Sehun hanya terdiam, mengingat apa yang dikatakan Chanyeol barusan saja.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada Baekhyun selanjutnya ? Kau akan membiarkannya tetap seperti itu ? Kau gila, Baekhyun juga mengandung anakmu. Tapi Krystal..."

"Aku tak peduli dengan Krystal." Sehun memperhatikan Chanyeol secara seksama.

"Tapi dia juga mengandung anakmu, kau benar benar luar biasa."

"Berhenti berkata seperti itu."

Sehun pun dengan segera menghentikan perkataannya lalu duduk di samping Chanyeol yang sedari tadi terus mengacak rambutnya, wajahnya tampak suram.

"Kau akan menikah dengan Krystal ? Orang tuanya sudah tahu ?"

"Mana aku peduli orang tuanya tahu atau tidak, lagipula mereka membenciku." Chanyeol menghela napas pendek sambil menatap langit biru diatas sana, matanya menerawang. Tak tahu apa yang harus ia lakukan, posisinya serba salah. Di salah satu sisi, ia mencintai Baekhyun. Ia rela bertingkah idiot demi kembali ke korea untuk menemukan Baekhyun tapi sementara Krystal juga mengandung anaknya meski itu tanpa disengaja.

"Aku benar-benar tak habis pikir tentang semua ini..." Sehun menepuk pundak Chanyeol.

"Kepalaku rasanya mau pecah."

"Ya, pecahkan saja. Mungkin masalahmu akan selesai Park."

"Hey, berhenti memangilku seperti itu." Sehun berjalan menjauh dari Chanyeol, meninggalkannya seorang diri. Ia pergi menemui Luhan di kamar Baekhyun.

"Bagaimana keadaannya? "Tanya Sehun, Luhan menggelengkan kepalanya pelan.

"Sudah jauh lebih baik, sayang. Aku rasa dokter Min tidak mengeluarkan bayinya." bisik Luhan pelan.

"Ya, dan si bodoh Park Chanyeol kebingungan sekarang. Krystal hamil anaknya, itu katanya.. belum tentu juga dia benar-benar hamil. Kau tahu kan Krystal seperti apa ?"

Sehun hanya menghela napas pendek, ia tak lagi berkomentar banyak. Hanya terus memperhatikan Baekhyun yang tampak tertidur pulas, ia tersenyum lalu menatap Luhan.

"Kau juga masih bisa hamil sayang, jangan khawatir ya." Luhan mengangguk tipis dan menjatuhkan kepalanya di dada Sehun, Sehun pun memeluknya erat.

Chanyeol masih terdiam di taman, beberapa orang menatapanya bingung karena sesekali ia terlihat berbicara sendiri. Lalu tak lama kemudian, seseorang menghampirinya.

"Mau apa kau kemari ?" tanya Chanyeol, Krystal hanya tersenyum sinis sambil menatapnya.

"Aku kemari untuk menemui calon suamiku.."

"Apa orangtuamu tahu kalau kau sedang hamil ?"

"Tentu saja tidak.. apa kau gila !" Krystal berteriak.

"Kenapa tak memberitahu mereka, sekalian saja beritahu bahwa aku ayah dari janin itu."

"Kita menikah diluar negeri saja, jika sudah menikah baru kita kembali ke Korea." Chanyeol mendengus pelan.

"Apa kau sudah gila ?? Kau taruh dimana isi kepalamu ?"

"Oppa sudah mengisi semua isi kepalaku, ayolah oppa. Jangan menolakku lagi hanya karena carrier itu." Chanyeol mengerling cepat.

"Carrier itu ? Dengarkan aku Krystal, kau boleh memakiku, merendahkan harga diriku atau apapun yang ingin kau lakukan tapi jangan pernah sekalipun kau meremehkan Baekhyun. Dia bukan hanya carrier. Dia hidupku.. camkan itu sebelum mulutmu itu mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk calon ibu dari anakku." Chanyeol mendengus kesal dan meninggalkan Krystal mematung sambil mengerling tajam, tak terima jika Chanyeol lebih memilih lelaki cantik itu daripada dirinya.

Lihat saja apa kau benar-benar akan bertahan dengan manusia sampah seperti itu Park Chanyeol.

