Harry Potter milik JK. Rowling, TLOTR milik JRR. Tolkien dan The Chronicle Of Narnia milik CS Lewis. Penggunaan karakter hanyalah bagian dari Fanfiction ini. Storyline by me. Beberapa cerita Harry Potter - TLOTR - Narnia mungkin ga akan sesuai dengan karya aslinya, karena ini Fanfiction...
Selamat Membaca..
"Kau yakin, dia berasal dari dunia yang sama dengan milik kalian?" tanya Caspian pada Susan.
"Dia menyebut Skotlandia. Skotlandia adalah salah satu kota di Britania Raya, yang bersebelahan dengan Inggris Selatan. Tempat kami berasal" jelas Susan, menatap gadis kecil yang mengaku bernama Miracle Greenleaf, sebuah nama yang cukup aneh untuk orang Inggris, terlihat duduk meringkuk di sudut gua. Bahunya bergerak, karena menangis sesenggukan, tidak lagi meraung-raung seperti sebelumnya.
Para pasukan Narnia Tua, membawa keempat Raja dan Ratu tertinggi untuk berkumpul di Aslan's How. Menyembunyikan senjata-senjata hasil curian mereka dari pasukan Telmarine. Peter harus membujuk Miracle agar mau mengikutinya, ketika gadis itu memaksa untuk pergi mencari Aslan, menginginkan singa itu menunjukan jalan pulang. Setelah memberitahunya bahwa Aslan sudah lama pergi, yang membuat Miracle sangat bingung pada saat itu. Lucy akhirnya berhasil membantu Peter untuk membujuknya ikut dengan mereka. Karena pasukan Telmarine sedang mencari mereka.
Setelah tiba di Aslan's How barulah, Miracle menyadari ada yang aneh dengan peristiwa saat ini. Caspian dan pasukan Narnia Tua yang dibacanya di buku, seharusnya sudah melakukan setidaknya satu kali pertarungan dengan Raja Miraz. Kekalahan merekalah yang membuat Caspian meniup tanduk Susan. Aslan seharusnya bertemu dengan keempat Pevensie lebih dulu, dimana dia menugaskan Peter, Edmund dan kurcaci bernama Trumpkin untuk menghadapi pengkhianat dan menolong Caspian. Lucy dan Susan bersamanya membangunkan para Naiad dan pohon-pohon.
Tapi, kenapa semua berbeda disini? Bahkan dia tidak seharusnya berada disini kan? Tidak ada namanya yang tercantum di dalam buku. Bahkan walaupun Lucy mengatakan padanya bahwa Aslan pasti punya alasan memanggilnya. Miracle masih tetap tidak mengerti. Kenapa?
Buku-buku seharusnya benar, seperti yang selalu Jenkins ucapkan.
Miracle menoleh saat melihat semua orang bergerak. Si Pangeran yang sebelumnya sempat membuat dirinya terpesona, terlihat sedang berbicara dengan salah satu Ratu tertinggi. Melihat tatapan terpesonanya pada Susan, membuat Miracle mendengus tanpa sadar. Pangeran yang malang. Cinta sebelah pihak. Ah… tapi kan dia dapat Lilliandil nantinya.
Lilliandil… tentu saja, Lilliandil juga pasti berada di Narnia. Bintang biru yang selalu menemaninya setiap malam. Selalu muncul setiap kali dia memanggilnya. Miracle menemukan keajaiban bahwa dia dan bintang biru yang ada di langit selalu bisa berbincang-bincang semalaman. Mamanya mengatakan, bintang biru adalah penjaganya.
Para Pevensie melihat perubahan tiba-tiba gadis kecil yang mereka temukan. Wajahnya yang sendu tiba-tiba berbinar penuh harapan. Bahkan Edmund yakin untuk sesaat, Miracle terlihat bersinar. Mereka melihat Miracle berlari keluar Aslan's How, mengabaikan panggilan dan larangan para Centaur dan Minotaur.
"Ada apa?" tanya Susan pada Peter. Peter hanya menggeleng tapi memutuskan berlari mengejarnya. Diluar dilihatnya Miracle berlarian di halaman dengan kepala terangkat menatap langit penuh bintang. Terlihat mencari-cari sesuatu diantara bintang.
"Lilliandil! Lilliandil!" teriak Miracle.
"Siapa Lilliandil?" tanya Edmund.
Centaur yang berjalan mendekati Peter dan Edmund menatap gadis yang terlihat kebingungan di lapangan yang gelap. "Putri Ramandu" jelasnya. Centaur tentu saja penasaran, bagaimana bisa manusia mengetahui nama Putri Ramandu yang ada dilangit, sementara mereka hanya mengetahui nama dari kisah-kisah leluhur mereka. Mereka lebih mengenal sang Putri dengan sebutan Bintang biru.
