LOVE DATA
By
Aiharasenkreutz
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Drama, Romance
Rating : M
Warning : Yuri Alert! Incest, Typo and Miss, Alur berantakan, mudah ditebak (mungkin), FemNaru, Etc.
Chapter 3 : FATHER : I
Summary :
Naruto kadang memikirkan, bagaimana sih rasanya memiliki kekasih? Lalu bagaimana rasanya ciuman pertama?
"Seperti itulah rasanya ciuman" ujar Naruko pelan dan beranjak pergi keluar kamar.
Naruto yang menjadi korban ciuman oleh adiknya masih terengah-engah membutuhkan pasokan udara. Wajahnya merona merah, dia masih tidak percaya apa yang telah terjadi kepadanya.
"Ciuman pertamaku, diambil oleh adikku sendiri!"
START
Naruto terbangun dari tidurnya. Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya membuatnya menyilangkan mata dengan kedua matanya. Dia masih teringat akan kemarin, dimana dirinya menjadi korban ciuman oleh adiknya sendiri.
"Naru, Sudah bangun belum? Ayo sarapan" ujar kushina di balik pintu kamarnya. Naruto yang mendengarnya langsung berdiri dari futonnya dan membuka pintu kamar.
"Iya aku bangun" jawab Naruto sembari mengucek-ngucek matanya.
"Cepat sarapan, nanti kita semua pergi ke mall" ujar Kushina lalu pergi.
Naruto tidak menjawab dan langsung pergi melesat ke arah ruang makan. Namun nyatanya sudah duduk adiknya yang sedang minum secangkir teh. Naruto langsung duduk di bangku sebelahnya. Tidak ada yang memulai percakapan diantara mereka, masing-masing diam dan menikmati kegiatan makannya.
"Canggung banget loh! Apa aku yang harus mulai obrolan?" ungkap Naruto dalam hati. Dengan tekad penuh akhirnya dia memutuskan untuk memulai obrolan "N-nah Naruko, boleh tanya sesuatu?" tanya Naruto sembari mengalihkan perhatiannya ke samping. Namun sayangnya tidak ada jawaban dari orang yang ditanyanya.
"Kampret! Diacuhin lagi" ungkap Naruto dalam hati
"Selsaikan dulu makannya dan nanti kau boleh tanya" balas Naruko yang masih melanjutkan acara makannya. Naruto yang mendengarnya langsung tersenyum simpul "Benar-benar hidup penuh aturan" ungkap Naruto dalam hati dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Jadi mau tanya apa?" tanya Naruko tanpa mengalihkan perhatiannya.
"K-kemarin itu, maaf jika membuatmu tersinggung dan soal ciuman yang-"
"Anggap saja itu tidak pernah terjadi" ungkapnya cepat lalu meninggalkan ruang makan.
"Semudah itu lupain hal ini?"
.
.
.
Hari minggu mungkin dijadikan hari untuk bersenang-senang bagi semua orang, karena rata-rata dari mereka dapat merehatkan diri di rumah atau hanya sekedar berpergian refreshing. Namun tidak bagi Naruto yang kini sedang berada di Mall ternama di kota konoha.
"Apa cuman aku disini yang memikirkannya terlalu berat?" guman Naruto yang mungkin hanya bisa didengarkan oleh dirinya sendiri.
"Ada apa Naru? Kok malah murung?" tanya Kushina yang memperhatikan Naruto yang lesu, Naruto hanya menjawab dengan gelengan kepala yang langsung dimengerti oleh Kushina.
"ibu kita mau kemana?" tanya naruto mengalihkan pandangan ibunya agar tidak semakin khawatir. "Ke tempat yang mungkin akan kamu suka Naru" jawabnya sembari tersenyum dan kembali.
Tiga perempuan bermarga Namikaze berjalan bersamaan, tidak ada yang memulai percakapan diantaranya hanya suara bising sekitar yang terdengar. Kini mereka sampai di toko pakaian. Naruto yang awalnya hanyut dalam pikirannya langsung senang karena tidak menyangka ibunya mengajak ke toko pakaian, Kushina yang melihat perubahan raut wajah anaknya tersenyum simpul.
