Thank you for the reviews, guys!
Surprisingly, there is a foreign Anon review who said this fanfiction is SURPRISINGLY AWESOME. Anon, I don't know who you are or where you're from, but if you come here again, I'm gonna PM you to help me translating because you gave me a little hope and purpose in life to finish what supposed to be a joke fic.
Yes, Libra Dohko and Belial shares one voice actor: Yoshimasa Hosoya.
and I made something around this joke. But, it sems that everything has been taken seriously, eh?
just enjoy it. okay?
Saint Seiya Series, belongs to Masami Kurumada
Granblue fantasy franchise, belongs to Cygames
Corrupted Judgement
VengeanceDi bawah langit yang kelam, penduduk masih mencoba melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Tak ada yang tahu penyebab dari berubahnya warna langit ini karena tak ada sinar mentari terbit maupun terbenam di negeri langit. Semua penghuni negeri langit berada di pulau terapung dan tak ada yang tahu hal macam apa yang menanti jauh di bawah mereka.
Di sebuah bukit, tak jauh dari pusat keramaian, seorang lelaki bersurai pirang melayang sembari terpejam bersama seorang lelaki lain dengan rambut keunguan. Mereka adalah Virgo Shaka dan Gemini Saga, dua Gold Saint yang diakui sebagai Saint terkuat hingga mendekati dewa. Entah bagaimana Shaka melihat sekelilingnya, Saga melihat makhluk dengan ragam bentuk dan ukuran, beraktivitas layaknya manusia pada umumnya. Mereka tidak heran karena makhluk-makhluk tersebut hidup berdampingan dengan manusia seperti mereka berdua, namun satu hal mengganggu pikiran mereka.
"Mereka menjajakan beragam senjata seakan barang itu kebutuhan sehari-hari. Makhluk seperti apa yang mereka hadapi hingga membuat pilihan yang barbar ini?" Kata Saga.
"Langit yang kelam tanpa mentari, kebutuhan akan pertahanan diri, makhluk beragam bentuk yang hidup berdampingan dengan manusia..." Shaka melayang bersama kawannya. "Sudah jelas, mereka tidak lagi menghadapi bangsa mereka sendiri maupun melawan dewa. Melainkan, ancaman lebih besar yang datang menghantui mereka di setiap kali mata mereka terpejam." Shaka menepuk kedua tangannya. "Amitabha."
"Tapi, Bukankah tugas utama kita adalah melindungi mereka yang lemah? Kita ada disini, pasti ada alasannya!"
"Di dunia ini, mereka tidak bisa diam dan menunggu kita datang menyelamatkan langit yang cerah. Lihatlah rumah-rumah yang runtuh, gedung-gedung yang terus menerus dibangun kembali, tentara yang tak berhenti untuk waspada. Mereka hanya mampu bergantung pada diri mereka sendiri, jadi apapun pasti akan dilakukan untuk bertahan hidup, meskipun harus menjual jiwa kepada iblis."
"Bagaimana kau bisa berkata begitu, Shaka? Kau yang paling suci dan cinta damai di antara kita semua." Kata Saga terheran.
"Aku sudah melihat Kuil Virgo yang ternodai darah-darah manusia tak berdosa. Aku memang cinta damai, namun apapun yang akan kita hadapi bisa jadi takkan menerima jalan tengah sampai menciptakan lebih banyak kehancuran."
"Kau membuatku takut, Shaka. Kita tidak tahu apa teman kita akan baik-baik saja." Kata Saga sebelum kemudian melihat sesosok bayangan hitam yang melayang di atas mereka dan meneror warga di sebuah pemukiman. Sosok misterius tersebut tampak bergerak seakan tak bernyawa sembari menembakkan anak panah yang menciptakan kawah raksasa di rumah-rumah dan di gedung. Rakyat berdesak-desakan untuk menghindari serangan dahsyat tersebut.
Lantas, Saga mengangkat tangannya tinggi, namun Shaka menepis tangan-tangan itu sebelum membuat kehancuran yang lebih besar dengan Gakaxian Explosion.
"Biar aku saja." Shaka kemudian merapal mantra dewa sambil menggerakkan jemarinya, "Tenbu Hourin!"
