Chanyeol melangkah pelan menuju ruang makan, dimana Suho sudah menunggunya untuk makan bersama. Belakangan ini Suho benar benar memanfaatkan waktunya untuk beristirahat, ia meluangkan waktu untuk bisa makan bersama putranya.

"Hari ini Krystal datang, appa yang menyuruhnya datang?" Tanya Chanyeol, Suho menggeleng pelan.

"Tidak, aku tak menyuruhnya datang. Kenapa ?"

"Tidak ada apa apa." Chanyeol menghentikan pembicaraan dan melanjutkan makannya, ia makan dengan lahap, Suho hanya memperhatikan cara makan putranya itu. Setelah selesai makan, ia kembali ke kamarnya. Suho merasa ada yang aneh dengan putranya, ia tak pernah keberatan kalau putranya memiliki kepribadian manja seperti anak kecil tapi sejak Baekhyun masuk rumah sakit, sikapnya menjadi misterius. Terkadang masih bersikap seperti anak kecil namun terkadang, sorot matanya mengatakan kalau ia tak ingin didekati siapapun. Sejak Eommanya wafat memang Suho membawanya pulang ke korea untuk merawatnya sendiri meski seluruh keluarganya menentangnya karena kondisi mental Chanyeol yang dapat berubah sewaktu waktu, ketika Suho berjanji jika Chanyeol berubah ia akan membawa Chanyeol ke Jerman untuk menjalani Therapy.

Putraku tidak gila, ia hanya terlalu merasa kehilangan eommanya.

Kata kata itu yang ia lontarkan pada adik perempuannya ketika ia tahu seluruh keluarga menentang Suho untuk membawa Chanyeol kembali ke korea.

Kini semua seperti mimpi, Chanyeol yang datang kembali ke korea lalu Baekhyun dan tingkah Krystal yang menyebalkan.

Baekhyun dalam keadaan setengah tertidur ketika ia menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, ia menyuntikkan sesuatu ke dalam infusnya, lalu Baekhyun hilang kesadaran.

.

XXxxxXX

.

..

.

.

.

.

.

Chanyeol datang sepagi mungkin ke rumah sakit, ia datang dengan segera ketika rumah sakit meneleponnya dan berteriak teriak di dalam kamarnya.

"Dia sudah begitu sejak tadi, tak ada yang berani mendekatinya."

Chanyeol melihat keadaan kamar inap Baekhyun yang sudah hancur berantakan, ia menatap Baekhyun yang terduduk di atas ranjang, infusnya sudah berwarna merah darah karena darah Baekhyun yang tersedot masuk ke dalam infus, ia melepaskan infusnya dengan kasar. Wajahnya pucat, ia nampak ketakutan.

"A.. aku.. aku mau pulang !! Aku mau pulang.. !" Teriak Baekhyun, jarum infus ia ancung acungkan kepada siapa saja yang mendekatinya.

"Sebenarnya apa yang terjadi ? kenapa bisa seperti ini?"

"Maaf sejak bangun ia sudah seperti ini."

"Baekkie, Baekkie.. jangan seperti ini.. Baekkie hentikan.. kau kenapa ?" Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun yang terus mengacung acungkan jarum infus.

"Doryeonim, nanti kau terluka." Seorang penjaga berusaha menjauhkan Chanyeol dari Baekhyun, namun Chanyeol menepis tangan penjaga tersebut.

"Tak apa, kalian pergilah. Biarkan aku berdua dengan Baekhyun. Pergilah, sekarang !" Semua orang meninggalkan ruangan tersebut, hanya Chanyeol yang tinggal disana berusaha menenangkan Baekhyun.

"Baekkie, aku menyayangimu.. " Chanyeol terus mendekati Baekhyun, Baekhyun masih terus mengacungkan ujung jarum tajam tersebut kearah Chanyeol.

"Jangan mendekat, atau aku akan menggunakan ini."

"Kenapa ? Kau akan melukaiku ? Ayo, lakukan saja." Tantang Chanyeol, ia segera mendekati Baekhyun dan berusaha mengambil jarum itu dari tangan Baekhyun, Jarum itu sempat membuat tangan chanyeol terluka. Ia sedikit mengaduh tapi ia berhasil memeluk Baekhyun dan berusaha menenangkannya.

