Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu, Japan.

Adit — Sopo Jarwo (c) MD Entertainment, Indonesia.

Mohon diingat bahwa saya sama sekali tidak mengambil keuntungan materialis apapun atas penciptaan, penulisan, dan pemublikasian karya di situs ini.

.

INDONESISCE ENDLESSLY ESPERANZA

{[ harapan dari rakyat Indonesia tak berkesudahan ]}

•••

.

"Sejauh mana kaubuktikan rasa nasionalisme?"

.

Seribu suara, sejuta pelaku, sebumi pengharapan.

Embus angin menyampaikanku:

Makna dari harapan itu.

"Adalah ceritera yang dituturkan oleh para moyang, terdengar seperti legenda buwana. Yang berkisah tentang prajurit dari manusia kasta rendah, terpandang sebelah mata oleh para bangsa jumawa."

•••

Langit beberapa hari ini menangis, meruah limpahan air mata yang dijatuhkannya dari mega mendung. Berarak di angkasa, memenjarakan cahaya mentari di sebalik kelamnya. Sebagian Bumi tidak terbenderangi, dengan gelap melingkupi berhari-hari.

Ada bibir-bibir yang mengeluhkan soal hari ini. Ada yang seragam dan setelan mode pakaiannya terbasahi oleh tangisan langit tanpa mereka sudi terkena. Banyak lidah mendecak, meloloskan cerca-cercaan berkesah.

... hah ... .

(Cucian dan jemuran di atap tidak kering hari ini. Diangkat kembali, dijemur lagi nanti.)

(Siap hati dan raga disimpan kembali, tidak berguna hari ini. Toh, hanya membuang niat saja. Sudah pasti—akan dianggapnya—sia-sia belaka.)

.

Buwana bergilir, mengarungi hari demi hari, malam yang terus berganti, waktu-waktu yang tiada bisa diulangi. Demi masa lalu yang takkan kembali, terlintas kenangan dalam benak hati Indonesia lagi. Tanah airnya kaya akan berkat alam, limpahan kaya dikandung Sang Ibu Pertiwi.

Personifikasi Indonesia menyetapak. Tak seperti Bumi mengarungi semesta, ia berlalu dengan santainya. Indonesia mengedar pandangan, menikmati asrian dari lingkungan. Dia menghirup udara segar, memenuhi relung dadanya untuk hidup.

Kemudian, sekonyong dia terbatuk. Dahinya berkerut hingga alis nyaris tertaut, ekspresinya menyirat tidak suka. Indonesia menatap pada langit, pada Bumi. Juga, alam raya kosong diisi semesta dan flora.

Indonesia menarik napas, mengembus perlahan. Detak jantungnya lebih cepat dari sesaat lalu.

Ada sesak yang dia rasa. Entah di mana, seperti sekelebat legam berjelaga dari tungku pembakaran.

Untuk sekarang, Indonesia masih bisa bermapas dengan normal.

(Selalu ada yang tidak mengenakkan. Entah itu asri yang tercela, atau ceceran "yang tidak berguna" yang menutupi asri.)

(Kerap terjadi, namun selalu menyisa luka tak terperi.)

.

Angin berkesiur; kemarin, hari ini, esok. Di belahan Bumi lain, ia sampaikan padas yang mengelupasi nan menyengat-nyengati kulit pada rakyat. Ternamun di sini, mengantar sejuk pada para raga yang kegerahan, sebab mentari tengah kesal dengan Bumi—ia limpah panas hatinya yang masih sesuam kuku semesta pada Sang Buwana.

(Semukanya yang membeku, sedang lainnya mendidih. Kedua hawa yang sama-sama menghantam Bumi, hanya berlainan sisi, pun berseberangan rasa.)

(Seperti toleransi dan iri dengki dalam satu hati manusia, taklah heran: manusia kerap berdua-dua mukanya.)

.

bisakah kaubaca tanda semesta?

sekali lagi, kenanglah tuturan Jangkaning Jayabaya.

masihkah kau ingat akan itu,

... atau telah lupakah engkau?

.

.

Media akan segera berceritera.

Oleh perihal apapun berkategori sama.

Entah dengan ataupun tanpa sensasinya.

Dari jemari manusia sesemesta Sang Raya Merdeka.

.

.

.

Ada beribu sematan pertanda,

... tinggal carilah tiap-tiap maknanya.

.

•••

to be continued.

[2/5]

INDONESIAN KARA

Indonesia; 22 Februari 2020

Catat sejarah tertinggal di banyak prasasti,

... banyak kisah menunggu jadi satu.

Kini kutanya, jawablah dengan jujur kata hati,

... bagimu; apakah nasionalisme itu?