Dokter yang menangani Baekhyun menghela nafas pendek, dia menggelengkan kepalanya pelan.

"Untung saja, masih bisa diselamatkan."

Chanyeol yang mendengar kata-kata itu langsung bernafas lega, kedua orang yang dicintainya selamat.

"Yeollie, kau dengar kata-kata dokter itu tadi kan? Baekhyun baik-baik saja, saat Baekhyun stabil nanti kita pindahkan saja dia ke tempat yang lebih aman." Chanyeol mengangguk mengerti.

Selang beberapa hari, Suho memenuhi janjinya untuk memindahkan Baekhyun ke tempat yang lebih aman namun itu membuat Chanyeol menggila karena Suho tak memberitahu siapapun dimana dia menempatkan Baekhyun.

Krystal jadi sering mondar mandir menemui Chanyeol.

"Kau itu kenapa sih ? Dingin sekali padaku dan bayimu??"

"Berhenti mengada-ada Krystal, kau tahu dengan pasti. Janin di perutmu itu bukan anakku." Krystal pun tersentak, mundur satu langkah.

"T_Tega sekali kau berkata seperti itu padaku, setelah apa yang kau lakukan malam itu. Ini balasanmu padaku ?"

Chanyeol melirik Krystal dengan pandangan menohok.

Apa-apaan pandangan itu.seru Krystal dalam hati

Dan hari-hari berikutnya Chanyeol semakin frustasi karena tak bisa menemukan Baekhyun, sekeras apapun dia mencoba. Suho selalu melarangnya untuk menemui Baekhyun, semata-mata untuk menjaga keamanannya.

Suho sedang membereskan berkas-berkas tentang Baekhyun di kantornya dengan cekatan dia merapihkan dalam 1 folder. Semua sudah tersimpan dalam flashdisk, Baekhyun adalah saksi Kunci dari kematian Yoona. Yoona tidak meninggal karena kecelakaan, sesorang mensabotase kendaraannya dan Suho sedang berupaya untuk mengungkap semuanya, ketika seseorang mengetuk ruang kerjanya dengan segera Suho membukanya. Seorang wanita paruh baya datang menemuinya, setelah berbicara panjang lebar. Suho menitipkan flashdisk itu kepadanya.

"Jika sesuatu terjadi padaku, tolong berikan ini pada putraku."

"Saya mengerti Tuan, saya pamit."

Entah apa yang di rasakan Suho saat ini, dia mengetahui semuanya saat Baekhyun datang kepadanya dulu dan sekarang Baekhyun amnesia, entah kapan ingatannya akan kembali. Suho mengepal-ngepalkan tangannya.

Dia tahu seseorang mengawasinya, semua gerak-geriknya. Karena itu Suho tak berani memberitahu siapapun tentang keberadaan Baekhyun, Suho sendiri yang membawa Baekhyun ke tempat aman tanpa ada siapapun yang mengetahuinya.

Taemin adalah manusia yang mengerikan yang bisa melakukan apa saja demi uang dan kekuasaan, Suho tak bisa setangguh Taemin, Jiwanya tak sejahat itu untuk berbuat buruk semata-mata hanya demi harta.

Meski begitu, Suho selalu bisa memperhitungkan segalanya.

Chanyeol termanggu didepan laptopnya, sudah berjam-jam dia menatap layar monitor itu, Sehun datang menghampirinya membawakannya secangkir kopi hangat.

"Belum ada hasil ??" tanya Sehun, Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan.

"Appa tak mau memberitahuku dimana Baekhyunie ku berada" Ucap Chanyeol putus asa.

"Mungkin Appa mu ada alasan tersendiri mengapa dia melakukan itu semua. Santai saja Park."

"Aku tak suka panggilan itu." Sehun hanya terkekeh pelan.

kriiiiing...

Sesorang menelepon Chanyeol, nomor yang tidak dikenalnya, Chanyeol mengangkat alisnya berusaha menanyakan nomor itu pada Sehun tapi Sehun hanya mengangkat bahunya.

(Park Chanyeol)

"Ya, Siapa ?" Tanya Chanyeol Ragu.

(Kami dari kepolisian, mohon maaf menganggu tapi ini mengenai ayah anda )

Perasaan Chanyeol mulai tak nyaman dibuatnya.

