Harry Potter milik JK. Rowling, TLOTR milik JRR. Tolkien dan The Chronicle Of Narnia milik CS Lewis. Penggunaan karakter hanyalah bagian dari Fanfiction ini. Storyline by me. Beberapa cerita Harry Potter - TLOTR - Narnia mungkin ga akan sesuai dengan karya aslinya, karena ini Fanfiction...
Selamat Membaca..
"Demi kue dan genderang, itukah rencana terbaikmu?" tanya Trumpkin dengan tatapan tidak percayanya pada Peter yang berdiri di seberang meja yang terbuat dari pohon raksasa yang sudah terpotong. Mereka berkumpul dengan ketegangan suasana setelah sebelumnya mereka dibuat terkejut saat ratusan pasukan Miraz berbaris di lapangan Aslan How. Trumpkin berjalan mendekati Lucy, menunjuk ke arahnya yang berdiri disamping Susan. "Menyuruh seorang gadis kecil ke hutan paling gelap? Sendirian?"
"Hanya itu kesempatan kita." ucap Peter
"Dan dia tidak akan sendirian." tambah Susan.
Trumpkin mendekati Lucy dengan sedih, "Belum cukupkah dengan kekalahan kita sebelumnya? Kita nyaris kehilangan semua orang." ucapnya dengan wajah sendu.
"Nikabrik juga temanku," ucap Trufflehunter, "Tapi dia kehilangan harapan. Ratu Lucy tidak, dan begitu juga aku."
"Aku juga!" seru Miracle yang duduk diantara Profesor Cornelius dan Caspian. Pangeran Telmarine menoleh padanya, tertawa kecil lalu mengacak-acak rambutnya. Tindakan Caspian membuat perut Miracle berputar dan pipinya terasa panas. Dia berharap penerangan dari obor api tidak membuatnya terlihat jelas.
Dia dan Caspian menjadi lebih akrab sejak mereka mengobrol di sudut salah satu tingkat How. Caspian sering tertawa mendengar ocehannya atau leluconnya yang ada di dunianya. Hanya saja, terkadang Miracle merasa kesal karena sikap Caspian terlihat seperti bagaimana James dan Owen memperlakukannya. "Demi Aslan" ucap Miracle.
"Aku tidak mengerti," ucap Trumpkin. "Kenapa kita harus melakukan hal ini. Jika kita bisa melakukan hal yang kita rencanakan sebelumnya. Menggali lebih dalam atau berlari."
"Trumpkin," panggil Miracle, kurcaci menoleh menatapnya. "Apakah 1300 tahun ini belum cukup bagimu untuk bersembunyi?"
Trumpkin terlihat marah padanya, karena kurcaci itu berjalan cepat mendekatinya. "Jangan pernah berbicara seolah-olah kau tahu rasanya."
"Aku tahu! Karena hal itu juga terjadi pada kaumku di duniaku. Aku mungkin berada pada generasi yang sudah terlindungi dengan sihir perlindungan dan perbatasan. Tapi aku tahu bagaimana hal - hal mengenai bersembunyi dari pemburu ini merusak moralitas serta ego kami bahkan hingga sekarang. Kaumku diburu oleh kaum non sihir seperti Peter dan Susan, digantung dan dibakar tanpa perduli apakah kami penyihir gelap atau tidak," Miracle menekukkan kakinya, lalu menunduk menatap sepatu bootnya. "Apakah hal itu yang ingin kau tinggalkan sebagai warisanmu lagi? Ketika kau punya kesempatan untuk memperbaikinya."
Trumpkin terdiam, menunduk pelan lalu mendongak dengan gugup, menatap Miracle lagi. "Apakah kau tidak bisa melakukan hal mereka lakukan untuk melindungi duniamu?"
Miracle menggeleng. "Butuh ratusan penyihir untuk membuat sebuah pesona perlindungan yang kuat untuk bertahan, bahkan hal itu harus diulangi setiap berpuluh-puluh tahun. Aku hanya tahun ketiga, penyihir anak-anak. Perlindungan terkuat ku… hanya menahan serangan untuk diriku sendiri," jelas Miracle. "Trumpkin, perang akan datang, cepat atau lambat. Jika tidak pada generasimu, maka ini akan menjadi generasi berikutnya. Kenapa kita harus menunda hal-hal yang bisa kita selesaikan sekarang."
