Harry Potter milik JK. Rowling, TLOTR milik JRR. Tolkien dan The Chronicle Of Narnia milik CS Lewis. Penggunaan karakter hanya bagian dari Fanfiction ini. Alur cerita oleh saya. Beberapa cerita Harry Potter - TLOTR - Narnia mungkin akan sesuai dengan karya yang dimaksudkan, karena ini ...

Selamat Membaca ..


"Siapa kau!" bentak Peter, menarik Miracle yang terlihat melamun saat mereka kembali ke Aslan's How. "Siapa dirimu sebenarnya" serunya marah, telunjuknya menekan dada Miracle, dan menghalanginya memasuki How.

Caspian dan Susan hanya menatap Miracle dengan pandangan hampa. Ketakutan karena nyaris tertangkap, masih menghantui mereka.

Miracle belum pernah merasakan rasa sakit karena kehilangan, sehingga dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya berduka. Tapi dia sekarang tahu rasa sakit itu sekarang, menyebar di seluruh tubuhnya, memukul di dadanya dengan cara yang tidak menyenangkan. Ketika dia melihat minotaur yang lain, yang mendapatkan pelukan kesedihan dari Narnian's lainnya. Miracle menyadari bahwa mungkin minotaur yang bertubuh kecil dibandingkan dengan jenisnya itu adalah anak atau saudara dari minotaur yang tewas menahan pintu.

"Aku orang yang gagal" ucap Miracle pelan. Caspian mendongak bingung mendengar jawabannya. Dia ingin menyela tapi lengan Susan menahannya.

Lucy yang mendengar saudara-saudaranya sudah kembali berlari ke pintu masuk, dia terlihat senang melihat semua berhasil kembali. Dilihat dari jenis luka-luka Narnian's yang muncul dengan melayang memasuki Aslan's How, mereka pasti tidak akan selamat jika Miracle tidak menyusul. "Mira… kau berhasil" Lucy berlari memeluk Miracle, tidak menyadari panas yang ada di sekelilingnya.

"Aku gagal" bentak Miracle, melepas pelukan Lucy, "Aku menyisakan satu" ucapnya, mencoba menahan isakannya. "Minotaur itu - ma-ti" Miracle berjongkok lalu menangis kencang seperti anak kecil.

"Oh… Aku mendengar apa yang terjadi dengan Asterius" ucap Lucy dengan nada sedihnya. "Tapi kau menyelamatkan yang lainnya, Mir. Kau menyelamatkan banyak orang"

"Tapi, tetap saja…"

Lucy ikut berjongkok lalu memeluk Miracle. "Oh, Mira… kita tidak akan bisa menyelamatkan semua orang. Tapi tanpa dirimu, mereka tidak akan selamat"

"Lu, kau tahu mengenai hal ini?" tanya Susan. "Kau tahu apa dia?"

"Mira penyihir, tapi dia bukan penyihir seperti Jadis" jelas Lucy.

"Kau tahu dan kau diam!" bentak Edmund. "Kau tahu dia - penyihir?" tambahnya dengan nada ketakutan.

"Aku baru tahu juga" sahut Lucy.

Peter mendesah kasar, lalu berjalan menghampiri Miracle. Menarik gadis itu untuk berdiri dengan kasar. "Kenapa kau merahasiakannya? Kau bisa saja membuat kami menang jika kau datang bersama kami"

Miracle menangkis cengkraman Peter, mengusap air mata di pipinya dengan kasar lalu berkacak pinggang. "Kupikir kau yang memperlakukanku seperti anak kecil. Lagipula, asal kau tahu. Aku tidak tahu apakah aku boleh menggunakan sihirku"

"Apa maksudmu?" tanya Caspian.

"Dunia Miracle memiliki aturan, penyihir di bawah umur tidak boleh menggunakan sihir di luar sekolah" Lucy menjelaskan lebih dulu.

"Tidak ada sekolah sihir, Lu" seru Susan.

"Duniamu tidak, tapi di duniaku, ada" sahut Miracle.

"Kupikir kau bilang kau dari Skotlandia" sembur Edmund.

