siapa yang mengatakan itu?" bentak si tikus menarik pedang mungilnya.
"Maaf" ucap Lucy menunduk malu.
SI Tikus tergagap saat menyadari bahwa pujian yang dianggapnya sebagai penghinaan ternyata datang dari Ratu termuda, dengan segera memberikan rasa hormatnya "Yang mulia, dengan rasa hormat" ucapnya. "Saya percaya 'keberanian', 'ramah' atau 'ksatria' mungkin lebih cocok untuk seorang ksatria Narnia" tambahnya, sambil kembali menyarungkan pedangnya.
"Yah, setidaknya kita tahu beberapa darimu bisa memegang pedang" puji Peter pada si tikus dan agak menyindir Caspian yang kurang pandai bermain pedang.
"Ya, memang, dan aku menggunakannya dengan baik untuk mengamankan senjata untuk pasukanmu, Tuan"
"Bagus, karena kita akan membutuhkan setiap pedang yang kita dapat" ucap Peter pada Caspian.
"Kau mungkin menginginkan pedangmu kembali" ucap Caspian, menyerahkan pedang Peter kembali. Peter meraihnya lalu menyarung kan pedangnya kembali saat tiba-tiba sebuah benda aneh yang berwarna keemasan tiba-tiba muncul dan terbang di antara dirinya dan Caspian. Tapi, tidak lama benda itu menghilang secepat kemunculannya. "Apa itu tadi?"
Caspian menggeleng bingung, menatap sekelilingnya untuk mencari benda keemasan yang melesat cepat. Belum pulih keterkejutan mereka, benda lain muncul dari arah belakang Lucy dan Susan. Terbang dengan anggun melewati Caspian dan Peter.
"Apa itu sapu yang - terbang?" celetuk Lucy.
Susan dan Edmund mengangguk terkejut sekaligus terpesona saat melihat sapu terbang memutar di sekeliling mereka. Menyenggol-nyenggol minotaur dan juga kurcaci dalam prosesnya lalu menghampiri Caspian dan Peter.
"Kurasa dia ingin kita mengikutinya" ucap Lucy, sapu terbang itu sepertinya memahami ucapannya lalu beralih terbang ke arahnya. Setelah menyenggol-nyenggol beberapa kali, sapu terbang meninggalkannya.
"Apa sekarang?" tanya Edmund.
"Apa lagi? Ikuti dia" teriak Peter yang lebih dulu melompat mengejar sapu yang terbang meliuk-liuk di antara pepohonan.
Mereka berlari mengejar sapu yang tidak memperlambat terbangnya, mereka harus melewati dahan dan ranting tumbuhan yang merintangi mereka. Dibelakang mereka centaur, minotaurs, dwars, musang dan tikus ikut berlari mengikuti mereka. Bersyukur bahwa mereka mengarah ke hutan yang jauh lebih dalam, jauh dari sungai besar tempat di mana pasukan Telmarine berada.
Sapu terbang semakin lambat, lalu perlahan berhenti hingga akhirnya benar-benar berhenti di dekat sebuah pohon. Saat sapu itu berhenti, sapu itu hanya terjatuh begitu saja seperti kehilangan sihirnya. Caspian yang tersandung akar saat dia mencoba berhenti. Terjatuh di dekat ceruk di antara akar-akar pohon.
"Siapa itu?" tanya Susan saat dia meraih sapu yang terjatuh dan menemukan sosok yang tertidur di tengah ceruk akar pohon. Sosok itu terlihat terluka, dilihat dari noda darah di dahi dan juga celana creamnya.
"Dia tidak terlihat seperti Telmarine" ucap si luwak berbicara, Trufflehunter. Menyentuh jubah berwarna merah dan sepatu bootnya. "Tidak juga Narnia".
"Dan dia masih anak-anak" sahut Nikabrik. Erangan terdengar dari sosok yang tertidur, Trufflehunter berpindah sedikit agar bisa melihat sosok itu dengan jelas.
Miracle terbangun dengan sakit kepala yang terasa membelah kepalanya, belum lagi suara-suara berisik di sekelilingnya membuat kepalanya tambah sakit. "Bisakah kalian diam, untuk satu menit saja" bentaknya tanpa sadar, sebelum akhirnya dia ingat bahwa dia tidak berada di asramanya, melainkan disebuah hutan yang jelas-jelas bukan hutan Lim Aear.
Perlahan, Miracle mencoba bangkit. Tapi pemandangan yang menyambutnya membuatnya tersentak kaget, hingga dia bergeser mundur.
"S-siapa kalian?" tanya Miracle, menatap orang-orang asing di sekelilingnya dengan panik. Dia terbelalak ngeri, melihat Minotaur dan Centaurus berdiri diantara beberapa manusia, lalu ada kurcaci kurus dan luwak besar disampingnya. "Aku tanya sekali lagi, siapa kalian" bentak Miracle, mencoba meniru suara Ayah angkatnya setiap kali menemukan penyusup di hutan, tegas dan menakutkan, sayangnya dia terlalu takut hingga suaranya terdengar bergetar.