"Miracle benar," Reepicheep menarik pedangnya, lalu berseru mengikuti ucapan Miracle. "Demi Aslan." tikus itu memberikan hormatnya pada Miracle.
"Demi Aslan." gema dari beruang yang berbicara dari sisi ruangan.
Trumpkin menatap sekelilingnya dengan kesal dan putus asa. Dia mengkhawatirkan Lucy tentu saja. "Kalau begitu aku ikut denganmu."
"Tidak. Kami butuh kau di sini." tolak Lucy, menyentuh pundak sang kurcaci dengan kelembutannya.
"Kita harus menahan mereka sampai Susan dan Lucy kembali." ucap Peter.
Miracle melihat Caspian ingin mengatakan sesuatu, tapi Pangeran itu terlihat ragu-ragu dan takut bahwa dia akan memberikan pendapat yang salah, atau lebih buruk lagi tidak diharapkan. Tapi Miracle memutuskan mengangkat tangannya untuk menarik perhatian semua orang.
"Caspian ingin mengatakan sesuatu," ucap Miracle membuat Caspian menoleh padanya seketika dengan mata bertanya. Miracle menyikut Caspian lalu menunjuk kehadapan semua orang. "Bicara saja, aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu." bisiknya.
Caspian terkejut tentu saja, Miracle membaca ekspresinya dengan mudah. "K-kalau boleh… " dia bangkit ketika keberaniannya muncul. "Miraz mungkin kejam dan pembunuh..." ucapnya dengan ekspresi dingin dan jijik, "... tapi sebagai Raja, ia tunduk pada tradisi ... dan harapan para rakyatnya"
Mereka semua menatap Caspian. Mengetahui bahwa sang Pangeran Telmarine memiliki sebuah rencana. Tetapi karena tidak ada orang lain yang mengetahui cara hidup Telamarine, tidak ada yang benar-benar mengetahui apa rencananya.
"Ada hal tertentu yang mungkin bisa kita manfaatkan." Caspian terlihat sangat yakin dengan rencananya, sehingga Peter bahkan tidak menemukan celah untuk memperdebatkannya.
"Hal tertentu apa?" tanya Peter dan Edmund bersamaan
"Hal yang memberi kita waktu tambahan untuk bersiap-siap dan mengirim Lucy mencari Aslan," sahut Miracle. Caspian menoleh ke belakang, menatap mata merah anggur gadis kecil dihadapannya. "Kita bernegosiasi." Caspian mengangguk, walaupun matanya masih menatap Miracle dengan penasaran. Miracle jelas-jelas mengetahui strategi peperangan, mungkin karena Ayahnya seorang Raja juga. Tapi dia hanyalah anak perempuan, seorang Putri tidak diajari teknik dan strategi peperangan.
Peter melirik Caspian yang menatap Miracle dengan intens, sementara gadis yang ditatap itu, terlihat mencoba mengabaikan tatapan Caspian dengan memainkan jubahnya. Peter tahu gadis itu gugup, bahkan dia bisa melihat rona merah di pipinya, walaupun samar-samar.
"Apa yang akan kita negosiasikan? Apakah dia akan menerimanya?" tanya Susan, mengalihkan tatapan Caspian dari Miracle.
"Kita akan mengirimkan tantangan bertarung satu lawan satu pada Raja Miraz," jelas Caspian. "Pamanku tidak akan pernah bisa menolaknya, karena jika dia melakukannya - dia mengecewakan rakyatnya,"
Peter mengangguk paham. "Lalu siapa yang akan pergi?" Peter bertanya pada sekelilingnya.
Edmund melangkah maju, "Aku akan melakukannya." seru tegas dan tidak terlihat takut sama sekali. Lagipula hanya hal itu yang bisa dilakukannya sekarang untuk memberi mereka waktu. Bertarung akan menjadi tugas Peter nanti saat dia menghadapi Miraz.
"Raja muda tidak akan sendiri, aku akan menemaninya." Glenstorm maju melangkah lalu berdiri di sebelah Edmund.
"Bawa raksasa bersama kalian," ucap Miracle. "Mengintimidasi musuh akan menguntungkan bagi kita." jelas Miracle saat semua orang menatapnya.
Susan mengangguk, Ratu tertinggi berjalan menghampiri Peter lalu berdiri diantara Caspian dan Peter. "Kita harus membuat surat cinta yang manis padanya."
