Harry Potter milik JK. Rowling, TLOTR milik JRR. Tolkien dan The Chronicle Of Narnia milik CS Lewis. Penggunaan karakter hanyalah bagian dari Fanfiction ini. Storyline by me. Beberapa cerita Harry Potter - TLOTR - Narnia mungkin ga akan sesuai dengan karya aslinya, karena ini Fanfiction...

Selamat Membaca..


"Mereka telah melihat kita!" teriak Lucy ketakutan. Susan mendorong Destrier untuk bergerak jauh lebih cepat dalam keputusasaan.

Susan berhenti ketika dia yakin bahwa mereka aman lalu turun dari kudanya. "Pegang kendalinya!" perintahnya pada Lucy.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucy, menatap Kakaknya dengan bingung.

"Maaf, Lucy. Tapi sepertinya kau harus lanjut sendirian" jelas Susan dengan sedih. Ratu Tinggi memberi tamparan keras pada Destrier, mendesaknya untuk berlari kencang. Susan berbalik lalu menarik panah dan anak panahnya yang berada di punggungnya, meletakkannya di haluannya dan bersiap untuk menangani pasukan Telmarines.

Lucy yang sudah berlari cukup jauh, berhenti lalu berbalik untuk menatap Kakak perempuannya. Susan memberikan anggukan padanya untuk meneruskan pencariannya. Dengan sedih Lucy mendorong Destrier untuk melangkah kembali.

Susan menarik anak panahnya dengan kuat, menatap kejauhan dimana Penunggang Telmarines yang mengejarnya akhirnya muncul. Satu per satu, Susan berhasil menembakan anak panahnya. Menjatuhkan Penunggang Telmarines dari kuda mereka. Tapi, jumlah mereka yang berdatangan tidak bisa Susan imbangi dengan kecepatannya memanah. Ketika Penunggang keempat berada lebih dekat, alih-alih menggunakan busurnya memanah, Susan menusuknya dengan anak panah seolah-olah itu belati.

Susan terlempar, dan menjatuhkan busurnya jauh darinya. Dia beringsut mundur di tanah saat penunggang terakhir mengarahkan pedang padannya. Tepat saat itu Caspian muncul dan mulai bertarung pada penunggang terakhir.

"Stupefy!" teriakan terdengar dari langit, mengenai penunggang yang terjatuh tadi dan merangkak hendak membantu temannya melawan Caspian.

Pangeran Telmarine mengalahkan lawannya sendiri lalu melihat penunggang lain jatuh di sampingnya sebelum dia mendongak, menemukan Miracle di atas sapunya.

"Apa yang kau lakukan disini?!"

"Lucy?" tanya Miracle, dia mendarat di samping Susan. Mengabaikan kemarahan Caspian.

"Dia melanjutkan sendirian" ucap Susan, Caspian membantunya bangkit dari tanah lalu menariknya ke atas kudanya. "Kita kembali ke How"

"Mira.. ayo!" perintah Caspian, saat dia melihat gadis kecil itu mencengkram sapunya dengan bimbang. Menatap tempat yang ditunjukan Susan, dimana Lucy terlihat sebelumnya.

"Tidak, Aku akan bergabung dengan Lucy. Menemukan Aslan jauh lebih penting sekarang. Kalian pergi" Miracle kembali menaiki sapunya, menghentakan tanah lalu meluncur di antara pepohonan. Dia bahkan tidak berhenti untuk melihat Caspian yang menatapnya marah.

"Mira!"


Kembali ke How

Pertarungan Miraz dan Peter masih berlangsung. Peter terlihat beberapa kali berhasil menebas baju besi Miraz tapi saat Miraz membalasnya, helm Peter terlepas. Edmund terlihat panik dan khawatir. Dilihat dari stamina, Miraz mulai terlihat kelelahan, sementara Peter masih cukup kuat, bahkan tanpa botol minuman yang ada di tangan Emund.

Peter berhasil menggores paha Miraz. Raja pengecut yang serakah itu tiba-tiba menjadi ketakutan dan menatap Jenderal Glozelle untuk melakukan rencananya. Tapi Jenderal Glozelle hanya mengangguk dan Jenderal Sopespian berpura-pura tidak melihatnya.

Miraz terlihat marah, lalu menyerang Peter dengan membabi buta, bahkan dia menyandung kaki Peter hingga jatuh dan menginjak perisai Peter, membuat Peter berteriak ketika tulangnya terasa patah. Tapi hal itu tidak membuat Peter menyerah, dan terus mengarahkan pedangnya pada Miraz.

Peter terguling setiap kali dia menghindari serangan Miraz. Dan saat dia terdesak oleh batu yang ada di tengah lingkaran, Peter memutar arah berbalik, hingga Miraz tersandung tubuhnya. Peter bangkit lagi, membuat kekhawatiran hilang dari para Narnia.

