Sunshine in the Strom

By Malfoy1409

Standard Warning

Happy Reading

-o-

.

.

.

Flashback.

'Ayo pikirkan sesuatu yang bagus untuk kau bicarakan Sasuke!' Batin Sasuke berbicara.

Sasuke masih terdiam meskipun Hinata sudah memasang wajah bingungnya di depan Sasuke.

"Sasuke-kun?" Mencoba memecah kebisuan Sasuke

"Bisakah kau menemaniku membeli beberapa pasang pakaian di pasar?" Akhirnya Sasuke bersuara.

-o-

.

.

.

.

Sasuke dan Hinata sekarang berada di sebuah pasar yang tidak jauh dari penginapan mereka. Meskipun sudah malam, pasar ini masih buka masih terbilang ramai. Hinata pada awalnya cukup terkejut saat Sasuke meminta untuk menemaninya membeli beberapa pakaian. Sasuke sendiri bingung kenapa dari sekian banyak alasan yang ia bisa pakai, justru meminta Hinata menemaninya untuk membeli beberapa pasang pakaian.

'Bodohnya aku' Batin Sasuke

Sasuke dan Hinata mengunjungi beberapa penjual pakaian disana. Meskipun mereka tidak membawa daun waktu Konoha, mereka harus tetap waspada dan berhati-hati karena musuh dapat menyerang kapan saja.

"Jangan terlalu jauh dariku" Ujar Sasuke lalu menggenggam tangan Hinata

Entahlah.. ini hanya trik Sasuke untuk memegang tangan Hinata atau memang ia merasa perlu untuk menggandeng tangan Hinata demi keselamatan gadis itu.

"E-Eh?" Hinata merona namun ia tidak berani protes.

Hinata membantu Sasuke untuk memlih pakaian sederhana dan cocok pada tubuh pemuda itu. Harus Hinata akui, Sasuke memiliki bentuk badan yang sempurna, ia cukup bingung saat memilih baju untuk Sasuke karena semua baju terasa cocok di tubuh pemuda tersebut. Sasuke sendiri merasa cukup salah tingkah, ia bahagia namun ia takut jika Hinata melakukan semua bantuan ini hanya untuk Naruto… Karena Sasuke sahabat dari Naruto, cinta pertama Hinata.

"Aku rasa dua baju ini yang paling cocok untuk Sasuke-kun. Bagaimana menurut Sasuke-kun?"

"Hn" Sasuke lalu mengambil baju tersebut dari tangan Hinata dan akan langsung membayarnya.

Saat Sasuke membawa baju tersebut untuk ia bayar, ia sempat melihat satu baju untuk perempuan yang menarik minatnya. Ia menghampiri baju tersebut dan langsung mengambilnya tanpa berfikir panjang dan langsung membayarnya.

"Apa kau mau minum sesuatu yang hangat?" Tanya Sasuke

'Sekarang aku terlihat seperti mengajaknya kencan' Kata Sasuke dalam hati.

"E-Eh? Kita tidak langsung kembali ke penginapan?" Tanya Hinata

Sasuke sempat berfikir jika Hinata menolak ajakannya, namun Sasuke ingin bersikap egois. Ia tidak ingin kehilangan momen kebersamaannya dengan Hinata.

"Aku sedang ingin minuman hangat, kau tidak lupa kan kalau aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini?"

Hinata menundukan kepalanya sesaat, ia merasa sedikit bersalah kepada Sasuke.

"Ma-Maaf. Baiklah, aku juga ingin minuman hangat" Hinata mengatakan hal tersebut seraya tersenyum tulus kepada Sasuke.

Hati Sasuke menghangat saat Hinata tersenyum padanya. Sasuke kembali menggenggam tangan Hinata dan mengajaknya mencari tempat penjual minuman hangat. Wajah Hinata memerah sepanjang perjalanan mencari tempat penjual minuman hangat. Ada hal aneh yang Hinata rasakan saat Sasuke menggenggam tangannya.

"Bagaimana kalau disini?" Sasuke berhenti di depan kedai ocha. Hinata yang sebenernya hanya mengikuti Sasuke hanya menganggukan kepalanya.

"Kau tidak marah?" Tanya Sasuke saat mereka sudah duduk dan memesan ocha.

"Ma-Marah? Kenapa aku harus marah?" Tanya Hinata bingung

"Kau sepertinya terpaksa ikut denganku kali ini?" Ujar Sasuke

"Ti-Tidak! Aku senang bisa menemani Sasuke-kun" Jawab Hinata dengan nada yang gugup.

Sasuke hanya menarik sudut bibirnya sedikit. Hinata merasa jika ia harus memulai pembicaraan untuk meruntuhkan segala kecanggungan diantara mereka.

Saat Hinata ingin memulai pembicaraan, Sasuke terlebih dahulu membuka pembicaraan kembali diantara mereka.

"Ini. Untukmu. Terima kasih sudah menemaniku" Sasuke memberikan sebuah bungkusan kepada Hinata.

"A-Apa ini?" Sasuke memberikan isyarat kepada Hinata untuk melihat sendiri apa yang ia berikan pada gadis itu.

Hinata membuka perlahan apa yang diberikan Sasuke untuknya. Ia tidak menyangka Sasuke akan memberikannya sesuatu.

"Terima kasih Sasuke-kun! Kau seharusnya tidak perlu memberikan aku hadiah apa-apa" Ujar Hinata saat sudah melihat hadiah yang Sasuke berikan padanya.

"Kau suka?"

