Son Hyunwoo x Yoo Kihyun

Yaoi x Drama x Hurt

Rate M

.

.

.

Leto

By shephia 🐳
.

.

.

Hanya cerita klasik cinta antara Kihyun dan Hyunwoo yang tidak perlu dipertahankan namun entah mengapa perpisahan sulit diucapkan

'terinspirasi dari salah satu music video penyanyi filipina'


Special Chapter : Reina


Tidak seperti Hera yang lebih dikenal kisahnya, Leto cenderung asing terdengar. Sama-sama seorang Dewi, hanya saja karakter Hera memang lebih mendominasi. Tentu saja, sifat pencemburu luar biasa itu.

Pada dasarnya, pasangan Zeus tidak hanya Hera. Ia memiliki Leto disisinya. Jauh sebelum Hera bertemu Zeus bahkan menikahinya. Leto dan Zeus adalah teman kecil. Tumbuh bersama hingga dewasa.

Kemudian saling menyukai dan jatuh cinta. Sayangnya, Zeus adalah dewa dengan rasa seksual yang besar. Ia pun terlena dengan kecantikan ratu surga.

Menyamar memasuki kamar Hera dan menidurinya. Sebagai ratu dari segala ratu, kehormatan adalah harga diri. Terpaksa Zeus menikahinya dimana pada dasarnya ia telah bersama Leto lebih dulu.

Namun, apakah cinta mereka putus sampai disana?

Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan dalam cinta. Semakin lama, cinta semakin bertumbuh. Semakin terpisah cinta semakin bersemi.

Cinta itu tak memudar. Obsesi memiliki itulah yang menghilang.

Dengan Leto, Zeus memiliki anak kembar yang keduanya adalah olympian. Bahkan di akhir hayat, Leto di angkat Zeus ke langit dan menjadi bintang paling bersinar bernama Orion. Sedangkan Hera? Ia justru dibuang ke neraka.

Jadi, cinta mana yang harusnya diagungkan?

Saat itu malam natal. Aku belum ada saat itu. Namun akan ada. Bersama para malaikat, aku sibuk berkunjung ke rumah dan gereja. Masih bermain dengan cahaya lilin dan menari akan lantunan doa yang mereka nyanyikan.

Ayah dan ibuku beradu mulut. Aku tak habis fikir, dimalam baik seperti ini mereka berkelahi.

Namun semua tak berlangsung lama saat ayahku memeluk ibuku. Api itu memadam. Aku sangat senang saat mereka berdamai.

Pancaran warna merah jambu memenuhi keduanya. Dengan lampu yang dibuat temaram, sebuah kasur mahal dan rembulan yang bersinar terang, orang tuaku saling bercumbu.

Manis sekali.

Disaat itu juga aku jatuh cinta pada ayahku. Ayahku terlihat sangat gagah dan tampan bak pangeran. Memperlakukan ibuku dengan lembut. Menyentuhnya pelan dan memberikan kenyamanan.

Menggenggam tangan ibu, ku sempat melihat ibu menangis. Ia kesakitan atas perlakuan ayah.

Namun semua tak berlangsung lama. Ayah mengusap peluh ibu dengan hangat dan saling menatap. Berbagi kasih dan kehangatan. Kemudian bergerak dan menautkan bibir mereka kembali.

Begitu lirih, aku bisa mendengar ucapan ayah pada ibu, "Aku berjanji akan membahagiakanmu..."

Tuhan mengatakan padaku bahwa aku akan pergi kesana. Hadiah terindah untuk mereka. Sebagai ikatan kasih bagi mereka yang saling mencintai.

Aku ditiupkan tak lama setelah itu. Ini tak sama dengan bagaimana aku dulu. Tempat ini tak luas, aku merasa terkurung. Namun, ini adalah tempat terhangat yang ku pernah temui.

Selama aku disini, aku menikmati bagaimana degup jantung teratur ibuku. Aku semakin suka kala ibu berbincang dengan ayah. Ada euforia lain yang menciptakan sensasi menyenangkan.

Di suatu waktu, ibuku mengetahui keberadaan ku. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengusapku dengan lembut. Tak ada yang mampu mendeskripsikan hal itu.

