"Uchiha-san!" Panggil Hinata mencoba menghentikan langkah Sasuke
Hinata melangkah perlahan "Ke-Kembalilah ke Konoha" Ujar Hinata
.
.
Sunshine in the Storm
By : Malfoy1409
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Standard Warning
Cerita ini sepenuhnya imajinasi saya. Jadi jika ada kesamaan jalan cerita dengan cerita lain, kemungkinan besar kami berjodoh (?)
Happy Reading
Chap 4 : Join?
.
.
.
"Hm?" Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Hinata yang sedang menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Kembalilah, Sa-Sakura-chan dan Naruto-kun merindukanmu" Hinata berbicara dengan suara bergetar yang terdengar lirih. Sai dan Lee hanya memperhatikan apa yang Hinata katakan dari jarak yang tak terlalu jauh.
Sasuke berjalan perlahan dengan wajah datar dan angkuhnya, ia melangkah mendekati Hinata "Hanya mereka?"
"Sasuke!" seru Sai mencoba menghentikan langkah Sasuke yang semakin lama, semakin dekat menuju Hinata.
"Biarkan saja" Ujar Lee yang berada disebelah Sai. Sesungguhnya Lee pun khawatir dengan apa yang akan Sasuke lakukan. Namun, entah kepercayaan darimana Lee memilih memperhatikan.
"Ka-Kami semua juga merindukan Uchiha-san. Ma-Maka kembalilah. Kami sudah menerima Uchiha-san" Ujar Hinata pelan. Sekarang Sasuke berdiri hanya beberapa langkah dari tempat Hinata berdiri.
"Semua?" Ulang Sasuke
Hinata semakin memperdalam tundukan kepalanya "Se-Semua" ujarnya terbata. Ia sendiri tak begitu yakin kalau dirinya merindukan Sasuke, Hinata memang tak pernah akrab ataupun terlihat bertegur sapa dengan bungsu Uchiha ini.
"Apa yang membuatmu begitu yakin aku akan kembali setelah mendengar ucapanmu, Hyuuga?" Sasuke menggerakan jemari tangannya menyentuh pipi Hinata yang tertutup oleh sebagian rambutnya. Jemari Sasuke merasakan kehangatan ketika menyentuh pipi Hinata yang terlihat sedikit tembam.
Sai yang melihat hal tersebut berseru "Jaga tanganmu, Sasuke!"
Sai hendak melangkah namun dicegah oleh Lee yang masih ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sasuke yang mendengar seruan Sai hanya menoleh kearah Sai dan mendecih pelan. Hal tersebut membuat Hinata mendongakan kepalanya.
"Aku pergi" Langkah kaki Sasuke terdengar mulai menjauh. Sapuan tangan Sasuke kini tak lagi ada di pipi Hinata.
Hinata menegakan tubuhnya dan wajahnya menunjukan raut berfikir. Hinata ingin Naruto bahagia karena Sasuke benar-benar telah kembali. "Aku mohon, Uchiha-san !"
Sasuke kini berhenti daan kembali menghadap kearah Hinata. Sasuke menatap Hinata dan berdesis tajam"Jangan pernah memohon padaku, Hyuuga!" 'Harusnya aku yang memohon padamu, Hinata..'Lanjut Sasuke dalam hatinya
Hinata merasa takut dengan Sasuke yang ada dihadapannya "Ma-Maaf" dan Hinata menundukan kepalanya dalam sementara Sasuke masih memandang intens Hinata, disisi lain, Sai dan Lee berjalan mengahampiri mereka.
"Aku akan kembali ke Konoha" Ucap Sasuke pada akhirnya. Sasuke sedikit luluh melihat sosok Hinata yang saat ini ada dihadapannya. Mungkin saja ini satu dari banyak jalan untuk memulai kehidupan baru yang lebih normal dari kehidupan yang selama ini Sasuke jalani.
"Be-Benarkah?" Hinata berusaha menatap Sasuke dengan perasaan yang ragu-ragu.