Salah satu Centaur wanita yang melihat Miracle mulai meratap putus asa, berjalan menghampirinya. "Putri tidak akan turun, tanpa perintah dari Aslan" jelasnya.
"Tapi dia selalu turun dan berbicara padaku dirumah setiap malam" ucap Miracle. "Kenapa disini tidak?"
"Kami tidak tahu gadisku, keinginan Putri bintang terlalu sulit untuk ditebak" ucapnya si Centaur wanita, menuntun MIracle perlahan kembali memasuki Aslan's How.
Lucy meraih lengan Miracle saat dia mendekat. "Tenanglah, kita pasti akan menemukan Aslan, lalu Aslan akan menunjukan jalan pulang untukmu" janji Lucy.
"Tapi, kenapa aku?"
Tidak ada satupun Pevensie bersaudara yang bisa menjawab pertanyaannya. Mereka menatap satu sama lain lalu menggeleng. Centaur wanita membawa Miracle ke salah satu lorong dimana kamar peristirahatan berada, dia berbalik untuk meminta kedua Ratu tertinggi untuk mengikutinya. Hari sudah malam, dan mereka sebaiknya beristirahat.
Ketika pagi datang, Miracle memutuskan keluar lebih awal dibandingkan kedua ratu untuk meratapi dirinya. Dia mendesah menatap hutan yang berkabut. Akhirnya dia memutuskan untuk pasrah dan menerima nasibnya. Mungkin dia harus mempercayai ucapan Lucy bahwa Aslan pasti memanggilnya karena dia membutuhkannya. Walaupun dia tidak tahu apa itu.
Tapi hal lain mulai mengganggunya. Seberapa banyak bantuan yang bisa diberikannya? Apakah itu termasuk dengan memberitahukan pada mereka semua hal yang akan terjadi? Jika mereka semua tahu tentang pengetahuannya, apakah mereka akan mempercayainya atau justru mengusirnya karena berfikir dia gila atau lebih buruk lagi, mengurungnya.
Pilihan apa yang dia punya. Dia ingat setiap kali Jenkins dan Mamanya melakukan rapat dengan para wanderer sebelum memasuki buku, mereka selalu diingatkan untuk tidak ikut campur, atau hal-hal buruk bisa saja terjadi. Tapi, dia bukan wanderer kan? Dia juga tidak masuk melalui meja batu atau pintu-dunia-tanpa-batas.
"Terus aku harus bagaimana…" erangnya kesal pada dirinya sendiri, membuat Centaur muda yang berdiri untuk berjaga di dekatnya, meliriknya dan menganggapnya aneh. "Punya saran?" tanya Miracle padanya. Centaur muda itu hanya mengangkat bahunya lalu kembali menatap hamparan hutan yang berkabut.
Miracle mendesah lalu menekuk lututnya mengikuti si Centaur menatap hamparan hutan berkabut. Ditengah-tengah pikirannya yang kembali melayang untuk mengutuk Aslan, tiba-tiba saja dia melihat sosok bayangan berjubah perak. Dia tahu matanya tidak mungkin salah, Miracle berdiri dengan cepat. "Kau lihat itu?" Miracle memberitahu si Centaur muda yang sepertinya juga telah melihat hal yang sama dengannya. "Kita harus memberitahu para Raja dan Ratu"
Centaur dan Miracle berlari masuk ke dalam untuk memberikan peringatan. Centaur itu berlari ke arah kamar peristirahatan para Raja dan Ratu sementara Miracle yang pada saat itu melihat Caspian berhenti seketika. Si Centaur seperti tidak tertarik untuk memberitahu Caspian, karena saat Miracle menoleh padanya, manusia separuh kuda itu sudah menghilang di lorong. Hingga akhirnya Miracle memutuskan mendekati Caspian.
"Pangeran Caspian" panggil Miracle, membuat Caspian yang sedang berbicara dengan Nikabrik berbalik. Pangeran tampan itu menatapnya dengan penasaran ketika Miracle terdiam. Buku seharusnya menuliskan dengan jelas seberapa tampannya Pangeran Caspian, sehingga jika dia masuk kedalam buku, Miracle sudah sangat siap menghadapinya, keluh Miracle dalam hati.
"Kau memanggilku? Ada sesuatu?" tanya Caspian, Miracle hanya ternganga lalu mengerjap.
"Oh! Itu. Tadi aku melihat pasukan Miraz mengintip" jawab Miracle, sedikit gugup.
Mata Caspian terbelalak, pasukan Narnia Tua lainnya seketika bangkit mendekatinya. "Dimana?" tuntut Reepicheep.
"Di dekat hutan" jelas Miracle.