Sosok bayangan itupun tiba-tiba kaku, tak bergerak, lalu jatuh terjerembab dengan tidak elitnya. Meski jatuhnya tidak dari tempat yang tinggi, tubuhnya yang menghantam tanah membuat kawah dan menciptakan gempa ringan. Saga dan Shaka bergegas menghampirinya untuk melihat lebih dekat sosok yang mereka hadapi. Mata mereka terbelalak melihat sosok lelaki dengan zirah hitam bersayap itu, ternyata adalah orang terdekat mereka.
"Amitabha..." Kata Shaka.
"...Aiolos?" Kata Saga. "Shaka, aku tahu yang kau pikirkan, tapi bukan aku pelakunya!"
"Kata seorang lelaki berkepribadian ganda."
"Grrrrr..."
"Aku bercanda." Shaka tersenyum tipis
"Tidak lucu jika di saat seperti ini!" Bentak Saga.
" Jurus pengendali pikiran itu memang kemampuan yang kita bagi. Tapi jejak yang ditinggalkan lebih kuat dari Cosmo kita semua jika digabungkan."
"Berarti kita hanya perlu mengikuti jejak energi ini ke sumbernya." Saga mengepalkan tangannya. "Aku yang ikuti. Kau cari teman-teman kita."
"Mereka akan dikendalikan bahkan sebelum kita temukan. Kita harus tetap bersama!"
"Tidak jika menggunakan jalan pintas." Saga mengangkat tangan kanannya, bergerak membelah udara. "Another Dimension!"
Tiba-tiba, sebuah portal dimensi terbuka di hadapan mereka.
"Ini tidak bisa membawa kita pulang, tapi setidaknya kita bisa gunakan untuk menjelajahi sisi lain negeri ini. Ayo!" Saga menarik lengan Shaka untuk membawanya masuk ke dalam portal dimensi. Menjelajahi daerah lain di negeri langit dari labirin Gemini, mencari orang yang mengendalikan Aiolos dan bertemu kembali dengan kawan-kawan mereka di dalam perjalanan mereka.
Sementara itu, di dalam Grandcypher...
Lucio baru saja selesai mencuci pakaian. Meskipun langit tampak mendung, hanya tempatnya mencuci dan menjemur pakaian saja yang tidak tertutup awan kelabu. Sembari bersenandung, Ia menurunkan pakaian yang sudah kering dari jemuran, kemudian menjemur kembali pakaian yang baru dicucinya. Memasuki kabin Grandcypher, Ia melihat seorang lelaki yang tadi berbicara dengan Sandalphon.
"Kau yang namanya Dohko, kan?" Kata Lucio. "Namaku Lucio. Aku seorang aktor, sebelum tinggal disini untuk mencuci pakaian para awak kapal."
"Dia berbohong..." Bisik Belial sebelum Dohko bersandar di kursinya untuk membungkam sang iblis.
"Benar. Ah, aku masih kedinginan dan zirahku disita Sandalphon." Dohko menggaruk kepalanya.
"Maksudmu kotak emas berisi timbangan ini?" Lucio memunjuk kotak emas di sebelahnya. "Ambillah. Aku yang urus Sandal nanti."
Dohko tak percaya dengan yang dilihatnya. Entah bagaimana Lucio berniat untuk membantunya. Ia merasakan sesuatu yang tak beres, tapi keadaannya terlalu mendesak untuk berpikir ulang.
"Terima kasih, Lucio." Dohko bergegas memanggul kotak emas itu di punggungnya dan keluar dari kabin kapal untuk segara mencari teman-temannya yang terpisah dalam perjalanannya.
Menjauhi Grandcypher, Dohko menurunkan kotak zirahnya di tanah. Lalu duduk bersila dan diam seribu bahasa. Tak ada percakapan yang terjadi di antara Libra Saint dan dedemit yang kini terjebak di dalam tubuhnya, menunggu waktu yang tepat untuk berkuasa kembali.
"Hey, Tokui-ten(Singularity), kau tidur atau apa? Barangku masih ada di dalam kapal itu!" Belial mengambil kendali tangan kanan Dohko dan menampar wajahnya.
Dohko masih tidak bersuara. Bahkan dengan panggilan baru untuknya, tidak ada respon yang memberikan pertanda baik untuk Belial.
"Kau seorang Tokui-ten yang keras kepala. Aku tidak memintamu untuk pergi dari kapal!" Lanjutnya sambil terus menampar pipi Dohko.
Tangan kanan Dohko yang terus menampar wajahnya tiba-tiba dihentikan dengan tangan kirinya. Berusaha untuk menjaga tubuhnya tetap terkendali. Ia kemudian berkata, "Siapa dirimu sebenarnya?"