"Ada apa dengan Appa ??"

(Maaf Tuan Park, kami menemukan ayah anda tergantung di kamar hotelnya)

Badan Chanyeol melemas seketika, lantai yang ditapakinya serasa tak terasa.

Orang diseberang sana masih memanggil nama Chanyeol tapi Chanyeol hanya bisa terdiam kaku, Sehun berupaya menyadarkannya. Suho sudah tiada, bunuh diri ?? Tak mungkin, sangkalan itu selalu terngiang dikepala Chanyeol. Eomma, Appa, Baekhyun dan anaknya semuanya meninggalkannya. Chanyeol mengusap wajahnya, menangis sejadi-jadinya. Semuanya hancur, apa yang digenggamnya menghilang perlahan.

Baekhyun benar-benar menghilang tanpa jejak sejak hari itu dan satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan Baekhyun pun sudah tiada, Chanyeol benar-benar putus asa dan hal itu membuat Chanyeol berubah menjadi pria yang dingin.

"Kita akan menikah Krystal, hanya sampai anak itu lahir. Setelahnya kita tes DNAnya jika sampai anak itu bukan anak ku, ku buat hidupmu seperti di neraka." ancam Chanyeol pada Krystal, hal itu sungguh membuat Krystal berbunga-bunga tak peduli apapun ancaman Chanyeol selama dia masih bisa berada disisi Chanyeol, Krystal sungguh tak peduli apapun lagi.

Kali ini Krystal sungguh salah besar karena sekarang, Chanyeol yang dia kenal tak lebih dari manusia dingin tanpa perasaan.

Chanyeol tak pernah ada di rumah, dia selalu pulang larut. Krystal selalu menggerutu karena tak pernah bisa berduaan dengan Chanyeol.

"Dengarkan aku, aku tak pernah mencintaimu ataupun bayi itu karena aku yakin itu bukan anakku. Jangan pernah berharap aku akan menyentuh tubuhmu lagi, apa kau dengar itu ?" Chanyeol menarik dagu Krystal dengan kasar tanpa ampun.

Krystal mulai menangis dan akhirnya dia menghubungi ayahnya untuk melaporkan apa yang telah dilakukan Chanyeol kepadanya.

Taemin pun akhirnya mendatangi Chanyeol dan hendak melabraknya.

"Anak tak tahu diuntung, kau berani menyakiti putriku !!" teriak Taemin pada Chanyeol, Chanyeol yang sedari tadi mengecek berkas yang sekertaris Min berikan padanya mulai terusik.

"Bisa kau keluar dari kantorku Tuan Park Taemin aaah aku hampir lupa kau hanya anak pungut" ucap Chanyeol ketus.

"K_K_kau.. "

"Kenapa ? Tak bisa terima kenyataan kalau kau memang hanya anak pungut ? Anak tiri ? Lucu sekali, kau dan Ibumu datang saat kakekku sedang berada di puncaknya. Tak usah bermimpi memimpin apapun di perusahaan ini, tidak kau atau pun garis keturunanmu." Ancam Chanyeol, kata-kata Chanyeol benar-benar mengusik Taemin.

"Tapi garis keturunanku juga akan menjadi garis keturunanmu Park Chanyeol, Krystal mengandung anakmu. Apa kau lupa itu ??"

"Cih, kita lihat saja nanti. Kau boleh pergi sekarang, aku ada urusan yang lebih penting" Chanyeol memutar kursinya kembali dan mengambil satu berkas yang ada di samping meja, Taemin keluar dari ruangan Chanyeol dengan amarah yang tinggi. Siapa sangka, anak idiot itu bisa berubah secepat ini.

Chanyeol membuka satu persatu file yang didapatkannya.

"Sial !" umpatnya lalu melemparkan kertas-kertas itu dan membiarkannya berserakan di lantai, disitu tertera dengan jelas beberapa informasi tentang Byun Baekhyun yang di hapus secara keseluruhan. Dan itu karena Appanya yang sebelumnya meminta seseorang untuk mengapus semua identitas Baekhyun sehingga Baekhyun tidak bisa terlacak oleh siapapun.

