Semprot. Semprot. Lalu kembali Haenan semprotkan sampai akhirnya lubang-lubang kecil pada spray botol yang mengeluarkan zat warna dengan bau pekat itu mulai berbatuk kecil tak mengeluarkan apapun dari dalamnya sekalipun tangan mungil itu sudah menekannya begitu kuat.

Mengerang. Haenan pun membanting botol dengan luaran aluminium tersebut sebelum akhirnya melepaskan masker anti gas warna hitam kesayangan. Menendang botol yang sudah menggelinding tak berdaya tersebut sebelum akhirnya mendengus. Melangkah keluar dimana akhirnya pria manis tersebut mendapat setitik terang namun bukan dari cahaya yang disebabkan oleh vibrasi elektrik, tetapi dari sang mentari itu sendiri.

Haenan mendengus kembali. Memutar bola matanya malas. Merogoh saku celananya dan menemukan selembaran uang berwarna merah yang sudah tak berbentuk begitu jelas. Mengendikkan bahu, berpikir bahwa takkan masalah ia hanya akan keluar menggunakan selembar kertas tersebut karena nyatanya itu cukup untuk membeli tiga kaleng pilox untuk ia bawa pulang segera dan kembali menyalurkan apa yang ia rasakan.

Ketika keluar dari pintu kamar sewanya, dahi Haenan mengerut, mendapati Dio yang memang berbeda kamar dengannya itu juga tengah mengarah ke arah tangga tempatnya akan turun sekarang. Mengangkat satu tangannya sebagai tanda salam tanpa peduli yang satunya masih ia simpan dalam saku celana.

"Kemana?"

"Pilox."

Singkat, namun Haenan yakin bahwa Dio sudah paham jelas.

"Kakak sendiri mau kemana?"

Matanya menelisik, mendapati bahwa Dio membawa beberapa kardus bekas di tangannya.

"Ketempat Tio, dia mau pindahan. Ada begitu banyak masalah padanya akhir-akhir ini. Apalagi ayahnya mulai kembali mencarinya. Ku rasa ia akan mulai hidup nomaden kembali."

Haenan kembali memutat bola matanya malas. Tangannya juga turut serta kembali masuk dalam saku celananya, memainkan uang seratus ribu rupiah yang menggumpal di sana, sedangkan yang satu lain bermain dengan kunci motornya yang ia kembali lupa untuk memasang gantungan apapun sebagai pemanisnya.

"Ku dengar kau putus dengan Mark?"

Nada akhir pertanyaan Dio lirih, membuat Haenan benar-benar mendecih karenanya, tahu kemana arah pembicaraan itu akan berakhir.

"Hei, kau tahu ㅡ"

"ㅡ kalaupun aku tahu, itu bukan urusan Kakak. Kakak dekat dengan Kak Tio dan Kak Mark, tapi Kakak juga sepupuku sehingga paling tidak jadilah sosok netral di antaranya. Lagipula jika Kakak ingin aku menyesal sudah putus dengan Mark, alasannya bukan hanya itu, dan aku tak ingin menyesal karenanya. " Haenan pun melebarkan langkahnya, meninggalkan Dio yang masih terpaku pada anak tangga yang masih ia pijak.

Sebelum ㅡ

" ㅡah! Tambahan, aku dan Mark masih berteman ngomong-ngomong. Kurasa?"

Haenan mendengus. Bibirnya yang tadi mengerucut langsung turun ke bawah saat mendapati bahwa rintik hujan mulai kembali turun dan semakin deras dari tiap detiknya. Bahunya tampak semakin turun seolah beban dari tiga buat cat semprot di tangannya membantu gravitasi agar bahu tersebut tak terlihat tegap kembali. Memaksa kepala Haenan menoleh kembali ke dalam toko yang baru ia masuki, merutuki tak adanya kursi kosong di sana sementara teras toko tersebut juga tak memadai.

Mengesah. Kepala Haenan kembali tertoleh, namun ke arah parkiran dimana sepeda motornya tampak seolah mendapat jasa cuci gratis, namun tak bisa segera ia naiki. Lagipula ia tak mau esok hanya meringkuk di kamar tidur dengan jejeran obat yang harus ia telan.

Piliham Haenan lalu jatuh di seberang jalan, sebuah minimarket dengan teras beratap luas yang bisa ia gunakan untuk berteduh ditambah beberapa kursi di sana. Merogoh kantungnya, menemukan uang sepuluh ribu yang tersisa dan niat untuk sedikit basah, Haenan pun menerobos jalanan sepi tersebut dan mencapai minimarket itu. Menggelengkan kepalanya kuat dan memasuki ruangan dengan suhu yang jauh lebih dingin dari di luar, sebab dirinya yang sudah kepalang basah.