"Aku harus pilih yang mana yah?" riang Naruto yang bicara sendiri. Yang awalnya senang melihat pakaian yang dibandingkan beralih kepada Naruko yang sedang berada di daerah pakaian dalam "Pakaian dalam?" pikir Naruto langsung mendekati.
"Binggung mau pilih yang mana?" tanya naruto yang sudah ada di belakang Naruko. Naruko yang merasa ditanya sontak membalikan badannya dan langsung mengangguk sebagai jawaban, Naruto yang melihatnya tersenyum "Biar kupilih. Apa ada corak atau warna yang kamu suka?"
"Tidak ada" jawabnya cepat. Naruto yang mendapatkan jawaban dingin hanya bisa menghembuskan nafasnya "Penyesalan memang datang di akhir" sesalnya dalam hati lalu memilih-milih pakaian di depannya.
"Aku mungkin kurang tau apa warna atau corak yang kamu suka, tapi mungkin kamu suka dengan yang ini" ungkap Naruto memberikan pakaian dalam dengan warna orange berenda putih.
"Kalau kurang cocok kamu tid-"
"Aku ambil, terima kasih" potong Naruko lalu pergi meninggalkan kakaknya yang masih dibuat menganga.
"Hah? Tunggu kau mau ambil itu?" ucap Naruto mengejar Naruko.
"Apa yang salah?" Tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Yah tidak juga sih, maksudku gini. Kamu bahkan tidak pikir-pikir dulu langsung ambil, kan kalau gak suka nanti sayang bukan?" ucap Naruto menerangkan sembari menatap Naruko yang masih menatap lurus. "Hey Naruko kamu dengar kan? Hey!" tanyanya lagi namun bukan jawaban yang diterima Naruto melainkan tatapan tajam dari Naruko.
Naruko berbalik melentangkan tangannya ke bahu Naruto dengan tatapan tajam membuat orang yang ditatapnya bergidik ngeri, perlahan-lahan Naruto mundur kebelakang karena Naruko yang mulai mendekatinya "N-naruko kenapa, kok maju?" ucapnya dengan terbata-bata namun tidak ada balasan dari gadis didepannya yang semakin dekat dengannya.
Naruto semakin takut ketika dia sadar kalau di belakangnya terasa benda kokoh yaitu tembok. "N-naruko?" ungkapnya, namun seolah tuli Naruko menyentuh pipi putih Naruto yang membuat orang disentuhnya bergidik ngeri. Tidak peduli dengan orang di sekitarnya Naruko mendekatkan wajahnya ke Naruto. Gadis itu mencium bibir Naruto dengan lembut, membuat orang yang diciumnya terkejut dengan apa yang dilkukan oleh adiknya itu. Naruto mendorong tubuh Naruko lalu menatapnya.
"A-apa yang kau lakukan!"
"Hanya membuatmu diam" jawabnya lalu menjauhkan diri dari Naruto yang bisa dilihat kedua pipinya memerah, melihat itu Naruko hanya tersenyum tipis dan pergi meninggalkan Naruto yang masih dibuat binggung.
"Sebenarnya apa yang dipikirinnya sih! Gimana kalu ada orang yang lihat! Dan kenapa aku dicium lagi!"
.
.
.
Setelah selesai acara belanja, kini keluarga Namikaze menuju perjalanan pulang ke apartemen mereka. Selama perjalanan Naruto hanya diam karena merasa ibunya tidak adil, ia disuruh membawa barang belanjaan. Awalnya Naruto menolak karena dia tidak mau membawa, namun dengan terpaksa ia menurti suruhan ibunya.
