Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part V : Just
Hal yang paling ku sesalkan dalam hidupku adalah mengenal Minhyuk. Ia masa laluku yang seolah tak bisa lepas. Aku mengenalnya pertama kali sebagai teman kelasku semasa kuliah.
Harusnya aku tak meremehkan perkataan Kihyun waktu itu. Jurusanku yang mayoritas perempuan, membuat kaum minoritas menjadi begitu solid.
Lee Minhyuk.
Sang primadona. Ia begitu terkenal di pertama kali jejaknya sebagai mahasiswa ospek. Ia yang ramah membuat semua orang tertarik padanya.
Serta wajahnya. Begitu rupawan. Dapat dikatakan cantik, disatu sisi juga tampan. Sempat saat itu aku tertarik. Namun, aku sadar diri. Itu tak mungkin.
Kedekatanku dengannya terjadi di tahun kedua hubunganku dengan Kihyun. Saat itu aku disibukan akan persiapan kelulusan dan mencari lowongan pekerjaan.
Sahabatku, Wonho secara tiba-tiba menghampiriku saat aku tengah makan malam di suatu kedai selepas pulang dari kampus.
Bugh!
Ia meninjuku yang membuat aku jatuh tersungkur. Tak cukup disitu, ia terus memukulku tanpa sebab. Suasana menjadi tak kondusif. Banyak pelanggan yang berteriak ketakutan.
Pukulannya terhenti kala beberapa mahasiswa laki-laki melerai. Bibirku berdarah dengan wajahku yang beberapa bagian membiru.
"Kau penghianat Hyunwoo!" Teriaknya padaku.
"Aku melakukan apa?"
"Ku fikir kau sahabatku, tapi tak ku sangka kau membunuhku perlahan..."
"Kau bicara apa?"
"Lee Minhyuk. Kau tahu bukan jika aku menyukainya? Lalu mengapa kau pacaran dengannya!"
"Aku tidak! siapa yang mengatakan omong kosong itu padamu?"
"Tak mungkin Minhyuk berbohong padaku..." Setelah mengatakannya, Wonho meninggalkanku dengan keadaan amarah luar biasa.
Aku meminta maaf pada semua orang yang disana dan berlari mengejarnya. Wonho membawa mobil dalam kecepatan tinggi menimbulkan kekhawatiran padaku.
Semua terjadi begitu cepat. Suara dentuman keras terdengar. Hatiku langsung berdegup kencang. Ku tinggalkan taksi yang akan ku naiki dan memilih berlari.
Sebuah mobil hitam menabrak dinding pembatas jalan, menghasilkan kerusakan pada kap mobil begitu parah. Aku langsung menghampiri.
Stuck!
Pintu mobil tak bisa terbuka akibat kecelakaan ini. Wonho tak sadarkan diri dengan luka kepala yang buruk. Sepertinya akibat benturan yang begitu keras.
"Bertahanlah Wonho..."
Aku mencoba sekuat tenaga sampai para petugas medis datang, Wonho masih terjebak. Cara terakhir adalah dengan penggunaan alat berat. Pintu memang terbuka, namun masalah lain muncul.
Kakinya terjepit di dashboard mobil.
Penyelamatan sementara dilakukan terlebih dahulu sampai mereka berhasil mengevakuasi Wonho. Waktu terus bergulir dan aku merasa itu sangat lama. Sampai terlintas di benakku, Wonho tak bisa selamat.
Tujuh hari berlalu sejak insiden itu. Wonho masih terbaring tak sadarkan diri. Pembekuan darah dalam otak yang di alaminya memungkinkan kala ia bangun nanti memiliki keterbatasan di satu sisi.
Bisa sembuh, tapi perlu waktu.
Selama itu pula aku dilanda perasaan bersalah luar biasa. Aku menjadi tidak percaya diri, termenung, tidak nafsu makan, dan terkadang menangis tiba-tiba.
Keluarga Wonho sendiri menganggap bahwa ini adalah takdir dan aku tak boleh menyesalinya. Kihyun yang bahkan sampai menginap dirumahku, juga tidak mampu menghilangkan rasa sedihku itu.