Krystal mengibaskan rambutnya dan segara beranjak dari tempatnya menuju parkiran mobil untuk menemui seseorang disana, seseorang yang mungkin akan mengubah semuanya.

Baekhyun bangun dengan kepala yang luar biasa sakit, ia mulai mencari Chanyeol, ia menyapu semua ruangan dengan matanya namun tidak dapat menemukan lelaki jangkung itu disana. Baekhyun mendengus kecewa.

"Siapa yang kau cari ?" Tanya Chanyeol yang baru saja keluar dari toilet, Baekhyun pun segera tersenyum.

"Aku pikir kau sudah pulang, mana Sehun dan Luhan ?" tanya Baekhyun mencoba mengalihkan kegugupannya di depan Chanyeol, lalu melihat ke arah perutnya dan mengusapnya pelan. Chanyeol menghampirinya perlahan.

"Mereka sudah pulang, apa kau tak mau kalau hanya aku yang disini ?" Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan, sesekali tersenyum. Ingatannya soal Chanyeol belum sepenuhnya pulih, terkadang ia ingin mengingat semua hal yang diceritakan oleh Chanyeol padanya. Entah kenapa setiap ingin mengingatnya, kepalanya terasa amat sakit.

Sementara itu Suho sedang memeriksa beberapa berkas yang baru ia terima dari sekertarisnya, semua tentang masa lalu Baekhyun. Bagaimana mungkin selama ini ia tidak mengetahui kalau sebenarnya Baekhyun mengenal mendiang istrinya, bahkan terlibat langsung dalam kehidupannya dan Chanyeol. Suho mengurut dahinya perlahan, mencoba mengatur napasnya.

"Dan sekarang si bodoh itu menghamilinya, Ya Tuhan... aku harus bagaimana ?" Adik tiri Suho, Taemin adalah seorang pria penuh ambisi. Ia akan melakukan apa saja untuk menghancurkan Suho, Taemin adalah adik tiri Suho, Ayahnya menikahi Ibu Taemin saat usianya baru 8 tahun. Ibunya sungguh wanita yang sangat anggun dan lemah lembut namun entah kenapa sifat mereka pun benar-benar bertolak belakang dan itu juga tercermin dari sikap Krystal, putri kesayangan Taemin yang suka seenaknya.

Tak lama ponselnya pun berdering, ia mengangkatnya.

"Hallo.."

(Hyung, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu disana)

Suho tersentak, lalu menghela napas tipis

"Taemin, kabarku baik. Kau sendiri apa kabar ?" tanya Suho.

(Aku baik, hyung. Hanya saja aku bosan mendengar rengekan Krystal, katanya putra kesayanganmu itu menolaknya mentah-mentah. Bukankah mereka sudah bertunangan ?)

"Ya, lalu apa maumu ?"

Suho mendengar kekehan Taemin dari ujung sana.

(Haha. Hyung kau memang orang yang tak banyak basa-basi. Bukankah sudah kukatakan sejak dulu, aku tak suka jika keinginanku ditolak atau harus ku jelaskan kepada putramu itu bagaimana ibunya meninggal ?)

Suho mengeratkan pegangannya pada ponselnya, mencoba menahan amarahnya.

(Ayolah, Hyung. Kau rela melakukan apa saja demi uang asuransi kan ? Jadi apa salahnya berkorban sedikit, benarkan ? Lagi pula, tak mungkin putra mu menikahi seorang carrier kan)

Suho tersentak, Taemin sudah tahu soal Baekhyun. Pasti Krystal yang mengatakannya pada Taemin, gadis itu benar-benar sebuah ancaman.

"Sejak kapan kau peduli soal putraku ? Bukankah kau yang mengatakan kalau putraku hanya seorang dungu yang tidak bisa apapun ?"

Suara terbahak Taemin terdengar dengan jelas dari seberang sana.

(Kau benar-benar luar biasa Hyung, aku memang tidak peduli tapi nyatanya kau harus peduli kan ? Karena putra mu adalah pewaris tunggal dari seluruh kekayaan istrimu. Istrimu luar biasa, dia sudah memperhitungkan semuanya)

"Jangan mendesakku Taeminie, kau tak akan pernah tahu seberapa jauh aku bisa menghabisimu .."

