Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part I : Him
"Warning! Rate 17"
Apartemen kami begitu gelap. Ku nyalakan lampu untuk mempermudah langkahku berjalan pada kamarku.
"Hyung? Hyunwoo Hyung?" Panggilku. Aku ingin memastikan apakah keadaan sepi ini akibat pemilik lain tempat ini telah terlelap atau memang karena belum pulang.
Tak ada sahutan, aku memeriksa kamarnya. Keadaan masih seperti saat aku berangkat kerja.
'ia belum pulang... lagi...' batinku
Ku tutup pintu kamar yang di dominasi warna abu-abu itu untuk berpindah ke kamarku. Melepaskan jam tanganku dan meletakkannya di meja samping ranjang ku.
Jam 1.24 dini hari. Aku pulang larut karena ada proyek acara yang akan diselenggarakan waktu dekat. Lelah. Sangat. Ku lepas kemeja putihku dan segera membersihkan diri.
Aku ingin segera beristirahat. Tidak berniat untuk menunggunya.
Sebab aku tahu, aku akan terluka.
Hal seperti ini sudah biasa bagiku. Tak pernah ku singgung tentang apa dan mengapa ia melakukannya. Ku fikir, diamku akan membuat ia paham.
Tidak. Ia terus bungkam seolah tak terjadi apapun. Dan hal ini tak pernah selesai. Aku tak bodoh. Aku tahu. Namun aku memilih diam. Aku ingin melihat apakah sosok yang bersanding denganku ini adalah lelaki jantan.
Ya, ia kekasihku. Lebih tepatnya tunangan ku.
Selepas mandi, aku memilih kaos yang nyaman dan menuju terlelap. Baru saja ku matikan lampu tidurku, suara pintu apartemen menggangguku.
Aku beranjak untuk melihatnya. Keadaannya baik, namun rambutnya begitu berantakan. Ku ambil tas dan jas miliknya dan kuhirup bau yang begitu menguar. Ia habis minum... lagi.
"Duduklah di ruang tengah, ku buatkan air madu sebentar..." Kataku ramah. Ia mengangguk.
Berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman untuk menghilangkan rasa mabuknya. Ku lihat sekilas dia dari tempatku sekarang. Ia tengah menyandarkan kepalanya di sofa.
Ku tuang beberapa sendok madu dan memastikan minuman ini tidak terlalu panas. Ku bawa gelas tersebut ke tempatnya berada.
"Terima kasih..." Ujarnya. Aku hanya tersenyum simpul. Ia meminumnya sampai habis, memang. Namun dari sana aku tahu hal hal lain.
Kissmark. Di lehernya. Hal yang ku benci.
Ku sentuh tanda itu dengan jemariku dan tentu saja ia menepisnya. Ia tidak berkata sedikitpun. Seperti biasanya.
Ia meletakan gelas di meja dan melenggangkan kaki menuju kamar. Satu hal lagi yang ku tak suka. Bau lain dibalik menyengatnya bau alkohol.
Parfum.
Ku raih gelas itu dan menggenggamnya erat. Melampiaskan marahku mencoba bersabar. Menarik nafas panjang dan kemudian pergi kembali ke dapur. Mencuci gelas itu sampai bersih dimana aku meyakini bibir di gelas ini bekas bercumbu.
Aku benar-benar butuh tidur untuk melupakan malam ini. Kenyataan bak mimpi buruk yang terus berulang.
"pagi sayang..." suara di pagi hari menyapa pendengaran ku kala aku keluar dari kamarku. Itu Hyunwoo. Dengan pakaian rumah karena memang ia tak bekerja di hari Sabtu.
"pagi Hyung..." jawabku yang di hadiahi sebuah kecupan manis di dahi. Setelah bertunangan, kami memang memutuskan untuk tinggal bersama.
Sebagai pembelajaran kala kami menjalani kehidupan pernikahan di masa depan.
Aku melipat lengan kemejaku untuk membuat sarapan bagi kami berdua. Hanya roti panggang dengan selai blueberri. Aku tak belanja untuk minggu ini karena aku tak dapat menyempatkan diriku untuk memasak.
Semua akan sia-sia karena Hyunwoo lebih memilih makan di luar.