"Hanya karena aku kakaknya, aku harus bawa belanjaan sebanyak ini" sesal Naruto dalam hati. Ia melihat ibunya yang fokus berbincang dengan adiknya, ia bisa melihat raut wajah senyum dari wajah Naruko. "Apa-apaan, kalau dengan ibu dia malah nampilin wajah kayak gitu"
"Tadaima!" ucap kushina membuka pintu apartemen dibarengi kedua anaknya. Mata kushina tertuju pada sepatu yang ada didalam "Kok ada sepatu?" ucapnya. Namun tanpa mereka sadari ada seseorang yang membuka pintu dari salah satu ruangan dan keluar sosok pria jabrik berambut pirang "Kalian sudah pulang ternyata" ujar sosok pria yang mendekat.
"Minato!" ujar kushina yang langsung melesat dengan cepat dan memeluk pria tersebut. Melihat itu Naruto hanya senyum karena bisa melihat kebahagiaan yang tersurat dari ibunya. Namun berbeda dengan Naruko, dia hanya diam tidak berekspresi sedikitpun.
"Aku pulang Kushina" ucapnya tersenyum dan mencium bibir Kushina lembut. Melihat hal itu Naruto hanya tersipu karena melihatnya "Ayah! Ibu!,kalian gak sadar apa ada anak-anaknya didepan mereka" ujarnya dalam hati.
"Mmm rasa strawberry, kalian habis dari mana?" tanya Minato
"Dari Mall beli beberapa pakaian, sekalian beberapa perabotan tambahan. Tenang saja aku beli sesuai dengan kebutuhan kok. Lagian aku pilih yang diskon" jawab Kushina dengan semburat merah di wajahnya.
Minato hanya mengangguk paham, dan perhatiannya menuju ke arah dua anak kembarnya yang menatapnya.
"Kok diem? Apa gak kangen ayahnya pulang?" tanya Minato
"Memang kami tega apa lihat pasutri yang lagi asik adegan kangen-kangenan " ujar Naruto sweatdrop. Minato yang ditanya balik hanya tertawa renyah menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal. Minato menatap Naruko yang masih diam tidak ikut suasana.
"Naruko, ayah bawa sesuat-"
"Aku duluan, permisi" potongnya lalu berjalan melewati dan masuk kedalam kamar. Suasana pun hening.
"Rasanya ada yang gak beres disini"
"Ah lebih baik kita masuk dulu, tadi aku beli beberapa kue. Kita makan dulu ayo" ujar Kushina memecahkan suasana.
.
.
.
"Mmm, manis!" riang Naruto
"Cuman sayangnya nanti kamu bisa gemuk loh, makanan manis seperti ini kalorinya gak main-main" ujar minato menakuti.
"Aku masih dalam masa pertumbuhan, jadi yang manis-manis itu penting buatku" balas Naruto tidak mau kalah, sedangkan pendengar hanya bisa sweatdrop.
"Ayah, maaf kalau aku salah tanya. Sepertinya hubungan ayah sama Naruko kurang baik yah?
"Kamu sadar yah Naru" balas Minato yang langsung diberi anggukan oleh Naruto.
"Sebenarnya Naruko itu awalnya periang loh sama seperti kamu. Mungkin karena aku juga dia jadi bersikap dingin"
"Tidak perlu menyalahkan diri sayang, aku tau ini juga ada maksudnya bukan? yah walaupun aku kurang tau detailnya" kushina yang kembali melahap kuenya.
"Dulu aku sering meninggalkannya dirumah sendiri karena urusan pekerjaanku, apalagi dulu sempat ada masalah yang cukup rumit di perusahaan yang mengakibatkan perusahaan merugi cukup besar. Yah mungkin kau juga tau akan masalah itu kan Kushina" ujar minato yang lalu menatap intens Kushina.
"Penurunan karena produk smartphone yang bisa dibilang gagal karena design yang menjauh dari karakter perusahaan bukan?" Kushina berhenti memakan kuenya lalu menatap sendu suaminya.