(Waw, apa itu sebuah ancaman hyung ? Waw, aku takut sekali. Hahaha)

Suara Taemin menggelegar dari seberang sana lalu sambungan telepon pun terputus. Suho mengusak rambutnya lalu melemparkan ponselnya ke lantai.

"Brengsek !" Umpat Suho, mencoba menenangkan dirinya dengan menghela napas pendek sampai akhirnya ia menghubungi sekertarisnya agar memanggil asistennya.

XxxxX

.

.

.

Baekhyun mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya pagi itu, rasa mual yang tidak tertahankan.

Semuanya terasa amat sakit, kenapa bisa seperti itu. Rasa mualnya membuat Baekhyun ingin menangis, perutnya serasa diacak-acak. Ia meringis dan menggeliat diatas ranjang, Chanyeol yang tidak pulang pun melihatnya dan segera menghampiri Baekhyun.

"Baekhyunie, kau kenapa ?"

"S..sa..saaaakiiit.." Baekhyun mencoba menahan perutnya dan menutup mulutnya, bulir keringat segera memenuhi kening Baekhyun.

"Ya, Tuhan. Dokter !!! Dokteeer.. "

Baekhyun segera mendapatkan perawatan insentif, ia keracunan makanan. Itu membahayakan janin yang sedang ia kandung, Chanyeol melihat ke arah Baekhyun yang terlihat sangat kesakitan, ia menggeliat kesana kemari menahan sakitnya. Sesekali tubuhnya menegang, menahan rasa sakit. Chanyeol tak kuasa melihatnya seperti itu.

"Ada apa ?" Suho segera menghampiri Chanyeol yang terduduk didepan kamar Baekhyun karena dokter sedang berusaha membersihkan racun dari dala tubuhnya.

"A..ayah.. Baek..Baekhyun.." Chanyeol berusaha meraih tubuh ayahnya, lalu dengan segera Suho pun menghampiri Chanyeol dan memeluk putranya dengan erat.

"Ada apa Yeollie ? "

"Dokter bilang, Baekhyun keracunan makanan."

"Keracunan ? Bukankah selama ini Baekhyun tidak pernah makanan selain yang disediakan rumah sakit ?" Chanyeol menggelengkan kepalanya cepat.

"A..aku tak tahu.. Ayah.. aku harus bagaimana ?" Chanyeol menangis sejadi-jadinya. Suho tak kuasa menahannya, melihat kepedihan yang dirasakan oleh putranya, sama halnya pada saat ia kehilangan Yoona dulu. Hanya ada rasa sakit.

Lalu di ujung lorong sana, seseorang dengan masker berwarna hijau mengerling tajam sambil mendengus senang.

Matilah kau Byun Baekhyun...

Suho hanya bisa mendekap tubuhnya penuh kasih, ada sirat rasa bersalah di matanya. Andai saja istrinya masih hidup dan masih disini, pasti putranya tidak akan seperti ini dan Taemin tidak akan menganggunya setiap saat.

Baekhyun terus mengerang menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.

"Bayiku, selamatkan bayiku... Dokter selamatkan bayikuuu... " Teriaknya keras sambil menarik tangan dokter yang menanganinya.

"Tenanglah Tuan Byun, anda harus tenang."

"Bayiiku... Ya Tuhan, hiks.. bayiku dokter.."

"Kami akan berusaha Tuan Byun tapi anda harus tenang.."

Suho menatap Chanyeol. Matanya nampak nanar.

"Kau harus kuat, lihat bagaimana Baekhyun berjuang disana Yeollie. Anak Ayah harus bisa menjaga orang yang disayanginya ya ? Kau mengerti ?" Suho menepuk pundak Chanyeol, menyemangatinya agar lebih tegar. Chanyeol pun mengangguk pelan.

Dokter pun keluar dari ruangan Baekhyun dan dengan segera Chanyeol menghampiri Baekhyun.

Suho pun berusaha berbicara dengan dokter yang menangangi Baekhyun.

"Dokter, bagaimana keadaan anak itu dan bayinya ?" Sang dokter hanya menghela napas pendek, menepuk pangkal lengan Suho lalu menggeleng pelan.

TBC

hmm kira-kira apa kata dokternya yaaa...? uwow..