Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part VI : Like
Aku menyukai Hyunwoo. Sangat menyukai Hyunwoo. Ia sebenarnya bukan mahasiswa populer. Mungkin bagi sebagian orang akan terasa asing. Namun, mataku tak dapat lepas darinya sejak masa orientasiku dulu.
Sosok yang pendiam. Tidak terlalu berbaur juga. Temannya bisa dihitung. Tipe mahasiswa yang kuliah tepat waktu dan pulang cepat.
Seleraku biasa seperti itu?
Haha tidak mungkin. Aku percaya diri dalam menilai orang. Hyunwoo adalah orang yang tepat bagiku. Dibalik kediamannya, ia masuk tiga besar IPK tertinggi dan orang yang sering diajak para dosen mengerjakan riset penelitian.
Memiliki banyak penghargaan dan artikel, sehingga dipastikan ia lulus lebih cepat dari kami semua. Tak hanya itu, ia berhasil magang di kementrian keuangan.
Hebat bukan?
Itulah Hyunwoo ku. Ia sosok yang visioner. Merencanakan dengan baik masa depannya dan aku menginginkan ia untuk masa depanku.
Begitu sulit mendekatinya sampai kejadian di bar malam itu tiba. Menambah lagi kekagumanku padanya. Ia sosok dominan yang tak hanya cerdas dalam otak, tapi juga pintar di ranjang.
Ia begitu jantan meski aku ingin menangis rasanya kala itu. Aku tahu aku hanya di manfaatkannya. Tapi, ada disatu titik ia memperlakukanku begitu baik.
Aku merasa, ia jatuh hati seiring berjalannya waktu.
Terbukti dari ia memasukanku sebagai staf analisis keuangan perusahaan milik temannya, yang membuat aku harus menetap di Jepang. Meski begitu, Ia menelpon ku setiap malam. Setiap tiga bulan sekali, Hyunwoo akan datang melihatku.
Hingga kabar pertunangan Son Hyunwoo dan Yoo Kihyun sampai di telingaku. Aku marah, baru menyadari mengapa ia mengirimku ke Jepang. Alasannya karena anak kecil itu.
Aku langsung mengundurkan diri dan kembali ke Korea. Keberuntungan memihak ku kala Kihyun harus ke luar negeri, membuat Hyunwoo menginap dirumahku.
Tentu saja aku penasaran.
Bagaimana bisa Hyunwoo memilih orang lain dibanding aku? Saat ia tengah mandi, aku memeriksa mulai dari dompet, tas hingga saku jas.
Dan ku dapati sebuah kartu. Kartu itu bergambar apartemen elit di daerah Hannam-dong. Ku coba mencari informasi mengenai letak persis apartemen itu dari teman kuliahku dulu.
Nomor 203
Semudah itu hahaha. Tanpa sepengetahuan Hyunwoo, aku menuju apartemen itu dan merombak segala yang ada didalamnya menjadi rumah impianku dan menjadi mimpi buruk bagi Kihyun.
Jam istirahatku tiba. Aku bersama Hyunwoo berjalan menuju cafe dekat sini untuk makan bersama.
Well, aku mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sepertinya saat perekrutan besar-besaran terjadi di kantornya. Itu sebabnya kami satu kantor. Takdir seolah mengatakan kami akan selalu bersama bagaimanapun terpisahnya.
Aku yang tengah menyantap makananku melihat ia sibuk dengan ponselnya.
"Makan dulu, waktu istirahat kita tak banyak..." Ujarku padanya.
"Aku harus membalas pesan Kihyun..."
Kihyun, Kihyun , Kihyun. Auh, tiada hari tanpa menyebut namanya. Berdengus sebal, aku merampas handphone miliknya dan meletakkannya di bangku sebelahku.
"Ia bisa mengurus dirinya Hyunwoo. Tak usah berlebihan..."
Hyunwoo memijit pelipisnya dan beralih memakan hidangan di hadapannya. Aku merasakan hawa hitam darinya. Aku tak tahan.
