LOVE DATA
By
Aiharasenkreutz
.
.
NarutoMasashi Kishimoto
Genre : Drama, Romance
Rating : M
Warning :Yuri Alert! Incest,Typo and Miss, Alur berantakan, mudah ditebak (mungkin), FemNaru, Etc.
Chapter 2 : Merges:II
Summary :
Naruko kadang memikirkan, bagaimana sih rasanya memiliki kekasih? Lalu bagaimana rasanya ciuman pertama?
.
.
"Walaupun kau adalah murid baru disini. Aturilah semua peraturan yang berlaku, aku menyita smartphonemu" ujarnya lalu meninggalkan Naruto yang terkulai.
"DASAR WANITA GILA. WANITA ITU BENAR-BENAR GILA" runtuk Naruto
START
Telihat seorang gadis yang sedang berada di kamar mandi siswa sedang membasuh wajah. Dia mengutuk apa yang telah terjadi kepadanya
"Hahh... kenapa harus begini coba. Rasanya aneh kalau tanpa Make-up" ujar Naruko sembari menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel.
"Wanita itu,membuatku penasaran. Kalau tidak salah saat tadi dia mengambil smartphoneku aroma dari tubuhnya wangi sekali. Ehh apa yang aku pikirkan!" ujar Naruko meruntuki dirinya sendiri.
"Hahh..lebih baik aku langung pergi ke ruangan guru"
Setelah cukup untuk membersihkan wajahnya, Naruto menggambil kembali tasnya dan menuju ruang guru. Yah Naruto masih belum tahu kelasnya dimana, karena dia murid pindahan.
.
.
.
Seorang guru dan di ekori gadis yang diketahui bernama Naruto memasuki kelas 2-1. Naruto bisa mendengarkan kalau suasana kelas didepannya itu tidak ada kebisingan, benar-benar sekolah dengan ketaatan yang luar biasa. Berbeda dengan sekolahnya dulu, saat tidak ada guru pasti semua murid menikmati waktu tersebut agar tidak sia-sia walaupun hanya dengan mengobrol.
Pintu kelas digeser oleh guru, Naruto disuruh menunggu di balik pintu oleh guru laki-laki yang tadi di ikutinya.
"Baiklah anak-anak, kalian kedatangan teman baru disini. Namikaze-san silahkan masuk" ujar guru tersebut.
Naruto pun masuk ke dalam kelas, ya dia bisa merasakan banyak pasang mata menatapnya, tapi sudah sudah hal yang wajar bukan? Jadi Naruto hanya mengacuhkannya saja dan mengambil sebuah spidol dan menuliskan namanya di papan tulis.
"Namaku Naruto Uzu-, ah maksudku Naruto Namikaze" ujar Naruto memperkenalkan diri
"Apakah kau tidak mau memperkenalkan diri dengan lengkap? Misalkan alasanmu pindah sekolah, asal sekolahmu dulu, hobimu apa dan cita-citamu. Yah walaupun sensei tau itu cuman sekedar basa-basi" ujar guru berambut putih di sebelahnya.
"Ahh maafkan aku. Uhum ... , baiklah aku ulangi. Namaku Naruto Namikaze. Alasanku pindah dari sekolah lamaku karena keluargaku pindah ke kota konoha. Hobiku mungkin memasak, lalu kalau cita-cita belum terpikirkan hehehehe" ujarnya sembari tersenyum menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
Sontak sekelas yang mendengarnya hanya bisa bersweatdrop masal. Tapi tidak dengan seorang gadis berambut merah darah yang menatap tajam Naruto. Naruto yang awalnya tidak menyadari kalau dia ditatap tajam oleh seseorang langsung bergidik ngeri.
"K-kenapa dia ada disini?!" kangetnya dalam hati
"Nah, Namikaze-san aku adalah wali kelas di kelas ini. Namaku Kakashi Hatake, baiklah kalau begitu mungkin ada yang mau bertanya kepada Namikaze-san disini?