"Mira!" panggil Susan. Miracle yang sedang menikmati daging panggang bersama Caspian, Profesor Cornelius dan beberapa Narnia menoleh menatap Ratu Tinggi yang berjalan menghampirinya. "Kau pakai ini ya, kau tidak pernah mengganti baju sejak tiba disini. Walaupun sihirmu itu praktis, tapi aku tidak terlalu yakin kebersihannya" ucapnya lembut dengan nada keibuan.
Miracle nyaris tersedak, menatap baju yang di perlihatkan Susan. "Apa itu?"
"Ini gaun milik Lucy. Para Narnia berhasil mengambilnya dari Cair Paravel saat mereka mencari beberapa senjata tambahan." jelas Susan, menggoyang-goyang gaun dengan tidak sabaran.
"Demi Merlin, tidak akan pernah!" tolak Miracle, beringsut mundur dari tempat Susan berdiri.
"Para gadis selalu memakai gaun, Mira," ucap Caspian. "Bahkan anak-anak juga."
Miracle memutar matanya. "Tapi tidak di tempatku. Para gadis juga memakai jeans seperti muggle. Bahkan ada yang hanya memakai pakaian dalam untuk berjemur di pantai. Ini lebih nyaman dari gaun atau dress." jerit Miracle.
Susan berkacak pinggang. "Tidak mungkin. Tidak ada orang tua yang akan membiarkan anak gadis mereka memakai seragam pegawai pabrik." bentak Susan.
"Di waktumu! tapi di waktuku, jeans adalah fashion bahkan untuk penyihir. Lihat bahan ini tebal dan nyaman. Jika aku lebih kurus dan tinggi, kau bisa lihat bentuk pantatku!" Miracle berdiri lalu memperlihatkan celana quidditchnya yang terbuat dari bahan mirip jeans tapi lebih halus dan nyaman, dia berputar menepuk pantat dihadapan Susan. "Jeans itu seksi!"
Caspian terbatuk-batuk sementara Susan menatapnya dengan tidak percaya. "Gadis-gadis memakai gaun dan dress, hanya pegawai pabrik yang -"
"Apa maksudmu dengan waktumu dan waktu kita?" Lucy yang baru muncul memotong omelan Susan.
"Ah- aku - aku" Miracle menjadi gugup, baru menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya.
"Mira..." panggil Peter, matanya menatapnya tajam dan menuntut.
"Oke baiklah, aku datang dari tahun 2016." ucap Miracle memainkan daging panggangnya.
Susan menggeleng, "itu berarti lebih dari 80 tahun?" ucapnya setelah menghitung sebentar di dalam benaknya.
"Tapi kau tahu nama kami." ucap Lucy mengingatkan.
"Hanya tahu." ucap Miracle pelan.
Caspian menatap Miracle yang menunduk lalu mendengar Peter mengerang, "Tidak itu lagi."
"Hei.. lepaskan oke. Setiap orang punya rahasia. Dan aku yakin dia punya alasan untuk itu" bela Caspian, Pangeran Telmarine itu bangkit lalu berjalan menghampiri Peter. "Kita masih memiliki hal-hal yang harus kita pikirkan." Peter mengangguk, tapi dia terlihat menatap Miracle dengan kecewa. Bertanya-tanya, berapa banyak lagi rahasia yang dibawa gadis kecil dihadapannya.
Lucy berjalan menghampiri Miracle. "Katakan padaku Mira, apakah di masa depan. Kami masih berperang?"
"Perang selalu ada dimana-mana, Muggle dan penyihir," jawaban Miracle membuat Peter dan Susan menunduk sedih. "Tapi perang muggle tidak selalu melibatkan bom dan ledakan, bahkan hingga waktuku perang selalu terjadi untuk berbagai hal, teknologi dan kekayaan. Negara-negara bekerja sama dan berperang di saat yang bersamaan."
"Itu berarti, jauh lebih damai dari waktu kami, kalau begitu." Lucy tersenyum.
"Bersabarlah, tidak lama lagi. Aku tidak bisa mengatakan kapan tepatnya. Tapi - semua akan menjadi lebih baik."
"Oke! Masa depan atau bukan, kau pakai gaun sekarang!" Susan mengambil keputusan finalnya. Miracle meletakkan piringnya, lalu berlari menuju Peter dan Caspian, berusaha menghindari Susan yang memaksanya memakai gaun.
