Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part II : Person
Aku dan Hyunwoo telah menjalin kasih selama enam tahun. Hubungan kami di mulai saat aku menginjak bangku kuliah semester pertama.
Namun, kami telah saling mengenal saat aku kelas satu SMA. Ia adalah kakak kelasku di waktu sekolah dulu.
Ia dan aku bukan termasuk orang yang terkenal. Tidak mengikuti kegiatan OSIS ataupun ekstrakulikuler. Lalu bagaimana kami bertemu? Haha semua karena konser.
Jika orang lain menonton konser grup idol ataupun penyanyi mancanegara, aku justru menonton konser penyanyi asal Taiwan. Aneh bukan?
Aku adalah tipe penikmat lagu ballad. Kebanyakan lagu dengan genre seperti itu banyak dibawakan oleh negeri tirai bambu tersebut. Lirik lagu mereka lebih bersifat tersirat sehingga bagiku itu amat menyentuh.
Bukan berarti aku membenci musik dari negaraku, aku suka namun beberapa saja.
Karena jarang itulah, apabila bertemu dengan orang yang berselera sama denganku maka itu selayaknya mendapat jackpot. Dan itulah yang kurasakan saat pertama kali bertemu Hyunwoo.
.
*Flashback on December, 2010*
.
.
Konser akan di mulai jam 18.30. Namun, aku datang lebih dulu untuk mencegah terjebak macet. Ini adalah kali pertama aku menonton konser. Tanpa teman.
Di luar gedung, aku hanya berdiri seperti anak hilang menunggu check-in dibuka. Ku pasang headset untuk memutar lagu sekedar menghilangkan rasa bosan.
Tuk tuk
Seseorang menyentuh bahuku dengan telunjuknya. Aku menoleh ke arahnya. Seorang lelaki tinggi berkacamata.
"Kau bersekolah di SMA Dongsun bukan?" Tanyanya. Aku mengangguk pelan. Sebagian dari diriku merasa was-was, tapi di sisi lain orang ini tak asing.
"Aku kakak kelasmu, Hyunwoo..." Aku memiringkan kepalaku? Huh? Mungkin melihatku yang keheranan, ia memberikan penjelasan tambahan.
"Aku sekelas dengan Hani..."
"Benarkah?" Ia mengiyakan. Kemudian ia menarikku ke tempat untuk kami bisa duduk berbincang. Bukan di kursi, hanya dilantai yang tidak di lalu lalang orang yang mulai berdatangan.
"Aku tak tahu jika di sekolah ada yang sama sepertiku..." Hyunwoo melampirkan tas ranselnya ke pangkuannya. Ia juga melepaskan topi yang dikenakan membuat wajahnya terlihat lebih jelas.
Tapi tetap saja, aku tidak mengenalinya.
Namun, aku berusaha positif. Tak salah untuk mengenal orang asing saat hendak menonton konser. Selain mendapat kawan baru, yang jelas aku tidak jamming sendiri walau aku sudah mempersiapkan diriku untuk itu.
"Aku juga. Aku tak tahu jika Sunbae juga menyukai Khalil Fong..."
"Tentu. Lagu apa yang kau suka ehm ..."
"Kihyun..." Jawabku langsung saat membaca geraknya yang mengerutkan dahi. Ia membuka mulutnya tanda mengerti.
"Jadi Kihyun, lagu apa yang kau suka?"
"Itu banyak sekali, namun yang sering ku dengar adalah Love, Love, Love..."
"Sedang jatuh cinta?" tanyanya menggodaku. Aku tersenyum tersipu dibuatnya.
"Tidak. Kalau Sunbae sendiri?"
"Aku suka Special Person..."
"Sedang jatuh cinta?" Ku balas ia dengan mengulang perkataannya dan hanya di sambut gelak tawa. Kami bercerita satu sama lain tentang kegemaran masing-masing.
Sampai pada akhirnya kami harus check-in masuk, ia melindungiku dari kerumunan orang yang berdesakan untuk menjadi barisan terdepan.
Dengan tubuhku yang kurus, aku bisa saja jatuh terinjak jika Hyunwoo tak ada. Tak hanya itu, ia bahkan mencarikan ku tempat duduk dengan spot terbaik dimana dapat melihat panggung secara jelas.
Aku benar-benar bersyukur saat itu. Bisa bertemu orang baik yang mau menolongku. Tanpa aku sadari, aku telah menaruh sedikit kepercayaan yang justru menjadi benih dari kekecewaan ku.
Semenjak konser itu, kami menjadi lebih dekat. Di sabtu malam, kami biasanya bertemu untuk bermain ataupun jalan.
Aku telah mengenalkannya pada ibuku dan begitupun sebaliknya. Namun, aku dan Hyunwoo merasa bahwa kedua orang tua kami tidak menyukai pertemanan kami.
Aku melihat dari bagaimana ibuku menjadi lebih pendiam dan ibu Hyunwoo bersikap dingin kepadaku. Pernah ku tanyakan dan mereka menjawab, "hanya intuisi..."
"Hyung..." Disinilah aku. Bersama Hyunwoo di sebuah kedai yang menjual bubble tea. Kami telah berjanji sebelumnya akan mengerjakan pekerjaan sekolah bersama.
"Apa?" Jawabnya yang kemudian menyeruput minuman dingin rasa taro.
"Kau akan kuliah jurusan apa?" Hyunwoo terdiam. Menyipitkan matanya berfikir, menopang dagu dengan tangan kirinya.
"Aku sedikit tertarik dengan akuntansi. Tapi entahlah, aku belum berkonsultasi pada guru..."
"Akuntansi? Di jurusan itu mayoritas perempuan, kau yakin Hyung?"
"Jika mayoritas perempuan lalu aku akan menjadi yang tertampan di sana. Kau tak perlu cemburu..." Kekehnya sambil mencubit pipiku.
Aku melotot menatapnya.
"Aku tidak. Hanya saja memberi tahu..." belaku padanya.
"Tidak perlu memberitahu aku pun juga tahu. Aku lebih tua darimu, ingat..." aku hanya menggeleng kepala dan kembali fokus melanjutkan tugasku.
"aku akan selalu satu langkah di depanmu..." aku mendengarnya. Walau Hyunwoo mengucapkannya begitu lirih, namun aku dapat mendengarnya.
Anggap saja saat itu aku bodoh karena usiaku yang masih muda. Lingkup bermainku juga belum luas saat itu.
Tidak bisa mengartikan tanda bahwa ia adalah seorang yang begitu dominan. Memiliki kepercayaan diri tinggi sehingga meremehkan orang lain.
Termasuk aku.
.
.
.
To Be Continued