Miracle memutar matanya. "Ya, aku memang dari Skotlandia, tapi Skotlandia milik penyihir. Dan kalian, kalian berasal dari London, Londonnya Muggle. Kita berasal dari dunia yang sama, tapi bahkan di dunia kita, perbedaan dunia itu ada. Penyihir, dan muggle, sebutan untuk non sihir"

Miracle bisa melihat ketiga Pevensie menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Mereka lebih sulit untuk menerima dibandingkan adik terkecil mereka. Lucy menerima sihir dengan mudah karena dia mempercayainya, sebesar dia percaya bahwa Aslan akan datang.

"Aku tidak tahu bagaimana caraku memberitahu kalian. Kalian takut atau tidak percaya bukan hal baru bagiku. Muggle dikenal dengan ketakutannya pada sihir, hal yang sama juga berlaku bagi penyihir yang takut diburu oleh Muggle, ini seperti Telmarines dan Narnia" jelas Miracle, lalu menatap Lucy. "Bagaimana dengan yang terluka"

Lucy tersenyum lembut padanya. "Mereka sudah ditangani dengan baik. Bagaimana denganmu?"

Mendengar pertanyaan Lucy membuat Miracle baru menyadari bahwa ternyata dia sangat kelelahan. Dia belum pernah mengeluarkan sihir sebanyak itu, apalagi sihir-sihir untuk bertarung. Dia menggunakan pesona level NEWT, yang belum pernah dipraktekan sebelumnya sama sekali, hanya pernah melihatnya di dalam buku-buku kakak kelasnya. Tapi pesona itu muncul begitu saja dalam benaknya, dan tanpa berpikir dia mengucapkannya. Sekarang dia merasa terkuras, sihir asing yang meluap-luap memenuhi dirinya tadi, tiba-tiba saja hilang.

"Aku rasa - aku-" belum selesai Miracle berbicara, tubuhnya tiba-tiba lunglai. Lucy menjerit. Peter dan Caspian melangkah cepat untuk meraihnya sebelum dia terjatuh.

"Bawa dia masuk" suara Glenstorm membuat mereka terkejut. "Dia menggunakan terlalu banyak sihirnya untuk menyelamatkan kita. Energinya terkuras dengan cepat"

"Kau tahu?" tuntut Peter.

Glenstorm menggeleng, lalu menoleh pada istrinya yang berjalan menghampirinya. "Aku melihat sihir terdalam mengelilinginya saat dia memanggil Lilliandil. Dan hanya orang-orang Aslan yang mengenal nama Putri Ramandu" jelas istri Glenstorm.

"Sihir itu terlalu banyak, untuk seorang anak kecil" tambah Glenstorm.


"Apa yang terjadi padaku" tanya Miracle dengan suara serak, saat dia terbangun di kamar peristirahatannya. Dia mencoba menyingkirkan handuk basah yang menempel di dahinya saat berusaha untuk bangun. Tapi lengan mungil menahannya untuk bangun. "Aku baik-baik saja"

Susan mengambil handuk basah yang disingkirkan Miracle, menggantinya dengan handuk baru. "Kau demam, Glenstorm mengatakan bahwa energi milikmu terkuras. Wajahmu pucat sekali, membuat kami semua panik"

"Tidurlah lagi" ucap Lucy. "Trufflehunter sedang menyiapkan ramuan untukmu, kurasa sebentar lagi akan matang"

Miracle memutar matanya, kesal diperlakukan seperti anak-anak. "Aku baik-baik saja" erangnya. "Lagipula, aku punya ramuan kok, ada di - dimana jubahku? Kalian melepaskannya?"

"Aku menyimpannya. Kau menginginkannya?" tanya Susan.

"Ya"

Susan berjalan menuju sisi lain kamar, meraih jubah Miracle yang digantungnya bersamaan dengan anak panahnya. Saat dia berjalan mendekati Miracle, Susan mendengar ketukan pintu. "Masuk" ucap Susan.

"Dia sudah bangun?" Peter bertanya saat dia memasuki kamar, mengintip sedikit. Saat dia melihat Miracle sudah duduk, dia memutuskan masuk bersama Edmund di belakangnya. "Kau masih pucat, seharusnya beristirahat"

"Aku hanya butuh jubah Quidditch ku, dan aku akan baik-baik saja" erang Miracle. "Jangan terlalu panik"

Susan menyerahkan jubahnya. Lalu melihat Miracle mulai merogoh saku jubahnya. Mengeluarkan beberapa benda dari sakunya. Keempat Pevensie saling tatap, saat melihat terlalu banyak barang untuk sebuah saku kecil. Lalu Miracle mengeluarkan kantong obat pemberian Mellody. Membalik kantong itu untuk menjatuhkan berbotol-botol ramuan. Satu persatu dia membaca setiap label ramuan yang ditulis adiknya dengan huruf elf.

