Out of Love

MarkHyuck lokal!au

Indie music producer!Mark, Graphic Artist!Haechan

.

.

Hujan masih bersemangat mengguyur bumi, seolah ingin mematahkan semangat siapapun yang tengah hendak menerjangnya untuk kembali ke pelukan orang tercinta.

namun tidak untuk Haenan. Pria manis itu memang sudah patah akan semangatnya dalam menunggu sosok terkasih.

Ini harusnya menjadi sebuah pengganti peringatan hari jadi mereka, menjadi hari spesial karena kemarin digagalkan akan sosok pacarnya yang lupa dan memilih untuk pergi ke arena balapan mobil. Menelponnya semalam dan berkata bahwa ia menang kemarin. Meninggalkan sebuah ucapan selamat dengan nada malas yang meluncur dari kedua belah bibir Haenan sebelum sambungan telepon dimatikan.

Awalnya kemarin Haenan berencana untuk mengajak kekasihnya ke rumah. Menyajikan makanan yang sudah ia masak namun kini sudah mendingin dan tak tersentuh sama sekali. Mengajaknya memakan roti bagel yang harus berakhir di lemari pendingin.

'Tak apa.' Batin Haenan. Sudah terlampau biasa kekasihnya itu lupa akan hal-hal seperti ini. Lalu ia akan kembali mencoret dinding di kamar kesukaannya untuk kembali berlatih.

Hingga pria itu memberinya pesan, mengajaknya bertemu di studio musik tempat dimana keduanya bertemu dulu saat Haenan diajak oleh sepupunya, Dio, dan kebetulan juga bertemu dengan penggarap musik band mereka, Mark.

Akan tetapi, bahkan sampai Johnny, pacar Dio sekaligus pemilik studio berkata ada urusan dan harus pergi meninggalkan Haenan sendiri, Mark belum sampai jua.

Sejujurnya, Haenan sudah melakukan banyak hal di sana sembari membunuh bosan yang merambatinya. Memainkan satu atau dua alat musik dan bermain game sampai baterai ponselnya tinggal seperlima dari kondisi penuh. Lalu pesan dari Johnny seolah menamparnya. Sebuah gambar dengan satu kalimat tanya bak tengah mengoloknya dengan keras. "Apa kau tak mah bertanya pada Mark mengenai janji kalian sore ini? Ku rasa ia lupa."

dan Haenan hanya meringis kecil. Menggigit bibirnya tanpa ingin membalas apapun. Meninggalkan pesan Johnny dengan tanda centang biru dua.

Menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan tanpa air mata yang ada. Hanya helaan napas seolah semuanya benar-benar sudah cukup terbiasa untuk hal-hal semacam itu. Membiarkan kantuk menenggelamkannya dalam sebuah kelam tanpa mimpi yang menghantui.

Haenan mulai terbangun saat gendang telinganya bergetar kecil mendengar petikan gitar yang ada. Mengerjapkan kelopaknya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya temaram studio. Mendapati sosok lain yang duduk di depannya sembari memangku sebuah gitar namun matanya membulat dan mengerjap kecil sesekali.

"Kau sudah bangun."

Haenan mengangguk. Merasa tak perlu menjawab keras pernyataan basa basi tersebut. Berjingkat, bangun dari kursinya dan menuju kamar mandi. Membasuh mukanya setelahnya memesan taksi secara online di sana.

Pria manis itu kembali. Menatap sosok di depannya yang seolah santai tanpa beban apapun. Membuat Haenan berdecih kecil.

"Aku akan berkata sesuatu, tapi tolong jangan sela terlebih dahulu."

Mendapati lawan bicaranya mengangguk, Haenan melanjutkan kalimatnya. "Ini bagel yang ku buat, sepertinya sudah dingin karena ini sudah empat jam atau lima jam? Entahlah, pokoknya terakhir aku menghangatkannya ada sebelum aku berangkat ke sini. Dan jika kah bertanya kapan aku membuatnya? Seperti sudah dua puluh empat jam berlalu dari waktu tersebut. Ya, kemarin, saat kau tiba-tiba tak bisa memenuhi janji untuk datang karena balapan kesayanganmu."

Mata Mark melemah. Haenan tahu jika pria di depannya mulai merasa bersalah, namun ketika belah bibir itu akan bicara, jari Haenan menutupinya. "Biarkan aku menyelesaikan semuanya."

Tangan itu lalu beranjak, mencoba melepas sebuah cincin di jari tengah tangan kanannya. Meletakkannya di sebelah bagel tadi.

"Kemarin adalah hari jadi tahunan kita pertama. Aku tahu kau pasti tak ingat, lagipula itu tak penting. Terima kasih sudah memberikan satu tahun lebih satu hari yang berkesan untukku."

Kalimat itu dihadiahi sebuah tanya dengan kerutan dahi sebagai pertanda, namun Haenan tak membalas. Ia lalu membuka ponsel dan aplikasi pesannya, meneruskan foto dari Johnny dan mengirimkannya pada kontak nomor yang sudah ia ganti dari tanda hati menjadi sebuah tanda kurung dengan tambahan kata "teman dio" di sana.

"Kau bisa mengecek ponselmu sekarang."

Mark menurutinya. Mengecek ponselnya dan membuka pesan dari sosok di depannya. Meletakkan gitar yang tadinya bertengger manis di pangkuannya sebelum akhirnya berdiri menyejajarkan pada tinggi milik Haenan.

"Apa aku boleh bicara sekarang?"

"Ya."

"Apa kita putus sekarang?"

Haenan terdiam, ia memang sudah memikirkan hal ini dengan matang, namun entah kenapa keraguan menyerebak dalam relungnya. "Yㅡya."

"Kalau begitu biar aku jelaskanㅡ"

"Apa jika kau jelaskan, semuanya akan berubah? Tidak. Kau tetap melewatkan tahun jadi kita. Kau tetap melewatkan kencan-kencan kita. Bagimu aku takkan berada lebih dari posisi balapan mobilmu ataupun Kak Tio. Kau datang padanya disaat kau berkata kau akan datang padaku sore ini. Kau membuatku menunggu lama hanya untuk memeluk mantan kekasihmu itu. Apa aku marah? Jujur saja tidak. Tapi apa aku kecewa?"

Haenan menatap kedua mata Mark lurus. Selama ini ia tahu bahwa ia takkan bisa melewati kesempurnaan mantan kekasih milik Mark itu. Seolah seluruh dunia sudah berada di pundaknya tanpa menyisakan sedikitpun untuk Haenan.

"Ya, Mark." Menggeleng, namun wajah Haenan masih begitu datar karenanya, tak pernah ia ingin menangis di depan pria yang pernah berjanji takkan merontokkan kepingan hatinya, namun malah meremukkannya begitu saja.

"Kalau pun kau menjelaskannya, aku rasa kita takkan pernah kembali seperti dulu. Pun kalau kau tak menjelaskannya, kita tetap bisa berteman seperti dulu saat kita pertama saling mengenal. Jadi, terimakasih banyak."

" ㅡdan, ah, ya! Aku harus segera turun karena taksiku sudah menunggu. Sampai nanti."

Lalu saat kakinya melangkah, Haenan tak menyesal akan apa yang ia katakan. Hanya saja ia tahu bahwa ia sudah tidak bisa berbalik dan memohon pada waktu agar kembali seperti sedia kala.