"Lepaaaskaaan aku... ! Lepaaaaskaaaan !" Baekhyun terus meronta, ia berusaha mengigit tangan Chanyeol yang memegangnya cukup erat.

"Baekkie.. hentikan, kumohon Baekkie.. hentikan ! Baekkie jangan lakukan ini, kau bisa terluka Baekkie tolonglah, aku menyayangimu." Baekhyun terus meronta dan berteriak, mengigit tangan Chanyeol. Meninggalkan luka di Tangan Chanyeol karena gigitannya cukup kuat. Bahkan Baekhyun berusaha menggapai gelas yang berada di sisi ranjang dan memukulkannya ke kepala Chanyeol.

"Baekkie,Baekkie.. "Chanyeol menahan semuanya, tubuhnya memang terasa sangat sakit apalagi pukulan dikepala tadi membuat luka dikepalanya sehingga darah segar mengucur diatas dahi Chanyeol.

"Aku mencintaimu Byun Baekhyun, Sangat mencintaimu. Jika aku harus mati saat ini hanya untuk mengembalikanmu seperti dulu, aku rela. Makilah aku, marahlah sepuasmu tapi tolong jangan bersikap seperti ini Baekkie.." Chanyeol mulai menangis sambil mendekap erat tubuh Baekhyun dan akhirnya ia berhenti meronta. Napasnya tersenggal senggal, Baekhyun benar benar kepayahan.

Beberapa orang menerobos masuk ke dalam kamar kembali mencoba melepaskan Baekhyun dari dekapan Chanyeol.

"Jangan paksa dia, biarkan saja. Biarkan.. " Chanyeol pun terduduk, ia menghela napas pendek, beberapa perawat masuk dan mengobati Chanyeol. Baekhyun pun disuntik penenang, ia memperhatikan Chanyeol dengan mata nanar. Ia mencoba mengingat dan terus mencoba sampai akhirnya matanya berat karena reaksi obat penenang tersebut.

Suho datang dengan segera ketika mendengar kabar bahwa Baekhyun mengamuk di rumah sakit dan Chanyeol terluka karenanya, Krystal yang terus menguntit Suho dihentikan penjaga diluar kamar.

"Selain sajangnim dan doryeonim Anda tak bisa masuk." Krystal tampak kesal tapi sekilas ia melihat kedalam kamar yang berantakan, ia pun tersenyum tipis dan pintu perlahan tertutup.

"Yeollie, kau tak apa apa ?"

"Nee, aku tak apa apa appa. Tapi kasihan Baekkie, aku tak tega melihatnya seperti ini. Aku tak tahu apa yang terjadi. Kemarin ia baik baik saja, hari ini ia tampak sangat kacau dan ketakutan."

"Apa lebih baik kau memanggil dua kawannya itu, Sehun dan Luhan. Mungkin mereka tahu sebabnya." Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan.

"Jangan dulu, tolonglah appa." Chanyeol melihat ke arah Baekhyun yang tertidur karena pengaruh obat penenang yang diberikan sebelumnya, wajahnya memang nampak sangat tenang. Chanyeol mengusap surai keperakan milik Baekhyun, ia nampak begitu pucat namun terlihat cantik seperti biasa.

"Hm, baiklah. Tapi appa Mohon nak, jangan lakukan hal bodoh lagi." Suho nampak khawatir dengan keadaan putranya itu, Chanyeol hanya tersenyum tipis.

"Ini semua karena aku, jika aku tak mengijinkan Krystal terus mengikutiku mungkin hal ini tidak akan terjadi, Appa tahu soal ambigous genetical ?" Suho menelengkan kepalanya dengan perasaan tak yakin.

"Kelamin ganda, Baekhyun mengindap penyakit itu sejak kecil. Karena itu sosoknya lebih terlihat cantik, feminis begitu mungkin orang menyebutnya, ia punya rahim appa. Dan sempat mengandung anakku.. anakku appa... tapi Krystal..." Chanyeol tak meneruskan kata katanya, ia terngiang kembali kata kata Sehun ketika pertama kali datang ke rumahnya waktu itu, di sudut matanya mulai menggenang air mata namun diusapnya perlahan sambil terus menatap Baekhyun yang masih tertidur.