Anggap saja aku gila. Aku memilih menghabiskan malam dengan pergi ke bar. Untuk minum. Padahal aku tahu Kihyun menungguku.
Seteguk black russian tidak cukup membuatku mabuk. Ku tambah lagi gelas demi gelas sampai seseorang menginterupsi ku.
"Kau terlihat buruk Hyunwoo..." Ku tolehkan kepalaku pada orang yang duduk disamping kananku ini. Aku langsung beralih pandangan, tak menarik minat.
"Apa ini karena Wonho?" Orang itu bicara lagi.
"Tutup mulutmu Lee Minhyuk..." Ia malah tersenyum akan ucapan sarkasku. Menegak mojito dengan begitu sensual dan kemudian memeluk lenganku.
"Kau kasar, aku suka..."
Ku tarik lenganku dan memilih untuk pergi. Minhyuk seketika berdiri dan menghadang langkahku. Kemeja coklat dengan dua kancing atas terbuka yang ia kenakan, membuat aku muak.
Menyesal dulu pernah mengaguminya jika ia tak punya moral seperti ini.
"Aku mengatakan pada Wonho jika aku menyukaimu dan kita berpacaran..."
"Aku tahu..." Minhyuk memiringkan kepalanya heran. Semakin tak punya otak kala jari-jarinya bermain di bahuku dan melingkarkan tangannya begitu saja, mendekatkan wajahnya sehingga hidung kami bersentuhan.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku menjadi kekasihmu?" Bisiknya. Aku menyeringai, kesabaranku telah habis. Darah dingin dalam diriku berderu mengalir.
"Menyingkir dari hadapanku jika kau tak ingin mati..."
"Aku menantikannya..." Tak buang waktu, aku menjambak rambutnya yang membuat ia berteriak kesakitan. Ku tarik menuju satu kamar yang tersedia disana.
Ku perhatikan semua isi kamar, lampu remang-remang, sebuah sofa panjang, meja kecil dan ranjang yang biasa digunakan untuk bercinta.
Ku lempar ia ke lantai. Mengunci kamar dengan benar dan membuka laci meja. Borgol, tali, pita dan alat seks lainnya.
"Kau mau mencobanya?" Tanya Minhyuk yang berdiri dan mendekatiku.
"Tentu, karena seorang jalang harus diperlakukan sebagaimana mestinya..." Ku dorong ia ke ranjang dan menyiksanya, melampiaskan kekesalanku.
Dengan keadaan yang buruk, penuh cambukan sana sini, bitemark disekujur tubuhnya dan keadaan lubang yang kuhabisi, membuat ia justru ketagihan.
Minhyuk adalah submissive, pasangan yang tepat untuk seorang dominant sepertiku.
Semenjak malam itu, aku terus berhubungan dengannya. Kala aku sedang kesal menginginkan malam panas ataupun dia yang merindukan sentuhan. Semua begitu mudah dimana Kihyun sibuk dengan kuliahnya, membuat ia tak menaruh curiga.
Ya, memang selama aku berpacaran dengan Kihyun, kami tak pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman. Aku merasa ia tak begitu paham urusan dewasa semacam itu.
Bisakah aku menyalahkan Kihyun atas semua yang terjadi?
Sampai aku tersadar saat ia melihatku bercinta malam itu. Aku telah menyakitinya begitu parah. Mendengar erangan sedikit saja, ia langsung berkeringat dingin. Sekedar berjabat tangan denganku pun ia menolak.
Dan yang paling parah adalah pintu berkode itu. Ia tak mau lagi tidur di kasur. Katanya, mengingatkannya pada perbuatan hinaku. Pernikahan yang seharusnya digelar di ulang tahunnya yang ke 24 terpaksa mundur entah sampai kapan.
Aku berada diantara Kihyun dan Minhyuk. Dua orang yang memberikan kebahagiaan padaku. Namun, tangan mana yang ingin ku genggam, aku akan mantap menjawab Yoo Kihyun.
Sebab ia adalah emasku.
.
.
.
.
.
To be Continued