Sasuke menghela nafasya pelan "Bersama kalian. Aku akan ikut kalian" Ujar Sasuke dingin.
"Tidak bisa" Sai berkata dan menatap tegas kearah Sasuke
"Kau tidak bisa ikut bersama kami" Lee menambahkan
"Kenapa?" Tanya Sasuke acuh tak acuh
"Ini misi kami" Sai dengan nada tenangnya kembali berbicara
"Tch. Aku akan tetap ikut" Sasuke tetap bersikeras dengan ucapannya dan sesekali melirik kearah Hinata dari ekor matanya.
Setelah ucapan Sasuke tadi, tak ada lagi yang bersuara samapai akhirnya Sasuke lah yang kembali memecah keheningan "Setidaknya untuk melindungi si Hyuuga"
"Tidak perlu. Aku dan Lee bisa melindunginya!" Sai berkomentar
"Begitukah? Lantas yang tadi itu apa?" Sindir Sasuke dengan tatapan meremehkan kearah Said an Lee. Sementara Hinata hanya menunduk semakin dalam.
Setelah adu deathglare panjang antara Sasuke dan Sai, akhirnya Lee bersuara "Baiklah, Kau boleh ikut kami"
-o-
.
.
.
Mereka berempat kini sedang duduk di dekat api yang Sasuke buat untuk menghangatkan diri dari angin malam. Tak ada suara, hanya keheningan yang terlihat menyelimuti mereka.
Lee mengahampiri Sasuke dan duduk disampingnya "Kau tidur denganku atau Sai saja" Ujarnya
"Hn" dan seperti biasa, Sasuke hanya menanggapi seperlunya
Hinata berdiri dan sepertinya ia hendak pergi tidur "Se-Selamat malam semua" Ujarnya pelan.
Tak lama setelahnya, Sai pun ikut mengundurkan dirinya menuju tenda. Saat ini hanya tinggal Sasuke dan Lee yang masih ada di depan api tersebut.
"Kau tidak tidur?" Tanya Lee
"Hn"
"Aku duluan" Dan Lee pun beranjak pergi meninggalkan Sasuke seorang diri.
Lama Sasuke bertahan dalam posisinya dan tak berubah sedikit pun. Wajahnya yang datar namun tampan masih dapat terlihat ada di depan api yang menghangatkan tubuhnya.
Perlahan Sasuke bangkit dari tempatnya berdiri. Kakinya membawa Sasuke menuju tenda Hinata. Ia sedikit menundukan dirinya ketika telah sampai di depan tanda tersebut.
Sasuke membuka bagian depan tenda Hinata dan sekarang tampaklah tubuh Hinata yang tenang dalam tidurnya. Sasuke hanya memperhatikannya dari luar tenda. Sudut bibirnya sedikit naik membentuk sebuah senyum kecil yang jarang sekali ia tunjukan kepada siapapun.
Dulu saat masih di akademi, Sasuke selalu mencoba menjadi yang terbaik dalam setiapa test supaya Hinata mau melihatnya. Ia selalu mengabaikan para gadis yang mengejarnya dan membiarkan Hinata mengambil alih dunianya, namun nyatanya Hinata tak sedikit pun tertarik untuk melihat kearah Sasuke yang sudah berusaha.
"Kau ceroboh" Ujar Sasuke yang arah tatapan matanya masih menuju kearah Hinata.
Ia menghela nafas lemah "Bahkan kau tidak sadar sekarang kau sedekat ini dengan mantan buronan" Sasuke tersenyum miris.
"Kau terlihat lemah tapi nyatanya aku jauh lebih lemah" ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang membuat dirinya lepas kendali.
"Melihatmu seperti tadi membuatku seperti ingin mati" melihat Hinata dalam keadaan seperti tadi, Sasuke merasa takut kehilangan lagi. Dirinya merasa hancur.
"Berhati-hatilah lain kali" Sasuke bangkit dari posisinya. Namun kemudian ia menyadari ada yang kurang dari kata-kata yang telah ia ucapkan.