"Mmm... Sebenarnya aku kira ini mungkin gebrakan baru untuk mencoba hal baru. Namun sayangnya banyak dari konsumen yang membeli mengeluh akan design baru itu dan menyebarkan unek-uneknya ke media sosial dan akhirnya produk kita terjual hanya 10% di pasar global dan merugi sehingga di beberapa negara perusahaan harus hengkang. Aku dulu sempat binggung mana yang harus aku pilih, Anakku atau Perusahaanku. Saat itu aku pusing memikirkan itu dan sialnya tiba tiba Naruko datang menghampiriku untuk sekedar bincang-bincang tapi yang ada aku malah memarahinya. Sebenarnya bukan sekali atau dua kali aku memarahinya, mungkin tidak terhitung bahkan aku pernah memukulnya. Kemarahanku saat itulah yang membuatnya berbeda, dia jadi menjauhiku. Perusahaan akhirnya kembali membaik, namun sayangnya hubungan dengan anakku malah semakin menjauh, yang ada aku malah menyesal. Maafkan aku Kushina karena tidak bisa mendidiknya cukup baik"
"Tidak apa-apa sayang aku mengerti" ujar Kushina mengenggam tangan Minato sekedar menenangkan diri karena tidak tega melihat suaminya menyalahkan dirinya sendiri.
"Jadi begitu kenapa dia selalu bersikap dingin"
"Aku permisi dulu, mau ke kamar" ujar Naruto lalu meninggalkan kedua orang tuanya dan pergi ke kamarnya.
Sesampainya di pintu kamar Naruto mengetuk pintu "Naruko aku masuk yah" secara perlahan-lahan membuka pintu kamar dan ia bisa melihat Naruko yang sedang duduk di futonnya. Dengan perasaan yakin Naruto mendekatinya dan tidak lupa untuk menutup pintu lagi "Apa tidak mau makan kue yang dibeli tadi?" tanya Naruto namun hening yang didapatnya.
"Rasanya enak loh, tadi aku coba sepotong" ujarnya lagi, namun masih belum ada jawaban.
"Ayah dan Ibu khawatir jadi ayo ke-"
"DIAMLAH!" teriak Naruko yang membuat Naruto kaget.
"Semuanya sudah berakhir" ujarnya kembali
"Maksudnya?"
"Berniat untuk memaafkan apa yang dilakukan oleh ayah kepadaku karena ia menyesal?"
"Yah mungkin, tapi asalkan kamu tau. Sebenarnya ayah itu selalu memperh-"
"TAU APA KAU SOAL KEHIDUPANKU!" teriak Naruko yang kembali memotong ucapan Naruto.
"Selalu memperhatikan? Heh tidak kusangka dia selalu memperhatikan ku. Padahal aku sempat berpikir kalau dia sudah tidak menganggap ku" balasnya lalu berdiri dan menghadap ke arah Naruto. "Aku sebenarnya sudah tau kalau aku memiliki saudara kembar saat umur ku 5 tahun. Aku selalu memeriksa ruang kerja ayah dan tidak sengaja menemukan foto dan beberapa berkas tentang kelahiranku. Aku sudah diceritakan semuanya oleh nenek. Dan kau adalah kakakku" ujarnya lagi sembari menunjuk ke arah Naruto.
Naruto yang mendengar itu tersentak mendengar pernyataan Naruko. Naruko yang melihat perubahan raut wajah Naruto tersenyum tipis dan mulai mendekat dengan perlahan-lahan "Aku iri padamu Naruto, kenapa dulu bukan aku yang diambil oleh ibu" ujarnya kembali yang kini berhadap-hadapan dengan Naruto.
"Mungkin kalau aku yang diambil oleh ibu. Aku bisa merasakan apa itu rasanya kasih sayang dan kau bisa merasakan apa itu penderitaan" ucapnya Naruko dengan air mata yang mulai mengalir. Naruto yang melihatnya membulatkan matanya karena baru kali ini dia melihat orang yang begitu dingin menangis di depan matanya.
"Rapuh" Ujar Naruto dan langsung mernarik tangan Naruko dan langsung memeluknya. Dia sadar mungkin ini akan membuat orang yang dipeluknya kaget, namun sebagai kakak dia bisa merasakan apa yang dirasakan adiknya ini. Namun hanya inilah yang bisa membuatnya tenang.
