SEA AND SHORELINE

EPILOG

.

.

.

Tubuh mungil berbalut setelan jas mahal itu bergerak gelisah di tempatnya. Ruang pengantin yang sudah dihias dengan bunga-bungaan tidak menarik perhatian sama sekali. Pikirannya sedang tidak di sana. Ia pasti akan mengacau.

Demi Tuhan! Ada apa dengan dirinya? Toh bukan dia yang akan menikah. Melainkan sahabatnya. Kenapa dia harus segugup itu?

"Aku tidak bisa, Kyungsoo." Suara Baekhyun bergetar, sama seperti tubuhnya. Ia menggigil ketakutan seolah sedang dikejar setan.

"Baekhyun, kita sudah membicarakan ini." Kyungsoo membujuknya sekali lagi seraya menggenggam tangan dingin sahabatnya. "Kau sudah bersedia melakukannya. Dan aku tidak keberatan dengan pilihanmu. Nyanyikan apa pun untukku di hari spesialku."

"T-tapi...,"

"Aku tahu, aku sangat egois. Kau sudah memberikan segalanya untukku, tapi aku sungguh berani dan tidak tahu malu karena sudah meminta sesuatu padamu ketika aku tidak pernah memberikan apa pun sebagai balasan."

Baekhyun menggeleng. Matanya sudah berkaca-kaca, siap meloloskan setitik air mata jika Kyungsoo tidak memperingatinya.

"Jangan rusak riasanmu. Kau harus tampil sempurna di panggung nanti."

"Aku mungkin akan pingsan."

Kyungsoo terkekeh tanpa bisa ia tahan. "Setidaknya pingsanlah di belakang panggung."

"A-aku tidak janji." Baekhyun menyahut, tidak menyadari genggaman tangannya yang mulai rileks. "Memang siapa yang bisa mengontrol kita akan pingsan kapan dan di mana?"

"Kalau begitu jangan pingsan." Kyungsoo semakin jadi menggoda sahabatnya, berharap rasa gugupnya pergi. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Ah ya, Baekhyun. Nanti ada teman Jongin yang akan datang. Mau kukenalkan dengannya?"

"Teman Jongin? Seumuran?"

"Ya, mereka seumuran. Teman kuliahnya di Amerika." Kyungsoo menjawab antusias.

"Kalau begitu, dia lebih muda dariku."

"Hanya setahun. Seperti aku dan Jongin."

Baekhyun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Kyungsoo saat ia menjawab. "Eung, aku tidak yakin, Kyungsoo."

"Boleh aku tahu alasannya?"

Baekhyun diam saja setelah Kyungsoo menunggu selama setengah menit untuk jawabannya.

"Apa ini masih tentang Chanyeol?" tanya sang sahabat lagi, membuat Baekhyun nau tidak mau mendongak dan menatapnya. "Kau tahu kan ini sudah 3 tahun sejak kepergiannya?"

Baekhyun mengangguk. "Aku tahu."

"Apa kau masih mengharapkannya kembali?"

Kali ini lelaki bersurai cokelat madu itu menggeleng lemah. "Aku tidak ingin berharap untuk kemudian jatuh semakin dalam. Aku hanya... belum siap dengan hubungan yang baru. Aku masih butuh waktu."

Kyungsoo mengerti. Ia paham betul bagaimana hancurnya Baekhyun selama 3 tahun ini, lebih hancur dibanding saat ia dan Chanyeol putus. Karena pemuda jangkung itu sungguhan pergi, tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

"Seandainya..." Kyungsoo memulai dengan binar yang tak biasa di matanya. "Dia kembali padamu. Apa yang akan kau lakukan?"

"Kyungsoo...,"

"Dengar dulu, Baek. Aku juga ada di sana malam itu jika kau lupa. Dan aku mendengarnya sendiri. Dia bilang, dia tidak bisa saat ini. Apa itu berarti dia punya sesuatu yang harus dilakukan saat itu hingga membuatnya tidak bisa kembali padamu?"