Dengan sedikit senyuman, Sasuke menambahkan sebuah kalimat sebelum beranjak pergi "Selamat malam"
"Sasuke" sepasang mata memperhatikannya sedari tadi dan begumam tak percaya
-o-
.
.
.
Pagi telah datang. Kesibukan mereka kini telah kembali lagi. Hinata adalah orang yang bangun paling pagi sebelum Sasuke.
"Kau yang membuat semua ini?" Tanya Lee yang setelah membereskan tenda melihat makanan yang tersaji.
"Iya, Lee-kun" Hinata menjawabnya disertai senyum manis khas yang dimilikinya. Meskipun ini hanya makanan sederhana yang dapat dibuatnya dari bekal yang dibawa oleh mereka, tetap saja ini menggugah selera.
Lee dapat mencium aroma makanan yang dibuat oleh Hinata "Waah wangi sekali. Masakanmu kan yang terenak diangkatan kami"
"Kau berlebihan, Lee-kun" Hinata tersipu malu
"Kau yang membuat apinya juga?" Tanya Sai yang baru datang
"Uchiha-san membantuku membuat api" Jawab Hinata dan membuat Sai sedikit bertanya-tanya. Sasuke tak biasa bersikap kalau ia peduli.
"Sasuke? Dimana dia sekarang?" Tanya Lee pada akhirnya
"U-Uchiha-san tadi berniat membersihkan diri" Entah mengapa lidah Hinata kurang terbiasa menyebutkan nama Sasuke, meskipun hanya nama keluarganya saja.
"Begitu?" Sai kembali memastikan
"Iya"
-o-
.
.
.
Sasuke telah kembali dan mereka sedang duduk di bawah salah satu pohon rindang yang ada disana sembari menikmati sarapan yang telah disiapkan sebelumnya oleh gadis Hyuuga ini.
"Ini pertama kali kau memakan masakan Hinata kan?" Tanya Lee disela-sela makan
"Hn"
"Bagaimana rasanya? Enakkan?" Tanya Sai sedikit menyanggol lengan Sasuke
Sasuke menghentikan kunyahannya dan gerakan menyendoknya, lalu ia mengucapkan jawaban yang sama sekali bertolak belakang dari apa yang dia rasakan "Biasa"
"Dasar, kau ini!" Sai memandang tajam kearah Sasuke
Hinata berusaha menengahi sesuatu yang mungkin saja akan menjadi sebuah pertengkaran kecil antar dua pemuda ini "Sudahlah, Sai-kun"
Mendengar kata-kata Hinata, Sai kembali makan. Sementara Sasuke hanya membatin kesal mendengar nama Sai disebut dengan embel-embel 'kun'
-o-
.
.
.
Neji dan Kakashi telah tiba di depan gerbang Sunagakure. Mereka meminta izin memasuki kawasan Suna kepada para penjaga gerbang utama. Merasa lapar dan memutuskan untuk makan disebuah kedai makanan sebelum bertemu dengan Sabaku Gaara.
Setelah dirasa cukup, mereka berdua memutuskan untuk segera ke kantor Kazekage untuk menemui Gaara.
"Kami dari Konoha. Kami ingin bertemu dengan Kazekage-sama" Ujar Neji pada salah satu penjaga disana.
"Tunggu sebentar"
Setelah berapa lama menunggu mereka dipersilahkan masuk menuju ruang kerja sang Kazekage. Saat pintu dibuka, segera saja mereka masuk dan member salam hormat pada Kage dari Negara Suna.
"Selamat siang Kazekage-sama" Ucap Neji
"Selamat siang" Jawab Gaara singkat.
Gaara mempersilahkan Neji dan Kakashi untuk duduk dan menikmati sajian yang telah mereka siapkan untuk tamu dari Konoha ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Kakashi-sensei?" Tanya Gaara dengan wajahnya yang bisa dibilang minim ekspresi. Ia menganggap Kakashi itu jugalah guru baginya.