Caspian segera berlari menuju kamar Raja dan Ratu, saat itu Peter dan Edmund juga ternyata sedang berlari menuju tempat mereka berada. "Meja Aslan" perintah Peter gugup.
Miracle tidak tahu apakah perintah itu termasuk untuk dirinya. Karena biasanya hanya para orang dewasa yang berkumpul untuk membahas hal-hal penting seperti taktik perang. Dia melihat hanya beberapa Centaur, Minotaur, Kurcaci, Tikus dan Luwak yang mengikuti Peter. Tapi saat dia melihat Lucy yang ternyata mengikuti Susan, dia memutuskan mengikuti mereka diam-diam.
"Hanya masalah waktu saja. Orang-orang Miraz dan alat tempurnya sedang dalam perjalanan" ucap Peter dengan penuh percaya diri. "Sebagian pasukan mereka tidak melindungi kastilnya" tambahnya. Miracle merasa terganggu dengan sikap percaya dirinya. Entah karena dia melihat ketidakyakinan dimata Caspian atau karena dia tahu bahwa niatnya akan berakhir sangat buruk.
"Apa rencana kita, Yang Mulia?" tanya si tikus ksatria dengan semangatnya.
"Kita harus bersiap-siap…"
"Mulailah rencana untuk…"
Caspian dan Peter melangkah maju untuk berbicara bersamaan pada saat itu, menyerukan pendapat mereka yang berbeda satu sama lain. Caspian tampak agak malu dan terkejut, merasa malu karena berpikir Reepicheep memaksudkan panggilan itu untuk dirinya. Sementara Peter tampak agak kesal dan menatap Caspian dengan tatapan kerasnya.
Miracle yang semula mengintip, masuk perlahan. Bersyukur tidak ada yang menoleh untuk menyadari kemunculannya. Mungkin Caspian menyadarinya, karena dia memberikan senyuman sedihnya pada saat mata mereka bertemu atau mungkin senyuman itu untuk Susan karena dia berdiri tepat di belakang Susan.
"Satu-satunya harapan, menyerang mereka sebelum mereka menyerang kita" seru Peter.
"Itu gila" Miracle tidak bisa lebih setuju daripada itu pada Caspian. "Tidak ada yang bisa merebut kastil itu" jelasnya.
Kastil itu sudah menjadi milik keluarga Caspian selama 1300 tahun, tentu saja Caspian percaya bahwa pertahanan Kastil tidak bisa diremehkan. Tapi Peter bersikukuh bahwa masih ada yang pertama kalinya.
Trumpkin si kurcaci terlihat menyetujuinya dan berbicara. "Kita butuh unsur kejutan" ucapnya mencoba meyakinkan Caspian. Miracle mendengus, membuat Lucy menatapnya dengan tatapan bertanya. Gadis itu memalingkan wajahnya lalu duduk di dekat tiang besar, sedikit bersembunyi.
"Tapi kita punya keuntungan di sini!" ucap Caspian menatap orang-orang Narnia.
"Jika kita menggali, kita mungkin bisa menahan mereka" Susan melangkah mendekati Caspian untuk mendukungnya. Miracle bisa melihat rona merah di wajah sang Pangeran, membuatnya memutar matanya, jengkel.
Peter terlihat kesal, dan dia semakin kesal pada Caspian karena Susan mendukung Caspian, bukannya mendukung Saudaranya. "Saya, merasa lebih aman kalau di bawah tanah" Trufflehunter maju untuk menyela, membuat kekesalan Peter semakin bertambah.
"Dengar, aku menghargai apa yang telah kamu lakukan disini" ucap Peter saat dia mendekati Caspian. "Tapi ini bukan benteng, ini makam"
"Yah, masalahnya. Element kejutan hanya akan membawa kalian sejauh ini" ucap Miracle tiba-tiba, Lucy yang duduk diatas meja batu terbelah tersentak saat melihatnya yang ternyata sudah duduk bersamanya. "Jika sesuatu yang salah terjadi dan kalian tidak memiliki rencana cadangan karena kalian -" Miracle menunjuk Peter "- tidak sempat membuatnya, banyak kehidupan yang hilang akan menjadi kegagalan kalian"
Argumen samar terdengar diucapkan para narnia kecil yang panik. Peter terlihat semakin kesal, sementara Caspian memberikan senyuman hormatnya pada Miracle yang di balas gadis itu, dengan cengiran lucunya. "Ya. Dan jika mereka pintar, Telmarine tinggal menunggu dan membiarkan kita mati kelaparan" sahut Edmund yang kemudian mendapatkan lototan galak dari Miracle.
Tupai panik yang berdiri di samping Reepicheep tiba-tiba berseru "Kita bisa mengumpulkan kacang!" sarannya.