"Oke, ini dia. Ramuan penurun demam lalu ramuan penambah energi" gumamnya. Miracle membuka tutup gabus, lalu minum ramuannya. "Gezz… Aku benci ramuan" keluhnya. Demam Miracle turun seketika, rona merah mengganti wajah pucatnya. Setelah itu dia mengambil ramuan penambah energi untuk memulihkan sihirnya. "Selesai"

"Apa yang kau minum?" tanya Lucy.

"Ramuan. Adikku membuatkannya untukku. Aku tidak terlalu baik dengan ramuan" jelas Miracle. "Ngomong-ngomong soal ramuan. Kenapa kau tidak menggunakan saja air ajaibmu, padaku?"

Lucy mengerjap-ngerjap. "Aku lupa" ucapnya malu. "Aku teralihkan semalam"

"Teralihkan?" tanya Miracle.

"Peter dan Caspian bertengkar" bisik Lucy pelan. "Mereka nyaris bertarung, jika Susan dan Edmund tidak melerai mereka" tambahnya, mengabaikan tatapan galak yang diberikan Peter padanya.

"Dia pantas menerimanya"

"Aku akan berdiri untuk Caspian" seru Susan.

"Aku juga" sahut Miracle mengangkat tangannya. "Aku tidak akan menyalahkanmu, kita semua salah. Aku tidak jujur dengan warisanku, kau terlalu gegabah tanpa perencanaan, dan Caspian terlalu - terlalu-" dia diam memikirkan kata-kata yang baik tanpa membuat Caspian terdengar buruk.

"Siapapun akan syok jika mengetahui bahwa ternyata Paman yang membesarkannya selama ini adalah pembunuh kedua orang tuanya. Dan ingin membunuhnya" sahut Susan lembut. "Kita juga pasti akan seperti itu, mungkin bahkan lebih buruk"

Peter terdiam, pria itu menunduk saat dia mendapatkan tatapan galak dari adiknya. Dia menghela nafasnya lalu mendongak perlahan dan menemukan tatapan memelas dari Miracle, akhirnya dia mengangguk dan memutuskan melupakan kemarahannya pada Caspian.

Keempat Pevensie meninggalkan Miracle setelah memastikan gadis kecil itu menghabiskan makanan yang dibawa Trufflehunter lalu tertidur lagi. Miracle benar-benar kesal, tapi mendapatkan tatapan galak Susan membuat gadis itu menyerah.

Susan benar-benar baik, tangguh, bijaksana, cantik dan mempesona. Pantas saja Aslan memilihnya sebagai Ratu Tertinggi. Dan Caspian terpesona padanya. Dibandingkan Susan, dia hanyalah anak kecil yang belum tubuh.

Dia mengingat tubuh langsing Susan, lalu membandingkannya dengan tubuh gemuknya. Kulitnya tidak secerah dan selembut milik Susan, karena dia malas memakai sunblock dan sering menghabiskan waktu berpanas-panasan hanya untuk terbang. Rambutnya, mengembang sejak dia memotongnya, gelombang kecilnya, menjadi liar. Bahkan James mengolok-ngoloknya setiap kali dia selesai terbang.

Miracle mendesah, bahkan anak-anak cowok mengatakan dia tidak menarik di sekolah. Terlalu tomboy hanya karena dia selalu bermain bersama anak-anak cowok. Dia jarang berkumpul dengan anak-anak cewek sehingga selalu menjadi orang terakhir yang mengetahui gosip yang paling panas yang ada di sekolahnya. Karena menurutnya, Quidditch jauh lebih penting daripada jumlah jerawat Adela atau siapa pacar Kepala murid saat ini. Caspian tidak mungkin tertarik pada anak kecil seperti dirinya.

