「KALEIDOSCOPE」by xxcrystalinerose
黒子のバスケ belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei
Warning: Future Fic. Konten nurut canon. OOC/MxM/OC(s)/Implied MPreg. Multipair (AkaKuro/MidoTaka/AoKi/MuraHimu KagaMomo). Anakronis alias timeline loncat kodok. Slice of life yang ada plotnya. Family/Friendship dengan bumbu genre Romance dan Drama berstandar Korea.
Note: Saya mengambil spekulasi bahwa main plot KnB itu latar waktunya tahun 2010. Dan walau nggak begitu kelihatan, sebenarnya cerita ini ada plot dan timeline-nya sendiri.
.
.
01.
Nightfall
(赤 x 黒)
.
.
Di suatu malam Februari yang dingin, Akashi Seijuurou keluar dari mobil bercap empat cincinnya. Disambut angin dini hari, pria bersurai merah bergegas memasuki kediamannya sambil menenteng sebuah koper. Saku digali hingga pucuk jemari meraba kunci pintu depan rumah bertingkat dengan gaya minimalisme Jepang itu.
"Tadaima."
Tatkala ia melangkahkan kaki ke genkan, sapaan yang dirapal Seijuurou tidak mendapati respon apapun. Jelas saja; hanya lampu genkan yang masih menyala, sedang sisa lantai satu gelap.
Jarum jam tangannya menunjukkan pukul satu pagi. Mengurus tetek-bengek kantor (yang semuanya harus sempurna, sesuai standar seorang Akashi) kerap membuat Seijuurou lupa waktu. Biasanya ia mampu pulang paling telat pukul sebelas, jadinya molor akibat permasalahan administrasi kantor.
Ingatkan dia untuk memberi surat peringatan bagi oknum-oknum yang terlibat.
Sembari melonggarkan dasi, Seijuurou mendorong pintu depan hingga ceklikan terdengar. Pantofel dilepas dan disusun rapi, di sisi sepatu-sepatu lain dalam berbagai ukuran. Jadwal malam dicipta—minum segelas-dua gelas air, shower, lalu merebahkan diri, mungkin dengan bonus satu atau tiga ciuman selamat tidur.
Seijuurou terkekeh sendiri memikirkan item terakhir dalam daftarnya—hampir.
Lampu yang tergantung di atas meja makan masih menyala. Salah satu kursi berpenghuni, wajahnya tersembunyi di balik persegi panjang berlogo apel. Pucuk earbud menyumpal kedua lubang telinga, helai biru langit dijepit menjauh dari wajah dengan jepitan hitam.
Kelotek jemari yang menekan tombol-tombol keyboard menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.
"Tetsuya?"
"..."
Saking asyiknya, butuh sepuluh detik penuh sampai atensi Tetsuya terlepas dari layar laptop-nya dan bergeser ke Seijuurou.
Berjengit, Tetsuya buru-buru melepas kacamata baca yang bertengger di hidungnya. "S-Seijuurou-kun!" panggilnya, dengan gelagat seperti maling yang baru saja digep satpam. Tawa canggung mengudara. "Okaerinasai—maaf, aku tidak mendengarmu masuk..."
Ekspresi Tetsuya tiba-tiba berubah lusuh seolah ia menyadari perkataannya sendiri. Dengan rona tipis menyapu wajah, ia melepas kedua earbud yang sedari tadi masih dipakainya.
Tetsuya bangkit, lalu menyambutnya dengan benar. Mereka bertukar satu kecupan di bibir. Merasa "hadiah"-nya terlalu singkat, tatkala Tetsuya menarik diri, Seijuurou menahannya dengan satu lengan terlingkar di pinggang.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya, tatapan menelisik netra biru kembar suaminya.
Tetsuya berjengit, lagi, lalu membuang muka. "Draft keduaku sudah mau selesai—"
"Kau tahu ini jam berapa?"
"Lewat tengah ma—Seijuurou-kun!"
Tetsuya kelabakan mendorong dadanya, berusaha menjauh lagi ketika tahu—dengan tatapan Seijuurou yang sekarang—bahwa dia hampir dijadikan korban ciuman hukuman. Oknum pelaku tersenyum miring.
Setelah mencuri satu ciuman lagi, barulah Seijuurou melepas pegangannya. "Tidur sana sebelum kutiduri," ujarnya ringan, dengan iris yang berkilat penuh makna. Seijuurou bermigrasi ke ke belakang bar untuk mengambil gelas dan menuntaskan hal pertama dalam list-nya.