"Ano sensei, apakah anda tidak sadar kalau dia mirip seperti kaichou?" tanya salah satu murid
Lantas semua murid disana langsung melirik Naruto, begitu pun dengan kakashi. Ternyata memang benar mirip.
"Apakah kau memiliki hubungan dengan dengan dia?" tanya kakashi kepada Naruto sembari menunjuk salah satu murid yang duduk di bangku jajaran kedua di tengah.
"Tidak Kaka-sensei" ucap Naruto dan dengan cepat kembali mengalihkan perhatiannya kepada kakashi yang sudah diberi nama panggilan, sebenarnya Naruto sudah takut tatapan yang sendari tadi ditunjukan oleh gadis yang tadi pagi menyita smartphonenya.
"Baiklah kalau begitu, kau bisa duduk di bangku paling belakang sana di belakang Hyuga-san. Hyuga-san tolong angkat tanganmu"
Naruto kembali mengalihkan pandangan ke murid-murid dan langsung berjalan ke arah gadis yang mengangkat tangan.
"Baiklah kita akan mulai pelajaran! buka buku sastra jepang kalian"
.
.
.
Bel istirahat pun berbunyi, tidak menyia-nyiakan waktu. Banyak murid yang langsung berhamburan keluar untuk membeli makanan di kantin. Ada pula yang membawa makanan dari rumah. Terlihat Naruto yang menatap bosan tulisan yang sudah ia tulis di buku pelajarannya.
"Kussoo..., aku belum paham dengan semua ini, atau memang kelasku dulu yang tertinggal pelajaran? Atau mungkin aku yang tertinggal" Naruto berbicara sendiri sembari memasukan bukunya ke dalam tas.
"Lebih baik aku mulai berkenalan dengan seisi kelas" ungkapnya lalu mendatangi segerombolan teman sekelasnya yang sedang berkumpul.
"Hei, hei apa yang kalian sedang bicarakan? Apa aku boleh ikut?" ujar Naruto dengan semangat empat limanya. Sontak kebanyakan dari mereka langsung kaget akan kedatangan Naruto.
"A-ahh kami sedang membicarakan tentang pelajaran" ucap salah satu dari mereka
"Apa kalian suka berdandan? atau karaoke? Ayo kita karaoke sepulang sekolah"
"T-tidak, kami tidak suka. Lagipula peraturan sekolah melarang murid-muridnya untuk pergi ke tempat hiburan menggunakan seragam. Kami kebelakang dulu Namikaze-san" balas gadis yang tadi sempat membalas perkataan naruto.
"Eh?" Naruto binggung, tidak mau ambil pusing Naruto melakukan hal yang sama ke teman satu kelasnya yang lain namun hasilnya sama seperti sebelumnya. Mereka memilih menjauh dari Naruto.
"Apa aku perkataanku salah ya?" umpat naruto dalam hati.
Naruto kini sedang berjalan di lorong sekolah, tanpa ia sadari ada yang mengikutinya dari belakang yang langsung menari lengannya. Sontak naruto kaget dengan orang yang menarik lengannya.
"Hey" ucap sosok tersebut
"I-iya? Ada apa?" balas naruto yang masih binggung.
"Percuma kamu berbuat begitu Namikaze-san"
"Eng ... Hyuga-san kan?" ucap naruto bertanya kepadanya. Karena ia tahu wajahnya saat perkenalan di kelas.
"Panggil saja aku Hinata" ungkapnya dengan senyum
"Baiklah Hinata, bisa kamu jelaskan kenapa menarik tanganku? Dan tadi maksudnya percuma itu apa? Pertanyaan kembali dilontarkan Naruto dengan sedikit penasaran, walaupun masih sedikit agak ragu
"Mayoritas siswa dan siswi di sini sudah menjadi bagian tangga sejak SD, dan kau tahu diam-diam aku anak remaja sepertimu" balasnya dengan mengacungkan jempol.