Aslan How dipenuhi tawa saat melihat Susan mengejar Miracle, tidak ada yang berani membantu Susan untuk menangkap Miracle setelah melihat Trumpkin yang membeku di lantai, atau Reepicheep yang melayang-layang. Bahkan Peter dan Caspian mundur dengan tangan terangkat, menyerah.
Edmund, Glenstorm dan Wimbleweather kembali dari tugas mereka dengan tawa di wajah mereka. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajah mereka hingga membuat semua menatap mereka dengan heran.
Peter terlihat kesal, menatap adiknya dengan tidak sabaran. Edmund seharusnya memberikan kabar dan bukannya tertawa tanpa henti. Bahkan Glenstorm yang jarang tertawa pun, tidak bisa menahan tawanya.
"Ada apa?" tanya Lucy penasaran. "Kenapa kalian semua tertawa?"
"Dimana Miracle?" tanya Glenstorm yang berhasil menguasai dirinya lebih dulu
Edmund yang mendengar nama Miracle disebut, kembali tertawa bersama Wimbleweather dan membuat gua bergemuruh. Peter yang semakin kesal meminta Caspian memanggil Miracle yang sedang membersihkan diri bersama Susan.
Susan gagal menyuruh Miracle menggunakan gaun, sebagai gantinya dia membiarkan Miracle mencuci pakaiannya di air lalu dikeringkan dengan sihir, bukannya menggunakan pesona pencuci.
Tidak lama Caspian muncul bersama Miracle yang berwajah segar dan Susan yang terlihat puas. "Bagaimana? Mereka menyukainya?"
"Kau seharusnya menceritakan hal itu dulu pada kami," seru Edmund, menahan tawa. "Aku nyaris melompat karena gulungan itu. Dan Miraz dan para Jendralnya bahkan terjatuh dari kursi saat itu."
"Oh… aku ingin sekali melihatnya" erang Miracle.
Peter yang tidak sabar, menepuk tangannya, meminta perhatian Edmund dan Miracle. "Adakah yang mau menjelaskan padaku, apa yang terjadi sekarang. Aku ingin tahu."
"Aku juga ingin tahu," seru Caspian. "Kenapa Pamanku bisa terjatuh dari kursi."
Miracle melangkah maju lalu berdiri di samping Edmund. "Sebelum Edmund berangkat. Aku meminta gulungan deklarasi yang Peter tulis. Memberikan pesona howler padanya. Sehingga nantinya -" Edmund mulai tertawa lagi diikuti Wimbleweather yang memukul lantai dengan tongkat besarnya. "Gulungan akan berbicara sendiri."
"Aku masih tidak paham." ucap Peter.
Edmund berdehem sebentar lalu mulai menjelaskan kepada mereka semua apa yang terjadi di tenda Miraz.
Flashback on
Edmund, Glenstorm dan Wimbleweather disambut oleh pasukan Telmarine dengan wajah penasaran. Edmund dan Glenstorm masing-masing membawa sebuah pot berisi bunga putih yang menunjukan bahwa mereka datang dengan perdamaian. Miraz sepertinya mengetahui tujuan kedatangan mereka karena itu tidak ada satupun pasukan yang menyerangnya saat mereka mendekat.
Ketika mereka bertiga tiba di tenda utama Miraz, penjaga hanya mengijinkan satu orang memasuki tenda sementara Glenstorm dan Wimbleweather dibuat menunggu dibawah pohon dan menjadi tontonan pasukan Telmarines.
Edmund berdiri di tengah-tengah para Jenderal dan Raja Miraz, mulai membongkar gulungan deklarasi yang ditulis oleh Peter semalam. Tapi gerakannya terhenti saat teringat pesan Miracle beberapa saat lalu.
Miracle meminjam gulungannya sebentar, mengetuk dengan tongkat ajaibnya lalu membisikkan sesuatu. "Aku baru mempelajari pesona ini dengan teman-temanku beberapa waktu lalu, tapi belum sempat mempraktekannya. Kuharap bekerja dengan baik," ucap MIracle saat itu. "Pastikan kau yang membukanya di depan Miraz"
Edmund yang penasaran dengan pesona yang ditambahkan Miracle, hanya menggeleng mulai membongkar gulungan deklarasi dengan gagah, sebelum akhirnya dia melompat kecil ketika deklarasi melompat dari tangannya dan melayang. Sebuah bibir terbentuk pada gulungan yang separuh terbuka, lalu tiba-tiba saja suara Peter yang sangat bijak terdengar membahana mengisi tenda megah Miraz.