"Iya desu. [Tidak mau.]" gumam Tetsuya datar, kembali bercokol di kursinya. Jemari pucat memungut bingkai alat optik yang terlupakan, lalu memakainya lagi. Bunyi ketikan riuh pun sekali lagi mengisi ruangan.
Seijuurou mengernyit.
Tetsuya memang dari dulu sulit diatur. Tidak seperti rekan mereka yang lain, mulai dari yang penurut seperti shooter berambut hijau sampai tipikal begundal anti-otoritas seperti yang berambut biru dongker (ironisnya, dia jadi aparat penegak hukum sekarang), Tetsuya sering sekali membantah. Didamprat pun ia bergeming. Sayang, Seijuurou acap kali tidak tega bertitah ini-itu untuk meluruskan kelakuannya.
Sejak mereka menikah—apalagi sejak tiga tahun lalu—Tetsuya menjadi satu-satunya orang yang terang-terangan menentang Seijuurou dan masih hidup untuk menyambut mentari esok hari.
Setelah satu tegukan final, Seijuurou meletakkan gelasnya, lalu menghampiri sosok berkepala batu yang masih asyik mengetik. Tetsuya tengah kesurupan jiwa penulis deadliner. Sekalinya mendapat inspirasi pasti langsung keranjingan menuangkannya.
"Tetsuya, sedang apa?" Basa-basi dilontarkan. Seijuurou dengan modusnya mengambil jalur berputar untuk gentayangan di balik punggung kursi Tetsuya. Kedua lengan dikalungkan melingkari bahu dan leher pasangannya itu.
"Merevisi," balas Tetsuya padat, sembari meng-highlight kata-kata tertentu dan menggantinya dengan penulisan yang lebih baik. Pasang lengan yang menggelayuti bahu berusaha dikedikkan supaya lepas. "Seijuurou-kun, berat."
Seijuurou tidak merespon, hanya mengamati gerak-gerik jemari yang bermain di atas papan kunci. Menunggu.
Begitu kombinasi tombol tertentu ditekan, Seijuurou sigap meraih layar gawai Apel dan menutupnya secepat kilat.
"SEI—" Seijuurou cekatan mengambil langkah mundur sebelum dagunya ditabrak tempurung yang melesat untuk berdiri. Tetsuya berbalik dengan ekspresi terkhianati. Rautnya tertekuk lucu kala ia menjerit panik, "SEIJUUROU-KUN!"
Seijuurou cukup nyengir. "Aku tahu Tetsuya selalu menyimpannya tiap sepuluh menit."
Tetsuya megap-megap mengelus dada. Hampir saja ia dibuat mati muda. Cemberut, pria bersurai biru itu memprotes dengan nada kekanakan yang menurut Seijuurou sangat manis. "Sudah kubilang tadi aku merevisi! Versi cetaknya harus diserahkan ke Aizawa-san besok siang karena konflik jadwa—"
Racauan dipotong oleh satu ciuman lagi—kali ini sedikit lebih lama. Tetsuya melenguh sarat protes, namun akhirnya luluh juga, seperti biasanya. Dalam hati, Seijuurou menepuk dada bangga akan jurus andalan yang tak pernah gagal membuat pria manis itu lemas seketika.
"Tidur, Ishiya-sensei," ujar Seijuurou pelan, ketika mereka berpisah lagi. Dipanggil nama penanya, Tetsuya menggigil dengan mimik pias. Menyeringai, Seijuurou menambahkan, "Kan sudah kubilang—kalau tidak mau tidur, kutiduri sekalian."
Perkataannya sukses membuat Tetsuya melepas diri dan melompat jauh dari jeratan maut. "Seijuurou-kun, aku merinding. Mau lihat?" Satu lengan kardigan disingkap untuk mempertontonkan lengan pucat yang dijalari benjolan mikroskopis. "Dan tidak, terima kasih—nanti kalau aku hamil bagaimana?"
Guyonan receh itu membuat Seijuurou menaikkan sebelah alis. "Makannya tidur." tukasnya. Ngomong-ngomong hamil, "Tadi anak-anak tidur pukul berapa?"