Peter melihat kemunculan Caspian dari dalam hutan, tapi dia bingung saat melihat Susan bersama Pangeran Telmarines.

"Apakah Yang Mulia butuh istirahat?" tawaran Miraz pada Peter terdengar mengejek, padahal sesungguhnya, Raja Telmarine itulah yang lebih membutuhkannya.

Peter tahu dirinya bisa bertahan tapi keinginan untuk mengetahui kabar Lucy membuatnya menerima tawaran itu. "Lima menit" erang Peter sambil menahan sakit.

"Tiga!" Miraz merenggut dan tidak ingin terlihat lemah. Dia berharap Peter akan meminta waktu satu jam, dan dia bisa mengejeknya dengan waktu yang lebih pendek. Tiga puluh menit akan cukup baginya. Tapi, Raja muda itu bahkan merasa lima menit sudah cukup.

Peter dan Miraz tertatih-tatih mendekati tempat mereka. Jenderal Glozelle meletakkan busurnya untuk mengambil kursi Miraz. Edmund mengambil helm Peter yang terjatuh lalu membantu Saudaranya mendekati Susan dan Caspian.

"Lucy?" Peter bertanya pada Susan, lalu melirik Caspian yang bergabung bersama Susan.

"Dia lanjut terus," Susan menjelaskan, "dengan sedikit bantuan." Gadis itu melirik Caspian.

Peter menatap Caspian lalu menganggukkan kepalanya padannya. "Terima kasih"

"Kau sedang sibuk" sahut Caspian menatap Peter yang terlihat menahan rasa sakitnya. Caspian melirik Edmund sekilas untuk bertanya diam-diam.

Edmund yang mengerti maksud Caspian, mengangkat botol minumannya lalu memberikannya pada Peter. "Dimana Miracle?" tanya Edmund pada Caspian dan Susan. Seingat Raja muda itu, Miracle menemani Caspian untuk mempersiapkan Susan dan Lucy.

Caspian mengeram marah, "Dia menyusul Lucy," ucapnya kesal. "aku menyuruhnya tetap di How, tapi dia mengabaikannya"

Edmund hanya tertawa. "Yah, dia Miracle. Siapa yang akan dia dengarkan, jika Susan saja tidak bisa mengendalikannya." Susan tersenyum kecil, tapi candaan Edmund tidak membuat kekhawatirannya hilang.

Di seberang mereka, Miraz yang menahan rasa sakitnya, memarahi Jenderal Glozelle. "Aku harap kau tidak akan membiarkan itu terjadi lagi" bentaknya lalu duduk di kursi.

"Apa yang terjadi disana?" tanya Caspian pelan, menatap Pamannya yang terlihat marah pada Jenderal Glozelle.

"Kurasa, Jenderal Glozelle mengabaikan tanda darinya," bisik Edmund hingga Peter tidak bisa mendengarnya, "mereka akan berbuat curang pada kita."

"Begitu juga kita" sambung Caspian.

Peter berjalan menghampiri Susan, "Naiklah ke atas sana. Untuk jaga-jaga. Aku tidak yakin Telmarines bisa memegang ucapannya," perintah Peter, menatap Miraz sambil meminum airnya, "apa-apaan ini, kenapa airnya terasa aneh?"

"Jus buah" sahut Edmund, "Miracle memerasnya semalaman untukmu," Peter menatap Edmund lalu botol airnya, dia tidak bisa membuang-buang usaha Miracle begitu saja, memutuskan meminum air buahnya walaupun rasanya sangat tidak mirip dengan buah manapun yang pernah dia makan, "Tidak seburuk itukan?"

"Coba saja sendiri," tantang Peter mengulurkan botol padannya, Edmund menolaknya dengan mundur di samping Caspian. Mereka melirik satu sama lain dan tertawa, "tapi setidaknya, aku merasakan energiku kembali."

Susan berjalan menghampiri Peter, lalu memeluknya yang membuatnya merintih. "Maaf."

"Tidak apa-apa," ucap Peter.

"Hati-hati," saran Susan

Edmund memperhatikan orang-orang Narnia yang menatap mereka dengan penasaran, beberapa terlihat bergeser dengan gugup. "Tetap tersenyum" nasehatnya.

Peter berbalik dan tersenyum lebar, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menyembunyikan penderitaan murni dari rasa sakit di seluruh tubuhnya. Susan berlari maju melalui kerumunan yang berdiri di kedua sisi pintu masuk, menuju tingkat yang lebih tinggi untuk bergabung dengan para pemanah.

