Son Hyunwoo x Yoo Kihyun
Yaoi x Drama x Hurt
Rate M
.
.
.
Leto
By shephia 🐳
.
.
.
Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan
'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'
Part VII : Leto
Salju telah memenuhi kota. Aneka bau roti dan pernak pernik perayaan, memenuhi sepanjang toko. Natal hadir kembali. Tanpa terasa setelah waktu berlalu, bersiap mengakhiri tahun ini dengan cinta kasih lagi.
"Selamat natal sayang..." Hyunwoo merengkuh pinggang Kihyun yang tengah asik menatap dari jendela apartemen.
Pemandangan di luar memang begitu indah. Malam terlihat lebih terang karena gereja dan pohon natal yang memancarkan cahaya kekuningan.
"Selamat natal juga Hyung. Mau coklat hangat?" Kihyun menyodorkan minuman miliknya kepada pria yang lebih besar itu.
"Kau saja. Aku sudah cukup hangat melihat tawamu..." Rayuan itu ternyata cukup mampu membuat Kihyun malu. Pipinya merona seketika dengan mata yang sibuk memandang lain.
Hyunwoo mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak belundru yang bisa dipastikan isinya.
"Kihyun-ah, ayo kita menikah..." Membuka kotak tersebut dan menampilkan cincin putih sederhana nan mewah. Mengambilnya dan menaruhnya di jemari manis Kihyun.
Kihyun hanya terdiam. Memandangi cincin itu dengan tatapan berarti. Menimbang-nimbang sampai akhirnya ia memilih untuk melepasnya dan meletakan kembali pada kotaknya.
"Maaf aku tak bisa..."
"Mau sampai kapan? Ini sudah terlalu lama kau mengulur waktu..." Kihyun berjalan menjauh menuju dapur. Di ikuti Hyunwoo yang kemudian menarik lengan Kihyun.
"Jangan coba mengelak lagi. Berikan aku kepastian..."
"Kau tahu Hyung, rasa minatku untuk menikah telah hilang sejak penghianatan mu kala itu. Ku fikir, waktu akan menyembuhkan lukaku. Sayangnya, upaya ku tidak berbanding lurus dengan dirimu yang semakin dekat dengannya..."
"Aku telah menyudahi hubunganku dengan Minhyuk. Bisakah kau berhenti meragukan ku? Aku memilihmu Kihyun-ah, aku menginginkan dirimu bersanding denganku..."
"Hubunganmu memang telah usai, tapi cintamu baru saja di mulai. Kau sekarang berada di rasa nyaman dengan dua orang yang sangat mencintaimu. Kau menikmatinya dan begitu egois untuk memiliki keduanya..."
Hyunwoo terdiam. Menatap wajah Kihyun yang merah padam. Kata-kata yang dilontarkan memang tidak menggebu, tapi Hyunwoo tahu, Kihyun menahan emosinya.
Membawa Kihyun dalam peluknya. Hyunwoo mencoba meredakan amarah itu. Menepuk punggung Kihyun pelan. Meletakan kepalanya pada ceruk leher yang membawa efek adiktif.
Adiktif yang berbeda dengan Minhyuk yang begitu sensual.
.
Kihyun POV
.
Aku tak tahu semua berjalan begitu cepat. Pernikahanku dengan Hyunwoo sudah didepan mata. Aku sendiri tak percaya berada pada titik ini. Keraguanku tentu muncul karena ini terlalu terburu.
Hal yang tergesa tidak bagus pada hasil.
Aku percaya itu. Namun, aku kembali berfikir bahwa ini hanya ketakutan ku saja. Kami menuju jalan yang baik, kekhawatiran ku hanya godaan saja.
Ditambah Hyunwoo yang benar berubah semenjak persiapan ini. Ia sama sekali tidak menghubungi Minhyuk. Melepaskan telepon genggam selama di rumah dan menghabiskannya dengan berbincang denganku.
Seperti saat dulu dimana tak ada Minhyuk di antara kami.
Pernikahan yang diadakan dua minggu lagi itu, memacuku harus mengerjakan pekerjaanku segera. Menangani beberapa event sampai akhirnya aku menyerahkan tugas tersebut pada orang kepercayaanku selama beberapa waktu.
Begitu pula dengan Hyunwoo. Cuti dari instansi negara tidaklah mudah. Lembur yang begitu memakan waktu tidurnya dilakukan hanya demi hari sakral kami.
Kami berjuang dari awal dan sampai pada titik ini, aku harap Tuhan melindungi kami.
Secara mengejutkan ibuku memanggilku disaat aku tengah berada di Hongkong. Tidak seperti biasanya. Aku menyingkir dari keramaian pesta untuk menjawab panggilan ibu.
"Hallo ibu..."
"apa kau sibuk?"
"Apa ibu memerlukan sesuatu?"
"ibu minta kau ke rumah sekarang..."
Ada apa ini? Perasaanku mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi. Mata bawahku telah berkedut, menandakan bahwa aku akan menangis karena ini. Tapi apa?
Ku selesaikan acara ini yang berlangsung kurang lebih dua jam lamanya. Segera mengemasi barangku di hotel dan menuju bandara.