"Ada apa denganku?" Miracle tersentak. "Sejak kapan aku memusingkan hal-hal seperti ini? Tidak seperti diriku!" serunya pada dirinya sendiri, duduk bersila dan mengoceh sendirian di kamarnya yang sepi.

Tiba-tiba dia merasa merinding yang tidak berhubungan dengan udara dingin di dalam gua. Kesunyian membuat sihirnya tidak nyaman, lalu sihir asing itu datang lagi. Merayap-rayap di seluruh kulitnya, membuatnya kesemutan, seperti sebuah peringatan.

"Caspian?" ucap Miracle, entah kenapa sosok Pangeran itu muncul dari pikirannya. Dia menatap kamarnya dengan panik melihat obor bergerak-gerak seperti tertiup angin kencang, padahal udara begitu tenang di dalam gua. Sensasi kesemutan semakin kuat di dadanya, membuat Miracle ingin menangis. "Apa yang -"

Miracle berlari tertatih-tatih keluar dari kamarnya. Apa yang terjadi dengan Caspian? Kenapa dia merasakan bahwa Pangeran itu dalam bahaya? Ketika dia berada di ujung lorong, dilihatnya Peter berlari menuju meja batu, diikuti Edmund, Susan dan Lucy.

"Lucy! Ada apa?" tanya Miracle.

"Sesuatu terjadi di ruang meja batu. Sihir Jadis terasa disana" jelas Lucy.

Miracle mengerang, lalu menyadari bahaya apa yang sedang dialami Caspian. Ingatan tentang buku, membuatnya berlari menyusul Peter. Peter berdiri mematung di depan pintu masuk, terlihat syok lalu marah.

"Oh, sial!" desis Miracle saat dia menyadari penyebab kemarahan Peter. Ruangan terasa sedingin es, hingga membuat uap muncul setiap kali dia bernafas. Sebuah dinding es terbentuk pada dua pilar utama. Bayangan Jadis yang megah, menutupi ukiran Aslan di belakangnya.

Sang Pangeran Telmarines berjalan maju tanpa sadar, mengulurkan tangannya ke arah Jadis. Kesurupan yang menimpanya adalah kutukan kegelapan yang membuatnya terperangkap pada hal-hal yang paling diinginkannya, hal-hal yang mungkin dipercayainya, yang akan dikabulkan oleh Jadis. Miracle bertanya-tanya, keinginan apa yang begitu kuat di dalam dirinya, hingga Jadis bisa begitu menggodannya.

Merebut tahta? Membalas dendam pada Pamannya?

"Caspian!" teriak Miracle.

"Berhenti!" jerit Peter, tetapi Caspian terus melangkah mendekati Jadis, seolah-olah tidak mendengarnya.

Miracle merasakan rasa panas di dadanya. Dia menunduk dan melihat kalungnya yang sebelumnya bersinar kebiruan, berubah merah terang seperti api. Sementara itu Peter, Edmund, dan Trumpkin mulai bertarung melawan manusia serigala, sang hag dan Nikabrik. Mereka mencoba menghancurkan ritual Jadis yang sedang berlangsung.

Peter berlari untuk menyerang sang hag, tetapi makhluk itu melucutinya. Dibelakangnya, manusia serigala yang telah membalik Edmund, tapi tidak melihat pedang Edmund yang berhasil melukai kakinya, membuat makhluk itu menjerit. Trumpkin mengambil alih tugas menangani Nikabrik, sahabatnya yang akhirnya berubah menjadi musuh. Kurcaci itu kehilangan kendali hingga terjatuh, menatap Nikabrik yang menghunuskan belati padannya. Lucy tiba tepat pada waktunya, dia menyelinap dari belakang dan membawa belati ke leher sang kurcaci.

Nikabrik secara tiba-tiba memutar tubuhnya, lalu memutar lengan Lucy di punggungnya hingga gadis kecil itu kesakitan. Dia lalu merampas belati dan mendorong Lucy menjauh darinya. Tidak lama setelah itu Peter yang berhasil melempar sang hag, menoleh mencari Caspian. Menemukan Miracle tertatih-tatih mencengkram dadanya yang bersinar berusaha mendekati Caspian.