Melihat Peter mengangkat pedangnya, kerumunan Narnia bersorak sorai, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Bagaimana dia menurutmu?" tanya Miraz pada Jenderal Sopespian saat Jenderal Glozelle memasang perban di pahanya, dia melihat sorak sorai yang mendukung Raja Tinggi yang masih sangat muda. Melihat bagaimana Raja itu memiliki rasa hormat dari rakyatnya. Sementara pasukannya sendiri terdiam tanpa suara.

"Muda" balas Jenderal Sopespian dengan senyuman geli.

"Tapi Yang Mulia bisa lebih dari itu…" Jenderal Glozelle juga menatap Peter yang berdiri menatap kerumunan Narnia, "saat seusianya" Miraz terdengar senang dengan pujiannya, tapi ketika Jenderal Glozelle mengikat perbannya dengan sangat kencang, Raja itu mengerang dan menatap pria disampingnya dengan kesal.

Caspian membantu Peter duduk dan melepaskan perisainya yang membuat pria itu mengerang kesakitan. "Kurasa lenganku terkilir," ucap Peter pada Edmund yang mendekat untuk memeriksa lengannya. Edmund meraba-raba lengan Peter dan mencoba memperbaiki posisinya, "apa yang akan terjadi di rumah jika kau mati disini?" Edmund hanya terdiam, Peter menoleh pada saudara laki-laki satu-satunya dengan senyuman kecil, "Kau selalu memikirkan rumah, dan aku tidak bermaksud -AHH!" Peter berteriak ketika Edmund mendorong lengannya kembali ke posisi yang benar.

Caspian mendongak ngeri saat melihat Peter membungkuk menahan rasa sakitnya. "Aku tidak akan membayangkannya. Tapi setidaknya, tidak setakut Mira dengan apa yang menantinya di rumah"

"Apa maksudmu?" tanya Caspian, dia mengulurkan botol pada Peter dan menyuruhnya meminumnya lagi. Peter menerima botol dan meminumnya dengan patuh, walaupun dia harus menangis karena rasanya yang tidak enak. "Kenapa Mira takut dengan kepulangannya?"

"Lucy mengatakan padaku sesuatu tentang aturan di dunianya. Tentang Kementerian yang akan mematahkan tongkatnya jika dia ketahuan melakukan sihir di luar sekolah dan di depan muggle, kita adalah muggle" jelasnya.

"Tapi itu untuk melindungi dirinya sendiri dan kita" seru Caspian.

Edmund hanya mengangkat bahu. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia juga tidak tahu apapun mengenai aturan di dunia sihir Miracle. Caspian berbalik ke arah kerumunan lalu ke langit, berharap melihat siluet jubah merah dan emas yang dikenakan Miracle.

"Nanti saja obrolannya" ucap Peter yang terengah-engah. Lengannya masih nyeri tapi tidak sesakit sebelumnya. Tenaganya sendiri sudah pulih, nyaris seperti sebelum dia mulai bertarung. Peter mengambil pedangnya dari tangan Edmund, tapi saat Edmund memberikan helmnya, dia menolaknya. Dia merasa jauh lebih baik sekarang.

Ketika Peter melangkah ke dalam arena lebih dulu, sorak sorai terdengar dari para Narnia di belakangnya. Miraz yang memiliki ego tinggi dan tidak ingin memperlihatkan kelemahannya pada Raja yang lebih muda, mendorong Jenderal Glozelle yang melangkah maju dengan membawa helm emasnya. Miraz berjalan dengan langkah mantap, menuju pertarungan sekali lagi.

Peter berlari maju, tanpa keragu-raguan, menyerang Miraz lebih dulu. Miraz yang marah menjadi lebih brutal dan menyerang Peter tanpa memberikan kesempatan pada Raja Tinggi itu untuk menghindar. Dia menabrakan perisainya yang lebih besar berkali-kali. Memukul wajah tampan Peter dan mendorongnya ke reruntuhan. Jika bukan karena kakinya yang terluka, Miraz pasti bisa mengalahkan Peter dengan cepat saat itu.

Langkah goyah Miraz karena kakinya yang terluka, membuka peluang bagi Peter untuk menyerang, dan berhasil menyebabkan pria itu terjatuh ke tanah. Peter meninggalkan perisainya ketika dia bangkit tergesa-gesa untuk menghadang serangan Miraz. Dia berhasil merampas pedang Miraz dan melemparnya ke tanah, menggunakan pedangnya sendiri untuk menyerang Miraz. Tapi, tidak lama Miraz berhasil melucuti pedang Peter, hingga hanya Miraz saja yang memiliki perisai dan Peter tanpa pedang dan perisai.

Miraz yang merasa menang, menggunakan kesempatan ini untuk memukul Peter dengan perisainya berkali-kali, tapi kemudian Peter menahannya perisai Miraz, memutarnya dengan sekuat tenaga, membawanya ke atas kepalanya. Miraz yang menolak melepas perisainya, justru berbalik ke arah lainnya hingga Peter dengan mudah memelintir tangannya kebelakang. MIraz berteriak kesakitan, tapi pria itu kemudian menggunakan tangannya yang bebas meninju wajah Peter dengan sikunya, setelah itu dia mendorongnya ke arah reruntuhan lagi.