"Begitu istimewakah Yoo Kihyun itu?" Hyunwoo mengangkat kepalanya. Tertegun. Aku terus saja melakukan aktivitasku seolah tak peduli.
"Dia emas bagiku..."
"Emas? Mana ada orang yang menyia-nyiakan emas..." Ia terdiam memandangku. Meminum airnya dan menyudahi makannya. Pergi meninggalkanku sendiri.
Aku menepuk dadaku. Menahan air mataku agar tak jatuh dengan menarik nafas panjang. Sakit sekali rasanya. Ia dihadapanku dengan fikiran pada yang lain. Jika aku adalah Kihyun, apakah ia bertindak sama? apakah ia memikirkan ku?
Bertindak seolah percakapan itu tak terjadi, aku melakukan pekerjaanku seperti biasa. Begitu juga Hyunwoo, mengantarku pulang dan kembali ke rumahnya.
Satu hal masih menyisakan pertanyaan dalam benak ku.
Mengapa Kihyun adalah emas? Apa yang menarik dari dia? Sayangnya aku tak begitu mengingat jelas dirinya. Yang bisa ku tangkap, ia lebih pendek dariku, badannya terbilang kecil dan kulitnya lebih putih dariku.
Memilih tak tidur untuk menyelidiki Kihyun. Menguntit dari media sosial miliknya, mengecek satu persatu akun teman-temannya dan berakhir putus asa dengan menghubungi nomor pribadi Kihyun.
Memintanya untuk bertemu.
Di hari sabtu pagi, di sebuah cafe sederhana pinggir kota. Tempat aku dan Kihyun bertemu pertama kali secara benar. Hanya berdua, empat mata saling berhadapan.
Apakah dulu tak benar? Melihatku bertelanjang dengan bekas ciuman kemerahan dari tunangannya, tentu tidak bisa di kategorikan benar.
Itu dia. Ia datang.
Hanya melihat dari penampilannya saja aku sudah tahu. Perfeksionis. Kardigan biru tua yang dikenakannya memang membuat ia terlihat kasual. Tapi tidak dengan bagaimana rapinya penampilan itu.
Jadi ini tipe seorang Son Hyunwoo?
"Lee Minhyuk-ssi?"
"Iya, itu aku. Duduklah..." Memandangnya sekali lagi. Membiarkan ia memesan terlebih dulu sebelum kami saling berbincang.
"Kau terlihat biasa saja dari kelihatannya..."
Ia memiringkan kepalanya.
"Maksudmu?" Aku memainkan jariku di pinggiran cangkir latte milikku sebelum akhirnya membawanya untuk ku nikmati.
"Berkedok relawan tetapi dibelakang adalah pendiri Amarant, Apa Hyunwoo tahu soal ini? Kurasa ia akan marah mendengarnya..."
Putus asa ku semalam bukan berarti tak berbuah apa-apa. Aku hanya terkejut, anak kecil ini tidak bisa diremehkan.
Amarant, perusahaan perencana pesta yang tengah populer, Kihyunlah yang punya. Ia membangun usaha tersebut sedari kuliah bersama teman-temannya.
Terpaksa aku mengakui, ia sukses. Di usia muda.
"Tak ku sangka kau akan menyelidikiku..." Ia menyipitkan pandangannya menahan tawa. Melipat kakiku. Membawaku lebih mudah untuk bertopang dagu,
"Aku hanya ingin tahu, mengapa kau disebut emas..."
"Emas? Hmm mungkin karena aku terlalu mahal untuk sekedar disentuh..."
Dia berani sekali. Tersirat yang sarkastik. Aku tahu ia menghinaku. Memundurkan tubuhku bersandar pada kursi.
"Kau sudah baca buku yang ku tinggalkan di kamarmu?"
"Tentang mitologi itu? Haruskah aku baca?"
"Aku menyarankan kau membacanya sebagai pengurangan rasa sakit hati. Selama apapun Leto dan Zeus, pada akhirnya Hera yang memiliki Zeus seutuhnya..." Kihyun hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan ku.
"Kita lihat saja nanti..."
.
.
.
To be Continued