Manusia serigala yang memindahkan buruannya setelah melihat Peter jatuh, makhluk itu lalu mengejar Edmund. Raja Narnia itu berlari menuju reruntuhan, lalu berputar dan mengiris pedangnya pada manusia serigala, membuatnya merengek kesakitan. Lucy mencoba merangkak mundur ketika Nikabrik menghunuskan belati miliknya ke arahnya. Tetapi Trumpkin yang sudah berdiri, bergerak menusuk temannya dari belakang. Akhir dari Nikabrik sang pengkhianat.

Jadis melihat sekelilingnya dan melihat bahwa mereka yang memanggilnya satu persatu berhasil dikalahkan, hal itu membuatnya panik dan putus asa. "Ayo! Datanglah padaku!" bujuknya pada Caspian yang berjalan lambat.

"Menjauhlah darinya!" perintah Peter saat dia mendorong Caspian menjauh, membuat Pangeran itu jatuh terkapar di tanah. Peter tidak menyadari bahwa dia kini yang berada di dalam lingkaran dan dia masih seorang putra Adam, seseorang yang dapat dengan mudah dipengaruhi dan dirusak.

"Peter, sayang" sapa Jadis dengan suara manisnya, seolah-olah menyapa Putra kesayangannya. "Aku merindukanmu" seperti yang sudah dilakukannya pada Caspian, Jadis mengulurkan tangannya kembali dari es. Disampingnya Caspian perlahan tersadar dan melihat Peter mulai tergoda bujukan Jadis. "Kau tahu, kau tidak bisa melakukan hal ini sendirian" Peter perlahan mulai membiarkan pedangnya jatuh di sisinya.

"Peter! Apa yang kau lakukan!" teriak Edmund yang membantu Lucy berdiri bersama Trumpkin. Mereka melihat pedang Peter jatuh dengan ngeri. Lalu ujung bilang pedang tiba-tiba muncul melalui es, menimbulkan keretakan yang menyebar di seluruh dinding es. Penyihir putih tersentak kaget dan ngeri.

Caspian dan Peter menyaksikan dengan kaget ketika Jadis melemparkan kepalanya ke belakang dalam apa yang terlihat seperti penderitaan dan amarah, lalu meledakkan dinding es diantara dua pilar mengungkapkan … Miracle yang berdiri dengan pedang terangkat, dia mengeluarkan aura berwarna biru yang sangat terang, yang terpadu dengan warna kemerahan api di belakangnya. Untuk sesaat mereka tidak melihat seorang anak kecil berusia tiga belas tahun. Melainkan seorang wanita berambut panjang, dengan gaun biru keperakan yang dikelilingi untaian-untaian yang mirip dengan air. Wanita itu melihat keduanya dengan mata merah anggur yang sangat dingin.

Mereka tidak tahu apakah semua itu nyata atau tidak, karena begitu mereka mengedipkan mata mereka, wanita itu kembali menjadi Miracle yang nyaris terjatuh ke depan tumpukan es yang dihancurkannya. "Kalian berdua memang idiot" desahnya pelan, saat Peter dan Caspian berlari bersamaan untuk menolongnya. Keduanya saling menatap lalu mendongak dan melihat Aslan dengan malu. Mereka telah mengecewakannya. Mereka berdua nyaris pergi ke Penyihir putih untuk meminta bantuan, mengkhianatinya.

Peter dan Caspian membantu Miracle berdiri, dan saat mereka berbalik, mereka menemukan Susan sudah berdiri di belakang meja batu dengan wajah penuh kekecewaan lalu berbalik pergi. Caspian menatap punggung Susan yang berjalan dengan marah lalu menghilang di lorong dengan tatapan sedih dan malu. Tatapan Pangeran itu pada gadis yang baru saja pergi, tiba-tiba membuatnya merasa kecewa. Caspian bahkan tidak mengatakan sepatah katapun padanya yang telah menyelamatkannya. Pangeran Telmarine itu hanya berdiri diam, bahkan melepaskan bantuannya pada Miracle.


Miracle menemukan Caspian duduk di salah satu sudut di tingkat tertinggi How, awalnya dia berpikir Caspian akan menyendiri dan membiarkan dirinya di kucilkan. Tapi dia sangat senang saat melihat seseorang menemaninya. Walaupun dia tidak ingat pernah melihat pria tua itu sebelumnya. Miracle berusaha mundur perlahan agar tidak ketahuan melihat mereka tapi si pria tua lebih dulu melihat mereka.