Miraz mengambil pedangnya dengan cepat, lalu berbalik untuk melukai Peter. Beruntung Peter berhasil menghindar pada saat itu, sehingga pedang Miraz menggores batu. Peter menggunakan sabuk besi di tangannya saat Miraz menyerangnya lagi, mendorong pedang. Raja Tinggi Narnia bangkit, lalu menghantam paha Miraz yang terluka dengan pukulan kerasnya.

"Istirahat!" Miraz menangis dan meringkuk karena rasa sakitnya, membuat wajahnya memerah karena rasa sakit. Peter melangkah maju dengan mengancam, untuk melanjutkan kembali. Tapi Miraz mengangkat tangannya ketika dia berlutut di lantai. Rasa sakit membuat tenaganya terkuras seketika. "Istirahat! Istirahat!" ucap Miraz terbatuk-batuk.

"Ini bukan waktunya untuk segan, Peter!" teriak Edmund saat melihat Peter mengangkat tangannya dengan ragu-ragu. Teriakan para Narnia memintanya terus menyerang, tapi dia menjadi ragu-ragu karena pengamatan dari Narnia dan juga melihat ketidakberdayaan Raja Telmarine di bawahnya. Peter menurunkan tangannya, lalu berbalik terengah-engah untuk kembali ke sisi Edmund.

Ternyata, kelemahan yang ditunjukkan Miraz hanyalah sebuah tipuan untuk mengecoh Peter. Raja yang licik itu bangkit dan meraih pedangnya, setelah Peter meninggalkannya. Dia mengangkat pedangnya, lalu mengarahkannya pada Peter.

"Awas!" teriak Edmund yang menyadari rencana licik Miraz. Peter berbalik dengan cepat, dan berhasil menghindar saat Miraz menghunuskan pedangnya. Peter merampas pedang Miraz, memutarnya hingga ujung bilah pedang berbalik ke arah Miraz, lalu menusuknya sisi lengannya.

Miraz menjerit kesakitan, wajahnya terlihat antara terkejut dan tidak percaya bahwa dia berhasil dikalahkan oleh seorang remaja. Peter mendorong Miraz, dan menarik pedangnya hingga pria itu jatuh berlutut di hadapannya. Dia mengangkat pedang Miraz setinggi bahunya untuk menyelesaikan semua pertarungan ini. Tapi Peter menjadi ragu-ragu, dia tidak bisa mengambil nyawa orang lain.

"Ada apa, nak?" tanya Miraz mengejek dengan suara sakitnya, "Terlalu takut untuk membunuh?"

Peter terhenyak, bahkan dalam kekalahannya, Miraz masih sempat mengejeknya. "Ini bukan hakku" desisnya. Berpaling dari Miraz, Peter mempersembahkan pedangnya pada Caspian yang berada di sisi Edmund. Caspian menatap Peter lalu menatap Pamannya yang berlutut di kaki Raja Tinggi.

Caspian melangkah maju, tatapan penuh kebenciannya tidak pernah berpindah pada tubuh Pamannya, hingga dia tiba di sisi Peter. Caspian melirik Peter sekilas, saat dia meraih gagang pedang. Kebencian membuatnya menggenggam gagang itu dengan erat.

Peter berpindah kembali ke sisi Edmund, setelah sebelumnya mengambil pedangnya sendiri yang terjatuh saat pertarungan. Dia meninggalkan Caspian dan Miraz di arena, menyerahkan keputusan tentang nasib Miraz pada Pangeran Telmarine.

Caspian tidak melepaskan matanya dari Miraz saat dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi secara perlahan. Dia merasakan kemarahannya karena ditipu selama ini oleh Pamannya sendiri. Orang tuanya dibunuh, dan dia sendiri juga nyaris terbunuh. Hanya karena pria yang tamak dan haus akan tahta.

"Barangkali aku salah," suara Miraz yang dingin membuat Caspian terdiam, "mungkin kau memiliki bakat untuk menjadi Raja Telmarine yang baik". Perkataan Miraz hanya membuat darah Caspian semakin mendidih, tubuhnya gemetar karena amarahnya. Miraz menunduk, menunggu kematiannya.

Caspian berteriak marah saat dia mengangkat pedangnya semakin tinggi. Pedangnya menerjang ke arah Miraz tapi mendarat pada sepetak rumput yang ada di dekatnya. Miraz mendongak bingung, dia menatap keponakan satu-satunya yang sangat membencinya. "Bukan seperti dirimu"

Miraz menatap pria muda di hadapannya, yang beberapa saat yang lalu memegang hidupnya di tangannya dan membiarkannya hidup. Caspian bukan lagi anak kecil naif dan bodoh, seperti yang diingatnya dulu. Tapi dia melihat Caspian sebagai seorang pria dewasa yang jauh lebih bijaksana daripada dirinya sendiri.