Perut Haenan berbunyi, seolah merengek pada pemiliknya bahwa hujan menyebabkan dingin sampai lapar menjemput. Mendengus kembali, Haenan pun meraih satu kantung pilus dan beralih untuk menyeduh kopi instan yang disediakan. Membayar di kasir tanpa kembalian di kantungnya lagi, dan keluar untuk menikmati berisik rintik yang bertemu lempeng atap sehingga bising tercipta.

Entah sampai berapa menit terlewat, sampai akhirnya Haenan sadar ada eksistensi lain di sisinya, mengambil satu demi satu butiran pilus rasa pedas miliknya.

Lalu saat menoleh, Haenan langsung berdecih kecil mengetahui siapa yang ada di sampingnya.

"Itu pilusku."

"Aku tahu. Hanya menyoba membantumu menghabiskannya sebelum kita pulang."

Keduanya tak saling pandang. Arah mata mereka sama-sama dibuang lurus ke arah tetes air yang masih berlomba di depan sana.

"Hujan, Bodoh."

"Aku bawa mobil jika kau tak lupa."

"dan aku hanya membawa motorku."

Mendengus, sosok di samping Haenan akhirnya merebut pilus tanpa isi di meja tersebut dan menandaskannya sekali suap. Berdiri, lalu menarik Haenan untuk berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di depan minimarket. Membukakan pintu untuk Haenan masuk

"Aku tak menerima penolakan."

Menepis, tangan yang menggenggam erat dan menyalurkan panas tubuh dari satu ke lainnya itu kini terhempas. Menghasilkan desah napas lelah dari sang empu tangan.

"Lalu kau akan menunggu sampai jalanan kering? Ini sudah hampir malam. Lagipula aku tak lupa kalau kau benci berkendara saat jalanan licin dan apalagi jika hujan seperti ini, otomatis beberapa lubang takkan terlihat untukmu."

Mendengus, merasa bahwa apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya tadi tidak bisa disangkalnya, Haenan pun pasrah masuk ke dalam mobil mustard tersebut. Mendudukkan dirinya nyaman pada hangat transportasi yang dulu pernah membawanya pergi antar kota hanya berdua.

"Mark, aku membawa motor."

Haenan menoleh keluar, memandangi mobil yang melintas dan melewati motornya yang masih terparkir apik di sana. Lalu jawaban "aku tahu" yang terlontar dari belah bibir Mark sama sekali tak membantu.

"Aku akan mengambilnya nanti setelah mengantarmu."

Setelahnya keduanya tenggelam dalam sunyi. Jujur saja, ada banyak sekali hal yang Haenan pikirkan, tentang kenapa pria di sebelahnya masih bersikap biasa saja meskipun terakhir mereka bertemu bukanlah sebuah pertemuan yang bagus, tetapi kemudian sebuah distraksi akan fakta yang ia dapat tadi dari Dio, membuat Haenan lebih condong pada hal tersebut.

"Kau tak membantu Kak Tio pindah?"

Mark tak menjawab, namun tangan kiri pemuda itu meraih tombol menyala pada radio, yang otomatis Haenan tahu bahwa ia takkan mendapat pertanyaan akan jawabannya. Memilih untuk melesakkan kepalanya pada sudut yang terbentuk dari kursi dan pintu mobil.

Saat mereka sudah sampai di parkiran gedung tempat Haenan menyewa kamar, Mark menarik ujung belakang kaos mantan kekasihnya itu saat Haenan hendak keluar, membuatnya mendapatkan sebuah wajah penuh tanya dari yang lebih muda yang tengah membatin "ada apa" sebab ia merasa sudah berujar terimakasih sebelumnya.

"Kunci motormu, ku ambilkan dulu."

Menggeleng, kalimat tak apa aku bisa mengambilnya nanti keluar dari mulut Haenan, namun genggaman erat Mark padanya membuatnya pasrah.

"Ku berikan kunci mobilku, nanti kuambil setelah aku mengembalikan kunci motormu."

Lalu apa yang bisa Haenan buat? Ia hanya menghela napasnya sebab tahu akan kekeraskepalaan pria satunya dan merogoh kantung celanannya, memberikan kunci motornya pada yang bersangkutan.

Mark lalu melepas genggamannya, menyebabkan lusuh pada ujung baju Haenan. Terburu keluar dari mobilnya dan mengunci mustard kesayangannya itu. Memberikan kuncinya pada Haenan yang masih berdiri memerhatikannya.

"Masuklah saja, ku rasa akan lama."

Tapi Haenan juga sama keras kepalanya, ia masih bertahan di sana dalam diam sembari menenteng kantung plastik cat semprotnya, menatap Mark yang akhirnya menghilang dibalik jas hujan ponco milik tukang ojek online yang ia pesan.

Merutuki jantungnya yang berdebar karena perlakuan yang di dapatnya, meski masih banyak pertanyaan mengapa yang terlontar dalam pikirannya.