"Oh lihat siapa ini. Si penyihir kecil" ucap pria tua dengan tawa menyambutnya. Miracle tersenyum kecil dan menunduk malu-malu. "Kemarilah, kau pasti ingin tahu apa yang terjadi dengan Caspian, bukan?"

Miracle melihat Caspian berbalik, dan tersenyum padanya saat dia mendekat sedikit. "Dia sudah bersamamu, aku yakin dia akan baik-baik saja"

"Dia baik-baik saja, tapi aku rasa dia butuh ditemani. Tapi bukan oleh orang tua sepertiku" sahut pria itu. "Oh aku lupa memperkenalkan diriku, aku Professor Cornelius"

Miracle mengerutkan keningnya, menatap pria tua itu dari bawah hingga ke atas. "Anda - tidak terlihat seperti separuh kurcaci? Aku pikir kau akan terlihat seperti Trumpkin yang berukuran - besar?"

Cornelius menatap gadis di hadapannya, lalu menatap Pangeran yang ada di sampingannya. "Bagaimana kau tahu, Profesorku dia - separuh kurcaci" tanya Caspian, terlihat panik karena ada yang mengetahui rahasia Profesornya. Kurcaci hitam adalah musuh lama Narnia.

Miracle menunduk, menutup mulutnya rapat-rapat. Dia mencoba mengabaikan tatapan tajam Caspian padanya. "Hanya tau" ucapnya dalam gumaman yang sangat pelan.

"Sudah-sudah, kurasa mungkin dia mendengar pembicaraan kita?" ucap Cornelius, tapi gelengan Miracle tanpa sadar, membuatnya bingung. "Tidak?"

"Aku hanya tahu" jawab Miracle masih tanya. "Tolong jangan bertanya!" pinta Miracle pada Caspian. "Aku tidak bisa mengatakan apapun"

"Baik-baiklah sayang. Semua orang punya rahasianya. Kemarilah, kuharap kau tidak keberatan menemani Caspian. Aku ingin masuk ke dalam, dingin tidak cocok untuk tubuh tuaku" Cornelius bangkit lalu menghampiri Miracle dan mendorongnya pelan untuk mendekati tempat Caspian duduk. Setelah itu, Profesor itu pergi setelah dia mengucapkan salam pada sang Pangeran.

Miracle berdiri dengan bimbang, tangannya memainkan jubah Quidditchnya hingga kusut saat melirik Caspian lalu menoleh pada lorong dimana Profesor Cornelius menghilang. Dengan gugup dia perlahan mendekati tempat Caspian duduk.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Caspian setelah Miracle duduk disampingnya.

"Aneh" jawab Miracle, Caspian menoleh dan menatapnya dengan kening berkerut. "Sihirku melemah disini, tapi sihir lain ini lebih kuat dan menekan sihirku. Membuatku terkadang merasa sangat penuh hingga sesak, bahkan kadang terasa ingin meledak. Membuatku ketakutan" jelas Miracle.

Caspian mengangguk. "Apakah itu belum pernah terjadi sebelumnya?"

Miracle menggeleng, tapi terdiam saat dia merasa bingung. "Belum pernah. Aku hanya penyihir di tahun ketiga, hanya penyihir anak-anak. Aku hanya mempelajari sihir-sihir standar, tidak ada yang mewah atau luar biasa bahkan sangat kuat yang pernah aku praktekan. Tapi disini - semua sangat kuat, aku takut tidak bisa mengendalikannya"

"Semua akan baik-baik saja" Caspian mencoba menenangkan Miracle.

"Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?"

"Berat, tapi aku yakin aku akan baik-baik saja"

Miracle mengangguk paham, dia kembali memainkan jubahnya, memelintirnya menjadi kusut. Kebiasaan buruknya jika dia gugup. Dulu dia biasanya memainkan rambutnya yang panjang, tapi semenjak rambutnya dipotong pendek, dia mengalihkan pada baju atau celananya.

