Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part IV : Me
Warning! Rate 19+
Seharusnya aku pulang di hari Senin. Namun, acara berjalan begitu lancar sehingga selesai lebih cepat. Awalnya aku ragu kala harus pulang.
Emosi dalam benakku masih tersisa jika aku menginjakan kakiku disana. Tapi bagaimana dengan Hyunwoo? Apakah ia baik-baik saja?
Berkendara selama tiga jam tanpa hambatan suatu apapun. Sedikit kecewa saat aku memarkirkan mobil, aku melihat mobil Hyunwoo yang lain. Masih ditempat yang sama tanpa ku rasa ada perubahan.
Ia tak keluar, apakah pasangannya yang kemari?
Masuknya aku ke dalam apartemen, aku disuguhi lelaki yang terbaring di sofa sembari memeluk bantal. Di meja penuh akan kaleng soda dan makanan cepat saji yang begitu berantakan.
Aku mengulum senyum, Hyunwoo masih tetap menggemaskan. Mementingkan makan seberapa besarpun masalahnya. Ya, meski apa yang di konsumsinya tidaklah sehat.
"Hyunwoo Hyung, ayo pindah ke kamar. Kau bisa sakit..." Panggilku pelan sambil mengusap lengan atasnya. Matanya mengerjap perlahan. Merenggangkan tubuhnya dan kemudian duduk.
"Kau sudah pulang..." Aku mengangguk meski aku tahu ia tak melihatnya. Matanya terpejam, ia yang masih mengantuk. Menaruh kedua tanganku di sisi tubuhnya untuk menuntunnya berjalan menuju kamar miliknya.
"Tidurlah disampingku Kihyun-ah. Aku tak bisa tidur tanpamu..."
"Kau tak bisa tidur Hyung?" tanyaku heran. Hahaha, inilah salah satu alasan mengapa aku terus bersamanya. Ia mampu membuatku tersenyum dengan sifat polosnya.
"Di sini saja..." Ia menggenggam tanganku dan menariknya untuk berbaring disebelahnya. Aku pun menurutinya. Menarik selimut dan mengelus kepalanya untuk membuatnya kembali terlelap.
Tangannya yang berada di pinggangku membuat kami begitu dekat. Aku merasakan deru nafas miliknya. Ku perhatikan wajahnya yang begitu teduh.
Mulai dari mata, hidung dan bibir yang selalu bisa melemahkanku. Sudah lama sekali rasanya, entah kapan terakhir kami menghabiskan waktu berdua. Ku dekatkan wajahku untuk mengecup keningnya.
"Kau tahu bukan jika aku begitu mencintaimu..." ujarku pelan dan membawaku menuju mimpi sepertinya.
Belum ada hitungan jam, mimpi buruk itu muncul lagi, membuatku terbangun dan berlari ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutku dengan kuat.
Perutku terasa kram dan aku jatuh terduduk. Mengusap bibirku dengan punggung tanganku sembari menarik nafas panjang. Menyandarkan tubuhku pada dinding.
Aku tertawa. Kejadian masa lalu mengubah cintaku menjadi ketakutan berlebihku. Setelah ku rasa mampu, aku berdiri membersihkan segalanya.
Berjalan keluar dan melirik Hyunwoo sekilas. Tak berminat lagi untuk tidur bersamanya. Aku beranjak menuju kamarku. Mengunci rapat pintu yang kemudian menekan semacam kode untuk menampilkan ruang lain.
Sebuah kamar mandi. Sudah dua tahun terakhir, tempat ini menjadi ruang yang nyaman untukku tidur.
Bath up didalamnya telah ku lengkapi dengan alas yang hangat, selimut serta bantal. Ku baringkan tubuhku dengan nyaman dan memejamkan mataku.
"Sepertinya aku tak bisa tidur dengan Hyunwoo sampai kapanpun..."
.
*Flashback on 2017
.
.
Sebagai orang yang bekerja di bidang sosial, jika berkesempatan menjadi volunteer dibawah naungan PBB adalah hal yang luar biasa.
Aku adalah salah satu orang yang beruntung itu setelah melewati tes seleksi yang begitu panjang. Karena itu pula, aku harus mengikuti rangkaian acaranya selama tiga bulan di luar negeri.
Ini menjadi pengalaman pertamaku untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan Hyunwoo.
Hyunwoo sendiri bekerja sebagai manager di badan keuangan negara, sehingga tidak mungkin ia ikut denganku.
Awalnya, Hyunwoo agak keberatan dengan keputusanku. Alasannya adalah kami baru saja bertunangan dan ia menginginkan pernikahan secepatnya. Dengan segala bujuk rayuku bahwa ini adalah hal terakhir yang paling ingin ku lakukan sebelum menikah, Hyunwoo pun luluh.
Ia melarangku bekerja paska menikah, untuk itu aku mengusahakan hal ini.
