31 Desember 2018.

.

Tanganmu tersatu di depan tubuh. Matamu terpejam, pikiranmu yang tenang itu mengantar doa yang kausampaikan dalam hati, ketenangan yang perlahan bertukar dengan haru. Batiniahmu sama, lamat-lamat mengucap untaian kata berisi curahan pikiranmu yang ribut dalam hening lingkungan.

Kemudian, kamu menengadah, menatap langit-langit, membuka kedua tanganmu sedemikian hingga telapaknya mengarah ke atas. Seraya terus mengharap agar sampai pada Sang Maha. Agar segeralah terjabah dan selanjutnya menjadi yang terbaik atas kehendak-Nya.

Kamu membuka mata, menatap ruangan kosong tanpa siapapun kecuali kamu seorang. Umat dan jamaah telah pergi, meninggalkan kamu sendiri. Untuk waktu hingga akhirnya nanti kauputuskan untuk pergi.

Kembali, bibirmu tak jenuh mengucap doa. Tiada niatan untuk berhenti mengutarakan berat hati; penyiksa jiwa, pelara rasa. Tak henti-henti kamu ucap ayat-ayat suci dan kidung keagamaan. Meski terjawabnyalah oleh kentaranya sepi, dari lingkungan yang seolah mati.

(Biarpun, ada satu setia menanti.)

.

"Mengingat ada pertiwi yang merintih padamu, menjerit agar kausudi memberikan 'tolong' tanpa kausadari."

"Hendak meraung dalam gelak pesakitan yang melingkupinya dengan kemuraman abadi."

.

Segala urusan dan kerepotan menggemunung, bertumpuk, dan beranak-pinak: bertambah banyaklah hingga memberatkan hati. Mendorong pikir untuk mengukir keluhan berkesah. Membantingpecahkan kekuatan hatimu, menampar ketegaran diri, pikiranmu suram oleh karena kelebatan luka yang kembali terkenang, walaupun sebenarnya enggan.

Semesta merajuk, Bumi nyaris mengamuk. Langit enggan memberkati, alam raya seolah datang menyerang, membawa kutuk. Bermacam problematika duniawi selalu datang sangkan paran. Meluluhlantakkan pertiwi, menyapu Bumi, sebarkan luka atas ranah berkondisi setengah mati.

.

Dihujani air mata langit tiada sudah, selaik komentar dan hujatan dari orang-orang tanpa tatanan.

Hampir lenyap kebenaran, sebab (kebenaran-kebenaran itu) telah terkubur oleh akal picik dan kedustaan di mana-mana.

Kepercayaan banyak orang digoyahkan sepoi-sepoi yang sekonyong berbalik mengkhianati menjadi topan, menyisa ragu dan kehancuran besar di atas buwana.

Terombang-ambing tanpa mengetahui apa yang dicari. Memaksa untuk melangkah meski mengikuti yang tak pasti. Akhirnya, hanyalah tersesat dalam ketersesatan, hingga habis waktu digunakan berpikir yang tidak-tidak.

Linglung nan bingung, bagai arwah penasaran, mencari peraduan semunya yang taklah kunjung ditemukan.

.

Yang datang tanpa siapapun tahu, menghadirkan sedu jauh dalam lubuk jiwa.

Air matamu mengalir lagi. Menangisi prahara bagi tanah air yang enggan berhenti mencambukmu, melara-laraimu sebagai rakyat tanah air. Sembari kamu bersujud dan menggigit bibir, menahan isakan yang hendak lolos untuk melepas nestapa. Bersamaan tanganmu yang perlahan terkatup satu sama lain, menggenggam satu rangkai kalung yang kerap kaugunakan untuk berdoa di lain waktu.

Di dalam tempat ibadahmu, kaucurah segala beban. Memohon ampunan dan pengabulan bagi doamu sebagai Personifikasi Indonesia.

Seorang personifikasi, menahan pedih satu negeri. Pun, lara setanah air akan turut serta melingkupi.

.

Meski hanyalah angan yang kupunya,

berhakkah aku menyebut diri sebagai "Indonesia"?

.

"Inikah harga yang kami tanggung untuk semua dosa dan cela?"

"Harga yang harus dibayar dengan kepedihan, perih, dan sedu-sedan?"

"Dengan melihat prahara dan curahan dari cawan penyiksaan atas alam tanah air kami ...,

... belumkah cukup untuk menghukum?"

.

•••

.

...~*oOo*~...

INDONESISCHE ENDLESSLY ESPERANZA

{[ harapan rakyat demi Indonesia tak berkesudahan ]}

bagian I: Kaleidoskop Lar(nett)a

.

Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu.

Please note that I gain no material profits from this Indonesian fictional stories.

.

dipersembahkan oleh salah satu adik kelas, kakak kelas, dan keluarga kalian,

INDONESIAN KARA

(ananda Larnetta)

() syukuran buat #150JudulFanfiksi dan syukuran #JuriIFA2019.

*~...OoO...-*

.

.

Ketika semesta menuang murka atas buwana,

penyebab terjadinya bermacam dan banyak bencana,

menyebar duka atas ranah kehidupan di mana-mana,

menerjang dan meluluhlantakkan dunia,

... apa yang bisa dilakukan oleh manusia?

.

Kala tanah air menyendu,

tidak sedikit pemudanya yang saling menghantam dengan baku,

bergaduh seperti domba liar yang ditangkarkan untuk diadu,

... tanpa sadar diri bahwa mereka adalah satu.

.

.

- to be continued -

.

.

how much "happiness" we have left?

forcing the dark inside,

... a shouted voice came rudely,

... whistling inside your deepest mind.

.

"Would ... you ... like ... one ..."

"... wh- who is it!"

None of "them" answered.

"They" began to disappear, leaving yourself alone. The lights, of course, arisen from either where.

.

You saw the "hope", that waves it's hand, again. To you at many times. You gladly smiles.

Thus, the hope is still with you- oh, us.

.

Now, how can we realize it?

[1/5]

02-02-2020