"Aku masih akan menganggap kalian idiot, kalau bertanya" ucap Miracle. Caspian menoleh dan terlihat tersinggung. "Jangan tersinggung, bukan berarti aku mengatakan kau dan Peter bodoh atau tidak berguna atau apalah. Aku kesal pada kalian karena kalian lebih mementingkan ego kalian daripada logika kalian, membuat Jadis dengan mudah memperdayai kalian dalam kegelapan. Apa sih yang kau pikirkan saat itu?"

"Aku hanya ingin mengalahkan Pamanku. Dia membunuh orang tuaku" jawab Caspian.

Miracle mendengus. "Hanya itu saja?"

"Susan" jawab Caspian, menunduk malu.

"Kau ingin dia sebagai Ratumu?" Caspian mengangguk. Miracle mendengus mendengarkan hal yang sudah bisa diduganya. Caspian pasti juga menginginkan Susan menyukainya, jika dia menjadi Raja dan dia mendapatkan hati Susan, maka dia bisa memerintah di sisinya sebagai Ratu. Itu adalah masa depan yang sempurna, bagaimana tidak. "Aku rasa dia menyukaimu"

"Benarkah?" Miracle mengabaikan rasa sakit yang tiba-tiba muncul saat melihat wajah cerah Caspian. Dia benar-benar bingung, kenapa dia merasa terganggu dengan hal itu. Apakah dia benar-benar jatuh cinta padanya?

Demi Merlin, dia masih tiga belas tahun. Cewek tiga belas tahun tidak jatuh cinta pada anak cowok berusia tujuh belas tahun. Dia bahkan tidak seharusnya memikirkan masalah cowok, karena dia diharuskan fokus dengan pelajarannya dulu. Mamanya melarangnya untuk pacaran, dan jika dia berani macam-macam, maka dia akan dikirim ke Valinor. Menemani Kakek Thranduil yang menyebalkan.

Caspian terlihat hendak membicarakan Susan lagi, dilihat dari caranya menatap Miracle. Mungkin ingin memastikan bahwa Miracle salah walaupun dia sebenarnya mengharapkan Miracle benar. "Kau mau coklat kodok?"

"Coklat kodok?"

Miracle mengangguk. "Iya, untung aku sempat menyimpan beberapa di kantongku sebelum aku bertanding. Biasanya aku selalu kebosanan di atas jika menjadi Seekers saat latihan, dan menghabiskan waktuku untuk makan makanan kecil" jelas Miracle, mengeluarkan beberapa coklat kodoknya lalu menyerahkan satu pada Caspian.

Caspian meraih satu lalu menatap coklat yang sangat mirip sekali dengan bentuk kodok hijau yang licin. Coklat di dalam kemasan itu bergerak sedikit yang membuatnya menoleh ngeri. "Dia hidup?"

"Oh itu sihir. Hanya kiasan, tidak benar-benar hidup. Akan diam setelah kau memegangnya" jelas Miracle. Caspian mengangguk paham, dia melihat Miracle membuka coklatnya sendiri, lalu mulai menggigitnya, membuatnya tidak sabar untuk mencoba "Hati-hati membukanya, karena dia bisa - loncat" coklat kodok milik Caspian, melompat dari bungkusnya dalam gerakan dramatis dan hancur di tanah di bawah tingkat mereka. "Yah… sayang sekali, hanya satu loncatan. Aku pernah sampai lima lompatan sebelum dibawa lari oleh nifflers"

"Kau bilang tidak hidup" seru Caspian ngeri

Miracle tertawa melihat ekspresi Caspian yang terlihat lucu baginya. "Memang tidak hidup, tapi itu hanya sihir di dalam makanan. Di duniaku, hal itu biasa. Permen yang membuatmu menyuarakan suara hewan atau mengubah warna rambutmu. Kue yang membuatmu membeku, dan masih banyak lagi. Seandainya aku membawanya" ucap Miracle lalu mengambil coklat kodok lainnya dari kantong jubahnya, langsung membukanya dan memberikannya pada Caspian.

"Kartu apa ini?" tanya Caspian saat Miracle juga menyerahkan kartu coklat kodok padanya.