"Percayalah, Kyung... Aku selalu memikirkan hal yang sama selama 3 tahun ini. Tapi sekali lagi, aku tidak ingin berharap."

"Hanya..." Kyungsoo memasang ekspresi tidak ingin dibantah seraya mengangkat telunjuknya sebagai peringatan. "Jawab pertanyaanku dengan jujur. Ya atau tidak? Kau akan menerimanya kembali saat ia datang dan meminta maaf?"

Baekhyun mengernyitkan alisnya dengan bibir yang mengerucut di detik pertama Kyungsoo menyelesaikan pertanyaannya. Tapi kemudian ekspresinya berubah. Perlahan ia mulai menyunggingkan senyum yang sudah lama tidak ditunjukkannya pada siapa pun. "Kau mengajukan pertanyaan yang salah, Kyung."

"Maksudmu?"

"Bukan dia yang kembali padaku, tapi aku yang kembali padanya. Karena Chanyeol adalah rumahku."

Ah, seperti itu. Batin Kyungsoo lega. Ia pun tersenyum untuk terakhir kali sebelum meninggalkan ruangan itu karena sebentar lagi acara akan segera dimulai.

"Aku percaya pada pilihanmu, Byun Baekhyun," ucapnya seraya berbalik meninggalkan sang sahabat dalam kebingungan.

.

.

Born on the wrong side of the ocean

With all the tides againts you

You never thought you'd be much good for anyone

But that's so far from the truth

I know there's pain in your heart

And you're covered in scars

Wish you could see what I do

.

.

Terdengar alunan piano yang berasal dari ballroom hotel berbintang yang kini dipijak oleh lelaki jangkung dengan tuksedo hitamnya. Ia bergegas melangkahkan kaki panjangnya menuju sumber suara, berkali-kali mengumpat karena kemacetan yang terjadi dari bandara menuju hotel membuatnya sedikit terlambat.

Ketika tungkainya mencapai ballroom hotel, lelaki itu menghela nafas lega. Masih belum terlambat untuk melihat penampilan seorang pemuda mungil yang kini sedang bernyanyi dengan segenap hatinya.

Ah, betapa ia merindukan suara itu.

.

.

Cause baby everything you are

Is everything I need

You're everything to me

Baby every single part

Is who you're meant to be

Cause you were meant for me

And you're everything I need

.

.

Lelaki itu menggenggam setangkai mawar merah yang cantik, menunggu saat yang tepat untuk memberikannya pada seseorang yang telah menempati posisi nomor 1 di hatinya selama bertahun-tahun.

Tidak ada yang spesial. Ia hanya akan memberikan mawar itu saat orang yang dicintainya menuruni panggung. Lalu ia akan mengungkapkan seluruh isi hatinya, tanpa ada satu pun yang disembunyikan.

.

.

You can say I'm wrong

You can turn your back againts me

But I am here to stay

I am here to stay

Like the sea

She keeps kissing the shoreline

No matter how many times he pushes her away

.

.

Ia melihat malaikat tanpa sayap di sana, di atas panggung yang gemerlap. Namun segala sesuatu tentangnya tidak pernah lagi sama dengan yang ia lihat dulu. Sosok itu begitu rapuh. Cahayanya meredup. Seolah setengah jiwanya pergi meninggalkan raganya.

Sosok itu tampak tersesat. Kehilangan arah. Tidak bisa menemukan jalan kembali menuju rumahnya. Tapi ia tahu ada percik cahaya di manik indahnya saat bait demi bait lagu itu dilantunkan.

.

.

And everything happens for a reason

It's all a blessing in disguise

I used to question who I was

Well now I see

The answer's in your eyes

.

.

Kemudian ia sadar. Semua jawaban itu ada pada mata bulan sabitnya yang terbentuk sepersekian detik ketika lagu berakhir.

Rasa itu masih ada.

Sosok itu tidak pernah berubah.

Hati mereka masih mendamba orang yang sama.

Meski waktu telah berlalu.

Meski ia berbalik dan memperlihatkan punggungnya yang menjauh malam itu tanpa sebuah kepastian.