"Aku akan ke Gwangju hari ini Hyung, apa kau ingin menemaniku?" tawarku padanya. Pekerjaanku dibidang sosial membuat aku lebih banyak menghabiskan akhir pekan dengan bekerja, ketimbang berkumpul bersama keluarga.
Namun, pekerjaan seperti ini tidak rutin, sehingga jika aku menikah nanti, tidak akan mengganggu urusan keluarga yang ku bina.
"Aku dirumah saja, untuk beristirahat. Akhir-akhir ini pekerjaanku semakin banyak karena menjelang tahun baru..." Aku tersenyum simpul, menahan gelak tawa atas pernyataan tadi.
'pekerjaanmu yang semakin banyak, apa permintaan selingkuhanmu yang bertambah banyak hum?' batinku
"Baiklah, jaga dirimu hyung selama aku tak ada..."
"Tentu sayang..." Kami melanjutkan sarapan kami sampai ponsel miliknya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan masuk. Aku melirik singkat dan mengalihkan pandanganku segera.
Ia membalas pesan itu cepat dan meletakan handphonenya kembali dalam keadaan terbalik. Aku menduga itu dari simpanannya karena setelahnya, Hyunwoo melihat ke arahku.
Ia memakan sarapannya cepat. Kemudian mengelus kepalaku pelan untuk izin membersihkan diri. Aku memejamkan mata menikmati perlakuan itu.
Saat ia berlalu, aku melemparkan rotiku ke meja. Ini masih pagi, namun telah merusak moodku.
Ku bereskan meja makan dan menuju kamar Hyunwoo untuk mengambil kunci mobil. Inginku segera pergi, tapi mataku tak sengaja menatap ponsel miliknya yang letaknya tak jauh dari kunci ku berada.
Layarnya kembali menyala. Sebuah notifikasi masuk.
Tak bisa ku buka karena kunci sandi yang menghalangi. Aku tak habis akal. Ku ambil sebuah selotip dibawah meja yang berisi sidik jari Hyunwoo. Aku mengambilnya dari mouse komputer miliknya dan ku simpan untuk keperluan tertentu.
Isinya ternyata sebuah gambar dari nomor bernama Yeoku.
今日の私からのビタミン
( Kyō no watashi kara no bitamin )
trans : vitamin dariku hari ini
Orang ini lagi. Aku menarik nafas panjang. Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Hyunwoo yang hanya terbalut handuk yang menutupi bagian bawahnya saja.
Ia terkejut melihatku menggenggam ponsel miliknya. Ku tatap ia dengan penuh amarah.
"Mantan kekasihmu mengirim foto padamu sebagai semangat untuk hari ini..."
"Kihyun-ah aku bisa jelaskan..." aku meronta kala Hyunwoo menggenggam lenganku. Ku pukul dadanya untuk melepaskan ku namun aku kalah kuat dengan tubuhnya yang kekar.
"Dengarkan aku dulu, ku mohon..." Ia menarikku dalam dekapnya. Aku mendongakan kepalaku untuk melihat wajahnya.
"Kau tahu bukan jika aku mencintaimu Hyung?" ujarku bergetar menahan tangis. Bukannya menjawab, Hyunwoo justru menciumku.
Ia menarik tekukku untuk memperdalam ciumannya sampai mendorongku ke ranjang miliknya. Punggungku sakit akibat perlakuan kasar itu.
Tangan kirinya yang semula di sisi tubuhku merambat turun menuju pahaku. Meremasnya pelan dan membuka lebar kakiku. Aku tahu kemana arah permainan ini.
Plak!
Segera saja aku menjauhkan Hyunwoo dari tubuhku setelah ku tampar dia. Aku hanya terus berlari, tanpa mau tahu lagi apa akan yang terjadi setelahnya.
Di fikiranku hanya satu, aku harus pergi menjauh. Berlari menuju parkiran, ku buka pintu mobil dan aku menangis dengan keadaan yang berantakan.
Ku ambil tisu basah dan ku usap bibirku kasar. Menghapus bekas ciuman yang tak aku minta. Memeluk tubuhku sendiri. Sesekali membenturkan kepalaku pada stir kemudi.
Jijik. Aku merasa jijik dengan diriku.
.
.
To Be Continued