"Rasanya aku mengerti dengan apa yang kau katakan tadi"
"Kau tahu, sejak kecil murid-murid disini terikat oleh peraturan, maka dari itu mereka semua kaku. Kau tau? Saat tadi kamu mendatangi satu persatu murid di kelas. Mereka menolak ajakanmu bukan?"
"Ya kau mungkin tidak tahu siapa dia, dia adalah murid pintar, cantik, dan dia juga sudah menjadi ketua OSIS saat kelas 1 SMA" ujarnya kembali sambil menunjuk seseorang yang dapat dilihat dari jendela koridor
Naruto pun meihat mendekat ke arah jendela dan menuju fokuskan penglihatannya ke arah tunjukan Hinata. Gadis surai merah yang tadi menyita smartphonenya.
"Kabarnya dia juga sudah di tunangkan oleh salah satu guru disini"
"Eh? Benarkah?" ujar Naruto tak percaya.
"Tau guru tadi yang mengajar di kelas kita?"
"Kaka-sensei?"
"Dia adalah orangnya" jawabnya dan kembali menatap Naruto dengan serius.
Tidak percaya adalah kata yang sedang berkecamuk dipikiran Naruto, masih SMA sudah dijodohkan? Apalagi yang menjadi pasangannya adalah gurumu sendiri? Sungguh sulit untuk dipercayai. Naruto kembali menolehkan matanya ke sosok yang sedang menjadi pembicaraannya dengan hinata.
"Yah jangan jadi pikiran, yang terpenting. Karena kita sudah berteman ayo tukaran kontak!" sembari menggenggam smartphone
"Eh smartphone? Kok bisa pegang? Punyaku tadi pagi disita" mengalihkan kembali pandangan ke arah hinata. Hinata yang ditanya membalasnya dengan senyuman dan jempol yang di acungkan kedepan.
"Simple Naruto, kamu hanya harus menyimpannya di tempat aman agar tidak diketahui" ujarnya sembari membuka kancing kemeja dan memasukan smartphone yang ia pegang ke sela payudaranya lalu menutup kembali kancing kemejanya.
"Lihat, aman bukan? Tidak akan ketauan bukan?" senyum hinata.
Naruto yang melihatnya hanya sweatdrop tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.
.
.
.
Langit menampilkan warna orange yang bertanda bahwa matahari akan selesai tugas hari ini yang akan di gantikan bulan dan bintang. Bel pulang pun berbunyi, banyak rombongan murid-murid KHS yang mulai pulang dari sekolah untuk pergi ke kediamannya masing-masing. Ada juga murid-murid yang masih menetap karena mengikuti kegiatan klub atau hanya sekedar beristirahat.
"Naruto ayo pulang bareng" ucap hinata memulai percakapan, orang yang diajak pun hanya mengangguk pelan dan langsung membereskan buku-buku kedalam tasnya. Dan mereka memulai perjalanan pulang dengan jalan santai.
"Nee hinata aku sedikit penasaran, bukannya di sekolah ini ada murid laki-laki? Tapi dari tadi aku tidak lihat tuh. Dan di kelas kita pun tidak ada itu satu pun laki-laki. Paling hanya Kaka-sensei"
"Ahh apa kau mau menarik hati laki-laki Naruto? Ujar hinata tersenyum jahil
"Ish, bukan itu maksudku. Tadi aku pagi lihat kan banyak laki-laki juga yang masuk sekolah. Tapi dari tadi aku tidak lihat tuh, bahkan di koridor yang kita pakai ini pun kosong. Hanya murid gadis dimana-mana"
"Sebenarnya kamu memilih KHS itu asal atau gimana? Apa tidak baca buku pendoman murid? Pasti dapat kan sebelum masuk pun?"
Naruto yang ditanya malah semakin binggung, Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Hinata yang menjadi lawan bicara hanya tepuk jidat tidak percaya.