Byun Baekhyun masih mencintai Park Chanyeol sama besarnya.

Tanpa membuang waktu lagi, Chanyeol membawa langkahnya menuju Baekhyun yang sedang menuruni panggung. Setangkai mawar merah masih ia genggam di tangannya yang gemetar.

Park Chanyeol, kau sudah menantikan hari ini sejak lama. Jangan mengacaukannya! Teriak lelaki jangkung itu dalam hatinya.

"Byun Baekhyun..."

Langkah si mungil terhenti, tubuhnya seketika mematung saat mengenali suara yang menyerukan namanya. Ia ingin berbalik dan memastikan sendiri siapa pemilik suara itu, namun kedua kakinya seolah dipalu oleh paku tak kasat mata. Rasanya sungguh berat hingga dirinya harus berakhir tersedak oleh isakannya sendiri.

Kapan air mata sialan ini keluar? Berbalik, Byun Baekhyun! Tunjukkan wajahmu, bukan punggungmu. Ia membatin, berperang dengan dirinya sendiri. Tidak ingin semua ini berakhir sebagai bunga tidurnya seperti malam-malam menyiksa yang ia lalui 3 tahun terakhir.

Greb.

Seseorang tiba-tiba saja meraih tangannya, lalu membalikkan tubuhnya. Dan hal pertama yang ia lihat adalah setangkai mawar merah yang terasa begitu familiar.

"A-aku menyukaimu."

Baekhyun mendongak dan melihat sosok yang dirindukannya. Tidak banyak yang berubah selain wajahnya yang bertambah dewasa, tampak maskulin dengan kumis tipis yang seksi di atas bibirnya. Selain kacamata tebalnya yang entah pergi ke mana, Park Chanyeol yang berdiri di hadapannya sekarang masih sama dengan yang ada dalam ingatannya 3 tahun yang lalu.

"Terima kasih." Baekhyun tersenyum. "Aku juga menyukaimu."

.

.

.

Kyungsoo menutup pintu di belakangnya dengan pelan tepat setelah Jongin ikut masuk ke ruang tunggu pengantin miliknya. Ia punya sedikit waktu untuk melihat keadaan Baekhyun setelah Chanyeol menarik si mungil yang berurai air mata itu ke sana.

"Jadi, kalian saling berhubungan di belakangku?" Baekhyun bertanya setelah tangisannya terhenti semenit yang lalu. Kebetulan Kyungsoo juga sudah di sini. Jadi ia tidak perlu menanyai mereka satu persatu.

"Aku memang mencari informasi tentangnya sebelum pernikahanku digelar. Demi kau, Byun Baekhyun. Tapi siapa sangka jika Chanyeol telah kembali ke Seoul dan sedang sibuk mengerjakan sesuatu."

"Sibuk mengerjakan apa?" tanya Baekhyun penasaran. Atau kalian bisa menyebutnya curiga.

"Proyek." Chanyeol menyahut cepat. "Aku sudah ditawari pekerjaan oleh salah satu perusahaan besar. Mereka sedang mencari arsitek muda yang berbakat. Dan aku cukup beruntung bisa menjadi salah satunya."

Baekhyun mengangguk paham. Sementara Kyungsoo mengangkat bokongnya dari sofa dan meraih lengan Jongin yang sudah resmi menjadi suaminya.

"Baiklah, karena kau baik-baik saja, aku harus segera kembali ke pelaminan. Aku yakin kalian butuh waktu untuk berbicara berdua saja. Tapi ingat," Kyungsoo menjeda sambil menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian. "Ini ruang tunggu pengantinku. Jangan berbuat macam-macam di sini. Kalian bisa menyewa kamar mana pun di hotel ini. Masih banyak yang kosong."

"Apa maksudmu, Do Kyungsoo?" Teriakan Baekhyun menggema, namun sahabatnya itu sudah melangkah pergi bersama Jongin.

"Jadi..."

"Kau tidak gagap."

"Huh?"