Edmund beruntung, Raja Miraz dan para Jendralnya yang terjatuh tidak menyadari keterkejutannya juga. Beberapa pedang terarahkan pada gulungan yang melayang dan mulai menyuarakan isi deklarasi.
"Aku, Peter, anugerah dari Aslan, melalui pemilihan dan penaklukan, Raja Tinggi Narnia, Penguasa Cair Paravel, dan Kaisar dari Pulau Lone. Untuk mencegah banyaknya pertumpahan darah, dengan ini menantang Miraz untuk melakukan pertarungan tunggal. Pertarungan akan sampai pada kematian. Hadiahnya akan sepenuhnya menyerah"
Setelah selesai mengucapkan isinya, gulungan deklarasi kembali menjadi gulungan biasa dan terbang ke tangan Edmund. Raja muda itu berusaha menahan tawanya ketika dia melihat wajah pucat di sekelilingnya. Raja Miraz terdiam, matanya menatap gulungan yang ada di tangan Edmund seolah-olah menunggu gulungan itu melompat kembali.
Edmund yang menyadari pandangan Miraz dan para Jendralnya, memindahkan gulungan ke belakang punggungnya.
"Katakan padaku, Pangeran Edmund -" ucap Miraz setelah dia pulih
"Raja." sela Edmund, mengkoreksi.
"Maaf?" tanya Miraz, bingung.
"Sebenarnya itu Raja Edmund," Miraz memberi Edmund tatapan anehnya, "Hanya Raja, Peter Raja Tingginya," Miraz semakin bingung. "Aku tahu ini membingungkan.
Miraz dan para Jendralnya berbagi tatapan bingung, lalu akhirnya melambaikan tangan seolah-olah hal itu tidak penting baginya. "Kenapa kami harus menerima usulan itu, jika pasukan kami bisa menyapu kalian sebelum malam?"
Edmund menatap sekelilingnya yang terlihat meremehkannya, seketika dia merasa ingin sedikit memanas-manasi Raja sombong di hadapannya, "Apa kalian meremehkan jumlah kami? Dan apa yang terjadi di kastil?" tanya Edmund, "Maksudku, baru seminggu yang lalu orang Narnia punah."
"Dan akan terjadi lagi." ancam Miraz.
"Kalau begitu kalian pasti sedikit takut." ucap Edmund.
Miraz tergelak mendengar ucapan Edmund, "Ini bukan masalah keberanian." ejeknya, diikuti tawa para Jendralnya.
"Jadi kau dengan berani menolak untuk melawan orang yang lebih muda darimu?" hiburan tercampur dalam setiap ucapan Edmund. Hal itu membuat Miraz yang tertawa sebelumnya terlihat tersinggung.
"Aku tidak bilang aku menolaknya." desis Miraz.
Miraz menoleh kepada salah satu orang Telmarines yang berbicara dari sebelah kirinya, "Kami akan mendukungmu, Yang Mulia. Apapun keputusan anda."
Tetapi pria lain yang duduk di sebelah kanan Miraz, menyerukan ketidaksetujuannya dengan penuh percaya diri, "Tuan, keunggulan prajurit kita punya alasan bagus untuk menghindari -"
Miraz memotong dengan marah, berdiri dan menghunuskan pedangnya, "Aku tidak menghindari apapun!" serunya.
Edmund melihat ketegangan yang ada antara Miraz dan orang-orangnya. Hal ini membuatnya tersenyum dan yakin bahwa rencana Caspian dan Peter pasti berhasil. Terima kasih juga untuk Miracle, berkat sihirnya, Telmarines mulai ragu dengan rencana mereka.
"Aku hanya menunjukan bahwa tuanku punya hal untuk menolak." ucap pria itu dengan licik.
"Yang Mulia tidak akan menolak," pria yang sejak tadi berdiri di pintu masuk tenda berseru, kemarahan Miraz teralihkan dari pria di kanannya. "Dia pasti senang memperlihatkan keberanian Raja baru kepada rakyatnya." Edmund terlihat semakin bersemangat ketika Miraz terlihat semakin terpojok.
Miraz lalu mengarahkan pedangnya ke Edmund, "Kau," ucapnya marah, tapi tidak membuat Edmund takut sedikitpun, sebaliknya, justru membuat Edmund semakin bersemangat. "Sebaiknya kau berharap pedang kakakmu lebih tajam dari penanya, dan penyihir yang merusak kastilku, dia harus membayarnya."