"Ia bisa saja kehilangan nyawanya karena aku appa, aku tak bisa membiarkannya seperti ini lagi.."

"Tenanglah Yeolli, jika Baekhyun sudah lebih baik, ia akan tinggal di rumah kita lagi. Tenanglah, semua akan baik baik saja. Kita akan menjaganya." Suho mengembangkan senyumnya sembari menepuk pundak Chanyeol, Chanyeol pun menyambutnya dengan senyuman hangat.

Baekhyun pun terbangun, kepalanya terasa amat pusing mencoba mengenali semua hal yang ada di sekelilingnya, berantakan.

"Apa aku yang melakukannya ?" Tanya Baekhyun tiba tiba namun, pertanyaan itu disambut dengan sebuah senyuman.

"Annio.. tenang saja. Kau mau makan Baekkie ?"

"Nee.. " Baekhyun menjawab pelan pertanyaan Chanyeol lalu tersenyum manis, membuat hati siapa saja dag dig dug tak menentu.

"Aiigoo.. Ada apa dengan tangan dan kepalamu itu, itu pasti aku yang melakukannya ya ? Mian, Mian.. " Baekhyun menundukkan kepalanya, penuh rasa sesal.

"Apa kau menyesal melakukannya padaku ?" Baekhyun terdiam, Suho hanya bisa menghela napas tipis melihat keduanya saling bertatapan. Mungkin sudah saatnya ia pergi.

"Yeolli, aku pulang dulu. Akan ku suruh sopir untuk mengantarkan pakaianmu nanti, Baekhyun aku pulang dulu. Entah kau masih mengenalku atau tidak tapi, cepatlah sembuh." Suho pun pamit dan meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol berdua di kamar.

"Apa kau masih tidak mengingatku ?" Baekhyun menggeleng pelan.

"Mian, aku benar benar tak ingat apapun t..t..tapi liontin ini ?" Baekhyun menunjukkan gelang yang melingkar dipergelangan tangannya.

"Tak apa apa, tak perlu mencoba mengingatnya secara bersamaan. Pelan pelan saja, kau juga belum sembuh benar. Baiklah, kau mau makan apa ? Makanan rumah sakit tidak enak." Baekhyun terkekeh.

"Aah kau tersenyum, kau tersenyum Byun Baekhyun. Aku rela terus begini, asal kau bisa tetap tersenyum seperti itu." Chanyeol menunjukkan luka sobek ditangan dan kepalanya, Baekhyun tersipu. Ia mencoba keras mengingat sosok laki laki dihadapannya ini, otaknya memerintahkannya untuk membenci laki laki itu tapi hati tidak mengatakan demikian.

Baekkie, kumohon ingatlah aku...

Chanyeol tersenyum tipis melihat tingkah namja kesayangannya itu, polos, manis dan luar biasa.

Tak lama ponsel Chanyeol berbunyi, ia melangkah sedikit untuk menerima panggilan itu. Wajah Chanyeol nampak begitu serius, Baekhyun tak mampu mendengar jelas tapi nampaknya Chanyeol dan orang ditelepon itu seperti membicarakan sesuatu yang serius.

"Baiklah.. Nee.. aku mengerti.. Ya.. sampai nanti." Setelah pamit pada orang ditelepon tersebut, Chanyeol kembali ke samping Baekhyun.

"Baekkie, mau makan apa ?" Tanya Chanyeol dengan senyum cerianya.

Meski Baekhyun sama sekali tak mengingat sosok Chanyeol namun Baekhyun tak bisa mengelak bahwa Chanyeol membuatnya amat sangat nyaman. Meski isi kepalanya membuat semuanya jadi tak terkendali, ia sendiri tak tahu kenapa ia bisa bertindak gila seperti tadi pagi. Sejak seorang perawat menyutikkan sesuatu di jalur infusnya, semuanya tiba tiba jadi tak terkendali..

.

Selamat malam semua, ada info yang jual LS exo official kah ? yang trusted. Info bisa? Gomawo.

Love, Chelsea :))))