Baekhyun tersenyum, cantik sekali. Seperti yang selalu ia lakukan. "Kau sudah tidak gagap. Apa itu artinya kau sudah tidak gugup berada di dekatku?"

"Eum, sebenarnya... aku pergi menemui terapis."

"Kenapa?"

"Aku ingin kembali sebagai Chanyeol yang baru. Chanyeol yang pantas bersanding dengan Baekhyun."

"Tapi kau sempurna saat menjadi dirimu sendiri." Baekhyun berubah murung, menyadari perubahan yang Chanyeol lakukan.

"Salahkah aku jika ingin memantaskan diri untukmu?"

Si mungil menggeleng pelan. "Kau sudah pantas, Chanyeol. Selalu."

"Aku tahu. Tapi aku ingin jadi Chanyeol yang lebih baik untuk Baekhyun."

"Apa karena itu kau juga memutuskan untuk pergi?"

Chanyeol mengangguk. "Aku mengambil S2 di Jerman. Aku juga menemui terapis untuk menyembuhkan gagapku, walaupun sesekali masih sering muncul."

"Dan kau tidak memakai kacamatamu."

Chanyeol meringis, memamerkan deretan giginya kala melihat wajah cemberut Baekhyun. "Minusku semakin parah, jadi aku memutuskan untuk melakukan operasi. Ini murni di luar perhitunganku. Tapi Baekhyun tenang saja, sesekali aku masih suka mengenakan kacamata baca."

Baekhyun hanya bisa bergumam pelan, tidak ingin mempermasalahkan lebih jauh tentang perubahan Chanyeol. Karena yang paling penting adalah pria itu sudah di sini.

Lama mereka tenggelam dalam keheningan tanpa ada satu pun yang berniat buka suara. Hanya ada tangan yang saling menggenggam dan mata yang saling menatap. Kerinduan itu nyatanya lebih besar dari dugaan mereka hingga rasanya tetap ada yang kurang meski mereka sudah saling berhadapan.

"Baekhyun..." Chanyeol teringat sesuatu. Baekhyun harus mendengarkan penjelasannya. "Bukan maksudku untuk pergi saat itu. Aku tidak tahu Baekhyun akan mengatakan itu saat pesta kelulusan. Semuanya sudah diatur. Aku harus tetap pergi ke Jerman saat itu."

"Hm, tidak apa-apa. Aku mengerti, Chanyeol."

"Aku... i-ingat tentang hari itu."

"Hm, aku tahu." Baekhyun mengangguk, ia paham apa yang Chanyeol maksud tentang hari itu.

"Aku mencari Baekhyun keesokan harinya. Tapi tidak menemukan sosok itu di mana pun."

Tawa merdu terdengar, memenuhi ruangan tersebut. Dia adalah Byun Baekhyun yang merasa sangat bahagia mengetahui jika Chanyeol mencari sosoknya dalam dandanan ala nerd ketika orang lain bahkan tidak sudi untuk berbicara dengannya.

Sayang sekali, saat itu dirinya tidak memiliki keberanian untuk menghampiri Park Chanyeol.

.

.

.

Park Chanyeol dan Byun Baekhyun.

Mereka bukan lagi pasangan yang hubungannya ditentang lantaran perbedaan fisik juga kasta dalam kehidupan sosial. Baekhyun yang memang berparas cantik, jenius, punya bakat menyanyi, dan berasal dari keluarga terpandang telah memulai kariernya di perusahaan milik keluarga sebagai Direktur Perencanaan. Sedangkan Chanyeol yang berasal dari keluarga biasa saja, telah sukses menjadi arsitek yang karya-karyanya banyak dibicarakan. Orang-orang menyukai sentuhan tangan dinginnya dalam setiap karya yang ia buat.

Mereka sukses di jalan masing-masing.

Maka Chanyeol merasa inilah saatnya.

Setahun berlalu sejak kepulangannya ke Korea, Chanyeol melamar Baekhyun tepat saat pemuda mungil itu menuruni panggung setelah selesai menyanyi di cafè milik Oh Sehun, teman Jongin yang dulu sempat akan Kyungsoo kenalkan padanya.