"Aku ingin bertanya sedikit informasi" Ujar Kakashi
Gaara merasa ini bukanlah sesuatu yang bisa dibilang sepele. Kedatangan Kakashi kesini jelas untuk sesuatu yang penting dan bukan main-main. Gaara berusaha memfokuskan dirinya kepada Kakashi dan Neji, melupakan sejenak pekerjaan yang sedang dikerjakan olehnya tadi.
-o-
.
.
.
Mereka telah sampai di Sunagakure sejak kemarin dan memutuskan untuk tinggal semalam disini dengan menyewa dua kamar. Mereka memutuskan hal tersebut juga sebagai pemulih tenaga mereka yang lumayan terkuras pada hari yang sama.
Sepertinya mereka bertiga tidak mengetahui jika Neji dan Kakashi sedang berada disini.
"Sakura-chan…" Naruto memanggil sakura dengan nada merengek meminta sarapan yang sedang disiapkan oleh Sakura.
"Sebentar lagi matang baka!" Sakura sudah cukup jengah mendengar rengekan manja Naruto ditelinganya. Ia ingin sekali merebus Naruto hidup-hidup jika sudah begini.
"Aku lapar.." Naruto memberikan senyum lima jarinya untuk merayu Sakura agar mempercepat proses memasak yang sedang ia lakukan
"Huh sebaiknya kau pulang saja!" Shino hanya duduk di sofa sambil memperhatikan Sakura dan Naruto. Shino sesekali menggelengkan kepalanya pelan.
"Tega sekali" Naruto mengerucutkan bibirnya
Sakura sudah mulai jengah dengan sikap Naruto. Ia pun dengan senang hati memberikan sebuah pukulan ringan di kepala Naruto "Aduh, Itaaaaai"
Sakura kembali seperti semula, seolah tak terjadi apa-apa. "Shino-kun, makanan sudah matang"
"Hei kan aku yang ada disini terlebih dahulu!" Naruto protes karena merasa tidak diperlakukan dengan dengan adil. Mengingat dirinya lah yang sedari tadi menunggu tapi nama Shino lah yang dipanggil oleh Sakura.
"Berisik baka!" Sakura berteriak dan membuat Naruto mengunci mulutnya. Ia tak ingin dalam satu pagi menerima dua pukulan dari Sakura.
-o-
.
.
.
Neji, Kakashi dan Gaara memasang wajah berfikir keras. Mereka sedang menimbang-nimbang sebuah pemecahan masalah dan sebuah konspirasi yang mungkin tercipta tak kasat mata diantara mereka semua
"Jadi?" Pria Hyuuga bertanya pada Gaara
"Yang saya tahu mereka semua telah mati setelah pertempuran itu, Hyuuga-san" Jawab Gaara tegas dan lugas. Hal tersebut membuat Kakashi semakin berfikir keras.
-o-
.
.
.
Hinata memutuskan untuk mandi setelah dirinya menyelesaikan makan paginya. Hinata berjalan cukup cepat supaya ketiga temannya yang lain tak begitu lama menunggunya.
"Segar sekali" Suara Hinata terdengar ketika angin berhembus menerpa dirinya
"Ayo kita berangkat" Ajak Sai setelah melihat Hinata telah siap
Mereka kembali berjalan menyusuri hutan rindang ini. Kurang lebih setengah hari lagi mereka akan segera sampai di Kumogakure. Semakin mendekati Kumogakure pemandangannya menjadi lebih terkesan dingin entah karena apa. Namun, untuk Hinata yang memang menyukai pemandangan, ia tetap menikmatinya.
"Kau selama ini kemana saja, Sasuke?" Tanya Lee mencoba membuka pembicaraan dengan Sasuke yang telah lama tak bertemu.
"Bukan urusanmu" Jawab Sasuke dingin. Ia hanya memperhatikan arah dan matanya sesekali melirik Hinata yang sedang kagum melihat sekitarnya.