"Kau ini! Kalau begitu mau ku jelaskan?" tawar hinata, naruto mengangguk setuju.
"Di Konoha Highschool ini ada dua gedung utama. Pertama adalah gedung khusus murid gadis, seperti yang sedang kita injak ini. Lalu gedung kedua adalah gedung khusus murid laki-laki. Kalau tanya, 'kenapa harus dipisah antara murid gadis dan laki-laki' maka jawabannya adalah" Hinata mengantungkan penjelasannya, lalu tatapan menoleh tajam ke arah Naruto yang sudah dibuat penasaran.
"Jawabannya apa hinata? Tanya naruto yang makin penasaran karena Hinata menatap tajam kearahnya
"Aku tidak tau ehehehe..."
"DASAR SIALAN KAU DADA BESAR!" Teriak Naruto dengan histeris.
.
.
.
Selama perjalanan pulang Naruto masih menerawang tentang apa yang dibicarakannya tadi dengan Hinata mengenai alasan KHS membagi dua murid. Sebelumnya Hinata bilang kalau alasan semua itu untuk membuat proses pembelajaran tidak terganggu, karena di umur yang dibilang sedang puncak-puncaknya kasmaran. Biasanya banyak murid-murid diumur sepertinya yang mulai mencoba memiliki pacar dan hal itu mungkin bisa membuat konsentrasi murid menjadi tidak fokus. Mungkin alasan itu cukup masuk akal, diperkuat lagi KHS sendiri sering mengeluarkan murid-murid berprestasi.
"Hahh, yang ada ku bisa gila kalau mikirin ini terus" ujar Naruto yang sudah sampai di depan pintu apartemennya. Karena selama perjalanan ia hanya terfokus dengan pikirannya sendiri jadi tidak sadar kalau ia sudah sampai.
"Tadaimaa …, eh kardus-kardus siapa ini?" terlihat banyak kardus-kardus berlabel 'Jasa pindah Konoha'.
"Okaeri Naru-chan. Kenapa lama sih? Ibu jadi tidak ada yang bantu bebenah" ujar Kushina yang sedang membawa kardus. Sontak Naruto yang melihatnya langsung menyadari kalau didalam kardus-kardus itu adalah barang-barang di rumah lamanya dulu.
"Ah maaf ibu, aku lupa" ujar naruto, ia menyimpan tasnya terlebih dahulu di kamar lalu membantu Kushina bebenah barang.
"Nee ibu, apa sudah beli bahan untuk makan malam?" tanya Naruto sembari membuka isi kardus dan menyimpannya di meja. Kushina yang ditaya hanya bisa membelak kan matanya yang pasti sudah bisa dibaca oleh Naruto jawaban dari ibunya. "Astaga, ibu lupa Naru hehehe" jawabnya, Naruto hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Yasudah, nanti kita supermarket setelah selesai bebenah." Naruto yang mendengarnya mengangguk sebagai jawaban dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
.
.
.
"Nah ibu, apa ini tidak terlalu banyak? Atau ibu yang berlebihan membeli?" Naruto memandang isi keresek belanja yang dibawanya. Kushina yang mendengarnya hanya tersenyum sebagai jawaban. Justru Naruto yang melihatnya hanya memasang wajah tanda tanya.
"Kamu bisa lihat nanti di rumah" jawab singkat Kushina sembari membuat ekspresi 'jangan berisik'. Otak Naruto mencerna maksud dari ekspresi ibunya itu apa. "Jangan dipikirkan, nanti juga kamu tahu. Ngomong-ngomong bagaimana hari pertama di sekolah baru?"
Naruto yang mendengarnya hanya mendengus "Mungkin bisa dibilang biasa, tidak ada yang spesial" jawab Naruto, Kushina hanya bisa ber'Oh ria mendengar jawaban dari anaknya. Setelah itu suasana di antara mereka hening hanya suara dari kendaraan yang berlalu yang bisa mereka dengar.
