Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part III : Makes
Aku memegang pipiku dan membiarkan Kihyun melangkah pergi. Selalu seperti ini. Kihyun benar-benar menjadi tak tersentuh.
Ku ambil ponselku yang tergeletak di ranjang akibat lepas dari genggamannya saat kami berciuman. Pesan bergambar itu langsung muncul di layar.
Aku melakukan panggilan ke nomor itu. Yang menghancurkan suasana pagiku dengan kekasihku. Memakai pakaianku tanpa peduli bagaimana penampilanku dan segera menaiki lift.
"もしもし 私の王子..."
( Moshi-moshi watashi no ōji )
trans : halo pangeranku
"Aku sudah melarang mu, mengapa tetap kau lakukan?"
"Apa Hyunwoo ku tengah marah? Ayolah ini hal sepele..."
"Apa kau mengerti apa arti kata akhir?"
"Akhir dari hubunganmu dan anak kecil itu adalah hal yang paling ku damba.."
Ku banting handphoneku akibat rasa muakku padanya. Yeoku, atau Lee Minhyuk. Teman kelasku semasa kuliah dan sekarang menjadi teman kerja.
Pintu lift terbuka dan aku langsung mencari dimana Kihyun. Kaca mobil yang transparan membuatku dapat melihatnya yang tengah menangis.
Mata kami yang bertemu membuat ia segera meninggalkanku yang belum sempat mengejarnya.
"Kihyun-ah..."
Aku mengusap wajahku kasar. Ini bukan akhir. Ini tidak boleh berakhir. Aku tak bisa.
Aku tidak bisa melepaskan apa yang telah aku punya sejak awal.
.
*Flashback on march, 2013
.
Karena terlalu fokus akan persiapan ujian semesterku, aku lupa akan kesehatanku. Bisa-bisanya aku terkena serangan jantung di usiaku yang baru menginjak 22 tahun.
Beruntung aku tidak memilih tinggal di asrama sehingga aku cepat tertolong. Aku menyesal karena telah menyusahkan ibuku. Disaat itu, ayahku tengah dinas di luar kota. Menyisakan aku dan ibu saja di rumah.
Sudah dua hari aku di rawat dan masih dalam proses pengobatan. Kihyun menjengukku dua jam setelah aku dibawa ke rumah sakit. Namun setelah itu, ia tak datang lagi.
Aku tahu ibuku lah penyebabnya. Padahal menurutku Kihyun itu baik. Ia juga sopan dan manis. Tapi ibuku selalu bilang, "bukan Kihyun masalahnya, tapi hubungan kalianlah masalahnya..."
Ada apa dengan hubungan kami? Aku tidak melihat ada sesuatu yang salah. Justru pertemanan ini membawa kami dalam kebaikan dan melangkah maju.
Aku tidak mengerti dengan jalan fikiran ibuku.
Sekarang, aku duduk di ranjang ku sambil menatap lewat jendela. Dadaku terkadang masih nyeri, untuk itu aku belum bisa sekedar berkeliling.
Seseorang bertubuh mungil yang ku kenal tengah berjalan kemari. Bibirku tersenyum lebar. Siapa lagi jika bukan Kihyun. Seolah ragu, Kihyun menghentikan langkahnya di tengah jalan. Bukannya terus masuk, ia memilih duduk di bangku taman rumah sakit ini.
Melihat itu, aku merasa sesak. Bukan sakit yang ku derita, tapi sesak yang lain.
Ku lirik ibuku yang tengah duduk di kursi sambil mengerjakan kerajinan tangan. Inginku Kihyun dan ibuku adalah jalan yang ku lalui bersama. Untuk saat ini, aku tak memiliki kuasa untuk melakukannya.
Besok harinya, aku melihat Kihyun di tempat yang sama. Begitu juga seterusnya. Aku tak bisa lagi berlaku sama hanya diam saja.
Aku harus bertemu Kihyun. Itu tekadku. Aku mengatakan keinginanku itu pada ibuku entah mendapat izin darinya atau tidak. Ku hubungi Kihyun untuk datang kemari di malam hari, sebab ada yang ingin ku perlihatkan padanya.
"Hyung..." Ku tolehkan kepalaku pada asal suara itu. Ia terlihat manis malam ini. Dengan jaket jins biru yang sedikit kebesaran, membuat tubuhnya semakin terlihat mungil.
"Mengapa kau menunggu di sini?" Ia terlihat panik sebab aku menunggunya di taman dimana ia biasa duduk. Dengan tangan kiri yang masih terpasang infus, aku berdiri dengan hati-hati.
"Aku ingin mengajakmu ke taman belakang rumah sakit ini. Ayo..."
Ku rangkul ia sembari berjalan ke sana. Banyak mata yang melihat ke arah kami, tapi ku balas dengan menyapa mereka.
Taman belakang ini bak fantasi. Di hias dengan lampu-lampu berwarna kekuningan serta penggunaan unsur kayu untuk dekorasinya seakan berada di negeri dongeng.
"Indah ya?" Kataku padanya. Kihyun tak langsung menjawab karena sibuk terpukau dengan kedua mata berbinar.
"Lebih dari indah..."
Ku dudukan diriku di salah satu bangku yang tersedia di sana. Menatap Kihyun yang berjalan berkeliling melihat bunga yang merekah.
"Terima kasih Hyung..."
Senyum itu. Senyum yang paling aku suka. Tanpa ada guratan beban dan menyebar seperti virus. Membuatku turut tersenyum juga.
Senyuman yang begitu tulus dan aku sama sekali tak rela berbagi dengan yang lain. Senyum itu milikku. Hanya aku yang bisa memilikinya.
"Kihyun-ah, bisakah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu Hyung, katakanlah..."
"Setelah semua yang kita lalui, pernahkah terbersit di benakmu menganggap ku lebih dari teman?" Kihyun tercekat.
Ia hanya menunduk menggosokkan tangannya, mengeratkan jemarinya. Ku genggam tangan kanannya. Membawanya mengarah padaku.
"Awalnya aku menolak, tapi waktu mendorong perasaanku semakin jauh mendalam. Maafkan aku.." lanjutnya. Aku terdiam terpaku sejenak.
Maksud pertanyaanku tadi hanya sebuah candaan. Melihatnya yang menjadi serius, aku tak menyangka akan menjadi seperti ini.
Ku rengkuh tubuhnya. Membiarkan jeda sejenak. Seharusnya aku tak pernah bermain-main dengan hati.
Ku fikir kembali, Kihyun telah menunjukan banyak tanda. Salah satu hal terbesarnya adalah ia memutuskan kekasihnya, yang menurutku sempurna, karena ku tak suka.
Lalu, bagaimana dengan perasaanku pada Kihyun? Aku menganggap Kihyun adalah emas.
Berharga, sangat bernilai dan begitu berarti.
Bagaimana bisa aku menolak ia yang terpikat padaku? Ku lepas pelukanku dan mengangkat dagunya. Membawanya kedalam kecupanku dan menyembunyikan senyuman kemenangan dalam hatiku.
Akhirnya, selamat datang di duniaku.
.
.
To be Continued