Edmund menahan geraman marahnya terhadap ancamannya Miraz pada Miracle. Tapi dia tidak terlalu khawatir, karena misinya sudah selesai, dan kesempatan mereka untuk menang jauh lebih terbuka.
Flashback off
"Jadi dia menerima tantangan kita." Peter terlihat bersemangat tapi juga khawatir.
"Dia menginginkan, Miracle?" tanya Caspian dengan wajah pucatnya. Miracle mengigil melihat ekspresi kemarahan yang dingin di tampilan wajah rupawan Caspian. "Beraninya dia"
"Dia memperhitungkan Miracle kalau begitu. Setidaknya, kita memiliki sesuatu yang ditakuti Miraz," sahut Susan. "Mira, kau baik-baik saja dengan itu?"
Miracle mengangkat bahunya. "Aku tidak punya pilihan kan?"
Caspian baru saja kembali dari mempersiapkan kudanya untuk digunakan Susan dan Lucy ketika dia melihat Miracle membongkar kantong obatnya lagi di atas meja batu Aslan. Dari Susan, Caspian tahu bahwa Miracle memiliki obat ajaib yang disebutnya dengan Ramuan. Menyembuhkan dirinya dari demam dan kelelahan dalam sekejap.
Miracle terlihat memilah-milah ramuan sambil membaca secarik perkamen yang ada di sana. Di sebelahnya, botol minuman milik Peter tergeletak begitu saja.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Caspian.
Miracle menjerit, lalu berbalik dengan memegang dadanya. Matanya menatap Caspian kesal. "Jangan mengejutkanku seperti itu," bentaknya. "Untung saja, tongkatku jauh, jika tidak. Kau tidak ingin membayangkannya."
Caspian hanya tersenyum kecil lalu duduk di sebelah Miracle, Pangeran Telmarine itu meraih botol minuman milik Peter. "Kenapa milik Peter ada disini?"
Miracle menatap mata Pangeran Telmarines yang berwarna coklat menghangatkan. Terlihat menimbang-nimbang perkataan yang ingin disampaikannya. "Caspian, apakah menurutmu- kita curang jika aku mencampurkan ramuan pada minuman Peter?"
"Ramuan apa?"
"Ramuan penambah energi," ucap Miracle dengan berbisik. Dia berbalik sedikit untuk melihat bahwa hanya mereka yang ada di meja batu Aslan saat ini. "Ini akan mengembalikan energi Peter setiap kali dia meminumnya. Jadi dia tidak akan mudah lelah sehingga kesempatan kita untuk mengalahkan Miraz akan -"
"Tapi itu curang," potong Caspian, membuat wajah Miracle memerah karena malu. Bahkan Caspian juga berpikiran yang sama dengan dirinya sendiri sebelumnya. Caspian yang melihat wajah jatuh Miracle, meraih tangan gadis itu. "Itu curang, tapi Miraz yang kita hadapi. Dia jahat dan juga pembunuh. Dia membunuh orang tuaku, dan akan membunuh seluruh Narnia yang tersisa, jika kita kalah."
Miracle menatap Caspian, menunggu pria itu menyampaikan maksudnya. Karena Miracle masih bingung apakah Caspian setuju atau tidak dengan tindakannya. "Jadi maksudmu?"
"Peter akan marah jika dia tahu minumannya dicampur dengan ramuan," ucap Caspian, Miracle menarik tangannya yang Caspian genggam, lalu mulai merapikan ramuannya. Tapi sekali lagi Pangeran Telmarine meraih tangannya. Gadis itu terlihat kesal. "Jadi, dia tidak perlu tahu itu, dan kita tidak akan dianggap curang jika kita menjadikan ramuan itu opsi terakhir."
"Cerahkan aku, tolong!" bentak Miracle.
"Kau boleh menambahkan ramuan hanya jika kita merasa Peter akan kalah." jelas Caspian.
"Jadi kau mendukungku melakukan kecurangan?" bisik Miracle tidak percaya.
"Kita akan menanggungnya bersama" Miracle menatap Caspian untuk beberapa waktu, gadis itu tersenyum lalu tanpa sadar bergerak memeluk Caspian. "Demi Narnia" bisik Caspian di bahu Miracle, Pangeran Telmarine membalas pelukan mengejutkan Miracle dengan lembut. Rasa aneh, dengan Miracle di pelukannya, Caspian merasa semua akan baik-baik saja.