"Ya! Dan lempar mereka pada Telmarines!" sindir Reepicheep sinis, si tupai merenggut padanya setelah Reepicheep menyuruhnya diam dengan bentakan yang kasar. Reepicheep mendongak menatap Peter dengan penuh semangat, lalu membungkuk untuk memberikan rasa hormatnya. "Saya rasa anda tahu di mana saya berdiri, Tuanku"
Peter melirik Miracle sekilas, memutuskan mengabaikan pendapatnya lalu berbalik menghadap Centaur yang bernama Glenstorm. "Jika aku bisa membawa pasukanmu masuk, bisakah kau mengurus para penjaga?"
Glenstorm terlihat agak bingung. Dia menatap Caspian sesaat. Pangeran yang sebelumnya dijanjikannya untuk mendukungnya, lalu tatapannya berpindah pada Miracle, gadis yang masih menjadi misteri baginya. Sejujurnya, dia lebih mendukung rencana Caspian dan juga menyetujui pendapat Miracle yang matang. Tapi, Peter adalah Raja Tertinggi Narnia. Dan dia juga sudah bersumpah untuk kedamaian Narnia. Matanya melihat Miracle dengan meminta maaf lalu menatap Peter dengan tegas. "Atau mati mencoba, Tuanku"
"Itulah yang aku takutkan" Lucy tiba-tiba berbicara, sementara dia selalu diam sejak tadi. Dia berbicara karena kesal, pendapat Miracle diabaikan Kakaknya. Dia tahu, Peter mungkin masih menganggap Miracle anak-anak seperti dirinya. Hanya karena usianya tidak jauh lebih tua darinya.
"Maaf?" tanya Peter.
"Kalian bertindak seperti hanya ada dua pilihan saja. Mati disini, atau mati disana" jelas Lucy.
Miracle memberikan anggukan setujunya dengan bersemangat, Peter yang melihatnya mendelik kesal. "Kau tidak mendengarkan, Lu-"
"Tidak, Kau yang tidak mendengarkan" potong Lucy. Caspian memberikan gelengan samarnya saat dia melihat Miracle hendak berbicara. "Atau kau sudah lupa siapa sebenarnya yang mengalahkan penyihir putih, Peter?"
Peter yang tersinggung, menatap Lucy dan Miracle sebelum akhirnya berkata dengan keras dan dingin "Kurasa kita sudah menunggu Aslan cukup lama" bentaknya, lalu berbalik meninggalkan ruang meja batu.
Miracle melompat turun hendak berbicara, tapi lengan Caspian menghalanginya saat dia mencoba menyusul Peter. "Dia pasti punya rencana" ucapnya lembut menangani emosi meledak-ledak gadis kecil di hadapannya.
"Dia gila, tanpa rencana matang. Semua itu hanyalah misi bunuh diri" erang Miracle, menatap para narnia yang meninggalkan mereka satu persatu, bahkan Edmund. Hanya Susan, Lucy dan Caspian yang tersisa bersamanya "Kalian tidak seharusnya meremehkan sebuah kastil tua. Ada banyak jebakan yang terpasang, penjaga diletakan di berbagai tempat, bahkan sudut tergelap"
"Bagaimana kau tahu itu?" tanya Caspian.
"Karena aku tumbuh di dalam kastil, bahkan yang teraman sekalipun, masih memiliki rahasianya" jelas Miracle pelan, tanpa semangat. "Dia bahkan tidak menyiapkan rencana cadangan" keluhnya. "Ayah bilang rencana cadangan, akan memberikan kita lebih banyak keuntungan dan kepercayaan diri"
"Aku tidak tahu rencananya tapi aku tahu bahwa banyak yang bisa salah dan jumlah pasukan kita sudah sangat sedikit dibandingkan Telmarines" ucap Susan.
"Lalu bagaimana?" tanya Miracle pada Caspian dan Susan. "Kalian masih memiliki Pasukan Miraz di sungai untuk ditangani"
"Kita akan memikirkannya" ucap Caspian, berusaha menutupi kekhawatirannya sendiri. "Kita harus yakin kita akan menang"
Miracle memutuskan menyendiri kembali di meja batu Aslan. Dia terlihat memilin-milin tongkat vinewood nya, dengan sangat gelisah. Dia belum melakukan sedikit sihirpun sejak dia ditemukan. Bukan karena dia takut dengan reaksi semua orang terhadap sihirnya. Lebih kepada, dia takut dengan apa yang menunggunya di rumah saat dia kembali. Dia tidak tahu apakah Kementerian Sihir bisa mendeteksi sihirnya disini, kalaupun bisa, dia memang sudah melakukan sihir beberapa kali sebelumnya. Itu semua adalah sihir penyembuhan, salah satu pelanggaran yang masih di pertimbangkan oleh Kementerian.