"Pukul sembilan," balas Tetsuya, senyum teduh terulas di bibirnya—ekspresi yang hampir selalu menghiasi parasnya jika ia membicarakan buah hati mereka. "Kou-kun sama sekali tidak mau tidur kalau tidak bersama Sei-kun, dan Sei-kun sedang tidak mood untuk menemani adiknya. Jadi mereka agak sulit tidur."
Seijuurou memutar otak lagi, mengingat tanggungan Tetsuya yang dikejar deadline dan kedua Akashi cilik yang sedang menginjak usia menyusahkan, secara harfiah dan metafora. "Kalau kewalahan, kenapa tidak minta tolong?"
"Seijuurou-kun tahu 'kan Kazu-kun situasinya bagaimana sekarang?"
"Kalau Kagami dan Satsuki?"
"Aku sungkan pada Satsuki-san."
"Atsushi dan Himuro-san?"
"Mereka tidak bisa memilih antara mengurus café dan anak-anak."
"Bagaimana dengan Daiki dan Ryouta?"
Respon pertanyaan terakhir adalah sebuah tatap nanar. Netra azure mengisyaratkan, 'apa-kamu-serius-dengan-pertanyaan-itu'. Dianggap retoris, keduanya terdiam. Merasa diskusi mereka berakhir, Tetsuya langsung balik kanan sambil menenteng laptop beserta pretelannya.
Karbondioksida dilepas dalam satu kali hempas. "Jangan begadang, Tetsuya!" Seijuurou berujar agak keras ketika punggung pria biru itu menghilang menaiki tangga.
"Ngaca, Seijuurou-kun." Suara Tetsuya menggema dari lantai dua.
Seijuurou geleng-geleng. Awas saja kalau sampai masih nekat membuka laptop di ranjang. Bisa-bisa Tetsuya terkena kartu penalti secara cuma-cuma.
Memungut koper, Seijuurou bergegas menuntaskan hal terakhir dalam daftarnya. Shower hangat terdengar terlalu menggiurkan untuk sekujur tubuhnya yang pegal pasca dipancang pada dudukan yang sama selama berjam-jam.
.
.
Rampung bersih diri, masih ada satu tujuan lagi yang harus dihampiri. Kamar yang pintunya berseberangan dengan master suite. Di daun pintunya tergantung sebuah tanda dari potongan kayu palet yang dihiasi coretan-coretan khas anak kecil.
Di bawah doodle burung berbulu merah dan biru yang dinaungi pelangi aneka warna adalah tulisan dalam hiragana yang masih acak-acakan.
Seijuurou perlahan memutar kenob pintu. Melongokkan kepala, ia tersenyum ketika mendapati buntalan merah-biru pastel yang berkerumun di salah satu kasur dalam ruangan itu, sementara kasur satunya kosong dengan selimut yang kusut dan hampir jatuh. Dihampirinya ranjang berpenghuni itu, lalu ia bersimpuh di sisinya.
"Ayah pulang, Seiichi, Kou." bisik Seijuurou, bergantian mengusap kepala mungil bersurai kontras itu. Satu kecupan di dahi diberikan untuk keduanya. "Maaf karena tidak bisa menemani kalian hari ini."
Seijuurou merasa sendu. Sayang sekali bahwa jam kerjanya sering membuatnya tidak berada di rumah. Padahal kedua putranya itu telah menginjak usia yang penting—yang membuat Seijuurou ingin terus-terusan di rumah untuk sekadar mengamati tingkah-polah dalam keseharian mereka.
Kou kecil baru saja berusia dua, akhir November lalu. Penampilan dan kelakuannya persis Tetsuya; pendiam namun keras kepala. Ia lebih sering bergestur, menunjuk sesuatu jika menginginkannya, atau jika penasaran. Jika ditanyai, responnya selalu berupa anggukan atau gelengan saja. Pernah Tetsuya mencoba mengajarinya untuk mengucap kata-kata sederhana, namun Kou hanya menelengkan kepala mungilnya dan tetap enggan membuka suara.
Saking pendiamnya, ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun—dan sempat membuat baik Tetsuya maupun Seijuurou khawatir tak terkira—sampai di hari ulang tahun Tetsuya yang ke-28 kemarin. Kalimat pertamanya adalah "tanjoubi omettou" yang diucapkan dengan sangat pelan dengan manik rubi bulat yang menatap lurus ke Tetsuya.
Butuh beberapa menit untuk menyadarkan Tetsuya dari syok-nya, dan malam harinya Seijuurou butuh berjam-jam untuk menenangkan Tetsuya yang tak bisa berhenti menangis penuh haru.