"Ibu, sejak kita pindah ke apartemen. Aku tidak lihat ayah, memangnya ayah dimana?" tanya Naruto membuyarkan suasana hening. Kushina yang ditanya langsung mengubah arah pandang "Ayahmu pulang kok. Dia ada, hanya saja kamu masih tidur. Soalnya dia pulang kerja larut malam dan berangkat pagi, ya bisa dibilang ayahmu itu Workaholic." Balas Kushina lalu memandang kembali ke depan.
"Hmm ... begitu ya. Ibu boleh aku tanya lagi?" ucap Naruto kembali. Kushina mengangguk sebagai jawaban
"Apakah ibu bahagia?" tanya Naruto, sebenarnya dia agak khawatir dengan pertanyaannya ini. Kushina tersenyum simpul lalu mengacak-ngacak rambut Naruto "Tentu ibu bahagia Naru karena kita bisa menjadi keluarga utuh kembali" jawab kushina, Naruto tersenyum juga karena puas dengan jawabannya.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan apartemen, mereka selama perjalanan hanya membicarakan hal sepele. Namun tanpa mereka sadari dari arah kejauhan dibelakang terlihak sosok gadis berambut merah.
"Naru, hari ini kamu yang buat makan malam ya" ujar Kushina sembari membuka pintu apartemennya lalu keduanya pun masuk, Naruto menganga mendengar itu. "Kenapa aku ibu? Bukannya ibu yang harus buat?" elak Naruto tidak mau kalah, karena kemarin ia sudah melakukan itu.
"Ya bisa dibilang buat merayakan kedatangan adikmu hari ini, sebagai kakak kan harus bertanggung jawab" senyum jahil kushina yang sontak membuat Naruto kalah bicara. "Eh adik?" tersadar dari apa yang dibicarakan ibunya"
Cklekk
Pintu apartenen pelahan-lahan terbuka dan menampilkan sosok gadis berambut merah. Sontak Naruto yang mendengar pintu terbuka langsung mengalihkan pandangnya ke belakang yang tidak jauh dari suara pintu.
Padangan gadis berambut merah dan Naruto bertemu dan saling tatap beberapa saat. "Tadaima" ucapnya. Naruto hanya mengaga dan membulat kan matanya terheran dan masih mencerna kejadian ini.
"Hahhh? Ehhhh k-kenapa k-kamu ada disini!"
"Salam kenal, aku Naruko Namikaze. Senang bertemu dengan Anda Ibu" balas gadis itu tidak mengacangkan Naruto disebelahnya lalu melirik kembali ke arah Kushina sembari membungkukkan badan sebagai hormat.
Kushina yang melihatnya langsung melepaskan barang belanjaan yang dipegangnya dan berlari ke arah Naruko, dengan cepat ia memeluknya dengan erat. "Jangan terlalu formal begitu, aku ini ibumu. Lama tidak bertemu Naruko" ujar kushina sembari mengelus-elus rambut Naruko yang panjang. Naruto yang melihat mereka didepannya masih binggung mencerna semua ini.
Hangat sekali, apakah ini rasanya dipeluk oleh seorang ibu.
.
.
.
Saat ini di ruangan makan yang menyatu dengan ruangan keluarga tengah duduk tiga orang yang sedang menikmati makanan. Ya makanan yang dibuat oleh Naruto dengan setengah ikhlas karena maksud ibunya 'nanti juga kamu tahu' itu ini.
"Nah Naruko, ini masakan yang dibuat oleh kakakmu Naruto. Oh iya ibu lupa mengenalkanmu, yang disebelahmu ini kakakmu namanya Naruto" ucap Kushina sembari menunjuk Naruto. Naruko hanya mengangguk mengerti.
Naruto memalingkan wajah tidak suka, karena dari tadi ibunya hanya terfokus ke Naruko. Dan mungkin Naruto juga masih kesal atas perlakuan Naruko yang ternyata adiknya tadi pagi, bayang-bayang saat pagi kembali terukir di pikiran Naruto, yang mengigat tentang aroma harum dari adiknya itu. "Eh apa yang aku pikirkan!" ucapnya dalam hati langsung menggelengkan kepala.