Tapi, melakukan sihir di hadapan muggle? Dia tidak yakin bisa lolos. Miracle tidak tahu apakah orang-orang Narnia termasuk non sihir atau bukan. Centaur dan kurcaci ada di dunianya, mungkin bisa dipertimbangkan. Tapi mahluk Narnia lainnya?. Pevensie bersaudara dan Pangeran Caspian, sudah pasti termasuk muggle, walaupun mereka percaya sihir, tetap saja mereka bukan penyihir atau makhluk dunia sihir. Jadi, haruskah dia mengambil resiko?
"Mira…" Miracle mendongak saat dia mendengar panggilan Lucy. Gadis yang lebih muda darinya setahun itu tersenyum sedih padanya. Lucy tahu, Miracle masih kesal dengan Peter.
"Mereka sudah berangkat?" tanya Miracle ketika dia kembali memfokuskan perhatiannya pada tongkatnya. Tongkat yang diberikan Merlin padanya. Dia tidak membeli tongkat seperti anak-anak penyihir lainnya. Hal yang membuatnya bertanya-tanya dulu. Tapi saat Mellody juga mendapatkan tongkat sihirnya dari Merlin juga, padahal dia masih dibawah umur. Miracle mencoba mengabaikan rasa penasarannya.
"Ya…" jawabnya pelan, lalu duduk di samping Miracle dan berbaring meniru gadis di sampingnya. "Tongkat apa itu? kau terlihat sangat menjaganya?" tanya Lucy, menatap tongkat yang agak mirip ranting pohon yang halus.
Miracle hanya meliriknya sekilas dan tersenyum sedih. "Tongkatku" jawabnya pendek tanpa niat untuk menjelaskan lebih jauh.
Lucy yang menangkap kesan bahwa Miracle tidak ingin membicarakan benda di tangannya, sehingga Lucy memutuskan diam dan tidak bertanya lagi padanya. "Aku harap mereka kembali semuanya dengan keadaan sehat dan utuh" ucap Lucy setelah mereka termenung untuk beberapa lama. "Peter mungkin sangat keras kepala, tapi dia tidak akan senang jika kita kehilangan banyak orang"
"Entahlah, Lu. Aku tidak yakin" ucap Miracle. Susan ternyata mencoba membujuk Peter lagi, tetapi Raja Tertinggi itu, menolaknya mentah-mentah bahkan hingga mereka bertengkar di tengah-tengah pasukan yang sedang bersiap-siap. Nama Caspian terdengar beberapa kali dari mulut Peter dengan marahnya. Untungnya Pangeran Telmarine itu sedang berada di tempat lain bersama Glenstorm, mungkin membahas sebuah rencana cadangan, atau entahlah. "Aku berharap bisa membantu mereka"
"Peter tidak akan mengizinkannya. Kita hanya anak-anak baginya" ucap Lucy sedikit tertawa.
"Atau bisa jadi karena dia masih kesal padaku" sambung Miracle. "Kau tidak lihat caranya mendelik padaku setiap kali kami berpapasan tadi kan?"
Lucy tertawa. "Ya, dia merasa sedikit dikhianati. Dia yang meyakinkan kami semua untuk membiarkan kita membawamu, kan? Dan lalu kau mendukung Caspian, seperti Susan. Dia pikir kau naksir Caspian?"
"Apa?" teriak Miracle, bangkit tiba-tiba. "Aku- aku tidak!" bantah Miracle, tapi dia bisa merasakan wajahnya mengkhianatinya lebih dulu memberikan kesenangan pada Lucy untuk menertawakannya. "Lagipula, Caspian naksir Susan" sembur Miracle kemudian, kembali berbaring dan mengabaikan tawa Lucy.
"Baiklah kalau itu maumu" sahut Lucy.
"Sungguh Lu, aku berharap bisa menolong mereka tapi-" ucapan Miracle terhenti saat dia mendengar suara kepakan halus sayap yang sudah sangat dikenalinya. Miracle berpindah duduk lagi, untuk melihat di sekelilingnya hingga kepakan cepat itu berada di hadapannya. Dengan cepat dia meraih Golden Snitch yang terbang di hadapannya, sebelum bola kecil itu terbang melesat meninggalkannya lagi.
"Bukankah benda keemasan itu yang kami lihat di hutan tadi?" ucap Lucy.
Miracle membuka genggamannya. Golden Snitch terlihat mengepakan sayapnya untuk beberapa saat di atas telapak tangannya, sebelum akhirnya dia menggulung sayapnya dan tidak bergerak. Berguling-guling hampa di telapak tangan Miracle. "Kalian melihat Golden Snitch?"