"Teruslah hidup," ucap Caspian dengan kemarahan, seolah-olah itu adalah akhir dari hubungan darah mereka. Bahwa dia bukan lagi keponakan Miraz, dan Miraz bukan lagi Pamannya, "tapi aku akan mengembalikan kepada Narnia, Kerajaan mereka." Caspian menatap Telmarines di hadapannya, termasuk Jenderal Glozelle dan Jenderal Sopespian.

Caspian berbalik menuju sisi Peter dan Edmund, disambut dengan sorak sorai kemenangan para Narnia, dan juga hormat dari Glenstorm. Edmund memberikan tepukan pada pundaknya, saat Caspian menatap tingkat tertinggi How. Menatap Susan yang tersenyum bangga. Caspian membalas senyumnya, tapi dia merasa kehilangan. Dia menatap langit cerah sekali lagi, berharap pemilik jubah dan emas melihat apa yang dilakukannya hari ini.

Di belakang mereka, Jenderal Sopespian bergabung dengan Rajanya dan membantunya berdiri.

"Aku akan berurusan denganmu saat ini berakhir" ancam Miraz, merasa bahwa semua kekalahan ini adalah kesalahan Jenderal-Jenderalnya.

Jenderal Sopespian, tidak terlihat takut dengan ancamannya. Tapi, sebaliknya pria itu justru tersenyum licik padanya, "Ini sudah berakhir." dari belakang punggung, Sopespian mengambil salah satu anak panah Susan yang dicurinya dari kamar Profesor Cornelius. Sopespian menusuknya melalui baju besi di punggung Miraz, yang membunuhnya seketika.

Teriakan Miraz menarik perhatian orang-orang Narnia, Peter dan Edmund. Begitu juga Caspian yang baru separuh jalan menuju How. Mereka berbalik hanya untuk melihat keruntuhan Miraz. Panah Susan tertanam di punggungnya dengan arah yang tidak masuk akal. Ini jebakan.

Sopespian menatap tubuh Miraz yang tertelungkup dengan penuh kemenangan, tapi ketika dia menghadap pasukan Telmarines dia memasang wajah kemarahan karena pengkhianatan. "Pengkhianatan! Mereka menembaknya! Mereka membunuh Raja kita!" Sopespian mengambil pedang Miraz yang Caspian tancapkan, mengangkat tinggi untuk memimpin serangan.

"Bersiaplah!" teriak Peter, memberikan aba-aba pada para Narnia.

"Peter!" Caspian berteriak saat dia melihat sesuatu di belakang Peter. Kedua Raja Narnia Tua berputar untuk melihat, seorang prajurit yang memakai helm seperti milik Miraz yang terbuat dari perak berjalan ke arah mereka, sambil mengayunkan pedangnya.

Peter menahan serangannya dengan cepat, mengiris pahanya hingga prajurit itu jatuh berlutut lalu memenggal kepalanya. "Pergilah!" perintahnya.

Caspian menaiki kudanya, dia berbalik dan melihat Jenderal Glozelle dan Jenderal Sopespian kembali ke pasukan Telmarines, bersiap memberikan perintah untuk menyerang. Ketapel besar dipersiapkan untuk menyerang dan mengirim bola batu besar ke arah orang-orang Narnia. Peter dan Edmund masih berada di arena pertempuran, berdiri tegak dan penuh percaya diri.

Jenderal Glozelle memberikan perintah pada kalvari, setelah dia menerima anggukan dari Jenderal Sopespian. Puluhan penunggang kuda melaju ke depan, sementara ketapel masih terus menembakkan bola batu besarnya.

"Pemanah bersiaga!" Susan memberi perintah pada pasukan di tingkat tertinggi How. Mereka masing-masing mengeluarkan anak panah dan busur mereka.

Melihat pasukan Telmarines berada pada posisi yang mereka inginkan, Peter dan Edmund berbalik menoleh pada Caspian dan Glenstorm, yang berputar dengan segera menyerbu masuk How dan mengambil posisi mereka. Caspian meraih obor dari dinding saat dia menghadapi pasukan Narnia yang menunggu perintah. "Narnia! Serang!"

Caspian memimpin mereka melaju melalui lorong yang mereka gali, sebagai jebakan untuk pasukan Telmarine. Mendengar suara tanduk, Peter sudah tahu waktunya. Dia mulai menghitung, "Satu, dua…"

Dibawahnya, Caspian juga melakukan hal yang sama. "Tiga, empat….

"Lima, enam…"

"Bidik sasaran kalian!" perintah Susan di atas tingkat.

