Memilih masuk, Haenan pun mencapai lantai tempat kamar sewanya berada, namun seolah memang hari itu ia seperti sedang masuk dalam rencana orang lain, mendapati Tio yang berdiri gusar di depan pintu kamar Haenan.

"Yo, ke kamarku dulu aja. Haenan kayaknya lama."

"Gapapa, bentar lagi paling. Lagian aku tak yakin bisa bertemu Haenan lagi dan ngelurusin semuanya setelah pindah."

"Hey ㅡ"

"ㅡngelurusin apa?"

Haenan menyelanya. Membuat kedua pandang, baik Dio maupun Tio ke arahnya yang berada di ujung tangga.

Mendengus karena tak mendapatkan jawaban, Haenan pun melanjutkan langkahnya. Melewati Tio setelah berujar 'minggir' kecil pada pemuda yang lebih tua itu. Membuka pintu kamarnya dan hendak masuk meninggalkan kedua pria itu seolah tak terjadi apa-apa.

"Haenan, tunggu, kakak mau bicara."

Mata sayu itu menatap lurus. Punggung berbalut kaos hitam dengan gambar depan abstrak itu menahan pintu yang tadinya hendak tertutup.

"Apa?"

Dipandangnya Tio yang gelisah. Menggigit bibir bawahnya dan kaki yang terketuk-ketuk di bawah sana. Merasa membuang waktunya, Haenan berdecak kecil, terlebih tepat ketika matanya mendapati sosok Mark yang sudah mencapai tangga terakhir.

Kaki Haenan melangkah, menyambut Mark terlebih dahulu dengan meraih kunci motor miliknya dan memberikan kunci mobil yang bersangkutan. Berujar terima kasih kecil sebelum berbalik dan akan kembali masuk ke kamarnya.

"Kak Mark sudah datang, kalian bisa urus urusan kalian segera kalau memang tak ada yang mau kalian sampaikan padaku."

namun tepat saat Haenan akan menutup pintu kamarnya, Tio segera menahan benda tersebut.

"Haenan, ini tak seperti yang kau pikirkan."

"Lalu apa yang harus ku pikirkan?"

Jemarinya mengepal. Menggenggam erat sampai buku tangannya memutih. Haenan lelah jujur saja. Ia seketika tak ingin menjalin hubungan sosial dengan siapapun jika itu serumit ini.

"Ajak aku masuk. Tanyakan semuanya. Aku takkan menutupi apapun."

Lalu ujung mata Haenan melirik pada Mark yang masih terpaku dengan basah dari ujung kepala sampai sepatu. Menghela napasnya lelah, Haenan menoleh pada Dio, yang entah bagaimana, sepupunya itu begitu peka dan segera menuntun Mark ke arah kamar pria tersebut.


"Aku...tak mempunyai hubungan yang baik dengan keluargaku. Terlebih karena aku menyukai Jefri, mereka semakin ingin membawaku ㅡ"

"Tunggu, Kakak menyukai Kak Jefri?"

Haenan menyelanya, membuat Tio akhirnya tertawa kecil melihat kekagetan di mata beruang pemuda manis itu.

"Kami sudah berpacaran sedari lama. Mungkin sejak rumor aku berpacaran dengan Mark?"

Kalimat ragu yang terlontar itu membuat Haenan semakin bingung akan apa yang terjadi. Apa yg ia tak ketahui selama ini? Jadi maksudnya Tio dan Mark yang berpacaran itu hanya rumor belaka? Lalu Kak Tio sebenarnya adalah kekasih dari kakak sepupu Mark?

"Kau tahu, Mark tak pernah berpacaran denganku." Tio tertawa. "Ia hanya menjagaku selama Jefri masih harus melanjutkan studinya di Barcelona, tapi setelah ini aku akan ke sana dan takkan mengganggu kalian lagi."

Pucuk kepala Haenan diusaknya pelan. Tio bahkan sudah berdiri untuk berpamitan, sebab penerbangannya kurang lima jam lagi dan ia harus segera menuju ke bandara karena ia pasti akan menemui macet di perjalanan terlebih hujan masih mengguyur seisi kota. Meskipun begitu, sekalipun kini Haenan sudah mengantar Tio keluar gedung tempat tinggalnya dengan Dio yang kini ikut melenggang pergi di dalam mobil bersama Tio, Haenan masih mencerna informasi yang ia dapatkan. Menghela napasnya lalu bersandar pada depan pintu kamarnya setelah berhasil kembali memanjat ke lantai dimana kamar sewanya berada.

Haenan menenggelamkan wajahnya pada lipatan lutut dengan celana jeans panjang itu. Sesekali telinganya mendengar deru hujan yang masih turun dengan derasnya namun gendang telinganya tak salah ketiga menangkap sebuah suara kaki telanjang mendekat padanya dan kini terhenti tepat di depannya.

Mendongak, Haenan mendapati wajah Mark yang tersenyum lembut di depannya. Ia mengusap rambut hitam dengan aksen hijau muda itu dengan lembut, membuat Haenan mau tak mau terbuai, sebab sudah lama ia tak mendapat perlakuan tersebut dari yang bersangkutan.

"Kak Tio sudah bercerita semuanya padamu?"

Mengangguk, lalu pemuda itu membuang mukanya ke arah lain. Seolah menyesali apa yang ia tuduhkan pada mantan kekasihnya itu sekalipun ia jujur tak merasa menyesal karena sudah kecewa pada Mark.

"Kalau begitu masuklah. Kau bisa kedinginan duduk di depan kamar seperti ini."

Nada itu masih lembut. Haenan benar-benar heran, bagaimana bisa ia lupa bahwa Mark selalu bersikap selembut itu padanya sekalipun tak terus menerus. Lalu Haenan teringat sesuatu dan mendengus kecil,

"Kau yang harusnya kedinginan karena kehujanan, Bodoh."

Mendengarnya, Mark terkekeh. Seolah paham akan kekhawatiran mantan kekasihnya yang memang tak terujar secara langsung dan gamblang.

"So, let's go inside and cuddling, shall we?"

ㅡdan jujur Haenan tak mau mengelak, sekalipun ia tak mengerti akan dibawa kemana hubungannya dengan Mark sekarang ini, tapi setidaknya ia tahu bahwa perlahan semuanya akan kembali.

.

.

"Oh! I forgot to give you this when we met in studio." Mark memasangkan sebuah kalung dengan bandul persegi kecil bertuliskan inisial nama mereka, yang dengan mudahnya ia lakukan karena kini keduanya tengah berbaring di ranjang Haenan dengan punggung pemuda manis itu yang bersender pada dada bidang yang lebih tua. "Hope you like it," mengecup pelipis Haenan dengan lembut. "Walaupun aku dapat dari hasil balapan waktu aku lupa anniv kita."

Lalu hari itu mereka tutup dengan Haenan yang gemas dan berbalik mengungkung Mark, memberikan gigitan pada hidung paruh burung milik pria itu, dan teriakan yang menggema di seluruh ruangan.

.

.

Fin

A/n: lalu ending dengan gajenya muehehehe