"Golden Snitch? Jadi itu namanya?" tanya Lucy, meraih bola emas dengan hati-hati, lalu memperhatikannya dengan seksama. Sayap Golden Snitch kembali terbuka, mengepak cepat lalu terbang kembali ke atas telapak tangan Miracle. "Kami melihatnya saat kami bertemu Caspian" jelas Lucy tersenyum senang melihat bola emas yang terdiam. "Oh, dan juga setelah itu, kau tidak akan percaya dengan apa yang kami lihat"
"Apa yang kalian lihat?"
"Sapu terbang" ucap Lucy dramatis, "sapu seperti milik nenek sihir, kau tahu"
"APA?!" teriak Miracle membuat Lucy kaget. "Kalian melihat sapuku? Dimana?"
"Sapumu? Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sapu itulah yang membuat kami menemukanmu. Dia bergerak seolah-olah meminta pertolongan" jelas Lucy, "Susan menyimpannya" tambahnya.
Miracle mendadak cerah mendengar bahwa sapunya tidak hilang. Dia pasrah saat melihat sapunya melesat meninggalkan dirinya sebelum dia pingsan kemarin. Dan sekarang mengetahui bahwa sapunya berada di Aslan's How membuatnya bersemangat.
Dia meminta Lucy mengambilkan sapunya, karena Susan menyimpan sapunya di dalam kotak pribadinya. Dia begitu senang bertemu kembali dengan benda kesayangannya. Dan ketika Lucy muncul membawa sapunya, Miracle tidak bisa menahan diri untuk melompat dari meja batu dan meraihnya.
Lucy mengerutkan keningnya geli saat melihat Miracle memeluk sapu dan membawa benda itu menari-nari mengelilingi meja batu. "Sapu itu sangat penting?"
"Tentu saja, ini sapu terbang pertamaku" ucap Miracle, mengecup-ngecup sapunya lalu memeluknya lagi. "Ayahku yang memberikannya"
"Sapu terbangmu, kau berbicara seolah-olah kau adalah penyihir" ucap Lucy.
Miracle membeku dalam gerakan berputarnya, berbalik dengan gugup saat dia menatap Lucy yang menyilangkan tangannya. Mata gadis kecil itu terlihat menuntut jawaban dengan cara yang menyeramkan.
"Lu, berjanjilah kau tidak akan bercerita pada yang lain. Kumohon" pinta Miracle. "Orang-orang Narnia, mereka agak- kau tau, tidak percaya dengan penyihir, karena - kau tahu, ini - Jadis" Miracle menghampiri Lucy dan menariknya untuk duduk bersamanya kembali di meja batu. "Aku penyihir, tapi bukan tipe penyihir seperti Jadis"
"Kau kenal Jadis?" tanya Lucy, Miracle mengangguk. "Bagaimana?"
Miracle menggigit bibirnya sendiri, untuk mencegah hal-hal buruk terucap darinya. "Tolong… tolong jangan tanya aku, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi, percayalah padaku, aku bukan Jadis atau nenek sihir dalam buku-buku dongeng. Aku, penyihir dalam konteks baik, penyihir putih - bukan, bukan penyihir berwarna putih seperti Jadis. Tapi, penyihir yang menggunakan sihirnya untuk hal-hal baik"
Lucy menatap Miracle dengan pandangan meragukan, tapi mendadak geli melihat kepanikan di wajahnya. Sudah jelas baginya, Miracle bukan penyihir jahat. Penyihir jahat selalu cerdas, dan kebanyakan penyihir baik di dalam buku yang dibacanya, terlihat sangat lugu.
"Jika kau penyihir, kenapa aku tidak pernah melihatmu melakukan sihir?" tanya Lucy penasaran.
Miracle mendesah, menarik tongkat sihir yang sempat disisipkannya kembali di sepatu bootnya. "Ada aturan yang berlaku. Penyihir di bawah umur tidak boleh melakukan sihir di luar sekolah dan tidak di depan muggle"
"Muggle? Sekolah? Ada sekolah untuk penyihir?"
"Ada komunitas penyihir di berbagai negara di dunia kita. Komunitas kami agak tertutup karena perburuan penyihir. Kau pasti pernah dengar dongeng-dongeng seperti itukan? Seperti Hansel dan Gretel" jelas Miracle. "Dan kami diawasi oleh Kementerian dan Kongress Sihir"
Lucy terlihat terpesona dengan informasi barunya. Dia berpikir bahwa selama ini sihir hanya ada di Narnia, tetapi ternyata sihir juga ada di dunianya. Tapi memikirkan kembali tentang aturan membuat Lucy penasaran. "Tapi, kita di Narnia, kan? Apakah aturan itu berlaku juga? Narnia juga dunia sihir kan?"