Perasaan bahagia luar biasa. Aku ingin menari dibuatnya. Disetiap hendak tidur, ibu selalu menyempatkan membacakan suatu cerita dan salah satu ayat dalam alkitab.

Oh, satu hal lagi. Ibuku suka sekali bernyanyi. Suaranya begitu menenangkan. Sangat merdu walaupun hanya sekedar bersenandung.

Semuanya begitu menyenangkan sampai satu bulan aku disini. Entah apa yang terjadi sebelumnya. Aku mendengar percakapan ayah pada ibu.

Desiran darah ibu mengalir begitu cepat membuatku tak nyaman. Dadanya berdetak lebih cepat, memaksa memompa oksigen segera. Disaat itu juga, untuk pertama kalinya aku mendengar ibu menangis.

Pilu.

Belum ditambah pukulan yang diterima ibuku, sangat menyiksaku. Aku ingin menyerah saat itu. Aku tak sanggup menjalaninya. Sampai ibuku berkata,

"Jadilah kuat nak. Kita bisa lewati ini..."

Hati mana yang tidak meleleh mendengarnya. Aku bertekad, sesakit apapun aku, tidak lebih sakit dari ibu. Aku mengutuk ayahku yang sungguh kejam terhadap kami. Aku tak boleh pergi. Aku harus menunjukan bahwa aku berbeda dari ayah.

Semenjak itu, aku mendengar bahasa yang tak pernah ku dengar. Aku rasa ibu memutuskan untuk pergi jauh. Terbebas dari kenangan ayah, walau ada rasa kesepian terkadang.

Aku mencoba menjadi anak yang patuh. Tidak mengganggu ibu yang bekerja. Entah apa pekerjaan ibuku, tapi ku akui itu cukup bising. Aku tumbuh dengan baik karena asupan ibuku yang sehat.

Setiap bulan fotoku tercetak. Dokter dan ibuku selalu mengatakan aku semakin cantik dari hari ke hari. Membuat aku tersipu malu hihihi.

Pertama kali aku merasakan usapan tangan selain ibuku. Suaranya berat tapi nada bicaranya lucu. Aku tak tahu ia siapa tapi ibu memanggilnya 'kkukung'.

Sepertinya ia lebih muda dari ibu. Ia memperlakukan ibuku amat baik. Seperti, "Hyung, apa kau lapar?" "Hyung, kau sudah meminum susumu?" "Hyung, apa kau lelah?"

Setiap hari, ia selalu mengajakku bicara dengan bahasa aneh. Ibuku selalu tertawa jika hal itu terjadi. Aku tidak sabar melihat wajah orang tersebut. Yang mampu membuat gelak tawa yang sempat menghilang dari ibuku.

Jujur saja itu sedikit melegakan ku. Ada bantuan lain diantara kami. Tak peduli seberapa mandiri seseorang, ia tetap perlu teman. Apalagi di kondisi seperti ini.

Dan hari itupun tiba. 18 September, ibu berjuang keras mengeluarkanku dari tempat ini. Aku mendengar suara suster dan dokter membantu ibuku.

Hampir putus asa dengan tenaga terkuras habis. Seketika itu juga sekelebat bayangan bersama ayahku terlintas oleh ibuku. Sekali lagi, ia menangis.

Hatiku rapuh.

Aku berdoa pada Tuhan untuk memudahkan ibuku. Biarkan aku keluar saat ini juga. Memeluk ibuku. Menghapus lukanya. Menjadi sebuah pelita serta kebanggaannya.

Pukul 10 pagi, tepatnya aku kembali menikmati apa yang sempat ku nikmati dulu. Dalam wujud berbeda. Menghirup satu nafas dengan ibuku di sini. Permata yang akan menemani sang emas.

Selamat terlahir di dunia diriku,

Reina Yoo

.

.

The End

ps : terima kasih telah menyempatkan membaca dan mendukung cerita ini. Jujur saja, ini adalah cerita yang sulit bagi saya. Cerita ini begitu sentimental khususnya di chapter ini yang membuat saya tidak berhenti menangis saat menulisnya.

Saya harap, perasaan itu juga dirasakan kalian kala membacanya. Sampai bertemu di cerita selanjutnya...