Trumpkin menatap di sekelilingnya, kembali berseru "Tetapkan sasaran!". Telmarines semakin dekat setiap detik, dengan pedang yang terangkat siap membantai mereka.

"Delapan, sembilan…" Peter masih menghitung, "Bersiaplah!" perintah Peter pada orang-orang Narnia dibelakangnya.

Di bawahnya, Caspian menyerukan kata "Sekarang!" pada kelompoknya, dengan begitu raksasa, centaur, dan minotaur mulai menghancurkan pilar-pilar yang menopang tanah di atas mereka yang menahan Telmarines

Tanah yang perlahan hancur, menjebak pasukan Telmarines, menjatuhkan mereka kedalam lubang yang tercipta. Gerakan pasukan Telmarine, tertahan, mereka mencoba untuk mundur. Pada saat itulah Susan melihat kesempatan datang untuknya. "Sekarang!" Dengan itu, ratusan anak panah terlepas dari para pemanahnya, melintasi langit menuju pasukan Telmarines yang tertahan oleh tanah yang runtuh.

Edmund menaiki kudanya, sementara Peter berseru memberikan perintah dan melangkah maju bersama-sama dengan orang-orang Narnia di belakangnya.

Di bawah terowongan di tempat yang terpisah, dua kurcaci menghadapi kedatangan Caspian dan pasukan Narnia lainnya, mereka memotong tali yang menahan papan hingga membuka sebuah terowongan menuju ke atas lapangan. Menjebak pasukan Telmarines dari dua sisi yang berbeda.

Peter bertarung melawan pasukan Telmarines yang terjebak, dia melihat kemunculan Caspian ke tengah-tengah peperangan dan Edmund yang menembakan anak panahnya pada setiap pasukan Telmarines yang mencoba memanjat naik dari lubang yang runtuh.

Reepicheep menghadang seorang pasukan yang nyaris berhasil memanjat. Wajah prajurit itu terlihat tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. "Kau - tikus"

"Kalian sama sekali tidak punya imajinasi" gerutu Reepicheep sebelum dia menerjang maju dengan pedang kecilnya seukuran jarum.

Pasukan Narnia terlihat unggul pada saat itu, tapi sayangnya. Jumlah yang mereka tangani sekarang hanya sebagian kecil dari pasukan Telmarines. Jenderal Glozelle melangkah memasuki pertempuran dengan membawa ribuan pasukan di belakangnya.

Caspian memberikan tanda pada Griffin yang mengangkut pemanah untuk mulai menyerang. Tapi Telmarines sudah memiliki rencana untuk menghadapi mereka, mereka mengeluarkan busur raksasa yang bisa menampung dan melemparkan puluhan anak panah dalam sekali tarikan. Burung-burung itu mulai berjatuhan satu persatu.

"Lucy dan Mira?" Peter berbalik untuk menatap adiknya, dengan putus asa.

Susan yang menatap Peter dari kejauhan, memahami perkataan kakaknya, walau jarak mereka cukup jauh. Dia menatap pada langit di sekelilingnya dan menggeleng. Tidak ada tanda-tanda adiknya atau penyihir kecil mereka atau bahkan Aslan, singa agung yang selalu melindungi mereka dan membawa keajaiban bagi Narnia.

Melihat tidak ada pilihan, Peter memberikan perintah, "Kembali ke How!"

Segera semua orang Narnia yang mendengarnya melarikan diri dari pertempuran dan menuju pintu How. Sopespian yang melihat hal ini memerintahkan ketapel untuk menghancurkan jalan masuk mereka. Dengan beberapa tembakan yang diarahkan dengan baik, banyak bola batu besar menghantam How.

"Bertahanlah!" teriak Susan saat batu di sekelilingnya mulai runtuh dan merusak keseimbangannya saat mereka menghindari serangan.

Peter berlari sekencang mungkin bersama para Narnia, tapi sebelum dia mencapai pintu. Batu besar terbang dari atasnya, melayang dan menabrak pintu How. Pintu masuk hancur dan runtuh dan menimpa beberapa Narnia yang berada di bawahnya.

Batang pohon di belakang Susan, mulai runtuh ketika batu yang menahan hancur terkena serangan. Susan nyaris terjatuh, jika Trumpkin tidak segera meraih tangannya. Dengan bantuan Trumpkin, Susan berayun dan mendarat di tingkat yang lebih rendah yang sebelumnya merupakan pintu masuk How.

Caspian mendesah lega saat melihat Susan berhasil mendarat dengan selamat. Dia mengangguk pada Peter lalu berbalik kembali pada pertempuran di belakangnya. Mereka sekarang tidak memiliki pilihan lain selain bertarung, jumlah mereka mungkin sudah tidak banyak tapi itu bukan berarti mereka harus menyerah.