"Ya demi Narnia"
"Destrier selalu melayaniku dengan baik. Kau berada di tangan yang tepat." Caspian berbicara begitu lembutnya pada Susan
"Atau kaki kuda." seru Lucy melemparkan senyuman pada Miracle dan Caspian.
Caspian hanya tersenyum, lalu meraih sepatu Susan dan meletakkan pada pelana kuda dengan perlahan dan lembut. Kelembutan sikap Caspian pada Susan membuat Miracle yang juga berdiri disampingnya terlihat tidak nyaman.
Lucy melihat ketidaknyamanan itu dan melemparkan senyum bersalah padanya, Miracle hanya membalasnya dengan senyuman kecil dan gelengan kepala. "Seandainya aku bisa membuat kalian menaiki sapuku, itu jauh lebih cepat dari kuda dan kalian bisa terbang di atas hutan."
"Kami bukan penyihir, Mira," ucap Susan pelan. "Lagipula, aku tidak suka terbang dan aku tidak akan terbang dengan benda yang tidak bisa aku kendalikan."
"Terbang itu menyenangkan," desah Miracle. "Terbang itu luar biasa."
"Aku bersedia mencobanya setelah semua ini selesai." sahut Caspian.
Miracle tersenyum senang dengan prospek setelah perang. "Sungguh," Caspian mengangguk padannya, tersenyum dengan sungguh-sungguh. "kau tidak akan menyesal."
"Aku pegang janjimu"
Saat itu batuk keras yang palsu dari Susan membuat semangat Miracle terganggu. Caspian kembali mengalihkan perhatiannya pada Susan dan Lucy. "Semoga beruntung." bisik Caspian lembut.
Susan menjawab dengan nada agak dingin. "terima kasih." Dia memalingkan wajahnya dari Caspian hanya untuk menyembunyikan seringai kecil di wajahnya.
Caspian bingung dengan sikap dingin Susan, tapi dia sudah mulai terbiasa sekarang. Ratu Tinggi terkenal dengan sikap lemah lembutnya, tapi untuk beberapa orang, dia bisa menjadi sangat dingin dan tertutup. Tapi hal itu membuatnya tidak kehilangan pesonanya, dan Caspian masih merasakannya.
"Lihat," ucap Caspian. Dia mengulurkan tangan ke sisinya lalu mengeluarkan tanduk Susan. "mungkin sudah saatnya kau mendapatkan ini kembali."
Susan hanya menatap tanduknya sebentar lalu melirik Miracle sebelum menjawab, "Kenapa tidak kau pegang dulu. Mungkin kau ingin memanggilku lagi." Lucy yang duduk di belakangnya memutar matanya kesal.
Miracle meniru Lucy, memutar matanya saat melihat Caspian yang mematung dengan wajah merona. Bahkan Pangeran itu tidak menyadari Susan sudah membawa kudanya melangkah pergi. Ketika dia menoleh, Susan dan Lucy sudah menghilang dari lorong menuju hutan.
Setelah mengantar Susan dan Lucy. Caspian dan Miracle saling menatap dengan canggung. Caspian tersenyum hanya saja Miracle hanya menatapnya dingin yang membuatnya terlihat bingung.
"Mira?"
"Aku akan lihat apakah Peter sudah siap." jawab Miracle, berjalan menuju kamar Peter tanpa menoleh ke belakang. Tapi, gadis kecil itu tiba-tiba terdiam lalu berbalik dengan tiba-tiba. Caspian menatapnya bingung, sebelum akhirnya dia melihat kalung Miracle yang bersinar hijau. "Kalungmu bercahaya"
Miracle hanya mengangguk. Ini aneh, karena sebelumnya saat kalungnya bercahaya kemerahan dan memanas saat Caspian dalam bahaya. Tapi saat ini, nyala hijau tidak menyakitinya atau menimbulkan perasaan kesemutan di seluruh tubuhnya. Tapi dia masih bisa merasakan peringatan bahaya dalam dirinya. "Lucy dan Susan, mereka dalam bahaya" bisiknya.
Caspian memucat lalu berbalik mencari kuda untuk mengejar Lucy dan Susan. Dia menarik kuda lalu menaikinya. "Tetap disini." perintah Caspian saat Miracle mendekat. Tanpa menunggu jawaban, Caspian menghentakan kudanya lalu berlari dengan cepat menyusul Ratu Narnia.