"Kau juga, siapa kau?" tanya pemuda berambut hitam, yang menatapnya dengan agak terkejut. Mereka semua terkejut ketika melihat warna mata gadis kecil yang mereka temukan, Mata merah anggur yang anehnya tidak terlihat mengerikan tapi menenangkan.
"Aku- aku-" Miracle meraba-raba tanah di sekitarnya, mencoba mencari tongkat sihirnya. Dia ingat menjatuhkannya saat dia pingsan tadi.
"Mencari ini?"
Miracle menoleh pada sosok yang tiba-tiba muncul dan berbicara padanya dari sampingnya, matanya terbelalak saat menemukan tikus kebun raksasa yang memegang tongkat sihirnya. Seketika, dia bergeser dengan ketakutan. "Ti- tikus! -" cicit nya, lalu dia berteriak kencang yang membuat semua orang panik juga membuat si tikus ikut berteriak. Miracle bangkit dengan cepat, lalu berlari ke arah pria yang lebih tua, dan bersembunyi di punggung. "Ya Tuhan, demi Merlin. Tikus itu berbicara padaku" teriaknya.
"Merlin?" Lucy yang mengenali nama itu mendekati Miracle yang panik. "Seperti Merlin si penyihir?"
Miracle yang panik bergerak hingga membuatnya menarik Peter tanpa sadar, saat si tikus yang jauh lebih tenang berjalan menghampirinya. Mengulurkan tongkat sihirnya. Melihat gadis asing itu ketakutan, Peter berinisiatif mengambil lebih dulu.
"Siapa kalian?" tanya Miracle menatap sekelilingnya sekali lagi, beberapa Centaur dan minotaur menatapnya dengan tatapan galak, membuatnya menempel lebih dekat pada punggung Peter. "Dimana aku?"
Peter yang terlihat bingung karena ditarik terus menerus, berbalik perlahan. Sikap lembutnya sebagai seorang kakak muncul saat menatap gadis aneh yang usianya menurutnya lebih muda dari Edmund atau mungkin lebih tua sedikit dari Lucy.
"Aku Peter, ini saudara-saudaraku. Edmund, Lucy, dan Susan" ucapnya memperkenalkan dirinya dan juga saudara-saudara nya. "Lalu ini, Pangeran Caspian?"
Miracle lalu menatap pada tiga orang yang ditunjuk Peter yang disebutnya saudara. Dan juga pemuda berambut gelap. Dia mengingat nama-nama yang sudah sering dibacanya di dalam buku cerita. "Pevensie bersaudara?"
Susan dan Peter menatap satu sama lain dengan kewaspadaan. "Bagaimana kau bisa tahu nama Pevensie?" tanya Susan, terdengar agak ketus.
Miracle tiba-tiba merasakan hiperventilasi, nafasnya terengah-engah dan wajahnya memucat. Peter panik dan mencoba menenangkannya. "Katakan-" ucap Miracle dengan nafas terengah-engah. "Aku masih di Skotlandia" ucapnya dengan mata penuh harap.
"Kau di Narnia" sahut Edmund santai
"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak mungkin aku bisa berada disini. Tidak ada cara aku bisa berada di sini!" ucap Miracle panik. "Hal ini tidak mungkin terjadi!"
"Kenapa?" tanya Caspian.
"Karena itu tidak mungkin!" bentak Miracle, membuat pria berambut hitam itu melangkah mundur.
Miracle semakin panik. Bagaimana bisa dia berada di Narnia, sebuah dunia yang hanya pernah dibacanya di salah satu buku Perpustakaan. Buku yang sangat penting bagi Mamanya, hingga disimpannya di dalam lemari arsip yang dijaga dengan bangsal. Dia baru mulai membaca buku The Chronicle of Narnia saat usianya 10 tahun. Dimana Mamanya menyuruhnya untuk membaca semua seri buku selama musim panas. Yang membuatnya aneh, Mamanya bahkan menyuruhnya untuk mengulanginya lagi pada musim dingin dan juga musim panas sebelum dia memulai tahun pertamanya. Hanya pada musim panas menjelang tahun kedua dia berhasil menghindar, dengan alasan untuk belajar terbang dan ingin menjadi tim quidditch.
Miracle bahkan masih ingat bagaimana pucat wajah Mamanya saat dia kembali dari perjalanannya di Valinor. Menemukannya dengan kulit gelapnya akibat terbakar karena terik matahari. Bahkan Ayahnya harus menenangkan Mamanya yang marah karena dia memotong rambutnya.
Dia mencoba mengingat, hal-hal terakhir sebelum dia terjatuh di hutan. Menghubungkannya dengan cerita-cerita tentang Narnia. Kemudian dia mengingatnya.
Surai keemasan, dan auman yang membahana…
Singa agung Narnia…
"ASLAAAAANNNN!" jerit Miracle, suaranya yang penuh kemarahan, memenuhi hutan hingga membuat burung-burung berterbangan. Pangeran Caspian, Centaur dan Minotaur, musang, tikus dan para Pevensie menatapnya terkejut. "Kucing sialan!" desisnya.
Jika terjadi kesalaha diperbarui, mohon segera info saya. Terima kasih sudah membaca dan menunggu bagian selanjutnya