Edmund dan Susan melangkah di sisi masing-masing Peter, mereka berbagi pandangan sedih sebelum akhirnya mereka berlari maju ke dalam panasnya medan pertempuran.


Miracle mencoba menemukan Lucy di hutan bawahnya. Dia sengaja terbang lebih tinggi agar bisa melihat di kejauhan dengan lebih jelas. Dia bisa mendengar langkah kaki kuda Caspian, tapi suara langkah kaki kuda lainnya membuatnya panik.

Telmarines tidak hanya mengirim satu kelompok pasukan berkuda untuk mengejar Susan dan Lucy, tapi dua kelompok lainnya.

Miracle menukik turun, saat melihat pasukan itu mengarahkan anak panah mereka, Miracle akhirnya melihat punggung mungil Lucy. Dia menukik lalu mendorong sapunya terbang lebih cepat.

"Lucy!" teriak Miracle, Lucy berbalik dan terlihat senang, tapi melihat pasukan Telmarine dibelakang Miracle membuatnya panik. "Lepaskan peganganmu pada Destrier" perintahnya.

Ketika Lucy melakukan yang diperintahkannya, Miracle mempercepat terbangnya agar dia bisa berada di samping Lucy. Lalu dengan sekali hentakan, dia menarik Lucy agar duduk di belakangnya. "Pergi! Destrier" perintah Miracle.

Miracle membawa Lucy terbang diatas pohon yang lebih tinggi, menghindari tembakan yang mulai dikirim oleh para penunggang kuda di bawahnya. "Stupefy! Bombarda!" seru Miracle, menjatuhkan beberapa penunggang dan meledakan tanah di bawah mereka.

Lucy memejamkan matanya saat mereka terbang lebih tinggi dan lebih cepat, "Aku tidak mengerti! Bagaimana kau bisa menyukai hal ini - ini menakutkan!" ucapnya lalu berteriak saat Miracle menukik menuju penunggang kuda yang berada lebih dulu di depannya. Tapi sebelum dia bisa menyerang, seekor singa muncul dari samping dan menerkam pasukan itu lebih dulu.

Miracle dan Lucy saling pandang, lalu memutar sapu untuk kembali ke tempat pasukan yang menghadang mereka tadi. Miracle mendarat perlahan dengan ragu-ragu, sementara Lucy terlihat bersemangat saat melihat seekor singa besar dengan kepalanya yang berbulu keemasan. Lucy langsung mengenalinya, dan Miracle juga mengenalnya sebagai singa yang mengawasinya dari stadion pertandingannya.

"Aslan" seru Lucy bahagia, berlari menghampiri Aslan lalu memeluknya dengan bahagia. Miracle tidak mengikutinya, sebaliknya dia tetap berdiri di tempatnya mendarat. Lucy terlalu bersemangat memeluk Aslan hingga mereka berdua terjatuh ke tanah, Miracle bisa mendengar tawa dari suara bijak sang singa. "Aku tahu itu kau! Setiap saat, aku tahu. Tapi yang lain tidak percaya padaku." Lucy terlihat tersenyum malu.

"Dan apa yang menghalangimu untuk datang padaku?"

Lucy kehilangan senyumannya dan menatap ke arah lain selain mata Aslan. "Maaf. Aku terlalu takut datang sendirian," jelasnya, "Mengapa kau tidak tunjukan dirimu? Mengapa tidak datang mengaum dan menyelamatkan kami seperti dulu?"

"Segala sesuatu tidak pernah terjadi dengan cara yang sama dua kali, sayangku" jelas Aslan.

"Jika aku datang lebih awal, akankah semua yang terluka atau mati… bisakah aku menolong mereka?"

Aslan menatap Lucy sedih "Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, Lucy. Tapi apa yang akan terjadi adalah masalah yang berbeda sama sekali"

"Dan kau akan membantu?" senyum Lucy kembali, mencerahkan Aslan.

"Tentu saja, seperti dirimu dan juga teman barumu" Aslan menatap dari balik bahu Lucy, pada gadis kecil yang tidak bergerak sama sekali sejak tadi. "Kemarilah, bulan kecilku"

Lucy berdiri dari duduknya, lalu berlari mendekati Miracle, menarik Miracle bersama-sama mendekati Aslan.

"Miracle, Lady of the moon, Daughter of Freya" ucap Aslan saat Miracle mendekat dengan gugup.

Miracle dan Lucy saling menatap saat Aslan menyebutnya dengan gelar yang aneh. "Kau mengenalku? Siapa Freya?"

"Aku mengenalmu, bahkan aku mengetahui rahasia kelahiranmu" jelas Aslan.

"Miracle berasal dari waktu yang lebih jauh dari waktuku, Aslan" jelas Lucy.