Miracle menatap kepergian Capian dengan panik, berjalan bolak balik di lorong. Suara -suara penyemangat terdengar di luar How. Pertarungan pasti sudah dimulai. Tapi dia tidak bisa berdiam diri, sehingga akhirnya dia memutuskan pergi ke kamarnya untuk mengambil sapunya.
Peter dan Edmund berjalan keluar dari How. Para Narnia berdiri di luar menyambut Raja-Raja mereka dengan gembira. Menyerukan semangat pada Peter sang Raja Tinggi yang akan bertarung melindungi Narnia.
Peter memakai pakaian pertarungnya yang sebagian besar terbuat dari besi dan rantai, dia juga memakai helm besi dan juga membawa perisai. Edmund berjalan disampingnya, membawa pedang Raja Tinggi dan juga dua botol minuman Peter, yang satu telah dicampur dengan ramuan. Caspian dan Miracle sudah menceritakan rencana mereka pada Raja muda itu. Edmund seperti halnya Caspian, yakin bahwa Peter akan marah. Tapi dia menyetujui bahwa dia akan memberikannya pada Peter, jika situasi menjadi lebih buruk.
Di seberang How, Pasukan Telmarines juga melakukan hal yang sama, menyerukan semangat pada Raja Miraz yang sudah menunggu di halaman pertandingan yang terbuat dari pilar-pilar reruntuhan.
Berbeda dengan Peter. Baju bertarung Raja Telmarine, jauh lebih megah dan kokoh. Tubuhnya diselimuti besi hampir keseluruhan. Sedangkan tubuh Peter hanya tertutup besi dan rantai pada bahu dan lengannya saja.
"Jika situasi memburuk…" Miraz yang sedang merapikan sabuk di tangannya, melirik Lords Glozelle, kepalanya mengangguk pada benda di tangannya yang membawa busur.
Lords Glozelle, menatap sang Raja dan busur lalu mengangguk. "Dimengerti, Yang Mulia." ucapnya, tapi tanpa sepengetahuan Miraz, Lord Glozelle menatap Lord Sopespian diam-diam. Mereka memiliki rencana yang berbeda dengan milik Raja.
Edmund memperhatikan percakapan samar yang terjadi di hadapannya. Dengan marah dia menyadari bahwa kecurangan ternyata bukanlah hanya pilihan mereka tapi juga Miraz. Kekesalannya membuatnya membuang botol minuman yang hanya berisi air biasa, lalu memegang dengan kuat botol air yang berisi ramuan. "Baiklah, kita akan sama-sama bermain curang" desisnya marah.
Miraz bangkit saat melihat Peter dan Edmund tiba. Sorakan para Narnia terdengar begitu Peter menarik pedangnya dari sarungnya. "Kuharap kalian tidak kecewa jika aku yang selamat" katanya kasar sambil merampas helm miliknya yang dibawa Lord Sopespian. Raja Telmarines itu memakai helmnya, lalu menarik pedangnya sendiri.
Peter memasuki lingkaran pertarungan dengan keberanian yang sanggup dia perlihatkan. Di dalam hatinya, dia berharap Lucy bisa menemukan Aslan secepatnya. Dia tidak yakin akan sanggup menahan Raja Miraz untuk waktu yang lama.
"Masih ada waktu untuk menyerah." ucap Miraz dari balik topeng besinya.
"Jangan ragu." balas Peter.
"Berapa lagi yang harus mati demi tahta itu?"
"Hanya satu" Peter menutup helmnya, lalu mulai memasang pertahan untuk melawan Raja Miraz.
Ketika pertarungan dimulai, teriakan terdengar dari kedua sisi. Narnia dan Telmarines. Mereka meneriakan semangat untuk raja-raja mereka. Peter melompat dan menyerang lebih dulu, menabrakan pedangnya pada perisai Miraz. Suara benturan terdengar membahana seluruh lapangan Aslan's How.
Hingga tidak ada satupun yang menyadari sebuah sapu terbang meluncur dari salah satu sudut How, terbang cepat dan tinggi diatas hutan untuk mengejar Susan dan Lucy.
Cerita ini juga di upload di situs lain. Dan sudah tamat bagian pertamanya. Saya tidak terlalu aktif di fanfiction, terlalu sering lupa. Jadi, jika kalian memang benar-benar suka. tolong ingatkan saya untuk update selalu. Jangan lupa tinggalkan ulasannya ya. Wink! Wink!