"Aku tidak tahu, maksudku… aku khawatir, surat dari Kementerian akan menyambutku saat aku kembali, lalu mereka akan mengusirku dari sekolah dan mematahkan tongkatku. Hanya karena aku menggunakan sihir disini"
"Tapi kau bisa menjelaskan pada mereka bahwa kau melakukannya untuk membela diri. Kita berperang Mira…" ucap Lucy.
Miracle menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kencang beberapa kali. Dia juga sebenarnya tidak yakin bisa menahan sihirnya untuk waktu yang lama. Dia pasti akan menggunakannya suatu saat nanti untuk bertahan. Dia akan mati jika dia tidak melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri. Dia bisa menggunakan anak panah seperti Susan, atau pedang seperti Peter dan Edmund, tapi sejauh mana dia bisa bertahan melawan ratusan atau ribuan pasukan? Demi rambut Merlin, dia penyihir, kenapa dia tidak boleh menggunakan sihirnya untuk melindungi dirinya?
"Argghh… Aku benar-benar bingung" erang Miracle. "Sihirku bisa membantu mereka saat ini, kau tahu. Tapi aku bahkan terlalu takut untuk menolong mereka. Aku benar-benar pengecut"
"Kau bukan pengecut!" sahut Lucy. "Kau hanya takut"
"Seandainya aku punya sedikit saja keberanianmu. Dan aku Gryffindor, demi rok Thranduil! Aku tidak seharusnya takut" rutuknya. "Aku tidak seharusnya takut dengan Kementerian, Mama pasti akan mendengarkanku dan dia pasti bisa membelaku di persidangan" ucap Miracle penuh percaya diri. Bangkit dari duduknya dengan penuh semangat. "Aku akan menolong mereka"
"Kau akan menggunakan sihir untuk berperang melawan Telmarines?"
"Ya, dan untuk menolong mereka sekarang!" seru Miracle tegas. "Aku akan pergi ke Kastil Miraz" tambahnya, lalu meraih sapu terbangnnya dan berlari menuju jalan keluar.
Lucy berlari menyusul Miracle, selain karena penasaran. Dia juga terkejut, Miracle akan menggunakan sihirnya sekarang juga. Dia ingin melihatnya, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia juga ingin menolong saudara-saudaranya.
"Kau tetap disini" perintah Miracle membuat Lucy memutar matanya, dia sudah menduganya.
"Tapi…"
"Aku akan membawa mereka utuh, tidak akan ada yang mati hari ini" ucapnya penuh janji, menatap Centaur wanita yang menolongnya kemarin malam, centaur itu ternyata adalah istri Glenstorm. "Tidak satu makhluk narnia yang akan mati malam ini"
Miracle menaiki sapunya, lalu menjejakkan kakinya di tanah. Dalam satu kedipan mata Lucy, Miracle melesat, terbang di langit malam. Kecepatannya melebihi elang Narnia. Teriakan kemenangan terdengar dari gadis yang merasakan untuk pertama kalinya, berada di Narnia tidak terlalu buruk.
Perebutan Kastil Miraz tidak selancar harapan Peter. Miraz berada di dalam Kastil bersama Istrinya, dan ternyata masih ada begitu banyak pasukan Telmarines yang berjaga, bahkan setelah mereka mengirim pasukan mereka ke sungai. Kekalahan dengan cepat mengelilingi para Narnian's.
Peter menatap satu persatu pasukannya berjatuhan. Dan pasukan Telmarines muncul tanpa habisnya. Narnian's yang terluka dibawa oleh yang sehat untuk berlindung. "Mundur! Bawa yang terluka kembali!" perintah Peter.
Dia lalu melihat Trumpkin terjatuh dari menara jaga, lalu pemberat palang gerbang dijatuhkan, gerbang Kastil perlahan tertutup. Salah satu Minotaur berlari untuk menghentikan pintu turun. Tetapi, bahkan dengan tubuh sebesar dan sekuat itu, tidak akan membuatnya menahan pintu untuk waktu yang lama.
"Mundur!" teriak Peter. Susan dan Caspian menoleh padanya lalu menatap gerbang besi yang ditahan minotaur sendirian. "Kita harus mundur sekarang!" perintah Peter, dia melihat Glenstorm "Bawa dia pergi dari sini" Peter menunjuk Susan. Glenstorm menarik Susan ke punggungnya lalu melaju pergi menuju gerbang yang ditahan minotaur.
"Caspian!" teriak Susan.
"Aku akan menemukannya" balas Peter, lalu menatap sekelilingnya untuk mencari Caspian. Dia berharap Edmund sudah keluar dari tempat terkutuk ini. Peter menatap Narnian's yang selamat berusaha menarik yang terluka, membawa mereka pergi bersama-sama. Sebagian lainnya masih terlihat bertarung sekuat tenaga.