Si sulung, Seiichi, hanya terpaut satu tahun dari adiknya. Namun, kepribadian mereka tidak bisa lebih kontras lagi. Seiichi, jika sudah membuka mulut, sanggup menyerocos sampai satu jam penuh. Sejak ia masih bayi, Seiichi sudah gemar mengoceh tak jelas dengan suara cemprengnya. Dan walau penampilannya tidak berbeda dari Seijuurou kala ia berusia sama—kecuali warna surai dan matanya yang sepenuhnya dari Tetsuya—sifat mereka juga sangat berbeda.
Seiichi adalah anak yang sangat merepotkan, namun pada dasarnya masih bisa ditoleransi—kalau kau tahan dengan omongannya yang nonstop itu. Selain itu, tidak seperti Seijuurou muda, Seiichi sangat suka menjahili orang, atau setidaknya bertindak di luar ekspektasi mereka. Karakter ini sudah tampak dari senyum miring dan binar matanya. Rasanya seperti melihat kucing kecil saja.
Korban pertamanya adalah orang tuanya sendiri. Kala pertama Tetsuya dan Seijuurou balapan mempersuasi Seiichi kecil untuk mengucap nama mereka (demi sebuah taruhan bodoh yang mengorbankan beberapa pundi yen), bocah yang dimaksud malah meneriakkan, "Shicchan!" dengan sangat antusias.
Singkat cerita, Seijuurou lupa kalau sering-sering mengadakan sesi bermaindengan putri tunggal keluarga sebelah itu juga akan berdampak besar pada perbendaharaan kata putranya sendiri.
Dengan nostalgia menyembul di ruang pikiran, Seijuurou terkekeh renyah, memandangi wajah manis kedua buah hatinya yang terbuai lelap. Sambil melirik ke arah jam dinding berwujud anak ayam biru, ia bangkit setelah menarik selimut empuk sampai ke dagu anak-anaknya.
"Mimpi indah," gumamnya pelan. "Jangan begadang terus seperti Bundamu."
Menghela napas, Seijuurou menarik diri dari ruangan yang samar-samar bau vanila itu. Daun pintu ditutup perlahan, sang tuan rumah berniat kembali ke master suite. Langkahnya terhenti ketika sayup-sayup terdengar suara mencurigakan dari biliknya.
Tanpa tedeng aling-aling, pintu dibuka. Di ambang jalan masuk, Seijuurou berkacak pinggang. Omelan sudah di ujung lidah, siap dilontarkan pada sosok sebiru langit yang bersikeras mendua dengan laptop-nya alih-alih rebahan.
"Tetsuya." geram peringatan pertama.
Yang disebut namanya bergantian menatap antara Seijuurou yang dilatarbelakangi cahaya lampu koridor dan draft yang meminta diselingkuhi. Tetsuya mengalah ketika pria bersurai merah itu mengambil langkah lebar-lebar menuju ranjang yang dihuninya.
"Menaruh stop kontak di sebelah kasur adalah kesalahan besar," Senewen karena titahnya diabaikan, Seijuurou mulai meracau. "Nanti akan kuhubungi editor-mu itu untuk penjadwalan ulang. Dan besok—siang hari ini, sebenarnya—aku tidak akan ke kantor. Intinya kita semua harus menganggur. Aku tidak menerima penolakan."
"Jangan semena-mena menumpukkan pekerjaanmu pada Reo-san, Seijuurou-kun." Komentar Tetsuya sembari menyelundupkan perangkat elektroniknya di laci meja kerja.
"Kalau Reo tidak bisa mengurus porsi pekerjaanku, dari sananya tidak pantas kupilih menjadi asistenku."
Seijuurou masih terus mendumel bahkan setelah merebahkan diri di ranjang dan menyeret paksa Tetsuya ke dekapannya. Tubuh yang lebih mungil dipiting supaya tidak macam-macam. Jangan salahkan Seijuurou yang parno akan jadwal tidur pasangannya yang kian hari kian molor.
"Seijuurou-kun, sesak…" Tetsuya memprotes sejenak, namun tuturannya disela sebuah kuapan lebar. Satu lengan dilingkarkan di pinggang suaminya. Wajah dikubur di ceruk leher yang hangat dan samar-samar beraroma sabun.