Hari ini Krystal akan melahirkan tapi Chanyeol tak peduli, dia menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor.

Selang beberapa waktu, Chanyeol menerima berita bahwa Krystal melahirkan anak perempuan namun meninggal beberapa saat setelah dilahirkan. Chanyeol menghela nafas pendek.

"Bahkan Tuhan tak mengijinkanmu hidup bersama Ibu brengsek seperti Krystal." Chanyeol mengambil Jasnya dan meminta seketaris Min membatalkan semua janjinya untuk 3 hari ke depan. Meski Chanyeol membenci Krystal dan anak yang dikandungnya tetapi tetap saja anak itu tidak bersalah. Setidaknya, dia layak dimakamkan secara baik. Payung-payung hitam membentang tak kala Krystal turun dari Limosine yang membawanya beserta Chanyeol, Krystal masih nampak lemah namun dia memaksakan diri untuk menghadiri pemakaman putrinya meski harus memakai kursi roda.

Dan disana dikejauhan, seseorang sedang mengunjungi sebuah nisan dengan menggendong seorang bayi mungil.

"Tuan, aku datang membawa cucumu. Maafkan aku, tapi aku akan membawa mereka ke Kanada bersamaku, sekali lagi maafkan aku Tuan."

Chanyeol menghela nafas pendek, disini juga tempat ayahnya dimakamkan. Dengan perlahan Chanyeol berjalan mendekati makam ayahnya dan tanpa sengaja dia menyenggol seseorang.

"Ah maaf" ucap Chanyeol, orang itu menggendong seorang bayi mungil yang menggeliat-geliat nampak lucu dan tanpa Chanyeol tersenyum lalu dengan seketika bayi itu menangis.

"Cup, cup, cup sayang.. jangan menangis ya sebentar lagi kita akan menemui Ibumu.. " ucap wanita itu mencoba menenangkan bayi dalam gendongannya tapi bayi itu terus meronta.

pletak, sesuatu jatuh dan menggelinding mengenai sepatu Chanyeol.

"Aah, " Chanyeol mengambilnya dan mengembalikannya pada wanita tersebut.

"Nyonya ini, terjatuh."

"Terimakasih Tuan," Wanita itu membungkuk untuk berterimakasih dan sekilas Chanyeol melihat sosok bayi tersebut.

"Anak anda lucu sekali," ucapnya sambil tersenyum.

"Ini cucuku Tuan, anakku baru saja melahirkan beberapa hari yang lalu d_d_dan suamiku dimakamkan disini. Aku hanya ingin dia melihat cucunya sebelum kami pindah."

"Aah baiklah, Chanyeol. Park Chanyeol dan tak usah memanggilku Tuan, panggil saja namaku" bayi itu tiba-tiba berhenti merengek ketika Chanyeol memberikan jari telunjuknya untuk mengusap perlahan pipi mungil bayi laki-laki itu.

"B_b_baiklah, Kami pamit dulu, t_terimakasih Tuan ah maksudku Chanyeol." wanita separuh baya tersebut nampak gugup dan nampak pergi dengan terburu-buru. Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan kembali setelah wanita itu menjauh lalu menghilang di kejauhan.

"Appa, aku datang untu_" ucapan Chanyeol terhenti ketika dia melihat bunga segar yang ada didepan makam Suho.

"Siapa yang menaruh ini disini ?" Tanya Chanyeol dalam hati sambil menengok ke kanan dan ke kiri namun tak ada siapapun di sana.

Nyonya Jeon berusaha menenangkan bayi mungil yang digendongnya itu ketika dalam taxi.

"Sebentar ya sayang sebentar lagi sampai, Kau mengenali Ayahmu ya ? Kau berhenti menangis ketika dia menyentuh pipimu."

Nyonya Jeon tersenyum pahit lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menggenggamnya erat. Itu adalah sebuah flashdisk hitam dengan inisial BBH. Nyonya Jeon menghela nafas pendek lalu menaruh flashdisk itu kembali ke dalam tasnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung,

.

.

hahaha, lama bgt yaaaa updatenya sampe setaun. Lagi pgn nerusin ini aja tiba-tiba kalo alurnya jd keliatan aneh. maaf ya..