Selama itu pula, handphone adalah hal tak terpisahkan. Selalu ada di saku ku dan dibawah bantal ku. Bersyukur bahwa saat ini sungguh canggih, bisa menghapus jarak diantara kami.
Namun aku menyadari suatu kesalahan fatal. Selama ini kami terlalu dekat, tak pernah terpisah. Jika ada hal yang seperti ini, apa hal yang kemungkinan terjadi?
Kekosongan.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Pelarian.
Masih tertanam dalam benakku, di siang hari yang cerah, aku pulang dari gerakan volunteerku tanpa memberitahu Hyunwoo terlebih dahulu. Maksudku adalah kejutan.
Aku pergi ke apartemen kami, yang dibeli Hyunwoo sebagai hadiah pertunangan. Rencananya, tempat itu juga yang akan menjadi tempat tinggal kami berkeluarga nanti.
Betapa terkejutnya aku kala masuk kedalamnya setelah tak ku kunjungi beberapa waktu. Semuanya berunsur ungu. Padahal sebelumnya, sudah ku tata berwarna putih dan hijau tua selayaknya bunga kesukaanku, anggrek.
Bunga yang ku tanam di balkon berganti menjadi lili ungu. Menyibakan rambutku kebelakang, aku tak percaya.
Ku langkahkan kakiku menaiki tangga, menuju kamar Hyunwoo di lantai dua meminta penjelasan. Aku menutup mulutku. Kamarnya berubah menjadi bak kamar raja.
Ranjang berwarna keemasan dengan kasur berwarna merah maroon. Membuat sensasi ruangan ini begitu sensual. Aku segera berlari menuju kamar milikku tepat disebelah kamarnya.
"Arrrggghh..." Aku berteriak marah. Membuka lemari dan menemukan baju-baju yang bukan milikku. Apa maksud semua ini? Aku hanya bisa terduduk, terdiam termangu. Tanpa sadar, aku terlelap akibat terlalu lelah.
.
Author POV
.
Waktu yang tidak begitu larut tidak menyurutkan seseorang mabuk berat. Dengan jalan yang tertatih, lelaki tersebut bersama temannya di antar pada kediamannya.
Meski terlihat sederhana, hal kecil bisa memunculkan hal besar. Sebagaimana mabuk bisa mengundang hasrat birahi tak tertahankan.
Temannya menghempaskan kasar tubuh tersebut ke ranjang dan melucuti kemeja yang dikenakannya.
"Biar aku yang bekerja untukmu..." Ujar temannya itu. Sementara sang lelaki hanya tertawa dengan penampilan tubuh atletis dengan kulit kecoklatan. Membuatnya begitu seksi akibat olahraga favoritnya adalah renang.
Merasa selayaknya santapan mahal, temannya itu menghirup dalam leher lelaki itu. Wangi yang maskulin semakin meningkatkan libido dimilikinya.
"Kau milikku Hyunwoo..." Seringai muncul sebelum ia melepaskan celana kain yang dikenakan Hyunwoo dan juga celana miliknya.
Tanpa ada pemanasan, ia memasukan junior yang masih tertidur itu kedalam lubang miliknya. Sakit. Tentu saja. Ia meringis. Menarik turunkan tubuhnya sesekali mencium bibir lelaki dibawahnya.
"Akkkhh, akkh, ahh..." Desahnya mencari titik kenikmatan. Ia terus melakukan hal itu dengan semakin agresif, saat merasakan didalam dirinya mulai mengeras.
Remasan yang terus mengetat dari lubang Minhyuk membuat suasana bertambah panas. Hyunwoo membalik keadaan dengan temannya menjadi dibawah.
"Kau memang nakal, Lee Minhyuk..." Katanya sebelum membawa pada ciuman yang begitu panas.
Minhyuk mengalungkan tangannya pada leher Hyunwoo dengan pinggul yang turut bergerak seirama. Bibir Minhyuk tak henti-hentinya mendesah nama Hyunwoo dengan peluh membanjiri wajah cantiknya. Ia mendongakkan kepalanya saat puncak kenikmatannya datang.
Hyunwoo ambruk setelah pelepasan. Kepala terasa sakit secara tiba-tiba, efek dari minuman beralkohol. Perut Minhyuk terasa penuh akibat sperma yang dikeluarkan Hyunwoo.
Tak merasa bersalah ataupun berdosa, Minhyuk mencium pipi Hyunwoo dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Sementara diluar kamar itu, Kihyun yang nyatanya tunangan Hyunwoo membungkam mulutnya meredam suara tangisnya. Meringkuk mencoba tak mendengar suara menjijikan itu.
Ia memang tak melihat adegan panas itu, tapi jika hanya desahan menggairahkan yang terdengar, bukankah mereka tengah bercinta?
Kamar yang tak kedap suara membuat Kihyun memilih kamar mandi sebagai tempat peraduannya. Di dalam bath up, air mata terus mengalir di kedua kelopak matanya.
"Aku harap ini hanya mimpi buruk..."
.
.
To be Continued