"Aku mungkin tidak bisa merasakannya, tapi aku tau itu pasti sangatlah sakit" ujar Naruto kembali sembari mengelus rambut panjang Naruko dengan lembur. Tidak ada penolakan hanya tangisan yang semakin menjadi.
Cukup lama mereka berpelukan dan akhirnya Naruko yang merasa sudah lebih baik mencoba keluar dari pelukan Kakaknya, Naruto yang paham segera melepaskan rangkulannya dan menatap penuh Naruko sehingga orang yang ditatapnya mengalihkan pandang karena malu.
"Cukup aneh juga melihat orang yang dingin sepertimu menangis seperti ini. Dan juga matamu itu sembab loh " ujar Naruko dengan tawa kecilnya dan mengacak-ngacak pucuk rambut merah orang didepannya.
Merasa diperlakukan seperti anak kecil Naruko langsung menatap tajam Naruto dan menarik tangan Naruto lalu membaringkannya dengan terlentang di futon milik Naruko dengan kasar sehingga membuat Naruto meringgis kesakitan atas perlakuan adiknya itu.
"Oy-oy aku hanya bercanda dan kenapa duduk dia atasku" Naruto memberontak mencoba untuk bangun namun kedua tangan Naruto dikunci oleh kedua tangan Naruko.
Naruko tidak menjawab perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Naruto lalu mencium bibirnya dengan lembut. Rona merah muncul di wajah Naruto seakan menambah kesan manis dari dirinya.
"Balasan karena menghidupkan singa yang kelaparan" Ujar Naruko.
"Ap-apa yang-" jawab Naruto yang dipotong kembali oleh Naruko dengan kembali mencium bibir Naruto.
Tangan Naruko yang awalnya mengunci tangan Naruto kini berjalan menuju leher mulus milik Naruto, merasakan betapa lembutnya kulitnya lalu turun menyentuh dada Naruto yang ukurannya mungkin tidak jauh beda dengan miliknya. Lembut rasanya, bahkan awalnya Naruto mencoba berontak kini mengeluarkan erangan pelan dari mulutnya karena tertutup oleh ciuman. Naruko melepaskan ciuman dan terlihat benang saliva diantara mereka ia ingin mendengarkan erangan leluasa dari mulut kakaknya ini.
"Na-naruko a-apa yang kau l-lakukan ..." ucap Naruto tidak beraturan dengan napas yang berat
"Kupikir kau menyukainya"
Naruko kini kembali meremas kedua dada milik Naruto sehingga mau tidak mau erangan terdengar kembali dari mulut kakaknya ini. Naruto dengan sekuat tenaga menahan erangannya dengan menutup mulutnya oleh kedua tangannya namun nyatanya tetap tidak bisa erangan masih bisa terdengar. Naruko yang melihat kakaknya mulai menikmati perlakuan yng dilakukannya tersenyum iblis karena dia bisa menguasai sang kakak, puas dengan meremas dada kini tangannya turun menuju area 'mulut bawah Naruto' dan ternyata sudah basah "Menikmati sentuhanku heh?"
"Ma-mana mungkin b-bodoh!"
"Lalu ini apa?" balas Naruko memperlihatkan cairan bening. Naruto yang melihatnya langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
"MUNAFIK!" teriak Naruko kembali memainkan tanganya di bagian bawah Naruto bahkan kini ia memasukan jarinya kedalam dirinya, erangan terdengar jelas keluar dari mulut Naruto karena ia kaget ada benda masuk ke dalam dirinya. Naruko bisa merasakan jarinya terasa hangat di dalam milik kakaknya bahkan kini jari-jarinya bergerak nakal di dalamnya.
"Aahn! N-naruko ku-kumohon jangan h-hentikan ..." pekik Naruto
Tidak membalas perkataan dari kakaknya Naruko semakin cepat menggerakan jarinya nakal di dalam Naruto, tangan satunya tidak tinggal diam. Naruko mencoba menaikan kaos baju yang dikenakan dan tidak lupa menarik bra yang dikenakannya lalu terpampanglah payudara indah miliknya dengan kedua putingnya yang mengeras lalu memilinnya. Erangan Naruto semakin menjadi-jadi bahkan ia sudah tidak peduli dengan perlakuan adiknya yang ia tau itu salah, naruto sudah terbuai dengan kenikmatan yang dibuat oleh adiknya.