"I-Iya! Terima kasih banyak Sasuke-kun. Lain kali, aku akan memberikan Sasuke-kun hadiah" Senyum Hinata terlihat dengan jelas di mata Sasuke. Senyum termanis yang Sasuke pernah lihat. Senyum Hinata tidak berlebihan dan tidak dibuat-buat seperti kebanyakan gadis yang mengejar-ngejarnya. Ah! Betapa Sasuke mencintai gadis dihadapannya ini.

"Aku akan ingat itu Hinata" Ujar Sasuke. Tanpa Hinata duga, sudut bibir Sasuke membentuk senyuman untuknya. Untuk beberapa saat, Hinata terpana dengan senyuman Sasuke. Sasuke terlihat… mempesona!

-o-

.

.

.

"Terima kasih" belum sempat Hinata menjawab, Sasuke terlebih dahulu berbalik badan dan meninggalkan Hinata. Hinata yang terdiam sesaat segera masuk ke kamarnya.

'Sial! Mereka menguncinya!' Batin Sasuke saat pintu kamarnya terkunci. Ia merasa tidak ingin mengetuk pintu dan memohon untuk dibukakan pintu oleh mereka. Sasuke mementingkan egonya saat ini.

Sasuke menunggu sekitar lima belas menit di depan kamarnya dan berfikir. Serta menahan rasa kesal tentu saja.

Lalu kemana Sasuke akan tidur?

Hinata?

Sasuke berbalik ke arah kamar Hinata dan mengetuk pintu kamar gadis itu.

Tiga kali ketukan dan belum juga ada yang menyahut.

'Apa Hinata sudah tidur?' Batin Sasuke

Lalu Sasuke mengetuk pintu itu sekali lagi.

Beberapa lama kemudian, pintu kamar Hinata terbuka dan menampilkan Hinata dengan rambutnya yang basah.

"Maaf, tadi aku sedang mandi Sasuke-kun" Kata Hinata

Sasuke hanya menggumam menanggapi apa yang Hinata yang katakana.

"Ada apa, Sasuke-kun?"

"Pintu kamarku terkunci. Sepertinya mereka sudah terlelap" Hinata masih terdiam tak menanggapi satu kata pun yang keluar dari bibir Sasuke.

"Boleh aku tidur kamarmu?" Tanya Sasuke langsung pada intinya.

Hinata terdiam sesaat.

Tidur satu kamar dengan Sasuke…

Tidur satu kamar dengan Sasuke…

Tidur satu kamar dengan Sasuke…

"Jadi, aku boleh tidur disini atau tidak?" Tanya Sasuke lagi

"Bo-Boleh, Silahkan masuk"

Hinata mempersilahkan Sasuke masuk ke salam kamarnya. Saat Sasuke masuk kesana, wangi lavender tercium oleh Sasuke. Sejenak, Sasuke merasa tenang mencium wangi tersebut. Sasuke berfikir mungkin ini satu-satunya kesempatan bisa sedekat ini dengan Hinata.

"Apa Sasuke-kun ingin mandi?" Tawar Hinata

Sasuke menganggukan kepalanya dan segera memasuki kamar mandi tersebut.

Selama Sasuke di dalam kamar mandi, Hinata mencoba menenangkan dirinya. Ini hal tergila yang tak pernah hadir dalam kepalanya. Satu kamar dengan seorang Uchiha Sasuke bukanlah hal yang dapat ia terima dengan begitu saja. Ini sangat sangat aneh rasanya.

Lalu dimana ia akan tidur? Sasuke mungkin akan menyuruhnya tidur di ranjang sedangkan Sasuke sendiri akan tidur di lantai. Namun, apa Hinata akan tega? Kasur tersebut cukup luas, bahkan mungkin cukup untuk tiga orang. Tetapi, mengetahui Sasuke satu kamar dengannya saja sudah cukup memusingkan apalagi harus satu ranjang dengan Uchiha Sasuke?

'Apa yang harus aku lakukan?' Pikir Hinata

Ditengah pikirannya yang sangat kacau tentang keberadaan Sasuke disini, Sasuke keluar dari kamar mandi. Sasuke menatap bingung kearah Hinata.

"Kau belum tidur?" Tanya Sasuke

"Be-Belum"

"Tidurlah di ranjang. Biar aku tidur di bawah"

Hinata terdiam sesaat. Benar perkiraannya tadi. Kalau Sasuke pasti akan mengatakan hal seperti ini.

"Ja-Jangan" Akhirnya suara tersebut keluar dari mulut Hinata

"Jangan?" Tanya Sasuke

"Jangan tidur di bawah. Ranjang ini cukup untuk ki-kita berdua" Ungkap Hinata

"Kau yakin?" Tanya Sasuke. Bukan hal yang memberatkan Sasuke untuk tidur disana. Justru ini hal yang menyenangkan. Tapi.. Hei dia masih seorang laki-laki biasa bukan? Ia takut tak dapat menahan diri jika sedekat itu dengan Hinata.

"I-Iya"

"Kau tidak takut aku akan macam-macam?" Sasuke memberikan Hinata senyuman miringnya. Mencoba menggoda Hinata.

Rona merah muncul di pipinya.

"A-Aku akan memukul dan menghajar Sasuke-kun jika berani macam-macam" Ujar Hinata berusaha tidak tergagap dan terlihat gugup, ya meskipun usahanya gagal.

"Sudah menjadi berani rupanya" Sasuke tertawa pelan. Hinata terdiam mendengar suara tawa Sasuke. Hinata belum pernah mendengarnya dan ternyata tawa Sasuke yang ia dengar terasa… menyenangkan.

"Baiklah kalau seperti itu. Aku kan tidur di ranjang"

TBC