"Bagimana dengan kegiatan OSISnya? Apakah berjalan lancar? Pasti berat bukan sampai harus pulang malam?" Tanya kushina kembali.
"Iya, aku sudah terbiasa dengan hal itu" balasnya yang mengambil pisau dan garpu.
"Syukurlah, ibu harap kamu selalu baik-baik saja Naruko. Dan ternyata benar ya apa kata ayahmu, Naruko sangat mirip sepertimu. Hanya saja rambut merahnya menurun dari ibu" ujar ibunya sembari tersenyum.
Naruto yang mendengarnya langsung menoleh bangku sebelahnya. Dan tanpa ia sadari Naruko menatap tajam dirinya dengan keadaan kedua tangan memegang pisau dan garpu, dengan cepat ia melesatkan kembali pandangannya ke awal. "Seram seram! Dia melototi aku loh!"
Kushina yang melihatnya hanya tersenyum bahagia. "Nee Naruko, sebelumnya kamu tinggal bersama Nenekmu kan? Kenapa tidak bersama ayah?" tanya kushina kembali
"Iya aku tinggal bersama Nenek sejak kecil di rumahnya. Ayah selalu bekerja jadi nenek sendiri yang menyuruh untuk tinggal denganya, lagipula aku sudah lama tidak bertemu ayah" jelas Naruko panjang dan kembali melanjutkan acara makannya
Kushina dan Naruto mendengar itu kaget tidak percaya. "M-maafkan ibu Naruko, ibu tidak tahu" ucap kushina merasa bersalah atas pertanyaannya tadi
"Tidak apa-apa ibu" balas Naruko singkat.
Naruto POV
Hehh, jadi begitu. Karena ayah yang sering bekerja dan tidak meluangkan waktu membuatnya harus tinggal dengan nenek. Aku jadi senang karena dulu ibu mengambilku, aku tidak bisa membayangkan bagamana rasanya kalau aku yang di ambil ayah.
Normal POV
Setelah acara makan malam mereka telah selesai masing-masing dari mereka langsung melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Kushina membersihkan piring-piring kotor, Naruto yang pergi untuk mandi dan Naruko yang masuk ke kamar Naruto karena mereka tinggal sekamar jadi itu adalah kamarnya juga.
Cklekk
Pintu terbuka dan menampilkan Naruto yang menggenakan handuk di kepalanya, dia masih tidak suka dengan sikap adiknya ini. Memang secara kasat mata, mereka itu mirip. Namun ternyata sikapnya berbeda 'sangat dingin'.
"Kalau mau mandi kamu bisa pakai kamar mandi sekarang. Aku sudah selesai" ujar Naruko membuka obrolan. Namun sayangnya tidak ada jawaban, hanya diam. Naruko tidak membalas hanya fokus membaca buku dengan cepat membolak-balikan halaman demi halaman lalu menutup kembali dan memasukannya kedalam tas.
Naruto yang di kacangi beranjak masuk dan menutup pintu dan mendekati Naruko. "Hei apakah kamu suka dengan-" belum selesai menyelsaikan pertanyaan Naruko membalikan badanya karena kedatangan Naruto. "Ish,apa-apaan maksud sikapnya itu" ujarnya dalam hati.
Mata Naruto melihat gantungan kunci berbentuk rubah dan langsung menemukan lagi pertanyaan agar bisa sekedar berbicara dengannya "Hehh gantungan kunc-" uajrnya belum selesai mengucapkan lagi-lagi Naruko mengalihkan pandangannya.
Naruto yang mulai risih dengan keadaan ini langsung berjalan dan menatap kebawah karena Naruko posisinya yang masih terduduk. Naruko hanya menatap dengan wajah datar.