Tidak ada yang spesial. Sama seperti momen bersejarah mereka di masa lalu. Namun kali ini ia tidak menggunakan setangkai mawar untuk melamar Baekhyun, melainkan sebuah kertas gambar yang ia gulung dan dikunci dengan sebuah cincin bertatahkan berlian mungil.

Seperti calon pemiliknya. Yang begitu mungil jika disandingkan dengan dirinya.

"Baekhyun..." Chanyeol memanggilnya dengan suara yang lembut dan tenang, seolah ia sudah sangat siap untuk momen ini. "Maukah kau menikah denganku?"

Baekhyun lebur dalam kebahagiaan saat Chanyeol memberikan kertas gambar padanya. Ia bisa melihat sebuah cincin yang sangat indah mengunci gulungan tersebut, membuatnya bertanya-tanya apa yang terdapat di dalamnya? Mengapa pula kekasih giant-nya itu tidak menggunakan kotak cincin yang biasa saja?

Pasti ada sesuatu di dalamnya.

"Tarik kertas gambarnya jika kau bersedia." Chanyeol berucap ketika Baekhyun tidak tahu harus melakukan apa.

Baekhyun pun tidak membiarkan detik berlalu terlalu jauh untuk sekedar menarik kertas tersebut dari kuncian cincin yang Chanyeol jepit menggunakan jemarinya. Ia bahkan tidak membutuhkan banyak waktu untuk berpikir saat menerima lamaran tersebut. Baekhyun telah menantikan ini seumur hidupnya.

Saat kertas gambar itu berhasil Baekhyun tarik, Chanyeol pun meraih tangannya dan memasangkan cincin indah itu di jari manis Baekhyun.

"Lalu ini untuk apa?" tanya Baekhyun yang kebingungan dengan kertas gambar dalam genggamannya.

"Bukalah," pinta Chanyeol dengan senyum lembutnya.

Baekhyun menurut. Ia membukanya perlahan dan terkesiap melihat sesuatu di dalamnya.

"I-ini...,"

"Rumah masa depan kita."

Oh, Tuhan! Baekhyun lupa jika kekasihnya itu adalah seorang Arsitek berbakat.

Tangisnya pun pecah seketika.

Ia sudah pulang.

Kini Baekhyun bukan lagi orang yang tersesat dan tidak tahu harus pergi ke mana. Ia sudah punya tujuan, yakni pulang ke rumah.

Literally and figuratively.

.

.

.

The End

.

.

.

A/N :

Aku tau judul cerita dan lagu utama yang kupakai di songfic ini gak nyambung. Harusnya aku kasih judul I Will Always Be Here. Tapi bucinnya chanbaek di sini rasanya lebih cocok sama lagu Everything I Need punya Skylar Grey, maka jadilah kupilih judul Sea and Shoreline.

Chanbaek gak peduli orang-orang yang gak setuju sama hubungan mereka cuma karena mereka berbeda secara fisik dan kelas sosial. Yaelah di zaman serba canggih gini, ganteng bisa dibeli (pake skincare wkwk), sukses juga bisa dicari pake ketekunan. Dan Chanyeol buktiin itu di sini. Dua-duanya gak peduli mau tersiksa sampe babak belur dan kena tekanan batin (bucin banget emang), yang penting dua-duanya sama-sama sayang.

Walaupun ... di satu titik Chanyeol terus-terusan ngedorong Baekhyun ngejauh karena gak mau bikin dia terluka. Tapi Baekhyun gak nyerah, di mana lagi dia bisa nemu cowok sebaik Chanyeol?

Right?

Semoga kalian ngerti apa yang mau aku sampaikan.

Kayaknya segitu aja, aku nih suka kebiasaan bacotnya banyak banget kalo udah bagian author note. Kalian bisa skip kalau ngerasa terganggu. Tapi resikonya kalian gak bakal tau penjelasanku. Hihihi...

Sampai jumpa di work lainnya. SECOND belum kulanjut, belum dapet ilham.

Lcourage - 200220