Seijuurou melirik jam di nakas. Hampir pukul dua dini hari. "Keterlaluan," ujarnya dalam satu bisikan ketus. Meski lisannya mengomel, tangannya sibuk membelai mahkota biru Tetsuya. "Kalau kubilang istirahat, ya istirahat. Nanti sampai Tetsuya sakit bisa repot semua."
Seijuurou memang bawel tak tertolong kalau berurusan dengan orang-orang terdekatnya, tapi itulah yang Tetsuya suka—walau ujung-ujungnya ia lebih mungkin membantah daripada menuruti.
"Mmn," dengung tak jelas terburai dari sosok bersurai biru. "Kalau Seijuurou-kun sebegitu khawatirnya, nanti setelah naskahnya dipublikasi aku akan mengambil hiatus lagi, bagaimana?"
"Itu masih satu draft lagi, sayang…"
Tetsuya tertawa kecil mendengar nada putus asa dalam vokal sang suami. Dirinya memang tinggal di rumah karena tak tega terpisah dari anak-anak, namun berhubung kediaman mereka tidak memiliki pelayan atas tuntutan dari Tetsuya sendiri, alhasil dialah yang mengurus rumah. Mengingat kedua putranya itu sama-sama berusia di bawah lima tahun, Tetsuya terpaksa lembur mengerjakan karya keempatnya.
"Dua anak berusia semuda itu, sedang kita sama-sama sibuk," Tetsuya menggumam dengan senyum merekah. Memikirkan kedua Akashi cilik itu tak lalai membuatnya berbunga-bunga. "Apa kita sudah gila?"
Sekarang Seijuurou yang tertawa. "Gila memang," ujarnya ringan, mendaratkan satu kecup di ubun-ubun berlapis helai sewarna langit. "Dan aku menyukainya. Kita, maksudku. Aku adalah lelaki paling beruntung di dunia ini."
"Aku juga, Seijuurou-kun." Bisik Tetsuya, seraya memejamkan kedua mata. "Aku juga."
.
.
.
TBC
.
.
[Pojok Curhatan Author]
Awalnya saya berniat untuk segera mengerjakan NxB SS bab berikutnya, tapi saya terbuai godaan untuk menulis domestic fluff. Draft ini sudah nangkring di ponsel saya selama dua hari.
Sekilas info tentang fic ini: semua yang tertulis di sini adalah buah pemikiran saya dan sahabat sefandom sehidup semati saya. Kami berdua terlalu menginvestasikan diri sampai ada dokumen-dokumen isinya catetan saya soal headcanon dan antek-anteknya. Saya menulis implied M-Preg karena di catatan bersama kami, tidak ada penjelasan soal anak-anak pelangi itu datang dari mana.
Penjelasan lebih dalam: Menurut analisis @jcminwell di Tumblr, latar plot-nya Kurobasu itu antara tahun 2008-2013 karena ketidakkonsistenan Fujimaki-sensei waktu memilih tanggal-tanggal kejadian tertentu. Saya pribadi memilih tahun 2010 karena lebih sesuai dengan riset saya.
Otherwise, semua yang terjadi di fic ini mengikuti semua info dan media canon (manga Extra Game, bukan movie-nya karena saya masih salty sama akhirannya) yang sudah saya timbun di laman-laman offline dari browser saya.
Yang agak susah itu usia karakter. Untuk mempermudah kepenulisan saya, saya memutuskan bahwa semua karakter Kisedai dan yang seumuran lahir pada tahun yang sama, karena saya capek menghitung usia buat timeline fic ini.
.
[Info Karakter]
Akashi di sini adalah CEO perusahaan keluarganya, sementara Kuroko itu novelis yang bercokol di genre misteri dan filosofi. Nama penanya adalah "Kuroyanagi Ishiya" (黒柳イシヤ)—karena saya tidak kreatif.
Penulisan nama anak-anak mereka adalah「征一」(Seiichi) dan「コウ」(Kou).
Pada dasarnya, saya memikirkan kepribadian Seiichi itu seperti Akashi, seandainya masa kecil Abang Sei lebih bahagia, sementara Kou itu mirip Kuroko, tapi lebih pendiam.
Saya nggak tahu kenapa saya selalu mengasosiasikan Akashi dengan mobil bermerk Audi.
.
Akhir kata, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca fic ini, karena fandom ini sudah mulai sepi. Jangan sungkan untuk menyambangi kotak review saya untuk feedback atau mungkin request!