Aslan hanya menatap Miracle dan mengangguk, "Aku tahu," ucapnya.

"Katakan padaku, siapa orang tuaku, dimana mereka?" tanya Miracle penasaran. Tidak ada satupun orang-orang Perpustakaan mengetahui siapa orang tuanya, darimana dia berasal dan bagaimana dia bisa tersesat di hutan. Satu-satunya hal yang dibawanya adalah kalung yang sekarang berada di lehernya.

Aslan bangkit lalu mendekati Miracle, mengusapkan bulu halusnya untuk menenangkan gadis kecil yang terlihat gelisah di hadapannya. "Sayangnya, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Kau harus menemukan jawabannya sendiri"

"Lalu, kenapa kau memanggilku?" tuntut Miracle, menatap Aslan dengan marah. Lucy, menarik tangan Miracle mengharapkan gadis itu lebih tenang, tapi Miracle menarik tangannya dengan kasar. "Kenapa aku harus datang?"

"Aku pikir kau sudah siap, bulan kecilku. Tapi sepertinya aku salah. Waktumu belum tiba" jelas Aslan.

"Maksudmu, kau memang berencana menarikku ke tempat ini?" tanya Miracle, "saat waktu yang lebih tepat untukku?" Aslan mengangguk. "Tapi kenapa? Aku hanya penyihir biasa, aku tidak sekuat Mamaku atau adikku"

Aslan menatap Miracle sedih. "Kenapa kau menahan sihirmu?"

"Aku takut" jawab Miracle. "Aku merasakan sihir yang lebih kuat disini. Mengisi seluruh tubuhku dengan kekuatannya, tetapi mengambil tenagaku sebagai gantinya. Terkadang rasanya sangat penuh dan meluap-luap. Aku takut menyakiti teman-temanku jika aku tidak bisa mengendalikannya"

"Kau tidak harus menahannya" ucap Aslan sang singa dengan suara bijaksananya. "Lepaskanlah, sihir itu milikmu. Biarkan dia mengisi dirimu. Kau akan mampu mengendalikannya, karena sihir terdalam adalah bagian dari dirimu"

Miracle menatap Aslan dengan pandangan ragu. "Bagaimana kau yakin? Aku yang penyihir, bukan kau"

Aslan terkekeh bersama Lucy. "Karena kami tahu, kau pasti bisa," ucap Lucy, "percayalah pada dirimu sendiri, Mira. Kau adalah penyihir yang luar biasa"

"Benarkah?" tanya Miracle.

"Hanya lepaskan. Biarkan sihir terdalam menjalin ikatannya dengan dirimu. Biarkan mereka memperlihatkan Narnia padamu. Hutan, sungai, pegunungan dan lautan… Sihir terdalam dan sihir duniamu, biarkan mereka terjalin dan menyatu." jelas Aslan. "Pejamkan matamu"

Miracle melakukan apa yang Aslan perintahkan, sementara Aslan memberikan tanda pada Lucy untuk menjauh darinya. Miracle memejamkan matanya dan merasakan sihir asing yang sangat kuat, tidak menyakitinya atau mengganggu sihirnya sendiri. Sihir asing ini, sihir terdalam terlihat mencoba meraihnya, dan ketika dia memutuskan membiarkannya meraihnya. Sihir terdalam terasa semakin kuat mengikat dirinya lalu menyatu dengan sihirnya sendiri.

Miracle bisa merasakan kekuatan sihir mengisi di setiap lapisan kulitnya. Membuat jantungan berdetak lebih cepat, nafasnya terasa lebih hangat. Lalu dia bisa merasakannya. Pendengarannya lebih tajam dari sebelumnya, bahkan dia bisa merasakan nafas dari pepohonan di sekelilingnya. Suara hewan-hewan di kejauhan, naiad's dan dryad's di seluruh penjuru Narnia perlahan mulai terbangun.

Narnia yang sebelumnya tertidur terasa hidup kembali.

"Aslan, apa yang terjadi padanya?" tanya Lucy, menatap Miracle yang bercahaya kebiruan. Dia bisa melihat sihir di udara datang dari berbagai penjuru hutan, lalu berkumpul pada tubuh Miracle.

"Untuk mempersiapkan dirinya"

"Pada apa?" tanya Lucy.

"Perang yang sedang berlangsung" ucap Aslan, dia melangkah ke arah Miracle dan memberikan raungan besar yang memunculkan angin kencang, membuat Miracle yang melayang-layang dalam proses pengikatan, tersentak. .

Tepat pada saat itu, ikatan sihir pada diri Miracle telah selesai, gadis itu perlahan turun. Jubah emas dan merahnya berkibar. Cahaya birunya perlahan meredup lalu tersedot pada kalung biru yang dikenakannya. "Aku siap"


Jangan lupa tinggalkan ulasannya ya. Wink! Wink!