"Hah kau ini. Aku hanya penasaran" Lee memberikan respon dengan nada menggerutu.
Karena berbicara dengan Sasuke bukanlah hal yang dapat menghilangkan kejenuhan yang dirasakan oleh Lee. Dia memutuskan untuk memandangi alam sekitar meskipundirinya tak begitu tertarik dengan hal itu.
Mereka tiba disebuah persimpangan. Mereka berhenti sejenak untu memutuskan jalur mana yang akan mereka lewati kali ini.
"Kita ambil jalan ke kiri saja" Ujar Sai setelah menimbang-nimbang.
"Kanan saja" Kali ini Sasuke lah yang bersuara.
Mereka terdiam untuk sesaat. Berfikir jalur mana yang akan mereka lewati untuk cepat sampai ke Kumogakure
"Aku sudah pernah melewati jalur ini dan jalur ini lebih cepat" Tambah Sasuke untuk meyakinkan mereka semua.
"Baiklah" Putus Sai kemudian menyetujui jalur yang Sasuke pilih.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, Sai melihat jika Hinata sepertinya terlihat lelah. "Kau lelah, Hinata?"
Hinata hanya menggeleng pelan. Namun, Sai tahu jika Hinata tidak berkata jujur dengan apa yang dia rasakan saat ini.
"Kita istirahat sebentar disini"
-o-
.
.
.
"Hei aku tidak memasaknya!" Suara Ino memecah kesunyian pagi. Ia sedang dihadapkan pada bahan-bahan makanan untuk diolah olehnya. Namun, sepertinya Ino kurang bisa mengolah semua itu.
"Ck, merepotkan" Shikamaru hanya menguap dan bersiap untuk tidur lagi sembari menunggu makanan jadi.
"Kau bisa?" Tanya Ino pada Shikamaru
Dengan mudahnya Shikamaru menjawab "Tidak"
"Ah, aku lebih senang ada misi bersama Hinata. Dia pandai sekali memasak bahan makanan yang kami bawa" Kali ini Kiba lah yang bersuara. Ia sudah tampak kelaparan.
"Memang kau bisa memasak, Kiba?"
"Mungkin. Biar aku coba" Kiba mencoba untuk memasak. Setidaknya ia pernah memperhatikan ketika Hinata memasak makanan saat ada misi bersamanya. Dan sekarang semua itu sepertinya akan berguna untuk melanjutkan hidupnya.
Setelah lumayan lama Kiba berkutat dengan berbagai bahan. Akhirnya masakan Kiba pun jadi. Ino tampak senang melihatnya. Sementara Shikamaru masih saja memasang wajah mengantuk.
"Bagaimana?" Tanya Kiba memastikan hasil masakannya. Menurutnya, ini tak begitu buruk untuk dimakan.
"Tidak begitu buruk. Hei Shikamaru, belajarlah memasak dari Kiba. Nanti malam kau yang masak" Ino menatap Shikamaru garang. Sementara Shikamaru hanya memutar kedua matanya.
Tak lama lagi mereka akan sampai ke tempat tujuan pertama mereka.
-o-
.
.
.
Di tengah-tengah Istirahat mereka, Sai memutuskan untuk mengisi persediaan air. Sementara Hinata membereskan barang yang dibawanya.
"Hinata masih sendiri" Lee berbisik pelan kearah Sasuke yang sedang bersandar pada salah satu batang pohon.
"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke tajam
"Aku lihat yang tadi malam" Lee berkata seraya menghela nafasnya pelan
Lee menatap Sasuke yang sekarang sedang mwemperhatikan Hinata "Aku tak pernah menyangkanya" Lee kembali bersuara
"Kau sebaiknya bergerak cepat" Tambah Lee
"Hm?" Sasuke hanya mengerutkan dahinya tak mengerti
"Sainganmu itu banyak. Yang suka pada Hinata itu banyak" Sasuke mulai panas dengan kalimat terkahir ini. Ia hanya diam dan menatap Lee tajam dari sudaut matanya.