"Hadiah coklat kodok. Banyak penyihir anak-anak hingga dewasa yang mengoleksinya, sangat berharga, apalagi jika kau mendapatkan penyihir-penyihir terkenal yang sangat langka" jelas Miracle. "Lihat, aku dapat Samuel G. Quahog. Dia Presiden MACUSA dan juga anggota Perpustakaan yang sangat penting. Aku punya empat sekarang"

Caspian menatap sosok pria yang terlihat melambaikan tangan di kartu Miracle. "Dia bergerak?" tanya Caspian, Miracle mengangguk lalu menggumamkan kata 'sihir' sekali lagi untuk menjelaskan secara singkat. Setelah itu Caspian memutuskan melihat kartunya sendiri.

Miliknya adalah gambaran seorang wanita berambut hitam panjang, yang rambutnya terkena hembusan angin di suatu tempat yang terlihat seperti ujung tebing. Wajahnya tidak terlihat karena dia memunggunginya. Tapi pundaknya yang telanjang terlihat begitu bersedih. "The Enchantress" gumamnya, membaca nama yang tertulis di kartu. "Siapa?"

"Kau mendapatkannya?" tanya Miracle terkejut. "Kartu itu sangat langka. Bahkan banyak yang percaya bahwa kartu itu akan memberikanmu keberuntungan" jelas Miracle, melirik kartu Caspian dengan iri. James pasti tidak akan percaya padanya, pria itu sempat memborong coklat kodok saat mereka mengatakan merilis kartu The Enchantress yang kemudian berakhir dengan kegagalan dan dirawat di St. Mungo, karena radang tenggorokan.

Caspian menatap kembali gadis yang ada di dalam kartu. Tapi dia tersentak kaget saat gadis itu tiba-tiba menghilang. "Dia hilang"

"Mereka tidak selalu diam di sana. Kadang mereka pergi, kadang mereka datang. Lihat milikku juga" Miracle memperlihatkan kartunya yang juga kosong, yang berbeda dengan milik Caspian adalah bahwa kartu milik Caspian memiliki latar sebuah tebing dengan siluet sebuah kastil yang terlihat mirip dengan Kastil Telmarines, tapi milik Miracle hanya sebuah latar berwarna hitam yang kosong. Caspian menyerahkan kartu miliknya pada Miracle, tapi gadis itu menggeleng. "Itu milikmu, simpanlah. Sebagai kenang-kenangan?"

Mendengar hal itu, membuat Caspian tersenyum senang. Pangeran itu lalu menggigit coklat kodok yang dipegangnya sejak tadi. "Wow, ini enak sekali"

"Benarkan, bahkan cowok-cowok yang tidak suka dengan makanan manis akan sangat menyukainya" sahut Miracle.

Caspian dan Miracle duduk di sudut tingkat How untuk beberapa lama. Kebanyakan Caspian akan membiarkan Miracle mengoceh sendiri. Dari cerita Miracle, Caspian mengetahui bahwa gadis kecil itu hanyalah anak angkat. Dia tidak tahu siapa orang tuanya, dan dia ditemukan di hutan oleh sepasang penyihir kuno. Dia tinggal di sebuah kastil yang merupakan sebuah Perpustakaan sihir kuno, tempat yang menyimpan berbagai buku-buku sihir yang langka, dan juga artefak-artefak yang mengandung sihir.

Ada banyak orang yang tinggal di sana bersamanya, bahkan Ayahnya adalah seorang Raja di suatu hutan yang mereka namai Lim Aear. Miracle terlihat sangat bahagia, walaupun dia tidak dibesarkan oleh orang tua kandungnya.

Miracle juga bercerita tentang sekolah sihirnya. Olahraga favoritnya adalah Quidditch sebuah permainan yang menggunakan sapu terbang, mencetak gol, menghindari bola gila dan juga mengejar sebuah bola emas yang sangat kecil. Rupanya, Miracle sedang dalam pertandingan saat dia terjatuh ke Narnia. Dia ingat bahwa dirinya melihat Aslan sebelum bola gila yang disebutnya Bludger menyerangnya hingga jatuh bersama sapunya lalu terbangun di tengah hutan dimana mereka menemukannya.

"Kita akan temukan Aslan, lalu kau bisa pulang" janji Caspian. Miracle tersenyum mendengar janjinya. Tapi entah kenapa janji Caspian justru terdengar seperti pengusiran baginya. Dia mencoba mengabaikan kekesalannya yang sangat mengganggunya. Lagipula, dia memang benar-benar ingin pulang, kan?


Ulasannya plis? wink wink wink!