"Ahhnhh ... ahhhnhh ..."
"Akhirnya kau menikmatinya"
"Ahhnn Nar-Naruko aku m-mau keluar, ahhnnh ..."
Naruto merasa dirinya akan mecapai batas. Melihat dari gelagat tubuh kakakny Naruko seakan mengerti ia semakin cepat menggerakan jarinya dan tidak lupa untuk menciumi leher dan payudara miliknya untuk diberi tanda merah.
"Ak-aku K-keluar !"
Naruto sudah mencapai batas dengan nafas yang terengah-engah. Naruko merasakan jarinya seperti dibanjiri oleh cairan hangat, ia melepaskan jari di dalam Naruto lalu tersenyum, dihadapan Naruto ia menjilat jarinya dengan sexy bahkan Naruto tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Manis" ujar Naruko.
Setelah cukup puas menjilati jarinya Naruko kembali mendekati wajah Naruto lalu menicum bibirnya. Kini tidak ada penolakan dari Naruto karena ia terlalu lelah untuk menolak perlakuan dari adiknya. Hanya ciuman singkat yang dilakukannya lalu beralih ke telinga milik Naruko dan menjilatinya dan erangan kembali terdengar.
"Jangan harap ini sudah berakhir Kakak"
TO BE CONTINUED
POJOK AUTHOR
Fiuhh, akhirnya selesai juga buat chapter 3. Bodo amatlah dengan jalan ceritanya entar juga bisa nyambung yang penting apa yang terlintas dari imajinasi liar awokawokawok :v kenapa telat update? sibuk gawe kampret :'v tapi bakal aku usahain buat updat seminggu sekali atau sehari sekali 'jangan harap'.
Kalo gitu mari kita balas Riview
Uyesst : "wah" wah apanya :v
Guest : "Alay lu" Yah aku setuju emang alay banget, apa bener kalo di dunia nyata kek gini tuh ada :"
Uwuw : "Lanjutin!" Pastinya!
Uciha : "Citrus Woii" Yap emang bener, mangkannya waktu chapter 1 kan aku sebutin "Udah ketebak yah" maka dari itu, sebenernya ini terinspirasi dari CITRUS sih. Mungkin ntar aku kasih tanda aja "INSPIRED BY CITRUS"
Neo : "First, gw liat ada Naruto sama Naruko di daftar karakter. Menjadi tertarik dengan cerita ini.
Second, tag 'incest' terlihat ketika gw baca bagian awal. (Apalagi kembar)
Third, sinopsisnya juga membuat gw penasaran.
And finally. Kecewa merasuki bagaikan lagu "apa yang merasuki mu" yang di sponsori tim gagak hitam :"v
Gara" Femnaru, bukan sesuatu yang berat, tapi gw lebih mengharapkan yang ORI.
But i think it's okay (maybe... Uh)
Yeah daripada FemnaruxSasuke yuck
Tidak seperti aku membencinya, tapi hanya tidak suka(tidak seperti aku wajib untuk membacanya juga)
Mungkin hanya itu.
Oh wait, mungkin satu saran(biar nggk di anggap reader koplok sih)
Untuk menghidupkan suatu karakter. Pelajari, imajinasi kan dan jadilah karakter itu.
Lihat sifatnya dan perannya, mungkin hambar atau mencolok dengan karakter lain.
Bayangkan karakter itu seperti apa yang kau harapkan.
Dan yang terakhir anggap dirimu di posisi si karakter(cukup merepotkan ya)
Okay, salam ikkeh ikkeh :"v" MAKASIH SARANNYA AWOKAWOKAWOK, harap maklum lah namanya juga pemula. cuman kalo bisa ajari aku bagaimana caranya memahami itu :v tapi pasti bakal ku coba ARIGATO salam ikkeh-ikkeh :v
DAH GITU AJA