Sementara itu, di atas menara. Edmund dilanda kepanikan. Penjaga sedang berlari menuju ke tempatnya, dan mereka akan menangkapnya. Tidak ada jalan untuk kabur. Dia berada di atas menara yang berada di tepi jurang. Lalu hentakan terdengar, penjaga yang berusaha mendobrak pintu yang ditahannya dengan senter miliknya. Tapi tidak butuh waktu lama hingga mereka mendobrak dan merusak engsel pintu.
Edmund panik, menatap sekelilingnya untuk berharap melihat elang raksasa datang padanya. Dan…
"Stupefy! Stupefy!" sebuah sinar melesat dari belakang punggung Edmund, dan kedua penjaga tiba-tiba saja pingsan.
Edmund berbalik dengan agak takut, lalu terperangah saat melihat. "Miracle.. Kau- terbang dengan sapu?!"
"Yah, begitulah" ucap Miracle. Lalu seekor elang muncul dari bawah Miracle. "Bawa dia kembali" perintah Miracle, makhluk itu mengangguk lalu membiarkan Edmund naik. "Aku akan menolong yang lain.
Miracle bisa melihat kekalahan Peter, jumlah Narnian's yang berlari keluar jauh lebih sedikit dari jumlah yang pergi bersama mereka. Miracle terbang dengan bersembunyi di kegelapan Kastil lalu perlahan turun. Beberapa makhluk Narnia terluka cukup parah bahkan hingga mereka tidak sanggup bangun. Dengan sihirnya yang tidak biasa, dia memutuskan melayang-layangkan mereka semua dan mengirim mereka keluar. Dia bersyukur minotaur masih sanggup menahan gerbang untuk waktu yang lama sehingga dia memiliki banyak waktu untuk mengirim Narnian's yang terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya Caspian dan Peter bersamaan. Melihat para Narnia yang terluka meluncur meninggalkan kastil. "Mereka… melayang" tambah Caspian.
Raja Miraz yang melihat keanehan itu, memerintahkan para pemanah untuk menembak. Tapi sinar kebiruan yang aneh mengeliling para Narnian's, membuat anak panah terpental begitu saja.
Tidak ada yang menyadari bahwa semua sihir itu karena Miracle, gadis itu mencoba menciptakan ikatan untuk menolong mereka semua. Dia tidak tahu bahwa dia memiliki sihir seperti itu. Dia hanya memikirkannya dan semua itu terjadi. Dia baru saja menyadarinya sekarang, bahwa sihir lain terasa kuat di dalam dirinya. Sihir yang asing. Mungkin ini adalah sihir terdalam milik Narnia.
Setelah memastikan semua yang terluka terbawa. Miracle kembali menaiki sapunya lalu melesat keluar. Setelah sebelumnya melemparkan pesona meledak pada beberapa menara. Dia melihat Caspian bersama Peter menaiki kuda melintasi jembatan, tapi ekspresi sedih mereka membuatnya bertanya-tanya. Dan saat itulah dia menyadari bahwa gerbang berhasil ditutup, dan sangat banyak Narnian's yang terjebak.
Miracle memutar sapunya, lalu mendarat di tengah-tengah jembatan. Membuat kaget Peter dan Caspian dalam prosesnya. "Kembali" perintah Miracle dengan nafas terengah-engah. "Aku akan menolong mereka"
"Mira, apa yang kau lakukan disini?" bentak Caspian. "Kembali!" teriaknya saat Miracle mengabaikan pertanyaannya dan berjalan dengan santai mendekati gerbang. Anak panah yang melesat melewati gerbang berubah menjadi bunga lili saat melewatinya, para Narnian's yang berteriak seketika terdiam.
"Kalian mundur sedikit" perintah Miracle, para Narnia menurut. "Bombarda!" pintu gerbang besi yang sangat tebal meledak seketika, lalu membebaskan Narnian's yang tertahan. Saat mereka melewatinya, Miracle membeku. Minotaur yang menahan besi sebelumnya tergeletak tidak bernyawa. Misinya gagal. Dia merasakan seseorang menariknya, lalu menyadari itu adalah minotaur yang lain. Menggendongnya untuk melarikan diri. Kemarahan menguar dari tubuhnya. Keinginannya untuk menyelamatkan semua orang, gagal. Dan dia melihat Kastil terkutuk dengan kebencian yang luar biasa. "GLACIUS TRIA!" teriaknya, mengirimkan sinar keperakan yang kuat. Sinar itu menabrak semua pasukan Telmarines yang mencoba mengejar mereka, lalu membuat mereka semua membeku. Sihir yang terlalu kuat bahkan tidak hanya membuat pasukan Telmarines membeku semua, tapi juga membuat benda-benda di sekelilingnya ikut membeku.
Saya benar-benar berharap ada ulasan dari kalian semua. Terima Kasih sudah membaca cerita ini.