"A-Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Hinata tiba-tiba. Ia seperti mendengar namanya tadi disebut.
"Ah, bukan apa-apa Hinata. Sai kemana ya? Kenapa belum kembali juga" Lee mencoba mengalihkan perhatian dari topik pembiacaraan tadi.
"Biar aku susul" Ujar Hinata dengan senyum manisnya.
"Tidak perlu" Kali ini Sasuke yang berbicara. Suara Sasuke mebuat Lee jadi salah tingkah. Hinata hanya menatap Sasuke heran. Sementara Sasuke hanya diam tak mengatakan apapun lagi meskipun dihadapkan pada tatapan bertanya Hinata.
"Biar aku yang susul" Lee berinisiatif menengahi kediaman yang canggug ini. Lee menangkap jika mungkin Sasuke sedang cemburu.
Lee pergi. Hinata kembali duduk dan Sasuke kembali tenang.
"Kau sudah tidak lelah?" Tanya Sasuke pada Hinata yang sekarang sedang duduk dengan memeluk kedua kakinya.
"Sudah lebih baik, Uchiha-san" Hinata mendongakkan kepalanya sedikit untuk membalas pertanyaan Sasuke.
Setelah Hinata berujar, tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya.
"Te-Terima kasih, Uchiha-san" Ucap Hinata tiba-tiba. Kali ini Hinata mencoba untuk tersenyum pada Sasuke.
"Hn?" Mendengar Suara Hinata, sasuke mengalihkan pandangannya ke gadis itu dan member tatapan bertanya.
"Terima kasih mau kembali ke Konoha. Na-Naruto-kun pasti senang sekali" Hinata tak bisa menyembunyikan wajah gembiranya lebih lama lagi. Membayangkan Naruto yang senang karena Sasuke telah kembali merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Hinata.
"Si bodoh itu lagi" Sasuke terdengar tak suka dengan kata-kata Hinata tadi.
"U-Uchiha-san?" sekarang Hinata lah yang tidak mengerti. Bukankah Sasuke dan Naruto bersahabat?
"Kau memintaku kembali karena Naruto?!" Nada Sasuke terdengar tajam dan menusuk. Membuat Hinata merasa sedikit takut berada di dekat Sasuke. Namun disaat yang sama, Hinata juga merasa bersalah.
"Bu-Bukan begitu U-Uchiha-san" Hinata mencoba member penjelasan
Dan Sasuke tak ingin mendengarkan "Kau memintaku kembali bukan karena kau ingin aku kembali kan?!"
"U-Uchiha-san dengarkan a-aku dulu" Hinata semakin merasa bersalah ketika melihat sorot sakit hati dimata Sasuke. Apa karena dirinya?
-o-
.
.
.
Lee mengahmpiri Sai yang sedang duduk di pinggir sumber air.
"Kenapa lama sekali?"
"Airnya segar, aku jadi tergoda untuk mandi lagi" jawab Sai
"Sai, ada yang ingin aku bicarakan" Wajah Lee terlihat serius
"Kau tidak terlihat seperti Lee yang kukenal" Lee memperhatikan Lee dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Lee menghela nafasnya "Aku harap kau menyerah untuk Hinata" menatap Sai
"Apa maksudmu?" Sai terlihat sedikit marah. Rahangnya mengeras.
"Kau jelas mengerti maksudku Sai"
"Aku tidak mengerti. Sebelumnya kau tidak melarangku" Sai hendak beranjak meninggalkan Lee. Namun Lee menahannya.
"Itu sebelum aku melihat kejadian semalam Sai"
"Ada apa sebenarnya?" Sai menuntut penjelasan dan Lee mulai menceritakan.
-o-
.
.
.
"Tak perlu mengasihaniku, Hyuuga!" Sekarang Sasuke berdiri dan menatap Hinata tajam dan tersakiti.
"A-Aku tidak mengasihani Uchiha-san" dengan sedikit rasa takut yang ia miliki, Hinata menatap dan membalas ucapan Sasuke dengan suara yang cukup keras.