Jika sesuai dengan perkiraan ku, aku akan tiba di rumah pukul 18.00. Tanganku berkeringat karena panik. Sesekali aku bahkan menggigit kuku. Dikejar waktu bukanlah gayaku. Tapi jika berkaitan dengan ibuku, apapun akan ku tempuh.
Pada kenyataannya, aku sampai satu jam lebih lama. Kemacetan penyebabnya. Hari yang telah menggelap ditambah mobil sedan terparkir di depan rumah. Milik siapa?
"Aku pulang..."
Eoh? Ada Hyunwoo disini. Juga Minhyuk. Undangan pernikahanku yang siap disebar ada dihadapan mereka.
"Duduklah Kihyun. Ada yang ingin mereka bicarakan padamu..."
Aku menarik nafas panjang. Tidak pernah terlintas dalam fikirku jika Minhyuk akan hadir lagi. Ku dudukan diriku disalah satu kursi kosong dekat dengan Minhyuk.
Ibuku tersenyum kecil kemudian pergi ke kamarnya, membiarkan percakapan ini hanya kami bertiga.
"Ada apa Hyung?" Hyunwoo bangkit dari kursinya dan bersimpuh dihadapanku.
"Maafkan aku Kihyun. Kita, tidak bisa meneruskan ini..."
Selayaknya kaca yang di hantam batu besar, hatiku seketika hancur mendengarnya. Bibirku getir hanya untuk sekedar berucap. Pelupuk mataku menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis.
"Aku harus menikahi Minhyuk secepatnya. Sekarang, ia tengah mengandung anakku. Aku harus bertanggung jawab..." Aku melihat ke arah Minhyuk. Ia hanya menunduk sedari tadi.
"Sudah berapa bulan Minhyuk?" Kataku lembut. Minhyuk mengusap air matanya tanpa berani menatapku.
"Aku mengetahui kehamilanku sehari setelah pertemuan kita kala itu..."
Ah, begitu. Aku mengangguk mencoba mengerti. Sekali lagi aku menarik nafas panjang. Hyunwoo yang dihadapanku meraih tanganku.
"Maafkan aku menyakitimu terlalu parah. Mulai sekarang, aku akan melepasmu. Aku percaya, tanpaku kau akan hidup dengan baik. Bahkan jauh lebih baik dengan orang yang amat baik. Aku minta maaf Kihyun..."
Aku bisa apa jika seperti ini selain menerimanya. Kedatangan mereka menyampaikan keputusan, bukanlah pertanyaan. Aku tidak suka ataupun menolak, pernikahanku dipastikan batal.
"Seharusnya kau tak usah berjanji jika tak bisa kau tepati Hyung..."
Aku menepuk bahu itu yang biasa menjadi sandaran ku. Berubah menjadi memukulnya sekuat tenagaku. Air mataku mengalir bebas tanpa isak. Sakit hatiku sudah benar-benar di ujung asa.
Benar-benar sakit sampai aku tak tahu lagi rasa sakit itu seperti apa.
Malam itu, dihabiskan dengan penjelasan lebar Hyunwoo yang ku anggap hanya angin lalu. Tuli. Angan ku pupus. Sampai akhirnya aku menyuruh mereka pulang akibat waktu yang telah larut.
Maksudku kala mereka pergi, segera ku bereskan undangan yang berserakan itu untuk segera ku bakar. Ibuku berdiri dihadapanku dengan pandangan sulit diartikan.
Plak!
"Jadi begitu seleramu?" tamparan ibuku menghentikan langkahku.
"Ibu aku..."
"Begitu banyak waktu yang kau habiskan dengan dia, tapi apa kalian berakhir bahagia?..."
"Kami bukan takdir ibu..."
"Bukan takdir itu sudah terlihat sejak awal. Masuk universitas terbaik, jadi pengusaha sukses, perihal urusan cinta kau masih bodoh?! Ibu kecewa denganmu..."
Ibu berlalu meninggalkanku yang hanya terdiam sedari tadi. Pembelaan apapun tak akan mengubah hasil. Aku tetap yang bodoh disini.
"Oya, ayahmu akan pulang. Ibu tak bisa menyelamatkanmu dari pukulan ayahmu, jadi bersiaplah..."
Aku mengangguk kecil dan mengambil undangan yang sempat tertunda ku kemas. Membawanya menuju ke kamarku dan membuangnya di tong sampah.
Menghempaskan tubuhku ke kasur dan merengkuh bantal. Air mata terus saja mengalir tanpa henti dengan tatapan kosong. Berdebat dalam hati dengan ribuan pertanyaan benar atau salah.
Hubungan yang ku bina susah payah dengan penuh sabar, tetap bisa berakhir juga? Katanya kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Katakan padaku ini hanya mimpi buruk.
Terlalu sering bermimpi buruk mungkin bisa membuat hal seperti ini. Ya, pasti begitu. Ini belum berakhir kan?
Tolong kenyataan, jangan membuatku sedih.
Tolong aku.
Ku mohon.
Sebab aku juga dalam keadaan sepertinya.
.
.
.
The End