"Apa maksudmu bertanya begitu?" Kata Belial.
"Kau berkata bahwa Lucio berbohong tentang pekerjaannya seakan kau mengenalnya dengan baik. Kau mengenal Sandalphon, seorang malaikat, tapi aku tidak ingat kita pernah bertemu denganmu hingga terjebak seperti ini. Kau ini siapa?"
"Aku sudah bilang padamu, aku sama tersesatnya denganmu." Ujar Belial.
"Itu bukan jawaban yang aku mau." Dohko menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kau bisa mengenal mereka jika kau juga tersesat di dalam celah antar dimensi bersamaku dan teman-temanku?"
"Karena dulu aku juga malaikat seperti mereka!"
Dohko terkesiap. Terkejut dengan jawaban Belial.
"...kecuali Lucio. Nama Lucio hanya dipakai untuk makhluk fana seperti para penghuni langit. Nama aslinya adalah Helel ben Sahar, juru bicara untuk Naga Agung, Bahamut."
"Seperti Grand Pope untuk dewi Athena?"
"Aku tidak tahu maksudmu, tapi kurang lebih begitu." Belial garuk kepala. Dohko tidak bisa melihat gerakan Belial karena dia terjebak sebagai gambaran tubuh di punggungnya.
"Lalu, bagaimana kau bisa berakhir di celah dimensi?" Tanya Dohko.
"Anggap saja, aku berteman dengan orang yang salah, membuat masalah besar setelah berusaha menghidupkan kembali Faa-san dari kematian." Jelas Belial. "Soal ucapanku tadi, itu karena Sandalphon seorang pengkhianat. Dia sama bejatnya denganku sebelum mendapat gelar Supreme Primarch."
"Tapi, dia tidak seperti orang yang berkhianat." Dohko menggeleng. "Dia ingin menyita zirahku karena khawatir jika aku akan menyerangnya. Meskipun, aku bisa membunuh siapapun dengan tangan kosong."
"Tokui-ten yang menarik. Aku tebak usiamu lebih tua dari teman-temanmu. 200 tahun?" Belial merayap mengitari tubuh Dohko untuk bisa menatap matanya.
"Tepatnya 243 tahun." Dohko membetulkan jawaban Belial.
Tak lama kemudian, sebuah portal dimensi terbuka di hadapan mereka.
"Sembunyi!" Perintah Dohko sambil bersiap mengenakan zirah Libra, menyembunyikan keberadaan Belial dari tubuhnya.
Dohko bersiap mengambil posisi kuda-kuda. Di hadapannya, portal itu memuntahkan sosok lain yang tidak asing baginya. Seorang lelaki bersurai ungu dengan zirah Gemini, dan satunya seorang lelaki pirang dengan zirah Virgo.
"Saga? Shaka?" Dohko terkejut melihat mereka.
"Dohko? Kau masih hidup rupanya." Saga tersenyum lega karena salah satu dari mereka masih hidup. "Sesuatu yang gelap dan kuat membunuh Aiolos dan mengendalikannya seperti pasukan mayat hidup milik Hades. Tubuh dan zirahnya tidak selamat."
"Demi dada rata Athena, Bagaimana dengan yang lainnya?" Kata Dohko dalam kepanikan.
"Kami sedang dalam pencarian, hingga kemudian aku merasakan energi gelap di tubuhmu. Tapi, kau tidak dimanipulasi seperti Aiolos." Shaka menunjuk Dohko, merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
"Ada apa denganmu, Shaka? Aku tidak merasakan apapun." Saga menepis tangan Shaka dan membela Dohko.
"Hanya karena mataku terpejam bukan berarti aku tidak bisa merasakan Cosmo yang tidak seimbang. Aku hanya pastikan tidak ada sesuatu yang disembunyikan dari kita semua sebelum terjadi kekacauan." Shaka berjalan menghampiri Dohko dan meraih pundak Dohko dengan kedua tangannya.
Kedua mata Shaka tiba-tiba terbuka, memberi sorotan mata tajam yang dapat mengintimidasi Dohko hingga tak berkutik, lalu berkata, "Aku tak ingin bertengkar, tapi jangan harap kau bisa berbohong dariku."
Dohko meneguk ludah. Gugup dan khawatir akan dibantai jika ketahuan menyembunyikan Belial di tubuhnya. Terutama karena mereka terjebak bersama dalam situasi ini.
~TBC~