"Berkata seolah-olah kau menginginkanku kembali lalu menunjukan sikap yang sebaliknya. Setelah itu kau membantahnya, jika kau melakukan ini hanya untuk Naruto!" Sasuke hampir saja berteriak lebih keras lagi jika ia tidak ingat siapa lawan bicaranya kali ini.
"A-Apa ada yang sa-salah dengan sikapku? A-Aku minta maaf" Hinata merasa tidak ada yag salah dengan sikapnya kepada Sasuke. Ia berlaku sopan dan tidak mengganggu Sasuke. Namun untuk Sasuke, justru itulah yang menjadi masalahnya.
Ia ingin Hinata yang berbicara padanya. Hinata yang memperhatikannya meski hanya diam-diam. Hinata yang tidak membicarakan Naruto yang Sasuke ketahui adalah orang yang Hinata cintai saat ini.
"A-Aku salah apa Uchiha-san?" Tak kunjung mendapat jawaban, Hinata kembali bertanya.
"Salahmu?! Banyak!" Sasuke lalu menghela nafas
"Ta-Tapi.." Hinata berkata dengan berjalan menuju kearah Sasuke dengan perlahan.
-o-
.
.
.
"Sasuke telah mengalami terlalu banyak kehilangan" Lee mencoba myakinkan Sai untuk mengalah pada Sasuke kali ini.
Sai hanya diam. Haruskah ia berhenti saat ini?
"Aku tak tega jika melihatnya harus merelakan seseorang lagi dalam hidupnya. Apa kau mengerti Sai?" Lee menepuk pundak Sai
"Aku tau apa yang kau rasakan. Aku pun merasakan hal yang sama pada Sasuke. Hanya saja—"
"Aku mengerti ini tak akan mudah untukmu Sai, tapi pikirkanlah"
"Akan kucoba"
"Terima kasih" Ujar Lee
"Untuk apa? Sasuke juga temanku, Bodoh!" sebenarnya Sai cukup merasa senag mengetahui temannya yang satu itu bisa merasakan cinta meskipun dengan gadis yang sama yang ia cintai.
"Hehehe" dan Lee hanya terkekeh mendengarnya.
-o-
.
.
.
"Apa aku memang pantas dikasihani?!" Sasuke kembali berkata keras. Hampir saja Hinata menghentikan langkahnya menghampiri Sasuke.
"A-Aku tidak mengasihani, Uchiha-san" Hinata berkata lagi, mencoba myakinkan Sasuke jika ini bukanlah belas kasihan darinya.
"Jangan bohong, Hyuuga!"
Seketika Hinata memeluk Sasuke dan menangis. Entah kenapa Hinata bisa merasakan sakit yang sama dengan yang Sasuke rasakan saat ini. Ia pun pernah merasa dikasihani dan itu bukanlah hal yang menyenangkan untuknya.
Sasuke tersentak mendapati Hinata memeluknya saat ini. "Hinata" Tanpa sadar Sasuke menyebutkan nama kecil Hinata.
"Aku ti-tidak mengasihani Uchiha-san. Percayalah. Aku ha-hanya ingin Uchiha-san kembali ke Konoha" Isak Hinata
"Hn" Sasuke membalas memeluk Hinata. Emosinya beberapa saat lalu seakan lenyap begitu saja merasakan Hinata ada dalam rengkuhannya.
Sementara Sasuke menikmatinya, Hinata mulai tersadar. "E-Eh?"
Hinata perlahan melepaskan pelukannya pada Sasuke. "Ma-Maaf" Ujarnya lemah.
"Hn" Sasuke bertingkah seperti ia tak peduli pada apa yang terjadi beberapa waktu lalu. meskipun bohong jika Sasuke merasa tidak senang.
TBC
Thanks for Reading
Thanks for all
Terima kasih sudah RnR semuanya
.
.
Mind To RnR?
.
.
And Last
See you,
.
.
Malfoy1409