"Ya aku tahu mungkin kamu juga binggung, aku pun sama karena banyak hal yang terjadi dan membuat kita canggung buat mengobrol"
"Tapi yang jelas kita tidak bisa seperti ini terus karena kita ini saudara" lanjut naruto sembari memberikan juluran tangan ke arah Naruko.
Naruko yang melihat tersebut langsung menerima juluran tersebut, tapi bukan untuk bersalaman. Namun menarik uluran tangan Naruto dan langsung berdiri sembari membawa tas di tangan sebelahnya. Dan langsung mengacuhkan Naruto dan berjalan menuju meja belajar miliknya. "Diacuhin lagi! Kalau begitu maumu aku akan buat kamu bicara walaupun harus menyindir" ujar Naruto dalam hati.
"Aku binggung melihat murid unggulan KHS seperti ini. Bahkan di hadapan kakaknya sendiri seperti ini" ujar Naruto yang duduk di futon miliknya.
"Lalu bagaimana ya kalau murid-murid lain tahu kalau ketua OSISnya seperti ini" ujarnya berharap kalau Naruko akan bereaksi lebih, namun sayangnya tidak. "Kalau begitu tidak ada pilihan lain" ucap Naruto dalam hati.
"Ketua OSIS yang didambakan oleh seluruh murid itu seperti ini ya. Oh iya bagaimana kalau mereka tahu bahwa ketua OSISnya ini sudah memiliki tunangan, dan yang menjadi pasangannya adalah gurunya sendiri." Lanjut Naruto mengejek, dan ternyata itu membuahkan hasil. Naruko yang awalnya sibuk dengan tasnya kini diam membeku. Naruto tersenyum licik "Kena kau" ucapnya dalam hati. Lalu Naruto membalikan badanya.
"Ahhh, kalau mungkin sudah bertunangan pasti ketua OSISnya ini pasti sudah melakuka hal Gila bersama pasangannya. Mungkin lebih dari dari pelukan atau ciuman bibir atau berakhir di ranjang. Bagaimana ya rasanya dicium mesra. Lalu bagaimana kalau ibu dan ayah tahu mengenai ini" lanjut mengejek Naruto.
Namun tanpa disadari Naruko perlahan-lahan mendekati Naruto yang sejak dari tadi mengejeknya. Dan kini ia sudah ada di dekatnya dan langsung memutarkan tubuh Naruto dan mendorongnya. Sehingga keadaan mereka saat ini adalah Naruto di bawah dan Naruko di atas Naruto dengan kedua tangannya yang dikunci oleh tangan Naruko.
"A-apa yang kau lakukan! Lepaskan!" berontak Naruto, seolah tuli Naruko malah mendekatkan wajahnya ke Naruto. Naruko mencium bibir Naruto dengan kasar, membuat orang yang dicium terkejut dengan apa yang dilakukan.
Naruto masih berusaha untuk berontak, ia mendorong dan menggoyangkan tubuh Naruko. Tapi usahanya sia-sia karena tenaga yang digunakan Naruko terlalu kuat. Tenaganya perlahan-lahan melemas karena ciuman panas yang dilakukan Naruko. Hanya eranganlah yang bisa didengar.
Setelah beberapa mereka ciuman, Naruko perlahan-lahan merenggangkan kuncian tangannya dan berdiri. "Seperti itulah rasanya ciuman" ujar Naruko pelan dan beranjak pergi keluar kamar.
Naruto yang menjadi korban ciuman oleh adiknya masih terengah-engah membutuhkan pasokan udara. Wajahnya merona merah, dia masih tidak percaya apa yang telah terjadi kepadanya.
"Ciuman pertamaku, diambil oleh adikku sendiri!"
TO BE COUNTINUED
POJOK AUTHOR
Jujur aja ingin agak di panjangin waktu scene panasnya cuman susah buat merangkai kata-katanya :'v tapi next update pasti bakal dibuat lebih awokawokawok ...
MIND TO RIVIEW?
